Saturday, July 31, 2021

SEKOLAH UNIVERSAL

 OLEH: TOTO SUHARYA

Jawa Barat memang selalu terdepan dalam inovasi. Dengan jumlah penduduk 48 juta lebih, Jawa Barat memang harus punya keberanian untuk meakukan inovasi terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu keberanian Jawa Barat adalah menggulirkan program SMA Terbuka, yang tadinya program ini hanya dimiliki tujuh sekolah saja se-Indonesia dari program pemerintah pusat. Selain untuk meningkatkan Angka Partisifasi Kasar (APK) sekolah menengah di Jawa Barat, program SMA Terbuka bertujuan menjamin kepada seluruh warga Jawa Barat agar bisa mengakses pendidikan dalam kondisi apapun. Melalui program SMA Terbuka setiap warga Jawa Barat dijamin hak-haknya untuk mengakses pendidikan tanpa harus terganjal oleh syarat-syarat formal sebagaimana di pendidikan regular.

Dalam Pergub No. 74 tahun 2020 dijelaskan pertimbangan dikeluarkannya program SMA Terbuka adalah upaya memberikan layanan khusus dan pemerataaan askes pendidikan, terutama kepada anak-anak usia 16-21 tahun yang terkedala dengan waktu dan atau ekonomi keluarga. Selain itu juga menimbang Angka Partisifasi Kasar (APK) Jawa Barat yang masih perlu terus dtingkatkan. Sementara ini rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih 8,3 tahun, dianggap belum lulus SMP.

Program layanan SMA Terbuka masuk pada kategori layanan khusus. Pengertian layanan khusus di sini dapat dipahami dari berbagai aspek, antara lain sosial, ekonomi, budaya, psikologi, dan politik. Dari aspek sosial SMA terbuka memberikan layanan kepada masyarakat yang kondisinya lemah karena secara struktur sosial berada di lapisan menengah ke bawah, mobilitas hidupnya terbatas, dan tidak memiliki ikatan jejaring keluarga dan sosial yang luas. Secara ekonomi, SMA Terbuka menyasar kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah, sehingga anak-anak usia sekolah pada keluarga ekonomi lemah sering terlibat dalam dunia kerja untuk bantu ekonomi keluarga. Dari sudut budaya, masyarakat Indonesia masih kuat memegang tradisi yang berusmber dari budaya maupun agama. Tradisi tersebut antara lain menikah usia dini, menikah dianggap tujuan akhir sehingga setelah menikah dianggap tidak ada tugas atau kewajiban untuk berpendidikan tinggi. Secara psikologis, anak anak Indonesia pada usia sekolah berada pada masa pancaroba, mereka harus mendapat layanan pendidikan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Secara politis, tahun 2045 bangsa Indonesia punya cita-cita menjadi bangsa berdaulat di tingkat internasional sehingga sejak saat ini harus menyiapkan anak-anak cerdas untuk menyambut Indonesia emas.         

Program SMA Terbuka sejalan dengan kondisi zaman, dimana pendidikan sudah bersifat universal bisa didapat oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa tersekat-sekat oleh geografi, ekonomi, bangunan, lembaga formal, tatap muka berhadap-hadapan, dan struktur organisasi. Jargon Ki Hadjar Dewantara memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, “dimana saja sekolah, dan siapa saja guru”. Sekalipun pemikiran Ki Hadjar dikemukanan berpuluh tahun yang lalu, namun sekaranglah zamannya bahwa pendidikan harus bersifat universal.

Secara filosofis tujuan SMA Terbuka memang sangat membantu seluruh lapisan masyarakat dalam mengaskes pendidikan. Anak-anak yang memiliki karir di bidang olah raga, seni, dan ekonomi, tidak lagi terhambat oleh aturan kaku seperti sekolah reguler. Mereka yang jauh dari sekolah, terkendala ekonomi, geografi, budaya, dan politik, bisa merasakan layanan pendidikan melalui layanan jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi.

Dalam sekolah universal aturan tidak terlalu ketat mengikat sebab semuanya dilandasi oleh melayani semua. Kunci dari layanan universal adalah kemandirian, kesadaran, dan motivasi bersama untuk memberikan layanan dan pengalaman pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kolaborasi dan dialog adalah kunci utama dalam memberikan layanan pendidikan pada peserta didik. Maka dari itu, syarat-syarat agar semua anak usia 16-21 tahun bisa akses sekolah menengah terbuka tidak terlalu ketat, yang pada akhirnya ada kesan membatasi. Anak-anak usia sekolah yang sudah bekerja yang tidak terikat kontrak maupun terikat kontrak harus terlayani. Perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan anak-anak di usia sekolah tamatan SMP, harus diajak untuk sama sama mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan anak-anak generasi emas di tahun 2045.  

Kualitas pendidikan di SMA Terbuka tidak dapat serta merta dilihat dari hasil lulusan. Kualitas pendidikan SMA terbuka sangat tergantung pada proses layanan. Minimalnya proses pembelajaran pada anak-anak SMA terbuka secara disiplin dan penuh tanggung jawab harus benar-benar terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi proses pembelajaran bisa dilaksanakan tanpa sekat ruang dan waktu. Untuk menjamin kualitas layanan SMA terbuka, harus ada komitmen tinggi dari setiap penyelenggara pendidikan SMA Terbuka untuk bekerja keras, kreatif, terorganisir, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk seoptimal mungkin menjamin proses pembelajaran berlangsung sesuai ketentuan dan harapan bersama.

Program SMA Terbuka adalah tugas suci kita semua. Mencerdaskan masyarakat adalah perintah Allah agar kita menjadi bangsa mandiri, tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa bermanfaat bukan hanya bangsa kita sendiri, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa-bangsa lain. Kini kita telah menjadi warga dunia tanpa sekat yang dipersatukan oleh teknologi informasi. Wallahu’alam.  

Tuesday, July 27, 2021

SEKOLAH PENGGERAK BUKAN UNGGULAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Berulang-ulang pernyataan Mas Mentri bahwa sekolah penggerak bukan sekolah unggulan. Pernyataan ini mengemuka dari mulut Mas Mentri jangan sampai keberadaan sekolah penggerak menjadi pembeda bagi sekolah-sekolah lain yang tidak terlibat dalam proyek sekolah penggerak. Saat ini, telah berkembang sebuah pemahaman dan terkondisikan bahwa sekolah-sekolah yang tergabung dalam sekolah penggerak sebagai sekolah unggulan, ekslusif, dan berbeda dengan sekolah-sekolah non penggerak. Pernyataan sikap Mas Menteri adalah sebuah kekhawatiran bahwa kastanitasi sekolah akan terulang kembali dengan adanya program sekolah penggerak. Kekahwaatiran lainnya adalah munculnya sentimen negatif dari sekolah-sekolah yang tidak tergabung dalam program sekolah penggerak yang merasa tidak diperhatikan.

Persepsi penulis, Program Sekolah Penggerak adalah upaya pemerintah untuk mendorong semua sekolah untuk melakukan perubahan. Namun demikian sekolah penggerak dapat dikatakan sebagai sekolah uji coba penerapan kurikulum baru. Perbedaannya hanya di proses penentuan sekolah tidak dilakukan melalui ajuan atau penunjukkan, tetapi kali ini melalui seleksi kesiapan sekolah dalam menerima perubahan. Seleksi bukan untuk menjaring peserta program, tetapi dapat menjadi konisioning agar sekolah yang dijadikan proyek secara psikologis merasa siap untuk menerima perubahan karena sudah berdasarkan hasil seleksi.

Tepatnya memang Program Sekolah Penggerak adalah uji coba penerapan ide-ide perubahan minset, kurikulum, yang dilakukan oleh kementerian. Dalam uji cob aini butuh kepala sekolah, guru-guru, yang mentalnya sudah terkondisikan siap berubah. Melalui cara seleksi rekruitmen sekolah-sekolah yang akan di uji coba harus terkondisikan kesiapan mentalnya. Tantangan terberat dari dunia pendidikan adalah menyiapkan para pendidik yang selalu siap menghadapi perubahan dan memiliki kemampuan beradaftasi tinggi dengan kondisi zaman.

Di luar sekolah-sekolah penggerak, hendaknya tidak menunggu komando untuk melakukan perubahan. Seluruh sekolah harus menggerakkan seluruh warganya untuk merespon dan beradaftasi dengan perubahan zaman. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari menentukan hal-hal substansial yang harus segera dilakukan perubahan dalam layanan pendidikan. Hal-hal substansial tersebut ada dalam tujuan pendidikan yang hendak menciptakan generasi Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai dasar yang sudah di sosialisasikan yaitu peajar yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, mandiri, cerdas, kreatif, dan mampu berkolaborasi untuk menghadapi tantangan zaman.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut semua sekolah tanpa komando harus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menyenangkan. Layanan pendidikan harus berpusat pada kebutuhan, bakat, dan minat, peserta didik. Tidak ada lagi perangkingan, dan tidak ada jurusan-jurusan yang akan melahirkan kastanisasi kecerdasan peserta didik. Semua perserta didik harus dipandang sebagai manusia cerdas yang harus dibantu untuk menemukan jati dirinya dengan menemukan dan medorong untuk tumbuh sesuai dengan kecerdasan khas yang dimilikinya.

Melalui program literasi, wawasan peserta didik dalam memandang dunia harus dibuka seluas-luasnya dengan menyajikan konten-konten materi bahan ajar yang sudah terseleksi kevalidan dan keshaihan, serta berhubungan dengan kontek lingkungan di mana para peserta didik tinggal. Peserta didik dari lingkungan petani, materi-materi bahan ajar hendaknya memperkenalkan pengetahuan, teknologi, yang berkaitan dengan inovasi-inovasi dalam bidang pertanian. Peserta didik di lingkungan nelayan, hendkanya disajikan pengetahuan tentang inovasi-inovasi dalam bidang kelautan. Bahan-bahanajar yang disajikan bukan sekedar pengetahuan umum tapi disajikan dari hasil riset-riset para ahli yang bisa diakses dari berbagai jurnal nasional maupun internasional yang terakreditasi.

Untuk menyajikan pengetahuan dan inovasi hasil riset ilmiah kepada peserta didik, dibutuhkan guru-guru yang memahami latar belakang kemampuan para peserta didik dalam menyerap ilmu pengetahuan yang hendak disajikan. Pemahaman tentang struktur kerja otak untuk meningkatkan kemampuan bernalar, pemanfaatan media pembelajaran, dan model-model pembelajaran harus dipahami dengan cermat agar pembelajaran dapat membantu para peserta didik menjadi manusia-manusia literat.

Pendidikan karakter yang tidak boleh tidak dan harus dikembangkan oleh seluruh sekolah adalah membudayakan membaca sebagai bahan dasar untuk melahirkan peserta didik cerdas dan kreatif. Berbagai ide sebagai upaya membudayakan budaya baca, bisa dikemas dalam berbagai program seperti readding cahallange, membaca miminal 25 buku per tahun, bedah buku, jurnal,  membiasakan mengemuakan pendapat dalam bentuk esay dalam setiap pembelajaran, dan membuat proyek-proyek peneitian kolaboratif yang direncakan dalam kurikulum minimal satu tahun satu kali di setiap tingkatan peserta didik.

Guru-guru dalam setiap pembelajaran harus merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan ide-ide baru yang berhasil ditemukan dari sebuah buku atau jurnal untuk memberi contoh bahwa membaca harus dilakukan oleh para peserta didik untuk bisa menemukan ide-ide baru dalam melakukan perubahan. Mengkulturkan budaya pada peserta didik, harus dimulai dari kultur membaca dari para pendidik. Para pendidik harus memiliki kesadaran tinggi bahwa budaya membaca adalah pondasinya pendidikan, dengan demikian untuk meningkatkan kualita layanan pendidikan, setiap guru sudah harus punya naluri yang sama yaitu biasa membaca tanpa harus ada komando. Naluri membaca harus terus difasilitasi seperti memberi makan ketika perut lapar.

Otak seperti perut yang tidak boleh dibiarkan lapar dan tidak boleh diisi dengan sembarangan makanan. Otak para pendidikan dan peserta didik harus selalu terisi dengan pengetahuan-pengetahuan bergizi agar kecerdasannya tumbuh dengan sempurna. Mari bergerak tanpa harus menunggu komando, label, dan surat keputusan. Bergerak adalah naluri manusia, maka barang siapa mau hidup sejahtera dunia dan akhirat, bergeraklah. Allah akan memberi kesejahteraan terbaik kepada yang bergerak. Wallahu’alam. 

Monday, July 26, 2021

KARAKTER ENTREPRENEUR PARA TOKOH SEJARAH

 BAHAN AJAR SEJARAH

 Mata pelajaran          : Sejarah Indonesia

Kelas / Semester        : XII / Ganjil

Materi Pokok            : Meneladani karakter tokoh-tokoh sejarah

Metode/waktu          : Online/40 menit

Tujuan                      : Menganalisis ciri tokoh berkarakter entrepreneur

 

MATERI  Pertemun 1

Herodotus mengatakan, “sejarah menceritakan perputaran jatuh-bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban”. Jadi memelajari kisah tokoh-tokoh besar di suatu negara sama dengan memahami sejarah sebuah negara. Untuk kemajuan bangsa dibutuhkan tokoh-tokoh yang mampu mensejahterakan bangsa. Di zaman kemerdekaan,  berdasar hasil survey John Stanley terhadap 700 lebih miliarder di dunia, mereka mengatakan kesuksesan para miliarder didukung oleh kemampuan bergaul dan kecerdasan berada di urutan ke-21. Mitshubisi Research Institute (dalam Dewajani, 2008) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada keterampilan bertahan hidup yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan membangun komunikasi (networking), 20% tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang dimilikinya (Rohmah, 2017, hlm. 149).

Ada hukum sejarah yang berlaku pada tokoh-tokoh besar dimanapun berada. Mereka akan mengalami kisah hidup sebagaimana sebagai seorang berkarakter entrepreneur. Kisah-kisah tokoh sejarah akan menggambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha mencari solusi, dan kreatif menggali berbagai ide atau gagasan untuk mencapai cita-citanya dengan membaca. Mereka berteman baik dengan buku-buku bacaan, dan sangat pandai membaca situasi. Mereka tidak berhenti membaca pengalaman hidup yang dialaminya untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Selain itu, perjalanan hidup para tokoh besar selalu berdampingan dengan kegagalan demi kegagalan. Mereka para pemberani, karena mereka tidak takut gagal untuk mewujudkan cita-cintanya. Kekuatan karakternya ditempa dengan ujian-ujian berat yang dapat dilaluinya dengan sabar dan tabah hingga mencapai tujuan. Mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha bertahan hidup (survival), hingga penderitan-penderitaan hidupnya bisa mereka lalui. Perjalanan hidupnya yang berat membuat mereka sukses, merdeka, dan mandiri dalam mementukan nasib hidupnya. Mereka tidak tergantung pada orang lain, dan keberhasilannya sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Seorang filsuf Yunani berkata, “segala yang terjadi dan berlaku di alam ini dikuasai oleh hukum sebab akibat”. Untuk itu, kisah-kisah keuletan dalam membaca, kegagalan dan penderitaan hidup seseorang selalu menjadi sebab suksesnya orang-orang besar dalam memperjuangkan cita-citanya. Sudah menjadi hukum sejarah atau ketetapan (determinisme) sejarah bahwa orang-orang sukses akan mengalami kisah sebagaimana orang-orang besar mengalaminya. Inilah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan sebagai takdir manusia yang tidak dapat dihindari. Dengan membaca, kisah-kisah kehidupan orang-orang besar (The Great Man) kita bisa membuktikan kebenaran hukum sejarah berlaku dalam kehidupan tokoh besar dan harus kita teladani.

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya (Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI) Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kap...