Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.
Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran di embargo selama 47 tahun oleh admin dunia, ternyata masih bisa hidup dan bisa bertahan dengan teknologi senjata buatan sendiri.
Apa yang terjadi pada bangsa Iran, bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai bukti bahwa hukum Allah berlaku pasti. Hukum ini dijelaskan di dalam Al Qur'an, bahwa "setiap kesulitan akan menghasilkan kemudahan."
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyrah, 9:5-6).
Setuju atau tidak setuju, percaya atau tidak percaya pada hukum setelah kesulitan ada kemudahan, hukum Allah akan berlaku pada siapapun tanpa melihat suku, agama, dan bangsa. Tekanan Amerika Serikat pada Iran akan mengubah Iran menjadi negara kuat, karena semakin percaya diri bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Pendidikan sejati bagi sebuah bangsa adalah kesulitan demi kesulitan yang berhasil dilalui. Indonesia bukan negara lemah. Sebagai negara merdeka kita sudah berhasil melewati masa-masa sulit. Revolusi fisik tahun 1945, masa jatuh bangunnya pemerintaha tahun 1959, masa perang saudara 1965, dan masa krisis ekonomi dan politik 1998. Masa-masa sulit telah dilalui melahirkan masa-masa hidup damai sejahtera.
Saat ini, Indonesia sedang mendapat tekanan ekonomi global, karena Indonesia berusaha menjadi bangsa mandiri. Jika Indonesia berhasil swasembada pangan dan energi, akan ada negara-negara produsen yang sistem ekonominya terganggu. Mereka adalah para penjajah yang suka bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh.
Indonesia adalah potensi pasar negara-negara produsen. Jika Indonesia mengembangkan kemandirian, dimulai dari negeri dan pangan, maka negara-negara produsen yang biasa menikmati keuntungan dari pasar akan terganggu.
Tekanan ekonomi global dilakukan melalui pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar AS, dan menyerang pasar modal dengan aksi jual sehingga harga rata-rata saham aturun drastis. Dalam kondisi ini, mereka akan menbuat berita-berita buruk tentang Indonesia agar Indonesia tidak menjadi negara mandiri.
Kita sudah menyaksikan di kancah internasional, bagaimana negara-negara penghasil teknologi perang, mereka memaksa negara-negara lain tunduk dengan ancaman, kekerasan, genosida, dan blokade ekonomi. Negara yang tidak punya nyali mereka menyerah dan hidup dikendalikan bangsa lain.
Mereka yang punya nyali tetapi tidak punya rasa persatuan, mereka bisa melawan tetapi tidak berdaya. Iran menjadi contoh bagi semua negara. Iran punya nyali, rakyat bersatu, dan punya kemandirian teknologi, Iran tampil menjadi bangsa mandiri.
Ujian Iran untuk menjadi bangsa mandiri adalah 47 tahun mendapat tekanan politik dan ekonomi global. Pimpinan-pimpinan politik Iran menjadi korban tekanan politik dan ekonomi. Rasa persatuan bangsa Iran telah menyelamatkan Iran dari perpecahan dan perang saudara.
Indonesia memiliki kekuatan lebih dari Iran. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia memiliki rasa persatuan yang kuat. Indoneisa punya kekayaan alam melimpah. Indonesia daratan dan perairan yang luas. Satu yang belum dimiliki bangsa Indonesia yaitu teknologi.
Bangsa Indonesia tidak punya keberanian kuat seperti Iran untuk memiliki teknologi sendiri. Ketidakberanian bangsa Inodnesia mandiri secara teknologi, lebih karena mental bangsa Indonesia. Mental-mental pejuang yang dimiliki generasi pertama telah meluntur. Sekarang kita dihadapkan pada mental mudah menyerah, tidak berani menghadapi kesulitan, dan suka menghujat menyalahkan orang lain.
Bangsa Indonesia perlu dikendalikan oleh pemimpin yang kuat, didukung oleh sistem pemerintahan yang kuat, dan tentara yang kuat. Kekuatan bangsa Indonesia harus ditopang dari pondasi mendasar yaitu pendidikan. Lahirnya manusia bermental petarung, pantang menyerah, tidak mengeluh, berani berkorban, dilahirkan dari dunia pendidikan.
Melahirkan manusia-manusia terbaik kuncinya bukan bangunan, atau dokumen kurikulum. Kunci untuk melahirkan manusia-manusia tangguh petarung adalah guru-guru petarung. Manusia-manusia petarung yang dihasilkan dari pendidikan, ketika jadi masyarakat akan jadi masyarakat petarung yang bisa mengajak seluruh anggota masyarakat berangkat menjadi bangsa mandiri.
Iran tidak tergoyahkan dengan ancaman senjata pemusnah masal negara lain, rakyatnya bersatu padu untuk mempertahankan kedaulatan negara dan membela tanah air. Jika rasa cinta tanah air sudah menjadi budaya masyarakat, tidak ada bangsa lain yang bisa menjatuhkan.
Ini hukum Allah yang berikutnya. Sebuah bangsa tidak akan hancur karena serangan dari luar. Hukum Allah sudah ditetapkan bahwa sebuah bangsa lemah dan hancur bukan karena serangan bangsa lain, tapi karena prilaku-prilaku buruk yang dimiliki bangsa itu sendiri.
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).
Dosa penyebab kebinasaan. Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter dan prilaku bangsa yang tidak berkualitas. Prilaku-prilaku masyarakat tidak mencermin sebagai manusia berpendidikan, dan berakal sehat. Masyarakat punya kecenderungan mengedepankan pemikiran dan prilaku buruk dalam menyikapi sebuah kejadian.
Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter manusia bermental mudah mengeluh, pesimis, putus asa, dan suka menghujat menyalahkan orang lain. Bangsa sulit mandiri, karena selalu kandas dihadang oleh manusia-manusia bermental buruk, pesimis, dan suka menghujat menyalahkan. Mereka melihat setiap upaya kemajuan selalu terlihat buruk. Itulah manusia-manusia dari dalam bangsa penyebab kebinasaan sebuah bangsa.
Dunia pendidikanlah yang bisa diandalkan melahirkan mausia-manusia petarung. Catatan penting, dunia pendidikan yang baik, diisi oleh guru-guru petarung yang selalu berpikir optimis, tidak suka mengeluh, tidak pernah putus asa, dan tidak suka menyalahkan orang lain, berani berkorban, beriman dan bertakwa kepada Tuhan.***


.png)



