Showing posts with label cara sukses. Show all posts
Showing posts with label cara sukses. Show all posts

Monday, March 21, 2022

LIMA PESAN UNTUK PARA LULUSAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Sebentar lagi anak-anak kelas 12 masa studinya akan berakhir. Semua program telah diupayakan dan semoga para lulusan bisa meraih cita-cita dan kemudahan dalam segala urusan. Sebagaimana kita ketahui, segala apa yang diberikan di sekolah bermuara pada perbendaharaan pengetahuan yang tersimpan dalam long term memory anak-anak. Ijazah hanya sebagai tanda bahwa anak-anak pernah bersekolah, namun yang lebih penting lagi sebagai tanda pernah belajar berpikir. Segala pengetahuan yang diberikan bapak ibu guru tentunya tidak akan semua diingat, dan yang pasti diingat adalah yang memiiki kesan mendalam hingga tersimpan dalam memori yang tak terlupakan. Pengetahuan yang tersimpan dalam jangka waktu lama, itulah ilmu pengetahuan yang menjadi milik anak-anak dan akan menjadi ciri dari kualitas pribadi anak-anak.

Sambi menanda tangani karya tulis hasil projek anak-anak, saya cermati semua projek yang dilakukan anak-anak. Anak-anak di daerah dengan di kota besar memang menunjukkan perbedaan. Mungkin karena latar belakang dari pendidikan orang tua, fasilitas, kesejahteraan, kemudahan akses informasi, saya perhatikan kreatifitas anak-anak di kota besar memiliki perbedaan signifikan. Program projeck base learning yang digulirkan oleh sekolah, disambut dengan berbagai macam ide projek sesuai dengan dunia anak-anak zaman sekarang.  

Satu per satu projek anak-anak saya pahami, dari mana gagasan mereka dapatkan dan dari mana kemampuan memanfaatkan teknologi mereka dapatkan. Mereka gunakan aplikasi-aplikasi yang tidak familiar di pikiran saya. Ketika saya katakan aplikasi yang mereka gunakan baru saya kenal, anak anak menjawab aplikasi yang mereka gunakan sudah familiar di kalangan remaja seusia SMA. Lalu saya minta penjelasan bagaimana cara mengunakan aplikasi tersebut dan apa manfaatnya. Mereka menjelaskan dengan detail hingga poin-poin tertentu yang bisa menghasilkan kapital. Saya katakan pada mereka, “jika nanti presentasi jangan membaca catatan untuk itu materi harus benar-benar dikuasi”. Mereka menjawab dengan percaya diri, “semuanya sudah ada dalam kepala”.

Sedikit merenung, inilah zaman sebagaimana dikatakan Ki Hadjar Dewantara kurang lebih 40 tahun yang lalu, “semua ruang adalah kelas dan semua orang adalah guru”. Ketika saya mendengar penjelasan anak-anak bagaimana aplikasi yang mereka gunakan dan mereka kembangkan untuk kepentingan pendidikan, saya sedang membuktikan kebenaran kata-kata Ki Hadjar Dewantara, saya sedang belajar pada guru yaitu siswa. Jadi saya sadar betul zaman sudah berubah, pengetahuan tidak lagi mutlak milik guru dan guru tidak bisa lagi memonopoli diri sebagai orang paling pintar. Guru dan siswa harus sama-sama rendah hati, interaksi yang terjadi bukan lagi sebagai raja dan abdi, tetapi sebagai partner yang harus bersinergi.

Setelah lama mendengarkan anak-anak menjeaskan projek yang mereka lakukan, saatnya saya sebagai guru yang sudah punya pengalaman dan literasi yang cukup lama dalam bidang pendidikan, menyampaikan sebuah pesan terakhir agar bisa hidup sukses semuda mungkin. Pertama, sesuai dengan tujuan pendidikan, saya sampaikan sampai kapanpun Tuhan akan tetap ada, Dia pengendali dan pemberi kemudahan dalam segala urusan. Untuk itu, dasar karakter yang harus dimiliki adalah harus menjadi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, minimalnya ditandai dengan selalu berpikir positif pada setiap keadaan dengan membiasakan membangun harapan-harapan baik kepada Tuhan dengan disiplin berdoa setiap hari sesuai keyakinan, bagi muslim shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat. Kedua, karakter baik yang harus adalah menjadi pribadi yang menghargai ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan untuk memenuhi nutrisi otak. Membaca harus menjadi kegiatan mempribadi dan berlaku sepanjang hayat, karena semua yang berhasil diciptakan manusia dasarnya dari pengetahuan. Ketiga, karakter dermawan harus benar-benar jadi mindset pada saat mau melakukan kegiatan apapun di muka bumi ini. Karakter dermawan adalah prilaku pemberkah yang bisa mendatangkan berbagai macam kebaikan dalam kehdiupan sesama manusia di seluruh dunia. Dalam posisi apapun kedermawanan menjadi karakter yang sangat dinanti-nantikan oleh semua orang pada kita menempati sebuah peran. Keempat, karakter sebagai seorang entrepreneur adalah modal bagi setiap orang agar bisa menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan. Seorang entrepreneur tidak pernah tergantung pada sesuatu atau seseorang. Seorang entrepreneur akan selalu kreatif berusaha mencari jalan keluar. Satu-satunya sikap ketergantungan bagi seorang entrepreneur hanya kepada Tuhan Yang Ghaib. Kelima, mental ivestor harus benar-benar menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari. Setiap tindakan harus menjadi investasi hidup di masa mendatang hingga kehidupan setelah kematian. Mental-mental kreditor harus diminimalisir untuk menghindari perbudakkan dalam segala aspek kehidupan. 

Semoga lima pesan ini menjadi akhir pertemuan dan menjadi pedoman yang bisa membawa para lulusan menjadi manusia-manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, kreatif dan berilmu, penyejahtera pembawa damai di muka bumi, mandiri, sukses di dunia dan akhirat. Selamat jalan anak-anak semoga hari-hari mu terus menyenangkan dan mensejahterakan. Kami titipkan cita-cita, semoga kalian bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa besar yang dikelola oleh manusia-manusia berjiwa besar, pemimpin penyejahtera alam di bawah bimbingan Tuhan Allah swt. Wallahu’alam. 

Saturday, September 25, 2021

PENDIDIKAN SADAR HUKUM DI SEKOLAH

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di dunia dengan basis dukungan masyarakat religius. Agama-gama besar di dunia seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu dianut oleh warga negara Indonesia. Islam adalah  agama terbesar yang dianut oleh bangsa Indonesia. Dalam sebuah polling internasional Indonesia tercatat sebagai negara yang dihuni oleh penduduk sangat religius. Toleransi saling menghargai antar umat beragama sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Inilah negara demokrasi berbasis masyarakat religius dengan kehidupan toleransi beragama yang dapat dicontoh oleh seluruh bangsa di dunia.

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru tahun 1998, Indonesia memang terus melesat mengukuhkan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi religius terbesar di dunia. Adanya demokrasi ditandai dengan pengakuan hak manusia sebagai individu. Dengan pengakuan hak asasi manusia secara individu, negara menjamin hak-hak individu dan tidak bisa direnggut oleh pihak manapun. Negara sekalipun tidak boleh melanggar hak asasi seorang warga negara.

Namun demikian kadang kita lupa, syarat-syarat sebagai negara demokrasi harus tetap terpenuhi. Syarat utama dari negara demokrasi adalah kecerdasan dan kesadaran masyarakat sebagai warga negara yang baik harus tersebar merata. Demokrasi tanpa kecerdasan dan kesadaran hukum sebagai warga negara, maka premanisme akan merebak di mana-mana dalam berbagai wujud rupa.

Dalam dunia preman bukan aturan hukum yang dipergunakan tapi kekuatan dan ketakutan. Siapa bisa menciptakan dan mengendalikan ketakutan, dia akan jadi pengendali kekuatan. Dalam dunia preman, struktur organisasi, kepemimpinan, tidak ada harganya. Untuk hidup di dunia preman, asal punya keberanian dan bisa menebar ketakutan, maka negara bisa dikendalikan dan para pemimpin tidak berdaya. Inilah dunia jahiliyah tidak berperadaban.

Dengan Inovasi dan kolaborasi, sekolah-sekolah selayaknya memiliki kerjasama dengan lembaga-lembaga bantuan hukum di masyarakat, untuk melibatkan masyarakat dalam upaya meningkatkan pendidikan sadar hukum dan menjadikan hukum sebagai pengendali masyarakat. Untuk melaksanakan pendidikan sadar hukum di sekolah, harus ada dukungan masyarakat, karena hukum negara tidak hanya berlaku di sekolah tetapi dalam kehidupan di masyarakat.

Kerjasama sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dengan Lembaga Hukum Siliwangi yang diketuai Rifki Okta adalah terobosan program pendidikan hukum yang sangat kreatif dan inspiratif. Dengan adanya kerjasama ini sekolah menjadi punya dukungan dari masyarakat untuk memberikan pendidikan hukum di sekolah maupun di masyarakat. Produk-produk pendidikan terbaik dari sekolah adalah lulusan-lulusan yang memiliki kesadaran hukum. Negara demokrasi yang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia sangat membutuhkan warga-warga negara yang taat hukum.

Perpecahan, konflik sosial, penyimpangan sosial, perampokkan, pencurian, penipuan, pemerasan adalah akibat dari masyarakat yang tidak bisa hidup dengan aturan hukum yang berlaku. Semoga dengan terwujudnya kerjasama pendidikan hukum antara sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dapat menginspirasi seluruh stake holder pendidikan di Jawa Barat dan seluruh Indonesia. Program ini dapat juga dipandang sebagai wujud nyata pemanfaatan tri pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat, untuk ikut andil dalam mewujudkan pendidikan sadar hukum di lingkungan sekolah untuk melahirkan lulusan-lulusan terbaik bagi bangsa dan negara.

Semakin banyak manusia-manusia Indonesia berkesadaran hukum tinggi, semakin besar peluang bangsa Indonesia menjadi bangsa besar dengan kedaulatan politik dan ekonomi berpengaruh di dunia. Dengan kesadaran hukum yang merata bagi seluruh warga negara Indonesia, akan tercipta lingkungan masyarakat tertib, aman, damai, dan sejahtera. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud karena semua warga negara Indonesia dijamin hak dan kewajibannya oleh hukum negara.

Kejasama pendidikan sadar hukum antar sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung Barat  dengan Lembaga Hukum Siliwangi sangat berkaitan dengan tujuan pendidikan di sekolah. Pada semua mata pelajaran, termasuk dalam pelajaran agama, Allah sangat menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk taat pada pemimpin, artinya seluruh umat beragama diperintahkan hidup damai sejahtera dengan rela diatur oleh hukum-hukum negara yang tujuannya sesuai dengan falsafah Pancasila yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Semoga terobosan program kerjasama antara lembaga bantuan hukum dengan sekolah dapat meningkatkan jumlah manusia-manusia sadar hukum di Indonesia. Wallahu’alam. 

Friday, August 27, 2021

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kapan saja, dan oleh lapisan masyarakat mana saja, maka inilah tanda-tanda bahwa keberadaan “guru” akan berakhir (the end of teacher). Bukan profesi gurunya yang akan berakhir tetapi sosok-sosok guru yang tidak berusaha membaca dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Guru-guru yang tidak berhasil membaca dan cepat beradaftasi dengan perubahan zaman seperti cerita tukang ojeg pangkalan, dan tragisnya para supir angkutan kota.

Sebagaimana hasil penelitian anak-anak (2020) terhadap penghasilan tukang ojeg pangkalan dibandingkan dengan tukang ojeg online, perbandingannya sudah mencapai 25:75 persen. Umpama, tukang ojeg panggalan penghasilannya 25 ribu rupiah perhari, tukang ojeg online 100 ribu rupiah perhari.  Namun demikian sekalipun faktanya demikian, tukang ojeg pangkalan tetap menjalaninya, dia tidak belajar dari perubahan zaman, dan cenderung menyerah pada keadaan. Dia tetap menunggu penumpang di pangkalan sekalipun peminatnya sudah banyak menghilang. Peminatnya hanya tinggal generasi old mind yang tidak bisa mengoperasikan layanan tranpsortasi online kerena gagap teknologi. Jumlahnya pun semakin sedikit dan sebentar lagi punah.

Demikian juga dengan supir angkot dijalanan, dari pengamatan sehari-hari ketika berangkat dan pulang kerja, angkot-angkot hilir mudik hanya mengangkut dua atau tiga orang penumpang, dan kadang-kadang kosong. Sambil mengendarai angkotnya pelan-pelan, nasib angkot seperti melihat binatang sekarat menunggu kematian. Diskusi dengan pemilik angkot penghasilan mereka turun hingga 75% per harinya. Biaya pemeliharaan, bahan bakar, tidak lagi bisa menutupi kebutuhan operasional kendaraan. Angkot seperti orang sakit parah yang tetap berusaha bertahan hidup dengan cara-cara pengobatan sederhana tanpa ada alternatif pengobatan dan pemanfaatan teknologi kesehatan.

Analogi kisah di atas, adalah gambaran dari “guru” yang tidak mampu beradaftasi dengan kemajuan zaman. Wawasannya terbatas karena tidak memiliki budaya literasi tinggi, mereka tetap bertahan dengan gaya mengajar zaman old mind, mengunakan buku paket, mengajar sebagaimana yang ada dalam buku paket, memberi tugas dan menguji dengan soal-soal tes low order thingking. Ujian hanya menguji ingatan dan pemahaman konsep-konsep yang tidak dibutuhkan peserta didik di lapangan. Hasil tes kemudian dirangking menjadi siswa bodoh dan pintar, jadi hasil dari pendidikan adalah peserta didik bodoh dan pintar. Gaya mengajar yang kaku dan membosankan, membuat peserta didik frustrasi dan mereka mempersepsi sekolah seperti penjara, atau penjajahan yang dilegalisasi atas nama pendidikan. Para pengusaha sukses yang kebetulan tidak berpendidikan tinggi, mereka mencela dunia pendidikan sebagai penyebab kemiskinan, karena peserta didik tidak diajari bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi di atas adalah gambaran bahwa “guru-guru” jika tidak adaftif akan terdisrupsi oleh perubahan zaman. Mereka akan hilang dari permukaan, namun mereka tidak sadar kenapa mereka diasingkan seperti kasus Hand Phone Nokia yang hilang dari pasaran, padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa era sekarang label guru yang harus digugu dan ditiru konteknya ada embel-embel yaitu dalam hal melakukan perubahan. Guru harus tetap menjadi sosok yang digugu dan ditiru namun dalam kontek membawa anak-anak untuk beradaftasi dengan perubahan zaman. Guru harus seperti mobil transformer yang bisa berubah-ubah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika kita ikuti dari prasarana belajar yang digunakan, sosok guru terus mengalami evolusi sesuai dengan perubahan zaman. Pada awalnya guru tampil mengajar dengan kapur tulis. Guru “kapur tulis” pada tahun 2000 an,  seiring dengan perubahan zaman terdesak punah oleh keberadaan spidol white board dan over head proyektor (OHP). Guru spidol mengajarkan pengetahuan dengan mendemostrasikannya di papan tulis dan OHP. Dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi, guru “spidol” terdesak lagi oleh kehadiran komputer dan proyektor. Guru “proyektor” menyajikan pembelajaran dengan membuat slide dan menampilkannya ke dalam proyektor di kelas-kelas. Kondisi pun berubah lagi, guru “proyekor” terdesak dengan kehadiran smartphone dan aplikasi-apikasi  pembelajaran.

Pandemi covid-19 awal tahun 2019 hingga sekarang, telah banyak menelan korban, demikian juga dalam dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 telah menelan banyak korban guru-guru, diantaranya “guru” generasi kapur tulis, spidol, dan proyektor. Ketika pandemi Covid-19 guru kapur tulis, spidol, proyektor, yang dibatasi ruang kelas dan papan tulis, tak berkutik tidak bisa mengajar.  Guru-guru yang tidak bisa beradftasi dengan perkembangan teknologi informasi, tidak memiliki daya adaftasi tinggi, tidak kreatif, pada masa pandemi covid-19, mereka berstransformasi menjadi guru “whatsApp”. Pada masa pandemi pembelajaran diayani melalui chatting di wa grup. Pembelajaran dilakukan dengan gaya chating di wa grup, kadang di jawab kadang tidak. Peserta didik berkeluh kesah, sulit membangun komunikasi dengan guru. Pada akhirnya peserta didik merindukan tatap muka, bertemu dengan guru-gurunya lintas generasi.

Guru-guru dengan daya adaftasi tinggi, ketika masa pandemi covid-19 mereka tampil dengan berbagai perangkat teknologi informasi penunjang, WhatsApp, voice note, file pdf, video youtube, medsos, google meet, google sheet, zoom meet, dan flatform-flatform aplikasi penunjang pembelajaran dari berbagai produk dipelajari dan dikembangkan untuk memberikan alternatif layanan pendidikan pada peserta didik yang terkendala komunikasi karena pandemi covid-19. Guru-guru dengan multi tasking berubah wujud menjadi guru-guru berkarakter entrepreneur. Sementara guru-guru yang tidak adafif mengalami sekarat dan kematian (the end) akibat pandemi covid-19, di lain pihak guru-guru berkarakter entrepreneur tetap sehat dan semakin sejahtera hidupnya, melayani pendidikan anak-anak dengan energik, penuh semangat, dan optimis, melayani anak-anak dengan berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik sekalipun pandemi Covid-19 melanda dunia. Wallahu'alam.


Saturday, July 31, 2021

SEKOLAH UNIVERSAL

 OLEH: TOTO SUHARYA

Jawa Barat memang selalu terdepan dalam inovasi. Dengan jumlah penduduk 48 juta lebih, Jawa Barat memang harus punya keberanian untuk meakukan inovasi terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu keberanian Jawa Barat adalah menggulirkan program SMA Terbuka, yang tadinya program ini hanya dimiliki tujuh sekolah saja se-Indonesia dari program pemerintah pusat. Selain untuk meningkatkan Angka Partisifasi Kasar (APK) sekolah menengah di Jawa Barat, program SMA Terbuka bertujuan menjamin kepada seluruh warga Jawa Barat agar bisa mengakses pendidikan dalam kondisi apapun. Melalui program SMA Terbuka setiap warga Jawa Barat dijamin hak-haknya untuk mengakses pendidikan tanpa harus terganjal oleh syarat-syarat formal sebagaimana di pendidikan regular.

Dalam Pergub No. 74 tahun 2020 dijelaskan pertimbangan dikeluarkannya program SMA Terbuka adalah upaya memberikan layanan khusus dan pemerataaan askes pendidikan, terutama kepada anak-anak usia 16-21 tahun yang terkedala dengan waktu dan atau ekonomi keluarga. Selain itu juga menimbang Angka Partisifasi Kasar (APK) Jawa Barat yang masih perlu terus dtingkatkan. Sementara ini rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih 8,3 tahun, dianggap belum lulus SMP.

