Wednesday, September 21, 2022

BEDANYA TRADING SAHAM DENGAN JUDI ONLINE

OLEH: TOTO SUHARYA

Diskusi dengan alumni yang kebetulan sudah investasi saham di pasar modal. Pembahasan diskusi fokus pada jual beli saham di pasar modal. Dari hasil pengamatan di lapangan, masyarakat masih banyak yang berprasangka bahwa invesatasi saham dikaitkan dengan judi dan haram. Mereka juga sering menyebut jual beli saham dengan main saham. Mental blok ini terjadi pada masyarakat dari berbagai kelas sosial. Sayang sekali, jual beli saham yang sudah dilegalisasi pemerintah dan ada fatwa MUI halal, masih dipersepsi judi oleh sebagian besar masyarakat. 

Padahal di tingkat SMA pelajaran saham dipelajari pada mata pelajaran ekonomi. Ditambah ada kunjungan siswa-siswa ke pasar saham di Bursa Efek Jakarta. Namun demikian persepsi masyarakat masih tetap saja bertahan dengan cerita dari mulut ke mulut bahwa jual beli saham dianggap judi. Padahal informasi di media sosial youtube, blog, insragram, dan media online sudah begitu terbuka bahwa saham adalah sebuah perdagangan. 

Dari hasil riset dari berbagai media, saham jelas berbeda dengan judi online. Perbedaan antara investor saham dengan tukang judi online bisa dilihat dari karkaternya. Investor saham sebelum investasi ada beberapa pengetahuan dasar yang harus dimiliki. Judi online modalnya tebak-tebakan, sedangkan investasi saham dibangun oleh ilmu pengetahuan. Beberapa ilmu yang harus dimiliki para investor saham yaitu ilmu tentang kemampuan membaca laporan keuangan perusahaan. Membaca faktor-faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham sepeti kebijakan politik, ekonomi, di dalam dan luar negeri. 

Para investor saham selalu membaca berita-berita terbaru tentang pertumbuhan ekonomi dan kebijakan-kebijakan psoitif untuk kesejahteraan rakyat. Para investor saham punya kebiasaan literasi tinggi. Pemikirannya rasional, selalu melakukan analisis, interpretasi, berdasarkan data dan fakta.  

Berbeda dengan tukang judi online, dia tidak punya budaya literasi. Tukang judi tidak perlu berita tentang kebijakan ekonomi dan politik. Tukang judi online tidak perlu analisis teknikal ataupun fundamental. Tukang judi online tidak paham laporan keuangan perusahaan. Cara berpikir mereka irasional, mistik, dan utopis, ingin untung dari enteng. Modal para penjudi online adalah untung-untungan berdasarkan angan-angan yang mereka miliki. Para penjudi sering mengambil keputusan dengan emosinya dan akalnya jarang berfungsi. 

Trading saham terjadi di pasar saham dengan informasi terbuka. Judi online dilakukan di pasar gelap dengan informasi tertutup. Judi online selalu mengiming-ngimingi pelakunya dengan keuntungan besar. Permainan judi online hanya sedikit gunakan otak, sekalipun digunakan otaknya untuk permainan curang, penipuan, dan merugikan orang lain. 

Logika investor saham adalah untung dan rugi, sedang logika penjudi online adalah kalah dan menang. Para investor di saat harga saham turun dituntut untuk sabar menunggu kembali pergerakan saham naik. Setiap tahun para investor akan mendapat keuntungan dari perusahan dalam bentuk dividen. Setiap pembangian deviden para investor akan diundang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Para penjudi online tidak terikat apa-apa. Setelah mereka kalah mereka tidak akan ada tunjangan, undangan rapat, atau pun bantuan dari bandar judi. Para penjudi yang kalah benar-benar akan bangkrut dan jatuh miskin. Risiko para penjudi online adalah harta kekayaan habis. Setelah jatuh miskin mereka akan jadi gembel. 

Mental seorang investor selalu belajar dan penuh perhitungan dalam bertindak. Kegagalan-kegagalan yang dialami akan jadi ilmu sebagai modal tumbuh menjadi manusia berkualitas tinggi. Kecerdasan investor bukan hanya intelegen, tetapi emosinal, dan spiritual sangat diperlukan. 

Jadi perbedaan antara investor saham dan tukang judi online bukan di otaknya. Perbedaan kontrasnya adalah isi otak tukang judi online adalah sampah dan isi otak investor saham adalah ilmu. Emosi tukang judi online dikendalikan hawa nafsu, sedangkan investor saham emosinya dikendalikan oleh akal sehat. Jelas sekali mental tukang judi dengan investor saham berbeda kontras. Namun kadang-kadang ada juga jual beli saham dengan mental tukang judi. So jadi, "syarat jadi investor saham harus terus belajar, dan jadilah pembelajar sepanjang hayat".*** 

Sunday, September 18, 2022

BELAJAR LITERASI FINANSIAL DARI NABI YUSUF

OLEH: TOTO SUHARYA

Dari laporan Rapor Pendidikan hasil Asesmen Nasional yang dilakukan Kemdikbudristek tahun 2021, menyajikan fakta bahwa generasi kita masih mengalami kelemahan dalam literasi. Dari kelemahan ini, generasi bangsa kita mengalami kelemahan dalam berbagai bidang. Literasi dasar yang dikaitkan dengan kebiasaan membaca, menjadi pokok permasalah dasar dalam dunia pendidikan. Semua kompetensi yang dimiliki manusia dapat ditingkatkan dengan membaca. Kunci dari membaca adalah memiliki perbendaharaan pengetahuan, karena manusia dewasa, damai, sejahteran, dan terampil, diawali dari pengetahuan. Atas dasar itu, Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad pada awal kenabiannya dengan memerintahkan membaca.

Secara spesifik, kali ini penulis akan menjelaskan pentingnya literasi finansial untuk meningkatkan kemampuan generasi bangsa kita dalam hal finansial. Literasi finansial bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa yang berdaya saing, dan menunjang pada kedaulatan ekonomi keluarga dan negara. Mental bangsa yang harus dibangun untuk generasi emas mendatang adalah menjadikan mereka sebagai manusia-manusia bermental sebagai investor menuju pada masyarakat merdeka finansial.

Pesan ini penulis kaitkan dengan pesan dari kitab suci Al Qur'an.  (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (Yusuf, 12:46-47).

Informasi dari Al Quran ini mengandung pesan agar masyarakat punya kemampuan mengelola pangan, finansial dalam waktu jangka panjang. Dalam siklus kehidupan akan terjadi sebuah kondisi kriris yang menuntut masyarakat bisa survival dalam kondisi tersebut. Sebagaimana kita saksikan, situasi krisis kerap berulang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Para peneliti berpendapat siklus kriris teresebut kerap terjadi tujuah, sepuluh, 100, dan 1000 tahunan. Saat ini, di awal abadi 21 kita sedang menghadapi krisis karena terjadi perubahan pola hidup masyarakat dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu terjadi kelangkaan dan keterbatasan sumber daya alam, dengan semakin bertambahnya jumlah manusia di seluruh dunia. 

Dalam hal literasi finansial masyarakat Indonesia masih rendah dalam hal investasi saham di pasar modal. Kecerdasan finansial yang perlu kita ajarkan kepada generasi bangsa sesuai pesan dari Nabi Yusuf adalah bertanam tujuh tahun, dan sedikit untuk kamu makan". Generasi bangsa harus diajarkan untuk berpikir jangka panjang dan berhemat untuk menjaga kestersesiaan pangan atau finansial. Prilaku konsumtif yang cenderung mewabah di abad sekarang, perlu diimbangi dengan pendidikan yang mengajarkan kepada masyarakat memiliki budaya produktif dan investatif. 

Budaya hidup menjadi kreditor yang sudah menjadi gaya hidup masyarakat, harus diubah menjadi gaya hidup hemat, investatif, dengan kemampuan mengelola kebutuhan pangan dan finansial dengan berpikir ke masa depan. Salah satu alternatif yang bisa diajarkan untuk melatih kemerdekaan finansial dengan mengajarkan investasi saham di pasar modal melalui pemanfaatan teknologi informasi smart phone yang sudah menjadi gaya hidup masyarakat.  

Investasi di pasar modal bukan lagi gaya hidup milik orang-orang dengan finansial besar. Dengan kemajuan teknologi informasi, investasi saham di pasar modal bisa menjadi gaya hidup seluruh lapisan masyarakat. Ini peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk memiliki mental berdaya saing, mental investor, yang akan ikut membangun kedaulatan bangsa dalam ekonomi. Investasi di pasar modal melalui teknologi infomasi bisa jadi sebuah gerakan gotong royong untuk menjaga kedaulatan dan menghidupkan ekonomi negara. 

Investasi saham di pasar modal bisa dipelajari dari berbagai saluran informasi yang ada di media sosial internet. Masyarakat selain belajar di ruang-ruang informal, harus didorong di ruang-ruang formal di sekolah pada usia tertentu. Warren Buffett sebagai investor legendaris dari Amerika, mengaku mulai investasi saham dari usia 11 tahun. Di Indonesia pengenalan investasi saham di pasar modal bisa dilakukan di pendidikan tingkat menengah. 

Pesan dari Nabi Yusuf untuk dunia pendidikan adalah ajari siswa untuk berpikir jangka panjang, ajarkan sejak dini kemampuan mengelola finansial. Salah satu ciri dari kedewasaan manusia adalah kemampuan mengelola finansial. Ciri dari kedewasaan finasial ditandai dengan kepemilikan mental berpikir jangka panjang dan tindakan-tindakan yang bersifat investatif. Salah satu tindakan yang biasa diajarkan untuk membangun mental ini adalah dengan mengajarkan gerakan menabung saham di  pasar modal di tingkat pendidikan memengah melalui pengelolaan uang saku siswa.

Negara-negara maju maju kemandirian finansial dibangun oleh masyarakat yang punya kesadaran investasi. Berdasarkan informasi dari berbagai media, Singapura memiliki 30% penduduknya punya budaya investasi. Amerika Serikat memiliki 70% penduduk berbudaya investasi. Informasi dari Vier Abdul Jamal sebagai legenda pasar saham Indonesia mengatakan, di Hongkong yang sekarang sebagai bagian dari China, obrolan masyarakat di saat kencing saja mereka ngobrol tentang saham. 

