Thursday, January 25, 2024

ISLAM ADALAH PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Jika kita pelajari kisah Nabi Muhammad SAW dan pahami ajaran Al Quran. Sebenarnya, Islam ajaran yang membangun pribadi seseorang menjadi orang yang berserah diri pada Allah. Orang-orang yang berserah diri pada Allah, tandanya dia tidak akan terlalu ngotot untuk kekuasaan di dunia. 

Namun demikian jangan kita memandang lemah kepada orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Karena orang-orang yang berserah diri kepada Allah hanya takut kepada Allah. Namun demikian, tidak berarti karena hanya takut kepada Allah dia akan berbahaya bagi umat manusia. 

Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan hanya takut kepada Allah, dia juga taat kepada Allah. Dia mengikuti akhlak sebagai yang diajarkan oleh akhlak Allah. Di dalam keterangan hadis, Allah lebih senang dikenali oleh makhluknya sebagai maha pengasih dan maha penyayang. 

Demikian juga di dalam Al Quran, sifat dan akhlak Allah yang sering diulang-ulang diingat oleh umat Islam adalah maha pengasih dan penyayang sebagaimana terdapat dalam surah Al Fatihah dan diulang-ulang dalam shalat minimal 17 rakaat tiap hari.

Jika orang-orang Barat takut dengan ajaran Islam, maka sesungguhnya dia belum mengenal ajaran Islam. Padahal kalau saja orang-orang Barat yang dikatakan literasi tinggi mau membaca Al Quran mereka pasti akan mengenal Islam sebagai ajaran yang membentuk pribadi-pribadi agung. 

Setelah terjadi genosida oleh bangsa Israel terhadap Palestina, rupanya banyak orang-orang Barat penasaran dan membaca Al Quran. Hasilnya, mereka mempelajari Al Quran dari aslinya bukan dari tafsiran-tafsiran yang mengatasnamakan ahli. Reaksi mereka sangat luar biasa, karena mereka tersadar bahwa isi Al Quran sangat jauh apa yang dikabarkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang katanya ahli. 

Banyak orang-orang Barat tercerahkan setelah genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Ternyata prilaku orang-orang Palestina lebih beradab dibanding bangsa Israel yang selalu mengatakan dirinya cinta damai. Kini cara-cara hidup Islam menyebar ke seluruh dunia. 

Saya berpikir, Islam tidak hendak menjadikan dunia dalam satu kekuasaan Islam, tetapi Islam mengajarkan kepada seluruh dunia untuk hidup damai sejarah, saling tolong menolong, saling menghormati hak orang lain, atas nama Tuhan Yang Maha Esa.

Fenomena di awal abad 21 ini saya melihat, cara-cara pandang Islam sudah menyebar ke seluruh penduduk dunia. Masyarakat Amerika Serikat, Eropa, Australia, saya menyaksikan mereka menyuarakan hidup damai dan saling menghargai hak hidup antar sesama. Hidup dengan kesetaraan hak sebagai manusia adalah cara pandang Islam, yang kini sudah disuarakan ke seluruh dunia. 

Namun demikian, para pemimpin Amerika Serikat, Eropa dan Australia, masih berpikir atas dasar kepentingan. Suatu saat jika mereka tidak segera mengikuti pola pikir Islam yang sedang berkembang di seluruh dunia, maka kekuasaan mereka akan dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri. 

Kisah revolusi Perancis dimana rakyat menghukum rajanya sendiri, akan terjadi di Amerika Serikat dan Eropa jika mereka tidak segera mengubah cara pandangnya tentang dunia. Para pemimpin Eropa dan Amerikat Serikat hanya sedang menunggu waktu, apakah mereka akan cepat berubah haluan atau akan tetap bersebrangan dengan cara pandang masyarakatnya. 


Islam tidak akan datang membawa pasukan menaklukkan sebuah bangsa, Islam akan datang masuk pada hati setiap orang dan akan menjadi tatanan hidup damai, adil, sejahtera, saling bekerjasama, saling menolong, saling menutupi kekurangan, dan menandang kesetaraan antar bangsa.

Jadi pada masyarakat dunia tenang saja, di dalam ajaran Islam tidak ada perintah untuk menguasai sebuah bangsa atau negara, ajaran Islam hanya menugaskan kepada seluruh umat manusia untuk mengajarkan dan memberi kabar gembira bahwa dengan taat pada satu Tuhan, hidup manusia akan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Musuh-musuh kalian adalah cara pandang pemimpin kalian yang rasis, tidak menghargai hak manusia, dan mendukung genosida. Jika kalian masih tetap suka pada pemimpin rasis dan tidak berprikemanusiaan, maka lawan kalian bukan bangsa-bangsa di dunia tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka perhatikan saja bagaimanan bangsa-bangsa hancur, bukan karena serangan dari luar tapi ulah para pemimpin dan masyarakat yang menentang kehendak Tuhan.***   

Monday, January 22, 2024

MENGAPA DILARANG BENCI

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Artikel ini saya tulis berdasarkan pada fenomena di masyarakat. Ada orang yang rajin belajar agama, mendengarkan ceramah, dan mengikuti pengajian, tetapi dari kata-katanya masih terlihat memelihara kebencian dalam hatinya. Tidak habis pikir, sementara di dalam ajaran agama kita harus membebaskan diri dari rasa benci, tetapi kenapa kebencian bisa terpelihara justru pada orang yang mengaku taat beragama. 

Untuk itu saya ingin memberi pandangan, bahwa sebagai orang yang taat beragama seharusnya dirinya terbebas dari kebencian. Kebencian adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Jika orang memelihara kebencian maka dialah yang di dalam hatinya ada penyakit. 

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Nabi Muhammad SAW mengajari kita agar "berakhlak seperti akhlak Allah". (http://al-basair.com/id/news/133/berakhlak-dengan-akhlak-allah-swt). Akhlak Allah yang sering kita ingat dan baca tiap hari dalam shalat adalah Allah maha pengasih dan penyayang. 

Jika orang beragama memelihara kebencian, dia tidak meneladani akhlak Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika ada orang beragama menghujat, mencemooh, menista, sesungguhnya dia tidak taat beragama dan tidak mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. 

Orang-orang yang menyimpan rasa benci dalam hatinya, maka dia bisa tertutup dari hidayah. Rasa benci yang terpelihara dalam dirinya akan menutup diri dari kebenaran karena tertutup oleh kebencian yang dipelihara dalam hati. Bisa jadi apa yang kamu suka justru itu buruk dan bisa jadi apa yang kamu benci itu baik. Kisah ini Allah kabarkana dalam sebuah ayat Al Quran.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 2:216).

Etikanya kita boleh membenci sesuatu dan boleh mencintai sesuatu, tetapi kita harus tetap membuka diri untuk selalu memperbaiki diri, karena bisa jadi yang kita cintai tidak membawa kebaikan dan bisa jadi yang kita benci membawa kebaikan. Jangan sampai karena kita cinta pada sesuatu menutup diri dari kebaikan, dan jangan sampai karena benci kita menutup diri dari kebaikan. 

Allah maha mengetahui dan manusia banyak tidak tahunya. Artinya, selama kita hidup kita harus terus belajar menemukan kebaikan-kebaikan dari berbagai sisi. Sebab kita tidak tahu dari mana arahnya, dari siapa orangnya, dan apa sebabnya kita akan menerima kebaikan dari Allah. Untuk itulah, Allah memerintahkan kepada manusia untuk terus membaca segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, untuk mencari dan memperbaiki diri. 

Manusia selama hidupnya harus menjadi pembelajar sejati. Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa, Allah mengajari manusia. "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al 'Alaq, 96:4-5). Ayat ini menjadi tanda bahwa selama hidupnya manusia terus diajari Allah dan manusia harus jadi pembelajar sepanjang hayat. 

Para pembelajar dia akan terbebas dari kecintaan dan kebencian yang membabi buta. Para pembelajar akan selalu membuka diri pada setiap kejadian yang terjadi untuk jadi pelajaran bagi dirinya. Para pembelajar akan selalu mendapat kebaikan dari apapun yang terjadi di muka bumi ini, karena pembelajar selalu mencari dan menemukan kebermanfaatan agar dirinya menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. 

Jika, di dalam diri kita masih tersimpan rasa dengki, iri, dan benci, maka itulah tanda-tanda bahwa kita harus banyak membaca dan terus belajar tentang hakikat hidup di muka bumi ini. Jika kita masih senang atau spontan, melontarkan kata-kata kotor penuh kebenciaan pada siapapun, itu juga tanda bahwa kita harus banyak baca dan belajar sebagaimana Allah perintahkan.***


Monday, January 15, 2024

Membentuk Karakter dengan Neurosains

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Neurosains mempelajari sistem saraf mahluk hidup. Fokusnya adalah seluk-beluk otak manusia, kesadaran sebagai unsur utama pembentuk identitas manusia dan dikotomi tubuh dan jiwa pada setiap insan (Ikrar, 2016).

Gunggung Riyadi menjelaskan dari sudut pandang frekuensi, manusia terbagi menjadi delapan gelombang frekuensi, tiga di jantung dan lima di otak. Dijantnung dibagi menjadi very low frekuensi, low frekuensi, dan high frekuensi. Di otak terdiri dari lima frekuensi yaitu delta, teta, alpa, beta, dan gama. 

Seluruh sel manusia ada di delapan frekuensi tersebut. Jika sudah mengetahuinya, kita bisa menggetarkan masing-masing sel dengan gelombang frekuensi agar sel berfungsi. Untuk menggetarkan masing-masing sel Mas Gunggung menggunakan ritme pernafasan yang bisa menghasilkan gelombang. Pernapasan sebagai pembentuk frekuensi manual. 

Otak punya kemampuan melakukan perubahan pola. Neuroplastis adalah kemampuan otak untuk membentuk jaringan yang baru menimpa kebiasaan otak yang lama. Kemampuan neuroplastis ini menjadi dasar bahwa watak seseorang bisa diubah. 

Perubahan pola di otak menurut teori lama terjadi selama 21 hari. Pada teori terbaru perubahan di otak terjadi dalam waktu 60 sampai 66 hari. Jadi, sebuah tindakan jika dilakukan berulang-ulang maka kebiasaan akan terbentuk. Hasil riset tindakan yang berulang-ulang dilakukan sampai 254 hari, maka tindakan akan menjadi prilaku yang melekat kuat pada diri seseorang.  

Dalam sistem saraf ada saraf otonom terbagi menjadi dua simpatik dan parasimpatik. Saraf simpatik berkaitan dengan stres, dan syarat parasimpatik berkaitan dengan perbaikan. Untuk mengenal saraf harus kenal jantung. 

Fluktuasi detak jantung. dibalik setiap detak ada pesan. Jarak antara dua detak jantung, jika jarak diatas 50 disebabkan parasimpatik, jika kurang dari 50 disebabkan oleh saraf simpatik. Frekuensi jantung terbagi menjadi tiga yaitu very low (< 0,04 Hz), low (0,04 s.d. 0,15 Hz), high (0.14 s.d. 0,4 Hz). Low frekuensi saraf simpatik, dan high frekeunsi saraf parasimpatik. 

Mas Gunggung menggabungkan ilmu neurosian dan frekuensi yang dihasilkan pernafasan untuk mengaktifkan saraf di jantung dan di otak. Untuk mengaktifkan saraf di jantung dan otak membutuhkan tindakan berulang-ulang untuk membentuk sel jaringan baru di otak. 

Ritme pernafasan yang ditemukan oleh Mas Gungung dapat dipelajari untuk membantu dunia pendidikan dalam membentuk karakter anak-anak. Untuk meningkatkan kecerdasan otak, anak-anak bisa diajarkan untuk melakukan ritme pernafasan tertentu yang dilakukan berulang-ulang sebelum pembelajaran dimulai. 

Untuk itu kita membutuhkan ilmu Mas Gunggung untuk dikenalkan kepada para kepala sekolah, guru-guru, untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan performa kecerdasan otak. Mas Gunggung bisa jadi ilmuwan terkemuka yang bisa kita ajak berkolaborasi untuk membantu melahirkan anak-anak cerdas untuk menyiapkan Indonesia Emas 2045.*** 


Sunday, January 14, 2024

GERAKAN PENDIDIKAN INDONESIA RAYA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Sebagai pendidik di Indonesia kini saya akan mengampanyekan pendidikan "Indonesia Raya". Saya akan melakukan gerakan kesadaran untuk para pendidik di seluruh Indonesia untuk membangun pola pikir generasi Indonesia menjadi bangsa superior, berpikir besar untuk mensejahterakan dunia dan menghapuskan penjajahan di muka bumi. 

Pendidikan Indonesia Raya adalah era baru pendidikan Indonesia untuk menjadi bangsa berjaya di dunia. Langkah-langkah yang akan dilakukan mulai dari pola pikir dan pola tindak menjadi sebuah bangsa berperadaban tinggi dan berkuasa di dunia. 

Gerakan Pendidikan Indonesia Raya akan berusaha keras membangun kekuatan sumber daya manusia menjadi manusia-manusia kreatif mengelola sumberdaya alam Indonesia untuk kepentingan bangsa dan kemakmuran masyarakat dunia. Indonesia telah dianugerahi oleh Tuhan sumber daya alam melimpah. Semuanya harus diolah, dimanfaatkan, untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan penduduk dunia. 

Generasi bangsa Indonesia akan diajarkan pola pikir mandiri, semua kekayaan alam Indonesia harus diolah di Indonesia untuk kemakmuran Indonesia dan masyarakat dunia. Pabrik-pabrik pengolahan sumber daya alam Indonesia harus didirikan di Indonesia, diolah menjadi produk berkualitas untuk digunakan dalam negeri dan diekspor ke mancanegara.

Generasi bangsa Indonesia akan didorong untuk menjadi para investor pasif dan aktif membiaya perusahaan-perusahaan Indonesia. Generasi bangsa Indonesia harus menjadi investor untuk kemajuan ekonomi bangsa Indonesia. Mulai saat ini, dunia pendidikan akan mengampanyekan budaya berinvestasi di pasar modal, dengan target minimal 30% dari populasi penduduk Indonesia. 

Para pendidik di sekolah-sekolah dilarang mengajarkan hal-hal yang berbau pesimis, tetapi mereka harus mengajarkan hal-hal yang berbau optimisme bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang berkekuatan politik dan ekonomi di dunia. Para pendidik harus menyajikan bahan-bahan ajar yang membawa kebanggaan dan harapan berdasarkan fakta-fakta empiris yang mendukung bahwa Indonesia terlahir sebagai bangsa adidaya di dunia. 

Orientasi sejarah Indonesia harus diubah, yang tadinya hanya sebatas berita tentang keberhasilan Indonesia merdeka dari pejajahan, berubah menjadi fakta-fakta sejarah Indonesia yang memiliki segala potensi untuk menjadi bangsa besar di dunia. Kekuatan ekonomi pertanian, kelautan, dan perdagangan, harus disajikan di kelas-kelas untuk membangun kesadaran peserta didik bahwa Indonesia secara fakta memiliki kemampuan jadi bangsa besar.

Pendidikan agama harus diarahkan untuk mendorong para peserta didik menjadi manusia-manusia berkualitas tinggi dilandasi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai yang membawa pikiran besar sebagai manusia unggul yang bertanggung jawab memakmurkan kehidupan dunia. Kesadaran menjadi manusia unggul akan terus ditanamkan pada peserta didik secara masif hingga menjadi pola pikir bawah sadar peserta didik. 

Peserta didik akan dilatih menjadi manusia-manusia yang bisa membangun kolaborasi dengan seluruh bangsa di dunia, dengan mengatasnamakan kepentingan negara. Hilirasi industri dari berbagai jenis Industri akan diajarkan pada para peserta didik sebagai tanda bahwa bangsa Indonesia akan berangkat menjadi bangsa berkekuatan ekonomi dan politik dalam segala bidang.

Peserta didik akan diajarkan bahwa untuk menjadi bangsa besar, keberadaan media informasi harus dikontrol, dikendalikan, untuk memberitakan kebesaran-kebesaran bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa adidaya di dunia. Berita-berita luar negeri yang mendeskreditkan Indonesia harus diimbangi dengan berita-berita optimis tentang Indonesia. 

Melalui Gerakan Pendidikan Indonesia Raya, seluruh peserta didik harus paham, bahwa monopoli informasi oleh media-media asing yang melemahkan bangsa Indonesia harus dianggap sebagai tantangan untuk menghasilkan kreativitas diberbagai bidang untuk memunculkan keunggulan-keunggulan bangsa Indonesia. 

Melalui Gerakan Pendidikan Indonesia Raya, para peserta didik harus terus dilatih mengenali masalah yang ada pada diri dan lingkungannya, dan didorong untuk menemukan solusinya dalam bentuk ide, prilaku, dan teknologi tepat guna. Pola pendidikan ini harus terus dilakukan setiap hari di seluruh pelosok Indonesia. Pola pikir saling apresiasi terhadap berbagai gagasan yang ditemukan harus dibangun dan dikondisikan oleh para pendidik.


 

Wednesday, January 3, 2024

MENGELOLA SEKOLAH DENGAN LOGIKA TUHAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya muslim, banyak berdiri masjid-masjid besar dengan kapasitas ratusan jamaah. Sekolah yang memiliki masjid-masjid dengan kapasitas besar, mereka telah memiliki potensi besar untuk membangun generasi berkarakter dan prestasi unggul. 

Sarana prasarana masjid yang besar bisa jadi keunggulan sekolah, jika visi pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan potensi sarana masjid yang ada. Namun ada dua tantangan yang harus dihadapai ketika sekolah memiliki sarana masjid yang besar. Pertama sistem pengelolaan masjid masih kolot. Kedua, pemahaman konsep pendidikan yang belum mengoptimalkan potensi agama. 

Pemahaman pendidikan keagamaan selalu berhenti pada ritual dan hafalan doa-doa. Implementasi agama dalam menyelesaikan masalah lingkungan dan sosial kurang dielaborasi. Padahal di Indonesia, negara sudah menjamin kebebasan beragama didasari oleh sila pertama Pancasila. 

Sekolah yang memiliki masjid dengan kapasitas besar bisa dijadikan sebagai basis pendidikan agama yang bisa mendorong umat beragama berdaya saing. Secara psikologi, agama memiliki kekuatan untuk memotivasi orang untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama umat manusia. 

Optimalisasi masjid di sekolah sebagai sumber kekuatan sumber daya manusia dapat diimplementasikan dengan mengikuti petunjuk Al Quran. 

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah, 9:18).

Masjid Jogokarian di Yogyakarta, telah berhasil membuktikan memberdayakan masyarakat melalui masjid. Ustad Muhammad Jazir ASP adalah sosok inspiratif bagi dunia dalam memberdayakan masyarakat melalui revolusi manajemen masjid.

Dengan mengikuti sunah Nabi Muhammad dalam mengelola masjid, Ustad Muhammad Jazir ASP berhasil menjadikan masjid sebagai pusat kekuatan dalam membangun sumber daya manusia dan pusat kesejahteraan masyarakat. Ide ini bisa ditiru oleh sekolah-sekolah yang memiliki sarana masjid dengan kapasitas besar. 

Konsep dasar pendidikan yang berpusat pada masjid adalah memakmurkan masjid sebagai tempat shalat dan mendorong para siswa memiliki semangat berbagi dengan sesama (zakat/sedekah). Dua konsep dasar ini sebagai implementasi dari memwujudkan generasi beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa.

Implementasinya, sekolah memiliki program bagi umat beragama untuk disiplin beribadah dilakukan berjamaah. Bagi siswa muslim, shalat berjamaah diupayakan menjadi budaya di sekolah. Kultur ini akan mendukung lingkungan sekolah disiplin dan tertib.

Selanjutnya budaya sedekah digerakkan menjadi karakter yang harus dilakukan oleh siswa setiap hari. Dana sedekah, dikelola oleh siswa untuk dimanfaatkan menciptakan program-program bermanfaat yang bisa menyelesaikan masalah di masyarakat. Siswa juga bisa diajarkan untuk mengembangkan wajaf produktif yang nantinya bisa menunjang pada kegiatan-kegiatan sosial di masjid. 

Dengan modal iman dan takwa serta kemampuan mengelola keuangan masjid, kelak kompetensi bisa bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari siswa. Mereka bisa menjadi motivator dan inovator ketika kembali ke masyarakat, dengan memberdayakan masjid-masjid yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. 

Dari hasil pengamatan, program shalat dan sedekah yang dibiasakan di sekolah, telah membangun kultur sekolah yang produktif. Prestasi-prestasi siswa meningkat dan kultur sekolah menjadi lebih tertib dan kondusif sebagai lingkungan pendidikan. 

Pendidikan berbasis manajemen masjid, dikerjakan sebagai fokus mewujudkan pendidikan karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berjiwa sosial tinggi. Kelak di masyarakat, manusia-manusia inilah yang akan selalu tergerak selalu peduli membantu menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat atas dasar dorongan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang maha esa. Inilah ciri masyarakat Indonesia yang unggul dan mensejahterakan bangsa.

Tantangannya adalah seluruh warga sekolah harus punya komitmen untuk menjaga shalat-shalat pada waktunya dilakukan bersama-sama secara berkelanjutan dan konsisten. Jika sekolah yang mampu menjaganya, Allah menjanjikan berbagai kebaikan akan diraih oleh sekolah sebagai miniatur sebuah negara.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al 'Araaf, 7:96).***


DUA SUDUT PANDANG KERAGURAGUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Keraguan memiliki dua sudut pandang. Keraguan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan ker...