Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Iran tampil menjadi satu-satunya negara yang berani terang-terangan hadapi Amerika Serikat. Dunia kaget dengan kemampuan teknologi perang Iran dan kekompakkan masyarakat mendukung rezim di Iran. Dunia kagum dengan sistem pertahanan Iran dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Rezim Iran menjadi bukti pada dunia bahwa Islam sebagai landasan dalam sistem bernegara bisa jadi kekuatan dan kesejahteraan masyarakat. Iran menjalani masa embargo ekonomi, berubah menjadi negara berdaulat secara ekonomi dan teknologi.
Berdasarkan pengamatan ada beberapa hal yang membuat Iran bisa berubah jadi negara kuat padahal selama 47 tahun mendapat embargo ekonomi. Penulis mengkaji dengan menggunakan Al Quran sebagai sudut pandang, teori, dan fakta dilapangan sebagai bukti empiris.
Pertama, hal yang membuat Iran bisa berubah menjadi negara kuat adalah embargo ekonomi selamat 47 tahun. Teorinya bisa dipahami dari Al Quran, bahwa kesulitan adalah sebab dari kemudahan. Artinya kesulitan yang dihadap dapat berubah menjadi penemuan-penemuan terbaru yang menjadi solusi dalam menjalani kesulitan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ( Alam Nasyrah, 94:5-6).
Embargo selama 47 tahun, telah mengubah bangsa Iran menjadi bangsa dengan kemampuan resiliensi tinggi. Teori-teori psikologi banyak mengungkap bahwa kekuatan lahir dari kesulitan-kesulitan, dan kemalangan hidup yang dihadapi dengan kesabaran. Stolz mengungkap dalam teorinya dikenal Adversity Quotion (AQ), bahwa kemampuan bertahan hidup dalam kondisi sulit adalah keunggulan.
Kesulitan melahirkan manusia-manusia kreatif dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan. Iran selama masa embargo berhasil mengembangkan berbagai teknologi pertahanan dengan biaya murah menjadi pendukung bagi kemandirian dan kedaulatan negara.
Kedua, keyakinan terhadap Tuhan dan akal sehat. Kemampuan bertahan dalam kondisi sulit tidak semata-mata terjadi tetapi terbentuk karena keyakinan. Bangsa Iran termasuk kaum intelek yang memahami Al Quran tidak sebatas mantra-mantra atau kumpulan doa. Keyakinan bangsa Iran bersandar pada keyakinan pada kitab suci Al Quran sebagai jalan hidup, pola pikir, dan sumber ilmu pengetahuan.
Bagi bangsa Iran, Al Quran adalah sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta motivasi untuk keluar dari krisis dengan bimbingan Tuhan. Sijjil adalah salah satu senjata Iran mematikan terinpsirasi dari Al Quran. Drone-drone Shahed yang mematikan adalah burung-burung Ababil yang berhasil mengalahkan pasukan Abrahah.
Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan. (Al Fiil, 105: 3-5).
Ketiga, Iran membangun karakter bangsanya berlandaskan pada Al Quran. Para pemimpin tertinggi Iran menjadi teladan bagi rakyatnya. Almarhum Ali Khamenei sampai akhir khayatnya menjadi pemimpin dengan penuh kesederhanaan. Nabi Muhammad adalah pemimpin dengan gambaran hidup sederhana tidak bergelimang kemewahan.
Kepemimpinan yang kuat membentuk karakter bangsa Iran punya semangat persatuan tinggi untuk mendukung para pemimpin dan bangsanya. Di bawah bimbingan Al Quran, rakyat Iran berhasil membangun karakter masyarakat sabar, optimis, nasionalis, berani mati karena Allah demi negara Iran berdaulat secara militer, politik, dan ekonomi.
Iran telah membuktikan pada dunia, dengan berpedoman pada Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan dan karkater, Iran tidak menjadi negara agresor. Iran menjadi bangsa tangguh dengan kemandirian dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perang yang terjadi tahun 2026, dipicu oleh serangan agresi militer Amerika Serikat ke Iran.
Iran berpegang teguh pada Al Quran sebagai bangsa berdaulat anti penjajahan. Iran membuktikan, pengembangan teknologi senjata bukan untuk penjajahan, tapi untuk menjaga kedaulatan negara. Apa yang dilakukan Iran bisa ditiru oleh bangsa-bangsa di dunia.
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran, 3:200).***
No comments:
Post a Comment