Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Friday, August 8, 2025

MENDERITA DAN BAHAGIA AKIBAT PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Syeh Abdul Qadir Al Jalinani adalah salah satu imam berpengaruh dikalangan muslim Indonesia. Di dalam kegiatan-kegiatan doa, ustad-ustad selalu menyisipkan nama Syeh Abdul Qadir Al Jailani sebagai ulama yang selalu didoakan setelah bersalawat kepada Nabi Muhammad saw. 

Syeh Abdul Qadir Al Jailani mengatakan, "Ketahuilah derita berubah jadi bahagia dan bahagia berubah jadi derita, hal itu terjadi karena didikan". Pendapat ini beliau tafsirkan dari hadis Rasulullah saw, "setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi". Menurut Beliau, "hadis ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki potensi menjadi bahagia maupun menderita."


Ebook Sukses dengan Logika Tuhan: https://lynk.id/mastershopi

Jika dicermati, Syeh Abdul Qadir Al Jailani memberi makna pada hadis di atas menggunakan logika sebab akibat. Anak terlahir fitrah merupakan takdir Allah pada setiap orang yang baru lahir. Fitrah merupakan potensi-potensi baik yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, terutama fitrah dalam mengenal siapa Tuhannya. Fitrah ini tidak bisa diganggu gugat karena ketetapan Allah.

Selanjutnya bisa dicermati cara berpikir Syeh Abdul Qadir Al Jailani menafsirkan kembali dengan logika sebab akibat kalimat dalam hadis.

Kedua orang tua adalah SEBAB

Menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi adalah AKIBAT

Dari logika sebab akibat tersebut, Syeh Abdul Qadir Al Jailani berpendapat bahwa bahagia dan derita yang dialami manusia tergantung pada didikan. Kedua orang tua dijadikan sebab jadi menderita atau bahagia seorang anak dikaitkan dengan fungsi pendidikan yang ada di lingkungan keluarga.

Berfungsinya pendidikan keluarga sangat tergantung pada orang tua. Pesan dari Syeh Abdul Qadir Jailani adalah pendidikan sangat penting dan menentukan untuk kehidupan anak-anak. Di dalam dunia pendidikan ada peran orang tua yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya agar mereka bisa hidup bahagia. Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara mengatakan tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak-anak menuju kehidupan bahagia setinggi-tingginya.

Lembaga pendidikan adalah refresentasi dari kedua orang tua dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Jika begitu, sekolah-sekolah, kampus-kampus, sebenarnya dihuni oleh "orang tua" dari anak-anak dalam arti luas sebagai pelaksana fungsi pendidikan. Guru-guru, dosen, yang ada di lembaga pendidikan adalah manusia-manusia sakral karena disejajarkan dengan orang tua dari anak-anak.

Tidak heran ketika di Jepang, Korea Selatan, China, Jerman, dan Finlandia, guru-guru, dosen, menjadi orang-orang terhormat di masyarakat. Tradisi hormat pada guru masih terjaga di lingkungan pendidikan pesantren. Sedangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia penghargaan pada guru dan dosen sedikit memudar. 

Dapat dipahami logika berpikir Syeh Abdul Qadir Al Jailani adalah setiap orang berpotensi menjadi bahagia atau menderita, maka sebabnya sangat tergantung pada pendidikan yang didapatnya. Pendapat ini didukung oleh data dari hadis Nabi Muhammad saw. Inilah logika yang dibimbing Tuhan.

Jika sekarang ada orang berpendapat bahwa pendidikan telah membuat masyarakat Indonesia menderita, bisa jadi iya bisa jadi tidak. Perlu kajian dan penelitian, pendidikan-pendidikan seperti apa yang bisa membuat masyarakat Indonesia hidupnya menderita. 

Kemiskinan secara umum diakui sebagai sebab penderitaan. Bisa jadi selama ini, ada pendidikan yang mengakibatkan anak-anak menderita. Menurut hemat saya, pendidikan yang kelak menjadi penyebab anak-anak menderita karena pendidikan tidak mengandung penderitaan.

Kita kembali kepada pendapat Syeh Abdul Al Jailani, "tidak boleh mengatakan orang ini pasti bahagia atau orang ini pasti menderita". Tetapi hendaklah mengatakan, "orang ini bahagia jika amal baiknya mengalahkan amal buruknya dan sebaliknya". 

Jadi jelas, lembaga pendidikan yang akan jadi sebab penderitaan anak-anak adalah lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan, melatih, membimbing, memotivasi, anak-anak untuk berbuat amal-amal baik agar mengalahkan amal-amal buruknya. Kondisi ini dapat tercipta bukan karena bangunan sekolah yang megah, tapi karena peran guru-guru, dosen, yang memosisikan dirinya sebagai orang tua dari anak-anak sekalipun bukan anak biologisnya.*** 

Friday, March 28, 2025

PENDIDIKAN ITU HANYA URUSAN OTAK

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." (Yunus, 10:100)

Para ahli neurosains telah bersepakat bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia diperintah dari otak. Ketika tangan mencuri, kaki menendang, mata melihat, telinga mendengar, mulut bicara, dan hati sedih, senang, dan bahagia, perintah teknisnya ada di otak. 

Otak secara material merupakan sebuah infrastruktur yang berfungsi untuk menyimpan dan mengolah informasi sebagai bahan manusia dalam mengambil keputusan. Hati adalah bagian dari fungsi otak terdalam yang bertugas mengindera dengan perasaan, getarannya dapat dirasakan di dada.

Otak dapat bekerja dengan baik jika diberi masukkan informasi yang baik. Otak terbaik yang bisa memilah dari kurang lebih 60 ribu informasi yang masuk ke otak dipilih hanya informasi yang baik. Otak yang terbiasa memilih informasi baik dapat menjadi sebab perilaku seseorang cenderung baik.

Berdasarkan argumen di atas, disepakati karakter baik, prilaku baik, disebakan oleh informasi-informasi baik yang dikonsumsi otak. Jadi upaya-upaya pendidikan di sekolah sebenarnya hanya mengurusi berfungsinya otak dengan baik. 

Melatih berpikir kritis, kreatif, dan imajinatif, adalah urusan mendasar pendidikan yang berurusan dengan otak. Berpikir kritis artinya melatih otak untuk memilah dan memilih informasi-informasi baik saja yang boleh dipersepsi dan diapresiasi oleh otak. 

Berpikir kreatif adalah melatih otak mencari alternatif informasi baik sekalipun fakta yang dilihat informasinya buruk. Berpikir kreatif aktivitas otak mencari peluang baik dalam segala kondisi. 

Berpikir imajinatif adalah melatih otak mampu mengembangkan informasi-informasi baik yang diterima dikembagkan menjadi informasi terbaik tepat guna dan bermanfaat. Imajinasi kegiatan mengembangkan pengetahuan di atas pengetahuan.

Melatih otak berpikir kritis, kreatif, dan imajinatif, harus dilakukan setiap pendidik. Fokus pendidikan dari abad ke abad tidak akan jauh dari urusan otak yaitu optimalisasi kemampuan berpikir analisis, sistesis, dan interpretasi. 

Para pendidik perlu memahami ilmu tentang berpikir, wawasan keilmuan luas, suka membaca, dan punya karakter pembelajar sepanjang hayat. Pendidik yang kurang wawasan, kurang ilmu, dan tidak memahami detail tentang fungsi otak dalam berpikir, tidak akan jadi pengajar terbaik.

Untuk optimalisasi otak, ilmu-ilmu wajib dipahami pendidik adalah Neurosain, Kognitif Sains, dan Psikologi Kognitif. Ilmu ini wajib dipahami para pendidik karena pendidikan mutlak urusan mengoptimalkan fungsi otak.

Modal dasar yang harus dipenuhi agar otak bisa bekerja optimal adalah stok pengetahuan di otak tidak boleh kekurangan. Aktivitas membaca buku, meneliti, harus didorong menjadi budaya dalam lingkungan pendidikan. Budaya baca merupakan prasyarat wajib ada dalam dunia pendidikan.***



  

Saturday, March 1, 2025

HILIRISASI PENGETAHUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Fenomena pengajaran di sekolah saat ini, pengetahuan diajarkan tidak sampai ke hilir. Pengetahuan yang diajarkan di sekolah berhenti di hulu. Pengajaran matematika, ilmu alam, ilmu sosial, hanya mengajarkan teori-teori yang ada dalam ilmu-ilmu tersebut. 

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, melatih anak-anak berpikir tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah. Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, berhasil membuat anak-anak punya kecerdasan intelektual, tapi hanya sekedar di atas kertas.

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah telah berhasil mengantarkan anak-anak masuk perguruan tinggi terbaik, tetapi mereka tidak bisa hidup mandiri. Biaya kuliah, makan, minum, mereka masih cenderung tergantung pada orang lain. 

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah seperti pengajaran shalat yang hanya memberi tahu bagaimana tata cara ritual shalat yang baik, tetapi tidak mengerti bagaimana shalat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hilirisasi pengetahuan adalah upaya mengajarkan ilmu tidak hanya di tataran teoritis keilmuan, tetapi harus menjadi pedoman dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. 

Sebagaimana shalat bukan sebatas gerakan ritual yang benar sesuai contoh Nabi Muhammad, tetapi harus menjadi dorongan bagi setiap orang untuk menjadi manusia-manusia berakhlak baik. 

Hilirisasi pengetahuan merupakan upaya pendidikan mengajarkan ilmu untuk menjadikan anak-anak bisa hidup mandiri sejak di sekolah, bukan setelah lulus. Ilmu-ilmu yang diajarkan harus menjadi keterampilan hidup agar anak-anak bisa mandiri sedini mungkin.

Hilirisasi pengetahuan seperti mengajarkan agama kepada manusia agar mereka menjadi makhluk berakhlak baik, bukan pemuja Tuhan dalam ritual-ritual. 

Pendidikan tanpa hilirisasi pengetahuan memiskinkan dan membuat masyarakat korup, yaitu pendidikan yang mengajarkan anak-anak mampu mengerjakan soal-soal dalam ritual ujian, lomba-lomba, mereka meraih bahagia tetapi mereka lupa kehidupan nyata.

Di era informasi, pengajaran bukan lagi sekedar mengisi waktu luang sebelum anak-anak dewasa, tapi melatih anak-anak berprilaku dewasa sejak dini. Kedewasaan bukan bertambahnya umur dan fisik membesar, tapi dilihat dari kelakuan. Kedewasaan yang harus diajarkan sejak dini adalah berani hidup mandiri di atas kaki dan tangan sendiri.***


Monday, July 22, 2024

FILOSOFI PENGETAHUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Pendidikan itu sederhana hanya mengurusi isi memori otak. Isi memori otak membawa dampak pada pola pikir, cara bicara, cara bertindak, dan prilaku seseorang. Kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh isi pengetahuan di memori otak.

Adiputri (2023) menjelaskan sistem pendidikan di Finlandia mengadopsi pemikiran Kereluik dkk. (2011/2013), Maynard (2019). Mereka berpendapat kerangka kerja pembelajaran abad ke-21 mencakup pengetahuan fundamental, meta pengetahuan, humanistik.

Pengetahuan fundamental terdiri dari tiga, yaitu pengetahuan ilmu-ilmu dasar, pengetahuan lintas ilmu, dan literasi digital. Pengetahuan fundamental digunakan untuk memahami (to know). 

Meta pengetahuan digunakan untuk bertindak (to act). Meta pengetahuan meliputi kemampuan kolaborasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan inovasi. 

Meta pengetahuan berkaitan dengan pengetahuan tata cara berpikir kolaboratif, kreatif, memecahkan masalah, dan inovasi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pengetahuan dari pengetahuan. 

Pengetahuan humanistik diperlukan untuk memaknai (to value). Pengetahuan humanistik mencakup  keterampilan hidup/kerja, kesadaran etis/emosional, dan kompetensi kultural. 

Pengetahuan humanistik berkaitan dengan kemampuan menemukan nilai-nilai hidup yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Jika kita perhatikan tiga konsep pengetahuan yang digunakan sistem pendidikan Finlandia, tidak beda dengan teori pendidikan terdahulu. 

Teori pendidikan yang digunakan di Finlandia mengacu kepada tiga belahan otak, yaitu otak depan, tengah, dan belakang. Otak depan dikaitkan dengan Kognitif (to know). Otak tengah dikaitkan dengan Afektif (to value). Otak belakang dikaitkan dengan Psikomotor (to act).

Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, pendidikan di Finlandia mulai mengajarkan pengetahuan dari level berpikir memahami, menerapkan, analisis, sistesis, dan evaluasi. 

Dalam prakteknya, sebelum melaksanakan pengajaran guru harus melakukan riset tentang pengetahuan apa yang hendak dijadikan bahan ajar untuk siswa. Pengetahuan tersebut diajarkan secara bersamaan digunakan untuk to know, to act, dan to value. 

Pendekatan yang digunakan untuk menerapkan tiga konsep pengetahuan di atas dengan problem solving. Sebelum mengajar guru harus melakukan riset mengacu pada kodrat alam, kodrat zaman, dan kodrat keadaan. 

Kodrat alam berkaitan dengan potensi dan masalah lingkungan sekitar siswa, kodrat zaman berkaitan dengan jiwa zaman, trend, dan arah perubahan yang sedang terjadi di masyarakat. Kodrat keadaan, meliputi kondisi perkembangan psikologi siswa. 

Kondisi saat ini, guru-guru harus jadi kurikulum hidup, guru mampu mendesain pengajaran sesuai dengan kebutuhan dan perubahan zaman. Guru-guru harus punya kepedulian tinggi pada lingkungan dan mengenali masalah yang sedang dan akan terjadi kemudian pada siswa.

Jadi, pengajaran bukan hanya menyampaikan pengetahuan-pengetahuan dasar struktur keilmuan, tapi pengetahuan dasar tersebut harus menjadi alat untuk memahami, (to know), mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, inovatif, kolaboratif (to act), dan bermakna bagi kehidupan mereka di masyarakat (to value).***

Saturday, July 8, 2023

BEDANYA KONSEP USAHA DENGAN KERJA, KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Usaha dan kerja jika tidak kita teliti, sekilas pengertiannya sama. Namun jika kita teliti dalam konsep yang kita kaji dari Al Quran, usaha dan kerja dua konsep yang berbeda.  Memahami konsep secara mendetail penting untuk dipelajar, sebab kita bisa melakukan sesuatu jika kita paham konsep. 

Untuk memahami konsep kita harus mengembangkan definisi. Tidak ada definisi yang terbaik, kecuali memberi kemudahan kepada seseorang untuk memahami dan menjalankannya. Di dalam Al Quran terdapat banyak konsep, antara lain dibedakan antara konsep usaha dan kerja. 

Penting untuk memahami konsep usaha dan kerja, agar kita bisa melakukan apa yang dijelaskan di dalam Al Quran. Pengertian konsep usaha dan kerja bisa kita pahami dari ayat di bawah ini:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Al Baqarah, 2:286).

Dalam surat di atas ada dua konsep yaitu usaha dan kerja. Kita petakan perbedaannya dalam gambar di bawah ini:


Kerja ada pada wilayah niat, adanya di hati dan pikiran. Kerja ada di wilayah perbuatan. Ayat ini bisa kita pahami jika membaca hadis Nabi Muhammad diriwayatkan Bukhori Muslim. Bunyi hadis itu dipetakan dalam gambar di bawah ini.


Usaha adalah kegiatan yang dilakukan oleh hati dan pikiran. Contoh kegiatan usaha adalah mencari ide atau mengendalikan nafsu untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup. Kegiatan mencari ide dan mengendalikan nafsu ada pada ranah pikiran dan emosi. 

Bentuk nyata usaha seseorang adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan. Dunia pendidikan adalah upaya seseorang dalam mencerdaskan pikiran dengan mengenalkan hakikat kehidupan, melatih mengendalikan emosi, dan membekali dengan keterampilan hidup di masyarakat.

Kerja adalah kegiatan yang berkaitan dengan tindakan-tindakan fisik. Contoh kegiatan fisik adalah prilaku sehari-hari dalam hidup. Prilaku fisik ketika seseorang bergaul di lingkungan keluarga, kantor, pabrik, sekolah, kampus, pasar, dan masyarakat. 

Dunia pendidikan harus menyangkut dua ranah yaitu kemampuan berusaha dan bekerja. Dua ranah ini tidak terpisahkan, harus diajarkan secara bersamaan. Sehingga lulusan dari sebuah pendidikan dibekali dengan kemampuan berusaha dan bisa bekerja. 

Pembagian porsi pendidikan bukan dipisah menjadi teori 30%, praktek 70%, tetapi teori dan praktek harus dilakukan secara berkesinambungan. Kegiatan praktek berkaitan dengan pembentukan karakter dan keterampilan hidup yang harus dimiliki siswa bersumber pada teori. Hasil dari pendidikan adalah siswa yang punya kecerdasan intelektual, karakter, dan keterampilan hidup. Wujud dari hasil pendidikan adalah siswa yang punya kemampuan hidup mandiri, sejahtera dan bisa mensejahterakan orang lain. 

Thursday, March 10, 2022

MUARA KEBERHASILAN PENDIDIKAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Faktor penunjang keberhasilan dunia pendidikan, tidak berdiri sendiri, pemerintah telah menetapkan minimalnya ada delapan standar, yaitu kualitas lulusan, substansi kurikulum, profesionalisme pendidik, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, ketersediaan biaya, manajemen dan evaluasi pembelajaran. Dengan jumlah penduduk 270 lebih, Indonesia punya pekerjaan rumah yang sangat besar untuk tetap menjaga layanan pendidikan berkualitas. Komitmen pemerintah untuk memperbaiki dan menjaga layanan pendidikan berkualitas dituangkan dalam APBN dan APBD minimal 20% untuk investasi pendidikan. Kita apresiasi sungguh suatu langkah maju bagi bangsa Indonesia untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara.

Kita berharap dari anggaran yang besar ini menjadi sebuah energi untuk terus berusaha memacu perubahan pola layanan pendidikan berkualitas. Pendidikan karakter menjadi sebuah agenda penting untuk menyukseskan program-program pendidikan. Pemerintah sudah membaca dengan cermat pendidikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pedidikan karakter Profile Pelajar Pancasila menjadi ikon dari tujuan pendidikan karakter di Indonesia saat ini. Ikon pendidikan karakter ini sudah menjadi kebutuhan masyarkat di era globalisasi informasi, yang membuat batas-batas geografi sebuah negara dan arus pertukaran informasi serta budaya terjadi setiap hari tanpa batas. Budaya-budaya dominan yang inten dikampanyekan melalui media informasi akan menjadi trend budaya dunia. Pemilik budaya dominan akan jadi pengendali sosial, poilitik, dan ekonomi dunia.

Perang saat ini tidak hanya menggunakan kekuatan senjata pemusnah masal. Di abad teknologi perang bukan lagi fokus pada kekuatan fisik tapi kekuatan psikis bagaimana memengaruhi persepsi masyarakat dunia agar tindakan-tindakan politik sebuah negara mendapat apresisasi dari seluruh dunia. Sedangkan pandangan manusia hanya bisa melihat lahir saja. Sementara yang bathin urusan Allah. Oleh karena itu, di abad teknologi ini, keburukan bisa terbungkus seolah-olah perbuatan baik itu baik karena keterbatan penglihatan manusia. Kita seperti berlomba-lomba berbuat kebaikan, padahal kebaikan yang hakiki hanya ada dalam niat hati setiap orang yang berbuat baik. Kebaikan yang sejatinya baik hanya niat-niat yang transaskinya dengan Allah.     

Ustad Dudi Mutaqin mengatakan bahwa guru-guru yang baik adalah mereka yang memiliki niat-niat baik atas nama Allah dalam melaskanan tugasnya. Selanjutnya pembelajaran menyenangkan dan tidak meyenangkan berawal dari pribadi guru. Antusiasme belajar siswa diawali dari antusiasme guru. Guru sebagai pengendali kualitas pengajaran. Ketertarikan siswa pada mata pelajaran sangat signifikan kembali pada daya tarik guru dihadapan siswa. Muara keberhasilan pendidikan adalah guru. Walahu’alam. 

Saturday, March 5, 2022

REVOLUSI PENDIDIKAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Melihat cara-cara pendidikan yang selama ini kita lakukan, tidak ada salahnya pendapat-pendapat dari para pengkritik bahwa “pendidikan memang bisa jadi penyebab kemiskinan”. Para pengkritik mengatakan dari sejarahnya sekolah didirikan bertujuan untuk membuat orang berkuasa tetap berkuasa. Sekolah hanya mengajarkan kepada orang-orang agar memiliki pemikiran sama, dan setelah itu mereka mudah dikendalikan. Sekolah mengajarkan bagaimana seseorang harus mengikuti langkah demi langkah yang telah mereka tentukan sehingga hidup seseorang seumur-umur mengikuti apa yang telah diperintahkan. Sekolah adalah penjajahan pikiran yang dilembagakan melalui lembaga formal. Sekolah terkadang menjadi tidak memerdekakan, tetapi sekolah mewariskan kebodohan turun-turun dan dilabel dengan surat tanda tamat belajar, sehingga belajarnya tamat.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara berpikir dunia. Cara berpikir linier mengikuti langkah-langkah formal tidak lagi menjanjikan dapat memuaskan tujuan hidup seseorang. Jika dulu sekolah mengajarkan siswa untuk menghidari risiko, sekarang siswa harus diajarkan untuk berani menghadapi risiko dengan banyak-banyak mencoba. Situasi berubah, melalui bantuan teknologi informasi modal hidup sekarang hanya tinggal berani mencoba, karena risiko besar yang dihadapi bukan lagi kehilangan aset tetapi kehilangan waktu untuk cepat melakukan perubahan. Semua orang didorong untuk melanjutkan ke perguruan tinggi kelas dunia, tetapi ada fakta kesuksesan bisa datang dari orang yang hanya kuliah di ruko.

Perkembangan teknologi informasi telah membuka pemikiran-pemikiran dan fakta-fakta baru, bahwa sekolah, kampus tidak menjadi sebab tunggal kesuksesan seseorang. Sekolah dan kampus selama ini tidak ubahnya seperti lembaga pembuat surat izin mengemudi hanya menjadi syarat adminsitratif seseorang untuk melakukan sesuatu memasuki dunia kerja formal. Sementara ada pekerjaan yang tidak membutuhkan syarat pendidikan formal yaitu menjadi pengusaha atau investor tidak serius diajarkan di lembaga pendidikan. Pendidikan kita yang meniru gaya negara-negara maju yaitu melahirkan masyarakat saintifk telah gagal, karena para saintis sampai saat ini tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di Indonesia. Pendidikan yang bertujuan melahirkan saintis hanya cocok di negara-negara dengan sumberdaya alam yang miskin.

Masyarakat Indonesia yang sebagian besar memanfaatkan kecerdasan hidup inter dan antar personal, sangat tidak cocok jika orientasi pendidikannya melahirkan banyak saintis. Kemenangan bangsa Indonesia dalam sejarah penjajahan adalah juara diplomasi. Tokoh sukses Moehtar Kusumaatmadja adalah diplomat yang berhasil meyakinkan dunia tentang hukum laut. Bagaimanapun kita ketinggalan dalam hal teknologi dan sains, namun demikian tidak mesti kita harus fokus membuat seluruh warga negara menjadi saintis. Pendidikan kita harus fokus melahirkan para diplomat, entrepreneur, dan investor yang handal sesuai dengan takdir sejarah dan kondisi kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah. 

Cara berpikir linier kurang cocok untuk diajarkan di Indonesia. Rhenald Kasali menjelaskan pendekatan berpikir eksponensial adalah cara berpikir imajinatif, berpikir yang sangat dinamis seperti main ping pong. “Think make difference, it’s not just make better”, itulah cara berpikir eksponensial. Untuk melakukan perubahan, semuanya harus dari nol, dengan membuat perubahan radikal, radikal solution, radikal teknologi, radikal education. “Kita tidak mau melakukan hal-hal yang mudah, karena dengan melakukan hal-hal yang sulit sebuah bangsa akan berubah menjadi bangsa yang hebat” (John F. Kennedy). Perubahan dapat dilakukan dengan melakukan perubahan pada tujuan pendidikan dan cara-cara pembelajaran.

Tujuan pendidikan harus sesuai dengan kondisi alam, kecerdasan dominan, dan karakter masyarakat di dalamnya. Bangsa Indonesia dengan kondisi alam tropis, sangat percaya Tuhan, cenderung berkarakter tenang, santai dan imajinatif. Pendidikan yang cocok untuk masyarakat Indonesia harus dilatih menjadi entrepreneur di bidang investasi. Seperti yang dikatakan oleh Lo Kheng Hong, “ ketika kita sudah memiliki saham perusahaan hebat, yang terbaik adalah tidur, investor saham yang tidur bukan saja akan mendapatkan cuan yang besar, tidur juga bisa meningkatkan imunitas sehingga kita bisa terhindar dari covid 19”. Tidur di sini bukan pekerjaan malas tetapi sebuah kualitas hidup yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang sudah bisa menjamin hidupnya dengan investasi yang dilakukannya. Tidur yang bisa menghadirkan imunintas adalah akibat dari pekerjaan yang dilakukannya memiliki harapan-harapan baik di masa mendatang. Inilah kualitas manusia Indonesia yang “malas” tetapi produktif dan harus diajarkan di sekolah-sekolah. Wallahu’alam.

Friday, February 25, 2022

DOSA BESAR KEPALA SEKOLAH

 OLEH: TOTO SUHARYA

Selama delapan belas tahun dunia pendidikan kita memang hanya main-main, tidak berusaha menyelesaikan masalah dan mewariskan generasi yang tertinggal dengan perubahan zaman. Kondisi inilah yang menyebabkan harus terjadi perubahan kurikulum karena dunia pendidikan kita sedang mengalami krisis pembelajaran. Krisis itu sudah ada di depan mata dan datanya bisa kita saksikan di bawah ini:

Tabel 1: Skor Membaca, Matematika, dan Sains

Kategori

Reading

Mathematics

Science

Tahun

2000

2018

2000

2018

2000

2018

Skor

371

371

360

379

393

396


Sumber (PISA 2018 Realeased, OECD)

Data pada tabel 1.  di atas menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2018. Skor rata-rata terbaik internasional 500. Data itu juga bermakna bahwa siswa-siswi Indonesia memiliki kelemahan dalam berpikir, karena soal-soal tes PISA lebih menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Apa sebab terjadinya permasalahan ini? Pertama, dunia pendidikan kita terlambat shifting karena lalai mengikuti perubahan zaman. Kedua, kualitas pembelajaran di kelas memang belum bisa mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Permasalahan ini, intinya kembali pada kualitas pembelajaran di kelas. Pekerjaan Rumah (PR) besar pendidikan kita adalah meningkatkan kemampuan guru-guru dalam mengajar. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran menggunakan konstruksi soal-soal HOTS, sebagaimana disajikan dalam tes PISA.

Sebagai negara religius, berpikir adalah perintah Tuhan yang tidak boleh diabaikan. Kemampuan berpikir menunjukkan kualitas manusia yang harus terus diupayakan. Mengajar tentang berpikir di kelas adalah ibadah kita kepada Tuhan. Mengajarkan kemampuan berpikir kepada siswa menjadi kewajiban bagi guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Dosa besar bagi kita semua jika tidak mengajarkan kemampuan berpikir kepada siswa, karena seluruh aktivitas manusia adalah aktivitas berpikir. Kegagalan berpikir dalam beraktivitas menjadi bukti nyata penyebab prilaku manusia yang buruk dalam berakhlak kepada sesama dalam bermasyarakat dan bernegara.

Pembelajaran dengan menyajikan soal-soal HOTS standar PISA dapat menjadi sebuah pendekatan dalam pembelajaran. Berdasarkan kajian dari soal-soal PISA tahun 2015, 2018, dalam literasi membaca dan finansial, soal disajikan dengan kriteria, menyajikan materi esensial, kontektual, dan pertanyaan menguji siswa mengolah data yang disajikan dalam soal. Aspek yang diuji dari siswa adalah kemampuan analisis, contoh membedakan antara fakta dan dan opini, mengambil kesimpulan dengan mengintegrasikan dua fakta, dan menginterpretasi nilai dari sebuah kejadian dalam materi yang disajikan.

Menyimak soal-soal yang disajikan PISA, soal tersebut bisa kita modifikasi menjadi sebuah proses pembelajaran HOTS, dengan melakukan adaftasi. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara esensial dan kontektual kontruksi materi dan pertanyaan mengikuti pola yang disajikan dalam soal PISA. Ukuran materi esensial, berdasarkan dari tampilan-tampilan materi yang disajikan dalam soal PISA, bersumber pada sumber bacaan yang akuntabel, yaitu dari hasil penelitian atau pendapat ahli. Materi bisa diambil dari koran, media sosial, blog, atau jurnal. Materi esesnsial mengajarkan pada siswa, setiap informasi yang diakses harus materi akuntabel, memiliki derajat kebenaran yang bersumber pada hasil penelitian atau pendapat para ahli dalam berbagai bidang kajian. Secara kontektual materi bisa digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari menghadapi dunia nyata.

Betapa pentingnya untuk memastikan bahwa apa yang diajarkan guru-guru sesuai dengan kaidah dan kebutuhan zaman. Sebuah dosa besar bagi para kepala sekolah jika proses ini tidak dikawal ketat melalui tugas pokoknya yaitu supervisi pembelajaran. Untuk itu seluruh aktivitas kepala sekolah dalam berbagai kegiatan harus bertujuan untuk menjaga kualitas pembelajaran terutama di kelas. Bangsa besar meregenerasikan kualitas bangsanya sangat tergantung apa yang terjadi di ruang ruang belajar terutama kelas. Wallahu’alam.  

Tuesday, February 22, 2022

SUPERVISI ON THE LINE

OLEH: TOTO SUHARYA

Hasil survey PISA dari tahun 2000 perolehan skor membaca siswa Indonesia 371, dan terakhir survey PISA tahun 2018 adalah 371. Data ini menjadi alasan penyataan Mendikbud Nadim Anwar Makarim pendidikan Indonesia selama 18 tahun jalan ditempat. Pak Menteri tidak sedang merendahkan kualitas pendidikan kita, tetapi memang faktanya demikian. Situasi pandemi ikut memperparah kualitas pendidikan kita, karena ditemukan kurang lebih 50% siswa Indonesia mengalami learning loss. Faktor penunjang dari learning loss adalah kualitas pembelajaran di kelas (daring), kemampuan akses internet, dan penurunan motivasi belajar siswa.   

Situasi pandemi yang belum berakhir turut menunjang terhadap kekhawatiran semua pihak. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 50% hingga 100% yang diujicobakan mengalami kegagalan karena varian virus Covid-19 masih menjadi hantu yang menakutkan. Siswa teridentifikasi terjangkit virus Covid-19 varian omicron dan memaksa kembali pembelajaran harus dilakukan secara daring.  

Situasi belum dapat diprediksi kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Namun kita harus sadar bahwa masalah esensial kualitas pendidikan bukan terletak pada kapan akan berakhir pandemi, tetapi bagaimana kita mengubah cara mengajar kita di kelas agar kualitas pembelajaran benar-benar berkualitas. Dari hasil supervisi pembelajaran on line, kita memang kita harus kerja keras mengubah paradigma guru dalam mengemas pembelajaran berkualitas. Guru-guru harus terus diberi pemahaman bahwa rendahkan kemampuan membaca siswa-siswi kita adalah produk dari pembelajaran yang selama ini kita lakukan. Pembelajaran masih bersifat teacher center, selama pembelajaran aktivitas siswa sangat minim. Sedikit sekali siswa yang bertanya, dan selama pembelajaran siswa cenderung pasif.

Merdeka belajar memang jargon yang harus didengungkan terus untuk mendorong guru-guru melakukan inovasi pembelajaran. Faktor utama yang harus diperbaiki dalam pembelajaran, bagaimana mengajarkan dan meningkatkan minat baca siswa, serta melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam hal ini guru-guru perlu bimbingan serius dari orang-orang yang benar-benar pengalaman dan ahlinya dalam menerapkan metode-metode pembelajaran HOTS. Guru perlu diberi pemahaman serius bahwa mengajar dengan metode LOTS sudah sangat ketinggalan zaman.

Saat ini berbagai macam pengetahuan sudah bisa diakses langsung oleh siswa melalui internet dengan mengunjungi situs jurnal, youtube, dan blog. Apapun materi belajarnya, internet selalu menyajikan materi tersebut dalam jumlah jutaan. Jika saja siswa kita punya motivasi tinggi dalam belajar, dan secara mandiri mau menelusuri berbagai macam kompetensi dan pengetahuan di Internet, pembelajaran di sekolah bisa jadi yang sangat sekunder.  Banjirnya informasi di internet, akan menggeser fungsi sekolah hanya sebatas lembaga formal pemberi keterangan bahwa siswa telah tamat belajar. Sementara proses pembelajaran sangat dominan tergantung pada motivasi dan rasa ingin tahun siswa terhadap materi yang ingin dipelajari dan bisa diakses di internet sendiri.

Paradigma pembelajaran di sekolah sekarang bukan lagi sebagai penyampai pengetahuan, tetapi sebagai pembimbing informasi-informasi mana yang esesnsial dan kontektual bermanfaat bagi kesuksesan siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Soal-soal ujian yang disajikan oleh PISA, menjadi contoh yang patut ditiru dan dikembangkan menjadi sebuah pembelajaran menarik dan melatih literasi, numerasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Jika seluruh guru dari berbagai mata pelajaran sudah memiliki kemampuan ini, tidak menutup kemungkinan kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir siswa dapat itingkatkan. Dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak menutup kemungkinan akan lahir generasi mendatang yang bukan hanya terampil bekerja tetapi menjadi pencipta pekerjaan dan penyelesai masalah-masalah bangsa.

Supervisi pembelajaran yang menjadi tugas pokok para pemimpin sekolah adalah tugas wajib yang harus dilakukan untuk mengawal apa yang terjadi di kelas ketika guru beinteraksi dengan siswa. Tugas kepala sekolah melebihi tugas presiden dan menteri, karena kualitas bangsa ada dipundak para pemimpin pembelajaran di sekolah. Dalam situasi pandemi saat ini, masalahnya tidak lagi terletak pada metode belajar on line atau tatap muka, tetapi memastikan bahwa setiap interaksi guru dengan siswa harus mengajarkan kemampuan berpikir dengan materi-materi ajar esensial hasil seleksi ketat agar seluruh relung memori siswa di isi dengan pengetahuan-pengetahuan berkualitas dan bermanfaat bagi kehidupan.

Seluruh isi tulisan ini merupakan relfleksi penulis setelah melakukan supervisi pembelajaran on the line. Semangat perubahan harus terus digelorakan, untuk memerdekakan guru-guru dari pola-pola pikir old mind. Guru-guru harus dimerdekakan dari ketergantungan pada buku paket yang sudah menjadi berhala pendidikan. Bukut paket sebagai berhala pendidikan telah mengabaikan  kebutuhan siswa dalam mengarungi derasnya badai perubahan zaman. Dosa besar bagi para pemimpin pembelajaran di sekolah jika tidak melakukan pengawalan terhadap pembelajaran di kelas. Wallahu’alam.

Friday, February 18, 2022

SEMUA MATA PELAJARAN ADA TUHANNYA

OLEH: TOTO SUHARYA

Tuhan harus jadi inspirasi dalam setiap aktivitas kehidupan. Tuhan penyebab kesejahteraan manusia. Setiap relung pikiran dan hati manusia harus lebih banyak ruang di isi oleh ketuhanan. Phobia kepada ajaran agama adalah produk pemikiran gagal dari umat manusia. Ilmu yang hanya menciptakan phobia terhadap ajaran agama adalah penyesat kehidupan. Para pencipta phobia terhadap ajaran agama adalah perusak pikiran yang akan membawa kehidupan manusia pada kebinasaan di dunia dan akhirat. Ilmu yang hanya berkiblat kepada pengetahuan Alam adalah pembawa kesesatan umat manusia di muka bumi ini.

Kegagalan para ilmuwan yang saat ini bisa menciptakan teknologi adalah tidak bisa menghadirkan dan menemukan Tuhan dalam teknologi yang diciptakannya. Penyebabnya adalah egoisme dari kemampuan akal manusia. Para pencipta teknologi merasa bahwa semua teknologi berhasil diciptakan karena kemampuan akalnya, padahal segala fasilitas yang ada di muka bumi ini ada penciptanya. Manusia merasa bahwa segala yang berhasil diciptakannya adalah ciptaannya, padahal hakikatnya semua yang berhasil diciptakan adalah penemuan. Apa yang dicitakannya, semuanya sudah ada sebagai anugerah dari Tuhan.

Kegagalan para penganut agama ikut andil menjadikan agama sebagai wajah yang menakutkan. Sebabnya karena penganut agama merasa dirinya sebagai pemilik kebenaran, padahal kebenaran mutlak hanya millik Allah, dan manusia tempatnya salah. Nabi sekalipun tugasnya hanya menayampaikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan. Kegagalan manusia dalam beragama adalah mengalamatkan seolah-olah kebenaran telah menjadi miliknya, mereka mengajarkan dan menginformasikan seolah-olah dirinya paling benar. Egoisme umat beragama sama-sama menjadi kesesatan berpikir bagi para penganutnya. Kebenaran milik Allah dan fenomena-fenomena yang terjadi di muka bumi adalah ayat-ayat Tuhan, yang harus dibaca atas nama Tuhan. Sehingga apapun yang dikatakan dan ditemukan manusia dari mana saja semua berada di atas kehendak Tuhan.

Manusia hanya mengolah segala apa yang telah diciptakan Tuhan. Energi, gaya, gerak; Tanah, air, udara; semuanya diciptakan Tuhan. Tugas manusia adalah mengungkap kehadiran Tuhan dalam segala fenomena di alam pikiran dan benda. Sekolah-sekolah melalui pengajaran berbagai macam ilmu pengetahuan memfasilitasi siswa untuk mengetahui teori-teori kehidupan sebagai sarana untuk mengagungkan kemahakuasaan Tuhan. Ilmu alam dan sosial dipelajari untuk mengajari manusia agar bisa hidup dengan sejahtera sebagai anugerah dari Tuhan.

Semua ilmu datangnya dari Tuhan, tidak ada kategori ilmu hitam atau putih, karena yang membuat hitam dan putih adalah pikiran manusia. Pemikiran manusia yang membuat ilmu menjadi hitam dan putih. Jika semua ilmu dipersepsi untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, nuklir akan tercipta untuk keberkahan hidup manusia bukan untuk memusnahkan manusia. Jika teknologi informasi diciptakan untuk membantu segala aktivitas kehidupan manusia, teknologi informasi menjadi berkah bagi manusia. Teknologi-teknologi diciptakan sangat tergantung pada niat-niat manusia dalam menggunakannya.

Niat-niat baik harus selalu menjadi pola pikir manusia dalam segala tindakan, dan itulah yang dikehendaki Tuhan. Hadirnya Tuhan dalam pikiran manusia akan membuat manusia sadar bahwa dirinya hanya pengungkap dan penyampai kebenaran dengan segala latar belakang ilmu yang digelutinya. Kegagalan manusia dalam berilmu pengetahuan hanya sedikit yaitu menghilangkan peran Tuhan dalam penemuan-penemuannya. Intinya para ilmuwan dan agamawan harus menurunkan tensinya, anda bukan pemilik pemilik kebenaran, anda bukan pencipta dan pemilik surga, kita semua hanya penyampai kebenaran dan pebimbing umat manusia agar tetap memiliki keimanan dan keyakinan bahwa setelah kematian aka nada pengadilan.

Tuhan itu satu, yaitu Tuhan gaib untuk seluruh manusia. Tuhan memerintahkan untuk menggai ilmu, teknologi, untuk menciptakan kesejahteraan dan menjaga perdamaian antar umat manusia. Saling kenal mengenallah, tolong menolonglah, tidak ada manusia lebih cerdas dari manusia lain, tidak ada manusia lebih mulia dari manusia lain, semuanya sama dihadapan Tuhan, kecuali dia yang paling bermanfaat bagi umat manusia dan saling mengingatkan untuk tetap ingat Tuhan tempat kita kembali. Maka semua mata pelarjaran yang diajarkan di sekolah harus berakhir pada kekuasaan Tuhan. Wallahu’alam.

Thursday, February 17, 2022

SUKSES ITU GRATIS

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd

Judul ini menjadi sebuah kegiatan webinar di sekolah dalam ranggka pendidikan karakter. Webinar adalah sebuah kegiatan tambahan ketika dimasa pandemi, pembelajaran hanya empat jam, sambil santai di rumah anak-anak diajak untuk tetap belajar dengan menikmati suguhan webinar dari pemateri internal dan eksternal sekolah. Pendidikan karakter yang identik dengan pembiasaan, sesungguhnya termasuk pembiasaan berpola pikir. Berpola pikir ada ilmunya, dan ilmu berpikir ini jarang diajarkan di sekolah-sekolah. Padahal semua sepakat bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan orang semuanya bersumber dari apa yang dipikirkan.

Al Quran adalah pedoman hidup harus jadi pola pikir jadikan Al Quran sebagai pola pikir Ebook logika Tuhan

Sukses itu gratis, sebelumnya tidak terpikirkan. Ketika membuat poster tentang shalat dhuha 12 rakaat, saya merinci apa akibat dari shalat dhuha jika dilakukan mulai dari 2 rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, dan 12 rakaat. Dua rakaat tercatat sebagai ahli sedekah, empat rakaat dicukupkan rezeki sepanjang hari, enam rakaat dijamin hidup sukses, delapan rakaat dicintai Allah, dan 12 rakaat dibuatkan rumah di surga. Ketika menyusun akibat-akibat dari kegiatan ritual shalat yang akan diajarkan kepada anak-anak, saya berkesimpulan bahwa untuk mendapatkan sukses itu ternyata gratis. semua modal sukses sudah diberikan Allah kepada kita berupa kepala dan isinya, kaki, tangan, dan seluruh anggota badan, yang gratis kita dapat sudah lebih dari cukup untuk meraih sukses dengan gratis di muka bumi ini.

Sukses itu gratis semuanya berangkat dari pola berpikir, sebab semua kejadian adalah pola pikir. Apapun yang menjadi milik kita di dunia maupun akhirat adalah hasil dari pola pikir kita. Mengatur dan mengubah apa yang ingin kita pikirkan semuanya gratis, tidak mengeluarkan biaya, dan tidak perlu tenaga besar. Semuanya hanya mengandalkan kesadaran bahwa kita harus berpikir positif.

Mengata kita harus berpikir positif? Dasar pemikirannya sudah banyak saya jelaskan dalam berbagai kesempatan. Dasar berpikir itu adalah kitab suci Al-Qur’an. Salah satu ayat yang selalu saya jadikan dasar berpikir adalah “Jika kamu berbuat baik kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Qs. 17:7). 

dapatkan pedoman hidup dunia akhirat Ebook logika Tuhan

Ayat di atas menjadi cara berpikir sebab akibat dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, kapanpun, dimanapun, kejadiannya akan seperti ini. Ayat ini harus jadi pedoman dalam segala aktivitas di muka bumi. Ayat ini harus jadi moralitas masyarakat. Ayat ini harus jadi pengingat kepada Tuhan. Orang-orang yang ingatannya dikendalikan oleh ayat-ayat Tuhan, maka dialah orang-orang yang akan selalu dekat dengan Tuhan. Janji Allah pada orang-orang yang dekat dengan Tuhan, Dia akan menimpakan kesejahteraan dunia dan akhirat, kesejahteraan yang sebaik-baiknya kesejahteraan.

Orang-orang yang pikirannya dipandu oleh Tuhan, setiap kejadian dan apapun yang akan terjadi selalu membawa kabar gembira. Satu ayat di atas, dapat menjadi pegangan hidup agar kita semua berada di jalan yang lurus yaitu jalan yang selalu mendapatkan peringatan dari Tuhan. Maka dengan berpegang pada satu ayat, segala kesuksesan yang ingin kita dapatkan di muka bumi ini menjadi gratis. Sukses bukan karena pekerjaan, perniagaan, kecerdasan, tetapi sukses karena kelakukan yang kita miliki menejahterakan dan mencerdaskan. Sesungguhnya yang memberi semua kesuksesan adalah Allah yang menilai pola pikir dan prilaku kita selalu diberkahi oleh Allah karena dalam kondisi sempit maupun lapang kita selalu ingat Allah. Ingat Allah itu gratis, seribu kali ingat Allah dalam sehari tetap gratis. Optimis tanpa batas! Wallahu’alam. 

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...