Dari tulisan ini, penulis berharap dengan gerakan nabung saham yang inspirasinya dari Nabi Yusuf, dapat memperbaiki kualitas mental bangsa, dan meningkatkan kedaulatan ekonomi bangsa di tingkat internasional. Semoga Indonesia di tahun 2045 menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Semua ini bisa dicapai dengan budaya yang diajarkan Nabi Yusuf pada masyarakat yaitu, "sedikit makan dan biarkan sebagian besar ditangkai".  Minimalnya tujuh tahun kita lakukan. Wallahu'alam.*** 


Saturday, September 17, 2022

TIGA PROGRAM MERDEKA BELAJAR UNTUK MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Kurang lebih 20 tahun merenung. Program pendidikan apa yang bisa dipakai siswa ketika setelah lulus nanti. Setelah diperhatikan, siapa siswa yang sukses setelah berpendidikan? Pengamatan mata telanjang, pandangan umum, sukses selalu berukuran pada material. Jika sukses ukurannya material, maka sudah pasti ada siswa-siswi yang tidak sukses. Jadi untuk apa berpendidikan?

Jika ukuran sukses adalah gelar akademik, kehormatan, dan kedudukan, maka sudah pasti juga ada yang tidak punya gelar, kehormatan, dan berkedudukan di mata masyarakat. Jadi, apa tujuan pendidikan? Ukuran pandangan keduniawian memang tidak bisa dijadikan ukuran sebagai kesuksesan, kecuali oleh mereka yang sudah punya sudut pandang materialistik. Orang materialistik cara berpikirnya, "pokoknya dunia". 

Dari sudut pandang lain, kesuksesan dari pendidikan adalah ketika siswa-siswi bisa berprilaku baik. Namun ketika melihat kenyataan, ada saja orang-orang yang berpendidikan prilakunya tidak baik. Kadang prilaku baik bersifat relatif tergantung geografi dan budaya masyarakat yang ada. Jadi apa peran pendidikan?

Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah mengantarkan siswa kepada kebahagiaan setinggi-tingginya. Hal ini dapat dicapai dengan membimbing siswa merdeka belajar, dan mendiri, dan bisa mengatur dirinya sendiri. Hasilnya, ada siswa yang merasa terancam, dan merasa cemas ketika berada di lingkungan pendidikan. Artinya ada siswa-siswa yang merasa tidak bahagia ketika berada dalam lingkungan pendidikan. Jadi apa sebenarnya pendidikan? 

Bisa jadi mungkin, pendidikan adalah usaha-usaha pembimbingan kepada siswa-siswi agar mereka bisa menemukan jalan hidupnya masing-masing. Pendidikan tidak ada kaitan dengan kesuksesan, karena pendidikan adalah proses. Sarana pembelajarannya adalah kegagalan, kekecewaan, kemenangan, kebahagian, yang sifatnya sementara. Untuk itu hasil penilaian pendidikan tidak bisa jadi alat ukur baku untuk menentukan keberhasilan siswa. Hasil penilaian dari sebuah pendidikan hanya sebagai informasi. 

Pengguna informasi adalah masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan dalam berbagai bidang. Kualitas pendidikan bukan terletak pada jumlah kejuaraan yang dihasilkan, tetapi ketelitian dalam mengidentifikasi dan mengungkap kepermukaan berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi. Namun, guru sebagai pelaku pendidikan akan merasa kesulitan jika harus mengungkap semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Apalagi jika jumlah siswanya ribuan. 

Hemat penulis, ada konsep dasar yang harus diajarkan dalam dunia pendidikan. Konsep dasar ini digunakan untuk memabngkitkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Ada lima dasar pendidikan yang penulis renungkan menjadi pondasi agar siswa-siswi bisa punya kemampuan menyelesaikan masalah hidupnya hingga kelak dia bisa mandiri dan menemukan kebahagian hidupnya. 

Pertama, pendidikan harus membangun harapan siswa-siswa tetap optimis. Siapapun agamanya, apapan rasnya, dari mana pun asalnya, dan apapun warna darah keturunannya, dia harus punya harapan setelah berpendidikan. Harapan dapat dibangun jika mereka punya informasi-informasi baik di memori otaknya. Lalu siapa yang selalu memberi harapan baik? Hal-hal yang sifatnya langsung duniawi tidak dapat permanen memberi harapan. Sudah jadi pemahaman umum, pemberi harapan mutlak adalah Tuhan Yang Maha Esa. 

Untuk itu, dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, merupakan dimensi pendidikan dalam rangka membangun harapan-harapan optimis siswa-siswi. Upaya-upaya membangun harapan siswa-siswi kepada Tuhan, bukan urusan satu mata pelajaran, tetapi harus jadi gerakan bersama, meliputi seluruh keyakinan agama dan dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Program bisa dilakukan di dalam ektrakurikuler, intra dan ko kurikuler. Pada prakteknya seluruh informasi yang dikaitkan dengan Tuhan harus berisi kabar gembira. Kemampuan kritis dan kreatif yang harus dilatih dalam dimensi ketuhanan adalah membaca seluruh kejadian menjadi harapan baik dari kacamata ketuhanan. Dimensi ini ada pada dimensi keterampilan kognitif.

Keimanan dan ketakwaan berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. literasi dan numerasi merupakan prorgam yang terletak pada dimensi keiman dan ketakwaan kepada Tuhan. Literasi membaca berbagai aspek kehidupan disimpan di ketuhanan karena literasi budaya dasar orang-orang beriman dan bertakwa sehingga membawa harus menjadi tugas setiap manusia berada di atas perintah Tuhan. 

Kedua, pendidikan harus membangun tindakan-tindakan siswa-siswi ke arah yang membawa dampak baik bagi orang lain. Pembelajaran proyek dilakukan dalam koridor mencari masalah, dan membantu memecahkan masalah untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Gotong royong, kolaborasi antar suku, agama, ras, dan bangsa, dilakukan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. 

Proyek pembelajaran yang diorientasikan pada kompetensi sosial yaitu membantu menemukan dan memecahkan masalah yang akan jadi modal siswa-siswi untuk bisa berkomunikasi, berkontribusi, berkolaborasi pada kehidupan masyarakat. Apapun latar belakang agama, budaya, suku, bangsa, seseorang, mereka cenderung bisa menerima orang-orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Siswi-siswi yang terbiasa membantu dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka pasti bisa bergotong royong, berkolaborasi secara global dan cepat beradaftasi dengan berbagai macam dan lapisan masyarakat. 

Dari kompetensi sosial yang terbiasa membantu menemukan dan memecahkan masalah, siswa-siswi dapat memiliki ketermapilan hidup. Semakin terbangun karakter sosial siswa, maka berbagai keterampilan hidup akan siswa-siswi dapatkan. 

Ketiga, membangun kemandirian dengan membiasakan diri untuk berinvestasi. Kemandirian adalah kemampuan siswa-siswi utuk merencanakan kehidupan untuk dirinya di masa depan. Salah satu investasi yang perlu ditawarkan kepada siswa adalah pasar modal dan emas. Investasi di pasar modal dan emas melatih siswa punya kemampuan mengelola uang sejak dini. Kemandirian merupakan ciri kedewasaan seseorang, ditandai dengan kemampuan mengelola uang untuk investasi. 

Ketiga konsep pendidikan ini dikembangkan dari kitab Al Qur'an. "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3). Di dalam ayat ini ada dua dimensi yang saling terikat dengan kuat yaitu dimensi ketuhanan dan sosial kemasyarakatan. 

Pada dimensi keimanan pada Tuhan, didalamnya termasuk kegiatan membaca. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah," (Al Alaq, 94:1-3).

Pada dimensi kemandirian, kegiatannya dikaitkan dengan kemampuan mengelola uang sebagai ciri dari kedewasaan seseorang. Maka program investasi emas, pasar modal dapat menjadi pilihan untuk membangun kemandirian.  "Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan." (Yusuf, 12:47). 

Itulah tiga program merdeka belajar yang akan memerdekakan hidup manusia di dunia dan akhirat. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa membimbing kita dijalan yang penuh dengan kenikmatan merdeka. Kemerdekaan adalah ketika kita punya harapan yang tidak pernah mati karena berharap kepada yang tidak pernah mati. Wallahu'alam.

KADANG AKU BERPIKIR, PERAN GURU HARUS SEPERTI "IBLIS"

OLEH: TOTO SUHARYA

Diskusi-diskusi kecil sering terjadi baru-baru ini. Kurikulum merdeka belajar menuntut kita untuk terus berdialog bagaimana mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar dalam berbagai metode. Saat ini, sudah masanya dimanpun tempat berada harus jadi tempat diskusi. Kapan pun dan dalam situasi apapun diskusi tentang peran guru dan penerapan metode belajar untuk siswa, selalu menarik untuk diperbincangkan. 

Diskusi-diskusi informal dengan wakasek, guru, petugas kebersihan, satpam, staf tata usaha, selalu terjadi. kadang sampai berjam-jam. Isu yang paling hangat didiskusikan adalah tentang profesionalisme guru, metode mengajar, program sekolah, agama, filsafat pendidikan, dan perkembangan teknologi informasi. 

Dalam sebuah diskusi dengan guru tentang peran guru di masa kurikulum merdeka belajar, disepakati bahwa "peran guru sangat berat".  Di era keterbukaan melalui teknologi informasi, faktor lingkungan semakin dominan dapat memengaruhi karakter siswa. Akses terhadap berbagai macam informasi, sudah tidak mungkin lagi dibatasi. Informasi sudah menjadi milik pribadi dan setiap orang bebas menentukan informasi apa yang akan diakses. Guru kesulitan memantau siswa, informasi apa yang diaksesnya setiap hari. Apakah informasi bergizi atau sampah? Jika informasi yang diakses bergizi maka siswa akan jadi siswa produktif, sebalik jika yang diakses informasi sampah, siswa akan sulit dikendalikan perilakunya. 

Peran guru saat ini, seperti berpacu dengan waktu, untuk sesering mungkin memberikan informasi-informasi positif yang harus diakses. Dalam diskusi terlontar ide, "peran guru sekarang jika bisa harus seperti Iblis ketika menggoda Nabi Adam dan Hawa". Bedanya jika Iblis menggoda Nabi Adam dan Hawa untuk berbuat dosa, sedangkan guru menggoda siswa-siswa untuk berbuat kebajikan". 

Banjirnya informasi melalui teknologi informasi, siswa-siswi milenial sekarang dituntut oleh kondisi menjadi anak dewasa sejak dini. Kemampuan berpikir untuk memilah, menginterpretasi, dan menilai sebuah informasi harus diajarkan sejak pendidikan dasar. Untuk mengajarkan kemampuan berpikir sangat tidak mudah. Perlu ketekunan, ketelitian, dan kemahiran dalam mengembangkan metode belajar yang melatih kemampuan berpikir. 

Komunikasi inten dengan siswa, orang tua siswa, harus dibangun sesering mungkin. Di abad informasi, komunikasi menjadi kompetensi penting yang harus dikuasi para guru. Ketika Iblis menggoda Nabi Adam dan Hawa, dia tidak pernah putus asa menggoda. Demikian juga guru sebagai pendidik tidak boleh putus asa untuk terus sesering mungkin membangun komunikasi positif dengan siswa, kadang tanpa batas waktu. Dengan adanya teknologi informasi, kadang peran guru dalam membimbing menjadi 24 jam. Guru tidak boleh kalah kreatif oleh Iblis, mereka menggoda siswa 24 jam, bahkan sampai masuk dalam mimpi. 

Faktanya, dalam diskusi terungkap ada guru yang berperan hingga 24 jam. Melalui media informasi siswa dipantau mulai sejak bangun tidur, di sekolah, hingga kembali ke rumah. Tahajud call, subuh call, hingga absen kehadiran di kelas dan mengikuti program-program karakter di sekolah terus dipantau melalui media teknologi informasi. Namun demikian, sesering apapun guru berkomunikasi positif dengan siswa, masih kalah langkah sama Iblis, yang bisa masuk pada aliran darah siswa. 

Untuk itulah pendidikan agama menjadi media belajar yang bisa diandalkan abad ini. Agama mengajarkan kemandirian dan kesadaran siswa untuk selalu ingat pada Tuhan. Kedekatan siswa dengan Tuhan yang diajarkan melalui keyakinan agama masing-masing dapat menjadi kompetensi siswa untuk menjadi manusia dewasa yang tidak mudah tergoda oleh Iblis. Melalui pembelajaran agama, dan ketermpilan berpikir yang diajarkan dari berbagai mata pelajaran, siswa bisa punya alat pertahanan diri untuk bertarung melawan godaan-godaan Iblis.  

Tugas guru di abad ini semakin berat, pengaruh-pengaruh negatif melalui media informasi begitu mudah tersebar. Informasi-informasi positif yang diajarkan guru, bisa saja hilang dalam hitungan menit, karena setelah selesai pembelajaran, kita tidak tahu informasi apa yang diakses siswa. Kadang-kadang dalam situasi belajar pun, ada saja siswa yang asik mengakses informasi yang disukaainya sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang dapat menolong dalam situasi seperti ini, kecuali kita semua memberi teladan kepada seluruh siswa sesering mungkin untuk selalu mendekat dan berserah diri kepada Tuhan dalam segala kondisi. 

Setiap hari kita harus melatih siswa berdoa, "ya Allah selamatkan kami dari keburukan prilaku, dan selamatkan kami dari keburukan hidup di dunia dan di akhirat. Jadikanlah kami setiap hari sebagai pemenang, yang berhasil menjaga prilaku tetap baik, dan terhindar dari prilaku-prilaku buruk!". Itulah isi diskusi-diskusi yang  kita lakukan dan berakhir karena waktu shalat tiba.***  

Monday, September 5, 2022

WALI KELAS PRESIDEN KECIL

OLEH: TOTO SUHARYA

Jabatan wali kelas merupakan jabatan strategis di sekolah. Wali kelas diumpamakan seperti pemimpin dalam sebuah lembaga. Program-program pendidikan di sekolah, dapat terkoordinir dan tersosialisasikan dengan baik oleh wali kelas. Tertibnya di sekolah, sangat ditentukan dengan tertibnya organisasi di kelas. Kedisiplinan, semangat belajar, kesadaran dan kemandirian, sangat mungkin terjadi di kelas. Pengorganisasian kelas yang optimal dapat menjamin disiplin di sekolah dapat diwujudkan.

Organisasi di kelas, yang dipimpin oleh ketua kelas, wakil, sekretaris, bendahara, dan koordinator bidang, dapat difungsikan sebagai sebuah organisasi otonom yang dapat mengatur anggota kelas. Pemberdayaan kepemimpinan kelas oleh siswa dengan bimbingan wali kelas dapat mendukung program merdeka belajar, melalui penanaman sikap kemandirian. 

Untuk mengendalikan kelas dengan tertib, setiap kelas harus punya visi dan misi masing-masing. Visi dan misi mengacu kepada program-program sesuai visi sekolah. Kepemimpinan kelas oleh siswa, menjadi pendidikan karakter yaitu melatih kemandirian dan kesadaran siswa sebagai pelajar. Kepemimpian siswa di kelas dapat melatih siswa mengelola sebuah organisasi dan dapat diimplementasikan kelak ketika siswa terjun di masyarakat. 

Wali kelas sebagai pendidik berperan penting di kelas sebagai teladan, mediator, dan motivator bagi siswa dalam mendorong tumbuhnya kesadaran untuk belajar dari dalam dirinya. Berjalannya sistem organisasi kelas, dapat mendorong suasana kelas teratur, berbudaya positif, dan terciptanya suasana kehidupan ideal di masyarakat.

Peran sebagai wali kelas di dalam struktur sekolah, harus menjadi perhatian penting. Peranan wali kelas dalam mengontrol dan membimbing siswa dalam berprilaku sebagai masyarakat kecil perlu disosialisasikan. Pelatihan pengelolaan kelas terhadap wali kelas harus diagendakan secara rutin, dan di beri porsi khusus dalam anggaran sekolah. 

Peran wali kelas selain membimbing jalannya organisasi kelas, juga berperan sebagai komunikator antara aktivitas siswa di sekolah dengan para orang tua siswa. Wali kelas bisa mengakses langsung pada orang tua siswa untuk mengomunikasikan program-program unggulan di sekolah. 

Dengan bantuan wali kelas, komunikasi inten antara orang tua siswa dengan pihak sekolah dapat terjembatani. Dukungan-dukungan moril pada siswa dan guru di sekolah dalam melaksanakan program pendidikan signifikan membantu pertumbuhan siswa menjadi manusia-manusia bertanggung jawab dan mandiri. 

Komunikasi wali kelas dengan orang tua melalui grup media sosial, dapat menjalin hubungan emosional positif antara pihak sekolah dengan orang tua. Program-program di sekolah bisa langsung terkomunikasikan kepada orang tua dengan bantuan media informasi secara real time. Terbukti dengan menjalin hubungan baik antara pihak sekolah dengan orang tua melalui peran wali kelas, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan program pendidikan sekolah terlaksana dengan baik.

Untuk itu, posisi peran wali kelas di sekolah harus menjadi jabatan penting dan strategis. Posisi ini harus diisi oleh guru-guru profesional dan berpengalaman. Guru-guru yang diangkat menjadi wali kelas harus mendapat pelatihan-pelatihan khusus dalam hal pengelolaan organisasi kelas. Wali kelas adalah pemimpin pembelajar pada organisasi terkecil di sekolah. Posisi wali kelas seperti orang tua dalam sebuah keluarga yang akan menjamin lahirnya manusia-manusia berkualitas dalam sebuah negara. 

Menduduki jabatan wali kelas di lembaga sekolah, adalah jabatan terhormat karena posisi ini sangat signifikan menentukan berkualitas dan tidaknya sebuah lingkungan belajar di sekolah. Dalam paradigma kurikulum merdeka, kepemimpinan wali kelas dirasakan menjadi sebuah posisi penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan yaitu membentuk siswa berprofil pelajar Pancasila.

Jabatan wali kelas di sekolah harus dikondisikan sebagai jabatan penting, dengan seleksi dan kriteria-kriteria khusus bagi guru yang akan menjabat sebagai wali kelas. Dalam pengalokasian dan pengelolaan anggaran pun, wali kelas harus mendapat porsi untuk mendukung kinerja mereka masksimal. Berkualitasnya lingkungan belajar sekolah dapat diukur dari berkualitasnya pengelolaan organisasi kelas dengan faktor pendukungnya seorang wali kelas***

Saturday, August 13, 2022

INTI PERUBAHAN PADA KURIKULUM MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Perubahan kurikulum memang sudah layak dilakukan. Konsep Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan sekarang sebagai tanda bahwa kurikulum harus berubah. Isi dari Kurikulum Merdeka, menurut hemat penulis terletak pada konten dan metode pembelajaran untuk para siswa di kelas. 

Dari pengamatan penulis, esensi perubahan pada kurikulum merdeka sekarang ada mengubah cara pandang guru terhadap siswa. Paradigma lama, guru terlalu memandang berlebihan pada kecerdasan akademik sebagai akhir dari proses pendidikan. Sehingga hasil akhir dari evaluasi pendidikan adalah capaian nilai akademik. Nilai angka di raport, hasil ujian nasional, terlalu parsial memandang kecerdasan siswa hanya diukur dari hasil tes potensi akademik.

Pada paradigma lama sistem penerimaan siswa baru diklasifikasi berdasarkan nilai akademik. Sehingga terjadi homogenisasi sekolah berdasarkan nilai akademik rendah dan nilai akademik tinggi. Sekolah-sekolah favorit muncul berdasarkan keunggulan potensi akademik tinggi, dengan latar belakang yang sudah tersaring hanya potensi akademik tinggi. Siswa-siswa dengan potensi akademik tinggi, cenderung berlatar belakang ekonomi tinggi, dan latar belakang orang tua dengan berpendidikan.

Oleh karena itu terjadi klasifikasi sekolah berdasarkan kecerdasan akademik dan kelas ekonomi. Kondisi ini telah melahirkan perbedaan kualitas pendidikan di setiap daerah. Pelabelan sekolah favorit jumlahnya hanya sedikit dan sisanya dianggap sekolah-sekolah yang tidak berkualitas.

Dalam paradigma baru yang harus jadi kolektif memori pada guru sekarang adalah semua siswa dilahirkan cerdas. Kecerdasan siswa tidak sebatas kecerdasan akademik, tetapi berbagai kecerdasan yang sudah melekat dimiliki setiap siswa. Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara (1961) seluruh siswa sudah memiliki berbagai macam kecerdasan, mereka seperti kertas yang sudah ada tulisannya namun masih samar. Tugas para guru adalah menebalkan tulisan-tulisan yang ada pada siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Pada sistem penerimaan siswa pun, diberlakukan sistem zonasi yang tidak lagi memebda-bedakan siswa berdasarkan latar belakang kecerdasan, karena pada dasarnya semua siswa cerdas. Sekolah harus menerima berbagai latar belakang kecerdasan siswa, termasuk yang berkebutuhan khusus. Keberhasilan sekolah tidak lagi ditentukan oleh latar belakang kecerdasan siswa tetapi berdasar pada kecerdasan para guru dalam melatih dan mengembangkan bakat para siswa.

Pada pembelajaran dalam paradigma lama, guru-guru cenderung fokus pada konten materi yang terdapat dalam buku paket. Guru tidak memikirkan materi itu bermanfaat atau tidak bagi kehidupan siswa, targetnya adalah menyampaikan semua materi ajar yang ada dalam buku paket. Siswa dilatih kemampuan berpikir melalui materi ajar, tetapi kebermanfaatannya di dalam kehidupan sehari-hari materi tersebut tidak begitu berguna.

