Saturday, June 22, 2024

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya. Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat beredar di media sosial. 

Pada saat itu, Sujiwo Tejo bertanya pada Ustad, "sedekah saya laksanakan, zakat saya laksanakan, puasa saya laksanakan, kecuali shalat. Jelaskan kepada saya kenapa saya harus shalat?" Begitu kira-kira pertanyaan Sujiwo Tejo pada ustad. 

Pada saaat itu, Ustad menjawab, "shalat itu sebagai pasword diterimanya semua amalan. Sekalipun manusia melakukan berbagai kebaikan, ketika shalat tidak dilakukan maka semua amal tertolak". Begitu kira-kira jawaban singkat dari ustad.

Saya berpikir, ketika kita menjawab sebuah pertanyaan tentang shalat, maka jawaban yang logis dan kuat harus berdalil pada sumber ajaran agama yaitu Al Quran dan hadis. Saya merenung dan mencari-cari dari ayat Al Quran yang bisa dijadikan dalil untuk menjawab pertanyataan Sujewo Tejo. 

Saya berpikir pertanyaan Sujewo Tejo, bukan pertanyaan seorang, tapi mewakili pertanyaan dari banyak orang. Pada akirnya, saya menemukan satu jawaban dari Al Quran. Mengapa shalat penting untuk dilakukan?

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al Baqarah, 2:34)

Kisah ini bisa jadi argumen mengapa shalat penting? Pertama, satu pekerjaan yang tidak mau dilakukan oleh Iblis adalah "sujud". Kasus di sini, Iblis bukan tidak mau sujud kepada Adam, tetapi Iblis tidak taat pada perintah Allah. Jadi, kisah Iblis ini memberi pengajaran bahwa orang-orang yang tidak mau sujud mewarisi sifat sombong seperti Iblis.

Kedua, sifat sombong Iblis, bukan kepada Adam, tetapi menentang pada perintah Allah. Sebagaimana dijelaskan di dalam (Al Baqarah, 2:34), orang yang sombong kepada Allah dikategorikan sebagai orang kafir.

Argumen Al Quran ini memperjelas jawaban ustad, bahwa sekalipun semua pekerjaan baik dilakukan, amal baiknya tertolak karena tidak sujud, orang yang tidak sujud dianggap golongan kafir. Jadi percuma semua pekerjaan baik dilakukan sementara sifat kafirnya masih melekat karena tidak shalat. Sujud hanya dilakukan pada saat shalat. Zakat, puasa, sedekah, haji, tidak ada gerakan sujud pada ibadah tersebut. 

Masya Allah, luar biasa Allah memberikan pengajaran untuk kita semua. Al Quran membantu kita untuk berlogika untuk mejawab segala keraguan manusia dengan argumen logis dari Allah. Semoga bermanfaat untuk kita semua***

Saturday, June 15, 2024

MATA PELAJARAN HIDUP

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kegagalan pengajaran di masa lalu terjadi karena pengajaran ditujukan untuk menyelesaikan soal ujian. Sementara masalah-masalah hidup tidak dipecahkan. Berdasar observasi lapangan, kegiatan belajar di kelas belum mengacu pada pemecahan masalah yang dihadapi anak-anak. 

Pengajaran masih seperti permainan monopoli, kegiatannya menyenangkan tapi tidak menyentuh permasalahan hidup yang harus dihadapi anak-anak. Sebagian besar, pemecahan masalah yang ditawarkan masih pemecahan masalah soal-soal ujian mata pelajaran. 

Era teknologi informasi telah mengubah cara belajar Gen Z. Mereka belajar dengan praktek langsung, sebagaimana mereka mengoperasikan sebuah aplikasi. Ketika mereka mengenal sebuah sistem aplikasi, mereka langsung mencoba dan merefleksi kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.

Sebagai contoh, seorang anak kelas 11 SMA tiba-tiba dia sudah memiliki folower 2 juta di media sosial. Ketika diwawancara, dia sudah membuat video singkat lebih dari 2000 konten. Video-video singkat yang dibuatnya sebanyak 2000 konten tidak ada yang menyukainya. Konten videonya mulai viral setelah satu konten mendapat apresiasi dari netizen, kemudian folowernya terus meningkat hingga 2 juta folower. Kini dia menjadi influencer dengan penghasilan 6-24 juta per bulan.

Dari kasus di atas, anak-anak Gen Z belajar sesuai dengan minat dan bakatnya. Mereka belajar mandiri dan menekuninya karena sesuai dengan minat dan bakatnya. Ketika berhadapan dengan mata pelajaran, sistem pengajaran di kelas kadang berbeda dengan bakat dan minatnya. 

Mata pelajaran perlu bertransformasi, bukan sebatas mengajarkan materi mata pelajaran, tetapi harus membantu anak-anak beradaftasi dengan zaman. Setiap mata pelajaran harus memfasilitasi anak-anak untuk mencapai cita-cita hidup bahagia. Mata pelajaran menjadi pelajaran hidup bagi anak-anak.

Setiap mata pelajaran harus menyelesaikan masalah-masalah sosial yang pasti dihadapi anak-anak. Masalah pengangguran, kemiskinan, penyakit menular, perceraian, korupsi, utang, pemanfaatan teknologi informasi, pengolahan sampah, banjir, judi online, bullying, pelecehan seksual, harus jadi fokus dalam pengembangan materi ajar. Dalam setiap pengajaran di kelas, harus ada konteks masalah kehidupan yang dipecahkan.

Guru harus kreatif mengembangkan bahan ajar aktual, kontektual, dan melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif memecahkan masalah. Sumber pengajaran tidak cukup menggunakan buku paket, guru harus melakukan riset jurnal, buku, data statistik dari sumber terpercaya, sebagai bahan ajar untuk disajikan dalam pengajaran.

Sebagai contoh untuk menyelesaikan masalah korupsi, mata pelajaran ekonom dalam konteks kehidupan mengajarkan merencanakan keuangan di masa depan anak, dengan nabung saham. Kompetensi yang diharapkan adalah kemampuan mengelola uang untuk menuju kehidupan sejahtera di masa mendatang. Kemampuan mengelola uang harus mulai dipraktekkan anak sejak di sekolah.

Melalui berbagai metode, pendekatan, dan penyesuaian materi ajar, guru harus bertindak kreatif. Materi disesuai dengan tingkat perkembangan psikologi anak, dan memberi motivasi rasional agar membantu anak-anak memahami masalah hidup sebenarnya kelak di masyarakat. 

Untuk keberhasilan pengajaran, guru harus jadi inspirator dan motivator. Guru harus tampil menjadi seorang influencer yang bisa membawa dampak perubahan prilaku positif terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa sekarang.*** 


    


   


MELATIH GEN Z MANDIRI FINANSIAL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gen Z adalah anak-anak yang lahir tahun 2000 hingga sekarang. Mereka terlahir dengan membawa budaya teknologi informasi. Ibu-ibu hamil sudah menggunakan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung anak-anak yang lahir sudah membawa budaya teknologi informasi.

Budaya teknologi informasi inilah yang menjadi ciri khas dari Gen Z. Pendidikan harus menyesuaikan dengan budaya Gen Z. Kehadiran teknologi informasi telah mendorong Gen Z bisa hidup produktif sejak awal. 

Dunia pendidikan dalam pengajaran harus mengenalkan budaya produktif memanfatkan teknologi informasi. Pekerjaan-pekerjaan berbasis teknologi informasi harus dikenalkan di sekolah. Kemandirian Gen Z harus dibentuk sedini mungkin.

Salah satu kemandirian yang harus diperkenalkan pada anak-anak Gen Z adalah mandiri finansial. Anak-anak bisa produktif sejak di sekolah terutama untuk anak-anak di pendidikan menengah. Mereka bisa diperkenalkan pekerjaan-pekerjaan online sambil belajar.

Salah satu contoh melatih anak-anak Gen Z berinvestasi di pasar modal. Anak-anak Gen Z di pendidikan menengah bisa diajarkan investasi di pasar modal dengan melatih mengelola uang jajan. Mereka diajari bagaimana berinvestasi sambil mengubah mindset mereka berpikir kritis, kreatif, dan mandiri.

Melalui investasi di pasar modal, Gen Z bisa diajari tata cara merencanakan kemandirian finansial di masa mendatang. Dengan demikian mereka diajari untuk mandiri finansial sejak di sekolah. Kunci perencanaan mandiri finansial di masa depan harus punya kemampuan literasi pasar modal.

Seorang anak akan merencanakan 20 tahun ke depan punya penghasilan passive income 2 juta per bulan. Berarti dalam satu tahun dia harus mendapatkan passive income 24 juta. Selanjutnya, dia harus mencari perusahaan yang menghasilkan keuntungan setiap tahun. Keuntungan yang bisa di dapat dari saham setiap tahun adalah deviden. 

Selanjutnya, anak harus mencari perusahaan yang setiap tahun membagi deviden pada investor. Cara mencarinya tinggal kita gunakan pertanyaan-pertanyaan di google atau youtube, atau aplikasi yang menyediakan informasi tentang saham seperti RTI busines.

Disclaimer. Misalnya saham DMAS. Saham ini memberi deviden setahun dua kali. Deviden yang diberikan setiap 6 bulan Rp.10. Harga per lembar sahamnya Rp. 150. Untuk mendapatkan penghasilan 2 juta perbulan, berapa lembar saham yang harus dimiliki? Jika ingin dicapai dalam 10 tahun, berapa uang yang harus ditabung per bulan? Untuk mendapatkan tambahan modal investasi, usaha apa yang bisa dilakukan anak-anak sambil tetap belajar?

Inilah pengajaran kontekstual yang harus diperkenalkan pada anak-anak. Dengan pengajaran seperti ini anak-anak Gen Z bisa dilatih sejak dini untuk merencanakan hidupnya di masa depan dan melakukannya sejak dari sekolah.***

 

Thursday, May 23, 2024

STIMULASI OTAK DENGAN NAPAS RITME 5:5

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Penemuan ilmu napas ritme oleh Gunggung Riyadi bisa dikatakan penemuan spektakuler abad 21. Oleh Gunggung Riyadi, napas ritme bisa dipahami secara rasional melalui penjelasan berbagai hasil riset di jurnal internasional. 

Gunggung Riyadi mengaku bisa memahami manfaat pernafasan setelah membaca kurang lebih 200 karya jurnal internasional. Riset yang panjang telah menghasilkan sebuah temuan spektakuler dan bermanfaat bagi kesehatan. Penemuannya telah diterapkan pada purnawirwan tentara pada saat covid-19. Hasilnya semua purnawirawan yang usianya di atas 60 tahunan bisa selamat melewati covid-19. 

Kini ilmunya diperkenalkan secara luas kepada masyarakat, dan sudah menghasilkan beberapa riset di tingkat doktoral. Gunggung Riyadi kini giat memberikan edukasi melalui kegiatan pelatihan secara online dan offline. 

Berdasarkan penjelasan Gunggung Riyadi, prinsip dasar napas ritme adalah gerakan tarik-buang saat bernapas. Intinya, pernapasan bisa digunakan sebagai pembentuk frekuensi manual melalui paru-paru. 

Melalui alat ukur Heart Rate Variability (HRV) dibuktikan bahwa frekuensi jantung terbagi menjadi tiga yaitu Very Low Frekuency (<0,04 Hz), Low Frequency (0,04-0,15 Hz), dan High Frequency (0,15-0,4). 

Pernapasan yang diatur dengan ritme hitungan detik bisa menghasilkan frekuensi. Dari hasil pengukuran, napas ritme 1:1, 2:2, 3:3, menghasilkan kategori high frequency yang berhubungan dengan syarap parasimpatik.  

Napas ritme, 5:5, 10:10, 12:12, menghasilkan kategori low frequency berkaitan dengan syaraf simpatik. dan napas ritme 15:15, 30:30, menghasilkan kategori very low frequenscy berkaitan dengan neuro hormonal.

Napas ritme 5:5, tarik napas 5 detik dan buang napas 5 detik tanpa tahan napas, sudah banyak penelitian dilakukan. Napas ritme 5:5 menghasilkan frekuensi 0,1 Hz dengan kategori low frekuensi. Napas 5:5 jika dipraktekan mengandung beberapa gambaran manfaat, antara lain:

  1. dapat mengurangi risiko penyakit TBC
  2. meringankan sesak napas
  3. meningkatkan saturasi oksigen
  4. otak menjadi lebih rileks
  5.  menormalkan aliran darah
  6. meningkatkan adaftasi jantung
  7. menambah oksigen pada darah
  8. membantu tekanan darah normal
  9. sinkronisasi kinerja jantung
Berdasarkan hasil temuan di atas, napas ritme bisa diperkenalkan di satuan pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan belajar para siswa. Napas ritme bisa membantu meningkatkan kecerdasan otak, karena  napas ritme 5:5 bisa meningkatkan suplai oksigen pada darah, otak rileks, dan tekananan darah normal.

Napas ritme biasa jadi alat stimulasi dan menyegarkan otak diterapkan pada saat jeda pembelajaran di kelas. Jeda pembelajaran dapat dilakukan setiap 10 menit sekali. Latihan ini bisa diterapkan di sekolah dengan berbagai latar belakang budaya dan agama.*** 



Saturday, May 18, 2024

Doa dan Peningkatan Kecerdasan

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gunggung Riyadi (2024) ahli nafas ritme mengatakan ada hubungan antara kondisi otak alpa dengan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan (https://www.youtube.com/@MasGunggung). 

Menarik sekali penjelasan Gungung Riyadi tentang koherensi otak. Koherensi otak adalah keselarasan antara jantung, otak, dan badan. Koherensi otak merupakan kondisi otak pada kondisi alpa. 

Mengondisikan otak pada kondisi alpa bisa dilatih dengan nafas ritme. Namun demikian, nafas ritme tidak bisa hanya latihan gerak tarik dan kelurkan nafas sesuai ritme. Ketika tarik dan keluarkan nafas harus ada substansinya. 

Salah satu subtansi nafas ritme adalah ilmu logika tentang hubungan nafas ritme dengan jantung, otak, dan kesehatan. Artinya, tarik dan keluarkan nafas harus disertai dengan pemahaman logika manfaat dari nafas ritme.

Rutinitas doa setiap hari di sekolah, tingkatkan kecerdasan anak-anak

Sebuah penelitian doktoral dari Suharsi, UIN Walingsongo Semarang, ditemukan doa yang dilakukan seseorang berpengaruh pada penurunan kualitas stres seseorang. Doa pada intinya adalah harapan dan imajinasi seseorang tentang kondisi yang diinginkan. 

Dari hasil penelitian Suharsi, 40-45% reponden mengalami penuruan kualitas stres setelah melakukan doa. Penelitian dilakukan pada responden lintas agama. Nafas ritme dengan doa bisa dikombinasikan menjadi tindakan untuk meringankan stres. 

Penulis sudah lebih dari 13 tahun menerapkan program shalat dhuha 12 rakaat setiap pagi di sekolah. Program ini sudah diterapkan di lima sekolah. Di tiap sekolah menemukan fenomena, rata-rata anak-anak yang disiplin ibadah memiliki kemampuan intelektual lebih baik. 

Sebaliknya, anak-anak yang tidak memiliki kebiasaan disiplin ibadah, selalu ditemukan dari anak-anak yang melakukan tindakan-tindakan menyimpang seperti berkelahi, pencurian, bolos sekolah, malas belajar, dan masalah di keluarga.

Data tahun 2024, siswa-siswi yang lolos ke perguruan tinggi melalui jalur (seleksi nasional berbasis prestasi) SNBP, berdasarkan hasil penelusuran, dari 31 orang semuanya termasuk yang disiplin melaksanakan ibadah ritual. Hanya tiga orang yang tidak melaksanakan dhuha secara disiplin. Namun shalat lima waktu dilaksanakan disiplin. 

Dari wawancara beberapa anak secara anak, rata-rata mereka mengakui bahwa setelah ritual dhuha pagi dilaksanakan di sekolah mereka merasa tengang. Kondisi tenang sebagai efek dari doa atau dhuha, bukan perkara sepele.

Berdasarkan penjelasan Gunggung Riyadi, kondisi tenang seseorang adalah tanda bahwa otak berada pada kondisi alpa. Kondisi tenang dapat diartikan juga sebagai kondisi tingkat stres anak-anak rendah. Namun penulis sampai ini belum melakukan pengukuran berapa signifikan doa bisa menimbukan kondisi tenang.

Namun berdasarkan penelitian, Suharsi, disimpulkan bahwa doa-doa yang dialntunkan dapat menurunkan tingkat stres. Otak yang rileks menandakan kondisi otak dalam kondisi sehat, lebih siap menerima pelajaran. 

Selanjutnya, perlu ada penelitian khusus pada anak-anak shalat yang disiplin doa atau shalat, seberapa pengaruh kegiatan ritual doa tiap hari di sekolah berpengaruh pada kondisi stres anak-anak. Hipotesi sementara penelitian punya asumsi bahwa doa harian yang dirutinkan tiap hari dapat meningkatkan tingkat kecerdasan anak-anak.    

Saturday, May 4, 2024

KURANGI LOMBA-LOMBA DI DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Menyimak perubahan paradigma pendidikan abad 21, arahnya sudah bergeser. Lomba-lomba yang diadakan di lembaga pendidikan sudah ketinggaalan zaman. Pendidikan sebagai juara lomba sudah usang dan tidak menyelesaikan masalah.

Juara-juara lomba sudah diraih oleh putra-putri terbaik kita, tetapi tidak signifikan menyelesaikan masalah. Penghargaan kepada mereka yang menjuarai lomba, telah mengalihkan fokus pendidikan pada pencapaian juara lomba, namun berbagai permasalahan yang kelak dihadapi anak-anak terabaikan.

Sumber daya mansia kita di tingkat internasional masih jauh tertinggal. Jumlah pengangguran berpendidikan masih tinggi. Produksi sampah meningkat belum tertangani. Daya beli masyarakat rendah karena penghasilan rendah. Penghasilan rendah karena keterampilan hidup rendah. Pertumbuhan teknologi informasi semakin cepat, namun pemanfaatan teknologi informasi secara produktif masih tertinggal.

Kehadiran teknologi informasi di negara-negara lain, dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai masalah. India dan China berhasil mengurangi kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Teknologi informasi menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas. 

Dunia pendidikan yang terlalu menghargai juara-juara lomba kadang abai terhadap masalah dasar yang sedang dihadapi bangsa. Dunia pendidikan harus diarahkan membangun karakter berbasis pada pemecahan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. 

Dunia pendidikan harus memperkenalkan berbagai permasalahan serius akan dihadapi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari di mana mereka tinggal. Tujuan pendidikan harus menyadarkan anak-anak bahwa hidup yang dijalan oleh mereka sehari-hari mengandung masalah yang harus segera diantisifasi.

Masalah finansial merupakan masalah serius dihadapi setiap hari. Kesulitan ekonomi menjadi penyebab terjadinya perceraian dan berakibat pada pola asuh dan kebutuhan anak-anak di keluarga terabaikan. Di sekolah anak-anak dengan latar belakang keluarga cerai, cenderung mengalami masalah karakter. 

Perkelahian, penyimpangan seks, pencurian, perundungan, kekurangan gizi, stres, tidak punya cita-cita, malas belajar, ternyata sebagian besar terjadi pada anak-anak yang kurang mendapat perhatian di lingkungan keluarga.

Anak-anak yang lahir di lingkungan keluarga berada, mereka relatif manja, tidak punya semangat belajar, mudah menyerah, dan budaya baca rendah. Sekalipun dari lingkungan keluarga mampu, tapi tidak berbanding lurus dengan minat baca dan motivasi belajar tinggi. Rendahnya minat baca menjadi masalah umum di lingkungan keluarga dan pendidikan. 

Kebijakan pendidikan harus mengurangi penghargaan pada juara lomba-lomba. Kebijakan pendidikan harus dikembalikan pada tugas pokok pengajaran yaitu memberikan dan meningkatkan layanan pendidikan terbaik sesuai dengan perkembangan zaman. 

Setiap guru harus hadir membawa ilmu-ilmu terbaru yang sedang berkembang saat ini. Ilmu-ilmu terbaru dipertontonkan kepada anak-anak dengan merujuk pada sumber-sumber keilmuan yang dapat dipercaya. Ilmu-ilmu terbaru dihadirkan untuk membantu anak-anak menyelesaikan permasalahan hidup yang sedang terjadi pada diri mereka sekarang bukan nanti.

Pengajaran berbasis masalah dan proyek harus banyak digunakan untuk melatih kemampuan anak-anak berpikir kritis dan kreatif untuk memecahkan masalah. Akhir dari pengajaran bukan untuk lomba, tapi sebagai bahan refleksi apakah anak-anak bisa beradaftasi dan memecahkan berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. 

Sekolah harus melahirkan inovator-inovator sejak di sekolah. Melatih anak menjadi inovator harus dilakukan dalam setiap proses pengajaran. Prestasi-prestasi anak di sekolah dipublikasikan bukan melalui lomba, tetapi disajikan melalui dokumentasi praktik baik di media sosial milik sekolah. 

Penghargaan diberikan bukan sebagai juara lomba yang diusakan jadi juara, tetapi sebagai bentuk pengakuan. Penghargaan yang diusahakan melalui juara lomba, tidak melahirkan jiwa-jiwa murni pewirausaha. Sebaliknya, penghargaan yang diberikan dalam bentuk pengakuan, dilakukan melalui proses pengamatan panjang, berbasis data, dan observasi lapangan, untuk membuktikan yang diberi penghargaan bermanfaat bagi banyak orang. 

Oreintasi penghargaan dalam bentuk pengakuan akan mengalihkan sekolah pada pelayanan pendidikan, kosistensi, dan berkelanjutan dalam mengembangkan program. Sehingga hasil dari pendidikan betul-betul akan melahirkan karakter dan kemampuan, karena sekolah fokus mengembangkan program-program yang diunggulkannya sesuai visi dan misi. Ukuran penghargaan bukan pada capaian akhir tapi pada kualitas proses kesinambungan pendidikan.***

Thursday, April 11, 2024

BERPIKIR CEPAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Berat otak manusia sekitar 1,3 kg atau 2% dari berat badan. Otak tidak pernah berhenti bekerja sekalipun kita tidur. Otak membutuhkan 20% sari makanan dari makanan yang kita konsumsi. Semakin banyak berpikir semakin banyak kalori yang terbakar (Suyadi, 99:2020). 

Orang yang bekerja secara fisik dan bekerja menggunakan otak lebih berat mana? Berdasar data di atas, bekerja menggunakan otak bisa jadi sangat melelahkan, karena menyerap 20% dari sari makanan yang kita konsumsi. Untuk para pekerja menggunakan otak perlu diperhatikan asupan makanan yang menunjang pada kinerja otak.

Di dalam otak ada dua sistem operasi. Pertama berkaitan dengan sistem operasi cepat, instingtual, dan tidak disadari. Sistem ini dikendalikan bagian otak kanan, di bagian limbik dan otak reptil. Kedua berkaitan dengan sistem lambat, bersifat analitis, dan sadar. Dikendalikan pada bagian otak kiri, di bagian otak neocortek (Suadu, 137:2018).

Berdasarkan fakta di atas, kecepatan berpikir ditentukan oleh kebiasaan seseorang. Orang-orang yang berpikir rasional cenderung "lambat" dalam mengambil keputusan. Rasionalitas menuntut seseorang untuk menyusun perencanaan dalam setiap pengembilan keputusan. Sebaliknya orang-orang yang cenderung menggunakan emosi, lebih "cepat" dalam mengambil keputusan.  

Dalam proses pengambilan keputusan, setiap orang dipengaruhi oleh perbendaharaan pengetahuan di dalam hipocampus. Perbendaharaan pengetahuan yang tersimpan dalam memori bisa jadi menjadi faktor untuk mempercepat pengambilan keputusan. Para entrepreneur mereka cenderung punya kecepatan dalam mengambil keputusan, bukan karena tidak berpikir rasional. 

Lambat atau cepat dalam mengambil keputusan tidak menunjukkan sebuah nilai baik atau buruk. Orang yang terbiasa mengambil keputusan dengan cepat menggunakan emosi, tidak berarti dia tidak menggunakan pengetahuan. 

Proses pengambilan keputusan secara rasional diketahui 500 ms sejak pengetahuan (stimulus) itu diterima. Sedangkan sirkuit berpikir irasional diketahui 145 ms sejak pengetahuan (stimulus) di terima. (Suadu, 127:2018). Pengetahuan yang tersimpan di hipocampus akan di proses melalui dua jalan pikiran yaitu pikiran rasional dan irasional. Hasil keputusan yang dihasil sangat tergantung pada situasi, dan kebiasaan berpikir seseorang. 

Selain faktor perbendaharaan pengetahuan, kecepatan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh keberanian menghadapi risiko. Keberanian mengambil risiko berkaitan dengan pebendaharaan pengetahuan yang dimiliki. Jadi cepat atau lambat mengambil keputusan berkaitan dengan stok pengetahuan dalam menghasilkan kesimpulan. 

Kecepatan berpikir dalam menghasilkan keputusan adalah kerja kolaboratif antara hasil proses pengetahuan rasional dan irasional. Pada akhirnya orang-orang akan mengambil keputusan dengan keputusan irasional yang didorong oleh keberanian dalam mengambil risiko. Orang-orang yang berpikir cepat menggabungkan berpikir rasional dan irasional, terlihat orang itu memiliki karakter sabar.*** 

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.  Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya....