Saturday, August 29, 2026

MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk. Singapura, baru-baru ini mengeluarkan insentif pantastis bagi anak-anak yang lahir. Kebijakan ini dapat dipahami akal sehat, karena penuruan jumlah populasi mengancam eksistensi negara. 

Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Finlandia, Swedia, termasuk negara-negara dengan kepemilikan kapital besar. Penghasilan mereka rata-rata per bulan cukup tinggi dibanding dengan Indonesia. Negara-negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi cenderung dengan biaya hidup tinggi. 

Ketika berkunjung ke Taiwan, anak muda Taiwan rata-rata menanunda perkawinan, karena perkawinan memiliki syarat punya penghasilan tinggi. Sebelum menikah mereka harus punya penghasilan cukup untuk menyediakan rumah, kendaraan, dan biaya hidup dan fasilitas pendidikan anak. Jika masih punya orang tua, mereka harus punya dana untuk menggaji perawat bagi orang tua. 

Hitung-hitungan matematika mereka tidak pernah cukup bagi mereka untuk memutuskan menikah. Selain itu biaya pernikahan di negara-negara maju cukup tinggi, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, biaya menikah ada di rentang 195 Juta sampai dengan 1,34 Miliar.

Di dalam sistem ideologi negara-negara maju, faktor penghambat perkawainan paling dominan adalah biaya perkawainan dan setelah perkawinan. Di negara-negara maju ada juga fenomena, setelah menikah berkomitmen tidak memiliki anak. 

Pemerintah Singapura, mengeluarkan kebijakan luar biasa untuk mendorong warganya punya anak. Mereka mengeluarkan insentif bagi setiap anak Singapura, kurang lebih 975 juta per anak. Insentif ini bukan pamer kekayaan dan kesejahteraan Singapura, tetapi sebuah kebijakan dari rasa khawatir dengan kedaulatan Singapura.

Di dalam Al Quran, syarat untuk orang yang harus segera menikah adalah telah memiliki kemampuan. Salah satu kemampuan itu dapat diukur dari punya penghasilan, untuk membiayai kehidupan keluarga. Tetapi Allah memberi keyakinan kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan, ketika secara perhitungan penghasilan tidak cukup membiaya, Allah memberi jaminan akan mencukupinya. 

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur, 34;32)."

Konsep "solihin" dimaknai sebagai kelayakan atau kemampuan untuk menikah. Maka salah satu ukuran sesorang dapat menikah dapat dilihat dari kemampuan finansial. Kemampuan finansial ini penting karena seluruh kenbutuhan hidup di era sekarang berkaitan erat dengan uang.  

Selanjutnya ada konsep "fuqoro" dalam hal ini diartikan miskin. Namun secara spesifik kata fuqoro lebih berkaitan dengan masalah keuangan, yaitu orang-orang yang bekerja tetapi tidak menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebtuhan hidup. Dalam kondisi fuqoro, Allah memberi semangat, memotivasi hambanya, agar berkeyakinan pada Allah, bahwa Allah akan memberikan kecukupan. 

Orang sekuler mereka yakin pada kemampuan dirinya, maka ketika dirinya tidak mampu dia tidak akan mengambil keputusan yang membuat dirinya susah. Itulah cara berpikir orang sekuler dan itulah jawaban mengapa orang sekuler di negara-negara maju banyak yang tidak mau menikah.

Pesan dari Al Quran, menikah bukan kemampuan keuangan saja yang harus mutlak diperhitungkan, tetapi harus punya keyakinan pada Tuhan. Jadi penyebab negara-negara sekuler dan kapitalis mengalami depopulasi penduduk bukan masalah keuangan, tapi masalah keyakinan pada Tuhan. Sebagaimana dikutif dari berbagai sumber, negara-negara sekuler dan kapitalis warga negaranya mengalami krisis keyakinan pada Tuhan. Tingkat kepercayaan mereka kepada Tuhan rata-rata sangat rendah. 

Berdasarkan psikologi kognitif, keyakinan kepada Tuhan adalah pola pikir pembentuk mentalitas seseorang. Pengetahuan Al Quran bukan hanya mengandung ilmu, tetapi berbarengan dengan keyakinan. Riset kesehatan banyak mengabarkan bahwa orang-orang yang berkeyakinan pada Tuhan, lebih berani dan bisa lebih lama bertahan hidup dibanding yang tidak punya keyakinan pada Tuhan.

Negara-negara yang menganut pemikiran sekuler dan kapitalis, tidak melahirkan manusia-manusia kuat. Secara fisik mereka punya kekuatan teknologi dan finansial, tetapi jiwa mereka rapuh. Mereka menjadi penakut karena segala sesuatu cenderung dihitung secara materi, dan keyakinan kepada Tuhan tidak jadi landasan dalam ideologi kehidupan mereka. 

Singapura jika ingin mengembalikan jumlah penduduknya dalam kondisi ideal, bukan hanya insentif uang untuk setiap anak yang lahir, tapi mengajak warga negara punya keyakinan pada Tuhan. Kata Allah dalam Al Qur'an, "jangan takut miskin karena menikah dan punya anak, karena kelak Allah akan mencukupinya". 

Keyakinan hidup itu penting karena setiap orang hidup dengan keyakinannya. Dalam kondisi apapun, manusia akan tetap lemah dan kekuatan ada di luar manusia yaitu Tuhan. Namun demikian, Tuhan dalam konsep Islam posisinya dekat dengan setiap jiwa manusia, dia tidak terlihat dan selalu menjadi penyemangat jika kita mempercayainya. Otak kita sudah dirancang untuk mengenal Tuhan, hanya karena merasa kuat, banyak manusia mengabaikan keberadaan Tuhan.*** 


Sunday, August 9, 2026

KENAPA NABI MUHAMMAD MINTA AMPUN 100 KALI?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Dibakabarkan dalam hadis, Nabi Muhammad beristigfar tiap hari tidak kurang dari 100 kali. Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: "Kami pernah menghitung dzikir Rasulullah SAW dalam satu majelis sebanyak 100 kali: Rabbighfir lii watub 'alayya, innaka antat tawwaabur rahiim".

Pertanyaannya mengapa Nabi Muhammad beristigfar tidak kurang 100 kali dalam sehari? Jawaban logisnya bisa dipahami jika kita belajar pola logika di dalam Al Quran. Harus diingat bahwa Nabi Muhammad selama hidupnya dipandu oleh Al Quran, dan apa yang dikeluarkan dari mulut Nabi Muhammad tidak pernah bertentangan dengan Al Quran. 

Jadi mengapa Nabi Muhammad beristgifar tidak kurang 100 kali dalam sehari? Inilah jawabannya, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Ali Imran, 5:9).

Ampuran dari Allah adalah pintu bagi manusia untuk mendapatkan pahala besar. Pahala besar dari Allah adalah surga. Maka memohon ampun kepada Allah sesungguhnya kunci dari pintu masuk surga. Logis kalau begitu jika Nabi Muhammad melakukannya tidak kurang dari 100 kali tiap hari. Tidak ada pahala besar tanpa ampunan dari Allah. 

Alasan kedua, mengapa Nabi Muhammad beristigfar 100 kali tiap hari? Pada hakikatnya Nabi Muhammad adalah manusia biasa. Setiap manusia diciptakan Allah dari dua sifat yaitu baik dan buruk. "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (Asy Syams, 91:8).

Nabi Muhammad yang rendah hati, ingin mengajarkan kepada umat manusia, bahwa baik dan buruk manusia hanya Allah yang menilai, maka perbanyak mohon ampun adalah solusi agar manusia dinilai baik oleh Allah, dan berhak mendapat pahala besar dari Allah.

Alasan ketiga, mengapa Nabi Muhammad memohon ampun tidak kurang dari 100 kali? Di balik ampunan Allah tersimpan kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. "maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh, 71:10-12).

Surat Nuh menjadi alasan logis kenapa Nabi Muhammad banyak memohon ampun. Ampunan adalah penyebab rezeki yang banyak dalam bentuk harta, anak, pertanian, perusahaan, dan itu ketentuan Allah. Maka manusia mana yang tidak semangat minta ampun jika Allah menyediakan rezeki melimpah bagi orang-orang yang diampuni. 

Ayat-ayat Al Quran menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad melakukan sesuatu bukan tanpa dasar, dan segala sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad argumennya ada di dalam Al Quran. Sebagai umat manusia yang mau hidup sejahtera, kita tidak sebatas ikut-ikutan dalam beragama tapi memahami sebab akibat yang akan terjadi berdasar pada Al Quran. Nabi Muhammad adalah teladannya.***

Thursday, August 6, 2026

POLA SEJARAH DUNIA KEMBALI DARI AWAL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Pola sejarah dunia mengikuti pola sejarah Nabi Muhammad. Sejarah otentik kehidupan manusia ditetapkan Tuhan melalui kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. Jika kita ingin belajar sejarah, kita harus mengikuti pola sejarah hidup Nabi Muhammad yang dijelaskan di dalam Al Quran. 

Pola hidup sejarah dunia dijelaskan pada saat kenabian Nabi Muhammad di kota Mekah. Kondisi kehidupan masyarakat Mekah menjadi baromater perubahan sejarah dunia. Sebelum Nabi Muhammad diutus kondisi Mekah merupakan tempat makmur karena pusat ziarah. Mekah menjadi jalur perdagangan internasional antara Yaman dan Syam. 

Sistem ekonomi dikuasasi oleh bangsawan kaya, mengeksploitasi kaum lemah, melalui praktek riba yang sangat tinggi. Kondisi masyarakat sangat fanatis dengan kesukuan. Masalah sepele bisa menjadi perang antar suku yang bisa berlangsung puluhan tahun. 

Kabah berisi 360 berhala sebagai sesembahan. Ajaran tauhid Nabi Ibrahim telah ditingalkan oleh penduduk Mekah. Rasa persaudaraan hilang karena sikap kesukuan. Sikap persaudaraan didasarkan pada fanatisme kesukuan bukan atas dasar kemanusiaan, keadilan, dan keimanan. 

Kondisi Mekah saat ini, menunjukkan kondisi pada masa awal sebelum kenabian Nabi Muhammad. Melalui Saudi Vision 2030, umroh tidak lagi sekedar ibadah konvesional tetapi menjadi industri pariwisata modern. Perhotelan bintang lima berdiri megah. Pariwisata umroh dan haji menjadi pilar ekonomi Arab Saudi selain minyak.

Masyarakat Arab Saudi termasuk negara dengan pendapat masyarakat cukup tinggi di atas Jerman. Tingkat kebahagiaan berada di atas Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Kondisi ini menunjukkan bahwa Mekah telah berada kembali pada posisi sebelum kenabian Nabi Muhammad. 

Sejarah dunia sedang berulang dan sedang menuju kiamat. Prediksi Nabi Muhammad telah dikemukakan sejak 14 abad lalu. “Kiamat tidak akan terjadi sampai harta menjadi melimpah... dan sampai bumi Arab kembali menjadi tanah lapang yang penuh tumbuhan (hijau) dan sungai-sungai mengalir.” (HR. Muslim).

Secara etimologi, kata "kiamat" berasal dari bahasa Arab, yaitu qāma – yaqūmu – qiyāman, yang berarti berdiri, bangkit, berhenti, atau berada di tengah. Dalam konteks agama, kata ini diserap menjadi al-qiyāmah yang berarti hari kebangkitan umat manusia dari kematian untuk diadili.

Namun dalam konteks sejarah dunia, kiamat bisa diartikan sebagai hari kebangkitan kesadaran manusia untuk kembali ke jalan hidup seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. Puncak peradaban Arab telah terjadi dan saatnya umat manusia kembali berdiri ke jalan tengah yang diajarkan Nabi Muhammad. 

Kemakmuran telah dicapai oleh bangsa Arab, tetapi Arab tidak kurang peduli pada kemanusiaan. Ketika genosida terjadi pada masyarakat Palestina, bangsa Arab tidak berusaha keras membela atau menghentikannya. Bangsa Arab bersekutu dengan bangsa pelaku genosida, dan tidak berusaha menegakkan keadilan untuk menciptakan perdamaian dan menghentikan penindasan terhadap hak-hak hidup manusia sebagaimana Nabi Muhammad mengajarkannya dalam Al Quran. 

"...Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia..." (Al-Ma'idah, 5: 32).

Bangsa Arab, tidak menyuarakan ayat ini ketika 70 puluh ribu rakyat Palestina digenosida dan menderita karena kehilangan rumah, sekolah, rumah sakit, pasar, dan rumah ibadah. Inilah tanda-tanda kiamat dalam arti saatnya umat manusia memperbaiki nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana Nabi Muhammad diutus. 

Rasa kemanusiaan bangsa Arab telah mengering dalam kemakmuran. Kemakmuran telah menumpulkan keimanan kepada Tuhan dan kepedulian terhadap rasa persaudaran antar umat manusia. Sudah saatnya, manusia melakukan pembaharuan dalam ketauhidan kepada Tuhan. Sifat rahman dan rahim Tuhan, harus menjadi karakter bukan bacaan dalam ritual. 

Kemuliaan seseorang tidak dilihat dari berapa kekayaan yang dimiliki, kehinaan seseorang tidak dilihat dari keburukan yang dialami. Kemuliaan seseorang terlihat dari karakter mereka yang beriman kepada Tuhan ditandai dengan berani membela kemanusian, memberi pertolongan pada orang tertindas, mengajurkan untuk memberi makan pada orang miskin dan anak-anak yatim. 

"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama mereka." (HR. Abu Daud).

Pemikiran, prilaku dan pakaian bangsa Arab bukan cerminan dari ajaran agama yang diajarkan Nabi Muhammad. Cerminan agama yang diajarkan Nabi Muhammad adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak baik sesuai ajaran Allah dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Sejarah dunia sedang berulang telah kembali dari awal seperti pada awal Nabi Muhammad menjadi utusan yaitu mengembalikan keimanan manusia kepada Allah dan beriman kepada ayat-ayat Al Quran sebagai petunjuk kebenaran guna mewujudkan kehidupan damai dan kesejahteraan umat manusia dunia dan akhirat.***

Sunday, July 5, 2026

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akbar IKA Pendidikan Sejarah UPI Bandung, di Rumah Tahfiz PCI Pangalengan Kabupaten Bandung, 4-5 Juli 2026. Sejarah masa depan sebuah konsep absurd butuh diskusi mendalam untuk bisa memahaminya. 

Konsep sejarah masa depan relevan dengan jiwa zaman. Selama ini, sejarah selalu identik dengan masa lalu, tetapi hakikat masa lalu sebenarnya identik dengan apa yang terjadi di masa depan. Dalam segala hal apa yang terjadi di muka bumi mengikuti hukum kausalitas yang telah ditetapkan Allah. 

Dasar adanya hukum kausalitas di alam dijelaskan dalam Al Quran. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al hadiid, 57:3).

Jadi, hukum kausalitas yang ditetapkan Allah berlaku dalam kehidupan nyata dan ghaib. Hukum kausalitas menjadi dasar bagi manusia untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di alam nyata dan gaib. Al Quran menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di duna nyata dan gaib. 

Kausalitas atau hukum sebab akibat menjadi dasar pola berpikir dalam membaca, meneliti, mendalami, berbagai fenomeda alam. Sebab-sebab kejadian yang dipahami manusia di alam menjadi kenyataan, dan sebab-sebab yang tidak pahami manusia menjadi misteri (gaib) dan kembali ke pemilik alam. Sebelum sebab-sebab kejadian diketahui secara nyata, untuk sementara dikembalikan kepada Tuhan pemilik alam. 

logika Tuhan mengajarkan sejarah untuk hidup lebih baik di masa depan

Memahami sejarah tidak lepas dari hukum sebab akibat. Apa yang dipahami para sejarawan selalu berlandaskan pada data dan fakta. Data dan fakta menjadi sebab para sejarawan bisa berbicara. Dalam hukum sebab akibat, tidak berlaku ada akibat tanap sebab. 

Maka, dalam konteks perjalanan waktu, masa lalu merupakan segala sebab yang akan terjadi di masa depan. Jika Prof. Dadan Wildan mengajak para ahli pendidikan sejarah bertansformasi mengajarkan sejarah masa depan, artinya mengajak pengajaran sejarah untuk mengedepankan tendensi ke masa depan dari pada masa lalu.  

Masa lalu digunakan oleh guru sejarah sebagai pijakan untuk melakukan interpretasi dan imajinasi peristiwa-peristiwa yang baik terjadi di masa lalu bisa terjadi di masa sekarang. Pendekatan sejarah saat ini, bukan sebatas menggali semua hal yang terjadi di masa lalu, tetapi menggali hal-hal baik yang bisa dirancang kembali terjadi di masa sekarang.

Sudah saatnya, kampus merancang sistem pendidikan sejarah sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang dan sesuai dengan kondisi zaman. Narasi sejarah masa depan, bisa jadi fokus kajian pendidikan sejarah. Pendidikan sejarah jika ingin tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarkat, harus berani melakukan perubahan yang mengandung kebaruan sesuai kebutuhan dan jiwa zaman. 

Sejarah masa depan tidak berarti meninggalkan esensi pengajaran sejarah. Pada pengajaran sejarah masa depan, masa lalu menjadi pijakan dalam mendesain masa depan. Pada pengajaran sejarah murid diajak berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, untuk melahirkan rancangan kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Merancang kehidupan yang baik di masa depan bagian dari pola berpikir yang diajarkan Allah dalam Al Quran. Dalam kehidupan manusia di dunia, semua perbuatan manusia akan dihitung berdasarkan catatan perbuatan dan bukti-bukti. Keterangan ini sangat berkaitan dengan sejarah.

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin, 36:12). 

Esensi pengajaran sejarah bukan sebatas fakta-fakta di masa lalu, tapi sebagai bahan pelajaran untuk merancang kehidupan lebih baik di masa depan. Sejarah sebagai bahan pengajaran berkaitan dengan fungsi guru secara operasional dijelaskan dalam Al Qura'an, yaitu fungsi pemberi peringatan (nadziru), dan kabar gembira (basyiirun). 

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al 'Araaf, 7:188).

Guru sejarah sebagai pemberi peringatan artinya mereka mengajarkan fakta-fakta sejarah untuk mempredikasi apa yang akan terjadi di masa depan. Dari pelajaran sejarah, guru bisa memperingatkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi jika peristiwa buruk terulang kembali. Guru sejarah bisa memberi motivasi dengan mengabarkan hal-hal baik akan terjadi jika sebuah peristiwa baik terjadi. 

Sejarah masa depan, mengajarkan pada murid-murid tentang hukum sebab akibat (sunatullah) yang pasti. Perilaku buruk akan menghasilkan hal buruk dan prilaku baik akan menghasilkan hal baik. Penelitian sejarah dilakukan untuk membuktikan bahwa hukum sebab akibat selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. 

Sejarah masa depan, memiliki tujuan memandu murid-murid menuju pada tahapan dan tatanan kehidupan sejarah manusia sesuai hukum untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia secara berkelanjutan. Sejarah masa depan memberi pedoman pada murid-murid merancang masa depan damai dan sejahtera. 

Kesimpulannya, sejarah masa depan sangat relevan untuk menjadi paradigma berpikir dalam pengajaran sejarah dan menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum pendidikan sejarah kekinian. Prof. Dadan Wildan sudah menggulirkan dan saatnya kita punya kemandirian dalam berpikir untuk kepentingan bangsa kita sendiri. 

Untuk kemandirian beprikir, kita tidak perlu validasi dari bangsa luar. Validasi kebenaran berpikir sesungguhnya adalah ketika pemikiran tersebut bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara, dan relevan dengan situasi dan kondisi zaman.***  


Friday, June 19, 2026

TEMUKAN KEBENARAN PAKAI ILMU

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Temukan kebenaran pakai ilmu bukan nafsu. Hawa nafsu adalah dua potensi yang ada dalam jiwa manusia yaitu benci dan cinta. Idenya bisa ditemukan dalam Al Quran.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (Asy Syaam, 91:7-8).

Dua jiwa ini terkonfirmasi dalam hadis Nabi Muhammd. ""Untuk hati anak Adam itu ada dua bisikan. Bisikan dari malaikat yang menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia tahu bahwa itu dari Allah lalu bersyukurlah. Dan bisikan dari musuh yang menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran serta melarang kebaikan. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." [HR. Ahmad, Tirmidzi].

Sehar-hari kita selalu bergelut dengan dua jiwa dalam diri kita yaitu yaitu benci dan cinta. Setiap hari kita makan berdasarkan apa yang kita suka dan tidak suka. Ketika dihadapkan pada pilihan hidup, keputusan paling mudah yang kita lakukan menggunakan dasar suka dan tidak suka.  

Kenapa murid-murid kita tidak suka makan ikan? Jawabannya karena tidak suka makan ikan. Ketika ditanya kenapa suka makan mie instan? Jawabannya karena suka. Inilah contoh pilihan-pilihan hidup sehari-hari yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan.

Tanpa ilmu pengetahuan kita menjadi buta terhadap kebaikan. Tanpa ilmu kita bisa melakukan hal buruk karena menyukainya. Tanpa ilmu kita menghindari hal baik karena tidak menyukainya. Karena cara berpikir seperti inilah masyarakat kurang berkembang pola pikirnya. 

Untuk itulah Allah peringatkan manusia dalam surat Al Quran. "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah, 2:216).

Informasi ini mengandung pesan universal untuk seluruh umat manusia, bagaimana cara mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Informasi ini mengandung pesan kepada umat manusia untuk selalu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 

Dalam mengambil keputusan jangan hanya menggunakan dasar suka dan tidak suka, senang dan tidak senang, tapi harus gunakan juga kemampuan akal untuk membaca, meneliti, menelaah, memilah, dan mengolah ilmu pengetahuan yang berhasil dikumpulkan untuk sampai pada sebuah keputusan.

