Wednesday, September 21, 2022

BEDANYA TRADING SAHAM DENGAN JUDI ONLINE

OLEH: TOTO SUHARYA

Diskusi dengan alumni yang kebetulan sudah investasi saham di pasar modal. Pembahasan diskusi fokus pada jual beli saham di pasar modal. Dari hasil pengamatan di lapangan, masyarakat masih banyak yang berprasangka bahwa invesatasi saham dikaitkan dengan judi dan haram. Mereka juga sering menyebut jual beli saham dengan main saham. Mental blok ini terjadi pada masyarakat dari berbagai kelas sosial. Sayang sekali, jual beli saham yang sudah dilegalisasi pemerintah dan ada fatwa MUI halal, masih dipersepsi judi oleh sebagian besar masyarakat. 

Padahal di tingkat SMA pelajaran saham dipelajari pada mata pelajaran ekonomi. Ditambah ada kunjungan siswa-siswa ke pasar saham di Bursa Efek Jakarta. Namun demikian persepsi masyarakat masih tetap saja bertahan dengan cerita dari mulut ke mulut bahwa jual beli saham dianggap judi. Padahal informasi di media sosial youtube, blog, insragram, dan media online sudah begitu terbuka bahwa saham adalah sebuah perdagangan. 

Dari hasil riset dari berbagai media, saham jelas berbeda dengan judi online. Perbedaan antara investor saham dengan tukang judi online bisa dilihat dari karkaternya. Investor saham sebelum investasi ada beberapa pengetahuan dasar yang harus dimiliki. Judi online modalnya tebak-tebakan, sedangkan investasi saham dibangun oleh ilmu pengetahuan. Beberapa ilmu yang harus dimiliki para investor saham yaitu ilmu tentang kemampuan membaca laporan keuangan perusahaan. Membaca faktor-faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham sepeti kebijakan politik, ekonomi, di dalam dan luar negeri. 

Para investor saham selalu membaca berita-berita terbaru tentang pertumbuhan ekonomi dan kebijakan-kebijakan psoitif untuk kesejahteraan rakyat. Para investor saham punya kebiasaan literasi tinggi. Pemikirannya rasional, selalu melakukan analisis, interpretasi, berdasarkan data dan fakta.  

Berbeda dengan tukang judi online, dia tidak punya budaya literasi. Tukang judi tidak perlu berita tentang kebijakan ekonomi dan politik. Tukang judi online tidak perlu analisis teknikal ataupun fundamental. Tukang judi online tidak paham laporan keuangan perusahaan. Cara berpikir mereka irasional, mistik, dan utopis, ingin untung dari enteng. Modal para penjudi online adalah untung-untungan berdasarkan angan-angan yang mereka miliki. Para penjudi sering mengambil keputusan dengan emosinya dan akalnya jarang berfungsi. 

Trading saham terjadi di pasar saham dengan informasi terbuka. Judi online dilakukan di pasar gelap dengan informasi tertutup. Judi online selalu mengiming-ngimingi pelakunya dengan keuntungan besar. Permainan judi online hanya sedikit gunakan otak, sekalipun digunakan otaknya untuk permainan curang, penipuan, dan merugikan orang lain. 

Logika investor saham adalah untung dan rugi, sedang logika penjudi online adalah kalah dan menang. Para investor di saat harga saham turun dituntut untuk sabar menunggu kembali pergerakan saham naik. Setiap tahun para investor akan mendapat keuntungan dari perusahan dalam bentuk dividen. Setiap pembangian deviden para investor akan diundang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Para penjudi online tidak terikat apa-apa. Setelah mereka kalah mereka tidak akan ada tunjangan, undangan rapat, atau pun bantuan dari bandar judi. Para penjudi yang kalah benar-benar akan bangkrut dan jatuh miskin. Risiko para penjudi online adalah harta kekayaan habis. Setelah jatuh miskin mereka akan jadi gembel. 

Mental seorang investor selalu belajar dan penuh perhitungan dalam bertindak. Kegagalan-kegagalan yang dialami akan jadi ilmu sebagai modal tumbuh menjadi manusia berkualitas tinggi. Kecerdasan investor bukan hanya intelegen, tetapi emosinal, dan spiritual sangat diperlukan. 

Jadi perbedaan antara investor saham dan tukang judi online bukan di otaknya. Perbedaan kontrasnya adalah isi otak tukang judi online adalah sampah dan isi otak investor saham adalah ilmu. Emosi tukang judi online dikendalikan hawa nafsu, sedangkan investor saham emosinya dikendalikan oleh akal sehat. Jelas sekali mental tukang judi dengan investor saham berbeda kontras. Namun kadang-kadang ada juga jual beli saham dengan mental tukang judi. So jadi, "syarat jadi investor saham harus terus belajar, dan jadilah pembelajar sepanjang hayat".*** 

Sunday, September 18, 2022

BELAJAR LITERASI FINANSIAL DARI NABI YUSUF

OLEH: TOTO SUHARYA

Dari laporan Rapor Pendidikan hasil Asesmen Nasional yang dilakukan Kemdikbudristek tahun 2021, menyajikan fakta bahwa generasi kita masih mengalami kelemahan dalam literasi. Dari kelemahan ini, generasi bangsa kita mengalami kelemahan dalam berbagai bidang. Literasi dasar yang dikaitkan dengan kebiasaan membaca, menjadi pokok permasalah dasar dalam dunia pendidikan. Semua kompetensi yang dimiliki manusia dapat ditingkatkan dengan membaca. Kunci dari membaca adalah memiliki perbendaharaan pengetahuan, karena manusia dewasa, damai, sejahteran, dan terampil, diawali dari pengetahuan. Atas dasar itu, Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad pada awal kenabiannya dengan memerintahkan membaca.

Secara spesifik, kali ini penulis akan menjelaskan pentingnya literasi finansial untuk meningkatkan kemampuan generasi bangsa kita dalam hal finansial. Literasi finansial bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa yang berdaya saing, dan menunjang pada kedaulatan ekonomi keluarga dan negara. Mental bangsa yang harus dibangun untuk generasi emas mendatang adalah menjadikan mereka sebagai manusia-manusia bermental sebagai investor menuju pada masyarakat merdeka finansial.

Pesan ini penulis kaitkan dengan pesan dari kitab suci Al Qur'an.  (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (Yusuf, 12:46-47).

Informasi dari Al Quran ini mengandung pesan agar masyarakat punya kemampuan mengelola pangan, finansial dalam waktu jangka panjang. Dalam siklus kehidupan akan terjadi sebuah kondisi kriris yang menuntut masyarakat bisa survival dalam kondisi tersebut. Sebagaimana kita saksikan, situasi krisis kerap berulang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Para peneliti berpendapat siklus kriris teresebut kerap terjadi tujuah, sepuluh, 100, dan 1000 tahunan. Saat ini, di awal abadi 21 kita sedang menghadapi krisis karena terjadi perubahan pola hidup masyarakat dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu terjadi kelangkaan dan keterbatasan sumber daya alam, dengan semakin bertambahnya jumlah manusia di seluruh dunia. 

Dalam hal literasi finansial masyarakat Indonesia masih rendah dalam hal investasi saham di pasar modal. Kecerdasan finansial yang perlu kita ajarkan kepada generasi bangsa sesuai pesan dari Nabi Yusuf adalah bertanam tujuh tahun, dan sedikit untuk kamu makan". Generasi bangsa harus diajarkan untuk berpikir jangka panjang dan berhemat untuk menjaga kestersesiaan pangan atau finansial. Prilaku konsumtif yang cenderung mewabah di abad sekarang, perlu diimbangi dengan pendidikan yang mengajarkan kepada masyarakat memiliki budaya produktif dan investatif. 

Budaya hidup menjadi kreditor yang sudah menjadi gaya hidup masyarakat, harus diubah menjadi gaya hidup hemat, investatif, dengan kemampuan mengelola kebutuhan pangan dan finansial dengan berpikir ke masa depan. Salah satu alternatif yang bisa diajarkan untuk melatih kemerdekaan finansial dengan mengajarkan investasi saham di pasar modal melalui pemanfaatan teknologi informasi smart phone yang sudah menjadi gaya hidup masyarakat.  

Investasi di pasar modal bukan lagi gaya hidup milik orang-orang dengan finansial besar. Dengan kemajuan teknologi informasi, investasi saham di pasar modal bisa menjadi gaya hidup seluruh lapisan masyarakat. Ini peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk memiliki mental berdaya saing, mental investor, yang akan ikut membangun kedaulatan bangsa dalam ekonomi. Investasi di pasar modal melalui teknologi infomasi bisa jadi sebuah gerakan gotong royong untuk menjaga kedaulatan dan menghidupkan ekonomi negara. 

Investasi saham di pasar modal bisa dipelajari dari berbagai saluran informasi yang ada di media sosial internet. Masyarakat selain belajar di ruang-ruang informal, harus didorong di ruang-ruang formal di sekolah pada usia tertentu. Warren Buffett sebagai investor legendaris dari Amerika, mengaku mulai investasi saham dari usia 11 tahun. Di Indonesia pengenalan investasi saham di pasar modal bisa dilakukan di pendidikan tingkat menengah. 

Pesan dari Nabi Yusuf untuk dunia pendidikan adalah ajari siswa untuk berpikir jangka panjang, ajarkan sejak dini kemampuan mengelola finansial. Salah satu ciri dari kedewasaan manusia adalah kemampuan mengelola finansial. Ciri dari kedewasaan finasial ditandai dengan kepemilikan mental berpikir jangka panjang dan tindakan-tindakan yang bersifat investatif. Salah satu tindakan yang biasa diajarkan untuk membangun mental ini adalah dengan mengajarkan gerakan menabung saham di  pasar modal di tingkat pendidikan memengah melalui pengelolaan uang saku siswa.

Negara-negara maju maju kemandirian finansial dibangun oleh masyarakat yang punya kesadaran investasi. Berdasarkan informasi dari berbagai media, Singapura memiliki 30% penduduknya punya budaya investasi. Amerika Serikat memiliki 70% penduduk berbudaya investasi. Informasi dari Vier Abdul Jamal sebagai legenda pasar saham Indonesia mengatakan, di Hongkong yang sekarang sebagai bagian dari China, obrolan masyarakat di saat kencing saja mereka ngobrol tentang saham. 

Dari tulisan ini, penulis berharap dengan gerakan nabung saham yang inspirasinya dari Nabi Yusuf, dapat memperbaiki kualitas mental bangsa, dan meningkatkan kedaulatan ekonomi bangsa di tingkat internasional. Semoga Indonesia di tahun 2045 menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Semua ini bisa dicapai dengan budaya yang diajarkan Nabi Yusuf pada masyarakat yaitu, "sedikit makan dan biarkan sebagian besar ditangkai".  Minimalnya tujuh tahun kita lakukan. Wallahu'alam.*** 


Saturday, September 17, 2022

TIGA PROGRAM MERDEKA BELAJAR UNTUK MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Kurang lebih 20 tahun merenung. Program pendidikan apa yang bisa dipakai siswa ketika setelah lulus nanti. Setelah diperhatikan, siapa siswa yang sukses setelah berpendidikan? Pengamatan mata telanjang, pandangan umum, sukses selalu berukuran pada material. Jika sukses ukurannya material, maka sudah pasti ada siswa-siswi yang tidak sukses. Jadi untuk apa berpendidikan?

Jika ukuran sukses adalah gelar akademik, kehormatan, dan kedudukan, maka sudah pasti juga ada yang tidak punya gelar, kehormatan, dan berkedudukan di mata masyarakat. Jadi, apa tujuan pendidikan? Ukuran pandangan keduniawian memang tidak bisa dijadikan ukuran sebagai kesuksesan, kecuali oleh mereka yang sudah punya sudut pandang materialistik. Orang materialistik cara berpikirnya, "pokoknya dunia". 

Dari sudut pandang lain, kesuksesan dari pendidikan adalah ketika siswa-siswi bisa berprilaku baik. Namun ketika melihat kenyataan, ada saja orang-orang yang berpendidikan prilakunya tidak baik. Kadang prilaku baik bersifat relatif tergantung geografi dan budaya masyarakat yang ada. Jadi apa peran pendidikan?

Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah mengantarkan siswa kepada kebahagiaan setinggi-tingginya. Hal ini dapat dicapai dengan membimbing siswa merdeka belajar, dan mendiri, dan bisa mengatur dirinya sendiri. Hasilnya, ada siswa yang merasa terancam, dan merasa cemas ketika berada di lingkungan pendidikan. Artinya ada siswa-siswa yang merasa tidak bahagia ketika berada dalam lingkungan pendidikan. Jadi apa sebenarnya pendidikan? 

Bisa jadi mungkin, pendidikan adalah usaha-usaha pembimbingan kepada siswa-siswi agar mereka bisa menemukan jalan hidupnya masing-masing. Pendidikan tidak ada kaitan dengan kesuksesan, karena pendidikan adalah proses. Sarana pembelajarannya adalah kegagalan, kekecewaan, kemenangan, kebahagian, yang sifatnya sementara. Untuk itu hasil penilaian pendidikan tidak bisa jadi alat ukur baku untuk menentukan keberhasilan siswa. Hasil penilaian dari sebuah pendidikan hanya sebagai informasi. 

Pengguna informasi adalah masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan dalam berbagai bidang. Kualitas pendidikan bukan terletak pada jumlah kejuaraan yang dihasilkan, tetapi ketelitian dalam mengidentifikasi dan mengungkap kepermukaan berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi. Namun, guru sebagai pelaku pendidikan akan merasa kesulitan jika harus mengungkap semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Apalagi jika jumlah siswanya ribuan. 

Hemat penulis, ada konsep dasar yang harus diajarkan dalam dunia pendidikan. Konsep dasar ini digunakan untuk memabngkitkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Ada lima dasar pendidikan yang penulis renungkan menjadi pondasi agar siswa-siswi bisa punya kemampuan menyelesaikan masalah hidupnya hingga kelak dia bisa mandiri dan menemukan kebahagian hidupnya. 

Pertama, pendidikan harus membangun harapan siswa-siswa tetap optimis. Siapapun agamanya, apapan rasnya, dari mana pun asalnya, dan apapun warna darah keturunannya, dia harus punya harapan setelah berpendidikan. Harapan dapat dibangun jika mereka punya informasi-informasi baik di memori otaknya. Lalu siapa yang selalu memberi harapan baik? Hal-hal yang sifatnya langsung duniawi tidak dapat permanen memberi harapan. Sudah jadi pemahaman umum, pemberi harapan mutlak adalah Tuhan Yang Maha Esa. 

Untuk itu, dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, merupakan dimensi pendidikan dalam rangka membangun harapan-harapan optimis siswa-siswi. Upaya-upaya membangun harapan siswa-siswi kepada Tuhan, bukan urusan satu mata pelajaran, tetapi harus jadi gerakan bersama, meliputi seluruh keyakinan agama dan dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Program bisa dilakukan di dalam ektrakurikuler, intra dan ko kurikuler. Pada prakteknya seluruh informasi yang dikaitkan dengan Tuhan harus berisi kabar gembira. Kemampuan kritis dan kreatif yang harus dilatih dalam dimensi ketuhanan adalah membaca seluruh kejadian menjadi harapan baik dari kacamata ketuhanan. Dimensi ini ada pada dimensi keterampilan kognitif.

Keimanan dan ketakwaan berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. literasi dan numerasi merupakan prorgam yang terletak pada dimensi keiman dan ketakwaan kepada Tuhan. Literasi membaca berbagai aspek kehidupan disimpan di ketuhanan karena literasi budaya dasar orang-orang beriman dan bertakwa sehingga membawa harus menjadi tugas setiap manusia berada di atas perintah Tuhan. 

Kedua, pendidikan harus membangun tindakan-tindakan siswa-siswi ke arah yang membawa dampak baik bagi orang lain. Pembelajaran proyek dilakukan dalam koridor mencari masalah, dan membantu memecahkan masalah untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Gotong royong, kolaborasi antar suku, agama, ras, dan bangsa, dilakukan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. 

Proyek pembelajaran yang diorientasikan pada kompetensi sosial yaitu membantu menemukan dan memecahkan masalah yang akan jadi modal siswa-siswi untuk bisa berkomunikasi, berkontribusi, berkolaborasi pada kehidupan masyarakat. Apapun latar belakang agama, budaya, suku, bangsa, seseorang, mereka cenderung bisa menerima orang-orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Siswi-siswi yang terbiasa membantu dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka pasti bisa bergotong royong, berkolaborasi secara global dan cepat beradaftasi dengan berbagai macam dan lapisan masyarakat. 

Dari kompetensi sosial yang terbiasa membantu menemukan dan memecahkan masalah, siswa-siswi dapat memiliki ketermapilan hidup. Semakin terbangun karakter sosial siswa, maka berbagai keterampilan hidup akan siswa-siswi dapatkan. 

Ketiga, membangun kemandirian dengan membiasakan diri untuk berinvestasi. Kemandirian adalah kemampuan siswa-siswi utuk merencanakan kehidupan untuk dirinya di masa depan. Salah satu investasi yang perlu ditawarkan kepada siswa adalah pasar modal dan emas. Investasi di pasar modal dan emas melatih siswa punya kemampuan mengelola uang sejak dini. Kemandirian merupakan ciri kedewasaan seseorang, ditandai dengan kemampuan mengelola uang untuk investasi. 

Ketiga konsep pendidikan ini dikembangkan dari kitab Al Qur'an. "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3). Di dalam ayat ini ada dua dimensi yang saling terikat dengan kuat yaitu dimensi ketuhanan dan sosial kemasyarakatan. 

Pada dimensi keimanan pada Tuhan, didalamnya termasuk kegiatan membaca. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah," (Al Alaq, 94:1-3).

Pada dimensi kemandirian, kegiatannya dikaitkan dengan kemampuan mengelola uang sebagai ciri dari kedewasaan seseorang. Maka program investasi emas, pasar modal dapat menjadi pilihan untuk membangun kemandirian.  "Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan." (Yusuf, 12:47). 

Itulah tiga program merdeka belajar yang akan memerdekakan hidup manusia di dunia dan akhirat. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa membimbing kita dijalan yang penuh dengan kenikmatan merdeka. Kemerdekaan adalah ketika kita punya harapan yang tidak pernah mati karena berharap kepada yang tidak pernah mati. Wallahu'alam.

KADANG AKU BERPIKIR, PERAN GURU HARUS SEPERTI "IBLIS"

OLEH: TOTO SUHARYA

Diskusi-diskusi kecil sering terjadi baru-baru ini. Kurikulum merdeka belajar menuntut kita untuk terus berdialog bagaimana mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar dalam berbagai metode. Saat ini, sudah masanya dimanpun tempat berada harus jadi tempat diskusi. Kapan pun dan dalam situasi apapun diskusi tentang peran guru dan penerapan metode belajar untuk siswa, selalu menarik untuk diperbincangkan. 

Diskusi-diskusi informal dengan wakasek, guru, petugas kebersihan, satpam, staf tata usaha, selalu terjadi. kadang sampai berjam-jam. Isu yang paling hangat didiskusikan adalah tentang profesionalisme guru, metode mengajar, program sekolah, agama, filsafat pendidikan, dan perkembangan teknologi informasi. 

Dalam sebuah diskusi dengan guru tentang peran guru di masa kurikulum merdeka belajar, disepakati bahwa "peran guru sangat berat".  Di era keterbukaan melalui teknologi informasi, faktor lingkungan semakin dominan dapat memengaruhi karakter siswa. Akses terhadap berbagai macam informasi, sudah tidak mungkin lagi dibatasi. Informasi sudah menjadi milik pribadi dan setiap orang bebas menentukan informasi apa yang akan diakses. Guru kesulitan memantau siswa, informasi apa yang diaksesnya setiap hari. Apakah informasi bergizi atau sampah? Jika informasi yang diakses bergizi maka siswa akan jadi siswa produktif, sebalik jika yang diakses informasi sampah, siswa akan sulit dikendalikan perilakunya. 

Peran guru saat ini, seperti berpacu dengan waktu, untuk sesering mungkin memberikan informasi-informasi positif yang harus diakses. Dalam diskusi terlontar ide, "peran guru sekarang jika bisa harus seperti Iblis ketika menggoda Nabi Adam dan Hawa". Bedanya jika Iblis menggoda Nabi Adam dan Hawa untuk berbuat dosa, sedangkan guru menggoda siswa-siswa untuk berbuat kebajikan". 

Banjirnya informasi melalui teknologi informasi, siswa-siswi milenial sekarang dituntut oleh kondisi menjadi anak dewasa sejak dini. Kemampuan berpikir untuk memilah, menginterpretasi, dan menilai sebuah informasi harus diajarkan sejak pendidikan dasar. Untuk mengajarkan kemampuan berpikir sangat tidak mudah. Perlu ketekunan, ketelitian, dan kemahiran dalam mengembangkan metode belajar yang melatih kemampuan berpikir. 

Komunikasi inten dengan siswa, orang tua siswa, harus dibangun sesering mungkin. Di abad informasi, komunikasi menjadi kompetensi penting yang harus dikuasi para guru. Ketika Iblis menggoda Nabi Adam dan Hawa, dia tidak pernah putus asa menggoda. Demikian juga guru sebagai pendidik tidak boleh putus asa untuk terus sesering mungkin membangun komunikasi positif dengan siswa, kadang tanpa batas waktu. Dengan adanya teknologi informasi, kadang peran guru dalam membimbing menjadi 24 jam. Guru tidak boleh kalah kreatif oleh Iblis, mereka menggoda siswa 24 jam, bahkan sampai masuk dalam mimpi. 

Faktanya, dalam diskusi terungkap ada guru yang berperan hingga 24 jam. Melalui media informasi siswa dipantau mulai sejak bangun tidur, di sekolah, hingga kembali ke rumah. Tahajud call, subuh call, hingga absen kehadiran di kelas dan mengikuti program-program karakter di sekolah terus dipantau melalui media teknologi informasi. Namun demikian, sesering apapun guru berkomunikasi positif dengan siswa, masih kalah langkah sama Iblis, yang bisa masuk pada aliran darah siswa. 

Untuk itulah pendidikan agama menjadi media belajar yang bisa diandalkan abad ini. Agama mengajarkan kemandirian dan kesadaran siswa untuk selalu ingat pada Tuhan. Kedekatan siswa dengan Tuhan yang diajarkan melalui keyakinan agama masing-masing dapat menjadi kompetensi siswa untuk menjadi manusia dewasa yang tidak mudah tergoda oleh Iblis. Melalui pembelajaran agama, dan ketermpilan berpikir yang diajarkan dari berbagai mata pelajaran, siswa bisa punya alat pertahanan diri untuk bertarung melawan godaan-godaan Iblis.  

Tugas guru di abad ini semakin berat, pengaruh-pengaruh negatif melalui media informasi begitu mudah tersebar. Informasi-informasi positif yang diajarkan guru, bisa saja hilang dalam hitungan menit, karena setelah selesai pembelajaran, kita tidak tahu informasi apa yang diakses siswa. Kadang-kadang dalam situasi belajar pun, ada saja siswa yang asik mengakses informasi yang disukaainya sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang dapat menolong dalam situasi seperti ini, kecuali kita semua memberi teladan kepada seluruh siswa sesering mungkin untuk selalu mendekat dan berserah diri kepada Tuhan dalam segala kondisi. 

Setiap hari kita harus melatih siswa berdoa, "ya Allah selamatkan kami dari keburukan prilaku, dan selamatkan kami dari keburukan hidup di dunia dan di akhirat. Jadikanlah kami setiap hari sebagai pemenang, yang berhasil menjaga prilaku tetap baik, dan terhindar dari prilaku-prilaku buruk!". Itulah isi diskusi-diskusi yang  kita lakukan dan berakhir karena waktu shalat tiba.***  

Monday, September 5, 2022

WALI KELAS PRESIDEN KECIL

OLEH: TOTO SUHARYA

Jabatan wali kelas merupakan jabatan strategis di sekolah. Wali kelas diumpamakan seperti pemimpin dalam sebuah lembaga. Program-program pendidikan di sekolah, dapat terkoordinir dan tersosialisasikan dengan baik oleh wali kelas. Tertibnya di sekolah, sangat ditentukan dengan tertibnya organisasi di kelas. Kedisiplinan, semangat belajar, kesadaran dan kemandirian, sangat mungkin terjadi di kelas. Pengorganisasian kelas yang optimal dapat menjamin disiplin di sekolah dapat diwujudkan.

Organisasi di kelas, yang dipimpin oleh ketua kelas, wakil, sekretaris, bendahara, dan koordinator bidang, dapat difungsikan sebagai sebuah organisasi otonom yang dapat mengatur anggota kelas. Pemberdayaan kepemimpinan kelas oleh siswa dengan bimbingan wali kelas dapat mendukung program merdeka belajar, melalui penanaman sikap kemandirian. 

Untuk mengendalikan kelas dengan tertib, setiap kelas harus punya visi dan misi masing-masing. Visi dan misi mengacu kepada program-program sesuai visi sekolah. Kepemimpinan kelas oleh siswa, menjadi pendidikan karakter yaitu melatih kemandirian dan kesadaran siswa sebagai pelajar. Kepemimpian siswa di kelas dapat melatih siswa mengelola sebuah organisasi dan dapat diimplementasikan kelak ketika siswa terjun di masyarakat. 

Wali kelas sebagai pendidik berperan penting di kelas sebagai teladan, mediator, dan motivator bagi siswa dalam mendorong tumbuhnya kesadaran untuk belajar dari dalam dirinya. Berjalannya sistem organisasi kelas, dapat mendorong suasana kelas teratur, berbudaya positif, dan terciptanya suasana kehidupan ideal di masyarakat.

Peran sebagai wali kelas di dalam struktur sekolah, harus menjadi perhatian penting. Peranan wali kelas dalam mengontrol dan membimbing siswa dalam berprilaku sebagai masyarakat kecil perlu disosialisasikan. Pelatihan pengelolaan kelas terhadap wali kelas harus diagendakan secara rutin, dan di beri porsi khusus dalam anggaran sekolah. 

Peran wali kelas selain membimbing jalannya organisasi kelas, juga berperan sebagai komunikator antara aktivitas siswa di sekolah dengan para orang tua siswa. Wali kelas bisa mengakses langsung pada orang tua siswa untuk mengomunikasikan program-program unggulan di sekolah. 

Dengan bantuan wali kelas, komunikasi inten antara orang tua siswa dengan pihak sekolah dapat terjembatani. Dukungan-dukungan moril pada siswa dan guru di sekolah dalam melaksanakan program pendidikan signifikan membantu pertumbuhan siswa menjadi manusia-manusia bertanggung jawab dan mandiri. 

Komunikasi wali kelas dengan orang tua melalui grup media sosial, dapat menjalin hubungan emosional positif antara pihak sekolah dengan orang tua. Program-program di sekolah bisa langsung terkomunikasikan kepada orang tua dengan bantuan media informasi secara real time. Terbukti dengan menjalin hubungan baik antara pihak sekolah dengan orang tua melalui peran wali kelas, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan program pendidikan sekolah terlaksana dengan baik.

Untuk itu, posisi peran wali kelas di sekolah harus menjadi jabatan penting dan strategis. Posisi ini harus diisi oleh guru-guru profesional dan berpengalaman. Guru-guru yang diangkat menjadi wali kelas harus mendapat pelatihan-pelatihan khusus dalam hal pengelolaan organisasi kelas. Wali kelas adalah pemimpin pembelajar pada organisasi terkecil di sekolah. Posisi wali kelas seperti orang tua dalam sebuah keluarga yang akan menjamin lahirnya manusia-manusia berkualitas dalam sebuah negara. 

Menduduki jabatan wali kelas di lembaga sekolah, adalah jabatan terhormat karena posisi ini sangat signifikan menentukan berkualitas dan tidaknya sebuah lingkungan belajar di sekolah. Dalam paradigma kurikulum merdeka, kepemimpinan wali kelas dirasakan menjadi sebuah posisi penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan yaitu membentuk siswa berprofil pelajar Pancasila.

Jabatan wali kelas di sekolah harus dikondisikan sebagai jabatan penting, dengan seleksi dan kriteria-kriteria khusus bagi guru yang akan menjabat sebagai wali kelas. Dalam pengalokasian dan pengelolaan anggaran pun, wali kelas harus mendapat porsi untuk mendukung kinerja mereka masksimal. Berkualitasnya lingkungan belajar sekolah dapat diukur dari berkualitasnya pengelolaan organisasi kelas dengan faktor pendukungnya seorang wali kelas***

BEDANYA TRADING SAHAM DENGAN JUDI ONLINE

OLEH: TOTO SUHARYA Diskusi dengan alumni yang kebetulan sudah investasi saham di pasar modal. Pembahasan diskusi fokus pada jual beli saham ...