Program layanan SMA Terbuka masuk pada kategori layanan khusus. Pengertian layanan khusus di sini dapat dipahami dari berbagai aspek, antara lain sosial, ekonomi, budaya, psikologi, dan politik. Dari aspek sosial SMA terbuka memberikan layanan kepada masyarakat yang kondisinya lemah karena secara struktur sosial berada di lapisan menengah ke bawah, mobilitas hidupnya terbatas, dan tidak memiliki ikatan jejaring keluarga dan sosial yang luas. Secara ekonomi, SMA Terbuka menyasar kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah, sehingga anak-anak usia sekolah pada keluarga ekonomi lemah sering terlibat dalam dunia kerja untuk bantu ekonomi keluarga. Dari sudut budaya, masyarakat Indonesia masih kuat memegang tradisi yang berusmber dari budaya maupun agama. Tradisi tersebut antara lain menikah usia dini, menikah dianggap tujuan akhir sehingga setelah menikah dianggap tidak ada tugas atau kewajiban untuk berpendidikan tinggi. Secara psikologis, anak anak Indonesia pada usia sekolah berada pada masa pancaroba, mereka harus mendapat layanan pendidikan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Secara politis, tahun 2045 bangsa Indonesia punya cita-cita menjadi bangsa berdaulat di tingkat internasional sehingga sejak saat ini harus menyiapkan anak-anak cerdas untuk menyambut Indonesia emas.         

Program SMA Terbuka sejalan dengan kondisi zaman, dimana pendidikan sudah bersifat universal bisa didapat oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa tersekat-sekat oleh geografi, ekonomi, bangunan, lembaga formal, tatap muka berhadap-hadapan, dan struktur organisasi. Jargon Ki Hadjar Dewantara memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, “dimana saja sekolah, dan siapa saja guru”. Sekalipun pemikiran Ki Hadjar dikemukanan berpuluh tahun yang lalu, namun sekaranglah zamannya bahwa pendidikan harus bersifat universal.

Secara filosofis tujuan SMA Terbuka memang sangat membantu seluruh lapisan masyarakat dalam mengaskes pendidikan. Anak-anak yang memiliki karir di bidang olah raga, seni, dan ekonomi, tidak lagi terhambat oleh aturan kaku seperti sekolah reguler. Mereka yang jauh dari sekolah, terkendala ekonomi, geografi, budaya, dan politik, bisa merasakan layanan pendidikan melalui layanan jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi.

Dalam sekolah universal aturan tidak terlalu ketat mengikat sebab semuanya dilandasi oleh melayani semua. Kunci dari layanan universal adalah kemandirian, kesadaran, dan motivasi bersama untuk memberikan layanan dan pengalaman pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kolaborasi dan dialog adalah kunci utama dalam memberikan layanan pendidikan pada peserta didik. Maka dari itu, syarat-syarat agar semua anak usia 16-21 tahun bisa akses sekolah menengah terbuka tidak terlalu ketat, yang pada akhirnya ada kesan membatasi. Anak-anak usia sekolah yang sudah bekerja yang tidak terikat kontrak maupun terikat kontrak harus terlayani. Perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan anak-anak di usia sekolah tamatan SMP, harus diajak untuk sama sama mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan anak-anak generasi emas di tahun 2045.  

Kualitas pendidikan di SMA Terbuka tidak dapat serta merta dilihat dari hasil lulusan. Kualitas pendidikan SMA terbuka sangat tergantung pada proses layanan. Minimalnya proses pembelajaran pada anak-anak SMA terbuka secara disiplin dan penuh tanggung jawab harus benar-benar terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi proses pembelajaran bisa dilaksanakan tanpa sekat ruang dan waktu. Untuk menjamin kualitas layanan SMA terbuka, harus ada komitmen tinggi dari setiap penyelenggara pendidikan SMA Terbuka untuk bekerja keras, kreatif, terorganisir, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk seoptimal mungkin menjamin proses pembelajaran berlangsung sesuai ketentuan dan harapan bersama.

Program SMA Terbuka adalah tugas suci kita semua. Mencerdaskan masyarakat adalah perintah Allah agar kita menjadi bangsa mandiri, tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa bermanfaat bukan hanya bangsa kita sendiri, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa-bangsa lain. Kini kita telah menjadi warga dunia tanpa sekat yang dipersatukan oleh teknologi informasi. Wallahu’alam.  

Friday, February 19, 2021

LITERASI INVESTASI ASET DIGITAL

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah, Wasekjen DPP AKSI)

Salah satu literasi yang diharuskan dipahami oleh para peserta didik saat ini adalah literasi finansial. Literasi finasial sangat penting untuk dipahami berkaitan dengan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa “perbedaan orang Indonesia dengan orang Amerika terletak pada kerja keras. Orang Indonesia bekerja lebih keras dari orang Amerika, namun asetnya malas. Sebaliknya orang Amerika mereka pekerja keras biasa tapi asetnya ikut bekerja keras”.  Pernyataan Ibu Menteri saya modifikasi sedikit biar bisa lebih jelas perbedaan prilaku antara orang Indonesia dengan orang Amerika.

Saya coba jelaskan apa yang dimaksud dengan pernyataan Ibu Menteri Sri Mulyani. Pertama, pernyataan itu menggambarkan bahwa rata-rata orang Indonesia kurang pandai mengelola keuangan. Gaji yang didapat dari hasil bekerja sebulan hampir habis untuk kegiatan konsumsi, sementara untuk kegiatan investasi atau menabung hampir tidak ada. Puluhan tahun bekerja, banyak kasus di orang Indonesia, setelah pensiun kualitas hidupnya turun drastis karena tidak punya dana tabungan atau investasi.

Kedua, aset orang Indonesia tidak bekerja keras karena orang Indonesia terkenal konsumtif. Para pegawai negeri atau swasta, rata-rata kredit dari bank untuk membeli kendaraan, bangun rumah tinggal, atau beli barang-barang mewah. Konsumerisme terjadi karena gaya hidup orang Indonesia cenderung mengutamakan penampilan bukan penghasilan. Secara tidak langsung kata Lo Kheng Hong, “orang Indonesia lebih mementingkan terlihat kaya dari pada menjadi kaya”.

Ketiga, orang Indonesia dari tujuan hidupnya lebih suka bekerja dari pada menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini dapat dibuktikan di sekolah ketika ditanya tujuan selanjutnya setelah lulus SMA/SMK masih sangat minim yang punya cita-cita menjadi pengusaha. Tujuan anak-anak yang paling banyak setelah lulus SMA/SMK adalah bekerja dan menjadi Tentara atau Polisi.  Orientasinya menjadi pekerja bukan pengusaha. Secara statistik dari jumlah populasi penduduk Indonesia kurang lebh 170 juta baru 3% yang bergerak di bidang wirausaha.

Keempat, dari sudut pandang karakter, orang Indonesia sangat takut gagal. Atas dasar itu, orang Indonesia kurang berani berspekulasi dalam hal bisnis atau investasi. Untuk itu, karakternya lebih senang pada pekerjaan-pekerjaan beresiko rendah untuk menghindari kegagalan. Maka pilihannya adalah cenderung menjadi pekerja. Itulah beberapa gambaran mengapa aset orang Indonesia tidak bekerja keras dan hidupnya cenderung biasa-biasa saja.

Untuk mendorong orang Indonesia mau menabung atau berinvestasi perlu pelajaran literasi finansial dan pengenalan ekonomi digital yang sedang berkembang di abad ini. Sekolah-sekolah harus mengajarkannya sejak dini, terutama di tingkat sekolah menengah. Investasi atau nabung saham dan aset digital perlu diperkenalkan. Investasi saham atau aset digital sangat cocok dengan struktur sosial masyarakat Indonesia yang kebanyakannya menjadi pekerja.

Investasi atau nabung saham dan aset digital bisa menjadi solusi bagi para pekerja agar bisa mengelola asetnya ikut bekerja. Rendahnya literasi finasial membuat orang Indonesia yang banyak tertipu dengan investasi bodong dan penipuan. Investasi bodong dan penipuan ikut menunjang terhadap kondisi masyarakat Indonesia tidak tertarik untuk berinvestasi. Literasi finansial rendah menjadi sebab orang Indonesia menggeneralisir semua bentuk investasi rawan penipuan, termasuk dalam investasi saham dan aset digital. Sementara masyarakat maju seperti Amerika dan sekarang China yang ekonominya sedang menggurita, di atas 13% dari populasi penduduknya sudah memilih investasi saham dan aset digital sebagai sararana agar asetnya ikut bekerja keras. Rendahnya litarasi finansial, prasangka buruk terhadap berbagai bentuk investasi, penipuan, dan pandangan-pandangan agama yang tidak literat ikut mendorong orang Indonesia tetap menjadi pekerja keras dan asetnya malas.

Perlu gerakan dan revolusi mental di sekolah agar orang Indonesia terbuka wawasannya terhadap bursa saham dan berkembangnya sistem ekonomi dan uang digital. Investasi, nabung saham atau uang digital sangat cocok dengan budaya menjadi pekerja yang dimiliki orang Indonesia. Nabung saham atau uang digital tidak menghalangi orang Indonesia untuk  tetap menjadi pekerja keras. Nabung saham dan uang digital bisa menjadi solusi bagi orang Indonesia yang terkenal pekerja keras seiring dengan waktu hidupnya bisa lebih sejahtera di masa tuanya. Untuk memahami bagaimana nabung saham dan uang digital bukan hal sulit saat ini, kuncinya hanya di literasi karena sumber pengetahuannya sudah melimpah ruah. Wallahu’alam.

Saturday, December 19, 2020

MENCETAK AHLI SAHAM DI SEKOLAH

OLEH: TOTO SUHARYA

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata saham? Awalnya mungkin berpikiran seperti saya, “saham adalah semacam permainan seperti judi”. Pemikiran ini saya miliki mungkin 10 tahun yang lalu, ketika tidak begitu mengenal apa itu saham, padahal diajarkan di sekolah pada mata pelajaran ekonomi. Saya ingat, dulu guru ekonomi mengajak murid-murid studi langsung ke Bursa Efek di Jakarta. Dulu, saya termasuk siswa yang tidak pernah ikut kunjungan tersebut. Penyebabnya karena pengetahuan saya tentang saham sangat minim dan akibatnya tidak sedikit pun menaruh perhatian pada saham.  Pada saat itu dipikiran terlintas pula bahwa saham adalah mainan orang-orang berduit dan sangat tidak cocok dengan orang yang hanya punya uang recehan.

Pernah terbersit ingin mengerti apa itu saham, dan apa arti dari deretan angka-angka yang selalu bergerak dan berubah-ubah setiap saat. Namun kesempatan untuk belajar saham tidak pernah terjadi karena sedikit sekali orang yang mengerti. Saya membutuhkan orang yang bisa mengajarkan saham dengan mudah dan bisa langsung dimengerti oleh akal sederhana.

Keinginan itu terjadi secara tidak sengaja. Pada bulan Maret 2020 serangan wabah virus Corona terjadi sangat cepat. Sekolah tiba-tiba dibubarkan, dan pembelajaran harus dilakukan melalui jarak jauh karena tidak boleh ada kerumunan. Penyakit virus Corona menyebar jika ada kerumunan. Guru-guru dan siswa harus bergantung pada internet dan teknologi informasi. Setiap hari guru dan siswa duduk di meja menggunakan smart phone atau laptop melakukan pembelajaran daring dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam guru masih melayani siswa belajar.

Suatu hari saya melihat berita di media sosial, para karyawan menangis masal karena perusahan tempat bekerja terpaksa melakukan PHK, akibat dari larangan pemerintah berbelanja guna menghindari kerumunan. Di satu sisi saya menyaksikan orang bekerja dari rumah, tanpa ke mana-mana dengan penghasilan 32 juta per bulan. Ada Corona tidak ada Corona bagi orang ini tidak ada masalah, karena mereka bekerja menggunakan teknologi informasi dari jarak jauh dan tetap tinggal di rumah.

Saya melihat ketika pandemi Corona terjadi, orang-orang yang sudah kerja puluhan tahun sangat terpukul karena terancam tak berpenghasilan. Tabungan kosong, investasi tidak punya. Lalu saya berpikir, apa yang harus diajarkan di sekolah agar murid-murid dibekali kemampuan untuk mengelola aset agar hidupnya bisa tetap sejahtera dan lebih sejahtera sekalipun situasi bencana. Hampir 70% lulusan SMA tidak bisa melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Lalu mereka terjun ke dunia kerja, padahal mereka dipersiapkan untuk melanjutkan kuliah.

Lulusan SMA terjun ke dunia kerja hanya menghasilkan uang cukup makan dan minum. Paling bagus bisa kredit motor dan nilai aset terus berkurang seiring usia motor tersebut bertambah. Berpuluh-puluh tahun kerja tidak pernah menambah sejahtera, karena tidak ada investasi untuk masa depan. Dari situ saya berpikir untuk mencari tahu tentang saham. Melalui media sosial, saya menelusuri tentang cara berinvestasi di saham. Informasinya sangat banyak tersedia.

Saya menemukan penjelasan dari beberapa investor yang menawarkan investasi saham dengan uang receh. Ternyata saham di era digital sudah tidak seperti dulu. Saham kini sudah bisa diakses dari gadget dengan aplikasi. Uang yang dibutuhkan untuk investasi pun hanya butuh puluhan ribu saja. Saham yang tadinya hanya bisa dibeli kalangan berduit, kini bisa dimiliki oleh rakyat dengan penghasilan kecil dan pas-pasan.

Saya mencari aplikasi dan mempelajari cara mengoperasikannya di media sosial. Dua hari dua malam saya tekun mempelajari dan berhasil mendaftar menjadi investor saham pada sebuah aplikasi tanpa harus mendatangi kantor broker saham. Semua pendaftaran langsung dari rumah melalui gadget. Pertama kali membeli saham dengan modal 500 ribu, membeli saham bank milik pemerintah daerah Jawa Barat dan perusahaan telekomunikasi terbesar milik negara. Saya merasakan sensasi bahagia, percaya diri, ketika sudah memiliki beberapa lot saham dalam portofolio di aplikasi. Saya naikan investasi sampai lima juta. Niat saya menabung, tetapi ketika melihat keuntungan jutaan saya mencoba menjualnya kembali dan merasakaan sensasi untung jutaan dari saham.

Semangat untuk belajar dan nabung saham semakin tinggi, ketika mendapat penjelasan dari kuliah master saham Indonesia, mengabarkan bahwa saham adalah investasi aman. Saham adalah investasi jangka panjang yang menjanjikan kapital berlipat dan penghasilan passive income. Beliau sangat menyayangkan tidak banyak orang Indonesia yang tertarik investasi di saham. Kata dia, “harta karun bukan ada di laut dan gunung, tetapi di bursa saham”, Kekayaaan alam kita yang kaya tidak akan bisa dieksplorasi tanpa modal. Jadi dengan mengajarkan investasi saham pada dasarnya kita sedang berusaha memberi peluang kepada negara untuk mengolah harta karun yang kita miliki di laut dan gunung. Jika penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta memilih nabung di saham dapat dibayangkan puluhan ribu triliun dapat dikumpulkan untuk mengelola harta karun kekayaan alam kita untuk kesejahteraan rakyat.

Berinvestasi saham bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi ada efek untuk kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat. Dengan berinvestasi saham di bank-bank milik pemerintah, kita sedang membantu ekonomi kecil menengah yang mendapat pinjaman dari bank-bank pemerintah. Atas dasar inilah investasi, menabung saham, menjadi hal penting untuk diajarkan di sekolah agar lebih banyak orang Indonesia mengenal dan memahami manfaat berinvestasi saham bukan saja untuk dirinya tetapi untuk kepentingan negara. Saya bertekad mencetak analis-analis saham sejak di sekolah agar kelak mereka menjadi pelaku investasi sekaligus penunjang kekuatan ekonomi negara. Wallahu’alam.

Wednesday, July 22, 2020

MENGELABORASI KREATIVITAS SISWA

OLEH: TOTO SUHARYA

Kreativitas adalah apa yang kita lakukan. Tanpa ada bukti yang kita lakukan tidak mungkin kreativitas dapat diukur. Sekolah kreatif menampilkan banyak kreativitas yang dimiliki anak-anak dalam berbagai karya. Perencanaan program harus berdasar pada target-target sampai pada hasil karya nyata yang bisa dilihat dan dinikmati.

Media sosial bisa jadi alat untuk publikasi hasil karya siswa. Dunia internet harus dielaborasi untuk mengembangkan berbagai bakat dan minat yang dimiliki anak-anak. Bakat seni menjadi kompetensi anak-anak yang harus dioptimalkan untuk membangun motivasi dan kepercayaan anak-anak menampilkan kreativitasnya di muka publik. Melalui seleksi bakat seni yang diadakan di sekolah, kemampuan terbaik anak-anak dalam bidang seni musik modern, tradisional, akustik, kacapi suling dan vocal dituntut untuk tampil secara periodik dan menjadi bintang untuk tampil di chanel media sosial.

Stand up comedi, ceramah keagamaan, podcase, dance, tari tradisional,  bisa jadi objek kompetensi berikutnya yang bisa dikembangkan dari para siswa. Kompetensi mereka bisa ditampilkan tanpa harus dengan kegiatan pertunjukkan dalam skala besar. Mereka bisa tampil dan publish kemampuan mereka secara periodik di media sosial. Cerita-cerita rakyat yang dikemas dalam bentuk film, animasi, mendorong mereka untuk merekam kearifan-kearifan lokal yang dimiliki masyarakat dan mendekatkan mereka dengan budayanya. 

Kegiatan sosial yang dapat menginspirasi masyarakat bisa dikemas dalam berbagai kegiatan OSIS. Kegiatan-kegiatan OSIS dan ektrakurikuler harus dikemas dalam kegiatan sosial agar menginspirasi dan berdampak pada lingkungan dan masyarakat. Kegiatan bedah rumah, kerja bakti, gerakan peduli sampah, peduli sungai, harus terus dikerjakan dalam berbagai program kegiatan dan berbagai tema disesuaikan dengan hari-hari besar nasional.

 Jurnalistik adalah kompetensi anak-anak yang bisa dikembangkan di sekolah. Pembaca berita, penulis berita, buku, bisa dikembangkan dengan membuat chanel tv sekolah dan penerbitan yang di support dan difasilitasi oleh sekolah. Anak-anak dilatih dan dididik menjadi awak media, penulis cerita, yang bisa memberitakan berbagai macam kejadian unik yang ada di masyarakat. Kemiskinan, gelandangan, penyimpangan sosial, pelanggaran ketertiban di jalan, dan di masyarakat dapat menjadi objek berita hangat, menarik dan inspiratif.

Video vlog kehidupan pribadi anak-anak dari kelas bawah sampai kelas atas dapat dikemas jadi konten-konten yang bisa ditonton oleh publik. Kehidupan pribadi yang ekstrim dari anak-anak mandiri, yang harus mencari nafkah dan membantu kehidupan keluarga dapat jadi konten menarik dan menginspirasi untuk mendidik kemandirian.Anak-anak yang punya kegiatan bisnis, dapat mengembangkan kemampuannya dengan mengebangkan bisnis berbasis internet. Menjadi reseller barang-barang dan makanan milik UMKM bisa dikembangkan dengan membuat komunitas bisnis berbasis internet di sekolah.

Kegiatan-kegiatan akademik yang menginspirasi dapat jadi saluran chanel pendidikan yang mengelaborasi setiap kegiatan anak-anak beserta guru. Kegiatan penelitian, percobaan, dapat jadi konten untuk publik dan sumber permbelajaran. Setiap pembelajaran dituntut untuk melahirkan karya.     

Tujuan dari program ini adalah the courage to create sebagai ciri dari sekolah kreatif. Semua karya diawali dari keberanian untuk melakukan. Sekolah harus merencanakan program dan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan anak-anak. Ruang seni tradisional, studio musik, studio rekaman, ruang tata boga, dll. harus disediakan oleh sekolah untuk memotivasi siswa agar mereka memiliki spirit of creativity. Ruangan didesain professional dengan bantuan ahli tata desain interior agar ruangan menampakkan ruangan sesungguhnya sebagaimana layaknya di dunia profesional.

Ide-ide kreatif digali melalui brain storming dikembangkan melibatkan siswa dan guru. Buku-buku inspiratif tokoh-tokoh besar dari berbagai bidang harus disediakan oleh sekolah. Tokoh-tokoh sukses dalam berbagai bidang harus dihadirkan di sekolah untuk menambah wawasan dan memotivasi anak-anak secara langsung untuk mengembangkan bakatnya.  

Berbagai kegiatan ditampilkan di dunia maya sambil memperkenalkan dunia internet sebagai dunia nyata yang dihadapi oleh anak-anak milenial. Anak-anak harus memiliki kesadaran bahwa dunia internet bukan hanya sekedar dunia bermain tetapi sebagai dunia untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya sejak dini.  Dengan demikian sekolah akan jadi tempat bagi setiap anak untuk berpikir kreatif dalam mengembangkan kompetensinya sebagai bekal mereka untuk menghadapi kenyataan hidupnya di abad informasi. Sekolah akan menjadi tempat lahirnya karya-karya positif dan mewarnai berbagai bentuk informasi positif di dunia maya. Melalui program-program seperti ini di sekolah, siswa akan bergerak menjadi manusia-manusia berpikir positif atas dasar kepercayaan diri, kesadaran sendiri dan kemandirian.  Wallahu’alam. 

Tuesday, August 20, 2019

BELAJAR SUKSES DARI ORANG MISKIN

OLEH: TOTO SUHARYA

Kisah sukses ini penulis tuturkan dari kenyataan di sebuah sekolah pedesaan. Kisah sukses dari orang-orang yang tidak memiliki harta kekayaan tetapi kaya di mata Allah. Tidak memiliki kedudukan tetapi tinggi di mata Allah.

Kesuksesan ternyata bukan hanya milik orang-orang yang terlihat kaya harta. Kita sudah cenderung melihat kesuksesan dari ukuran material. Kesuksesan dasarnya bukan berapa material yang dikumpulkan atau tingginya kedudukan. Kesuksesan adalah kemampuan manusia untuk taat pada aturan yang telah ditetapkan Allah. Siapapun manusianya, dari golongan manapun, dan pangkat apapun, dapat dikategorikan sukses jika mampu hidup sesuai aturan Allah.

Rata-rata kita belajar sukses, melihat dari akumulasi material atau kedudukan. Kita pada umumnya memandang sebelah mata orang-orang miskin yang tidak memiliki harta kekayaan. Kita memandang orang yang tidak punya kekayaan adalah gagal, dan tidak patut jadi teladan hidup sukses.

Suatu hari pihak sekolah memanggil para orang tua yang masih nunggak iuran sekolah. Ternyata tidak semua anak diasuh oleh kedua orang tuanya. Sering ditemukan anak-anak tinggal dan diasuh oleh seorang nenek. Orang tuanya bercerai, anak dari hasil pernikahannya terlantar dan diasuh oleh neneknya, dan tanpa santuan biaya hidup atau pendidikan dari kedua orang tuanya.

KEKAYAAN ORANG MISKIN ADALAH KETIKA MEREKA MAMPU MENJAGA HARGA DIRINYA DIHADAPAN TUHAN  (MUHAMMAD PLATO)
Saat itu, hadirlah seorang nenek tua renta. Beliau berkata kepada pihak sekolah bahwa dirinya hidup di sebuah gubuk, yang didirikan di tanah milik orang lain yang berbelas kasihan pada dirinya. Dia bekerja sebagai penjual makanan keliling. Setiap hari keliling kampung berjualan untuk menghidupi dirinya dan membiayai cucunya sekolah.

Melihat penjelasan nenek tentang kondisi kehidupan yang dinilai sangat kekurangan, dan kondisi fisiknya yang sudah tua renta dan sangat memilukan hati, pihak sekolah langsung memberikan keputusan untuk membebaskan secara total biaya pendidikan untuk cucu nenek tersebut. Menurut ukuran pihak sekolah, nenek tersebut sudah pantas dan berhak mendapat pembebasan biaya pendidikan.

Namun tidak disangka, nenek tersebut menolak untuk dibebaskan biaya pendidikan untuk cucunya. Beliau beralasan selama dirinya masih bisa berkeliling untuk berjualan, beliau akan berusaha membayar iuran biaya pendidikan dengan mencicil setiap bulan. Hanya dia minta keringanan tidak membayar 100 persen tetapi hanya 50 persen dari biaya pendidikan. Pihak sekolah kembali memaksa bahwa nenek tidak perlu membayar iuran sekolah karena sudah pantas dan berhak untuk dibebaskan. Nenek itu tetap tidak mau dan bertekad untuk tetap membayar iuran bulanan pendidikan.

Dia beralasan, dirinya ingin membaktikan sisa hidupnya untuk berbuat baik dengan membiayai sekolah cucunya sebagai bekal pahala di akhirat. Tidak ada keluh kesah bagi dirinya untuk terus berjualan keliling demi cita-cita pendidikan cucunya. Beliau mengatakan, jika dirinya sudah terkapar di tempat tidur dan tidak berdaya lagi berjualan, silahkan pihak sekolah untuk membebaskan biaya pendidikan cucunya. Sambil mengeluarkan sejumlah uang yang sudah kumal, beliau menyerahkan sejumlah uang hasil jualan keliling kepada pihak sekolah sebagai uang cicilan iuran sekolah untuk dua bulan.

Keyakinannya pada kehidupan akhirat mendorong nenek itu untuk tetap memposisikan dirinya sebagai orang mampu. Usia, tubuh yang renta, dan gubuk reotnya tidak dijual untuk mendapat belas kasihan manusia. Dia menjaga harga dirinya dihadapan Allah, dan bercita-cita hidup bahagia diakhirat. Kebahagian di akhirat menjadi tujuan hidupnya dan memuliakan kedudukannya di dunia.

Inilah sepenggal kisah pelajaran dari sekolah miskin di pedesaan yang mayoritas anak-anaknya berlatar belakang ekonomi lemah. Sekolah kami jarang sekali mendapat juara. Tetapi ternyata Allah menghadirkan orang-orang sukses dengan kekayaan akhlak mulia dari kefakiran harta dunia. Nabi Muhammad saw mengatakan kelak surga akan dipenuhi oleh orang-orang miskin. Beliau juga digelari bapak dari orang-orang miskin.  Mungkin nenek tua renta inilah, yang kelak akan menempati surga bersama Rasulullah saw. Wallahu ‘alam.

(Head master Trainer)

Saturday, August 10, 2019

PENDIDIKAN ALA KIYOSAKI

OLEH: TOTO SUHARYA

Uang adalah gagasan, dan uang tidak akan membuat orang jadi kaya. (Robert Kiyosaki). Gagasan adalah pengetahuan, maka Tuhan memerintahkan membaca. Gagasan-gagasanlah yang akan membuat kita kaya.

Hal penting yang harus diperhatikan untuk jadi orang kaya adalah melek finansial. Bankir tidak akan pernah bertanya nila raport, tetapi akan bertanya bagaimana kecerdasan finansial anda. Masalahnya adalah 99% anak-anak lulusan sekolah tidak mengerti laporan keuangan. Sekolah tidak melatih anak-anak menjadi pebisnis tetapi untuk jadi pekerja.

Orang miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran lebih besar dari pemasukkan. Orang kaya tidak dilihat dari kepemilikan rumah, mobil, perusahaan,  dan tanah, orang kaya adalah mereka yang punya pengeluaran tidak melebihi pemasukkan. Cara untuk melihat orang itu kaya, bisa dilihat ketika ia berhenti bekerja. Jika berhenti bekerja pemasukkan tetap ada, itulah dia orang kaya. Definisi kekayaan adalah berapa lama anda bisa bertahan tanpa bekerja. Daya tahan ini diukur dalam hitungan hari, minggu, bulan dan tahun.

Orang miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran lebih besar dari pemasukkan. (Kiyosaki)
Arus kas menentukan perusahaan atau seseorang menjadi kaya. Di sekolah kita bukan diajari untuk mengurus bisnis sendiri, tetapi mengurus bisnis orang lain. Orang kaya tidak tergantung pada berapa pemasukkan tetapi berapa yang bisa disimpan. Jika pemasukkannya 5000 tetapi bisa menyimpan 2500 maka dia orang kaya. Seaklipun pendapatannya 100 juta tapi pengeluaran 120 juta maka dia termasuk orang miskin.

Ajari anak-anak untuk memahami akuntansi keuangan. Uang jajan anak-anak, jika setiap hari disimpan 50 persen, kita sedang mengajari mereka menjadi orang kaya. Untuk melatih menjadi kaya kita butuh tiga celengan. Satu celengan untuk tabungan, investasi, dan sedekah. Berapa yang bisa dimasukkan ke celengan adalah tiap hari, bukan tiap bulan tapi tiap hari. Harus dilakukan tiap hari karena ini adalah latihan disiplin untuk menjadi orang kaya. Orang kelas menengah akan mencari alasan untuk memecah celengan dan membelanjakannya untuk membeli barang kesukaan.

Menyimpan uang dalam tiga celengan, lebih penting dari makanan, lebih penting dari pakaian, lebih penting dari kendaraan. Menyimpan uang dalam celengan ini harus terus dipertahanakan sekuat tenaga tiap hari. Jika sudah terbiasa melakukannya dengan jumlah kecil 10 ribu rupiah, naikkan menjadi 50 ribu rupiah. Jika sudah biasa 50 ribu, naikkan lagi menjadi 100 ribu rupiah, kemudian naikkan ke 1 juta. Bukan masalah rupiahnya tetapi masalah kebiasaannya.

Untuk menggunakan tabungan dalam deal investasi, anda harus melakukan analisis dengan rasio 100:1. Melakukan investasi tanpa melakukan analisis, adalah kebodohan para investor. Jangan takut gagal. “Kegagalan adalah bagian dari kesuksesan, orang-orang yang menghindari kegagalan mereka menghindari kesuksesan.” (Robert Kiyosaki). Kita harus mengajari anak-anak kita mencoba dan merasakan kegagalan. Jadilah orang gagal lebih awal dan gagallah dengan bertanggung jawab. Jika anda tahu akan gagal maka lakukan sekarang jangan menunggu. Ketika orang menghindari kegagalan, kita harus berharap gagal, karena dengan kegagalan kita bisa lebih cerdas.

Guru-guru kaya akan mengatakan bagaiman cara kita mendapatkan, bagaimana cara meraih kesuksesan? Bagaimana cara membelinya, bagaimana cara kita mendapatkannya. Jika kita mengatakan hal yang negatif, atau membatasi, maka pikiran kita akan tertutup. Kemiskinan itu diajarkan dan diturunkan dalam lingkungan keluarga. (Kiyosaki).

Anak-anak harus didorong mau belajar. Jika anak-anak tidak mau belajar, maka guru-guru tidak bisa mengajarinya untuk gagal. Mereka yang hidup miskin, penyebabnya mereka tidak pernah gagal. Orang miskin itu tamak. Untuk menjadi kaya kita harus memberi sesuatu. Orang tamak tidak menghasilkan, dan dan memberikan sesuatu, maka dialah orang miskin. Kata Einstein, “imaginasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan”. Tapi pengetahuan memberi kuasa pada imajinasi”. Untuk itu anak-anak harus belajar gagal untuk dapat pengetahuan.

Sebagai seorang guru tidak boleh megatakan sesuatu yang dapat mengecewakan anak. Di sekolah, anak diberi hukuman jika melakukan kegagalan, itulah kesalahan guru, akibatnya jadi alasan bagi setiap orang untuk takut gagal.

“kehabisan dan kekurangan uang adalah sumber dari segala kejahatan. Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan”. Kedua filosofi itu benar, tetapi faktanya hidup manusia membutuhkan uang, jadi yang pertama yang harus diselesaikan adalah masalah kekurangan uang, bukan masalah cinta uang. Jika sudah memiliki banyak uang, maka filosofinya adalah cinta uang dapat menjadi malapetaka dari segala kejahatan. Wallahu ‘alam.

(Head Master Trainer Logika Tuhan)

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...