Monday, November 22, 2021

MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA

Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiatan ini baru pertama saya ikuti. Kedatangan saya, hanya ingin belajar, bagaimana merdeka belajar. Dua hari betul-betul saya serap apa inti dari merdeka belajar. Seluruh kemampuan literasi saya gunakan untuk menyerap esensi dari konsep Merdeka Belajar. Saya belajar bahwa kemampuan literasi bukan diukur dari berapa buku yang banyak dibaca, tetapi berkaitan bagaimana dan berapa informasi yang yang berhasil diserap.

Hari pertama saya berdikusi memahami konsep Merdeka Belajar yang disuguhkan pemateri. Dari penjelasan narasumber saya menarik sebuah kesimpulan bahwa inti dari Merdeka Belajar adalah self regulated learning, atau orang yang mengatur sendiri tujuan, cara, dan penilaian belajarnya.  Berdasarkan hasil riset ada hubungan antara kemampuan guru mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran dengan prestasi kerjanya. Sedangkan menurut Ki Hadjar Dewantara kemerdekaan dalam pendidikan ditandai dengan, tidak hidup di perintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri, cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Jika demikian konsep merdeka belajar berkaitan dengan kompetensi profesional guru.

Selanjutnya, narasumber menjelaskan kunci dari Merdeka Belajar lainnya adalah pelibatan siswa mulai dari perumusan tujuan belajar yang akan dicapai, pelaksanaan, dan penilaiannya. Jadi penekanan Merdeka Belajar terletak pada proses pelibatan atau dialogis antara guru dan siswa pada saat mau melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan asessmen pembelajaran. Rencana pembelajaran tidak ujug-ujug tercipta dan diberikan pada siswa, tetapi harus melalui proses asessmen diagnosis, dan proses dialogis.  

Narasumber lainnya menjelaskan, di Sekolah Cikal untuk menciptakan kemerdekaan belajar dikenal dengan 5M, yaitu Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, dan Memberdayakan kontek. Memanusiakan hubungan artinya regulasi harus dibuat bersama. Siswa tidak dianggap sebagai makhluk hampa, tetapi mereka harus diajak dialog untuk melakukan diagnostik tentang kemampuan apa yang anak-anak miliki, minat mereka di mana, cara belajar bagaimana yang mereka sukai, dan cara penilaian apa yang mereka inginkan dan tidak merugikan mereka.

Selanjutnya, memahami konsep artinya, guru harus memahami filosofi, konsep dasar, pengertian, dan aplikasi dari sebuah ilmu yang akan diajarkan. Dengan memahami konsep guru dapat mengajarkan ilmu yang diajarkan kepada siswa sesuai dengan perkembangan psikologi siswa. Sebelum pembelajaran, guru harus melakukan asessmen diagnosis, selanjutnya mengajak dialog anak-anak tentang apa tujuan, bagaimana cara pembelajaran yang dikehendaki, dan model asessmen apa yang akan dilakukannya.

Membangun keberlanjutan, berkaitan dengan kemampuan guru membaca bakat, minat, gaya belajar, dan cita-cita yang diharapkan dari pembelajaran. Dalam melakukan asessmen formatif, guru selalu memberi umpan balik kepada siswa. Asessment tidak mengekang siswa dengan menggunakan satu ukuran, tetapi membuka peluang kepada siswa untuk menentukan assessmen formatif yang siswa inginkan. Untuk kemerdekaan belajar, siswa harus diberi varian tes yang memberi kebebasan kepada siswa  untuk mencapainya sesuai dengan minat dan bakar yang dimilikinya.

Memilih tantangan adalah mendesain lingkungan belajar dan tugas belajar yang harus memberi tantangan belajar bertingkat, untuk melatih siswa menghadapi kesulitan dan kegagalan yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Seperti bermain game, pembelajaran harus dirancang menarik dari belajar tingkat rendah hingga tingkat tinggi.

Terakhir memberdayakan kontek artinya pembelajaran harus bisa menyadarkan siswa dimana dia hidup dan dia tinggal serta bagaimana cara beradaftasinya. Pembelajaran dapat bermakna dan bermanfaat bagi siswa, jika pembelajaran dapat menjawab dan memecahkan masalah yang terjadi dilingkungan siswa sehari-hari.  

Tujuan dari merdeka belajar adalah sebagaimana tujuan utama pendidikan yaitu kemandirian. Untuk membangun kemandirian, pembelajaran harus melatih kemampuan murid menggali informasi, memilah informasi, mensintesa, mengemukakan pendapat, dan mengambil keputusan. Kemandirian bisa dimiliki murid jika mereka mampu memotivasi dirinya sendiri atau membangkitkan motivasi internal pada saat menghadapi tantangan dan kesulitan. Semua yang saya kemukakan pendapat pribadi hasil literasi selama dua hari di Sekolah Cikal. Wallahu’alam.

Friday, November 12, 2021

PESAN YASIN UNTUK PENDIDIK

OLEH: TOTO SUHARYA

Pesan moral yang tinggi ini saya dapatkan setelah ribuan kali membaca surat Yasin dari dulu hingga sekarang. Menyimak makna yang terkandung di dalamnya, saya dapati dengan menghubungkan konsep-konsep Al-Qur’an dan hadist yang pernah singgah dalam memori saya. Konsep-konsep tersebut saya sintesakan dan hasilnya ada makna yang saya temukan. Berikut isi surat Yasin dari ayat 1-6:

“Yaa Siin. Demi Al Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai”. (Yaasin, 36:1-6).

Inspirasi saya dapatkan dari surat Yasin, “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”. Makna khusus dari ayat ini adalah menjelaskan tentang kehadiran para utusan, para penyampai kebenaran, salah satunya yaitu Nabi Muhammad SAW. Para utusan adalah membawa pesan-pesan Al-Qur’an. Selanjutnya para utusan adalah contoh teladan yang harus kita teladani. Untuk meneladani para utusan, pegangannya ada dalam Al-Qur’an dan Hadist. Selesai sampai di situ pemahaman saya.

Namun jika saya baca ulang, “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”, ayat ini seperti sedang berkomunikasi dengan siapa saja yang sedang membacanya. Memang benar, ayat ini sedang mengatakan bahwa yang diajak bicara adalah “kamu” orang yang sedang membaca. Saya menduga, ayat ini bisa bermakna khusus dan bisa bermakna luas. Makna khusus menjelaskan kisah para rasul utusan Allah, dan makna luas mengandung pesan moral bahwa kita harus menjadi penerus misi ajaran para rasul. Bisa jadi juga, ayat ini berpesan kepada orang-orang yang beriman kepada Tuhan, mereka diberi tanggung jawab moral untuk menjadi pewaris ajaran para rasul. Dari mulai para sahabat, ulama, wali, kiyai, ustad, guru, dosen, para pemimpin, kepala keluarga, ibu rumah tangga, orang dewasa, remaja, sampai anak-anak, dirangkum dalam pesan ini. Jadi dalam pundak seorang muslim (berserah diri pada Tuhan), kita semua diberi pesan moral untuk meneruskan misi, untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran dari para rasul secara berkesinambungan.

Saya, sebagai orang yang berprofesi sebagai pendidik, menduga bisa jadi pesan ayat “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”, mengandung pesan moral tinggi untuk para pendidik. Para pendidik idealnya adalah manusia-manusia berkualitas tinggi, yang akan mengajari generasi-generasi penerus menjadi manusia-manusia berkualitas. Sangat dimengerti bahwa manusia-manusia yang akan mendidik manusia, haruslah manusia yang berkualitas tinggi pula. Jika demikian, betapa tingginya standar dari Tuhan bagi orang-orang yang layak menjadi pendidik. Masya Allah, astagfirullah.

Kecuriagaan saya semakin kuat, surat Yasin membawa pesan buat para pendidik yang bermoral tinggi, “agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai” (Yasin, 36:6). Tugas para pendidik memang menyampaikan peringatan-peringatan, nasehat-nasehat, tentang keimanan kepada  Tuhan Yang Maha Esa dalam kondisi sempit maupun lapang. Sekalipun bumi ini menjanjikan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan, kekuasaan dan kekayaan, namun jangan sampai manusia melupakan keyakinannya kepada Tuhan. Intinya apa pun latar belakang profesi pendidik, mereka harus mengemban misi-misi spiritual.

Selanjutnya kualitas moral tinggi seorang pendidik dijelaskan di dalam surah Yasin, “ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yasin, 36:21). Kualitas moral tinggi dari seorang pendidik, dia konsisten berada di jalan lurus untuk tidak meminta bayaran dari pekerjaannya sebagai pendidik. Pekerjaan pendidik tidak terikat dengan upah. Semua pekerjaan dikerjakan karena berharap balasan rezeki dari Allah yang datang tidak disangka-sangka dan abadi. Suatu pekerjaan ada uang atau tidak ada uangnya, semuanya dikerjakan dengan sempurna. Adapun sumber kesejahteraan hidupnya diserahkan pada sekehendak Allah yang maha kaya dan melimpah rezekinya. Selama para pendidik bekerja dengan ikhlas dan mengerjakan semua pekerjaan dengan sempurna, maka kesejahteraan hidupnya ada dalam tanggungan Allah. Pendidik-pendidik yang bekerja ikhlas dan sempurna karena Allah, sangat tidak mungkin hidupnya miskin. 