Pada  pembelajaran paradigma baru, guru-guru tidak lagi dipasung oleh materi ajar dari buku paket. Berdasarkan pada kompetensi dasar atau capaian belajar yang ada dalam kurikulum guru bisa memanfaatkan berbagai macam sumber materi ajar, untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi ajar harus dianalisis sesuai dengan kebutuhan siswa dimana dia tinggal dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam filosofi Ki Hadjar Dewantara, materi harus esensian dan berguna bagi siswa dengan memperhatikan kodrat alam dan zaman. 

Pendekatan dalam pembelajaran harus lebih banyak memperkenalkan siswa dengan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka (kontekstual). Materi ajar adalah bahan yang membantu memperjelas masalah, dan solusi bagi siswa untuk menyelesaikannya. Dalam paradigma baru, siswa mengerjakan soal matematika dengan rumus-rumus yang diperkenalkan pada siswa tidak lagi berlaku. Pengerjaan soal-soal matermati, harus dikemas dalam menyelesaikan sebuah permasalahan hidup yang dialami sehari-hari dan dibutuhkan oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Teori-teori ekonomi harus dikemas menjadi cara bernaral siswa dalam menyelesaikan masalah nyata dalam kehdiupan mereka. Cara berpikir ilmiah harus menjadi cara berpikir mereka untuk mengidentifikasi dan menemukan pemecahan masalahnya. Evaluasi pembelajaran tidak lagi monoton pada tes kognitif, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji berbagai macam kompetensi yang dimiliki oleh siswa. 

Pedagogik kreatif harus menjadi acuan guru dalam mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran (Supriatna, 2020). Pedagogik kreatif menjadi kreativitas guru dalam mendiagnosis berbagai kecerdasan siswa, kemudian mengembangkan metode yang tepat dalam pembelajaran, dan mengukur dengan alat evaluasi yang mengukur kemampuan siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Jadi, Kurikulum Merdeka membawa angin segar bagi bangsa Indonesia untuk melakukan transformasi mental agar terlahir manusia-manusia kreatif dan berdaya saing. Sesungguhnya tidak ada bangsa bodoh, kecuali mereka tidak diberi pendidikan sesuai dengan kodrat manusia. Dasgufta (2019) mengatakan kreatifitas adalah inti dari kisah sejarah hidup manusia sejak zaman para sejarah hingga sekarang. Manusia-manusia kreatif mampu beradaftasi dan memiliki kemampuan survival di segala zaman.*** 


Sumber:

Dasgupta, S. (2019) A Cognitive Historical Approach to Creativity.  Routledge.

Dewatara K.H. (1961) Bagian Pertama: Pendidikan. Percetakan Taman Siswa. 

Supriatna, N. & Maulidah, N. (2020) Pedagogi Kreatif Menumbuhkan Kreativitas dalam Pembelajaran Sejarah dan IPS. Rosdakarya. 

Sunday, August 7, 2022

KURIKULUM DARI ALLAH

OLEH: TOTO SUHARYA

Jika kita perhatikan, Al Quran dan hadis adalah kitab rujukan pendidikan. Semua ajaran yang terkandung dalam Al Quran dan hadis berkaitan dengan pembentukkan akhlak mulia. Allah mengajarkan kepada umat manusia untuk meniru akhlak Allah. Sebagaimana hadis Rasulullah menjelaskan, "berakhlaklah dengan akhlak Allah".

Kurikulum pendidikan adalah seperangkat aturan yang disusun secara senagaja untuk membimbing manusia membenntuk akhlak mulia. Para pemikir pendidikan semuanya berusaha untuk mewujudkan manusia-manusia berakrakter unggul. Semua niat baik para pemikir pendidikan dinaungi oleh ayat-ayat Allah di dalam Al Quran. 

Keterbatasan pemikiran manusialah hingga terjadi perbedaan persepsi dalam menyikapinya. Namun kita harus berprasangka baik pada semua pemikir di bidang pendidikan. Tetapi setiap manusia diberi hak untuk mengeluarkan pendapat dan pemikirannya dalam menciptakan masyarakat damai sejahtera melalui jalan pendidikan. 

Kurikulum dari Allah, membendung mindset ketergantungan pada Allah.
Allah menjadi penyebab kehidupan damai dan sejahtera umat manusia.

Untuk itu, izinkan penulis mengemukakan pendapat dalam hal mewujudkan pendidikan berkualitas untuk menciptakan generasi terbaik sebagaimana diperintahkan oleh Allah. 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisaa, 3:9).

Atas dasar itulah, penulis menjadikan Al Quran sebagai sumber pemikiran dalam mengembangkan kurikulum pendidikan. Ada dua keuntungan yang didapat jika kita mengembangkan kurikulum berlandaskan pada Al Quran. Kurikulum yang dilandaskan pada Al Quran mengandung keyakinan bahwa Allah ridha pada program-program pendidikan yang kita kembangkan.

Program tersebut antara lain, dengan mengembangkan karakter berbasis pada ajaran agama sesuai keyakinan masing-masing. Program dhuha 12 rakaat tiap hari, memantau shalat lima waktu siswa setiap hari, dan memberi ruang berdoa harian, menjalankan ibadah sesuai keyakinan pada umat agama lain, menjadi program pendidikan bernuansa toleransi. 

Selanjutnya membiasakan karakter sosial tinggi melalui sedekah harian untuk semua siswa lintas agama menjadi keyakinan bersama bahwa dengan melatih siswa berjiwa sosial tinggi akan melahirkan pemimpin-pemimpin menyejahterakan umat di masa mendatang.

Bagi muslim, shalat adalah senjata atau alat untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup di muka bumi. Shalat adalah upaya membangun sikap optimis pada hati dan pikiran siswa. Shalat adalah bentuk ketidakberdayaan manusia dengan mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang dapat memberi pertolongan. Shalat adalah cara manusia untuk tetap bergantung kepada Allah dari segala kegelisahan dan kegalauan dalam hidup. 

Keuntungan dari program kurikulum dari Allah adalah siswa yang kita latih berada di atas jaminan Allah. Siswa berada dalam jaminan hidup damai sejahtera di dunia dan akhirat. Pendidikpun dilatih untuk selalu berserah diri dalam menjalankan tugasnya. Tugas mendidik hanya sebatas membimbing, menyampaikan, mengingatkan, apa-apa yang telah disampaikan Allah dan Rasulullah. 

Pesan dari Allah melalui Rasulullah adalah  "dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus" (Yasin, 36:61). Pondasi pendidikan yang akan membawa kedamaian dan kesejehteraan siswa di dunia dan akhirat adalah membiasakan siswa bergantung pada Allah.

Prakteknya adalah membangun mindset siswa agar segala cita-cita dan tujuan hidupnya selalu memohon jaminan Allah dalam mewujudkannya dengan shalat. Kesadaran siswa dalam mengingat Allah akan membawa mereka pada jalan lurus, manusia-amanusia tangguh, kreatif, berani menghadapi risiko, mampu bertahan dalam kondisi sulit, dan mandiri. 

Kemandirian para siswa sangat tergantung pada kedekatan mereka dengan Tuhannya. Ketenangan jiwa dan optimisme siswa sangat tergantung pada kedekatan mereka dengan Tuhannya. Bagi orang-orang yang selalu tergantung pada Allah, mereka akan tampil menjadi menusi-manusia kreatif, pantang mengeluh, pantang menyalahkan orang lain, dan rela berkorban untuk kedamaian dan kesejahteraan umat manusia di muka bumi. 

Inilah keyakinan penulis, jika kurikulum dari Allah diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Selanjutnya kita berserah diri dan memohon kepada Allah akan lahir generasi-generasi unggul yang bisa membawa kedamaian dan kesejahteraan bangsa dan masyarakat dunia. Disiplin shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat adalah program kukrikulum dari Allah. Sebagaimana Allah perintahkan;

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).*** 


Friday, July 29, 2022

MENGAJARI SISWA SUKSES DENGAN MENYUCIKAN DIRI

Oleh: Toto Suharya

Harta dan ilmu yang melimpah adalah rezeki dari Allah. Rezeki dalam makna luas adalah seluruh kenikmatan dan fasilitas hidup yang kita terima dari Allah. Kenikmatan yang kita terima tiap hari adalah bikmat hidup, tidur, bangun, merasakan makanan lezat, sehat, bernafas, melihat, mendengar, berbicara, dll. 

Fasilitas hidup yang kita nikmati setiap hari adalah sinar matahari, air, udara, tanah yang kita injak, angin, oskigen, virus, bakteri, dll. Seluruh sistem kehidupan yang membuat bisa kita bisa menjalani hidup adalah fasilitas yang yang kita nikmati pemberian Allah sebagai rezeki. 

Rezeki itu datang ketika jiwa kita bersih. Inilah kunci sukses bagi siswa-siswi kita. Program-program pendidikan di sekolah harus mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri. Untuk mengerti bagaimana cara menyucikan diri, pendidikan harus bersumber pada konsep-konsep yang dikembangkan dari Al Quran. 

Konsep suci banyak dijelaskan di dalam Al Quran. Selama ini konsep suci yang ditawarkan terlalu abstrak dan jarang dijelaskan secara rinci sampai diketahui ciri-cirinya. Konsep suci dijelaskan dalam Al Quran sebagai berikut:

Ambillah zakat (sedekah) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (At Taubah, 9:103).

Orang-orang suci adalah mereka yang mengeluarkan zakat dan infak dari hartanya. Jika karakter seseorang sudah memiliki kebiasaan zakat atau infak setiap hari, maka tanda-tanda kesucian jiwa sudah dimiliki. Orang-orang yang jiwanya suci akan selalu diliputi oleh rezeki dalam berbagai bentuk.

Jadi menyucikan jiwa bukan hanya kata-kata abstrak yang sulit dicerna akal, menyucikan jiwa dan kesucian jiwa dimiliki oleh manusia-manusia yang konsisten zakat atau infak serta pikiran dan hatinya  selalu berprasangka baik pada Allah. Membangun karakter berani berkorban, berjiwa sosial, peduli lingkungan dan sesama, berbakti pada orang tua, mencintai fakir miskin, anak terlantar dan anak yatim adalah pendidikan untuk menyucikan jiwa para siswa. 

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)" (Fathir, 35:18).

Pendidikan selanjutnya yang mengajari siswa menyucikan jiwa adalah menghadirkan rasa takut pada Allah sekalipun tidak melihatnya, dengan mendirikan shalat. Jadi ada dua substansi pendidikan yang harus diajarkan kepada seluruh siswa dengan berbagai macam pendekatan yaitu membiasakan shalat dan sedekah. 

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3).

