Sunday, July 5, 2026

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akbar IKA Pendidikan Sejarah UPI Bandung, di Rumah Tahfiz PCI Pangalengan Kabupaten Bandung, 4-5 Juli 2026. Sejarah masa depan sebuah konsep absurd butuh diskusi mendalam untuk bisa memahaminya. 

Konsep sejarah masa depan relevan dengan jiwa zaman. Selama ini, sejarah selalu identik dengan masa lalu, tetapi hakikat masa lalu sebenarnya identik dengan apa yang terjadi di masa depan. Dalam segala hal apa yang terjadi di muka bumi mengikuti hukum kausalitas yang telah ditetapkan Allah. 

Dasar adanya hukum kausalitas di alam dijelaskan dalam Al Quran. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al hadiid, 57:3).

Jadi, hukum kausalitas yang ditetapkan Allah berlaku dalam kehidupan nyata dan ghaib. Hukum kausalitas menjadi dasar bagi manusia untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di alam nyata dan gaib. Al Quran menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di duna nyata dan gaib. 

Kausalitas atau hukum sebab akibat menjadi dasar pola berpikir dalam membaca, meneliti, mendalami, berbagai fenomeda alam. Sebab-sebab kejadian yang dipahami manusia di alam menjadi kenyataan, dan sebab-sebab yang tidak pahami manusia menjadi misteri (gaib) dan kembali ke pemilik alam. Sebelum sebab-sebab kejadian diketahui secara nyata, untuk sementara dikembalikan kepada Tuhan pemilik alam. 

logika Tuhan mengajarkan sejarah untuk hidup lebih baik di masa depan

Memahami sejarah tidak lepas dari hukum sebab akibat. Apa yang dipahami para sejarawan selalu berlandaskan pada data dan fakta. Data dan fakta menjadi sebab para sejarawan bisa berbicara. Dalam hukum sebab akibat, tidak berlaku ada akibat tanap sebab. 

Maka, dalam konteks perjalanan waktu, masa lalu merupakan segala sebab yang akan terjadi di masa depan. Jika Prof. Dadan Wildan mengajak para ahli pendidikan sejarah bertansformasi mengajarkan sejarah masa depan, artinya mengajak pengajaran sejarah untuk mengedepankan tendensi ke masa depan dari pada masa lalu.  

Masa lalu digunakan oleh guru sejarah sebagai pijakan untuk melakukan interpretasi dan imajinasi peristiwa-peristiwa yang baik terjadi di masa lalu bisa terjadi di masa sekarang. Pendekatan sejarah saat ini, bukan sebatas menggali semua hal yang terjadi di masa lalu, tetapi menggali hal-hal baik yang bisa dirancang kembali terjadi di masa sekarang.

Sudah saatnya, kampus merancang sistem pendidikan sejarah sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang dan sesuai dengan kondisi zaman. Narasi sejarah masa depan, bisa jadi fokus kajian pendidikan sejarah. Pendidikan sejarah jika ingin tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarkat, harus berani melakukan perubahan yang mengandung kebaruan sesuai kebutuhan dan jiwa zaman. 

Sejarah masa depan tidak berarti meninggalkan esensi pengajaran sejarah. Pada pengajaran sejarah masa depan, masa lalu menjadi pijakan dalam mendesain masa depan. Pada pengajaran sejarah murid diajak berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, untuk melahirkan rancangan kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Merancang kehidupan yang baik di masa depan bagian dari pola berpikir yang diajarkan Allah dalam Al Quran. Dalam kehidupan manusia di dunia, semua perbuatan manusia akan dihitung berdasarkan catatan perbuatan dan bukti-bukti. Keterangan ini sangat berkaitan dengan sejarah.

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin, 36:12). 

Esensi pengajaran sejarah bukan sebatas fakta-fakta di masa lalu, tapi sebagai bahan pelajaran untuk merancang kehidupan lebih baik di masa depan. Sejarah sebagai bahan pengajaran berkaitan dengan fungsi guru secara operasional dijelaskan dalam Al Qura'an, yaitu fungsi pemberi peringatan (nadziru), dan kabar gembira (basyiirun). 

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al 'Araaf, 7:188).

Guru sejarah sebagai pemberi peringatan artinya mereka mengajarkan fakta-fakta sejarah untuk mempredikasi apa yang akan terjadi di masa depan. Dari pelajaran sejarah, guru bisa memperingatkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi jika peristiwa buruk terulang kembali. Guru sejarah bisa memberi motivasi dengan mengabarkan hal-hal baik akan terjadi jika sebuah peristiwa baik terjadi. 

Sejarah masa depan, mengajarkan pada murid-murid tentang hukum sebab akibat (sunatullah) yang pasti. Perilaku buruk akan menghasilkan hal buruk dan prilaku baik akan menghasilkan hal baik. Penelitian sejarah dilakukan untuk membuktikan bahwa hukum sebab akibat selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. 

Sejarah masa depan, memiliki tujuan memandu murid-murid menuju pada tahapan dan tatanan kehidupan sejarah manusia sesuai hukum untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia secara berkelanjutan. Sejarah masa depan memberi pedoman pada murid-murid merancang masa depan damai dan sejahtera. 

Kesimpulannya, sejarah masa depan sangat relevan untuk menjadi paradigma berpikir dalam pengajaran sejarah dan menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum pendidikan sejarah kekinian. Prof. Dadan Wildan sudah menggulirkan dan saatnya kita punya kemandirian dalam berpikir untuk kepentingan bangsa kita sendiri. 

Untuk kemandirian beprikir, kita tidak perlu validasi dari bangsa luar. Validasi kebenaran berpikir sesungguhnya adalah ketika pemikiran tersebut bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara, dan relevan dengan situasi dan kondisi zaman.***  


SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akb...