Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Shalat adalah tiang agama, tapi tidak pernah ada yang bertannya pondasinya apa? Berpuluh-puluh tahun shalat dinarasikan sebagai tiang agama siapa yang tidak shalat telah merunthkan agama. Kenapa tidak ada yang bertanya pondasi apa?
Pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan untuk ditanyakan, karena terlalu takut untuk bertanya. Murid-murid kita memang sangat takut untuk bertanya. Padahal dari pertanyaan akan terbuka pemahaman-pemahanan mendalam untuk perbaikan kualitas manusia.
Ebook Belajar Pahami Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan
Kisah Nabi Muhammad ketika menerima wahyu di Gua Hira, dikabarkan Beliau bertanya kepada malaikat. Ketika disuruh membaca, "Apa yang harus saya baca?". Kisah Nabi Muhammad bertanya pada Malaikat, ternyata mengandung pelajaran penting dalam pembelajaran.
Bertanya ternyata menjadi metode belajar agar setiap orang belajar mendalam dan terarah pada tujuan. Mengapa bertanya tidak pernah dinarasikan sebagai metode belajar pada murid? Bahkan ada salah kaprah bahwa bertanya dicap dengan ketidakcerdasan sehingga murid semakin takut bertanya.
Nabi Muhammad memang pernah bersabda, "Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu." (HR. Imam Al-Baihaqi). Tapi kalau kita sadar seharusnya bertanya tiang tidak akan berdiri tanpa pondasi.
Lalu pondasi dari shalat apa? Karena tiang tidak akan kokoh tanpa pondasi. Saya berpendapat pondasi dari shalat adalah membaca. Argumennya karena perintah Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah membaca.
Kaitan dengan membaca, di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari & Muslim). Membaca Al Fatihah adalah syarat berdirinya shalat. Membaca Al Fatihah bukan perkara melapalkan bacaan, tapi memahami secara mendalam ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Fatihah.
Ada ungkapan yang sering disandarkan pada pesan kenabian (meski sebagian ulama menyebutnya sebagai perkataan Imam Syafi'i yang berakar dari ajaran Nabi): "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu."
Dari fakta-fakta ini, diduga kuat bahwa pondasi dari shalat adalah ilmu, dan ilmu diperoleh dengan membaca sebagaimana Allah perintahkan pertama kali kepada Nabi Muhammad. Ilmu menjadi kunci bagi setiap orang terkhusus muslim untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Membaca untuk mendapatkan ilmu harus jadi pondasi tegaknya shalat sebagai tiang agama.
Inilah landasan berpikir mengapa dunia pendidikan harus dilandasi dengan melatih murid memiliki pondasi kuat dengan membiasakan atau membudayakan senang membaca. Pondasi ini gagal dinarasikan umat Islam dalam dunia pendidikan, padahal cukup jelas perintah pertama adalah bacalah dengan makna lain adalah berpengetahuanlah!
Urutan logikanya sangat jelas di dalam Al Quran, perintah membaca mendahului perintah shalat. Dugaan semakin kuat bahwa Allah perintahkan membaca agar orang-orang beriman paham mengapa harus mendirikan shalat.
Ebook Mendalami Isi Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).
Mengapa membaca menjadi luput dari ingatan orang-orang beriman? Bisa jadi selama ini membaca tetapi tidak membaca, atau faktanya memang kita telah gagal membaca kitab suci, sehingga kita mengabaikan kebiasaan membaca padahal itulah pondasinya shalat.***
No comments:
Post a Comment