Inilah pendidikan dasar disetiap tingkatan yang akan membawa kesuksesan pada siswa lahir dan batin. Pendidikan yang menyucikan jiwa siswa, dan akan mendatangkan rezeki dari Allah dari arah tidak disangka-sangka. Wallahu'alam.***



Subtansi Pengajaran Menurut Al Quran

Oleh: Toto Suharya

Diskusi bersama guru-guru dan pengawas pendidikan terkait materi ajar apa yang harus diajarkan, muncul suatu kesepakatan bersama bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan harus bermanfaat bagi siswa. Ilmu pengetahuan yang diajarkan pada siswa harus memiliki kebermanfaatan langsung untuk siswa. Jadi tidak semua ilmu pengetahuan diajarkan pada siswa. Inilah poin penting yang harus dipahami dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar.

Di dalam Al Quran ada dua substansi pengajaran yang harus diperhatikan, yaitu menyucikan diri dan bermanfaat bagi siswa. "Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" ('Abasa, 80:3-4). 

Jadi substansi pengajaran memiliki dua dimensi yaitu menyucikan diri siswa dan memberi kemampuan teknis bagaimana hidup bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Konsep menyucikan diri kata kuncinya dijelaskan di dalam Al Quran yaitu mengajari jiwa-jiwa siswa yang takut pada Allah. 

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), ('Abasa, 80:8-9).

Substansi materi ajar adalah mengingatkan siswa tentang keagungan dan kemahabesaran Allah dengan melihat ciptaan-Nya, dan mengingatkan siswa tentang hukum-hukum yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Guru-guru mata dituntut kreatif bagaimana setiap mata pelajaran mengarahkan pada ketaatan dan menghadirkan rasa takut siswa pada Allah. Inilah jiwa-jiwa yang taat, berserah diri, dan merasa takut melanggar pada ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan.

Guru harus punya kemampuan menganalisis materi-materi ajar esensial. Ukuran materi ajar esensial sangat tergantung pada mata pelajaran yang diampu, dan dalam kontek apa materi tersebut perlu diajarkan pada siswa. Seleksi materi ajar esensial berkaitan dengan subtansi materi dalam mata pelajaran. Sedangkan subtansi kontekstual berkaitan dengan kebutuhan berdasarkan pada kondisi zaman yang sedang dihadapi siswa.

Kontekstualitas zaman dapat diamati dari alat-alat hidup atau teknologi yang digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika saat ini masyarakat cenderung memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kontek pembelajaran harus segera memperkenalkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Maka materi-materi ajar yang mesti diajarkan kepada siswa, materi yang mendukung pada siswa untuk memanfaatkan teknologi infomasi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Berbagai substansi mata pelajaran harus mendukung pada pemahaman siswa bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Agama mengajarkan bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi. Sejarah memberi pemahaman bahwa teknologi membawa konsekuensi perubahan budaya dan tata cara manusia bertahan hidup dengan memanfaatkan teknologi informasi. Fisika, Kimia, Biologi, mengajarkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu dan memanfaatkannya dalam kehdiupan sehari-hari. 

Demikianlah gambaran dua substansi ilmu pengetahuan dalam proses pengajaran. Ramuan materi, metode yang digunakan sangat tergantung pada kecerdasan dan kreativitas guru dalam menyajikannya. Wallahu'alam.***

Saturday, July 2, 2022

Refleksi Guru Dalam Pengajaran

Oleh: Toto Suharya

Menjelang 77 tahun Indonesia merdeka, mendekati satu abad bangsa Indonesia merdeka. Upaya-upaya dalam bidang pendidikan sudah dilakukan dan terus menerus diakukan perubahan. Dalam tarikh masehi sekarang kita sekarang berada di awal abad ke-21. Dalam perjalanan sejarah biasanya pada awal abad sering terjadi perubahan besar-besaran menimbulkan situasi krisis. Sebagaimana dulu pada awal abad ke-20 bangsa Indonesia terus bergerak membebaskan diri dari kolonial Belanda. Puncaknya pada pertengah abad ke-20 tahun 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Keberhasilan bangsa Indonesia merdeka tidak lepada dari upaya-upaya pembenahan dalam bidang pendidikan telah dilakukan sejak tahun 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara dengan berdirinya perguraun Taman Siswa. Sekarang kita berada di awal abad ke-21 sejarah seperti berulang, bahwa upaya pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara sedang dimulai kembali.

Pendididikan untuk bangsa Indonesia memang harus dikerjakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Orang yang paling mengerti tentang pendidikan bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Melalui konsep Trikon (kontinyu, konevergen, dan konsentris), Ki Hadjar Dewantara sudah membuka diri menerima pengaruh-pengaruh budaya dari luar, tetapi tidak melupakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Konsep ini ternyata lebih tepat untuk diterapkan dalam pendidikan bangsa Indonesia.

Pendidikan harus berkelanjutan, budaya-budaya dari luar digunakan untuk mengukuhkan jati diri bangsa. Melalui asas konvergen, kita berusaha merekonstruksi budaya luar untuk mengembangkan budaya bangsa sendiri (konsentris). Pendidikan harus fokus pada pengembangan budaya-budaya lokal direkonstruksi menjadi budaya global sesuai dengan perkembangan zaman. Gagasan Ki Hadjar Dewantara sebenarnya menuntut bangsa Indonesia untuk bisa beradaftasi dengan kodrat zaman dengan tidak meninggalkan kodrat alam dimana kita tinggal.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara ternyata lebih cocok untuk diterapkan dalam sistem pendidikan bangsa Indonesia. Upaya yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1922 adalah bagaimana memerdekan siswa dari ketergantungan. Bagaimana cara memerdekakan siswa dalam belajar untuk mencapai kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Pendidikan berfokus pada siswa bagaimana agar mereka benar-benar merdeka. 

Penjajahan ternyata tidak hanya berlaku dalam bentuk fisik, tetapi terus berlanjut berubah bentuk dalam pejajahan mental dikemas dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi. Peran besar pendidikan di abad 21 masih berbicara tentang kemerdekaan dalam belajar untuk melahirkan generasi-generasi mandiri dan bisa menyelesaikan masalah hidup dirinya dan bangsa pada umumnya.

Mengacu pada gagasan pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara, peran besar pada pendidikan di abad 21 sekarang adalah memerdekanan siswa dalam belajar. Pendekatan-pendekatan belajar yang harus dilakukan guru adalah melatih daya nalar siswa. Dalam setiap pembelajaran mereka harus dituntun bagaimana mengolah informasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Paradigma pengajaran zaman kolonial Belanda yang pada saat itu sumber informasi sangat terbatas, guru menjadi sumber informasi paling dominan. Pada zaman kolonial Belanda, belajar menjadi sebuah aktivitas yang sangat dominan membutuhkan kehadiran guru sebagai sumber informasi dan penentu tujuan pembelajaran. Sekarang di abad informasi, kehadiran guru dibutuhkan tetapi bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai penuntun pembelajaran. Sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara, tugas guru adalah memberi teladan, memberi semangat, membangkitkan keberanian, dan memberi dorongan, memengaruhi agar siswa mau terus belanjar secara mandiri.

Ketergantungan siswa ada guru telah mematikan kreativitas, daya nalar kritis, sikap gotong royong, menghargai perbedaan, dan kemandirian. Dominasi guru pada siswa dalam belajar, membuat siswa tidak pandai mengolah informasi, akibatnya mereka sangat mudah putus asa, dan tidak terampil menerima perbedaan pendapat karena fanatisme pada gurunya. Guru telah menjadi berhala, karena siswa tidak punya keberanian berbeda dengan gurunya. 

Dari pengataman di lapangan, setelah siswa lulus dari pendidikan, kebanyakan siswa masih sangat tergantung pada guru. Sumber informasi yang melimpah di internet, tidak menjadi motivasi siswa untuk berani belajar mandiri. Mereka masih tetap mengharapkan kehadiran guru secara fisik. Padahal di era informasi, guru-guru yang bermakna luas tidak harus hadir secara fisik. Melalui internet mereka bisa belajar sesuai keinginan mereka sekalipun tidak berstatus sebagai pelajar. Mereka bisa belajar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memilih banyak guru sesuai dengan kebutuhan. 

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, makna guru dan sisjadi luas. Semua makhluk adalah guru, dan semua makhluk adalah murid dan dimanpun ruang kita temua itulah kelas tempat belajar. Guru dalam konsep abadi 21 bukan hanya mereka yang mendapat surat tugas sebagai guru, tetapi semua orang yang kita temui yang bisa memebrikan iformasi ilmu pengetahuan dia adalah guru. Tugas guru-guru yang mendapat surat tugas adalah membebaskan pikiran-pikiran siswa yang masih terbelenggu oleh konsep guru dalam paradigma zaman kolonial Belanda.

Guru harus mulai menurunkan kedudukannya, bukan lagi sebagai dewa dihadapan siswa. Guru adalah manusia biasa yang hanya bertugas memberi teladan, memotivasi, dan memfasilitasi, bukan untuk menguasai pikiran para siswa supaya tunduk dan patuh pada pemikiran guru. Mari bapak ibu guru kita sama-sama bebaskan pikiran siswa dari belenggu pemikiran-pemikiran guru, karena zaman berubah maka biarkan mereka hidup sesuai dengan zamannya. Mari kita ajari siswa-siswi kita menjadi manusia-manusia mandiri, dengan melatih mereka untuk menyesaikan masalah-masalah hidup mereka sendiri agar bisa meraih kebahagiaan tanpa tergantung pada orang lain.***

 

Sunday, June 26, 2022

Masyarakat Tidak Cinta Pendidikan, Otaknya di Perut

Oleh: Toto Suharya

Otak manusia ada dua yaitu otak di otak dan otak di perut. Apa yang dilakukan manusia sangat tergantung isi otaknya. Namun kondisi perut dapat memengaruhi prilaku manusia. Jika perut sakit seluruh organ tubuh akan terbawa sakit. Sumber energi keseluruh organ diawali dari perut. Namun masyarakat cinta pendidikan tidak akan memerhatikan isi perut melainkan isi otak.  

Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas masyarakat yang cinta pendidikan. Masyarakat pecinta pendidikan mengutakan pendidikan di atas kepentingan perut. Pendidikan adalah urusan leher ke atas. Paling utama pendidikan adalah urusan otak. 

Masyarakat yang tidak begitu cinta pendidikan, diotaknya hanya berisi makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan sangat sensitif ketika berurusan dengan makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan senangnya membuat kegaduhan. Dia tidak suka hidup rukun dan damai.

Masyarakat cinta pendidikan mengatur ekonomi kebutuhan makan dan minum keluarga setelah dana pendidikan terpenuhi. Bagi masayrakat cinta pendidikan, membeli isi otak lebih mengenyangkan dari pada mengutamakan isi perut. Masyarakat yang cinta pendidikan isi perut seada-adanya dipekarangan, namun isi otak harus mewah. Bagi masyarakat cinta pendidikan memenuhi isi otak akan memenuhi isi perutnya. 

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, memenuhi isi perut sama dengan memenuhi isi otaknya, sekalipun faktanya isi otak mereka pindah ke perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, segala tindakannya ditentukan berdasarkan reaksi perut. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka tidak pernah lapar melihat buku. Membeli buku bagi mereka seperti membeli rongsokan yang tidak berguna. Buku tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang bisa dijual kiloaan lalu uangnya ditukar jadi semangkok baso.

Masyarakat cinta pendidikan mencintai tempat-tempat bersih. Masyarakat cinta pendidikan berani membeli mahal sebuah lingkungan bersih. Mereka punya keyakinan dari tempat-tempat bersih akan datang rezeki dan ilmu yang berkah. Masyarakat yang cinta pendidikan membeli ilmu pengetahuan sampai jual rumah dan tanah. Masyarakat cinta pendidikan mengirim anak-anaknya sekolah ke luar negeri melalui jalur beasiswa, bekerja, dan biaya orang tua. 

Masyarakat cinta pendidikan sekalipun biaya pendidikan murah bahkan gratis, mereka tidak ridha pendidikan dengan biaya seadanya. Mereka akan tetap membiaya anak-anak mereka untuk mendapat pendidikan berkualitas. Mereka menambah jam belajar anak-anak diluar jam sekolah, memberi kursus-kursus tambahan untuk menambah keterampilan hidup anak-anak.

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka berburu sekolah gratis lalu membiarkan anak-anaknya seperti kambing di padang rumput. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, semua hasil pendidikan adalah selembar ijazah. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan, bagi mereka sumber rezeki adalah ijazah. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di ijazah.

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, ijazah adalah tuhan pemberi rezeki. Masyarakat tidak cinta semua kejadian dilihat dari reaksi perut. Hatinya tergerak ketika perut lapar. Nasfsunya menggebu-gebu hingga tidak terkendali hanya karena isi perut terancam. Masyarakat tidak cinta pendidikan bisa dikendalikan dengan nasi bungkus. Bagi masyarakat cinta pendidikan, semakin banyak nasi bungkus, hidup terasa menyenangkan. 

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, mau hidup di kota besar atau diperkampungan, selalu hidup kampungan. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan dimanapun hidup seperti cara hidup dikampungnya yang kampungan. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan kualitasnya bisa dilihat sehari-hari. Mereka lebih banyak berdiskusi urusan isi perut sekalipun otaknya sudah sakit bagaikan kanker stadium empat karena terlalu banyak bicara isi perut.*** 

Saturday, June 4, 2022

Sejarah adalah Ilmu Tafsir

 Oleh: Toto Suharya

Sejarah adalah peristiwa yang terjadi di masa lampau. Menurut konsep waktu, sesuatu yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang kembali. Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tahun 1945, peristiwanya tidak akan terulang kembali. Sesuatu yang terjadi di luar kontrol manusia.

Memandang ilmu sejarah bisa terbagi menjadi dua sudut pandang, tergantung argumentasi seseorang dalam memahaminya. Pertama sejarah bisa dipandang sebagai ilmu pasti. Secara universal apa yang terjadi pada setiap orang disebabkan oleh sesuatu yang terjadi. Pandangan ini sering di dukung oleh pendapat Hegel (2012). Hal yang pasti dalam sejarah adalah kejadiannya yang tidak akan pernah berulang, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah akibat dari kejadian yang lalu.

 

Pembelajaran sejarah menjadi sebuah pembelajaran reflektif. Hegel (2012, hlm. 5) berpendapat sejarah reflektif adalah sejarah yang secara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu. Hakikatnya semua yang terjadi berhubungan sebagai kesatuan dan inilah ruh dari sejarah (sejarah universal). Dalam hal ini, penyusunan materi sejarah menjadi hal terpenting. Pertimbangan penulis sejarah menjadi sangat penting dan prinsip, mengacu pada motif perbuatan, dan peristiwa yang akan dipaparkan, dan itulah yang menentukan ceritanya.

Mengacu pada pendapat Hegel jalannya sejarah sudah ditentukan aturan-aturannya. Pemahaman sejarah ada di rasio seseorang. Sejarah sebagai kegiatan reflektif diceritakan berdasar subjektivitas seseorang, namun kemutlakkan harus ada dalam pikiran setiap orang, kemutlakkan itu adalah keseleruhan sistem yang saling ketergantungan. Kemutlakkan itu adalah dalam sistem-sistem yang kecil maupun besar. 

Capra (2002, hlm. 49) mengatakan partikel-partikel subatomik tak memiliki arti sebagai entitas terisolir dan hanya dapat dimengerti sebagai interkenokeksi, dan korelasi-korelasi, antara aneka proses dan pengukuran. Dalam keseluruhan sistem keberadaan suatu benda saling berhubungan sebab akibat, dan ditentukan pula oleh sebab dan akibat yang mutlak yang Yang Maha Pemelihara Kebaikan. Bagi penulis, Sang Pemelihara Kebaikan, dalam kontek pemikiran Islam adalah Ar Rahman dan Ar Rohiim.

Inilah yang dimaksud etika  atau cara berpikir (way of thingking). Jika cara berpikir seseorang berbeda, keseluruhan pengalaman hidupnya akan berbeda. Tindakan etis manusia tidak dapat dipisahkan dari cara berpikir. Terdapat hubungan timbal balik antar keduanya (Abdullah, 2022, hlm. 38). Bagi penulis hubungan tembal balik (sebab-akibat) dapat dimaksudkan sebagai bagian absolut idea pemikiran Hegel, dan sebab atau akibat mutlaknya adalah satu kesatuan sistem. 

Gagasan pemikiran Hegel, Capra, Abdullah, menjadi cara bagaimana kita menjalani kehidupan untuk menemukan gagasan-gagasan kebaikan, dan tujuan-tujuan baik, sebagai cara dan tujuan hidup mutlak dari Yang Maha Kasih dan Sayang. Sarana untuk memahamai way of thingking adalah sejarah kehidupan manusia. Jadilah sejarah adalah ilmu tafsir dalam upaya mencari war of thingking.***

Thursday, May 19, 2022

Makna General Ibadah

Oleh: Toto Suharya

Ketika kita dengan kata Ibadah apa yang ada dalam ingatan? Dalam ingatan semua orang pasti muncul kata shalat. Salah tidak? Jawabannya tidak salah, hanya konsep ibadah menjadi bermakna khusus hanya sebatas shalat. 

Padahal jika kita kembali kepada konsep Al Quran, kata ibadah memiliki makna general. Ibadah bermakna general bisa kita renungkan dari keterangan ayat di bawah ini:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". (Az Zariyat, 51:56)

Makna luas dari ibadah berarti isi dari seluruh kehidupan di muka bumi ini. Di mana saja manusia dan jin berada, mereka ada di ruang atau tempat ladang untuk beribadah. Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berkaitan dengan penciptaan manusia untuk beribadah. 

Lalu apa konsekuensinya jika ibadah dipahami secara khusus menjadi ritual shalat saja? Jika ibadah dimaknai khusus sebagai kegiatan ritual shalat, kita akan kehilangan makna ibadah dalam aktivitas sehari-hari. Kita kehilangan misi hidup yang suci.

Dalam ayat lain, Ibnu Katsir menafsirkan kata shalat dan ibadah dua konsep yang berbeda. "Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam," (Al An'aam, 6:162). Kata ibadah, ditafsir oleh Ibu Katsir dari kata "nusuki" bermakna kurbanku. 

Shalat dan berkurban (ibadah) menjadi dua konsep. Sebagai mana dijelaskan dalam Al Qur'an, "Maka dirikanah shalat dan berkorbanlah (Al Kautsar, 108:2). 

Merujuk pada dua konsep shalat dan berkorban (kurban), dapat disimpulkan bahwa ibadah berkaitan dengan berkorban. Dicontohkan dengan secara khusus berkurban di musim haji dan umrah. Namun jika kita kembangkan makna general, berkorban adalah seluruh kegiatan hidup dan mati manusia untuk berserah diri pada Allah. 

Shalat adalah komitmen yang dibangun manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan seluruh pengorbanan hidup dan mati untuk berserah diri pada Allah. Ibadah adalah seluruh aktivitas hidup untuk mendapat ridha Allah. 

Berbagai bidang yang digeluti manusia di muka bumi sampai bertemu dengan kematiannya tiada lain untuk ibadah. Jadi ibadah adalah implementasi orang-orang shalat dengan untuk berkorban atau berbuat baik atas nama Allah untuk saling berbagi kesejahteraan hidup bagi seluruh alam.

Kata ibadah menjadi pemberi makna bagi seluruh kehidupan manusia. Ibadah adalah praktik-praktik baik atau amal baik manusia dalam mengisi kehidupan. Sebaik-baik amal baik adalah perbuatan yang mengandung pengorbanan untuk menghidupi bukan hanya untuk hidup. 

Ibadah menjadi misi suci manusia dalam mengisi kehidupan. Ibadah menjadi ruh dari seluruh aktivitas manusia dalam berbagai bidang yang digelutinya. Wallahu'alam.***   

  

Thursday, May 12, 2022

Kita Tidak lagi Jadi Bangsa Pengikut

Oleh: Toto Suharya

Kita adalah bangsa dengan pengalaman pahit yang panjang. Kurang lebih 350 tahun mengalami penjajahan, namun selama itu kita tidak pernah mati memperjuangkan kemerdekaan. Kita lahir bukan sebagai bangsa pecundang, kita lahir mewarisi kerajaan-kerajaan besar di dunia. Kita lahir sebagai bangsa berpengaruh di dunia.

Kita tidak kekurangan manusia-manusia berkualitas tinggi. Kita lahir mewarisi gen-gen cerdas warisan nenek moyang. Hari kebangkitan itu semakin mendekat, kita akan tampil menjadi pengendali dunia. Kita lahir kembali menjadi manusia-manusia berpengaruh di dunia. 

Pidato Mendikbud di Hari Kebangkitan Nasional 2022,  kurikulum Merdeka Belajar sudah diimplementasikan pada 140.000 satuan pendidikan di Indonesia. Semangat merdeka belajar akan terus begumul bergelora di seluruh kepala sekolah, guru, dan peserta didik Indonesia. Merdeka belajar adalah memerdekakan pikiran dari segala penjajahan pikiran bangsa-bangsa lain.

Semangat merdeka belajar akan menjadi kekuatan nuklir yang terus bergelora di seluruh hati rakyat Indonesia. Saatnya kita merebut kembali kejayaan Sriwijya, Majapahit, Mataram, yang pernah kita miliki dahulu. Merdeka belajar adalah spirit merdeka dari segala ketergantungan. 

Merdeka belajar tidak ada hukuman, tidak ada lagi cemoohan, tidak ada lagi lecehan dalam dunia pendidikan kita. Perlombaan kita berlaku dengan diri kita masing-masing untuk melepaskan diri dari pikiran-pikiran picik yang selama ini terpelihara. Bangsa-bangsa terbodoh di dunia adalah bangsa yang tidak bangga dengan bangsanya sendiri, bangsa yang menghina bangsanya sendiri, bangsa yang menghina pemimpinnya sendiri. 

Kita harus hentikan pikiran-pikiran bodoh yang selalu menghina antar sesama, kita bangkitkan semangat kolaborasi, saling bantu, saling tolong untuk kembali bangkitkan kejayaan bangsa. Merdeka belajar harus menjadi kekuatan dari dalam untuk melakukan perubahan. Untuk menjadi bangsa besar, kita harus terus membangun kesadaran bahwa kebesaran bangsa bukan karena penghormatan bangsa lain, tapi kita sendiri yang menghargainya dari dalam.

Melalui konferensi tingkat tinggi G20 kita telah membuktikan bahwa kita bukan lagi bangsa pengikut, tetapi sudah menjadi bangsa pemimpin gerakan pemulihan dunia. Abad 20 telah berakhir dan kini memasuki awal abad 21, ini saat nya kita, ini takdir Allah bahwa kita akan kembali memimpin peradaban dunia.

Melalui merdeka belajar, seluruh rakyat Indonesia akan terus menjadi pembelajar. Dimana orang ditemukan disitulah kita ketemu guru, dan ke mana saja ruang kita masuki disitu kita memasuki ruang kelas belajar. Saatnya kita memerdekakan pikiran dari pengaruh-pengaruh budaya asing yang merendahkan budaya bangsa sendiri. 

Tiang-tiang kita tegakkan, puing-puing kita kokohkan, hujatan-hujatan kita abaikan, semua harus berjalan satu arah di jalan yang lebar menuju kejayaan bangsa. Jalan lurus menuju kemenangan sudah kita temukan kembali, kita harus fokus mendidik, membangun jiwa raga bangsa yang merdeka. Gelombang kemerdekaan berpikir sesuai kodrat bangsa sudah mulai menggunung kembali, akan menyapu pemikiran-pemikiran picik yang meredahkan bangsa. Ya Allah bantulah kami untuk bangkit***

Monday, May 2, 2022

Mengajar Al Quran dengan Pentigraf

 Oleh: Toto Suharya

Pentigraf adalah cerita pendek tiga paragraf. Diciptakan oleh Tengsoe Tjahjono dari Universitas Negeri Surabya (Unesa). Menarik sekali pentigraf sangat cocok untuk masyarakat Indonesia yang tidak bisa bertahan lama ketika membaca. Cerita-cerita pendek pas disajikan untuk masyarakat Indonesia. Melalui cerita-cerita pendek tiga paragraf pesan-pesan moral, sains, apa saja bisa disampaikan.

Pelajaran agama bisa memanfaatkan pentigraf untuk mengajarkan isi kandungan Al-Qur'an. Mengajarkan Al-Qur'an melalui pentigraf bisa jadi alternatif guru-guru untuk mengajarkan Al-Qur'an. Pentigraf bisa melatih siswa kreatif, dan menuntut guru-guru kreatif.

Pentigraf yang dikembangkan dari Al-Qur'an dapat membantu berbagai mata pelajaran sebagai pembelajaran menyenangkan, penuh pesan moral. Pentigraf juga bisa dikembangkan menjadi pembelajaran Higher Order Thingking Skills (HOTS).

Contoh pentigraf yang bisa dikembangkan menjadi pembelajaran HOTS dikembangkan dari surah Al 'Alaq. Ide cerita dalam surat Al Alaq dikemas menjadi sebuah cerita yang menutut siswa berpikir.

"Suatu hari dalam situasi pembelajaran, ada siswa bertanya, "mengapa Allah menyuruh manusia membaca?" Guru merespon, "pertanyaan bagus sekali, mari kita jawab bersama. Sekarang perhatikan semua, ketika tengah malam gelap ada yang mengetuk pintu rumah mu, apakah perasaan mu yang bakal muncul? Siswa menjawab, "saya takut pak". Siswa lain menjawab, "saya akan memeriksa siapa yang mengetuk pintu itu?" Guru kembali bertanya, "jika kamu tidak menemukan siapa yang mengetuk pintu itu, apa perasaan mu?" Siswa menjawab, "mungkin rasa takut saya akan muncul pak." Guru bertanya lagi, "lalu bagaiman jika yang ketuk pintu malam-malam itu saudara mu yang baru pulang dari luar kota, apakah kamu masih takut?" Siswa menjawab, "sudah pasti perasaan takut saya akan hilang". Guru menjelaskan, "nah itulah mengapa Allah menyuruh membaca". 

Ini ada kisah lagi yang bisa membantu kalian mengapa membaca itu penting. Dikisahkan ada dua orang dengan karakter berbeda, yang satu berkarakter baik, dan yang satu lagi berkarakter buruk. Orang yang berkarkater baik melarang kamu berbuat baik, dan orang yang berkarakter buruk juga melarang kamu berbuat baik. Jika kebaikan adalah perintah Allah, maka orang manakah yang akan kamu turuti? kemukakan alasan dari pendapat mu?   

Guru kemudian melanjutkan ceritanya, "Jika kamu berhasil menjawab pertanyaan di atas, berarti kamu bisa memahami mengapa Allah memerintahkan membaca". kata guru, "ingat anak-anak kebaikan itu adalah perintah Allah, dan segala keburukan adalah buatan manusia. Orang-orang yang berbuat keburukan akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya".

 Petigraf di atas ide atau gagasannya dikembangkan dari surat Al "Alaq. Pentigraf ini bisa diasjikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan moral, pendidikan agama, sosiologi, atau sejarah. Kisah dengan setting dialog sebuah kasus di atas dapat disajikan dalam pembelajaran yang melatih kemampuan siswa berpikir tingkat tinggi. 

Kunci agar siswa bisa menjawab pertanyaan dari cerita di atas adalah siswa harus membaca cerita tersebut dengan teliti, melakukan analisis, dan dialog dengan teman-temannya. Cerita kasus di atas dapat merangsang siswa untuk berpikir dan mencari tahu apa jawaban yang bisa dikemukakan.

Pentigraf bukan hanya bisa digunakan untuk melatih kemampuan siswa berpikir, tetapi melatih guru juga untuk berpikir menyusun materi ajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Menyusun pentigraf untuk kepentingan pembelajaran dengan tujuan melatih kemampuan berpikir siswa, secara tidak langsung menuntut guru-guru tidak sembarangan menyajikan materi kepada siswa.

Untuk saat itu, setiap materi ajar yang diajarkan kepada siswa harus mengandung tujuan melatih siswa berpikir tingkat tinggi. Melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah tuntutan zaman. Jadi kemampuan membaca menjadi mutlak bukan hanya diajarkan pada siswa, tetapi berlaku untuk guru, dan seluruh umat manusia.***

Monday, March 21, 2022

LIMA PESAN UNTUK PARA LULUSAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Sebentar lagi anak-anak kelas 12 masa studinya akan berakhir. Semua program telah diupayakan dan semoga para lulusan bisa meraih cita-cita dan kemudahan dalam segala urusan. Sebagaimana kita ketahui, segala apa yang diberikan di sekolah bermuara pada perbendaharaan pengetahuan yang tersimpan dalam long term memory anak-anak. Ijazah hanya sebagai tanda bahwa anak-anak pernah bersekolah, namun yang lebih penting lagi sebagai tanda pernah belajar berpikir. Segala pengetahuan yang diberikan bapak ibu guru tentunya tidak akan semua diingat, dan yang pasti diingat adalah yang memiiki kesan mendalam hingga tersimpan dalam memori yang tak terlupakan. Pengetahuan yang tersimpan dalam jangka waktu lama, itulah ilmu pengetahuan yang menjadi milik anak-anak dan akan menjadi ciri dari kualitas pribadi anak-anak.

Sambi menanda tangani karya tulis hasil projek anak-anak, saya cermati semua projek yang dilakukan anak-anak. Anak-anak di daerah dengan di kota besar memang menunjukkan perbedaan. Mungkin karena latar belakang dari pendidikan orang tua, fasilitas, kesejahteraan, kemudahan akses informasi, saya perhatikan kreatifitas anak-anak di kota besar memiliki perbedaan signifikan. Program projeck base learning yang digulirkan oleh sekolah, disambut dengan berbagai macam ide projek sesuai dengan dunia anak-anak zaman sekarang.  

Satu per satu projek anak-anak saya pahami, dari mana gagasan mereka dapatkan dan dari mana kemampuan memanfaatkan teknologi mereka dapatkan. Mereka gunakan aplikasi-aplikasi yang tidak familiar di pikiran saya. Ketika saya katakan aplikasi yang mereka gunakan baru saya kenal, anak anak menjawab aplikasi yang mereka gunakan sudah familiar di kalangan remaja seusia SMA. Lalu saya minta penjelasan bagaimana cara mengunakan aplikasi tersebut dan apa manfaatnya. Mereka menjelaskan dengan detail hingga poin-poin tertentu yang bisa menghasilkan kapital. Saya katakan pada mereka, “jika nanti presentasi jangan membaca catatan untuk itu materi harus benar-benar dikuasi”. Mereka menjawab dengan percaya diri, “semuanya sudah ada dalam kepala”.

Sedikit merenung, inilah zaman sebagaimana dikatakan Ki Hadjar Dewantara kurang lebih 40 tahun yang lalu, “semua ruang adalah kelas dan semua orang adalah guru”. Ketika saya mendengar penjelasan anak-anak bagaimana aplikasi yang mereka gunakan dan mereka kembangkan untuk kepentingan pendidikan, saya sedang membuktikan kebenaran kata-kata Ki Hadjar Dewantara, saya sedang belajar pada guru yaitu siswa. Jadi saya sadar betul zaman sudah berubah, pengetahuan tidak lagi mutlak milik guru dan guru tidak bisa lagi memonopoli diri sebagai orang paling pintar. Guru dan siswa harus sama-sama rendah hati, interaksi yang terjadi bukan lagi sebagai raja dan abdi, tetapi sebagai partner yang harus bersinergi.

Setelah lama mendengarkan anak-anak menjeaskan projek yang mereka lakukan, saatnya saya sebagai guru yang sudah punya pengalaman dan literasi yang cukup lama dalam bidang pendidikan, menyampaikan sebuah pesan terakhir agar bisa hidup sukses semuda mungkin. Pertama, sesuai dengan tujuan pendidikan, saya sampaikan sampai kapanpun Tuhan akan tetap ada, Dia pengendali dan pemberi kemudahan dalam segala urusan. Untuk itu, dasar karakter yang harus dimiliki adalah harus menjadi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, minimalnya ditandai dengan selalu berpikir positif pada setiap keadaan dengan membiasakan membangun harapan-harapan baik kepada Tuhan dengan disiplin berdoa setiap hari sesuai keyakinan, bagi muslim shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kedua, karakter baik yang harus adalah menjadi pribadi yang menghargai ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan untuk memenuhi nutrisi otak. Membaca harus menjadi kegiatan mempribadi dan berlaku sepanjang hayat, karena semua yang berhasil diciptakan manusia dasarnya dari pengetahuan. Ketiga, karakter dermawan harus benar-benar jadi mindset pada saat mau melakukan kegiatan apapun di muka bumi ini. Karakter dermawan adalah prilaku pemberkah yang bisa mendatangkan berbagai macam kebaikan dalam kehdiupan sesama manusia di seluruh dunia. Dalam posisi apapun kedermawanan menjadi karakter yang sangat dinanti-nantikan oleh semua orang pada kita menempati sebuah peran. Keempat, karakter sebagai seorang entrepreneur adalah modal bagi setiap orang agar bisa menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan. Seorang entrepreneur tidak pernah tergantung pada sesuatu atau seseorang. Seorang entrepreneur akan selalu kreatif berusaha mencari jalan keluar. Satu-satunya sikap ketergantungan bagi seorang entrepreneur hanya kepada Tuhan Yang Ghaib. Kelima, mental ivestor harus benar-benar menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari. Setiap tindakan harus menjadi investasi hidup di masa mendatang hingga kehidupan setelah kematian. Mental-mental kreditor harus diminimalisir untuk menghindari perbudakkan dalam segala aspek kehidupan. 

Semoga lima pesan ini menjadi akhir pertemuan dan menjadi pedoman yang bisa membawa para lulusan menjadi manusia-manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, kreatif dan berilmu, penyejahtera pembawa damai di muka bumi, mandiri, sukses di dunia dan akhirat. Selamat jalan anak-anak semoga hari-hari mu terus menyenangkan dan mensejahterakan. Kami titipkan cita-cita, semoga kalian bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa besar yang dikelola oleh manusia-manusia berjiwa besar, pemimpin penyejahtera alam di bawah bimbingan Tuhan Allah swt. Wallahu’alam. 

Thursday, March 10, 2022

MUARA KEBERHASILAN PENDIDIKAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Faktor penunjang keberhasilan dunia pendidikan, tidak berdiri sendiri, pemerintah telah menetapkan minimalnya ada delapan standar, yaitu kualitas lulusan, substansi kurikulum, profesionalisme pendidik, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, ketersediaan biaya, manajemen dan evaluasi pembelajaran. Dengan jumlah penduduk 270 lebih, Indonesia punya pekerjaan rumah yang sangat besar untuk tetap menjaga layanan pendidikan berkualitas. Komitmen pemerintah untuk memperbaiki dan menjaga layanan pendidikan berkualitas dituangkan dalam APBN dan APBD minimal 20% untuk investasi pendidikan. Kita apresiasi sungguh suatu langkah maju bagi bangsa Indonesia untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara.

Kita berharap dari anggaran yang besar ini menjadi sebuah energi untuk terus berusaha memacu perubahan pola layanan pendidikan berkualitas. Pendidikan karakter menjadi sebuah agenda penting untuk menyukseskan program-program pendidikan. Pemerintah sudah membaca dengan cermat pendidikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pedidikan karakter Profile Pelajar Pancasila menjadi ikon dari tujuan pendidikan karakter di Indonesia saat ini. Ikon pendidikan karakter ini sudah menjadi kebutuhan masyarkat di era globalisasi informasi, yang membuat batas-batas geografi sebuah negara dan arus pertukaran informasi serta budaya terjadi setiap hari tanpa batas. Budaya-budaya dominan yang inten dikampanyekan melalui media informasi akan menjadi trend budaya dunia. Pemilik budaya dominan akan jadi pengendali sosial, poilitik, dan ekonomi dunia.

Perang saat ini tidak hanya menggunakan kekuatan senjata pemusnah masal. Di abad teknologi perang bukan lagi fokus pada kekuatan fisik tapi kekuatan psikis bagaimana memengaruhi persepsi masyarakat dunia agar tindakan-tindakan politik sebuah negara mendapat apresisasi dari seluruh dunia. Sedangkan pandangan manusia hanya bisa melihat lahir saja. Sementara yang bathin urusan Allah. Oleh karena itu, di abad teknologi ini, keburukan bisa terbungkus seolah-olah perbuatan baik itu baik karena keterbatan penglihatan manusia. Kita seperti berlomba-lomba berbuat kebaikan, padahal kebaikan yang hakiki hanya ada dalam niat hati setiap orang yang berbuat baik. Kebaikan yang sejatinya baik hanya niat-niat yang transaskinya dengan Allah.     

Ustad Dudi Mutaqin mengatakan bahwa guru-guru yang baik adalah mereka yang memiliki niat-niat baik atas nama Allah dalam melaskanan tugasnya. Selanjutnya pembelajaran menyenangkan dan tidak meyenangkan berawal dari pribadi guru. Antusiasme belajar siswa diawali dari antusiasme guru. Guru sebagai pengendali kualitas pengajaran. Ketertarikan siswa pada mata pelajaran sangat signifikan kembali pada daya tarik guru dihadapan siswa. Muara keberhasilan pendidikan adalah guru. Walahu’alam. 

Saturday, March 5, 2022

RAHASIA SUKSES INVESTOR SAHAM

 OLEH: TOTO SUHARYA

Bagi penulis, tidak ada pekerjaan yang nikmat seperti surga di bumi ini, kecuali menjadi investor. Lo Kheng Hong, Warren Buffett, adalah orang-orang yang sudah merefresentasikan bagaimana hidup di muka bumi ini seperti di surga. Bagi mereka yang sudah berinvestasi saham selama puluhan tahun, di masa tuanya benar-benar mendapati hidup seperti di surga, yang hanya tidur, kerja dari rumah, semuanya seperti sudah dilayani Tuhan. Semua orang pasti bercita-cita hidup seperti di surga, dan mungkin hanya Lo Kheng Hong yang sudah merasakan bagaimana nikmat seperti hidup di surga nanti. Bukan halusinasi, bukan khayalan, hidup banyak tidur penghasilan terus meningkat, telah dialami oleh para investor dalam dan luar negeri.

Para investor yang sudah menikmati hidup senang saat ini, bukan berarti tanpa risiko hidup yang telah dialaminya. Tentu saja, ada syarat agar bisa mencapai tahapan hidup seperti di surga seperti dirasakan oleh Lo Keng Hong sekarang. Menyimak dan belajar dari pola hidup Lo Kheng Hong, syarat menjadi seorang investor berkaitan dengan karakter baik yang harus dimiliki seseorang. Seorang investor bukan juara-juara lomba di sekolah, atau orang dengan ulusan kuliah IPK tinggi, atau lulusan universitas ternama dari luar negeri. Syarat menjadi investor itu adalah berakarakter baik, berakhlak mulia, berjiwa tenang, sabar, berani mengambil risiko, dan cinta damai. Karakter baik Lo Kheng Hong seperti karakter baik yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada kita semua.

Menyimak pernyataan Lo Kheng Hong, syarat menjadi seorang investor; Pertama adalah berkarakter sabar. Keuntungan-keuntungan besar dari saham tidak didapat dalam waktu singkat. Hong menanamkan sahamnya untuk jangka panjang. Saham terlamanya sampai bisa menghasilkan berlipat ganda pernah menunggu sampai 16 tahun. Hidupnya yang penuh dengan kesejahteraan dan kedamaian setelah kurang lebih 30-40 tahun berinvestasi saham. Jika tidak punya karakter sabar, keuntungan besar itu tidak akan pernah bisa diraihnya. Untuk itu para investor saham mengajarkan untuk mulai berinvestasi sejak dini. Warren Buffett mulai berinvestasi saham sejak usia 11 tahun, bahkan jika dia bisa mengulang masa hidupnya, akan berinvestasi saham sejak usia lima tahun.

Kesabaran ternyata karakter yang pasti dimiliki oleh manusia-manusia unggul di seluruh muka bumi ini. Allah mengajarkan di dalam Al-Qur’an, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu” (Ali Imran, 3:120). Allah menjamin orang-orang sabar tidak akan mendapat kerugian. Inilah rumus dasar menjadi seorang investor. Bertahun-tahun menanam saham pada akhirnya akan diganjar dengan kelimpahan keuntungan saham beratus-ratus persen dari harta yang diinvetasikannya. Para investor telah membuktikan kebenaran ayat ayat Allah Yang Maha Benar.

Tidak akan dikatakan orang berkarakter baik tanpa memiliki kesabaran. Kesabaran adalah induk dari segala kebaikan karakter yang dimiliki manusia. Semua orang berkualitas baik di muka bumi ini memiliki kualitas kesabaran yang tinggi. Semua profesi dapat mendatangkan kesuksesan didasari oleh kesabaran orang-orang pada profesi tersebut. Ketentuan ini sudah Allah tetapkan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (Fushshilat, 41:35). Tidak ada karakter baik, tidak ada keberuntungan besar, sebelum orang-orang itu punya kualitas kesabaran yang tinggi. Para investor telah membuktikan kebenaran ayat Allah ini. Para investor yang memiliki kesabaran tinggi lah yang sekarang mendapat keberuntungan besar dan punya karkater-karakter baik dalam pribadinya.

Dikabar dalam sejarah di dalam Al-Qur’an, orang-orang yang telah mengetahui bahwa kesabaran adalah karakter yang selalu membawa kebaikan, maka orang-orang terdahulu berdoa, "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)" (Al ‘Araaf, 7:126). Orang-orang terdahulu meminta untuk dijadikan orang sabar sampai mati menjemputnya. Sungguh berbahagialah para investor, karena mereka mendapat segala apa yang dijanjikan Tuhan kepada manusia, menjadi orang berpikiran sehat, berkarkater baik, mensejahterakan sesama, dan diberi keberuntungan besar. Para investor adalah orang-orang yang punya kualitas kesabaran tinggi, dan mereka termasuk pada golongan orang-orang yang dicintai Allah. “Allah menyukai orang-orang yang sabar” (Ali Imran, 3:146).

Para investor sebaik-baiknya manusia di republik ini, karena mereka tidak bermental pengemis tetapi mereka bermental pemberi manfaat kepada banyak orang. Investasi sahamnya di pasar modal, sekalipun tidak seberapa, namun investasinya telah menggerakkan roda ekonomi dalam sebuah negara bahkan dunia. Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa investor yang dicintai Allah karena kualitas kesabarannya. Semoga IndonesiA menjadi negeri para investor, negeri para penghuni surga yang diberi keberuntungan besar oleh Allah swt. Walahu’alam.

BEDANYA TRADING SAHAM DENGAN JUDI ONLINE

OLEH: TOTO SUHARYA Diskusi dengan alumni yang kebetulan sudah investasi saham di pasar modal. Pembahasan diskusi fokus pada jual beli saham ...