Kisah Nabi Musa adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Apakah manusia bisa melihat Tuhan? Dari kisah Nabi Musa kita bisa paham. Kalau ada manusia mengaku melihat Tuhan, sudah pasti itu berita palsu dan dusta.
Hakikatnya Tuhan itu tidak bisa dilihat dan dimaterikan. Untuk manusia-manusia yang masih mengaku melihat Tuhan harus segera bertobat. Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Bacalah dengan seksama kisah Nabi Musa di bawah ini.
Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui ". (Al A'raaf, 7:138).
Kisah di atas adalah sebab Nabi Musa meminta kepada Allah bisa melihat Nya . Bani Israel telah meminta kepada Nabi Musa dibuatkan tuhan sebagaimana ada kaum menyembah dan melihat tuhan-tuhan mereka.
Nabi Musa sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat Tuhan. "Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al A'raaf, 7:140).
Nabi Musa sudah mengetahui bahwa tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan. Untuk meyakinkan dirinya, Nabi Musa memohon kepada Allah untuk menguatkan keyakinannya bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan. Untuk itulah Nabi Musa mengajukan permohonan pada Allah. Kisah ini dijelaskan dalam Al Quran.
Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A'raaf, 7:143).
Kisah ini menjadi jawaban bagi seluruh umat manusia bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa melihat Tuhan, karena gunung pun hancur luluh lantak.
Ini pelajaran mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa mematerikan Tuhan dalam bentuk wujud-wujud sesembahan adalah perbuatan tidak masuk akal atau cacat logika. Bagi manusia berakal sehat mereka bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, mereka seharusnya paham, jika ada tuhan-tuhan dalam bentuk wujud materi dibuat sesembahan, sudah pasti itu adalah perbuatan para pendusta.
Sebagaimanan Nabi Musa sebelumnya sudah memberi penjelasan mereka yang membuat tuhan-tuhan sesembahan yang bisa dilihat, "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (Al A'raaf, 7:139).
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Al Mukminuun, 23:91).
Jika kamu manusia berakal sehat, sudah pasti dalam memilih agama mana yang benar, kamu akan memilih agama yang dianut oleh mereka, tandanya mereka menyembah kepada Tuhan ghaib yang tidak dapat dilihat mata. Itulah tanda-tanda agama yang lurus.***
"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al 'Alaq, 96: 15-16).
Orang-orang yang berpilaku jahat ada masalah di ubun-ubun. Ubun-ubun adalah posisinya ada di kepala bagian atas. Ubun-ubun berkaitan dengan otak. Fungsi otak sangat vital dalam organ tubuh manusia. Seluruh pemikiran, prilaku, dan teknologi, yang diciptakan manusia asalnya dari otak.
Allah ingatkan bahwa ubun-ubun rusak menjadi sebab manusia berprilaku menyimpang. Untuk memperjelas masalah ubun-ubun kita perlu penjelasan ilmiah dari hasil penelitian tentang otak.
Para ahli otak berhasil membagi-bagi otak menjadi beberapa bagian dengan penjelasan fungsi-fungsinya. Ubun-ubun otak bagian mana dan apa fungsinya? Kita cek dengan bantuan ilmu tentang otak (neurosains).
Ubun-ubun menurut Neurosains adalah bagian otak lobus parietal. Ada di area otak bagian tengah. Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data "input" dari indra kita.
Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data dari indra kita.
Ubun-ubun fungsinya sangat vital karena semua infiormasi yang diinput dari indera di proses di ubun-ubun. Fungsi ubun-ubun menurut ilmu otak sebagai berikut:
Integrasi Sensorik: Mengolah informasi tentang sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu. Inilah yang membuat kamu tahu rasa tekstur benda atau suhu air saat menyentuhnya.
Navigasi dan Persepsi Spasial: Memberi tahu kamu di mana posisimu berada dan bagaimana hubungan jarak antar objek. Tanpa fungsi ini, kamu akan sulit memperkirakan jarak saat melangkah atau mengambil gelas.
Koordinasi Tubuh, Memungkinkan otak mengetahui posisi bagian tubuh tanpa harus melihatnya. Contohnya, kamu tetap bisa menyentuh ujung hidung dengan mata tertutup berkat lobus ini.
Jika ubun-ubun mengalami gangguan, manusia bisa mengalami ganguan masalah rasa, persepsi, motorik, navigasi, bahasa, dan akademik. Allah mengabarkan, orang-orang yang suka dusta dan durhaka, harus ditarik ubun-ubunnya.
Bagaimana cara mengobati ubun-ubun yang sudah terkena gangguan? Allah memberi dasar pengetahuan dengan meluruskan kembali keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terapinya adalah sujud.
"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).
Aktivitas sujud secara disiplin, terencana, dan teratur, ada dalam kegiatan shalat. Sujud dalam shalat adalah posisi kesadaran penuh manusia sebagai hamba yang lemah dan tidak berdaya dihadapan Tuhan.
Sujud adalah bentuk kesadaran manusia, kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Tuhan, tidak punya daya dan upaya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.***
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33)***
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini.
Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).
Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar.
Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam.
"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).
Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat.
Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.
Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain.
Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada.
Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud.
Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.
Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***
Di sekolah ada mata pelajaran, apakah yang harus dipelajari? Al Quran memberi petunjuk hal-hal apa yang harus dipelajari. Allah memberi tanda-tanda kepada manusia tentang apa-apa yang harus dijadikan pelajaran dan harus dipelajari.
Selama ini, manusia tidak sadar telah mempersulit dan menghalang-halangi orang untuk belajar Al Quran. Al Quran diajarkan tapi sesungguhnya tidak diambil pelajarannya. Metode membaca Al Qur'an dalam bahasa Arab, mengenal panjang dan pendek cara membacanya, kemudian dilombakan seolah-olah telah belajar Al Quran. Sebenarnya belum cukup.
Itulah kejumudan yang dipelihara dan dibudayakan dalam tradisi masyarakat. Padahal Allah mengingatkan bahwa Al Quran isinya pengetahuan. Pengetahuan harus masuk ke otak agar menjadi pola pikir, tindakan, kebiasaan, prilaku, dan menjadi ciri khas orang beriman. Al Quran seharusnya menjadi sumber gagasan pengembangan ilmu dan teknologi untuk kesejahteraan manusia.
Allah mengulang-ngulang dalam Al Quran, bahwa Allah akan memudahkan bagi orang-orang yang mau mempelajari Al Quran. Metode-metode pengajaran Al Quran harus terus dikembangkan untuk memudahkan setiap orang memahami Al Quran.
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:17)
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:22).
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:32).
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar, 54:40).
Siapa yang mempersulit orang untuk mempelajari Al Quran, dia telah menentang Allah, dia tidak memahami kehendak Allah, dia tidak belajar dari Al Quran, dia membawa hawa nafsunya sendiri. Bangsa Iran adalah contoh negara dimana umatnya belajar dari Al Quran.
Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:269).
Arti kata dasar hikmah adalah menghalangi, memutuskan, atau menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Orang yang diberi hikmah artinya mereka akan dihalangi, terputus, dari hal-hal buruk, dan mampu bertindak adil. Makna istilah hikmah adalah kebijaksanaan, pengetahuan yang bermanfaat, atau kemampuan membedakan antara benar dan salah.
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imaran, 3:7).
Banyak hal yang harus dipelajari jika kita cari hikmah-hikmah di dalam Al Quran. Allah memberi tanda-tanda dalam Al Quran, apa yang harus jadi pelajaran bagi umat manusia.
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).
Ilmu Debat.
Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? (Al Ana'am, 6:80).
Ilmu Alam dan Pertanian.
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A'raaf, 7:57).
Ilmu Astronomi dan Geografi
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus, 10:3)
Ilmu Kesehatan
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus, 10:57).
Ilmu Anatomi
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus, 10:92).
Ilmu Pendidikan
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Huud, 11:24).
Ilmu Ketauhidan.
(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim, 14:52).
Ilmu Peternakan.
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An Nahl, 16:66)
Ilmu Politik
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl, 16:90).
Ilmu Agama
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl, 16:125).
Ilmu Pendidikan Keluarga
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (Lukman, 3113).
Ilmu Perang
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13).
Ilmu Sejarah
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah, 2:66).
Masih banyak hikmah dan pelajaran yang harus dipelajari umat manusia berdasarkan sumber dari Al Quran. Orang-orang beriman layaknya menjadi orang-orang terpelajar dan menguasi berbagai ilmu pengetahuan. Inilah yang luput dari Al Quran, karena Al Quran tidak jadi sumber ilmu pengetahuan.***
Iran tampil menjadi satu-satunya negara yang berani terang-terangan hadapi Amerika Serikat. Dunia kaget dengan kemampuan teknologi perang Iran dan kekompakkan masyarakat mendukung rezim di Iran. Dunia kagum dengan sistem pertahanan Iran dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Rezim Iran menjadi bukti pada dunia bahwa Islam sebagai landasan dalam sistem bernegara bisa jadi kekuatan dan kesejahteraan masyarakat. Iran menjalani masa embargo ekonomi, berubah menjadi negara berdaulat secara ekonomi dan teknologi.
Berdasarkan pengamatan ada beberapa hal yang membuat Iran bisa berubah jadi negara kuat padahal selama 47 tahun mendapat embargo ekonomi. Penulis mengkaji dengan menggunakan Al Quran sebagai sudut pandang, teori, dan fakta dilapangan sebagai bukti empiris.
Pertama, hal yang membuat Iran bisa berubah menjadi negara kuat adalah embargo ekonomi selamat 47 tahun. Teorinya bisa dipahami dari Al Quran, bahwa kesulitan adalah sebab dari kemudahan. Artinya kesulitan yang dihadap dapat berubah menjadi penemuan-penemuan terbaru yang menjadi solusi dalam menjalani kesulitan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ( Alam Nasyrah, 94:5-6).
Embargo selama 47 tahun, telah mengubah bangsa Iran menjadi bangsa dengan kemampuan resiliensi tinggi. Teori-teori psikologi banyak mengungkap bahwa kekuatan lahir dari kesulitan-kesulitan, dan kemalangan hidup yang dihadapi dengan kesabaran. Stolz mengungkap dalam teorinya dikenal Adversity Quotion (AQ), bahwa kemampuan bertahan hidup dalam kondisi sulit adalah keunggulan.
Kesulitan melahirkan manusia-manusia kreatif dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan. Iran selama masa embargo berhasil mengembangkan berbagai teknologi pertahanan dengan biaya murah menjadi pendukung bagi kemandirian dan kedaulatan negara.
Kedua, keyakinan terhadap Tuhan dan akal sehat. Kemampuan bertahan dalam kondisi sulit tidak semata-mata terjadi tetapi terbentuk karena keyakinan. Bangsa Iran termasuk kaum intelek yang memahami Al Quran tidak sebatas mantra-mantra atau kumpulan doa. Keyakinan bangsa Iran bersandar pada keyakinan pada kitab suci Al Quran sebagai jalan hidup, pola pikir, dan sumber ilmu pengetahuan.
Bagi bangsa Iran, Al Quran adalah sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta motivasi untuk keluar dari krisis dengan bimbingan Tuhan. Sijjil adalah salah satu senjata Iran mematikan terinpsirasi dari Al Quran. Drone-drone Shahed yang mematikan adalah burung-burung Ababil yang berhasil mengalahkan pasukan Abrahah.
Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan. (Al Fiil, 105: 3-5).
Ketiga, Iran membangun karakter bangsanya berlandaskan pada Al Quran. Para pemimpin tertinggi Iran menjadi teladan bagi rakyatnya. Almarhum Ali Khamenei sampai akhir khayatnya menjadi pemimpin dengan penuh kesederhanaan. Nabi Muhammad adalah pemimpin dengan gambaran hidup sederhana tidak bergelimang kemewahan.
Kepemimpinan yang kuat membentuk karakter bangsa Iran punya semangat persatuan tinggi untuk mendukung para pemimpin dan bangsanya. Di bawah bimbingan Al Quran, rakyat Iran berhasil membangun karakter masyarakat sabar, optimis, nasionalis, berani mati karena Allah demi negara Iran berdaulat secara militer, politik, dan ekonomi.
Iran telah membuktikan pada dunia, dengan berpedoman pada Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan dan karkater, Iran tidak menjadi negara agresor. Iran menjadi bangsa tangguh dengan kemandirian dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perang yang terjadi tahun 2026, dipicu oleh serangan agresi militer Amerika Serikat ke Iran.
Iran berpegang teguh pada Al Quran sebagai bangsa berdaulat anti penjajahan. Iran membuktikan, pengembangan teknologi senjata bukan untuk penjajahan, tapi untuk menjaga kedaulatan negara. Apa yang dilakukan Iran bisa ditiru oleh bangsa-bangsa di dunia.
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran, 3:200).***
Kampus-kampus minim lahirkan pemikir-pemikir baru, karena diajari hanya mengikuti pemikir-pemikir impor sehingga jadi pengekor. Kondisi ini terjadi didukung penelitian yang dilakukan terlalu normatif, adminsitratif, dan tidak solutif. Penelitian tidak berbasis rasa ingin tahu, dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.
Pendidikan agama di pesantren, dan sekolah, menjadi ritual ajaran moral yang tidak mendorong santri dan murid jadi penyelesai masalah dengan semangat menciptakan berbagai produk budaya. Pendidikan tidak jelas arah karena tidak berorientasi pada penyelesaian masalah.
Kehidupan jorok bertahun-tahun terpelihara karena pendidikan tidak menyelesaikannya. Murid-murid di usia dini sibuk ajari mewarnai, hafalan-hafalan doa, dan tari-tarian untuk acara seremonial, tapi masalah kebersihan tidak jadi pelajaran dasar yang dijadikan patokan keberhasilan pendidikan.
Kemiksinan akut terpelihara karena pengajaran sedekah sebatas memberi dalam bentuk fisik, bukan membuat sistem ekonomi yang bisa mensejahterakan banyak orang secara berkelanjutan. Pengajaran sedekah sebenarnya ada dan diterapkan dalam prinsip ajaran agama yaitu saling mensedekahi.
Ajaran agama yang dianut lebih cenderung pada ritual, doa, dan perayaan. Nabi Muhammad mengajarkan bahwa agama dalah akhlak mulia. Seharusnya agama mengajar akhlak mengelola uang, sampah, air, udara, pohon, hutan, sungai, dan informasi supaya jadi berkah. Agama menjadi penghambat kemanjuan zaman karena proses pemahaman terlalu kaku dan sempit.
Pemikiran-pemikiran dalam beragama dijaga oleh guru-guru mursid yang kadang berubah menjadi tuhan-tuhan selain Tuhan. Guru-guru memagari murid-murid untuk berpikir, agar tidak keluar dari jalur pikiran gurunya secara turun-temurun lintas abad dan generasi. Padahal Allah memeirntahkan agar berpikir supaya bisa refleksi memperbaiki kekurangan diri.
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?" (Al Baqarah, 2:44).
Narasi beragama di Indonesia membawa narasi dari abad ke 7 hingga sekarang relatif sama, menarasikan ajaran agama dari kelompok tertentu. Narasi beragama dari abad 7 dilembagakan melalui lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama. Kekakuan narasi agama inilah yang membuat umat tidak tumbuh dan cenderung stagnan dalam berpikir.
Agama yang dinasrasikan di Indonesia cenderung menyempitkan pemahaman Al Quran menjadi pemahaman dari satu sudut pandang. Khasanahnya tidak berkembang dan kajian Al Quran tentang sain dan teknologi tidak berkembang di sekolah maupun kampus. Al Quran dipahami hanya menarikan ajaran nilai dan moral, itupun bersifat parsial.
Artinya keterbelakangan umat beragama didukung oleh terlalu ketatnya guru-guru dalam menjaga pola pikir murid-muridnya, agar tidak keluar dari kelompoknya. Guru-guru agama pun cenderung mencari aman dengan cukup menarasikan ajaran dari guru terdahulu tanpa kajian kritis dikaitkan dengan perubahan budaya masyarakat.
Kekakuan bepikir terlihat pada budaya membaca Al Quran tanpa memahami makna, dilakukan menjadi tradisi berulang setiap tahun. Kondisi ini terjadi karena keberadaan guru-guru agama yang bisa mengajarkan ilmu-ilmu dari Al Quran kepada murid sangat minim. Kualitas guru agama sudah terstandar tidak berubah mengikuti pemikiran guru-guru agama terdahulu.
Prinsip-prinsip dasar ajaran agama tidak berubah, tetapi metode pengajaran akan berubah, karena alat-alat hidup berubah. Sistem ekonomi, politik, budaya, berubah seiring dengan perkembangan alat-alat hidup yang digunakan manusia berubah.
Teknologi informasi telah mengubah tatanan hidup manusia dari manual menjadi digital. Ajaran agama tidak berubah tetapi cara pembelajaran, materi pengajaran, yang ditonjolkan harus sesuai dengan kebutuhan. Umat beragama jangan sampai dimakan zaman.
Teknologi perang saat ini sudah berubah, bukan lagi konvesional perang rudal, tetapi mengkombinasikan dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk akurasi sasaran. Ide-ide tentang negara, kedaulatan, kekuasaan, kesejahteraan, perdaiamain, untuk seluruh alam dikembangkan dari sumber ajaran agama. Al Quran sebagai sumber dasar pemikiran yang suci, dan setiap orang bisa menginterpretasi sesuai kemampuan masing-masing.
Agama tidak hanya berbicara hal-hal yang batiniah, tetapi memperhatikan masalah lahiriyah. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadiid, 57:3).
Era informasi mengubah sudut pandang agama menjadi lebih terbuka, mengajarkan kelimpahan rezeki, kecerdasan, literasi teknologi, kesejhteraan, perdamaian, kebersihan, cinta lingkungan, dan jangkau pengajaran agama bersifar global bukan komunal. Konsep pengajara bukan lagi kelompok-kelompok terentu tapi untuk seluruh umat manusia di muka bumi.
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba, 34:28). Sudah tidak zamannya aliran-aliran, karena saat ini semua orang bisa tahu dimana kelemahan dan kekurangan setiap kelompok. Saatnya muslim bersatu untuk melahirkan pemikir-pemikir untuk saling membantu menutupi kekurangan.***
Di dalam Al Quran, perempuan dimuliakan Allah, maka di dalam hadis Nabi Muhammad kedudukan perempuan tiga derajat lebih tinggi dari laki-laki. Banyak fakta di dalam Al Quran, perempuan berada pada posisi mulia.
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) RAHIM (SILATURAHMI). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa, 4:1).
Amina Wadud seorang penafsir melihat bahwa pada surat An Nisaa ayat satu ada posisi perempuan yang istimewa. Perintah bertakwa kepada Allah ada kaitannya dengan memelihara rahim yang identik dengan perempuan.
Beliau menafsirkan Allah mengamanatkan pada seluruh manusia untuk menjaga, menghormati, memuliakan kaum perempuan yang telah melahirkan manusia dari rahim perempuan. Untuk itulah Al Quran menamai salah satu suratnya dengan perempuan (An Nisaa).
Perihal ayat kepemimpinan, laki-laki dan wanita sama-sama memiliki kelebihan. "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (An Nisaa, 4:34).
Ibn Arabi memahami ayat ini dengan memberi peluang kepada laki-laki dan perempuan punya jiwa pemimipin. Beliau menjelaskan kata Arijalu adalah ruh dan Nisaa adalah jasad. Artinya baik laki-laki dan perempuan harus bisa mengaktifkan ruhnya menjadi pemimpin jasadnya.
Garis tengahnya laki-laki dan perempuan bisa jadi pemimpin sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal ini dapat dipahami karena ada kalimat, "Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain". Kalimat ini bisa jadi laki-laki memiliki fungsi kepemimpinan dijalannya masing-masing.
Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan jalannya masing-masing. "dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." (Al Lail, 92:3-4). Laki-laki dan perempuan berbeda bukan dalam bentuk hirarki. Mereka memiliki jalan hidup berbeda-beda, maka lebih tepatnya laki-laki dan perempuan sederajat untuk saling melengkapi.
Peran laki-laki dan perempuan bisa jadi sebagai pengambil keputusan secara kolaboratif dengan tidak saling merendahkan. Sifat laki-laki yang agresif diimbangi dengan sifat perempuan yang asertif. Maka dalam menjaga keharmonisan hidup harus dijaga keseimbangan peran dari keduanya.
Ketika laki-laki menjadi pengambil keputusan, diharapkan perempuan menjadi pengendali. Posisi laki-laki dan perempuan menjadi sederajat sama-sama punya peran penting. Jika dibaratkan laki-laki punya kemampuan intelektual, maka perempuan punya kemampuan emosinal. Intelektual bersifat aktif, dan emosinal bersifat pasif.
Keunggulan perempuan diisyaratkan oleh Allah dalam Al Quran memiliki peran besar dalam melahirkan keturunan yang tidak dilakukan oleh laki-laki. Ayat Al Quran ini bisa jadi dasar hadis Nabi Muhammad yang memberikan penghargaan pada perempuan tiga kali lebih besar dari laki-laki.
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al Ahqaaf, 46:15).
Peran perempuan secara eksplisit dijelaskan dalam Al Quran, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Inilah dasar penghormatan Nabi Muhammad kepada kaum perempuan, dengan mendudukkan penghormatan pada perempuan tiga kali lebih tinggi dari laki-laki.
Jadi jelas, di dalam Islam posisi perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Al Quran bukan saja mendudukan laki-laki dan perempuan setara tetapi kaum perempuan lebih dimuliakan karena perannya yang tidak tergantikan laki-laki. Al Quran bukan hanya mengingatkan manusia tentang kesetaraan gender, tetapi memualiakan kaum perempuan karena jasa yang dimilikinya untuk umat manusia.***