Jika menyimak pada informasi Al Quran pada Al Baqarah ayat 216, gambaran ideal dari orang-orang beriman mereka punya kecerdasan intelektual tinggi sehingga mereka mampu mengendalikan emosi yang ada dalam jiwanya menjadi emosi yang terbimbing dan berakhlak mulia menuju jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu'alam.

Sunday, June 14, 2026

SAATNYA BANGSA TIMUR BANGKIT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Allah mengabarkan di dalam Al Quran, setiap bangsa akan diteguhkan kedudukannya dan akan dibinasakan karena dosa-dosa yang mereka lakukan. Pola ini terkonfirmasi dalam sejarah peradaban dunia, telah terjadi jatuh bangun peradaban beribu-ribu tahun. 

"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al Anfaal, 6:6).

Sesuai dengan berita Al Quran, ternyata perdaban manusia jatuh bangun silih berganti. Peradaban Romawi, Persia, Islam, sebelumnya telah mencapai puncak keemasan, dan mengalami kejatuhan. Kini peradaban Barat sedang memimpin, dan mulai terlihat tanda-tanda akan mengalami penurunan. 

Penurunan peradaban tidak disebabkan dari luar tetapi dari dalam peradaban itu sendiri. Di puncak-puncak peradaban selalu terlihat ada hal-hal anomali. Barat sudah ratusan tahun memimpin peradaban, dan kini memperlihatkan telah memperlihatkan prilaku-prilaku anomali sebagai tanda-tanda penurunan peradaban.

Barat adalah negara pengusung demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM). Bertahun-tahun negara-negara menjatuhkan rezim-rezim yang tidak demokratis dan isu HAM digulirkan menjadi alasan sebuah negara diakui dan tidak diakui dalam pentas kehidupan dunia.

Kemudian, kisah Genosida terhadap 72 ribu penduduk Palestina dan pembumihangusan seluruh infrastruktur penduduk Palestina, inilah anomali sebagai tanda keruntuhan peradaban Barat. Tanda berikutnya, telah terjadi perpecahan dikerjasama pertahanan negara-negara Barat. Jargon Barat sebagai penjaga perdamaian, faktanya menjadi bangsa yang getol menciptakan perang.

Kendali negara-negara Barat mulai terkonstrasi pada negara-negara dengan jumlah penduduk besar. Indonesia, India, China, Rusia, berpeluang menjadi pengendali peradaban berikutnya. Para pemimpin di negara ini sedang bekerjasama membangun tatanan peradaban baru yang lebih menghargai kedaulatan setiap negara dan hak asasi manusia.

Melalui dunia pendidikan, narasi-narasi bangsa besar berbasis data dan fakta harus terus dinarasikan guru-guru. Kebesaran sebuah bangsa ada dalam imajinasi warga negara. Dunia pendidikan menjadi sektor paling strategis untuk mengangkat kualitas bangsa menuju bangsa besar. 

Guru-guru bisa diperankan sebagai agen-agen strategis dalam membangun kebesaran bangsa. Di ruang-ruang kelas, guru-guru diwajibkan membahas tentang visi besar bangsa, dan mengungkap data dan fakta pendukung dari berbagai sudut pandang. 

Kehadiran guru-guru inspiratif, kreatif, imajinatif, menjadi kompetensi yang harus dilatih serius pada guru. Sikap pesimis dan skeptis fatalistik menjadi hambatan mental bangsa-bangsa untuk berkembang jadi bangsa maju.

Peran guru sangat berdampak pada pembentukkan karakter dan narasi bangsa besar pada setiap warga negara. Nasib guru yang terabaikan menjadi indikator sebuah bangsa tidak serius membangun peraban bangsa.***

 

  


Monday, June 1, 2026

INDONESIA BELAJAR MANDIRI DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran di embargo selama 47 tahun oleh admin dunia, ternyata masih bisa hidup dan bisa bertahan dengan teknologi senjata buatan sendiri. 

Apa yang terjadi pada bangsa Iran, bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai bukti bahwa hukum Allah berlaku pasti. Hukum ini dijelaskan di dalam Al Qur'an, bahwa "setiap kesulitan akan menghasilkan kemudahan."

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyrah, 9:5-6).

Setuju atau tidak setuju, percaya atau tidak percaya pada hukum setelah kesulitan ada kemudahan, hukum Allah akan berlaku pada siapapun tanpa melihat suku, agama, dan bangsa. Tekanan Amerika Serikat pada Iran akan mengubah Iran menjadi negara kuat, karena semakin percaya diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. 

Pendidikan sejati bagi sebuah bangsa adalah kesulitan demi kesulitan yang berhasil dilalui. Indonesia bukan negara lemah. Sebagai negara merdeka kita sudah berhasil melewati masa-masa sulit. Revolusi fisik tahun 1945, masa jatuh bangunnya pemerintaha tahun 1959, masa perang saudara 1965, dan masa krisis ekonomi dan politik 1998. Masa-masa sulit telah dilalui melahirkan masa-masa hidup damai sejahtera. 

Saat ini, Indonesia sedang mendapat tekanan ekonomi global, karena Indonesia berusaha menjadi bangsa mandiri. Jika Indonesia berhasil swasembada pangan dan energi, akan ada negara-negara produsen yang sistem ekonominya terganggu. Mereka adalah para penjajah yang suka bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh. 

Indonesia adalah potensi pasar negara-negara produsen. Jika Indonesia mengembangkan kemandirian, dimulai dari negeri dan pangan, maka negara-negara  produsen yang biasa menikmati keuntungan dari pasar akan terganggu. 

Tekanan ekonomi global dilakukan melalui pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar AS, dan menyerang pasar modal dengan aksi jual sehingga harga rata-rata saham aturun drastis. Dalam kondisi ini, mereka akan menbuat berita-berita buruk tentang Indonesia agar Indonesia tidak menjadi negara mandiri.

Kita sudah menyaksikan di kancah internasional, bagaimana negara-negara penghasil teknologi perang, mereka memaksa negara-negara lain tunduk dengan ancaman, kekerasan, genosida, dan blokade ekonomi. Negara yang tidak punya nyali mereka menyerah dan hidup dikendalikan bangsa lain.

Mereka yang punya nyali tetapi tidak punya rasa persatuan, mereka bisa melawan tetapi tidak berdaya. Iran menjadi contoh bagi semua negara. Iran punya nyali, rakyat bersatu, dan punya kemandirian teknologi, Iran tampil menjadi bangsa mandiri.

Ujian Iran untuk menjadi bangsa mandiri adalah 47 tahun mendapat tekanan politik dan ekonomi global. Pimpinan-pimpinan politik Iran menjadi korban tekanan politik dan ekonomi. Rasa persatuan bangsa Iran telah menyelamatkan Iran dari perpecahan dan perang saudara. 

Indonesia memiliki kekuatan lebih dari Iran. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia memiliki rasa persatuan yang kuat. Indoneisa punya kekayaan alam melimpah. Indonesia daratan dan perairan yang luas. Satu yang belum dimiliki bangsa Indonesia yaitu teknologi. 

Bangsa Indonesia tidak punya keberanian kuat seperti Iran untuk memiliki teknologi sendiri. Ketidakberanian bangsa Inodnesia mandiri secara teknologi, lebih karena mental bangsa Indonesia. Mental-mental pejuang yang dimiliki generasi pertama telah meluntur. Sekarang kita dihadapkan pada mental mudah menyerah, tidak berani menghadapi kesulitan, dan suka menghujat menyalahkan orang lain.

Bangsa Indonesia perlu dikendalikan oleh pemimpin yang kuat, didukung oleh sistem pemerintahan yang kuat, dan tentara yang kuat. Kekuatan bangsa Indonesia harus ditopang dari pondasi mendasar yaitu pendidikan. Lahirnya manusia bermental petarung, pantang menyerah, tidak mengeluh, berani berkorban, dilahirkan dari dunia pendidikan.

Melahirkan manusia-manusia terbaik kuncinya bukan bangunan, atau dokumen kurikulum. Kunci untuk melahirkan manusia-manusia tangguh petarung adalah guru-guru petarung. Manusia-manusia petarung yang dihasilkan dari pendidikan, ketika jadi masyarakat akan jadi masyarakat petarung yang bisa mengajak seluruh anggota masyarakat berangkat menjadi bangsa mandiri.

Iran tidak tergoyahkan dengan ancaman senjata pemusnah masal negara lain, rakyatnya bersatu padu untuk mempertahankan kedaulatan negara dan membela tanah air. Jika rasa cinta tanah air sudah menjadi budaya masyarakat, tidak ada bangsa lain yang bisa menjatuhkan.

Ini hukum Allah yang berikutnya. Sebuah bangsa tidak akan hancur karena serangan dari luar. Hukum Allah sudah ditetapkan bahwa sebuah bangsa lemah dan hancur bukan karena serangan bangsa lain, tapi karena prilaku-prilaku buruk yang dimiliki bangsa itu sendiri.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Dosa penyebab kebinasaan. Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter dan prilaku bangsa yang tidak berkualitas. Prilaku-prilaku masyarakat tidak mencermin sebagai manusia berpendidikan, dan berakal sehat. Masyarakat punya kecenderungan mengedepankan pemikiran dan prilaku buruk dalam menyikapi sebuah kejadian. 

Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter manusia  bermental mudah mengeluh, pesimis, putus asa, dan suka menghujat menyalahkan orang lain. Bangsa sulit mandiri, karena selalu kandas dihadang oleh manusia-manusia bermental buruk, pesimis, dan suka menghujat menyalahkan. Mereka melihat setiap upaya kemajuan selalu terlihat buruk. Itulah manusia-manusia dari dalam bangsa penyebab kebinasaan sebuah bangsa.

Dunia pendidikanlah yang bisa diandalkan melahirkan mausia-manusia petarung. Catatan penting, dunia pendidikan yang baik, diisi oleh guru-guru petarung yang selalu berpikir optimis, tidak suka mengeluh, tidak pernah putus asa, dan tidak suka menyalahkan orang lain, berani berkorban, beriman dan bertakwa kepada Tuhan.*** 

Tuesday, May 26, 2026

KURBAN BENTUK MANUSIA UNGGUL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Ritual kurban perlu penjelasan rasional agar bisa dipahami secara mendalam. Dari sudut pandang pendidikan, guru bisa menjelaskan makna yang terkandung dari kisah Nabi Ibrahim. Pendidikan bertujuan membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi sebuah karakter. 

Di dalam Al Quran dikisahkan  Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi manusia biasa seperti kita, jika ada seorang bapak bermimpin menyembelih anaknya.

Dari kisah Nabi Ibrahim ada banyak makna yang bisa diambil, terutama bagi dunia pendidikan. Kisah Nabi Ibrahmi mengandung pelajaran bagaimana tangung jawab seorang ayah dalam mengajari, melatih dan menguji, karakter anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaafaat, 37:102). 

Dari sudut pandang pendidikan, kisah ritual kurban mengingatkan sebuah kompetensi yang harus diajarkan dan dimiliki oleh seorang anak. Ritual kurban mengingatkan seorang anak harus memiliki jiwa suka bekerjasama, kemampuan berpikir, mandiri, dan resiliensi (kesabaran). 

Jiwa suka bekerjasama dibuktikan dengan kemampuan intelektual yang bisa mengidentifikasi kebenaran dari Tuhan, mengendalikan emosi, mandiri, berani berkorban, dan sabar atau mampu bertahan dalam penderitaan.

Suka bekerjasama atau berkolaborasi menjadi kompetensi abadi wajib dimiliki manusia. Manusia unggul ditandai dengan kemampuan bekerjasama atau berkolaborasi. Manusia tidak dapat hidup tanpa berkolaborasi. 

Ebook berpikir dengan logika tuhan

Suka bekerjasama atau berkolaborasi di dukung oleh kemampuan berpikir, kemandirian, dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, dan mampu bertahan dalam penderitaan.  Kurban mengajarkan anak-anak menjadi manusia unggul. 

Di dalam dunia pendidikan wajib ada program-program yang melatih murid bekerjasama, berkolaborasi, menggunakan kemampuan inteleltual untuk menyelesaikan masalah, menemukan ide menyelesaikan masalah, membantu menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan, secara mandiri.

Karakter yang harus dimiliki anak-anak, pesan dari peristiwa Kurban adalah seorang anak harus memiliki "jiwa suka bekerjasama dan berani berkorban". Anak-anak yang berani berkorban pasti bisa bekerjasama, sebaliknya anak-anak egois pasti sulit bekerjasama.

Dunia kerja dan dunia wirausaha, membutuhkan manusia-manusia yang bisa bekerjasama bukan manusia-manusia egois. Sekolah diakhir studi, harus menguji anak-anak seberapa besar keberanian murid dalam berkorban harta yang diusahakannya sendiri? Abak diuji melalui program berkorban secara mandiri sesuai kemampuan untuk membebaskan kesulitan orang lain. Inilah karakter manusia unggul***

Friday, May 22, 2026

LOGIKA TUHAN LATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan melatih kemampuan umat manusia khususnya umat Islam bergumen dengan kitab suci Al Quran. Semua ajaran yang mengatasnamakan Islam argumennya harus dari kitab suci Al Quran. Al Quran menjadi induk dari dasar-dasar ajaran Islam. 

Setiap umat Islam wajib mengabarkan Al Quran kepada seluruh manusia. Setiap umat Islam wajib menjadikan Al Quran sebagai rujukan dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Setiap umat Islam memiliki kemampuan berpikir dengan menjadikan Al Quran sebagai argumen.

Kemampuan berargumen dengan Al Quran mengikuti pola berpikir sebab akibat (kausalitas). Kausalitas digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di muka bumi. Pemahaman setiap orang terjadi kalau bisa memahami kausalitas dari suatu konsep atau kejadian.

Kita tidak akan bisa mengetahui siapa sosok orang beriman? Jika kita tidak tahu ciri-ciri dari orang beriman, tidak jelas apa yang harus dilakukan. Maka Al Quran bisa memberi pemahaman siapa orang beriman dengan menjelaskan melalui pola kausalitas dari hubungan dua ayat. 

Ebok belajar logika Tuhan menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (Al Anfaal, 8:2).

Untuk menjelaskan siapa orang beriman berdasarkan ayat di atas, konkritnya bisa dilihat dalam penjelasan ayat berikutnya. Inilah salah satu cara penjelasan menggunakan pola hubungan kausalitas. 

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Al Anfaal, 8:3).

Keimanan kepada Allah menjadi sebab orang melakukan shalat dan sedekah. Jadi bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mereka mengerjakan shalat dan bersedekah. 

Dapat dipahami dalam kisah akhir hayat Nabi Muhammad, Beliau mewasiatkan shalat kepada umat sepeninggalnya. Ternyata di dalam Al Quran dijelaskan shalat menjadi ukuran pertama dari orang-orang yang benar-benar beriman diikuti dengan sedekah.

Jika kita bertanya lebih lanjut, untuk apa orang beriman ditandai dengan shalat dan sedekah? Secara kausalitas dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (Al Anfaal, 8:4).

Mengapa orang beriman ditandai Allah dengan shalat dan sedekah? Penjelasannya ada dalam ayat 4. Maka ayat 4 sebagai akibat dari orang beriman yang shalat dan sedekah.

Ada tiga akibat yang didapat dari orang beriman, shalat, dan sedekah, yaitu tinggi derajat, ampunan, dan rezeki. Inilah kabar gembira yang dijanjikan Allah pada orang beriman, shalat, dan sedekah. 

Kesimpulannya, iman, shalat, sedekah, menjadi prasyarat untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Kemampuan berpikir berdasar Al Quran menjadi hal penting dimiliki setiap orang beragama. Melatih kemampuan berpikir berbasis pada Al Quran menjadi pondasi penting yang harus diajarkan pada umat manusia khususnya umat Islam.***

Friday, May 15, 2026

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran. 

Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral. 

ebook memahami logika tuhan dalam beragama

Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan "kematangan berpikir".

Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaaffaat, 37:102).

Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.

Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).

Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain. 

Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun. 

Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.***

Thursday, May 14, 2026

PESAN PENTING DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'dah, 5:27).

Benny Afwadzi (2024) dalam Jurnal Religi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjelaskan kisah dua anak Adam tertulis dalam Al Quran dan Bible dalam Kitab kejadian 4:1-26. Al-Qur’an menginginkan adanya ibrah atas cerita yang disebutkannya, akan tetapi Bible lebih pada cerita yang cenderung lebih lengkap dan kronologis.

Menurut penulis, dua kisah putra adam adalah simbolis dari dua sifat yang dimiliki manusia. Dua sifat ini diilhamkan ke dalam jiwa manusia, menjadi dua potensi yang selalu dimiliki oleh manusia. Penamaan Kabil dan Habil merupakan sebuah konsep untuk untuk membedakan sifat yang dimiliki jiwa manusia. Kabil dan Habil dalam psikologi bukan dua entitas terpisah, tapi satu kesatuan dalam jiwa manusia.

"dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).

Selama hidup manusia akan mengalami dan menghadapi konflik dalam jiwanya, jiwa fasik yang aktif, selalu mendorong manusia membunuh jiwa takwa. Jiwa fasik adalah sifat-sifat keduniawian ditandai dengan sifat ingin memiliki. 

Jiwa takwa bersifat pasif karena selalu taat pada aturan Allah, selalu berserah diri pada Allah, cenderung pada kehidupan abadi di akhirat, dan pada faktanya selalu menjadi korban dalam kehidupan dunia. Jiwa takwa berkeinginan segala sesuatu baik dilakukan karena Allah. Jiwa takwa adalah sifat keakhiratan ditandai sifat menyerah. 

Dua sifat ini bisa beprotensi menjadi baik atau buruk jika tidak pandai mengelolanya. Jiwa fasik bisa menjadi sebab konflik antar manusia, jiwa takwa bisa menjadi sebab manusia lemah karena tidak punya daya dan upaya.

Pesan penting dari kisah dua anak Adam adalah manusia harus mengupayakan adanya pendidikan, untuk mengendalikan dua sifat anak Adam yang ada pada setiap diri manusia. Adam yang berpendidikan adalah sosok yang bisa mensintesakan dua sifat yang dimilikinya jadi kebahagian hidup bukan penyesalan. Sifat aktif dan pasif yang ada pada jiwanya, harus diajari bagaimana cara menciptakan kehidupan harmonis sejahtera di dunia dan akhirat.

Pesan pentingnya pendidikan bagi dua sifat anak Adam dijelaskan di dalam Al Quran. Setelah terjadinya pembunuhnan, terhadap sifat takwa, sifat Fasik diberi pendidikan oleh Allah melalui burung Gagak.

Kemudian Allah menyuruh (Faba'atsaseekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al Maa'dah, 5:31).

Burung gagak membawa pesan bagaimana sifat aktif yang dimiliki manusia, harus berkolaborasi, bersinergi, bekerjasama, bersama sifat pasif secara seimbang agar mampu membawa, mengendalikan diri kepada pola kehidupan yang membawa dampak kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Gagak adalah lambang kemampuan bagaimana makhluk bisa belajar secara kognitif dari kejadian di alam. Gagak adalah makhluk yang bisa menggunakan segala potensi yang ada  pada dirinya dan di alam untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  

Adam adalah sosok yang mampu mengorkestrasi kemampuan yang ada pada dirinya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya dengan terus belajar dari berbagai kejadian di alam. Jika manusia terlalu dominan pada sifat-sifat aktif, manusia bisa menjadi makhluk perusak dan pembuat huru-hara di muka bumi.  Jika terlalu dominan pada sifat pasif, manusia bisa menjadi makhluk-makhluk lemah tak berdaya di muka bumi. 

Pendidikan adalah pengajaran kepada manusia supaya bisa mengendalikan dua sifat yang dimilikinya. Oleh karena itu, manusia harus mendapat pendidikan agar menjadi sosok aktif, kritis, kreatif, kolaboratif, jujur, amamah, rendah hati, berani berkorban, dan beriman kepada Tuhan. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang ada bagian dari upaya menorkestrasi, dan mengendalikan dua potensi yang dimiliki manusia, agar tidak terjadi pembunuhan pada sifat takwa.***  

Saturday, May 9, 2026

AL QURAN SEBAGAI PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Al Quran adalah paradgima berpikir dalam memandang kehidupan. Al Quran kitab suci yang diimani umat Islam. Salah satu syarat berimannya orang Islam, percaya kitab suci Al Quran wahyu dari Allah melalui Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad. Sampai saat ini, isi Al Quran diakui sebagai kitab suci otentik dari Tuhan, tidak bercampur dengan pemikiran manusia. 

Isi Al Quran adalah pengetahuan bersumber dari Allah. Perintah pertama dari seluruh isi kitab suci Al Quran adalah Bacalah (teliti, pahami, dalami)! Perintah ini diterima oleh Nabi Muhammad ketika di Gua Hira. Perintah Bacalah menjadi pesan penting bagi umat manusia bahwa memiliki pengetahuan adalah kunci untuk mengungkap rahasia kehidupan.

Al Quran sebagai paradigma berpikir secara eksplisit Allah kabarkan dalam Al Quran. "Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Iqra, 96:1). Kata bismi merupakan gabungan dua kata yaitu "bi" dan "ismi". Bi adalah kata depan dengan makna "dengan, oleh, atas". Ismi artinya nama. Jika Allah perintahkan "bacalah atas nama Allah". Kita bisa beri makna bahwa segala sudut pandang yang kita miliki tentang sesuatu harus menggunakan sudut pandang Allah.

Untuk membantu manusia memahami kehidupan, Allah menurunkan kitab suci Al Quran sebagai dasar ilmu pengetahuan bagi manusia untuk memberikan sudut pandang terhadap segala kejadian di muka bumi. Al Quran diturunkan dengan ilmu pengetahuan dari Allah. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Hud, 11:14).

Dasar ilmu pengetahuan dari Allah adalah "tidak ada Tuhan selain Allah". Artinya segala sudut pandang kita tentang kehidupan nyata dan gaib mutlak dari sudut pandang Allah. Maka hakikat semua sudut pandang manusia tidak ada pilihan lain, kecuali berserah diri kepada sudut pandang Allah yang maha mengetahui. 

Inilah cara beprikir Islam. Islam artinya berserah diri secara total kepada Allah. Orang-orang yang berpikir mengikuti cara pandang Allah, mengikuti segala keterangan dari Al Quran yang datang dari Allah. Untuk itulah Allah mengingatkan pada umat manusia untuk berpikir dan tidak ada pilihan segala sudut pandang manusia hanya bisa berserah diri pada Allah yang maha luas sudut pandangnya.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21).

Mengapa manusia harus berpikir dan mengikuti cara pandang Allah? Karena Allah maha mengetahui baik lahir maupun batin. Argumentasi Allah maha mengetahui, bisa kita konfirmasi di dalam Al Quran. 

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Al Hasyr, 59:22). 

Bukan cara pandang Barat atau Timur yang harus kita ikuti. Allah menguasai Barat dan Timur. Semua cara pandang manusia harus berserah diri pada cara pandang Allah yang maha mengetahui seluruh isi alam semesta. Semoga Allah membimbing kita semua dengan mengikuti cara pandang Allah yang maha luas pandangan-Nya.***

Thursday, April 23, 2026

SHALAT TIANG AGAMA, PONDASINYA APA?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah tiang agama, tapi tidak pernah ada yang bertannya pondasinya apa? Berpuluh-puluh tahun shalat dinarasikan sebagai tiang agama siapa yang tidak shalat telah merunthkan agama. Kenapa tidak ada yang bertanya pondasi apa?

Pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan untuk ditanyakan, karena terlalu takut untuk bertanya. Murid-murid kita memang sangat takut untuk bertanya. Padahal dari pertanyaan akan terbuka pemahaman-pemahanan mendalam untuk perbaikan kualitas manusia. 

Ebook Belajar Pahami Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Kisah Nabi Muhammad ketika menerima wahyu di Gua Hira, dikabarkan Beliau bertanya kepada malaikat. Ketika disuruh membaca, "Apa yang harus saya baca?". Kisah Nabi Muhammad bertanya pada Malaikat, ternyata mengandung pelajaran penting dalam pembelajaran.

Bertanya ternyata menjadi metode belajar agar setiap orang belajar mendalam dan terarah pada tujuan. Mengapa bertanya tidak pernah dinarasikan sebagai metode belajar pada murid? Bahkan ada salah kaprah bahwa bertanya dicap dengan ketidakcerdasan sehingga murid semakin takut bertanya. 

Nabi Muhammad memang pernah bersabda, "Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu." (HR. Imam Al-Baihaqi). Tapi kalau kita sadar seharusnya bertanya tiang tidak akan berdiri tanpa pondasi. 

Lalu pondasi dari shalat apa? Karena tiang tidak akan kokoh tanpa pondasi. Saya berpendapat pondasi dari shalat adalah membaca. Argumennya karena perintah Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah membaca.


 
Kaitan dengan membaca, di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari & Muslim). Membaca Al Fatihah adalah syarat berdirinya shalat. Membaca Al Fatihah bukan perkara melapalkan bacaan, tapi memahami secara mendalam ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Fatihah. 

Ada ungkapan yang sering disandarkan pada pesan kenabian (meski sebagian ulama menyebutnya sebagai perkataan Imam Syafi'i yang berakar dari ajaran Nabi): "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu."

Dari fakta-fakta ini, diduga kuat bahwa pondasi dari shalat adalah ilmu, dan ilmu diperoleh dengan membaca sebagaimana Allah perintahkan pertama kali kepada Nabi Muhammad. Ilmu menjadi kunci bagi setiap orang terkhusus muslim untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Membaca untuk mendapatkan ilmu harus jadi pondasi tegaknya shalat sebagai tiang agama. 

Inilah landasan berpikir mengapa dunia pendidikan harus dilandasi dengan melatih murid memiliki pondasi kuat dengan membiasakan atau membudayakan senang membaca. Pondasi ini gagal dinarasikan umat Islam dalam dunia pendidikan, padahal cukup jelas perintah pertama adalah bacalah dengan makna lain adalah berpengetahuanlah!

Urutan logikanya sangat jelas di dalam Al Quran, perintah membaca mendahului perintah shalat. Dugaan semakin kuat bahwa Allah perintahkan membaca agar orang-orang beriman paham mengapa harus mendirikan shalat. 

Ebook Mendalami Isi Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).

Mengapa membaca menjadi luput dari ingatan orang-orang beriman? Bisa jadi selama ini membaca tetapi tidak membaca, atau faktanya memang kita telah gagal membaca kitab suci, sehingga kita mengabaikan kebiasaan membaca padahal itulah pondasinya shalat.***

Monday, April 20, 2026

BISAKAH MANUSIA MELIHAT TUHAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kisah Nabi Musa adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Apakah manusia bisa melihat Tuhan? Dari kisah Nabi Musa kita bisa paham. Kalau ada manusia mengaku melihat Tuhan, sudah pasti itu berita palsu dan dusta. 

Miliki Ebook berpikir dengan logika Tuhan

Hakikatnya Tuhan itu tidak bisa dilihat dan dimaterikan. Untuk manusia-manusia yang masih mengaku melihat Tuhan harus segera bertobat. Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Bacalah dengan seksama kisah Nabi Musa di bawah ini. 

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui ". (Al A'raaf, 7:138).

Kisah di atas adalah sebab Nabi Musa meminta kepada Allah bisa melihat Nya . Bani Israel telah meminta kepada Nabi Musa dibuatkan tuhan sebagaimana ada kaum menyembah dan melihat tuhan-tuhan mereka. 

Nabi Musa sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat Tuhan. "Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al A'raaf, 7:140).

Nabi Musa sudah mengetahui bahwa tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan. Untuk meyakinkan dirinya, Nabi Musa memohon kepada Allah untuk menguatkan keyakinannya bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan. Untuk itulah Nabi Musa mengajukan permohonan pada Allah. Kisah ini dijelaskan dalam Al Quran. 

Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A'raaf, 7:143).

Kisah ini menjadi jawaban bagi seluruh umat manusia bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa melihat Tuhan, karena gunung pun hancur luluh lantak. 

Ebook logika Tuhan akan membimbing mu ke jalan lurus

Ini pelajaran mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa mematerikan Tuhan dalam bentuk wujud-wujud sesembahan adalah perbuatan tidak masuk akal atau cacat logika. Bagi manusia berakal sehat mereka bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, mereka seharusnya paham, jika ada tuhan-tuhan dalam bentuk wujud materi dibuat sesembahan,  sudah pasti itu adalah perbuatan para pendusta.

Sebagaimanan Nabi Musa sebelumnya sudah memberi penjelasan mereka yang membuat tuhan-tuhan sesembahan yang bisa dilihat, "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (Al A'raaf, 7:139). 

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Al Mukminuun, 23:91).

Jika kamu manusia berakal sehat, sudah pasti dalam memilih agama mana yang benar, kamu akan memilih agama yang dianut oleh mereka,  tandanya mereka menyembah kepada Tuhan ghaib yang tidak dapat dilihat mata. Itulah tanda-tanda agama yang lurus.*** 

Friday, April 17, 2026

SHALAT OBATI OTAK UBUN-UBUN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al 'Alaq, 96: 15-16).

Orang-orang yang berpilaku jahat ada masalah di ubun-ubun. Ubun-ubun adalah posisinya ada di kepala bagian atas. Ubun-ubun berkaitan dengan otak. Fungsi otak sangat vital dalam organ tubuh manusia. Seluruh pemikiran, prilaku, dan teknologi, yang diciptakan manusia asalnya dari otak. 

Allah ingatkan bahwa ubun-ubun rusak menjadi sebab manusia berprilaku menyimpang. Untuk memperjelas masalah ubun-ubun kita perlu penjelasan ilmiah dari hasil penelitian tentang otak. 

Ebook logika Tuhan membimbing manusia di jalan Allah

Para ahli otak berhasil membagi-bagi otak menjadi beberapa bagian dengan penjelasan fungsi-fungsinya. Ubun-ubun otak bagian mana dan apa fungsinya? Kita cek dengan bantuan ilmu tentang otak (neurosains). 

Ubun-ubun menurut Neurosains adalah bagian otak lobus parietal. Ada di area otak bagian tengah. Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data "input" dari indra kita. 

Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data dari indra kita.

Dapatkan Bacaan Sehat Ebook Produk Logika Tuhan

Ubun-ubun fungsinya sangat vital karena semua infiormasi yang diinput dari indera di proses di ubun-ubun. Fungsi ubun-ubun menurut ilmu otak sebagai berikut:

Integrasi Sensorik: Mengolah informasi tentang sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu. Inilah yang membuat kamu tahu rasa tekstur benda atau suhu air saat menyentuhnya.

Navigasi dan Persepsi Spasial: Memberi tahu kamu di mana posisimu berada dan bagaimana hubungan jarak antar objek. Tanpa fungsi ini, kamu akan sulit memperkirakan jarak saat melangkah atau mengambil gelas.

Koordinasi Tubuh, Memungkinkan otak mengetahui posisi bagian tubuh tanpa harus melihatnya. Contohnya, kamu tetap bisa menyentuh ujung hidung dengan mata tertutup berkat lobus ini.

Ebook untuk mengobati ubun-ubun produk berpikir dengan logika Tuhan

Jika ubun-ubun mengalami gangguan, manusia bisa mengalami ganguan masalah rasa, persepsi, motorik, navigasi, bahasa, dan akademik. Allah mengabarkan, orang-orang yang suka dusta dan durhaka, harus ditarik ubun-ubunnya.

Bagaimana cara mengobati ubun-ubun yang sudah terkena gangguan? Allah memberi dasar pengetahuan dengan meluruskan kembali keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terapinya adalah sujud. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).

Aktivitas sujud secara disiplin, terencana, dan teratur, ada dalam kegiatan shalat. Sujud dalam shalat adalah posisi kesadaran penuh manusia sebagai hamba yang lemah dan tidak berdaya dihadapan Tuhan. 

Sujud adalah bentuk kesadaran manusia, kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Tuhan, tidak punya daya dan upaya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan  Yang Maha Esa.***

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33)***



ADA APA DI WAKTU DHUHA DAN MALAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini. 

Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.  

"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).

Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar. 

Dapatkan Ebook Produk Logika Tuhan

Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam. 

"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).

Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat. 

Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.

dapatkan Ebook produk logika Tuhan

Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain. 

Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada. 

Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud. 

Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.

Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***

Friday, March 27, 2026

APA YANG HARUS JADI PELAJARAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Di sekolah ada mata pelajaran, apakah yang harus dipelajari? Al Quran memberi petunjuk hal-hal apa yang harus dipelajari. Allah memberi tanda-tanda kepada manusia tentang apa-apa yang harus dijadikan pelajaran dan harus dipelajari.

Selama ini, manusia tidak sadar telah mempersulit dan menghalang-halangi orang untuk belajar Al Quran. Al Quran diajarkan tapi sesungguhnya tidak diambil pelajarannya. Metode membaca Al Qur'an dalam bahasa Arab, mengenal panjang dan pendek cara membacanya, kemudian dilombakan seolah-olah telah belajar Al Quran. Sebenarnya belum cukup.

Itulah kejumudan yang dipelihara dan dibudayakan dalam tradisi masyarakat. Padahal Allah mengingatkan bahwa Al Quran isinya pengetahuan. Pengetahuan harus masuk ke otak agar menjadi pola pikir, tindakan, kebiasaan, prilaku, dan menjadi ciri khas orang beriman. Al Quran seharusnya menjadi sumber gagasan pengembangan ilmu dan teknologi untuk kesejahteraan manusia. 

Allah mengulang-ngulang dalam Al Quran, bahwa Allah akan memudahkan bagi orang-orang yang mau mempelajari Al Quran. Metode-metode pengajaran Al Quran harus terus dikembangkan untuk memudahkan setiap orang memahami Al Quran.  

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:17)

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:22).

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:32).

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:40).

Siapa yang mempersulit orang untuk mempelajari Al Quran, dia telah menentang Allah, dia tidak memahami kehendak Allah, dia tidak belajar dari Al Quran, dia membawa hawa nafsunya sendiri. Bangsa Iran adalah contoh negara dimana umatnya belajar dari Al Quran.

Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:269).

Arti kata dasar hikmah adalah menghalangi, memutuskan, atau menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Orang yang diberi hikmah artinya mereka akan dihalangi, terputus, dari hal-hal buruk, dan mampu bertindak adil. Makna istilah hikmah adalah kebijaksanaan, pengetahuan yang bermanfaat, atau kemampuan membedakan antara benar dan salah.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imaran, 3:7).

Banyak hal yang harus dipelajari jika kita cari hikmah-hikmah di dalam Al Quran. Allah memberi tanda-tanda dalam Al Quran, apa yang harus jadi pelajaran bagi umat manusia. 

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).

Ilmu Debat. 

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? (Al Ana'am, 6:80).

Ilmu Alam dan Pertanian.

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A'raaf, 7:57).

Ilmu Astronomi dan Geografi

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus, 10:3)

Ilmu Kesehatan

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus, 10:57).

Ilmu Anatomi

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus, 10:92).

Ilmu Pendidikan

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Huud, 11:24).

Ilmu Ketauhidan.

(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim, 14:52).

Ilmu Peternakan.

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl, 16:66)

Ilmu Politik 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl, 16:90).

Ilmu Agama

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl, 16:125).

Ilmu Pendidikan Keluarga

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (Lukman, 3113).

Ilmu Perang

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).

Ilmu Sejarah

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah, 2:66).

Masih banyak hikmah dan pelajaran yang harus dipelajari umat manusia berdasarkan sumber dari Al Quran. Orang-orang beriman layaknya menjadi orang-orang terpelajar dan menguasi berbagai ilmu pengetahuan. Inilah yang luput dari Al Quran, karena Al Quran tidak jadi sumber ilmu pengetahuan.***

MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk....