Showing posts with label https://lynk.id/mastershopi. Show all posts
Showing posts with label https://lynk.id/mastershopi. Show all posts

Saturday, August 23, 2025

INGIN KAYA BACALAH AL WAQIAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Para ulama sering menasehatkan bacalah surat Al Waqiah bagi siapa yang ingin dimudahkan rezeki. Pesan ini turun temurun terus disampaikan hingga sekarang. Apa yang disampaikan para ulama mengacu kepada hadis Nabi Muhammad SAW.

Barang siapa membaca surat Al Waqiah setiap malam, dia tidak akan tertimpa kefakiran selamanya. (HR. Al Baihaqi).

Dalam tulisan ini, saya ingin memberi sedikit penjelasan apa yang terkandung dalam surat Al Waqiah, berkaitan dengan kekayaan. Surat Al Waqiah membawa pesan moral dan etika sebagai bekal untuk orang yang dikehendaki Allah menjadi orang kaya.

Ebook Sukses Dengan Logika Tuhan; https://lynk.id/mastershopi

Pandangan ini berdasarkan pada fungsi pendidikan yaitu membentuk akhlak. Sebagaimana Nabi Muhammad diutus Allah menjadi rasul bertujuan menyempurnakan ahkhlak. Berikut beberapa akhlak atau karkater yang harus dimiliki orang kaya dari surat Al Waqiah:

Pertama; karakter orang yang dikehendaki Allah menjadi orang kaya adalah mereka yang percaya pada hari kiamat. Orang kaya yang meyakini adanya hari akhirat, dia tidak akan mencintai harta kekayaan untuk dirinya sendiri, tapi untuk mensejahterakan orang lain. Kekayaan adalah jalan menuju ridha Allah. 

"Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan, (Al Waqiah, 56:1-6).

dapatkan bacaan kualitas tinggi Ebook logika Tuhan

Kedua, karakter orang kaya dikehendaki Allah adalah mereka yang tetap hidup sederhana. Di akhirat manusia akan terbagi menjadi tiga golongan, golongan kiri, kanan, dan sabiqun. Golongan kiri akan masuk neraka yaitu tempat buruk penuh dengan ketidaknyamanan. Golongan kiri adalah mereka yang hidup bermewah-mewahan dan terus menerus melakukan dosa besar. 

"Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar." (Al Waqiah, 56:45-46).

Orang kaya yang dikehendaki Allah adalah mereka yang hidup dengan kekayaan tetapi tidak untuk bermewah-mewahan. Orang kaya harus tetap sederhana, dan menggunakan kekayaan untuk jalan berkorban membantu kesulitan banyak orang.

Ketiga, karakter orang kaya dikehendaki Allah adalah mereka yang mengakui bahwa rezeki datang dari Allah, dan manusia hanya menerima titipan. Kekayaan yang dimiliki bukan hak milik pribadi tapi milik Allah. 

"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang." (Al Waqiah, 56:63-65).

mau belajar agama otak semakin cerdas dan hati tenang dapatkan ebook logika Tuhan

Keempat, karakter orang kaya yang dikehendaki Allah, mereka meyakini semua kejadian yang akan terjadi pada manusia sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran. Keyakinan ini menjadi keimanan kuat tanpa keraguan. 

"Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (Al Waqiah, 56:95-96).

Orang kaya yang dikehendaki Allah, selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diterima. Orang-orang kaya memiliki totalitas pengakuan bahwa kekayaan tidak akan menjadikan dirinya merasa besar, sombong, tinggi hati, dan kufur kepada Allah, karena sesungguhnya semua kekayaan adalah milik Allah Yang Maha Besar.*** 

Friday, August 8, 2025

MENDERITA DAN BAHAGIA AKIBAT PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Syeh Abdul Qadir Al Jalinani adalah salah satu imam berpengaruh dikalangan muslim Indonesia. Di dalam kegiatan-kegiatan doa, ustad-ustad selalu menyisipkan nama Syeh Abdul Qadir Al Jailani sebagai ulama yang selalu didoakan setelah bersalawat kepada Nabi Muhammad saw. 

Syeh Abdul Qadir Al Jailani mengatakan, "Ketahuilah derita berubah jadi bahagia dan bahagia berubah jadi derita, hal itu terjadi karena didikan". Pendapat ini beliau tafsirkan dari hadis Rasulullah saw, "setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi". Menurut Beliau, "hadis ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki potensi menjadi bahagia maupun menderita."


Ebook Sukses dengan Logika Tuhan: https://lynk.id/mastershopi

Jika dicermati, Syeh Abdul Qadir Al Jailani memberi makna pada hadis di atas menggunakan logika sebab akibat. Anak terlahir fitrah merupakan takdir Allah pada setiap orang yang baru lahir. Fitrah merupakan potensi-potensi baik yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, terutama fitrah dalam mengenal siapa Tuhannya. Fitrah ini tidak bisa diganggu gugat karena ketetapan Allah.

Selanjutnya bisa dicermati cara berpikir Syeh Abdul Qadir Al Jailani menafsirkan kembali dengan logika sebab akibat kalimat dalam hadis.

Kedua orang tua adalah SEBAB

Menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi adalah AKIBAT

Dari logika sebab akibat tersebut, Syeh Abdul Qadir Al Jailani berpendapat bahwa bahagia dan derita yang dialami manusia tergantung pada didikan. Kedua orang tua dijadikan sebab jadi menderita atau bahagia seorang anak dikaitkan dengan fungsi pendidikan yang ada di lingkungan keluarga.

Berfungsinya pendidikan keluarga sangat tergantung pada orang tua. Pesan dari Syeh Abdul Qadir Jailani adalah pendidikan sangat penting dan menentukan untuk kehidupan anak-anak. Di dalam dunia pendidikan ada peran orang tua yang sangat penting dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya agar mereka bisa hidup bahagia. Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara mengatakan tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak-anak menuju kehidupan bahagia setinggi-tingginya.

Lembaga pendidikan adalah refresentasi dari kedua orang tua dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Jika begitu, sekolah-sekolah, kampus-kampus, sebenarnya dihuni oleh "orang tua" dari anak-anak dalam arti luas sebagai pelaksana fungsi pendidikan. Guru-guru, dosen, yang ada di lembaga pendidikan adalah manusia-manusia sakral karena disejajarkan dengan orang tua dari anak-anak.

Tidak heran ketika di Jepang, Korea Selatan, China, Jerman, dan Finlandia, guru-guru, dosen, menjadi orang-orang terhormat di masyarakat. Tradisi hormat pada guru masih terjaga di lingkungan pendidikan pesantren. Sedangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia penghargaan pada guru dan dosen sedikit memudar. 

Dapat dipahami logika berpikir Syeh Abdul Qadir Al Jailani adalah setiap orang berpotensi menjadi bahagia atau menderita, maka sebabnya sangat tergantung pada pendidikan yang didapatnya. Pendapat ini didukung oleh data dari hadis Nabi Muhammad saw. Inilah logika yang dibimbing Tuhan.

Jika sekarang ada orang berpendapat bahwa pendidikan telah membuat masyarakat Indonesia menderita, bisa jadi iya bisa jadi tidak. Perlu kajian dan penelitian, pendidikan-pendidikan seperti apa yang bisa membuat masyarakat Indonesia hidupnya menderita. 

Kemiskinan secara umum diakui sebagai sebab penderitaan. Bisa jadi selama ini, ada pendidikan yang mengakibatkan anak-anak menderita. Menurut hemat saya, pendidikan yang kelak menjadi penyebab anak-anak menderita karena pendidikan tidak mengandung penderitaan.

Kita kembali kepada pendapat Syeh Abdul Al Jailani, "tidak boleh mengatakan orang ini pasti bahagia atau orang ini pasti menderita". Tetapi hendaklah mengatakan, "orang ini bahagia jika amal baiknya mengalahkan amal buruknya dan sebaliknya". 

Jadi jelas, lembaga pendidikan yang akan jadi sebab penderitaan anak-anak adalah lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan, melatih, membimbing, memotivasi, anak-anak untuk berbuat amal-amal baik agar mengalahkan amal-amal buruknya. Kondisi ini dapat tercipta bukan karena bangunan sekolah yang megah, tapi karena peran guru-guru, dosen, yang memosisikan dirinya sebagai orang tua dari anak-anak sekalipun bukan anak biologisnya.*** 

Friday, July 18, 2025

FAKTA ILMIAH SEDEKAH MENYEHATKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Ide sedekah atau berbuat baik dapat menyehatkan telah dijelaskan di dalam Al Quran. Masalahnya ada yang memahami Al Quran dengan mistik dan ada yang memahami dengan fakta empiris. Di Indonesia sebagian besar memahami dampak sedekah dengan mistik.

Di Indonesia pola pikir mistik terlalu dominan menjadi pola pikir masyarakat dalam memahami agama. Maka terbentuklah budaya membaca teks bahasa Arab Al Quran tanpa memahami maknanya dengan keyakinan Allah akan membalas dengan pahala berlipat ganda. 

Dengan keyakinan, budaya membaca teks Arab Al Quran 30 Juz, di Indonesia menjadi ritual tahunan terutama di bulan Ramadan. Pola ini telah menjadi tradisi puluhan mungkin ratusan tahun di Indonesia. 

Di era teknologi pemahaman masyarakat tentang agama Islam dan Al Quran mulai berubah. Media teknologi informasi menyajikan informasi bervariasi tentang agama Islam dan Al Quran. Akibatnya masyarakat mulai mengkritisi tradisi-tradisi dalam ajaran agama yang kurang mendalam pemahannya.

Pola pikir mistik dan ilmiah sebenarnya saling melengkapi. Pola pikir mistik bersifat acak mengajak melatih manusia berpikir kreatif dan dinamis. Pola pikir ilmiah melatih manusia berpikir kronologis dan spesifik. Al Quran memiliki makna keterkaitan, artinya membuka peluang luas terhadap penafsiran.

Sedekah jika dipahami secara mistik dijelaskan dalam Al Quran jika dilakukan akan mendapat balasan dari Allah berlipat ganda hingga 700 kali lipat (lihat: Al Baqarah, 2:261). Jika orang berpedoman pada ayat ini orang tinggal yakin pada Allah dengan melakukannya, dan hasilnya banyak orang merasakan manfaatnya. 

Bagi orang berpikir, balasan 700 kali lipat tidak dipahami secara mistik, tapi berusaha memahami bahwa sedekah jika dilakukan memiliki banyak manfaat untuk kehidupan. Untuk ada upaya untuk memahami dampak sedekah ke dalam berbagai aspek kehidupan salah satunya pada kesehatan.

Untuk itu berkembanglah berbagai penelitian ilmiah tentang manfaat sedekah dalam berbagai konteks prilaku. Sebuah studi kohort terhadap kelompok relawan menunjukkan bahwa para relawan memiliki risiko mortalitas (kematian) lebih rendah. Studi menunjukkan bahwa kesukarelawan memiliki efek positif terhadap depresi, kepuasan hidup dan kesejahteraan (Jenkinson, at al. 2013).

Para peneliti melaporkan dari 2.605 orang Amerika berusia 62 tahun ke atas. Mereka memeriksa seberapa sering peserta menjadi sukarelawan. Hasilnya menunjukkan orang yang menjadi sukarelawan satu hingga empat jam per minggu mengalami penuaan biologis lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang tidak menjadi sukarelawan sama sekali. (health.com).

Penelitian menyimpulkan bahwa sedekah meningkatkan kebahagiaan dan emosi positif. Efek ini telah ditunjukkan dalam berbagai perilaku sedekah, termasuk menjadi sukarelawan (Huang, 2018), mendonorkan darah (Buyx, 2009), memberi untuk amal (Liu dan Aaker, 2008), membelanjakan uang untuk orang lain (Dunn dkk., 2008), dan melakukan tindakan kecil, seperti menawarkan kopi, bersikap baik, atau membuat seseorang tersenyum (Rudd dkk., 2014). Aknin dkk. (2013a) menemukan hubungan di 120 dari 136 negara dan menyimpulkan bahwa hubungan ini tidak bergantung pada kekayaan suatu negara (frontiers.org).

Sedekah adalah ajaran universal yang tertulis di dalam kitab suci Al Quran. Menjadi ahli sedekah dengan berbagai prilaku bermanfaat bagi orang lain, dapat menjadi karakter dasar yang dapat menciptakan kesejahteraan umat manusia dan alam di muka bumi. Sedekah dapat menghasilkan hormon oksitosin (cinta), dopamin (motivasi), serotonin (ketenangan, rasa syukur), dan endorfin (bahagia) di otak. *** 

Saturday, July 5, 2025

MENGEMBALIKAN KIBLAT PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dunia pendidikan sedang menghadapi krisis. Universitas-universitas terbaik di dunia, tidak melahirkan manusia-manusia pemelihara. 

Negara-negara yang memiliki universitas terbaik di dunia mereka telah melakukan kejahatan kemanusiaan melakukan genosida dan menutup perbatasan, membiarkan manusia menderita kelaparan.

Genosida di Palestina telah memakan korban lebih dari 50 ribu jiwa. Penduduk dunia menyaksikan Mesir melarang bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza Palestina. 

Padahal Mesir dikenal sebagai tempat orang-orang menimba ilmu agama di universitas terkemuka. Orang-orang merasa bangga jika bisa sekolah di Mesir.

Melihat Mesir melakukan pembiaran pada kemanusiaan dan malah menambah penderitaan, kita mempertanyakan kembali pelajaran apa yang harus dipelajari saat ini? 

Arab Saudi sebagai tempatnya Kabah dan menjadi kiblat pemersatu umat Islam, mengapa tidak tegas melakukan pembelaan pada kemanusiaan.

Orang berbondong-bondong melakukan umrah dan haji rela mengeluarkan ratusan juta, antri puluhan tahun, sementara Genosida terus terjadi dan korban terus berjatuhan. 

Ibadah umrah dan haji hanya jadi pemuas kepentingan nafsu pribadi dibalut spiritual, padahal puncak spiritual dari ajaran agama adalah rasa kemanusiaan. 

Pengajaran agama telah berahasil membuat orang merasa dosa jika tidak melaksanakan umrah dan haji, tapi tidak merasa dosa membiarkan saudara-saudara sesama manusia dijajah, terusir, teraniaya, dan digenosida.

Amerika Serikat tempat kampus-kampus terkenal di dunia, ternyata melahirkan manusia-manusia intelek tapi lulusannya gagal menghargai kemanusiaan.

Puncak pendidikan adalah manusia memiliki tanggung jawab moral pada Tuhan, dan berani berkorban untuk memberi kesempatan hidup pada orang lain. 

Pelajaran agama, sains dan teknologi, telah gagal melahirkan kehidupan damai dan sejahtera bagi umat manusia. Orientasi pendidikan telah melampaui batas jauh dari rasa kemanusiaan.

Pengajaran agama telah melahirkan manusia-manusia individualis ditandai dengan ketaatan buntu pada ibadah ritual dan lalai melaksanakan ibadah sosial kemanusiaan. 

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Al Maa'uun, 107:7)."

Sumber ajaran agama bukan lagi belandaskan kitab suci. Ajaran agama bersumber pada pemikiran manusia dari masing-masing kelompoknya. 

Para pemikir, pemuka agama, aliran pemikiran, kelompok agama, menjadi tuhan-tuhan selain Tuhan yang ditaati. Penganut agama bukan membawa misi perdamaian malah saling curiga dan benci satu sama lain.

Tidak ada satu orang pun tahu siapa orang yang telah beriman atau kafir kepada Allah. Kegagalan pengajaran agama adalah kebanyakan manusia menjadi merasa telah beriman dan jadi manusia paling beriman. 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." ( Al Hujurat, 49:15).

Bagaimana orang beragama merasa telah beriman ketika melihat Genosida terhadap puluhan ribu manusia, anak-anak, perempuan, orang tua, secara terang-terangan dilakukan, tanpa ada yang berani menghentikan?

Bagaimana orang beragama merasa telah beriman, ketika puluhan ribu orang kelaparan, dia menutup akses bantuan dan membiarkan saudara mereka dalam kelaparan?  

Ibadah ritual menjadi menara gading berada di atas ibadah sosial. Padahal Allah berfirman, manusia-manusia terbaik bukan yang rajin ibadah ritual, tapi mereka yang bermanfaat bagi manusia lain.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi, 18:7).

Tidak ada perbuatan baik selain shalat, dan orang-orang shalat pasti berani berkorban untuk membantu membebaskan orang lain dari penjajahan dan penderitaan. 

Setiap umat punya shalat masing-masing. Shalat bukan terbatas pada ruku dan sujud, shalat adalah komitmen kepada Tuhan untuk berani berkorban dengan jiwa dan harta karena Allah. 

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3).

Kiblat pendidikan bukan lagi untuk menciptakan teknologi dan bersaing satu dengan yang lain. Para pendidik seperti para nabi, mengajarkan moral dan tanggung jawab pada manusia untuk saling membantu satu sama lain dan menciptakan kesejahteraan manusia dan alam. 

Kiblat pendidikan adalah para nabi yang diutus oleh Tuhan. Para nabi adalah para guru yang mengajarkan manusia tentang keesaan Tuhan dan kemanusiaan. 

Nabi Muhammad menjadi nabi yang membawa kisah hidup sebagai manusia berani berkorban untuk membebaskan manusia dari penindasan, dan meninggalkan warisan berharga untuk umat manusia ayat-ayat suci Al Quran. 

Al Quran bukan untuk umat Islam tapi untuk umat manusia. Al Quran kiblat sumber pemikiran tanpa bias pemikir-pemikir yang telah dianggap tuhan dan menganggap dirinya tuhan. 

"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (Saba', 34:28).

Tugas pendidikan adalah membawa kabar gembira dan peringatan agar manusia jadi pemimpin-pemimpin adil tidak melampau batas kemanusiaan***

Friday, July 4, 2025

KOMPETENSI DASAR IMAN DAN TAKWA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di dalam Al Quran, iman dan takwa merupakan dua konsep berbeda. Pada tulisan ini saya ingin meyakinkan pembaca dimana letak perbedaan konsep iman dan takwa bersumber pada Al Quran. Metode yang saya gunakan dalam membangun definisi menggunakan metode hubungan konsep. Dalam metode hubungan konsep, sebuah konsep dapat dipahami maknanya jika dihubungkan dengan konsep lain.

Kursi dapat dipahami konsepnya jika dihubungkan dengan konsep duduk, pulpen dengan menulis, kertas dengan buku, dsb. Kursi adalah tempat duduk. Pulpen adalah alat untuk menulis. Kertas adalah lembaran yang ada dalam buku. 

Konsep membuat definisi seperti di atas, saya aplikasikan dalam memahami konsep iman dan takwa, dengan bantuan deskripsi yang ada dalam Al Quran. Arti kata dasar iman adalah percaya, dan takwa adalah menjaga, melindungi, atau menghindari dari bahaya.

Iman dan takwa sebagai kompetensi artinya kemampuan menjaga diri agar tetap percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menjaga diri agar tetap percaya kepada Tuhan yang Maha Esa diwujudkan dalam komitmen melakukan segala tindakan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Hasil nyata dari beriman dan bertakwa adalah akhlak mulia.

Apa saja yang menjadi ciri dari orang berakhlak mulia? Kriteria orang berakhlak mulia dapat ditemukan dari ayat-ayat Al Quran yang berbicara secara langsung tentang orang beriman. Ciri-ciri orang berakhlak berdasar Al Quran bersifat universal. Berikut beberapa ciri akhlak paling dasar dari orang-orang beriman?

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka," (Al Baqarah, 2:3).

Ciri akhlak dari orang beriman dan bertakwa adalah menjaga diri selalu mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki. Shalat memiliki arti aktivitas ritual menjaga komitmen beriman pada Tuhan Yang Esa. Umat Islam melaksanakan ritual shalat wajib dan sunah. Umat-umat beragama di seluruh dunia memiliki komitmen masing-masing pada Tuhan Yang Maha Esa. 

Ciri selanjutnya adalah orang beriman dan bertakwa menjaga diri dengan selalu berbagi pada sesama dalam kondisi sempit maupun lapang. Jadi akhlak atau karakter orang beriman dan bertakwa selain melakukan ibadah ritual untuk menjaga komitmen tetap percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, mereka juga punya karakter dermawan. 

Prinsip dasar hidup di dunia terdiri dari dua yaitu vertikal dan horizontal. Vertikal ditandai dengan menjaga ritual keagamaan sesuai keyakinan, dan horizontal melaksanakan hubungan sosial dengan menjaga diri selalu menjadi orang yang berbakti pada orang tua dan dermawan.

Bagi orang beriman dan bertakwa, hubungan horizontal tidak hanya berbuat baik pada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan, diantaranya hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Pengajaran iman dan takwa akan melahirkan manusia-manusia berakhlak mulia.

Iman dan takwa secara fislosofis menjadi dua konsep yang tidak terpisahkan. Iman menjadi ide pedoman kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan takwa menjadi upaya menjaga tetap percaya pata Tuhan dengan melaksanakan hubungan horizontal sebagai sosok bermanfaat bagi sesama manusia, binatang, tumbuhan, dan alam.  

Iman dan takwa menjadi dua konsep dasar yang harus diajarkan dalam berbagai bentuk kegiatan kehidupan sehari-hari manusia. Mendidik manusia beriman dan bertakwa sebenarnya tujuan pendidikan universal karena menyangkut ketergantungan manusia kepada Tuhan dan kesejahteraan hidup manusia.*** 

Thursday, April 17, 2025

AGAMA MISKIN MAKNA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Salah satu kekurangan pengajaran agama dalah kurang makna. Pemahaman agama diajarkan turun temurun dijaga oleh guru-guru secara ketat. Pemaknaan ajaran agama dikendalikan dengan ketat tanpa memperhatikan ruang dan waktu.

Niatnya membentengi ajaran agama dari penyimpangan-penyimpangan pemahaman, namun karena ikatan bentengnya terlalu mengikat, akhirnya penganut agama menjadi tidak bisa beradaftasi dengan zaman. Agama diajarkan terlalu ritual.

Pengajaran agama menjadi sempit sebagai pengajaran memahami ritual-ritual keagamaan secara teknis. Agama tidak membimbing umat manusia berpikir kritis, berwawasan ke depan, mampu kelola harta dengan baik, memanfaatkan kekayaan alam untuk kesejahteraan alam, dan melahirkan manusia-manusia bermanfaat bagi umat manusia.

Tampilan manusia-manusia beragama terlalu kaku dengan aksesoris pakaian. Tampilan manusia beragama menyempit menjadi pemimpin acara-acara ritual agama, sedikit menjadi penyelesai masalah-masalah sosial akut seperti kemiskinan, pencemaran lingkungan, konflik sosial, dan dampak negatif perubahan teknologi.

Pengajaran agama butuh kekayaan makna dari berbagai sudut pandang untuk bisa menyelesaikan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi manusia. Inti ajaran agama adalah membimbing manusia tetap beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hari akhir dalam segala kondisi.

Seorang guru, petani, pedagang, pegawai, teknokrat, pejabat, semua harus bermanfaat bagi umat manusia sebagai wujud pengabdian pada Tuhan. Penganut agama yang baik adalah manusia-manusia berakhlak baik, pemelihara, penyantun, penyayang, dan pencipta situasi damai dimanapun berada.

Pengajar agama tidak dilihat dari latarbelakang pendidikan, semua lulusan pendidikan punya tanggung jawab sebagai pengajar agama, karena seluruh kehidupan di dunia merupakan misi umat beragama. Dasarnya penciptaan manusia untuk mengabdi kepada Tuhan. 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz Dzaariyat, 51:56).  

Agama punya makna luas bukan sebatas ajaran ritual, tetapi meliputi seluruh sisi kehidupan umat manusia. Profesi manusia berbeda-beda, dan seluruh profesi, pekerjaan, harus punya misi agama yaitu menjadi manusia-manusia pengabdi pada Tuhan dan mencitrakan diri memiliki sifat-sifat Tuhan.**

Sunday, December 26, 2021

ADA GURU YANG TIDAK PERNAH NGAJAR

Oleh: Toto Suharya

Banyak orang berpendapat bahwa karakter tidak bisa diajarkan, karena karakter seharusnya dilakukan. Bagi yang tidak paham pendidikan pernyataan ini bisa saja benar, dan parahnya pendidikan karakter seolah-olah tidak butuh pengetahuan. Muncullah masalah bahwa pendidikan saat ini teralu fokus pada pengetahuan dan tidak mengajarkan tentang karakter. Akhirnya ramai-ramailah menghujat pembelajaran kognitif sebagai biang kerok pendidikan tidak berkualitas.

Menarik untuk disimak teori pengetahuan dari Descartes, “semua aksi fisik merupakan akibat. Semua akibat terjadi sebagai sebuah wujud dari pikiran” (Russel, 2016). Pernyataan Descartes ini akan menjebak kita pada subjektivitas yang tinggi, mengarah pada pengkultusan pikiran sebagai sebab. Namun pesan yang harus kita tangkap di sini adalah kemampuan berpikir pada manusia menjadi hal penting dalam memahami realitas dan bahkan memahami keberadaan Tuhan. Sebagaimana di dalam kita suci Al-Qur’an Allah memerintahkan berulang-ulang pada manusia untuk berpikir. Intinya, berpikir menjadi faktor penting bagi peningkatan kualitas manusia terutama digunakan dalam dunia pendidikan.

Imanuel Kant memandang bahwa seluruh perubahan berlangsung sesuai dengan hukum hubungan sebab dan efek. Sementara Al-Gazhali menolak hukum kausalitas karena khawatir manusia akan terjebak pada kebenaran kausalitas yang hanya dilihat dari fakta empiris, sehingga mengabaikan kebenaran-kebenaran ilahiah (Abdullah, 2002). Penulis berpandangan bahwa kausalitas harus dipandang sebagai kehendak Tuhan. Jadi segala sesuatu yang terjadi tidak akan lepas dari kehendak Tuhan. Dengan demikian setiap kejadian yang dipahami secara faktual pada hakikatnya adalah dari Tuhan. Lantas tidak menjadi manusia harus berhenti memahami kausalitas-kausalitas di alam, karena Allah menciptakan miliaran bahkan triliunan kausalitas yang saling berhubungan.

Akal, alam, dan Tuhan adalah tiga objek yang pasti selalu mewarnai tindakan manusia. Pandangan saya dalam hal ini, Tuhan adalah sebab, sementara pikiran dan alam nyata adalah kehendak-Nya. Manusia diberi kemampuan untuk menggali berbagai pengetahuan dari akal dan alam. Tuhan menjadi sebab utama, sementara akal (pikiran) dan alam (tindakan) adalah akibat. Sementara apa yang dilakukan manusia dan terjadi di alam berlaku sebab akibat sesuai ketentuan Tuhan Yang Maha Luas Pengetahuannya. Sepertinya pendapat saya seperti keterpkasaan manusia pada Tuhan, namun tidak demikian karena Tuhan Maha Luas Pengetahuannya.

Kembali pada pengajaran karakter, dengan padangan di atas saya menyimpulkan bahwa seluruh prilaku manusia adalah akibat dari pengetahuan yang dipikirkannya. Sekalipun ada tindakan-tindakan yang tidak disadari, bukan berarti tidak ada keterlibatan pikiran. Tindakan-tindakan yang tidak disadari adalah sebuah tindakan berdasar pengetahuan yang telah melalui proses pemikiran dengan kecepatan tinggi. Pada awalnya anak kecil tidak tahu api panas, pada saat menyentuh api pikirannya memperoses dengan cepat sehingga menghasilkan gerakan reflek. Pengetahuan ini tersimpan dan selanjutnya anak akan menjauhi api berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Oeh karena itu, pendidikan adalah mengajarkan anak-anak untuk melakukan hal-hal yang baik yang bisa membawa keberuntungan dirinya, dan menjauhi perbuatan-perbuatan buruk yang dapat merugikan dirinya.

Dalam hal ini saya ingin menyampaikan, bahwa dalam kontek pendidikan, pendidikan karakter tetap pada dasarnya bermuara pada seperangkat pengetahuan yang harus dimiliki anak-anak agar dengan pengetahuan tersebut anak-anak bisa melakukan hal-hal yang baik untuk dirinya dan bermanfaat bagi orang lain. Jenis pengetahuan dalam pendidikan terbagi menjadi tiga yaitu, pengetahuan untuk melatih kemampuan berpikir (fokus pada teori mata pelajaran), pengetahuan untuk menimbulkan efek senang (fokus pada harapan-harapan baik di masa depan), dan pengetahuan sebagai pedoman bertindak (pengetahuan tentang pekerjaan teknis).

Dalam pandangan sekuler ketiga jenis pengetahuan di atas, pada prakteknya dikategorokan secara terpisah sehingga implentasinya terpisah-pisah. Kadang pembelajaran cenderung pada pengetahuan-pengetahuan teori pada jurusan, mata pelajaran, dan sedikit sekali memiliki pengetahuan harapan-harapan baik, dan pedoman pola tindak. Pada akhirnya pembelajaran menjadi kurang bermakna dan kegiatan yang tidak menyenangkan serta tidak menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang kelak dihadapi anak-anak dalam realitas kehidupan.   

Sebagai kritikan terhadap pengajaran di atas, ketiga jenis pengetahuan harus dintegrasikan dalam sebuah pembelajaran. Pembelajaran harus mengajarkan pengetahuan yang melatih nalar, membuka harapan-harapan baik dan menjadi pedoman bertindak dalam kehidupan. Pengetahuan apa yang harus diajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya?

Pengetahuan Etika

Pengetahuan etika berisi tentang teori-teori tentang tata cara bagaimana manusia berhubungan dengan sesama manusia, alam dan Tuhan. Pengetahuan-pengetahuan ini secara sinergis bisa dijelaskan di dalam pelajaran agama dan budi pekerti. Pengajaran agama diajarkan untuk membangun harmonisasi kehidupan antar sesama umat manusia yang sama-sama menghuni satu planet bumi. Etika-etika kehidupan dalam agama bisa dijelaskan dalam bahasa logika yang mengajak kepada semua umat manusia untuk berbuat sesuatu yang memberi manfaat pada manusia dan alam sebagaimana Tuhan memerintahkan.  Semua mata pelajaran harus bisa mengupas masalah-masalah etika dari sudut pandang kajian ilmu-ilmu yang digelutinya. Pengetahuan ini akan membawa anak-anak menjadi sosok berakhlak dan beriman kepada Tuhan.

Pengetahuan harapan

Pengetahuan harapan adalah sebuah pandangan ke masa depan yang dibentuk oleh pengetahuan-pengetahuan yang membawa efek senang. Sebagaimana dalam bagian fungsi otak berfungsi mengontrol efek perasaan. Dalam dunia pendidikan diharapkan anak-anak terus diberi informasi yang dapat membawa efek senang sehingga dapat terus memotivasi anak-anak untuk semangat belajar. Pengetahuan-pengetahuan harapan itu bisa dibangun dari pelajaran agama, dan seluruh mata pelajaran yang membawa kabar baik bagi anak-anak di masa depan. Khususnya mata pelajaran sejarah, yang bisa dikemas menjadi pelajaran tentang harapan hidup di masa depan. Pengetahuan ini akan membawa anak-anak berjiwa optimis, tekun, dan produktif serta tetap beriman pada Tuhan.  

Pengetahuan Teknis

Pengetahuan teknis adalah seperangkat pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak yang dapat menjadi pola tindak, berupa pengetahuan keterampilan berpikir dan keterampilan fisik mekanik. Diawali dari pelajaran agama yang mengajarkan ketermpilan berpikir, sampai kepada mata-mata pelajaran alam yang bisa mengajarkan pengetahuan keterampilan teknik. Keterampilan teknik ini menjadi modal mereka untuk bisa berkarya nyata untuk kehidupan dirinya dan orang lain. Pengetahuan ini akan membawa anak-anak menjadi manusia-manusia pekerja keras, kreatif, dan beriman kepada Tuhan.    

 Metode Pengajaran Merdeka

Pengajaran adalah sebuah tindakan kreatif dan dinamis. Untuk itu tidak akan pernah akan ada satu metode pengajaran baku yang dapat terus menerus dilakukan secara seragam oleh semua guru. Pengajaran sangat subjektif dan tergantung kepada siapa pelakunya. Sekalipun guru distandardisasi melalui program sertifikasi, tidak berarti setiap guru akan bertindak sama dalam pelaksanakan pengajarannya. Standardisasi hanya bisa dilakukan pada tataran kerangka berpikir substansi pengetahuan apa yang harus dialkukan agar pengajarannya punya efek sama pada anak-anak. Tiga jenis pengetahuan yaitu etika, harapan, dan teknis adalah standardisasi bagi siapa saja guru yang akan melakukan pengajaran.

Pada tataran aplikasi guru memiliki kebebasan untuk mengajarkan ketiga pengetahuan di atas dengan berbagai macam gaya dan pendekatan. Guru merdeka, seperti ada beberapa orang yang akan berenang menyebarang sungai, setiap orang tentu diberi kebebasan untuk menggunakan berbagai macam gaya yang dikuasinya yang penting bisa menyebrang sungai. Guru tidak seperti orang yang mau lomba renang, untuk menuju suatu tujuan harus menggunakan gaya yang sama.  Untuk itu, pendidikan bukan lomba tetapi sebuah kerjasama untuk melahirkan tujuan yang sama dengan memberi kebebasan untuk mengajarkan tiga pengetahuan sesuai dengan kompetensi guru yang dimilikinya.

Idealnya dalam setiap pengajaran, guru memberi masukkan ketiga ranah pengetahuan yang harus dimiliki anak. Pendekatan yang digunakan adalah pengajaran terpadu berbasis pada tema. Namun demikian ada keterbatasan para guru mengajar dengan model ini. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengajarkan model terpadu, secara parsial masih bisa dilakukan hanya tetap tiga ranah pengetahuan etika, harapan, dan teknis harus menjadi kerangka acuan dalam pengajaran. Dalam pendekatan parsial agama bisa mengajarkan etika-etika kehidupan, sejarah, sosiologi, geografi bisa mengajarkan harapan-harapan hidup sejahtera, dan matematika, fisika, kimia, biologi bisa mengajarkan hal-hal teknis yang bisa mendorong mereka untuk berkarya.

Model Guru Pengajar Karakter

Esensi pendidikan adalah mengajarkan karakter. Dari tiga jenis pengetahuan yang saya kemukakan adalah tujuannya mengajarkan agar anak-anak berkarakter. Harus kita sepakati bahwa apa-apa yang kita kerjakan tidak lepas dari pengetahuan yang diolah jadi pikiran dan jadi kelakukan. Ini adalah pengalaman seorang guru di Ciamis Jawa Barat dalam mengajarkan karakter. Menarik sekali apa yang dikatakan guru tersebut, “saya adalah satu-satunya guru yang tidak pernah mengajar”. Setelah saya dalami ternyata apa yang dikatakan “tidak pernah mengajar” adalah kiasan karena selama ini mayoritas guru memiliki pandangan sama tentang mengajar, yaitu menyampaikan materi sesuai dengan mata pelajaran. Materi peajaran secara berurutan harus disampaikan sesuai dengan dokumen kurikulum. Pandangan ini menjebak guru-guru bahwa mengajar sebatas menyampaikan materi pelajaran dan tidak mengandung pengetahuan etika, harapan dan teknik. Akhirnya mata pelajaran hanya berisi pengetahuan prasyarat yang hanya memenuhi otak tidak berfungsi apa-apa dan menjenuhkan.

Pengalaman guru yang tidak pernah mengajar dijelaskan sebagai berikut; ketika saya masuk kelas, ternyata di dalam kelas tidak kondusif dan ada pelanggaran etika, “saya tidak mengajar”. Selama jam pelajaran saya akan membahas bersama anak-anak bagaimana beretika dan berpilaku agar mereka bisa hidup sejahtera di kemudian hari. Saya perkenalkan bagimana cara orang-orang bisa hidup sejahtera dengan cara hidup sesuai etika dalam berbagai aktivitas kehidupan nyata. Kebiasaan mengajar seperti ini, dipersepsi oleh guru-guru lain bukan sebagai kegiatan aktivitas mengajar, karena isinya tidak membahas materi pelajaran.

Mengacu pada tiga teori pengetahuan yang harus diajarkan pada anak-anak, sebenarnya pengalaman guru yang mengajarkan pengetahuan tentang etika hidup sesungguhnya dia telah melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan baik. Pengetahuan etika merupakan bagian dari pengajaran karakter yang harus dilakukan semua guru mata pelajaran. Kegiatan yang dilakukan guru di atas adalah salah satu metode yang bisa dilakukan guru dalam mengajarkan pengetahuan etika untuk pembentukan karakter.

Pengajaran kakakter semacam dilakukan dengan pendekatan parsial, sesuai dengan kebutuhan peserta didik saat itu. Jika semua sudah kondusif dan berjalan normal, barulah mengajarkan pengetahuan teknis dalam mata pelajaran. Pengajaran fleksibel ini bisa jadi bagian dari implementasi merdeka belajar, yang memberi kewenangan pada guru untuk mengajarkan apa yang dibutuhkan anak-anak pada saat itu.

Kesimpulannya, mengajar adalah pekerjaan super kreatif dan dinamis. Hal-hal yang statis dalam mengajarkan adalah berkaitan dengan tiga ranah pengetahuan yaitu etika, harapan, dan teknis. Sampai kapan pun manusia membutuhkan manusia-manusia berakhlak baik dengan keyakinan pada Tuhan YME, selalu optimis dalam menjalani hidup, dan memiliki cara untuk mempertahankan hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga guru-guru bisa lebih merdeka dalam mengajar dan sealu bisa menyesuaikan materi ajar dengan kebutuhan anak-anak. Wallahu’alam.

Sunday, May 23, 2021

ISLAM FISIK DAN PSIKIS

Oleh: Muhammad Plato

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar". (Al Hujurat, 49:17)

Jangan merasa bangga karena merasa telah memeluk Islam, sebab Allah akan terus menguji keimanan seseorang. Memeluk Islam dengan cara bersyahadat menghapus dosa masa lalu, namun belum tentu di masa mendatang kita bebas dari dosa padahal sudah masuk Islam. Setelah berislam dan beriman kepada Al-Qur’an, seberapa banyak informasi dari Al-Qur’an yang telah diimani?

Untuk itu dalam keislaman yang harus ditingkatkan adalah keimanan. Setelah masuk Islam hidup akan terus mengalami peningkatan kualitas dengan peningkatan kualitas kualitas keimanan. Peringatan-peringatan keagamaan selalu mengajak untuk meningkatkan keimanan agar menjadi muslim dengan total berserah diri.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al Baqarah, 2:208).

Keimanan seorang muslim sangat ditentukan oleh seberapa pengetahuan yang dimiliki tentang ajaran-ajaran Islam. Allah tidak menghukum seseorang yang tidak memiliki pengetahuan. Kedalaman pengetahuan seseorang tentang Islam akan menentukan kualitas keislamannya.

Jangan mengatakan bahwa pengetahuan tidak menentukan kualitas keimanan seseorang, karena Allah sudah menetapkan hanya orang-orang berpengetahuan yang diangkat derajatnya beberapa derajat dari manusia-manusia lainnya.  Membaca Allah tetapkan sebagai sebab manusia dapat menemukan kebenaran-demi kebenaran sebagaimana perjalanan Nabi Ibrahim dalam prosesnya mencari Tuhan.

Kualitas keislaman seseorang terbagi menjadi dua, yaitu pada level fisik dan psikis. Pada level keislaman fisik keimanan ditunjukkan dalam bentuk tampilan-tampilan budaya dalam bentuk fisik seperti ornament bangunan rumah ibadah, hiasan-hiasan hasi budaya, pakaian, tari-tarian, kesenian, dan kegiatan-kegiatan tradisi turun-temurun yang sudah dinaggap melekat dengan masyarakat Islam.

Pada level psikis keislaman seseorang tidak terlalu fokus pada tampilan-tampilan hasil produk budaya, tetapi lebih pada pengolahan pola berpikir dan rasa. Pada level psikis keislamanan akan tampil menjadi pribadi-pribadi yang mengimplementasikan prilaku-prilaku keimanan kepada ajaran-ajaran Islam. Pada level psikis keislaman seseorang seseorang tidak sebatas tampil dalam perbedaan produk-produk budaya, tetapi lebih pada kepribadian-kepribadian mulia. Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dikisahkan dalam sejarah, mereka tampil menjadi sosok yang sederhana dalam urusan fisik, namun memesona dalam urusan kepribadian. Mereka adalah contoh teladan berislam yang tidak terjebak pada tampilan-tampilan fisik.

Perbedaan keislaman sejatinya hanya ada pada tampilan fisik, namun dalam level psikis setiap orang Islam pasti memiliki standar kepribadian yang sama. Pada level psikis standarnya setiap orang pasti pasti literate, cerdas, kreatif, pemaaf, optimis, berani, dermawan, gembira, inspirator, motivator, ramah, komunikatif, friendly, dan mengutamakan hidup rukun serta damai. Standar kepribadian ini tergambar dalam rekam jejak sejarah kenabian Nabi Muhammad saw. Ini ciri dari kualitas keimanan seorang muslim setelah berislam.

Propaganda-propaganda yang menampilkan islam dalam kekerasan fisik, dapat di pahami propaganda tersebut memiliki kepentingan-kepentingan duniawi karena kekerasan fisik, agresi, teror, tidak ada sama sekali dalam ajaran Islam jika melihat pada sumbernya yaitu Al-Qur’an. Individu atau kelompok yang berusaha memotret kekurangan, kekerasan Islam secara fisik, sudah jelas memiliki muatan-muatan gagasan yang bertentangan dengan visi Islam secara psikis.  Wallahu’alam.

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...