Tulisan ini hanya refleksi untuk diri saya sebagai guru, betapa tingginya kualitas seorang pendidik jika kita kaji gagasannya dari Al-Qur’an. Dari tulisan ini muncul kesadaran bahwa penulis masih jauh dari kata layak untuk menjadi pendidik. Wallahu’alam. 

Tuesday, November 2, 2021

ILMU YANG DILUPAKAN GURU

OLEH: TOTO SUHARYA

Tulisan ini bernagkat dari hasil wawancara dan pengamatan, pada calon guru atau guru yang sudah terjun bertahun-tahun di dunia pendidikan. Ilmu-ilmu dasar pendidikan yang dipelajarinya di kampus, mereka katakana sudah lupa dan kadang susah untuk mengingatnya lagi. Penulis merefeksi diri, bahwa sesungguhnya selama kuliah sampai di lapangan menjadi guru, seperti tidak memiliki bekal pemahaman yang cukup tentang ilmu-ilmu dasar pendidikan yang harus jadi pedoman ketika terjun di lapangan.

Sebuah refleksi diri terjadi ketika menjelang tidur setelah menyelesaikan sebuah artikel tentang Tingkatan Pengetahuan (www.logika-tuhan.com). Dalam artikel tersebut saya bahas tingkatan pengetahuan dengan analisis dari sudut pandang agama, fisika, dan filsafat. Selanjutnya saya beri penjelasan dengan analisis menggunakan teori kognitif dari Bloom. Setelah membahas tingkatan pengetahuan, saya paham dengan mendalam bahwa seluruh produk dari hasil pendidikan ujungnya adalah pengetahuan (knowledge). Ijazah adalah tanda bahwa seseorang otaknya berisi ilmu pengetahuan, yang akan tercermin dalam cara bicara, bersikap, berprilaku terhadap sesama, orang tua dan anak-anak.

Seluruh aktivitas pembelajaran, melalui metode ceramah, praktek, penggunan video, rekaman, buku, modul, dll., hasil yang di dapat oleh peserta didik adalah pengetahuan. Jika demikian, seluruh urusan pendidikan terfokus pada bagian tubuh dari leher ke atas dan bagian yang paling vital di atas leher adalah otak, karena seluruh prilaku yang manusia lakukan berangkat dari perintah otak. Apa yang diperintahkan oleh otak sangat tergantung pada pengetahuan yang diolahnya. Seluruh rangkaian pendidikan dari mulai Paud, TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA/MK/SLB, adaah upaya untuk menginput pengetahuan ke dalam otak para peserta didik.

Dalam sebuah penelitian, Taufiq Pasiak mengatakan otak terbagi menjadi tiga, yaitu otak mamalia baru (otak kreatif, logika, analisis), otak mamalia tua (perasaan), dan otak reptil (kebiasaan). Berdasar fungsi otak di atas, pebelajaran harus mencerdaskan otak. Pembelajaran yang mencerdaskan otak adalah kegiatan yang bisa mengaktifkan seluruh bagian otak. Dalam teori pembelajaran, aktivitas belajar harus melibatkan tiga bagian otak yaitu kognitif (otak mamalia baru), afektif (otak mamalia tua), dan psikomotor (otak reptil).

Ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru-guru adalah pengetahuan memiliki tingkatan sampai enam lapis. Teori pengetahuan ini berurutan dari level ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Enam level tingkatan pengetahuan ini harus diajarkan dan dilatihkan bagaimana cara mendapatkannya. Learning how to learn adalah melatih bagaimana cara peserta didik mendapatkan pengetahuan lapis 4, 5, dan 6. Learning how to learn, isinya adalah mengajarkan berpikir analisis, sintesis, dan evaluasi  untuk mendapatkan pengetahuan di level 4, 5, dan 6.

Kelemahan pembelajaran kita selama 20 tahun ke belakang adalah abai terhadap keterampilan berpikir yang harus dimiliki peserta didik. Pengetahuan instan dari cara bernalar rendah sering mendominasi kegiatan pembelajaran kita. Kelamahan selanjutnya adalah pengetahuan tidak dipahami sebagai capaian penting dalam pembelajaran. Pengetahuan dianggap sebagai bukan hasil dari proses pendidikan, maka dari itu budaya baca dan menulis buku kurang serius dihargai di lingkungan pendidikan. Survey kecil ketika supervisi PTMT dari 15 orang peserta didik, dengan jujur dihadapan Tuhan nya, mereka tidak suka membaca. Peserta didik demikian juga pendidik yang suka membaca masih jadi golongan minoritas, padahal ini dunia pendidikan.

Kelamahan lain yang dimiliki kita adalah para pendidik sangat jarang sekali menguasai pengajaran yang mengajarkan bagaimana cara memperloleh pengetahuan level 4, 5, dan 6. Kelamahan ini telah berdampak pada rendahnya penghargaan peserta didik pada pengetahuan, memberi dampak pada prilaku rendahnya minat baca, rendahnya kemampuan berpikir, dan rendahnya kemampuan bertahan dalam kondisi sulit (survival).

Semua kelemahan pendidikan kita, berawal dari kualitas bacaan dan rendahnya kualitas pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Pengetahuan yang dimiliki peserta didik adalah kualitas pengetahuan awam, pengetahuan pasaran, pengetahuan murahan, yang tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ketika peserta didik kembali ke masyarakat. Pengetahuan murahan hanya diakses dari televisi, berita koran, dan chating media sosial, diakses dengan menggunakan kemampuan otak level rendah. Semua kembali pada ilmu kependidikan yang harus ajeg dimiliki setiap pendidik.

Salah satu Ilmu yang ajeg dan tidak boleh dilupakan guru adalah teori kogintif dalam pembelajaran. Ilmu ini dilupakan karena kesalahpahaman. Dikira teori kognitif hanya mewakili kemampuan otak dalam berlogika, analisis, dan sintesa, padahal merasa, benci, cinta, dan munculnya manusia-manusia berkarakter baik adalah bagian dari bekerja dan berfungsinya otak. Pengetahuan sebagaimana menurut Sorokin, bisa di dapat melalui penalaran otak mamalia baru, bisa di dapat dengan perasaan (otak mamalia tua), dan bisa di dapatkan dengan cara melakukan (otak reptil). Oleh karena itu, pembelajaran harus memenuhi karakteristik ketiga fungsi otak. Di wilayah otak mamalia muda, pembelajaran harus melatih bagaimana peserta didik mendapat pengetahuan sampai pada pengetahuan dengan kualitas level enam. Di wilayah otak mamalia tua, pembelajaran harus bisa memberikan efek senang, riang, dan gembira. Untuk itu informasi yang masuk ke otak harus dipilih, informasi-informasi yang benar-benar membawa kebaikan dan harapan bagi para peserta didik. Pada wilayah otak reptil, pembelajaran harus menghadirkan informasi-informasi yang menstimulus peserta didik untuk berani melakukan, berani mencoba hal-hal yang baik dan mengulanginya.

Inilah ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru sampai kapan pun, karena fungsi dan struktur otak minimalnya memiliki tiga fungsi sebagaimana dikemukakan para ahli otak dan ahli pendidikan. Melupakan ilmu dasar ini, akan berakibat rendahnya kepemilikan kualitas pengetahuan peserta didik, rendahnya kepemilikan makna hidup peserta didik, dan terbentuknya karakter-karakter peserta didik yang dikendalikan oleh naluri manusia-manusia pasaran yang hanya pantas untuk menerima suruhan dan cacian sebagaimana terjadi di zaman penjajahan. Wallahu’alam.

Sunday, October 31, 2021

KURIKULUM MULTI TRACK

Oleh: Toto Suharya
(Pengurus MKKS Provinsi Jawa Barat)

Ide menarik yang diperkenalkan dalam diskusi dengan Tim Dirjen Paud Dikdasmen, pada hari Jumat, 30 Oktober 2021, di Bandung. Diskusi menyoroti antara lain dampak dari PPDB Zonasi. Dampak PPDB zonasi bukan hanya bentuk fisik heterogennya kemampuan peserta didik di sebuah sekolah. Dampak serius dari PPDB adalah terjadinya perubahan paradigma pendidikan di sekolah yang harus dipahami oleh semua stake holder pendidikan.  Beranekaragamnya kecerdasan peserta didik di setiap sekolah, menuntut kepala sekolah dan guru-guru, mengubah sudut pandang terhadap seluruh peserta didik sebagai manusia yang memiliki kecerdasan dan berhak untuk tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Filosofi Ki Hadzar Dewantara, “semua makhluk adalah guru semua ruang ada kelas”, merupakan pandangan universal yang memberi arah berpikir bahwa kita tidak boleh merendahkan manusia bagaimanapun kondisinya. Pandangan yang membumi ini, di dukung oleh penemuan Howard Gardner terkait dengan multiple intelegent (kecerdasan majemuk), bahwa setiap diri peserta didik memiliki minimal sembilan kecerdasan. Kecerdasan akademik yang selama ini diukur dengan tes-tes tertulis tidak cukup mengukur dan mengidentifikasi kecerdasan majemuk yang dimiliki peserta didik. McClelland mengatakan, skor ujian akademik hanya bisa membuktikan peserta didik berprestasi di sekolah, tetapi tidak dapat dijadikan ukuran untuk sukses di masyarakat.

Di abad kreatif, penghargaan masyarakat bukan lagi pada juara prestasi akademik atau lomba-lomba, tetapi keterampilan hidup apa yang dimiliki agar bisa bekerjasama dan membantu sesama. Perusahaan-perusahaan teknologi informasi kelas dunia saat ini sudah mulai melakukan perubahan dalam rekrutmen tenaga kerja. Mereka tidak terlalu mempermasalahakan status akademik tetapi sejauh mana tenaga kerja yang akan direkrut memaham dan menguasai pekerjaan yang akan dilakukannya.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Para pengelola dan praktisi pendidikan harus melakukan refleksi terkait dengan tujuan, proses, dan evaluasi pembelajaran yang selama ini dilakukan dan apa yang harus dilakukan? Pertama, cara pandang kita terhadap peserta didik harus diubah. Yohanes Surya mengemukakan cara pandang yang harus kita miliki saat ini, “tidak ada anak yang bodoh kecuali mereka tidak punya kesempatan dengan guru yang baik”. Guru yang baik adalah mereka yang memberikan materi ajar, pendekatan belajar, dan evaluasi belajar, yang sesuai dengan karkateristik dan kebutuhan peserta didik.

Kurikulum multi track adalah jawaban yang bisa kita implementasikan dalam kurikulum di sekolah. Gagasan ini sudah dilakukan melalui kurikulum double track di Jawa Timur. Peserta didik selain mendapat layanan pendidikan akademis diberi tambahan dengan pembelajaran kursus-kursus singkat yang melatih kemampuan hard skill, yang bisa jadi modal keterampilan hidup ketika kembali ke masyarakat. Kurikulum multi track adalah pengembangan konten pembelajaran yang lebih luas sehingga bisa mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Konsepnya sama dengan kurikulum double track, memberi skill tambahan kepada peserta didik berkolaborasi dengan berbagai pihak bersumber pada bakat dan minat yang dimiLiki peserta didik.

Skill tambahan yang dimiliki peserta didik, agar kualitasnya terjamin harus melalui proses terstandar di bawah lembaga-lembaga profesional. Dilengkapi dengan keterangan sertifikat, setelah lulus SMA, peserta didik tidak hanya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi mereka dibekali dengan hard skill yang dapat memberi mereka masuk dunia kerja atau wirausaha.

Melalui kurikulum multi track, peserta didik SMA dapat memilih kelas-kelas kursus tambahan sesuai dengan bakat dan minat mereka. Kelas vocal, akustik, olah raga, desain grafis, coding, tata boga, melukis, marketing digital, konten creator, adalah program-program multi track yang bisa di dapat oleh peserta didik.

Lembaga pendidikan kini tidak bisa lagi berdiri sendiri tetapi harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk bekerjasama membantu pengembangan hard skill peserta didik di sekolah. Lebih penting lagi adalah hard skill yang bersentuhan dengan penggunaan teknologi informasi dalam berbagai bidang kehidupan yang akan terus berkembang di masa yang akan datang. Upaya pendidikan menjadi benar-benar upaya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan lembaga-lembaga di masyarakat. Demikian sedikit gagasan dari hasil diskusi saya sampaikan. Semoga mengispirasi kita semua untuk membekali seluruh peserta didik agar bisa beradftasi dengan kondisi zaman. Wallahu’alam.

Saturday, September 25, 2021

PROXY WAR LITERASI

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Menarik sekali gagasan Rifki Okta Ketua Umum Lembaga Bantuan Hukum Siliwangi tentang proxy war. Sebagai guru sejarah, penulis sangat mengerti apa tujuan dari proxy war. Tujuannya adalah mengendalikan opini masyarakat untuk suatu tujuan tertentu. Proxy war digunakan oleh negara-negara berkekuatan besar untuk berebut pengaruh agar menjadi negara adikuasi di dunia. Dalam sejarah tercatat telah terjadi proxy war antara blok komunis dan liberal. Perang pengaruh dilakukan melalui pemberitaan media massa tentang segala kehebatan negara. Pamer teknologi informasi, pamer senjata mematikan, pamer kekuatan ekonomi, pamer kerjasama politik, militer dengan negara-negara di dunia, semua bertujuan untuk memengaruhi opini masyarkaat agar mau bergabung dan mau menjadi kawan pendukung setia.  

Di era teknologi informasi, peran media sangat vital. Menurut Ricki Okta para awak media dianggap sebagai anggkatan ke lima dalam menjaga kedaulatan negara. Kekuatan para awak media dapat diandalkan untuk membentuk opini dunia tentang eksistensi sebuah bangsa. Keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan proxy war dengan Rusia, tidak lepas dari bantuan awak media yang berhasil menyebarkan luaskan berita-berita keunggulan Amerika Serikat bersama sekutu ke seluruh dunia. Opini publik terbentuk dan masyarakat dunia sebagian besar menjadi pro dan menaruh harapan pada Blok Amerika dan sekutunya.

Begitulah gambaran sejarah tentang proxy war, yang jika kita cermati siapa yang berperan dalam proxy war, dia adalah para awak media. Proxy war adalah perang intelektual atau perang psikologi, dan jarang dipahami oleh masyarakat awam yang hidup hanya cari makan semata. Perang ini sangat mengandalkan kecerdasan intelektual dan dilakukan oleh orang-orang berotak cerdas di atas genius. Perang ini seperti menggunakan pasukan ribuan malaikat yang tidak terlihat tetapi akibatnya sangat mematikan.

Pemanfaatan media sebagai alat perang, berfungsi sebagai penggiring dan pembentuk opini. Berita opini harus mengikuti kode etik jurnaistik, tidak terlihat menyerang, mencemooh, menjelekkan pihak lain, tetapi sebatas memberitakan fakta. Para awak media akan memberitakan fakta sesuai dengan tujuan negara, yaitu untuk menjaga kedaulatan dan kedamaian negara. Apakah proxy war saat ini sudah berakhir? Selama negara memiliki kepentingan, proxy akan tetap digunakan untuk tujuan-tujuan negara.


Untuk dunia pendidikan proxy war bisa diadaftasi sebagai program peningkatan budaya literasi peserta didik. Program ini sangat cocok dikembangkan di sekolah melihat situasi perkembangan berita di media elektronik seperti banjir bandang yang bisa meluluhlantakkan perumahan warga. Budaya literasi di sekolah diarahkan untuk memberitakan hal-hal positif tentang dunia pendidikan di Indonesia, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan mengikuti kode etik jurnalistik.

Program proxy war di sekolah bisa menjadi pendidikan kewarganegaraan dalam rangka menanamkan rasa nasionalisme bagi para peserta didik. Wujud rasa cinta tanah air para peserta didik dapat dipupuk melalui tulisan-tulisan positif tentang bangsa Indonesia dengan mempromosikannya kepada dunia melalui media digital di sekolah-sekolah.  

Program Proxy War Literasi dapat meningkatkan kemampunan intelektual peserta didik karena mereka dituntut untuk berpegetahuan positif dan selalu menulis dan membaca. Kepemilikan pengetahuan para peserta didik adalah modal kedaulatan bangsa. Melalui pemanfaatan media informasi digital, peserta didik bisa berkarya secara intelektual tanpa batas. Kreatifitas peserta didik melalui karya tulis dapat membantu para peserta didik mengembangkan wawasan kebangsaan dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Program Proxy War Literasi adalah budaya yang harus disebarluaskan sebagai tanda bahwa masyarakat telah beradftasi dengan era informasi. Masyarakat harus diberi kesadaran bahwa informasi-informasi yang berkembang di masyarakat hampa kepentingan. Setiap informasi yang disebar memiliki kepentingan. Dalam dunia pendidikan, informasi-informasi yang disebar tujuannya adalah untuk pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat dan kedaulatan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Wallahu’alam. 

PENDIDIKAN SADAR HUKUM DI SEKOLAH

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di dunia dengan basis dukungan masyarakat religius. Agama-gama besar di dunia seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu dianut oleh warga negara Indonesia. Islam adalah  agama terbesar yang dianut oleh bangsa Indonesia. Dalam sebuah polling internasional Indonesia tercatat sebagai negara yang dihuni oleh penduduk sangat religius. Toleransi saling menghargai antar umat beragama sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Inilah negara demokrasi berbasis masyarakat religius dengan kehidupan toleransi beragama yang dapat dicontoh oleh seluruh bangsa di dunia.

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru tahun 1998, Indonesia memang terus melesat mengukuhkan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi religius terbesar di dunia. Adanya demokrasi ditandai dengan pengakuan hak manusia sebagai individu. Dengan pengakuan hak asasi manusia secara individu, negara menjamin hak-hak individu dan tidak bisa direnggut oleh pihak manapun. Negara sekalipun tidak boleh melanggar hak asasi seorang warga negara.

Namun demikian kadang kita lupa, syarat-syarat sebagai negara demokrasi harus tetap terpenuhi. Syarat utama dari negara demokrasi adalah kecerdasan dan kesadaran masyarakat sebagai warga negara yang baik harus tersebar merata. Demokrasi tanpa kecerdasan dan kesadaran hukum sebagai warga negara, maka premanisme akan merebak di mana-mana dalam berbagai wujud rupa.

Dalam dunia preman bukan aturan hukum yang dipergunakan tapi kekuatan dan ketakutan. Siapa bisa menciptakan dan mengendalikan ketakutan, dia akan jadi pengendali kekuatan. Dalam dunia preman, struktur organisasi, kepemimpinan, tidak ada harganya. Untuk hidup di dunia preman, asal punya keberanian dan bisa menebar ketakutan, maka negara bisa dikendalikan dan para pemimpin tidak berdaya. Inilah dunia jahiliyah tidak berperadaban.

Dengan Inovasi dan kolaborasi, sekolah-sekolah selayaknya memiliki kerjasama dengan lembaga-lembaga bantuan hukum di masyarakat, untuk melibatkan masyarakat dalam upaya meningkatkan pendidikan sadar hukum dan menjadikan hukum sebagai pengendali masyarakat. Untuk melaksanakan pendidikan sadar hukum di sekolah, harus ada dukungan masyarakat, karena hukum negara tidak hanya berlaku di sekolah tetapi dalam kehidupan di masyarakat.

Kerjasama sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dengan Lembaga Hukum Siliwangi yang diketuai Rifki Okta adalah terobosan program pendidikan hukum yang sangat kreatif dan inspiratif. Dengan adanya kerjasama ini sekolah menjadi punya dukungan dari masyarakat untuk memberikan pendidikan hukum di sekolah maupun di masyarakat. Produk-produk pendidikan terbaik dari sekolah adalah lulusan-lulusan yang memiliki kesadaran hukum. Negara demokrasi yang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia sangat membutuhkan warga-warga negara yang taat hukum.

Perpecahan, konflik sosial, penyimpangan sosial, perampokkan, pencurian, penipuan, pemerasan adalah akibat dari masyarakat yang tidak bisa hidup dengan aturan hukum yang berlaku. Semoga dengan terwujudnya kerjasama pendidikan hukum antara sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dapat menginspirasi seluruh stake holder pendidikan di Jawa Barat dan seluruh Indonesia. Program ini dapat juga dipandang sebagai wujud nyata pemanfaatan tri pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat, untuk ikut andil dalam mewujudkan pendidikan sadar hukum di lingkungan sekolah untuk melahirkan lulusan-lulusan terbaik bagi bangsa dan negara.

Semakin banyak manusia-manusia Indonesia berkesadaran hukum tinggi, semakin besar peluang bangsa Indonesia menjadi bangsa besar dengan kedaulatan politik dan ekonomi berpengaruh di dunia. Dengan kesadaran hukum yang merata bagi seluruh warga negara Indonesia, akan tercipta lingkungan masyarakat tertib, aman, damai, dan sejahtera. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud karena semua warga negara Indonesia dijamin hak dan kewajibannya oleh hukum negara.

Kejasama pendidikan sadar hukum antar sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung Barat  dengan Lembaga Hukum Siliwangi sangat berkaitan dengan tujuan pendidikan di sekolah. Pada semua mata pelajaran, termasuk dalam pelajaran agama, Allah sangat menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk taat pada pemimpin, artinya seluruh umat beragama diperintahkan hidup damai sejahtera dengan rela diatur oleh hukum-hukum negara yang tujuannya sesuai dengan falsafah Pancasila yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Semoga terobosan program kerjasama antara lembaga bantuan hukum dengan sekolah dapat meningkatkan jumlah manusia-manusia sadar hukum di Indonesia. Wallahu’alam. 

Friday, August 27, 2021

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kapan saja, dan oleh lapisan masyarakat mana saja, maka inilah tanda-tanda bahwa keberadaan “guru” akan berakhir (the end of teacher). Bukan profesi gurunya yang akan berakhir tetapi sosok-sosok guru yang tidak berusaha membaca dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Guru-guru yang tidak berhasil membaca dan cepat beradaftasi dengan perubahan zaman seperti cerita tukang ojeg pangkalan, dan tragisnya para supir angkutan kota.

Sebagaimana hasil penelitian anak-anak (2020) terhadap penghasilan tukang ojeg pangkalan dibandingkan dengan tukang ojeg online, perbandingannya sudah mencapai 25:75 persen. Umpama, tukang ojeg panggalan penghasilannya 25 ribu rupiah perhari, tukang ojeg online 100 ribu rupiah perhari.  Namun demikian sekalipun faktanya demikian, tukang ojeg pangkalan tetap menjalaninya, dia tidak belajar dari perubahan zaman, dan cenderung menyerah pada keadaan. Dia tetap menunggu penumpang di pangkalan sekalipun peminatnya sudah banyak menghilang. Peminatnya hanya tinggal generasi old mind yang tidak bisa mengoperasikan layanan tranpsortasi online kerena gagap teknologi. Jumlahnya pun semakin sedikit dan sebentar lagi punah.

Demikian juga dengan supir angkot dijalanan, dari pengamatan sehari-hari ketika berangkat dan pulang kerja, angkot-angkot hilir mudik hanya mengangkut dua atau tiga orang penumpang, dan kadang-kadang kosong. Sambil mengendarai angkotnya pelan-pelan, nasib angkot seperti melihat binatang sekarat menunggu kematian. Diskusi dengan pemilik angkot penghasilan mereka turun hingga 75% per harinya. Biaya pemeliharaan, bahan bakar, tidak lagi bisa menutupi kebutuhan operasional kendaraan. Angkot seperti orang sakit parah yang tetap berusaha bertahan hidup dengan cara-cara pengobatan sederhana tanpa ada alternatif pengobatan dan pemanfaatan teknologi kesehatan.

Analogi kisah di atas, adalah gambaran dari “guru” yang tidak mampu beradaftasi dengan kemajuan zaman. Wawasannya terbatas karena tidak memiliki budaya literasi tinggi, mereka tetap bertahan dengan gaya mengajar zaman old mind, mengunakan buku paket, mengajar sebagaimana yang ada dalam buku paket, memberi tugas dan menguji dengan soal-soal tes low order thingking. Ujian hanya menguji ingatan dan pemahaman konsep-konsep yang tidak dibutuhkan peserta didik di lapangan. Hasil tes kemudian dirangking menjadi siswa bodoh dan pintar, jadi hasil dari pendidikan adalah peserta didik bodoh dan pintar. Gaya mengajar yang kaku dan membosankan, membuat peserta didik frustrasi dan mereka mempersepsi sekolah seperti penjara, atau penjajahan yang dilegalisasi atas nama pendidikan. Para pengusaha sukses yang kebetulan tidak berpendidikan tinggi, mereka mencela dunia pendidikan sebagai penyebab kemiskinan, karena peserta didik tidak diajari bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi di atas adalah gambaran bahwa guru-guru” jika tidak adaftif akan terdisrupsi oleh perubahan zaman. Mereka akan hilang dari permukaan, namun mereka tidak sadar kenapa mereka diasingkan seperti kasus Hand Phone Nokia yang hilang dari pasaran, padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa era sekarang label guru yang harus digugu dan ditiru konteknya ada embel-embel yaitu dalam hal melakukan perubahan. Guru harus tetap menjadi sosok yang digugu dan ditiru namun dalam kontek membawa anak-anak untuk beradaftasi dengan perubahan zaman. Guru harus seperti mobil transformer yang bisa berubah-ubah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika kita ikuti dari prasarana belajar yang digunakan, sosok guru terus mengalami evolusi sesuai dengan perubahan zaman. Pada awalnya guru tampil mengajar dengan kapur tulis. Guru “kapur tulis” pada tahun 2000 an,  seiring dengan perubahan zaman terdesak punah oleh keberadaan spidol white board dan over head proyektor (OHP). Guru spidol mengajarkan pengetahuan dengan mendemostrasikannya di papan tulis dan OHP. Dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi, guru “spidol” terdesak lagi oleh kehadiran komputer dan proyektor. Guru “proyektor” menyajikan pembelajaran dengan membuat slide dan menampilkannya ke dalam proyektor di kelas-kelas. Kondisi pun berubah lagi, guru “proyekor” terdesak dengan kehadiran smartphone dan aplikasi-apikasi  pembelajaran.

Pandemi covid-19 awal tahun 2019 hingga sekarang, telah banyak menelan korban, demikian juga dalam dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 telah menelan banyak korban guru-guru, diantaranya “guru” generasi kapur tulis, spidol, dan proyektor. Ketika pandemi Covid-19 guru kapur tulis, spidol, proyektor, yang dibatasi ruang kelas dan papan tulis, tak berkutik tidak bisa mengajar.  Guru-guru yang tidak bisa beradftasi dengan perkembangan teknologi informasi, tidak memiliki daya adaftasi tinggi, tidak kreatif, pada masa pandemi covid-19, mereka berstransformasi menjadi guru “whatsApp”. Pada masa pandemi pembelajaran diayani melalui chatting di wa grup. Pembelajaran dilakukan dengan gaya chating di wa grup, kadang di jawab kadang tidak. Peserta didik berkeluh kesah, sulit membangun komunikasi dengan guru. Pada akhirnya peserta didik merindukan tatap muka, bertemu dengan guru-gurunya lintas generasi.

Guru-guru dengan daya adaftasi tinggi, ketika masa pandemi covid-19 mereka tampil dengan berbagai perangkat teknologi informasi penunjang, WhatsApp, voice note, file pdf, video youtube, medsos, google meet, google sheet, zoom meet, dan flatform-flatform aplikasi penunjang pembelajaran dari berbagai produk dipelajari dan dikembangkan untuk memberikan alternatif layanan pendidikan pada peserta didik yang terkendala komunikasi karena pandemi covid-19. Guru-guru dengan multi tasking berubah wujud menjadi guru-guru berkarakter entrepreneur. Sementara guru-guru yang tidak adafif mengalami sekarat dan kematian (the end) akibat pandemi covid-19, di lain pihak guru-guru berkarakter entrepreneur tetap sehat dan semakin sejahtera hidupnya, melayani pendidikan anak-anak dengan energik, penuh semangat, dan optimis, melayani anak-anak dengan berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik sekalipun pandemi Covid-19 melanda dunia. Wallahu'alam.


MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiat...