Monday, June 1, 2026

INDONESIA BELAJAR MANDIRI DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran di embargo selama 47 tahun oleh admin dunia, ternyata masih bisa hidup dan bisa bertahan dengan teknologi senjata buatan sendiri. 

Apa yang terjadi pada bangsa Iran, bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai bukti bahwa hukum Allah berlaku pasti. Hukum ini dijelaskan di dalam Al Qur'an, bahwa "setiap kesulitan akan menghasilkan kemudahan."

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyrah, 9:5-6).

Setuju atau tidak setuju, percaya atau tidak percaya pada hukum setelah kesulitan ada kemudahan, hukum Allah akan berlaku pada siapapun tanpa melihat suku, agama, dan bangsa. Tekanan Amerika Serikat pada Iran akan mengubah Iran menjadi negara kuat, karena semakin percaya diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. 

Pendidikan sejati bagi sebuah bangsa adalah kesulitan demi kesulitan yang berhasil dilalui. Indonesia bukan negara lemah. Sebagai negara merdeka kita sudah berhasil melewati masa-masa sulit. Revolusi fisik tahun 1945, masa jatuh bangunnya pemerintaha tahun 1959, masa perang saudara 1965, dan masa krisis ekonomi dan politik 1998. Masa-masa sulit telah dilalui melahirkan masa-masa hidup damai sejahtera. 

Saat ini, Indonesia sedang mendapat tekanan ekonomi global, karena Indonesia berusaha menjadi bangsa mandiri. Jika Indonesia berhasil swasembada pangan dan energi, akan ada negara-negara produsen yang sistem ekonominya terganggu. Mereka adalah para penjajah yang suka bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh. 

Indonesia adalah potensi pasar negara-negara produsen. Jika Indonesia mengembangkan kemandirian, dimulai dari negeri dan pangan, maka negara-negara  produsen yang biasa menikmati keuntungan dari pasar akan terganggu. 

Tekanan ekonomi global dilakukan melalui pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar AS, dan menyerang pasar modal dengan aksi jual sehingga harga rata-rata saham aturun drastis. Dalam kondisi ini, mereka akan menbuat berita-berita buruk tentang Indonesia agar Indonesia tidak menjadi negara mandiri.

Kita sudah menyaksikan di kancah internasional, bagaimana negara-negara penghasil teknologi perang, mereka memaksa negara-negara lain tunduk dengan ancaman, kekerasan, genosida, dan blokade ekonomi. Negara yang tidak punya nyali mereka menyerah dan hidup dikendalikan bangsa lain.

Mereka yang punya nyali tetapi tidak punya rasa persatuan, mereka bisa melawan tetapi tidak berdaya. Iran menjadi contoh bagi semua negara. Iran punya nyali, rakyat bersatu, dan punya kemandirian teknologi, Iran tampil menjadi bangsa mandiri.

Ujian Iran untuk menjadi bangsa mandiri adalah 47 tahun mendapat tekanan politik dan ekonomi global. Pimpinan-pimpinan politik Iran menjadi korban tekanan politik dan ekonomi. Rasa persatuan bangsa Iran telah menyelamatkan Iran dari perpecahan dan perang saudara. 

Indonesia memiliki kekuatan lebih dari Iran. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia memiliki rasa persatuan yang kuat. Indoneisa punya kekayaan alam melimpah. Indonesia daratan dan perairan yang luas. Satu yang belum dimiliki bangsa Indonesia yaitu teknologi. 

Bangsa Indonesia tidak punya keberanian kuat seperti Iran untuk memiliki teknologi sendiri. Ketidakberanian bangsa Inodnesia mandiri secara teknologi, lebih karena mental bangsa Indonesia. Mental-mental pejuang yang dimiliki generasi pertama telah meluntur. Sekarang kita dihadapkan pada mental mudah menyerah, tidak berani menghadapi kesulitan, dan suka menghujat menyalahkan orang lain.

Bangsa Indonesia perlu dikendalikan oleh pemimpin yang kuat, didukung oleh sistem pemerintahan yang kuat, dan tentara yang kuat. Kekuatan bangsa Indonesia harus ditopang dari pondasi mendasar yaitu pendidikan. Lahirnya manusia bermental petarung, pantang menyerah, tidak mengeluh, berani berkorban, dilahirkan dari dunia pendidikan.

Melahirkan manusia-manusia terbaik kuncinya bukan bangunan, atau dokumen kurikulum. Kunci untuk melahirkan manusia-manusia tangguh petarung adalah guru-guru petarung. Manusia-manusia petarung yang dihasilkan dari pendidikan, ketika jadi masyarakat akan jadi masyarakat petarung yang bisa mengajak seluruh anggota masyarakat berangkat menjadi bangsa mandiri.

Iran tidak tergoyahkan dengan ancaman senjata pemusnah masal negara lain, rakyatnya bersatu padu untuk mempertahankan kedaulatan negara dan membela tanah air. Jika rasa cinta tanah air sudah menjadi budaya masyarakat, tidak ada bangsa lain yang bisa menjatuhkan.

Ini hukum Allah yang berikutnya. Sebuah bangsa tidak akan hancur karena serangan dari luar. Hukum Allah sudah ditetapkan bahwa sebuah bangsa lemah dan hancur bukan karena serangan bangsa lain, tapi karena prilaku-prilaku buruk yang dimiliki bangsa itu sendiri.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Dosa penyebab kebinasaan. Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter dan prilaku bangsa yang tidak berkualitas. Prilaku-prilaku masyarakat tidak mencermin sebagai manusia berpendidikan, dan berakal sehat. Masyarakat punya kecenderungan mengedepankan pemikiran dan prilaku buruk dalam menyikapi sebuah kejadian. 

Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter manusia  bermental mudah mengeluh, pesimis, putus asa, dan suka menghujat menyalahkan orang lain. Bangsa sulit mandiri, karena selalu kandas dihadang oleh manusia-manusia bermental buruk, pesimis, dan suka menghujat menyalahkan. Mereka melihat setiap upaya kemajuan selalu terlihat buruk. Itulah manusia-manusia dari dalam bangsa penyebab kebinasaan sebuah bangsa.

Dunia pendidikanlah yang bisa diandalkan melahirkan mausia-manusia petarung. Catatan penting, dunia pendidikan yang baik, diisi oleh guru-guru petarung yang selalu berpikir optimis, tidak suka mengeluh, tidak pernah putus asa, dan tidak suka menyalahkan orang lain, berani berkorban, beriman dan bertakwa kepada Tuhan.*** 

Tuesday, May 26, 2026

KURBAN BENTUK MANUSIA UNGGUL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Ritual kurban perlu penjelasan rasional agar bisa dipahami secara mendalam. Dari sudut pandang pendidikan, guru bisa menjelaskan makna yang terkandung dari kisah Nabi Ibrahim. Pendidikan bertujuan membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi sebuah karakter. 

Di dalam Al Quran dikisahkan  Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi manusia biasa seperti kita, jika ada seorang bapak bermimpin menyembelih anaknya.

Dari kisah Nabi Ibrahim ada banyak makna yang bisa diambil, terutama bagi dunia pendidikan. Kisah Nabi Ibrahmi mengandung pelajaran bagaimana tangung jawab seorang ayah dalam mengajari, melatih dan menguji, karakter anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaafaat, 37:102). 

Dari sudut pandang pendidikan, kisah ritual kurban mengingatkan sebuah kompetensi yang harus diajarkan dan dimiliki oleh seorang anak. Ritual kurban mengingatkan seorang anak harus memiliki jiwa suka bekerjasama, kemampuan berpikir, mandiri, dan resiliensi (kesabaran). 

Jiwa suka bekerjasama dibuktikan dengan kemampuan intelektual yang bisa mengidentifikasi kebenaran dari Tuhan, mengendalikan emosi, mandiri, berani berkorban, dan sabar atau mampu bertahan dalam penderitaan.

Suka bekerjasama atau berkolaborasi menjadi kompetensi abadi wajib dimiliki manusia. Manusia unggul ditandai dengan kemampuan bekerjasama atau berkolaborasi. Manusia tidak dapat hidup tanpa berkolaborasi. 

Ebook berpikir dengan logika tuhan

Suka bekerjasama atau berkolaborasi di dukung oleh kemampuan berpikir, kemandirian, dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, dan mampu bertahan dalam penderitaan.  Kurban mengajarkan anak-anak menjadi manusia unggul. 

Di dalam dunia pendidikan wajib ada program-program yang melatih murid bekerjasama, berkolaborasi, menggunakan kemampuan inteleltual untuk menyelesaikan masalah, menemukan ide menyelesaikan masalah, membantu menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan, secara mandiri.

Karakter yang harus dimiliki anak-anak, pesan dari peristiwa Kurban adalah seorang anak harus memiliki "jiwa suka bekerjasama dan berani berkorban". Anak-anak yang berani berkorban pasti bisa bekerjasama, sebaliknya anak-anak egois pasti sulit bekerjasama.

Dunia kerja dan dunia wirausaha, membutuhkan manusia-manusia yang bisa bekerjasama bukan manusia-manusia egois. Sekolah diakhir studi, harus menguji anak-anak seberapa besar keberanian murid dalam berkorban harta yang diusahakannya sendiri? Abak diuji melalui program berkorban secara mandiri sesuai kemampuan untuk membebaskan kesulitan orang lain. Inilah karakter manusia unggul***

Friday, May 22, 2026

LOGIKA TUHAN LATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan melatih kemampuan umat manusia khususnya umat Islam bergumen dengan kitab suci Al Quran. Semua ajaran yang mengatasnamakan Islam argumennya harus dari kitab suci Al Quran. Al Quran menjadi induk dari dasar-dasar ajaran Islam. 

Setiap umat Islam wajib mengabarkan Al Quran kepada seluruh manusia. Setiap umat Islam wajib menjadikan Al Quran sebagai rujukan dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Setiap umat Islam memiliki kemampuan berpikir dengan menjadikan Al Quran sebagai argumen.

Kemampuan berargumen dengan Al Quran mengikuti pola berpikir sebab akibat (kausalitas). Kausalitas digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di muka bumi. Pemahaman setiap orang terjadi kalau bisa memahami kausalitas dari suatu konsep atau kejadian.

Kita tidak akan bisa mengetahui siapa sosok orang beriman? Jika kita tidak tahu ciri-ciri dari orang beriman, tidak jelas apa yang harus dilakukan. Maka Al Quran bisa memberi pemahaman siapa orang beriman dengan menjelaskan melalui pola kausalitas dari hubungan dua ayat. 

Ebok belajar logika Tuhan menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (Al Anfaal, 8:2).

Untuk menjelaskan siapa orang beriman berdasarkan ayat di atas, konkritnya bisa dilihat dalam penjelasan ayat berikutnya. Inilah salah satu cara penjelasan menggunakan pola hubungan kausalitas. 

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Al Anfaal, 8:3).

Keimanan kepada Allah menjadi sebab orang melakukan shalat dan sedekah. Jadi bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mereka mengerjakan shalat dan bersedekah. 

Dapat dipahami dalam kisah akhir hayat Nabi Muhammad, Beliau mewasiatkan shalat kepada umat sepeninggalnya. Ternyata di dalam Al Quran dijelaskan shalat menjadi ukuran pertama dari orang-orang yang benar-benar beriman diikuti dengan sedekah.

Jika kita bertanya lebih lanjut, untuk apa orang beriman ditandai dengan shalat dan sedekah? Secara kausalitas dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (Al Anfaal, 8:4).

Mengapa orang beriman ditandai Allah dengan shalat dan sedekah? Penjelasannya ada dalam ayat 4. Maka ayat 4 sebagai akibat dari orang beriman yang shalat dan sedekah.

Ada tiga akibat yang didapat dari orang beriman, shalat, dan sedekah, yaitu tinggi derajat, ampunan, dan rezeki. Inilah kabar gembira yang dijanjikan Allah pada orang beriman, shalat, dan sedekah. 

Kesimpulannya, iman, shalat, sedekah, menjadi prasyarat untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Kemampuan berpikir berdasar Al Quran menjadi hal penting dimiliki setiap orang beragama. Melatih kemampuan berpikir berbasis pada Al Quran menjadi pondasi penting yang harus diajarkan pada umat manusia khususnya umat Islam.***

Friday, May 15, 2026

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran. 

Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral. 

ebook memahami logika tuhan dalam beragama

Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan "kematangan berpikir".

Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaaffaat, 37:102).

Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.

Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).

Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain. 

Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun. 

Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.***

Thursday, May 14, 2026

PESAN PENTING DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'dah, 5:27).

Benny Afwadzi (2024) dalam Jurnal Religi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjelaskan kisah dua anak Adam tertulis dalam Al Quran dan Bible dalam Kitab kejadian 4:1-26. Al-Qur’an menginginkan adanya ibrah atas cerita yang disebutkannya, akan tetapi Bible lebih pada cerita yang cenderung lebih lengkap dan kronologis.

Menurut penulis, dua kisah putra adam adalah simbolis dari dua sifat yang dimiliki manusia. Dua sifat ini diilhamkan ke dalam jiwa manusia, menjadi dua potensi yang selalu dimiliki oleh manusia. Penamaan Kabil dan Habil merupakan sebuah konsep untuk untuk membedakan sifat yang dimiliki jiwa manusia. Kabil dan Habil dalam psikologi bukan dua entitas terpisah, tapi satu kesatuan dalam jiwa manusia.

"dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).

Selama hidup manusia akan mengalami dan menghadapi konflik dalam jiwanya, jiwa fasik yang aktif, selalu mendorong manusia membunuh jiwa takwa. Jiwa fasik adalah sifat-sifat keduniawian ditandai dengan sifat ingin memiliki. 

Jiwa takwa bersifat pasif karena selalu taat pada aturan Allah, selalu berserah diri pada Allah, cenderung pada kehidupan abadi di akhirat, dan pada faktanya selalu menjadi korban dalam kehidupan dunia. Jiwa takwa berkeinginan segala sesuatu baik dilakukan karena Allah. Jiwa takwa adalah sifat keakhiratan ditandai sifat menyerah. 

Dua sifat ini bisa beprotensi menjadi baik atau buruk jika tidak pandai mengelolanya. Jiwa fasik bisa menjadi sebab konflik antar manusia, jiwa takwa bisa menjadi sebab manusia lemah karena tidak punya daya dan upaya.

Pesan penting dari kisah dua anak Adam adalah manusia harus mengupayakan adanya pendidikan, untuk mengendalikan dua sifat anak Adam yang ada pada setiap diri manusia. Adam yang berpendidikan adalah sosok yang bisa mensintesakan dua sifat yang dimilikinya jadi kebahagian hidup bukan penyesalan. Sifat aktif dan pasif yang ada pada jiwanya, harus diajari bagaimana cara menciptakan kehidupan harmonis sejahtera di dunia dan akhirat.

Pesan pentingnya pendidikan bagi dua sifat anak Adam dijelaskan di dalam Al Quran. Setelah terjadinya pembunuhnan, terhadap sifat takwa, sifat Fasik diberi pendidikan oleh Allah melalui burung Gagak.

Kemudian Allah menyuruh (Faba'atsaseekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al Maa'dah, 5:31).

Burung gagak membawa pesan bagaimana sifat aktif yang dimiliki manusia, harus berkolaborasi, bersinergi, bekerjasama, bersama sifat pasif secara seimbang agar mampu membawa, mengendalikan diri kepada pola kehidupan yang membawa dampak kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Gagak adalah lambang kemampuan bagaimana makhluk bisa belajar secara kognitif dari kejadian di alam. Gagak adalah makhluk yang bisa menggunakan segala potensi yang ada  pada dirinya dan di alam untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  

Adam adalah sosok yang mampu mengorkestrasi kemampuan yang ada pada dirinya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya dengan terus belajar dari berbagai kejadian di alam. Jika manusia terlalu dominan pada sifat-sifat aktif, manusia bisa menjadi makhluk perusak dan pembuat huru-hara di muka bumi.  Jika terlalu dominan pada sifat pasif, manusia bisa menjadi makhluk-makhluk lemah tak berdaya di muka bumi. 

Pendidikan adalah pengajaran kepada manusia supaya bisa mengendalikan dua sifat yang dimilikinya. Oleh karena itu, manusia harus mendapat pendidikan agar menjadi sosok aktif, kritis, kreatif, kolaboratif, jujur, amamah, rendah hati, berani berkorban, dan beriman kepada Tuhan. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang ada bagian dari upaya menorkestrasi, dan mengendalikan dua potensi yang dimiliki manusia, agar tidak terjadi pembunuhan pada sifat takwa.***  

Saturday, May 9, 2026

AL QURAN SEBAGAI PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Al Quran adalah paradgima berpikir dalam memandang kehidupan. Al Quran kitab suci yang diimani umat Islam. Salah satu syarat berimannya orang Islam, percaya kitab suci Al Quran wahyu dari Allah melalui Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad. Sampai saat ini, isi Al Quran diakui sebagai kitab suci otentik dari Tuhan, tidak bercampur dengan pemikiran manusia. 

Isi Al Quran adalah pengetahuan bersumber dari Allah. Perintah pertama dari seluruh isi kitab suci Al Quran adalah Bacalah (teliti, pahami, dalami)! Perintah ini diterima oleh Nabi Muhammad ketika di Gua Hira. Perintah Bacalah menjadi pesan penting bagi umat manusia bahwa memiliki pengetahuan adalah kunci untuk mengungkap rahasia kehidupan.

Al Quran sebagai paradigma berpikir secara eksplisit Allah kabarkan dalam Al Quran. "Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Iqra, 96:1). Kata bismi merupakan gabungan dua kata yaitu "bi" dan "ismi". Bi adalah kata depan dengan makna "dengan, oleh, atas". Ismi artinya nama. Jika Allah perintahkan "bacalah atas nama Allah". Kita bisa beri makna bahwa segala sudut pandang yang kita miliki tentang sesuatu harus menggunakan sudut pandang Allah.

Untuk membantu manusia memahami kehidupan, Allah menurunkan kitab suci Al Quran sebagai dasar ilmu pengetahuan bagi manusia untuk memberikan sudut pandang terhadap segala kejadian di muka bumi. Al Quran diturunkan dengan ilmu pengetahuan dari Allah. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Hud, 11:14).

Dasar ilmu pengetahuan dari Allah adalah "tidak ada Tuhan selain Allah". Artinya segala sudut pandang kita tentang kehidupan nyata dan gaib mutlak dari sudut pandang Allah. Maka hakikat semua sudut pandang manusia tidak ada pilihan lain, kecuali berserah diri kepada sudut pandang Allah yang maha mengetahui. 

Inilah cara beprikir Islam. Islam artinya berserah diri secara total kepada Allah. Orang-orang yang berpikir mengikuti cara pandang Allah, mengikuti segala keterangan dari Al Quran yang datang dari Allah. Untuk itulah Allah mengingatkan pada umat manusia untuk berpikir dan tidak ada pilihan segala sudut pandang manusia hanya bisa berserah diri pada Allah yang maha luas sudut pandangnya.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21).

Mengapa manusia harus berpikir dan mengikuti cara pandang Allah? Karena Allah maha mengetahui baik lahir maupun batin. Argumentasi Allah maha mengetahui, bisa kita konfirmasi di dalam Al Quran. 

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Al Hasyr, 59:22). 

Bukan cara pandang Barat atau Timur yang harus kita ikuti. Allah menguasai Barat dan Timur. Semua cara pandang manusia harus berserah diri pada cara pandang Allah yang maha mengetahui seluruh isi alam semesta. Semoga Allah membimbing kita semua dengan mengikuti cara pandang Allah yang maha luas pandangan-Nya.***

Thursday, April 23, 2026

SHALAT TIANG AGAMA, PONDASINYA APA?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah tiang agama, tapi tidak pernah ada yang bertannya pondasinya apa? Berpuluh-puluh tahun shalat dinarasikan sebagai tiang agama siapa yang tidak shalat telah merunthkan agama. Kenapa tidak ada yang bertanya pondasi apa?

Pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan untuk ditanyakan, karena terlalu takut untuk bertanya. Murid-murid kita memang sangat takut untuk bertanya. Padahal dari pertanyaan akan terbuka pemahaman-pemahanan mendalam untuk perbaikan kualitas manusia. 

Ebook Belajar Pahami Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Kisah Nabi Muhammad ketika menerima wahyu di Gua Hira, dikabarkan Beliau bertanya kepada malaikat. Ketika disuruh membaca, "Apa yang harus saya baca?". Kisah Nabi Muhammad bertanya pada Malaikat, ternyata mengandung pelajaran penting dalam pembelajaran.

Bertanya ternyata menjadi metode belajar agar setiap orang belajar mendalam dan terarah pada tujuan. Mengapa bertanya tidak pernah dinarasikan sebagai metode belajar pada murid? Bahkan ada salah kaprah bahwa bertanya dicap dengan ketidakcerdasan sehingga murid semakin takut bertanya. 

Nabi Muhammad memang pernah bersabda, "Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu." (HR. Imam Al-Baihaqi). Tapi kalau kita sadar seharusnya bertanya tiang tidak akan berdiri tanpa pondasi. 

Lalu pondasi dari shalat apa? Karena tiang tidak akan kokoh tanpa pondasi. Saya berpendapat pondasi dari shalat adalah membaca. Argumennya karena perintah Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah membaca.


 
Kaitan dengan membaca, di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari & Muslim). Membaca Al Fatihah adalah syarat berdirinya shalat. Membaca Al Fatihah bukan perkara melapalkan bacaan, tapi memahami secara mendalam ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Fatihah. 

Ada ungkapan yang sering disandarkan pada pesan kenabian (meski sebagian ulama menyebutnya sebagai perkataan Imam Syafi'i yang berakar dari ajaran Nabi): "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu."

Dari fakta-fakta ini, diduga kuat bahwa pondasi dari shalat adalah ilmu, dan ilmu diperoleh dengan membaca sebagaimana Allah perintahkan pertama kali kepada Nabi Muhammad. Ilmu menjadi kunci bagi setiap orang terkhusus muslim untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Membaca untuk mendapatkan ilmu harus jadi pondasi tegaknya shalat sebagai tiang agama. 

Inilah landasan berpikir mengapa dunia pendidikan harus dilandasi dengan melatih murid memiliki pondasi kuat dengan membiasakan atau membudayakan senang membaca. Pondasi ini gagal dinarasikan umat Islam dalam dunia pendidikan, padahal cukup jelas perintah pertama adalah bacalah dengan makna lain adalah berpengetahuanlah!

Urutan logikanya sangat jelas di dalam Al Quran, perintah membaca mendahului perintah shalat. Dugaan semakin kuat bahwa Allah perintahkan membaca agar orang-orang beriman paham mengapa harus mendirikan shalat. 

Ebook Mendalami Isi Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).

Mengapa membaca menjadi luput dari ingatan orang-orang beriman? Bisa jadi selama ini membaca tetapi tidak membaca, atau faktanya memang kita telah gagal membaca kitab suci, sehingga kita mengabaikan kebiasaan membaca padahal itulah pondasinya shalat.***

Monday, April 20, 2026

BISAKAH MANUSIA MELIHAT TUHAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kisah Nabi Musa adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Apakah manusia bisa melihat Tuhan? Dari kisah Nabi Musa kita bisa paham. Kalau ada manusia mengaku melihat Tuhan, sudah pasti itu berita palsu dan dusta. 

Miliki Ebook berpikir dengan logika Tuhan

Hakikatnya Tuhan itu tidak bisa dilihat dan dimaterikan. Untuk manusia-manusia yang masih mengaku melihat Tuhan harus segera bertobat. Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Bacalah dengan seksama kisah Nabi Musa di bawah ini. 

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui ". (Al A'raaf, 7:138).

Kisah di atas adalah sebab Nabi Musa meminta kepada Allah bisa melihat Nya . Bani Israel telah meminta kepada Nabi Musa dibuatkan tuhan sebagaimana ada kaum menyembah dan melihat tuhan-tuhan mereka. 

Nabi Musa sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat Tuhan. "Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al A'raaf, 7:140).

Nabi Musa sudah mengetahui bahwa tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan. Untuk meyakinkan dirinya, Nabi Musa memohon kepada Allah untuk menguatkan keyakinannya bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan. Untuk itulah Nabi Musa mengajukan permohonan pada Allah. Kisah ini dijelaskan dalam Al Quran. 

Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A'raaf, 7:143).

Kisah ini menjadi jawaban bagi seluruh umat manusia bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa melihat Tuhan, karena gunung pun hancur luluh lantak. 

Ebook logika Tuhan akan membimbing mu ke jalan lurus

Ini pelajaran mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa mematerikan Tuhan dalam bentuk wujud-wujud sesembahan adalah perbuatan tidak masuk akal atau cacat logika. Bagi manusia berakal sehat mereka bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, mereka seharusnya paham, jika ada tuhan-tuhan dalam bentuk wujud materi dibuat sesembahan,  sudah pasti itu adalah perbuatan para pendusta.

Sebagaimanan Nabi Musa sebelumnya sudah memberi penjelasan mereka yang membuat tuhan-tuhan sesembahan yang bisa dilihat, "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (Al A'raaf, 7:139). 

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Al Mukminuun, 23:91).

Jika kamu manusia berakal sehat, sudah pasti dalam memilih agama mana yang benar, kamu akan memilih agama yang dianut oleh mereka,  tandanya mereka menyembah kepada Tuhan ghaib yang tidak dapat dilihat mata. Itulah tanda-tanda agama yang lurus.*** 

Friday, April 17, 2026

SHALAT OBATI OTAK UBUN-UBUN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al 'Alaq, 96: 15-16).

Orang-orang yang berpilaku jahat ada masalah di ubun-ubun. Ubun-ubun adalah posisinya ada di kepala bagian atas. Ubun-ubun berkaitan dengan otak. Fungsi otak sangat vital dalam organ tubuh manusia. Seluruh pemikiran, prilaku, dan teknologi, yang diciptakan manusia asalnya dari otak. 

Allah ingatkan bahwa ubun-ubun rusak menjadi sebab manusia berprilaku menyimpang. Untuk memperjelas masalah ubun-ubun kita perlu penjelasan ilmiah dari hasil penelitian tentang otak. 

Ebook logika Tuhan membimbing manusia di jalan Allah

Para ahli otak berhasil membagi-bagi otak menjadi beberapa bagian dengan penjelasan fungsi-fungsinya. Ubun-ubun otak bagian mana dan apa fungsinya? Kita cek dengan bantuan ilmu tentang otak (neurosains). 

Ubun-ubun menurut Neurosains adalah bagian otak lobus parietal. Ada di area otak bagian tengah. Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data "input" dari indra kita. 

Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data dari indra kita.

Dapatkan Bacaan Sehat Ebook Produk Logika Tuhan

Ubun-ubun fungsinya sangat vital karena semua infiormasi yang diinput dari indera di proses di ubun-ubun. Fungsi ubun-ubun menurut ilmu otak sebagai berikut:

Integrasi Sensorik: Mengolah informasi tentang sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu. Inilah yang membuat kamu tahu rasa tekstur benda atau suhu air saat menyentuhnya.

Navigasi dan Persepsi Spasial: Memberi tahu kamu di mana posisimu berada dan bagaimana hubungan jarak antar objek. Tanpa fungsi ini, kamu akan sulit memperkirakan jarak saat melangkah atau mengambil gelas.

Koordinasi Tubuh, Memungkinkan otak mengetahui posisi bagian tubuh tanpa harus melihatnya. Contohnya, kamu tetap bisa menyentuh ujung hidung dengan mata tertutup berkat lobus ini.

Ebook untuk mengobati ubun-ubun produk berpikir dengan logika Tuhan

Jika ubun-ubun mengalami gangguan, manusia bisa mengalami ganguan masalah rasa, persepsi, motorik, navigasi, bahasa, dan akademik. Allah mengabarkan, orang-orang yang suka dusta dan durhaka, harus ditarik ubun-ubunnya.

Bagaimana cara mengobati ubun-ubun yang sudah terkena gangguan? Allah memberi dasar pengetahuan dengan meluruskan kembali keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terapinya adalah sujud. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).

Aktivitas sujud secara disiplin, terencana, dan teratur, ada dalam kegiatan shalat. Sujud dalam shalat adalah posisi kesadaran penuh manusia sebagai hamba yang lemah dan tidak berdaya dihadapan Tuhan. 

Sujud adalah bentuk kesadaran manusia, kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Tuhan, tidak punya daya dan upaya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan  Yang Maha Esa.***

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33)***



ADA APA DI WAKTU DHUHA DAN MALAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini. 

Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.  

"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).

Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar. 

Dapatkan Ebook Produk Logika Tuhan

Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam. 

"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).

Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat. 

Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.

dapatkan Ebook produk logika Tuhan

Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain. 

Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada. 

Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud. 

Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.

Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***

Friday, March 27, 2026

APA YANG HARUS JADI PELAJARAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Di sekolah ada mata pelajaran, apakah yang harus dipelajari? Al Quran memberi petunjuk hal-hal apa yang harus dipelajari. Allah memberi tanda-tanda kepada manusia tentang apa-apa yang harus dijadikan pelajaran dan harus dipelajari.

Selama ini, manusia tidak sadar telah mempersulit dan menghalang-halangi orang untuk belajar Al Quran. Al Quran diajarkan tapi sesungguhnya tidak diambil pelajarannya. Metode membaca Al Qur'an dalam bahasa Arab, mengenal panjang dan pendek cara membacanya, kemudian dilombakan seolah-olah telah belajar Al Quran. Sebenarnya belum cukup.

Itulah kejumudan yang dipelihara dan dibudayakan dalam tradisi masyarakat. Padahal Allah mengingatkan bahwa Al Quran isinya pengetahuan. Pengetahuan harus masuk ke otak agar menjadi pola pikir, tindakan, kebiasaan, prilaku, dan menjadi ciri khas orang beriman. Al Quran seharusnya menjadi sumber gagasan pengembangan ilmu dan teknologi untuk kesejahteraan manusia. 

Allah mengulang-ngulang dalam Al Quran, bahwa Allah akan memudahkan bagi orang-orang yang mau mempelajari Al Quran. Metode-metode pengajaran Al Quran harus terus dikembangkan untuk memudahkan setiap orang memahami Al Quran.  

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:17)

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:22).

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:32).

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:40).

Siapa yang mempersulit orang untuk mempelajari Al Quran, dia telah menentang Allah, dia tidak memahami kehendak Allah, dia tidak belajar dari Al Quran, dia membawa hawa nafsunya sendiri. Bangsa Iran adalah contoh negara dimana umatnya belajar dari Al Quran.

Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:269).

Arti kata dasar hikmah adalah menghalangi, memutuskan, atau menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Orang yang diberi hikmah artinya mereka akan dihalangi, terputus, dari hal-hal buruk, dan mampu bertindak adil. Makna istilah hikmah adalah kebijaksanaan, pengetahuan yang bermanfaat, atau kemampuan membedakan antara benar dan salah.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imaran, 3:7).

Banyak hal yang harus dipelajari jika kita cari hikmah-hikmah di dalam Al Quran. Allah memberi tanda-tanda dalam Al Quran, apa yang harus jadi pelajaran bagi umat manusia. 

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).

Ilmu Debat. 

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? (Al Ana'am, 6:80).

Ilmu Alam dan Pertanian.

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A'raaf, 7:57).

Ilmu Astronomi dan Geografi

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus, 10:3)

Ilmu Kesehatan

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus, 10:57).

Ilmu Anatomi

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus, 10:92).

Ilmu Pendidikan

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Huud, 11:24).

Ilmu Ketauhidan.

(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim, 14:52).

Ilmu Peternakan.

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl, 16:66)

Ilmu Politik 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl, 16:90).

Ilmu Agama

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl, 16:125).

Ilmu Pendidikan Keluarga

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (Lukman, 3113).

Ilmu Perang

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).

Ilmu Sejarah

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah, 2:66).

Masih banyak hikmah dan pelajaran yang harus dipelajari umat manusia berdasarkan sumber dari Al Quran. Orang-orang beriman layaknya menjadi orang-orang terpelajar dan menguasi berbagai ilmu pengetahuan. Inilah yang luput dari Al Quran, karena Al Quran tidak jadi sumber ilmu pengetahuan.***

Monday, March 23, 2026

BANGUN BANGSA BELAJAR DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Iran tampil menjadi satu-satunya negara yang berani terang-terangan hadapi Amerika Serikat. Dunia kaget dengan kemampuan teknologi perang Iran dan kekompakkan masyarakat mendukung rezim di Iran. Dunia kagum dengan sistem pertahanan Iran dalam mempertahankan kedaulatan negara. 

Rezim Iran menjadi bukti pada dunia bahwa Islam sebagai landasan dalam sistem bernegara bisa jadi kekuatan dan kesejahteraan masyarakat. Iran menjalani masa embargo ekonomi, berubah menjadi negara berdaulat secara ekonomi dan teknologi. 

umat Islam maju karena Al Quran jadi pola pikir. caranya belajar Ebook logika Tuhan

Berdasarkan pengamatan ada beberapa hal yang membuat Iran bisa berubah jadi negara kuat padahal selama 47 tahun mendapat embargo ekonomi. Penulis mengkaji dengan menggunakan Al Quran sebagai sudut pandang, teori, dan fakta dilapangan sebagai bukti empiris.

Pertama, hal yang membuat Iran bisa berubah menjadi negara kuat adalah embargo ekonomi selamat 47 tahun. Teorinya bisa dipahami dari Al Quran, bahwa kesulitan adalah sebab dari kemudahan. Artinya kesulitan yang dihadap dapat berubah menjadi penemuan-penemuan terbaru yang menjadi solusi dalam menjalani kesulitan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ( Alam Nasyrah, 94:5-6).

Embargo selama 47 tahun, telah mengubah bangsa Iran menjadi bangsa dengan kemampuan resiliensi tinggi. Teori-teori psikologi banyak mengungkap bahwa kekuatan lahir dari kesulitan-kesulitan, dan kemalangan hidup yang dihadapi dengan kesabaran. Stolz mengungkap dalam teorinya dikenal Adversity Quotion (AQ), bahwa kemampuan bertahan hidup dalam kondisi sulit adalah keunggulan. 

Al Quran sumber ilmu pengetahuan, bagaimana cara memahaminya dapatkan Ebook logika Tuhan

Kesulitan melahirkan manusia-manusia kreatif dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan. Iran selama masa embargo berhasil mengembangkan berbagai teknologi pertahanan dengan biaya murah menjadi pendukung bagi kemandirian dan kedaulatan negara.

Kedua, keyakinan terhadap Tuhan dan akal sehat. Kemampuan bertahan dalam kondisi sulit tidak semata-mata terjadi tetapi terbentuk karena keyakinan. Bangsa Iran termasuk kaum intelek yang memahami Al Quran tidak sebatas mantra-mantra atau kumpulan doa. Keyakinan bangsa Iran bersandar pada keyakinan pada kitab suci Al Quran sebagai jalan hidup, pola pikir,  dan sumber ilmu pengetahuan. 

Bagi bangsa Iran, Al Quran adalah sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta motivasi untuk keluar dari krisis dengan bimbingan Tuhan. Sijjil adalah salah satu senjata Iran mematikan terinpsirasi dari Al Quran. Drone-drone Shahed yang mematikan adalah burung-burung Ababil yang berhasil mengalahkan pasukan Abrahah. 

Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan. (Al Fiil, 105: 3-5).

Ketiga, Iran membangun karakter bangsanya berlandaskan pada Al Quran. Para pemimpin tertinggi Iran menjadi teladan bagi rakyatnya. Almarhum Ali Khamenei sampai akhir khayatnya menjadi pemimpin dengan penuh kesederhanaan. Nabi Muhammad adalah pemimpin dengan gambaran hidup sederhana tidak bergelimang kemewahan.

Al Quran bukan hanya dibaca tanpa paham isinya, belajar memahami isinya dengan baca Ebook logika Tuhan

Kepemimpinan yang kuat membentuk karakter bangsa Iran punya semangat persatuan tinggi untuk mendukung para pemimpin dan bangsanya. Di bawah bimbingan Al Quran, rakyat Iran berhasil membangun karakter masyarakat sabar, optimis, nasionalis, berani mati karena Allah demi negara Iran berdaulat secara militer, politik, dan ekonomi. 

Iran telah membuktikan pada dunia, dengan berpedoman pada Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan dan karkater, Iran tidak menjadi negara agresor. Iran menjadi bangsa tangguh dengan kemandirian dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perang yang terjadi tahun 2026, dipicu oleh serangan agresi militer Amerika Serikat ke Iran. 

Iran berpegang teguh pada Al Quran sebagai bangsa berdaulat anti penjajahan. Iran membuktikan, pengembangan teknologi senjata bukan untuk penjajahan, tapi untuk menjaga kedaulatan negara. Apa yang dilakukan Iran bisa ditiru oleh bangsa-bangsa di dunia. 

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran, 3:200).***

Wednesday, March 18, 2026

AGAMA BISA HAMBAT LAHIRNYA PEMIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kampus-kampus minim lahirkan pemikir-pemikir baru, karena diajari hanya mengikuti pemikir-pemikir impor sehingga jadi pengekor. Kondisi ini terjadi didukung penelitian yang dilakukan terlalu normatif, adminsitratif, dan tidak solutif. Penelitian tidak berbasis rasa ingin tahu, dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. 

Pendidikan agama di pesantren, dan sekolah, menjadi ritual ajaran moral yang tidak mendorong santri dan murid jadi penyelesai masalah dengan semangat menciptakan berbagai produk budaya. Pendidikan tidak jelas arah karena tidak berorientasi pada penyelesaian masalah. 

Kehidupan jorok bertahun-tahun terpelihara karena pendidikan tidak menyelesaikannya. Murid-murid di usia dini sibuk ajari mewarnai, hafalan-hafalan doa, dan tari-tarian untuk acara seremonial, tapi masalah kebersihan tidak jadi pelajaran dasar yang dijadikan patokan keberhasilan pendidikan. 

Kemiksinan akut terpelihara karena pengajaran sedekah sebatas memberi dalam bentuk fisik, bukan membuat sistem ekonomi yang bisa mensejahterakan banyak orang secara berkelanjutan. Pengajaran sedekah sebenarnya ada dan diterapkan dalam prinsip ajaran agama yaitu saling mensedekahi.  

Ajaran agama yang dianut lebih cenderung pada ritual, doa, dan perayaan. Nabi Muhammad mengajarkan bahwa agama dalah akhlak mulia. Seharusnya agama mengajar akhlak mengelola uang, sampah, air, udara, pohon, hutan, sungai, dan informasi supaya jadi berkah. Agama menjadi penghambat kemanjuan zaman karena proses pemahaman terlalu kaku dan sempit. 

Pemikiran-pemikiran dalam beragama dijaga oleh guru-guru mursid yang kadang berubah menjadi tuhan-tuhan selain Tuhan. Guru-guru memagari murid-murid untuk berpikir, agar tidak keluar dari jalur pikiran gurunya secara turun-temurun lintas abad dan generasi. Padahal Allah memeirntahkan agar berpikir supaya bisa refleksi memperbaiki kekurangan diri.

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?" (Al Baqarah, 2:44).

Narasi beragama di Indonesia membawa narasi dari abad ke 7 hingga sekarang relatif sama, menarasikan ajaran agama dari kelompok tertentu. Narasi beragama dari abad 7 dilembagakan melalui lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama. Kekakuan narasi agama inilah yang membuat umat tidak tumbuh dan cenderung stagnan dalam berpikir. 

Agama yang dinasrasikan di Indonesia cenderung menyempitkan pemahaman Al Quran menjadi pemahaman dari satu sudut pandang. Khasanahnya tidak berkembang dan kajian Al Quran tentang sain dan teknologi tidak berkembang di sekolah maupun kampus. Al Quran dipahami hanya menarikan ajaran nilai dan moral, itupun bersifat parsial. 

Artinya keterbelakangan umat beragama didukung oleh terlalu ketatnya guru-guru dalam menjaga pola pikir murid-muridnya, agar tidak keluar dari kelompoknya. Guru-guru agama pun cenderung mencari aman dengan cukup menarasikan ajaran dari guru terdahulu tanpa kajian kritis dikaitkan dengan perubahan budaya masyarakat. 

Kekakuan bepikir terlihat pada budaya membaca Al Quran tanpa memahami makna, dilakukan menjadi tradisi berulang setiap tahun. Kondisi ini terjadi karena keberadaan guru-guru agama yang bisa mengajarkan ilmu-ilmu dari Al Quran kepada murid sangat minim. Kualitas guru agama sudah terstandar tidak berubah mengikuti pemikiran guru-guru agama terdahulu.

Prinsip-prinsip dasar ajaran agama tidak berubah, tetapi metode pengajaran akan berubah, karena alat-alat hidup berubah. Sistem ekonomi, politik, budaya, berubah seiring dengan perkembangan alat-alat hidup yang digunakan manusia berubah.

Teknologi informasi telah mengubah tatanan hidup manusia dari manual menjadi digital. Ajaran agama tidak berubah tetapi cara pembelajaran, materi pengajaran, yang ditonjolkan harus sesuai dengan kebutuhan.  Umat beragama jangan sampai dimakan zaman.

Teknologi perang saat ini sudah berubah, bukan lagi konvesional perang rudal, tetapi mengkombinasikan dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk akurasi sasaran. Ide-ide tentang negara, kedaulatan, kekuasaan, kesejahteraan, perdaiamain, untuk seluruh alam dikembangkan dari sumber ajaran agama. Al Quran sebagai sumber dasar pemikiran yang suci, dan setiap orang bisa menginterpretasi sesuai kemampuan masing-masing.

Agama tidak hanya berbicara hal-hal yang batiniah, tetapi memperhatikan masalah lahiriyah. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadiid, 57:3).

Era informasi mengubah sudut pandang agama menjadi lebih terbuka, mengajarkan kelimpahan rezeki, kecerdasan, literasi teknologi, kesejhteraan, perdamaian, kebersihan, cinta lingkungan, dan jangkau pengajaran agama bersifar global bukan komunal. Konsep pengajara bukan lagi kelompok-kelompok terentu tapi untuk seluruh umat manusia di muka bumi.

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba, 34:28). Sudah tidak zamannya aliran-aliran, karena saat ini semua orang bisa tahu dimana kelemahan dan kekurangan setiap kelompok. Saatnya muslim bersatu untuk melahirkan pemikir-pemikir untuk saling membantu menutupi kekurangan.***


    

 

Tuesday, March 17, 2026

KEMULIAAN PEREMPUAN DALAM AL QURAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di dalam Al Quran, perempuan dimuliakan Allah, maka di dalam hadis Nabi Muhammad kedudukan perempuan tiga derajat lebih tinggi dari laki-laki. Banyak fakta di dalam Al Quran, perempuan berada pada posisi mulia.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) RAHIM (SILATURAHMI). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa, 4:1).

Amina Wadud seorang penafsir melihat bahwa pada surat An Nisaa ayat satu ada posisi perempuan yang istimewa. Perintah bertakwa kepada Allah ada kaitannya dengan memelihara rahim yang identik dengan perempuan. 

Beliau menafsirkan Allah mengamanatkan pada seluruh manusia untuk menjaga, menghormati, memuliakan  kaum perempuan yang telah melahirkan manusia dari rahim perempuan. Untuk itulah Al Quran menamai salah satu suratnya dengan perempuan (An Nisaa). 

Perihal ayat kepemimpinan, laki-laki dan wanita sama-sama memiliki kelebihan. "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (An Nisaa, 4:34).

Ibn Arabi memahami ayat ini dengan memberi peluang kepada laki-laki dan perempuan punya jiwa pemimipin. Beliau menjelaskan kata Arijalu adalah ruh dan Nisaa adalah jasad. Artinya baik laki-laki dan perempuan harus bisa mengaktifkan ruhnya menjadi pemimpin jasadnya. 

Garis tengahnya laki-laki dan perempuan bisa jadi pemimpin sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal ini dapat dipahami karena ada kalimat, "Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain". Kalimat ini bisa jadi laki-laki memiliki fungsi kepemimpinan dijalannya masing-masing. 

Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan jalannya masing-masing. "dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." (Al Lail, 92:3-4). Laki-laki dan perempuan berbeda bukan dalam bentuk hirarki. Mereka memiliki jalan hidup berbeda-beda, maka lebih tepatnya laki-laki dan perempuan sederajat untuk saling melengkapi. 

Peran laki-laki dan perempuan bisa jadi sebagai pengambil keputusan secara kolaboratif dengan tidak saling merendahkan. Sifat laki-laki yang agresif diimbangi dengan sifat perempuan yang asertif. Maka dalam menjaga keharmonisan hidup harus dijaga keseimbangan peran dari keduanya. 

Ketika laki-laki menjadi pengambil keputusan, diharapkan perempuan menjadi pengendali. Posisi laki-laki dan perempuan menjadi sederajat sama-sama punya peran penting. Jika dibaratkan laki-laki punya kemampuan intelektual, maka perempuan punya kemampuan emosinal. Intelektual bersifat aktif, dan emosinal bersifat pasif. 

Keunggulan perempuan diisyaratkan oleh Allah dalam Al Quran memiliki peran besar dalam melahirkan keturunan yang tidak dilakukan oleh laki-laki. Ayat Al Quran ini bisa jadi dasar hadis Nabi Muhammad yang memberikan penghargaan pada perempuan tiga kali lebih besar dari laki-laki. 

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al Ahqaaf, 46:15).

Peran perempuan secara eksplisit dijelaskan dalam Al Quran, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Inilah dasar penghormatan Nabi Muhammad kepada kaum perempuan, dengan mendudukkan penghormatan pada perempuan tiga kali lebih tinggi dari laki-laki.

Jadi jelas, di dalam Islam posisi perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Al Quran bukan saja mendudukan laki-laki dan perempuan setara tetapi kaum perempuan lebih dimuliakan karena perannya yang tidak tergantikan laki-laki. Al Quran bukan hanya mengingatkan manusia tentang kesetaraan gender, tetapi memualiakan kaum perempuan karena jasa yang dimilikinya untuk umat manusia.***  

 


Saturday, March 14, 2026

SAATNYA BANGUN KEMANDIRIAN BELAJAR DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Dominasi geopolitik Amerika Serikat dan Israel yang sering kali memaksakan kehendak telah memicu kejenuhan luar biasa di panggung dunia. Kekuatan besar ini merasa memiliki kendali mutlak atas alur ekonomi, cadangan minyak, hingga infrastruktur teknologi informasi global. Noam Chomsky, intelektual terkemuka asal AS, berpendapat bahwa imperialisme modern ini bekerja dengan cara menekan kedaulatan negara lain demi kepentingan segelintir elit.

Dipahami oleh masyarakat dunia sekarang, Amerika Serikat sangat bernafsu menjadi pengendali dunia, dan penduduk dunia tidak memiliki nafsu untuk dikendalikan negara lain. Iran menjadi bukti kepada dunia bahwa setiap negara ingin tetap berdaulat.

Kini, manusia mulai bangun dan menyadari bahwa ketergantungan pada satu poros kekuasaan adalah jebakan yang melumpuhkan kreativitas bangsa. Kesadaran kolektif ini muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan sistemik yang selama ini dianggap sebagai kewajaran ekonomi global. Joseph Stiglitz, ekonom pemenang Nobel, menekankan bahwa sistem ekonomi yang tidak adil pada akhirnya akan memicu perlawanan dari negara-negara yang selama ini dipinggirkan.

Dunia sebenarnya masih sangat luas dengan kekayaan sumber daya yang belum terpetakan sepenuhnya secara mandiri. Setiap negara memiliki potensi unik untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus tunduk pada intimidasi teknologi atau blokade ekonomi tertentu. Ilmuwan lingkungan Vandana Shiva sering menyuarakan bahwa kemandirian sejati dimulai dari kedaulatan pangan dan benih yang terbebas dari monopoli korporasi global.

Iran menjadi bukti keajaiban dunia bahwa dengan blokade ekonomi berpuluh-puluh tahun, Iran tidak miskin, tetapi sebaliknya Iran menjadi negara sejahtera dan punya kreativitas, menciptakan senjata-senjata dengan teknologi sederhana tapi tepat guna. 

Transformasi digital kini memungkinkan distribusi pengetahuan terjadi secara horizontal, menghancurkan tembok monopoli informasi yang selama ini dijaga ketat. Masyarakat dunia mulai mengadopsi teknologi alternatif dan sistem keuangan desentralisasi untuk memutus rantai ketergantungan pada institusi konvensional. Manuel Castells, pakar sosiologi komunikasi, menyebut fenomena ini sebagai kekuatan jaringan yang mampu menggulingkan struktur kekuasaan lama yang kaku.

Iran menjadi satu-satunya negara yang mempu bertahan ditekanan global, dan bangkit menjadi bangsa kuat dan sulit digoyahkan. Pemerintah dan masyarakatnya beridiri kokoh mempertahankan kedaulatan negara. 

Pada akhirnya, kesadaran manusia adalah kunci untuk menciptakan tatanan dunia baru yang lebih seimbang dan manusiawi. Hidup mandiri bukan berarti mengisolasi diri, melainkan membangun kerja sama yang setara berdasarkan rasa hormat antarnegara. Sebagaimana dikatakan oleh Albert Einstein, perubahan nyata tidak akan terjadi dengan cara berpikir yang sama dengan saat masalah itu diciptakan.

SATU SUJUD DI LANGIT TEHERAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Langit Teheran memerah bukan karena senja, melainkan akibat rentetan rudal yang membelah kegelapan malam. Di sebuah gubuk kecil pinggiran kota, seorang pemimpin tua duduk tenang tanpa pengawal ataupun ambisi kekuasaan di pundaknya. Ia tidak bernafsu menguasai dunia, baginya kepemimpinan hanyalah titipan singkat untuk melayani sesama hamba.

Saat dentuman bom menggetarkan bumi, pria bersahaja itu justru menggelar sajadahnya dengan sangat perlahan. Ia melupakan hiruk-pikuk politik dunia dan memilih menenggelamkan diri dalam kekhusyukan yang amat dalam. Di atas gemuruh maut yang mendekat, ia meletakkan keningnya ke bumi dalam sujud terakhir yang paling sunyi.

Gedung itu runtuh seketika, mengubur sang pemimpin dalam diam tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Seorang pemuda yang menyaksikan keruntuhan itu dari kejauhan berteriak histeris menembus debu reruntuhan. Ia merasa dunia begitu kejam karena membiarkan orang sebaik itu mati dalam kehancuran yang mengerikan.

"Di mana keadilan Tuhan bagi orang yang setulus dia?" teriak si pemuda sambil mengepalkan tangan ke arah langit yang kelam. Air matanya jatuh menyatu dengan debu mesiu, meratapi kepergian sosok yang ia anggap sebagai pahlawan tanpa mahkota. Baginya, kematian tragis di tengah perang adalah sebuah ketidakadilan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Namun, di tengah kemarahannya, ia teringat sepotong ayat dari mushaf tua yang sering dibaca sang pemimpin. Adz-Dzariyat ayat 56 tiba-tiba bergema di kepalanya, mengingatkan kembali tujuan utama penciptaan jin dan manusia. Ia menyadari bahwa seluruh eksistensi ini sebenarnya hanya bermuara pada satu titik tunggal: menyembah Sang Pencipta.

Pemuda itu perlahan terduduk, menyadari bahwa setiap embusan napas manusia telah diatur dengan sangat presisi oleh Allah. Tak ada satu pun kejadian yang luput dari skenario-Nya, termasuk cara seseorang mengembuskan napas yang terakhir. Kematian di tengah bom bukan lagi terlihat sebagai tragedi, melainkan sebuah kepulangan yang telah dijadwalkan.

Keadilan Tuhan ternyata tidak diukur dari megahnya istana atau panjangnya usia di dunia yang fana ini. Sang pemimpin tidak kalah oleh perang, ia justru menang karena berhasil menjaga status penghambaannya hingga detik terakhir. Ia meninggal bukan sebagai korban politik, melainkan sebagai hamba yang sedang menjalankan tugas suci dari Tuhannya.

Cara kematian hanyalah pintu masuk, namun kondisi hati saat melangkah adalah kunci yang menentukan segalanya. Pria tua itu telah memastikan bahwa saat maut menjemput, ia sedang berada dalam posisi tertinggi seorang manusia: bersujud. Ia tidak sedang bekerja untuk dunia atau jabatan, melainkan murni bekerja untuk keridaan Allah semata.

Kesadaran baru mulai meresap ke dalam jiwa si pemuda, menghapus amarah yang tadi membakar dadanya dengan hebat. Ia memahami bahwa tugas manusia bukan untuk mengatur bagaimana cara mereka mati atau kapan perang berakhir. Tugas utama kita adalah memastikan bahwa setiap detik yang tersisa digunakan untuk mengabdi kepada-Nya tanpa henti.

Kini, di bawah sisa-sisa reruntuhan, keheningan terasa begitu damai dan penuh dengan makna spiritual yang mendalam. Seluruh hidup memang sepenuhnya urusan agama, mulai dari cara kita memimpin hingga cara kita kembali pulang. Si pemuda pun bangkit dengan tekad baru, menjalani sisa hidupnya sebagai pekerja Allah di muka bumi.***

Saturday, February 28, 2026

POPULERKAN SEDEKAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.


"Kalau umat mau maju tinggalkan zakat. Al Quran tidak terlalu mempoplerkan zakat, Zaman Nabi Muhammad zakat tidak populer, zaman para sahabat zakat tidak populer." Hal ini dikemukakan oleh Menteri Agama Prof. K.H. Nazarudin Umar, MA. 

Lalu Beliau mengemukakan ayat Al Quran, "Ambillah shodaqotan (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (At Taubah, 9:103).

Kalau kita cek dalam bahasa Arab di dalam Al Quran, yang diambil itu bukan zakat tapi shodaqotan (sedekah) untuk membersihkan dan menyucikan jiwa. Kata shodaqotan diterjemahkan menjadi zakat.

Berdasarkan keterangan ini, Menteri Agama mengajak untuk mempopulerkan sedekah. Berbicara zakat orang terikat dengan aturan-aturan syarat sahnya zakat. Sedangkan kalau berbicara sedekah tidak mengenal batasan-batasan rigid. 

Zakat itu standar kewajiban sedekah yang harus dikeluarkan oleh orang Islam supaya tidak kikir. Kadang-kadang ada orang kikir yang tidak mau sedekah. Ditentukanlah standar minimal sedekah bagi muslim yaitu zakat, untuk sekikir-kikirnya orang Islam.  

 Ketika orang mau bersedekah bisa kapan saja dan berapa saja. Tapi kalau orang mau zakat harus memenuhi syarat ketentuan, dan tidak dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Bagi orang ahli sedekah zakat itu urusan kecil, karena sedekahnya bisa melampaui kewajiban zakat.

Bisa dipahami kalau Menteri Agama berpendapat jangan mempopulerkan zakat tapi populerkan sedekah. Sebagai mana Nabi Muhammad mengajak kepada umat untuk menyuburkan sedekah. Dengan banyak muslim ahli sedekah bumi Indonesia akan berubah jadi negara maju.***

Saturday, February 14, 2026

MENGAPA NABI MUHAMMAD JADI TELADAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Al Ahzab, 33:21). 

Mengapa Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai contoh teladan bagi umat manusia? Nabi Muhammad sudah dijelaskan dalam Al Quran, bahwa Beliau telah dijadikan sebagai contoh teladan bagi umat manusia. Pertanyaannya mengapa tidak Nabi Isa atau Yesus. Kenapa tidak Nabi Ibrahim atau Musa?

Mari kita jawab masalah ini dengan pendekatan historis. Jarak terdekat antara manusia zaman sekarang dengan Nabi Muhammad kurang lebih 1400 tahun. Jarak dengan Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa (Yesus), kurang lebih 4000 s.d. 2000 tahun. 

Jarak antara hidup manusia sekarang dengan para nabi sangat panjang hingga ribuan tahun. Jarak paling dekat antara umat manusia sekarang dengan para nabi adalah dengan Nabi Muhammad yaitu sekitar 1400 tahun. Artinya apa? Kisah hidup Nabi Muhammad masih dapat digali karena jaraknya tegolong dekat.

Fakta berikutnya, mengapa Nabi Muhammad dijadikan contoh teladan umat manusia?  Kisah hidup Nabi Muhammad terekam utuh dari sejak dalam kandungan, lahir hingga kematiannya di usia 63 tahun. Fakta ini terekam dikolektif memori umat Islam di seluruh dunia. Kisah nabi Muhammad direkam oleh para ahli sejarah dan melahirkan ribuan penulis kisah hidup Nabi Muhammad. 

Bukti-bukti fisik kehadiran Nabi Muhammad di muka bumi sebagai rasul masih ada hingga sekarang, dan didatangi oleh umat Islam di seluruh dunia melalui ibadah haji dan umrah. Dalam kegiatan haji dan umrah, jejak-jejak Nabi Muhammad di Mekah dan Madinah dibuktikan oleh umat Islam.

Pemikiran, ucapan, tindakan Nabi Muhammad dicatat dalam penelitian ketat melalui seleksi hadis-hadis shahih dilakukan para peneliti hadis dengan tingkat kejujuran dan integritas tinggi. Para penutur hadis diteliti berdasarkan integritas dan kejujurannya oleh peneliti berintegritas tinggi. 

Melalui para sahabat terdekat Nabi Muhammad, wahyu yang diterima Nabi Muhammad dikumpulkan dalam satu musaf dikenal dengan Al Quran. Berkat kejujuran dan integritas sahabat-sahabat terdekat Nabi Muhammad, Al Quran hingga sekarang terpelihara tidak bercampur dengan pemikiran manusia. 

Berdasar bukti-bukti ilmiah dan berbagai fakta yang terkandung dalam Al Quran, dibandingkan dengan kitab-kitab suci yang dimiliki agama selain Islam, telah terbukti bahwa apa-apa yang dikabarkan di dalam Al Quran mengandung kebenaran.

Inilah jawaban terakhir yang menjadi alasan kuat Nabi Muhammad dijadikan sebagai contoh teladan untuk umat manusia. Nabi Muhammad di dalam Al Quran, digambarkan sebagai manusia pada umumnya manusia.

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (Al Kahfi, 18:110).

Nabi Muhammad manusia yang hidup layaknya manusia, segala prilakumnya bisa ditiru manusia, dan kisah hidupnya terekam dalam Al Quran, hadis, dan kisah-kisah sejarah. Nabi Muhammad bukan Tuhan, bukan malaikat, sehingga Allah menjadikannya contoh bagaimana hidup dijalan Allah melalui keteladanan Nabi Muhammad.***


 

INDONESIA BELAJAR MANDIRI DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran...