Monday, January 22, 2024

MENGAPA DILARANG BENCI

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Artikel ini saya tulis berdasarkan pada fenomena di masyarakat. Ada orang yang rajin belajar agama, mendengarkan ceramah, dan mengikuti pengajian, tetapi dari kata-katanya masih terlihat memelihara kebencian dalam hatinya. Tidak habis pikir, sementara di dalam ajaran agama kita harus membebaskan diri dari rasa benci, tetapi kenapa kebencian bisa terpelihara justru pada orang yang mengaku taat beragama. 

Untuk itu saya ingin memberi pandangan, bahwa sebagai orang yang taat beragama seharusnya dirinya terbebas dari kebencian. Kebencian adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Jika orang memelihara kebencian maka dialah yang di dalam hatinya ada penyakit. 

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Nabi Muhammad SAW mengajari kita agar "berakhlak seperti akhlak Allah". (http://al-basair.com/id/news/133/berakhlak-dengan-akhlak-allah-swt). Akhlak Allah yang sering kita ingat dan baca tiap hari dalam shalat adalah Allah maha pengasih dan penyayang. 

Jika orang beragama memelihara kebencian, dia tidak meneladani akhlak Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika ada orang beragama menghujat, mencemooh, menista, sesungguhnya dia tidak taat beragama dan tidak mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. 

Orang-orang yang menyimpan rasa benci dalam hatinya, maka dia bisa tertutup dari hidayah. Rasa benci yang terpelihara dalam dirinya akan menutup diri dari kebenaran karena tertutup oleh kebencian yang dipelihara dalam hati. Bisa jadi apa yang kamu suka justru itu buruk dan bisa jadi apa yang kamu benci itu baik. Kisah ini Allah kabarkana dalam sebuah ayat Al Quran.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 2:216).

Etikanya kita boleh membenci sesuatu dan boleh mencintai sesuatu, tetapi kita harus tetap membuka diri untuk selalu memperbaiki diri, karena bisa jadi yang kita cintai tidak membawa kebaikan dan bisa jadi yang kita benci membawa kebaikan. Jangan sampai karena kita cinta pada sesuatu menutup diri dari kebaikan, dan jangan sampai karena benci kita menutup diri dari kebaikan. 

Allah maha mengetahui dan manusia banyak tidak tahunya. Artinya, selama kita hidup kita harus terus belajar menemukan kebaikan-kebaikan dari berbagai sisi. Sebab kita tidak tahu dari mana arahnya, dari siapa orangnya, dan apa sebabnya kita akan menerima kebaikan dari Allah. Untuk itulah, Allah memerintahkan kepada manusia untuk terus membaca segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, untuk mencari dan memperbaiki diri. 

Manusia selama hidupnya harus menjadi pembelajar sejati. Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa, Allah mengajari manusia. "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al 'Alaq, 96:4-5). Ayat ini menjadi tanda bahwa selama hidupnya manusia terus diajari Allah dan manusia harus jadi pembelajar sepanjang hayat. 

Para pembelajar dia akan terbebas dari kecintaan dan kebencian yang membabi buta. Para pembelajar akan selalu membuka diri pada setiap kejadian yang terjadi untuk jadi pelajaran bagi dirinya. Para pembelajar akan selalu mendapat kebaikan dari apapun yang terjadi di muka bumi ini, karena pembelajar selalu mencari dan menemukan kebermanfaatan agar dirinya menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. 

Jika, di dalam diri kita masih tersimpan rasa dengki, iri, dan benci, maka itulah tanda-tanda bahwa kita harus banyak membaca dan terus belajar tentang hakikat hidup di muka bumi ini. Jika kita masih senang atau spontan, melontarkan kata-kata kotor penuh kebenciaan pada siapapun, itu juga tanda bahwa kita harus banyak baca dan belajar sebagaimana Allah perintahkan.***


No comments:

Post a Comment

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.  Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya....