Friday, August 27, 2021

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kapan saja, dan oleh lapisan masyarakat mana saja, maka inilah tanda-tanda bahwa keberadaan “guru” akan berakhir (the end of teacher). Bukan profesi gurunya yang akan berakhir tetapi sosok-sosok guru yang tidak berusaha membaca dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Guru-guru yang tidak berhasil membaca dan cepat beradaftasi dengan perubahan zaman seperti cerita tukang ojeg pangkalan, dan tragisnya para supir angkutan kota.

Sebagaimana hasil penelitian anak-anak (2020) terhadap penghasilan tukang ojeg pangkalan dibandingkan dengan tukang ojeg online, perbandingannya sudah mencapai 25:75 persen. Umpama, tukang ojeg panggalan penghasilannya 25 ribu rupiah perhari, tukang ojeg online 100 ribu rupiah perhari.  Namun demikian sekalipun faktanya demikian, tukang ojeg pangkalan tetap menjalaninya, dia tidak belajar dari perubahan zaman, dan cenderung menyerah pada keadaan. Dia tetap menunggu penumpang di pangkalan sekalipun peminatnya sudah banyak menghilang. Peminatnya hanya tinggal generasi old mind yang tidak bisa mengoperasikan layanan tranpsortasi online kerena gagap teknologi. Jumlahnya pun semakin sedikit dan sebentar lagi punah.

Demikian juga dengan supir angkot dijalanan, dari pengamatan sehari-hari ketika berangkat dan pulang kerja, angkot-angkot hilir mudik hanya mengangkut dua atau tiga orang penumpang, dan kadang-kadang kosong. Sambil mengendarai angkotnya pelan-pelan, nasib angkot seperti melihat binatang sekarat menunggu kematian. Diskusi dengan pemilik angkot penghasilan mereka turun hingga 75% per harinya. Biaya pemeliharaan, bahan bakar, tidak lagi bisa menutupi kebutuhan operasional kendaraan. Angkot seperti orang sakit parah yang tetap berusaha bertahan hidup dengan cara-cara pengobatan sederhana tanpa ada alternatif pengobatan dan pemanfaatan teknologi kesehatan.

Analogi kisah di atas, adalah gambaran dari “guru” yang tidak mampu beradaftasi dengan kemajuan zaman. Wawasannya terbatas karena tidak memiliki budaya literasi tinggi, mereka tetap bertahan dengan gaya mengajar zaman old mind, mengunakan buku paket, mengajar sebagaimana yang ada dalam buku paket, memberi tugas dan menguji dengan soal-soal tes low order thingking. Ujian hanya menguji ingatan dan pemahaman konsep-konsep yang tidak dibutuhkan peserta didik di lapangan. Hasil tes kemudian dirangking menjadi siswa bodoh dan pintar, jadi hasil dari pendidikan adalah peserta didik bodoh dan pintar. Gaya mengajar yang kaku dan membosankan, membuat peserta didik frustrasi dan mereka mempersepsi sekolah seperti penjara, atau penjajahan yang dilegalisasi atas nama pendidikan. Para pengusaha sukses yang kebetulan tidak berpendidikan tinggi, mereka mencela dunia pendidikan sebagai penyebab kemiskinan, karena peserta didik tidak diajari bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi di atas adalah gambaran bahwa guru-guru” jika tidak adaftif akan terdisrupsi oleh perubahan zaman. Mereka akan hilang dari permukaan, namun mereka tidak sadar kenapa mereka diasingkan seperti kasus Hand Phone Nokia yang hilang dari pasaran, padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa era sekarang label guru yang harus digugu dan ditiru konteknya ada embel-embel yaitu dalam hal melakukan perubahan. Guru harus tetap menjadi sosok yang digugu dan ditiru namun dalam kontek membawa anak-anak untuk beradaftasi dengan perubahan zaman. Guru harus seperti mobil transformer yang bisa berubah-ubah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika kita ikuti dari prasarana belajar yang digunakan, sosok guru terus mengalami evolusi sesuai dengan perubahan zaman. Pada awalnya guru tampil mengajar dengan kapur tulis. Guru “kapur tulis” pada tahun 2000 an,  seiring dengan perubahan zaman terdesak punah oleh keberadaan spidol white board dan over head proyektor (OHP). Guru spidol mengajarkan pengetahuan dengan mendemostrasikannya di papan tulis dan OHP. Dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi, guru “spidol” terdesak lagi oleh kehadiran komputer dan proyektor. Guru “proyektor” menyajikan pembelajaran dengan membuat slide dan menampilkannya ke dalam proyektor di kelas-kelas. Kondisi pun berubah lagi, guru “proyekor” terdesak dengan kehadiran smartphone dan aplikasi-apikasi  pembelajaran.

Pandemi covid-19 awal tahun 2019 hingga sekarang, telah banyak menelan korban, demikian juga dalam dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 telah menelan banyak korban guru-guru, diantaranya “guru” generasi kapur tulis, spidol, dan proyektor. Ketika pandemi Covid-19 guru kapur tulis, spidol, proyektor, yang dibatasi ruang kelas dan papan tulis, tak berkutik tidak bisa mengajar.  Guru-guru yang tidak bisa beradftasi dengan perkembangan teknologi informasi, tidak memiliki daya adaftasi tinggi, tidak kreatif, pada masa pandemi covid-19, mereka berstransformasi menjadi guru “whatsApp”. Pada masa pandemi pembelajaran diayani melalui chatting di wa grup. Pembelajaran dilakukan dengan gaya chating di wa grup, kadang di jawab kadang tidak. Peserta didik berkeluh kesah, sulit membangun komunikasi dengan guru. Pada akhirnya peserta didik merindukan tatap muka, bertemu dengan guru-gurunya lintas generasi.

Guru-guru dengan daya adaftasi tinggi, ketika masa pandemi covid-19 mereka tampil dengan berbagai perangkat teknologi informasi penunjang, WhatsApp, voice note, file pdf, video youtube, medsos, google meet, google sheet, zoom meet, dan flatform-flatform aplikasi penunjang pembelajaran dari berbagai produk dipelajari dan dikembangkan untuk memberikan alternatif layanan pendidikan pada peserta didik yang terkendala komunikasi karena pandemi covid-19. Guru-guru dengan multi tasking berubah wujud menjadi guru-guru berkarakter entrepreneur. Sementara guru-guru yang tidak adafif mengalami sekarat dan kematian (the end) akibat pandemi covid-19, di lain pihak guru-guru berkarakter entrepreneur tetap sehat dan semakin sejahtera hidupnya, melayani pendidikan anak-anak dengan energik, penuh semangat, dan optimis, melayani anak-anak dengan berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik sekalipun pandemi Covid-19 melanda dunia. Wallahu'alam.


Monday, August 16, 2021

HARUS SEGERA TATAP MUKA

OLEH : TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Kurang lebih 15-20 persen anak-anak akan mengalami learning lost. Guru-guru pun sudah merasa lelah melayani. Dari hasil supervisi pembelajaran di suatu sekolah jenjang menengah, kehadiran siswa dalam pembelajaran maksimal hanya mencapai 85 persen. Bekerjasama dengan wali kelas, guru mata pelajaran dan orang tua, kehadiran siswa masih stagnan. Komunikasi via wa dan kunjungan ke rumah telah dilakukan namun aktivitas belajar anak-anak sangat sulit dikontrol.

Budaya belajar jarak jauh via daring atau luring, belum membiasa. Hampir dua tahun pandemi ini, anak-anak masih ada yang belum bisa beradaftasi. Budaya belajar di negara kita masih sangat terikat dengan kegiatan tatap muka. Pembelajaran jarak jauh yang terpaksa harus dilakukan karena pandemi, belum bisa disadari sebagai suatu keharusan oleh sebagian anak-anak bahwa pembelajaran harus dilakukan dengan cara jarak jauh, dilakukan dengan sikap tanggung jawab dan mandiri. Sebagian anak-anak kita masih sangat mengandalkan pembelajaran tatap muka.

Kendala yang dihadapi anak-anak selain kurang motivasi, didasari pula oleh keterbatasan kemampuan pengoperasian teknologi informasi, kepemilikan perangkat teknologi informasi, ketersediaan kuota dan akses internet. Dari 15-20 persen anak-anak masih terkendala masalah ini. Keterbatasan ini menjadi sebab kurangnya motivasi belajar anak-anak melalui layanan daring. Layanan luring melalui modul dan penugasan, tidak dikerjakan secara maksimal karena sebagian anak-anak juga kurang aktif berkomunikasi dengan guru.

Komunikasi dengan orang tua melalui media informasi dirasa kurang efektif, karena beberapa orang tua kurang aktif merespon setiap informasi-informasi yang disampaikan guru di grup media sosial. Latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor penghambat, keterlibatan orang tua dalam menjaga anak-anaknya agar tetap belajar melalui layanan jarak jauh tidak efektif. Orang tua siswa sama-sama mengalami kesulitan mengendalikan kegiatan belajar anak-anaknya di rumah.

Semakin lama layanan pembelajaran jarak jauh secara daring dan luring, semakin kurang kondusif akibat belum bisa menghadapi situasi darurat pandemi saat ini. Beberapa masukkan dalam rapat orang tua siswa, mereka sudah merasa kewalahan dan khawatir anak-anaknya tidak bisa belajar dengan efektif melalui jarak jauh. Mereka sudah berharap kembali ada pembelajaran tatap muka agar bisa menjamin anaknya belajar dengan efektif dibimbing oleh guru-gurunya.

Tatap muka dengan situasi masih pandemi tentu sangat berisiko, bagi kesehatan guru dan anak-anak. Percepatan vaksin untuk anak-anak tentu menjadi hal yang urgen untuk dilakukan. Sekalipun vaksin tidak menjamin orang bebas dari tertular virus covid-19, tapi setidaknya vaksin dapat mengurangi risiko bahaya virus covid-19, dan juga bisa memberi sedikit imun dengan kepercayaan diri bahwa vaksin dapat membantu menjaga kekebalan tubuh terhadap virus covid-19.

Selanjutnya, jika seluruh elemen masyarakat menganggap penting untuk menjaga hak pendidikan anak-anak, semua harus berani menanggung risiko bersama jika pembelajaran tatap muka dilakukan. Seluruh elemen masyarakat harus menyadari pentingnya pola hidup sehat agar imunitas tubuh dapat terpelihara. Kemudian, segala risiko yang mungkin terjadi ketika tatap muka dilaksanakan harus disadari menjadi tanggung jawab bersama untuk menghadapinya. Akibat-akibat terburuk ketika dilakukan tatap muka harus dihadapi bersama tanpa ada usaha saling manyalahkan antar pihak. Pandemi ini sudah menjadi masalah bersama yang harus kita hadapi bahu membahu. Segala upaya yang dilakukan pemerintah harus diapresiasi sebagai usaha untuk memperbaiki keadaan agar cepat kembali pulih.

Seluruh elemen masyarakat harus memberi dukungan penuh kepada pemerintah untuk membuka layanan pendidikan melalui tatap muka, dengan kesiapan bersama untuk menanggung dan mengantisifasi segala kemungkinan yang terjadi. Kita semua harus menjadi pelaku bukan hanya pengamat dunia pendidikan. Segala kejadian yang mungkin terjadi pada saat tatap muka, bukan hanya untuk diperbicangkan tetapi untuk bahu-membahu menyelesaikannya. Dengan komitmen bersama dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, sekolah akan punya kekuatan moril dan kesiapan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Beragamnya kualitas fasilitas sarana kesehatan di lingkungan sekolah adalah tugas bersama untuk menyediakannya dan yang lebih penting adalah kesiapan budaya hidup sehat, dan melakasanakan protokol kesehatan yang harus terus ditingkatkan kesadarannya. Sekalipun sarana prasasaran kesehatan di sekolah terbatas, dengan kesadaran budaya hidup sehat dan melakukan protokoler kesehatan di masa pandemi, kiranya pembelajaran tatap muka dengan mengucap bismilah mudah-mudhaan bisa dilakukan.

Kita niatkan bersama, memohon kepada Tuhan YME bahwa upaya pembelajaran tatap muka adalah upaya melaksanakan perintah Allah, yaitu mewujudkan generasi-generasi tangguh di masa yang akan datang. Semoga Allah melahirkan generasi-generasi kreatif, dan tangguh, dengan belajar dari situasi pandemi ini. Wallahu’alam.

Saturday, July 31, 2021

SEKOLAH UNIVERSAL

 OLEH: TOTO SUHARYA

Jawa Barat memang selalu terdepan dalam inovasi. Dengan jumlah penduduk 48 juta lebih, Jawa Barat memang harus punya keberanian untuk meakukan inovasi terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu keberanian Jawa Barat adalah menggulirkan program SMA Terbuka, yang tadinya program ini hanya dimiliki tujuh sekolah saja se-Indonesia dari program pemerintah pusat. Selain untuk meningkatkan Angka Partisifasi Kasar (APK) sekolah menengah di Jawa Barat, program SMA Terbuka bertujuan menjamin kepada seluruh warga Jawa Barat agar bisa mengakses pendidikan dalam kondisi apapun. Melalui program SMA Terbuka setiap warga Jawa Barat dijamin hak-haknya untuk mengakses pendidikan tanpa harus terganjal oleh syarat-syarat formal sebagaimana di pendidikan regular.

Dalam Pergub No. 74 tahun 2020 dijelaskan pertimbangan dikeluarkannya program SMA Terbuka adalah upaya memberikan layanan khusus dan pemerataaan askes pendidikan, terutama kepada anak-anak usia 16-21 tahun yang terkedala dengan waktu dan atau ekonomi keluarga. Selain itu juga menimbang Angka Partisifasi Kasar (APK) Jawa Barat yang masih perlu terus dtingkatkan. Sementara ini rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih 8,3 tahun, dianggap belum lulus SMP.

Program layanan SMA Terbuka masuk pada kategori layanan khusus. Pengertian layanan khusus di sini dapat dipahami dari berbagai aspek, antara lain sosial, ekonomi, budaya, psikologi, dan politik. Dari aspek sosial SMA terbuka memberikan layanan kepada masyarakat yang kondisinya lemah karena secara struktur sosial berada di lapisan menengah ke bawah, mobilitas hidupnya terbatas, dan tidak memiliki ikatan jejaring keluarga dan sosial yang luas. Secara ekonomi, SMA Terbuka menyasar kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah, sehingga anak-anak usia sekolah pada keluarga ekonomi lemah sering terlibat dalam dunia kerja untuk bantu ekonomi keluarga. Dari sudut budaya, masyarakat Indonesia masih kuat memegang tradisi yang berusmber dari budaya maupun agama. Tradisi tersebut antara lain menikah usia dini, menikah dianggap tujuan akhir sehingga setelah menikah dianggap tidak ada tugas atau kewajiban untuk berpendidikan tinggi. Secara psikologis, anak anak Indonesia pada usia sekolah berada pada masa pancaroba, mereka harus mendapat layanan pendidikan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Secara politis, tahun 2045 bangsa Indonesia punya cita-cita menjadi bangsa berdaulat di tingkat internasional sehingga sejak saat ini harus menyiapkan anak-anak cerdas untuk menyambut Indonesia emas.         

Program SMA Terbuka sejalan dengan kondisi zaman, dimana pendidikan sudah bersifat universal bisa didapat oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa tersekat-sekat oleh geografi, ekonomi, bangunan, lembaga formal, tatap muka berhadap-hadapan, dan struktur organisasi. Jargon Ki Hadjar Dewantara memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, “dimana saja sekolah, dan siapa saja guru”. Sekalipun pemikiran Ki Hadjar dikemukanan berpuluh tahun yang lalu, namun sekaranglah zamannya bahwa pendidikan harus bersifat universal.

Secara filosofis tujuan SMA Terbuka memang sangat membantu seluruh lapisan masyarakat dalam mengaskes pendidikan. Anak-anak yang memiliki karir di bidang olah raga, seni, dan ekonomi, tidak lagi terhambat oleh aturan kaku seperti sekolah reguler. Mereka yang jauh dari sekolah, terkendala ekonomi, geografi, budaya, dan politik, bisa merasakan layanan pendidikan melalui layanan jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi.

Dalam sekolah universal aturan tidak terlalu ketat mengikat sebab semuanya dilandasi oleh melayani semua. Kunci dari layanan universal adalah kemandirian, kesadaran, dan motivasi bersama untuk memberikan layanan dan pengalaman pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kolaborasi dan dialog adalah kunci utama dalam memberikan layanan pendidikan pada peserta didik. Maka dari itu, syarat-syarat agar semua anak usia 16-21 tahun bisa akses sekolah menengah terbuka tidak terlalu ketat, yang pada akhirnya ada kesan membatasi. Anak-anak usia sekolah yang sudah bekerja yang tidak terikat kontrak maupun terikat kontrak harus terlayani. Perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan anak-anak di usia sekolah tamatan SMP, harus diajak untuk sama sama mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan anak-anak generasi emas di tahun 2045.  

Kualitas pendidikan di SMA Terbuka tidak dapat serta merta dilihat dari hasil lulusan. Kualitas pendidikan SMA terbuka sangat tergantung pada proses layanan. Minimalnya proses pembelajaran pada anak-anak SMA terbuka secara disiplin dan penuh tanggung jawab harus benar-benar terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi proses pembelajaran bisa dilaksanakan tanpa sekat ruang dan waktu. Untuk menjamin kualitas layanan SMA terbuka, harus ada komitmen tinggi dari setiap penyelenggara pendidikan SMA Terbuka untuk bekerja keras, kreatif, terorganisir, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk seoptimal mungkin menjamin proses pembelajaran berlangsung sesuai ketentuan dan harapan bersama.

Program SMA Terbuka adalah tugas suci kita semua. Mencerdaskan masyarakat adalah perintah Allah agar kita menjadi bangsa mandiri, tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa bermanfaat bukan hanya bangsa kita sendiri, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa-bangsa lain. Kini kita telah menjadi warga dunia tanpa sekat yang dipersatukan oleh teknologi informasi. Wallahu’alam.  

Tuesday, July 27, 2021

SEKOLAH PENGGERAK BUKAN UNGGULAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Berulang-ulang pernyataan Mas Mentri bahwa sekolah penggerak bukan sekolah unggulan. Pernyataan ini mengemuka dari mulut Mas Mentri jangan sampai keberadaan sekolah penggerak menjadi pembeda bagi sekolah-sekolah lain yang tidak terlibat dalam proyek sekolah penggerak. Saat ini, telah berkembang sebuah pemahaman dan terkondisikan bahwa sekolah-sekolah yang tergabung dalam sekolah penggerak sebagai sekolah unggulan, ekslusif, dan berbeda dengan sekolah-sekolah non penggerak. Pernyataan sikap Mas Menteri adalah sebuah kekhawatiran bahwa kastanitasi sekolah akan terulang kembali dengan adanya program sekolah penggerak. Kekahwaatiran lainnya adalah munculnya sentimen negatif dari sekolah-sekolah yang tidak tergabung dalam program sekolah penggerak yang merasa tidak diperhatikan.

Persepsi penulis, Program Sekolah Penggerak adalah upaya pemerintah untuk mendorong semua sekolah untuk melakukan perubahan. Namun demikian sekolah penggerak dapat dikatakan sebagai sekolah uji coba penerapan kurikulum baru. Perbedaannya hanya di proses penentuan sekolah tidak dilakukan melalui ajuan atau penunjukkan, tetapi kali ini melalui seleksi kesiapan sekolah dalam menerima perubahan. Seleksi bukan untuk menjaring peserta program, tetapi dapat menjadi konisioning agar sekolah yang dijadikan proyek secara psikologis merasa siap untuk menerima perubahan karena sudah berdasarkan hasil seleksi.

Tepatnya memang Program Sekolah Penggerak adalah uji coba penerapan ide-ide perubahan minset, kurikulum, yang dilakukan oleh kementerian. Dalam uji cob aini butuh kepala sekolah, guru-guru, yang mentalnya sudah terkondisikan siap berubah. Melalui cara seleksi rekruitmen sekolah-sekolah yang akan di uji coba harus terkondisikan kesiapan mentalnya. Tantangan terberat dari dunia pendidikan adalah menyiapkan para pendidik yang selalu siap menghadapi perubahan dan memiliki kemampuan beradaftasi tinggi dengan kondisi zaman.

Di luar sekolah-sekolah penggerak, hendaknya tidak menunggu komando untuk melakukan perubahan. Seluruh sekolah harus menggerakkan seluruh warganya untuk merespon dan beradaftasi dengan perubahan zaman. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari menentukan hal-hal substansial yang harus segera dilakukan perubahan dalam layanan pendidikan. Hal-hal substansial tersebut ada dalam tujuan pendidikan yang hendak menciptakan generasi Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai dasar yang sudah di sosialisasikan yaitu peajar yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, mandiri, cerdas, kreatif, dan mampu berkolaborasi untuk menghadapi tantangan zaman.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut semua sekolah tanpa komando harus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menyenangkan. Layanan pendidikan harus berpusat pada kebutuhan, bakat, dan minat, peserta didik. Tidak ada lagi perangkingan, dan tidak ada jurusan-jurusan yang akan melahirkan kastanisasi kecerdasan peserta didik. Semua perserta didik harus dipandang sebagai manusia cerdas yang harus dibantu untuk menemukan jati dirinya dengan menemukan dan medorong untuk tumbuh sesuai dengan kecerdasan khas yang dimilikinya.

Melalui program literasi, wawasan peserta didik dalam memandang dunia harus dibuka seluas-luasnya dengan menyajikan konten-konten materi bahan ajar yang sudah terseleksi kevalidan dan keshaihan, serta berhubungan dengan kontek lingkungan di mana para peserta didik tinggal. Peserta didik dari lingkungan petani, materi-materi bahan ajar hendaknya memperkenalkan pengetahuan, teknologi, yang berkaitan dengan inovasi-inovasi dalam bidang pertanian. Peserta didik di lingkungan nelayan, hendkanya disajikan pengetahuan tentang inovasi-inovasi dalam bidang kelautan. Bahan-bahanajar yang disajikan bukan sekedar pengetahuan umum tapi disajikan dari hasil riset-riset para ahli yang bisa diakses dari berbagai jurnal nasional maupun internasional yang terakreditasi.

Untuk menyajikan pengetahuan dan inovasi hasil riset ilmiah kepada peserta didik, dibutuhkan guru-guru yang memahami latar belakang kemampuan para peserta didik dalam menyerap ilmu pengetahuan yang hendak disajikan. Pemahaman tentang struktur kerja otak untuk meningkatkan kemampuan bernalar, pemanfaatan media pembelajaran, dan model-model pembelajaran harus dipahami dengan cermat agar pembelajaran dapat membantu para peserta didik menjadi manusia-manusia literat.

Pendidikan karakter yang tidak boleh tidak dan harus dikembangkan oleh seluruh sekolah adalah membudayakan membaca sebagai bahan dasar untuk melahirkan peserta didik cerdas dan kreatif. Berbagai ide sebagai upaya membudayakan budaya baca, bisa dikemas dalam berbagai program seperti readding cahallange, membaca miminal 25 buku per tahun, bedah buku, jurnal,  membiasakan mengemuakan pendapat dalam bentuk esay dalam setiap pembelajaran, dan membuat proyek-proyek peneitian kolaboratif yang direncakan dalam kurikulum minimal satu tahun satu kali di setiap tingkatan peserta didik.

Guru-guru dalam setiap pembelajaran harus merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan ide-ide baru yang berhasil ditemukan dari sebuah buku atau jurnal untuk memberi contoh bahwa membaca harus dilakukan oleh para peserta didik untuk bisa menemukan ide-ide baru dalam melakukan perubahan. Mengkulturkan budaya pada peserta didik, harus dimulai dari kultur membaca dari para pendidik. Para pendidik harus memiliki kesadaran tinggi bahwa budaya membaca adalah pondasinya pendidikan, dengan demikian untuk meningkatkan kualita layanan pendidikan, setiap guru sudah harus punya naluri yang sama yaitu biasa membaca tanpa harus ada komando. Naluri membaca harus terus difasilitasi seperti memberi makan ketika perut lapar.

Otak seperti perut yang tidak boleh dibiarkan lapar dan tidak boleh diisi dengan sembarangan makanan. Otak para pendidikan dan peserta didik harus selalu terisi dengan pengetahuan-pengetahuan bergizi agar kecerdasannya tumbuh dengan sempurna. Mari bergerak tanpa harus menunggu komando, label, dan surat keputusan. Bergerak adalah naluri manusia, maka barang siapa mau hidup sejahtera dunia dan akhirat, bergeraklah. Allah akan memberi kesejahteraan terbaik kepada yang bergerak. Wallahu’alam. 

Monday, July 26, 2021

KARAKTER ENTREPRENEUR PARA TOKOH SEJARAH

 BAHAN AJAR SEJARAH

 Mata pelajaran          : Sejarah Indonesia

Kelas / Semester        : XII / Ganjil

Materi Pokok            : Meneladani karakter tokoh-tokoh sejarah

Metode/waktu          : Online/40 menit

Tujuan                      : Menganalisis ciri tokoh berkarakter entrepreneur

 

MATERI  Pertemun 1

Herodotus mengatakan, “sejarah menceritakan perputaran jatuh-bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban”. Jadi memelajari kisah tokoh-tokoh besar di suatu negara sama dengan memahami sejarah sebuah negara. Untuk kemajuan bangsa dibutuhkan tokoh-tokoh yang mampu mensejahterakan bangsa. Di zaman kemerdekaan,  berdasar hasil survey John Stanley terhadap 700 lebih miliarder di dunia, mereka mengatakan kesuksesan para miliarder didukung oleh kemampuan bergaul dan kecerdasan berada di urutan ke-21. Mitshubisi Research Institute (dalam Dewajani, 2008) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada keterampilan bertahan hidup yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan membangun komunikasi (networking), 20% tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang dimilikinya (Rohmah, 2017, hlm. 149).

Ada hukum sejarah yang berlaku pada tokoh-tokoh besar dimanapun berada. Mereka akan mengalami kisah hidup sebagaimana sebagai seorang berkarakter entrepreneur. Kisah-kisah tokoh sejarah akan menggambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha mencari solusi, dan kreatif menggali berbagai ide atau gagasan untuk mencapai cita-citanya dengan membaca. Mereka berteman baik dengan buku-buku bacaan, dan sangat pandai membaca situasi. Mereka tidak berhenti membaca pengalaman hidup yang dialaminya untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Selain itu, perjalanan hidup para tokoh besar selalu berdampingan dengan kegagalan demi kegagalan. Mereka para pemberani, karena mereka tidak takut gagal untuk mewujudkan cita-cintanya. Kekuatan karakternya ditempa dengan ujian-ujian berat yang dapat dilaluinya dengan sabar dan tabah hingga mencapai tujuan. Mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha bertahan hidup (survival), hingga penderitan-penderitaan hidupnya bisa mereka lalui. Perjalanan hidupnya yang berat membuat mereka sukses, merdeka, dan mandiri dalam mementukan nasib hidupnya. Mereka tidak tergantung pada orang lain, dan keberhasilannya sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Seorang filsuf Yunani berkata, “segala yang terjadi dan berlaku di alam ini dikuasai oleh hukum sebab akibat”. Untuk itu, kisah-kisah keuletan dalam membaca, kegagalan dan penderitaan hidup seseorang selalu menjadi sebab suksesnya orang-orang besar dalam memperjuangkan cita-citanya. Sudah menjadi hukum sejarah atau ketetapan (determinisme) sejarah bahwa orang-orang sukses akan mengalami kisah sebagaimana orang-orang besar mengalaminya. Inilah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan sebagai takdir manusia yang tidak dapat dihindari. Dengan membaca, kisah-kisah kehidupan orang-orang besar (The Great Man) kita bisa membuktikan kebenaran hukum sejarah berlaku dalam kehidupan tokoh besar dan harus kita teladani.

Wednesday, June 30, 2021

MERDEKA BELAJAR DARI KI HADJAR

OLEH: TOTO SUHARYA

Ketika jargon “merdeka belajar” digulirkan oleh kementerian pendidikan dibawah kepemimpinan Mas Nadiem, banyak orang bertanya-tanya apa sebenar esensi dari merdeka belajar yang dimaksud? Semua berusaha menejemahkan berdasarkan pemahaman masing-masing. Tidak sedikit pula yang nyinyir dengan jargon merdeka belajar dengan menafsirkan bahwa merdeka belajar adalah belajar “kumaha urang” (bagaimana saya). Bersamaan dengan jargon merdeka belajar, Mas Menteri memperkenalkan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam implementasi pendidikan.

Ada baiknya untuk memahami jargon merdeka belajar, kita gali kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dari buku-buku karya Ki Hadjar yang sudah menjadi sejarah pemikiran pendidikan beliau. Salah satu buku karangan beliau berjudul “Bagian Pertama Pendidikan”. Buku terbitan tahun 1962 dicetak oleh percetakan Taman Siswa Jogjakarta, penulis dapatkan buku ini di pasar loak salah satu sudut Kota Bandung. Membaca pemikiran-pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan, penulis menemukan bahwa pemikir-pemikir leluhur kita di bidang pendidikan tidak kalah dengan pemikir-pemikir dari bangsa lain. Sudah saatnya kita tumbuh dewasa dengan percaya diri pada pemikiran leluhur kita. Setiap bangsa memiliki karakter, budaya, sosial, politik, agama dan kondisi alam berbeda-beda. Model pendidikan yang paling cocok untuk bangsa Indonesia, pendidikan yang lahir dari kondisi lingkungan alam, sosial, budaya, di mana bangsa Indonesia tinggal.

Ki Hadjar berpendapat mendidik anak adalah mendidik rakyat. Sistem pendidikan harus sesuai dengan hidup dan penghidupan rakyat. Pengaruh pendidikan adalah memerdekakan lahir dan batin. Belajar yang memerdekakan adalah gagasan Ki Hadjar untuk mendidik rakyat Indonesia. Kemerdekaan lahir dan batin diartikan oleh Ki Hadjar adalah melahirkan manusia-manusia yang tidak tergantung pada orang lain, dan harus bersandar pada kekuatan diri sendiri. Pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk penghidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan bangsa. Dalam hidup merdeka seseorang harus ingat bahwa anak-anak hidup bersama-sama dengan orang lain, dan menjadi bagian dari persatuan manusia. Dalam pendidikan, kemerdekaan bersifat tiga macam, berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri.  (Ki Hadjar, 1962, hlm. 3-4).

Selanjutnya, prasyarat merdeka belajar menurut Ki Hadjar adalah “pendidikan harus terbebas dari bantuan yang mengikat, yang dapat menimbulkan hutang budi pada pemberi bantuan. Kondisi ini membahayakan bagi dunia pendidikan. Di peringatkan juga sudsidi pendidikan dari pemerintah  dapat mengurangi kemerdekaan dalam pengajaran. Bantuan pendidikan harus bersifat sukarela dan tidak mengikat. Biaya pendidikan harus membiayai dirinya sendiri.” (Ki Hadjar, 1962, hlm. 4-5). Imam Ahmad mengatakan, “kebaikan orang baik itu mengikat karena kita punya kewajiban membalas kebaikan mereka”. Kewajiban membalas budi inilah bisa menjadi penghambat kemerdekaan pengajaran.   

Gagasan Ki Hadjar menggambarkan kondisi bantuan pendidikan saat ini. Bantuan-bantuan luar negeri untuk pendidikan tentu memiliki syarat dan akan mengikat pada kemerdekaan pengajaran. Bantuan pemerintah juga dapat mengurangi kemerdekaan belajar jika batasan-batasan aturan dalam penggunaan anggaran sangat kaku. Dunia pengajaran bukan dunia baku dan linier, karena yang dihadapi adalah anak-anak yang memiliki jiwa, dia hidup dan sangat dinamis. Untuk mengajarknya dibutuhkan kecerdasan para pendidik untuk mengelola dan mengembangkan pengajaran kreatif, adaftif, dengan pendekatan multidimensi. Kesejahteraan pendidik, sarana-prasarana, dan media pengajaran harus dibangun secara berkesinambungan dan harus selalu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Jika subsidi pendidikan diberikan dengan batasan-batasan rigid, dan mengingat, maka pengajaran akan kehilangan kemerdekaannya dan tidak mampu beradaftasi dengan perkembangan zaman.

Selain itu, untuk mendukung merdeka belajar, harus banyak tersedia badan-badan yang bisa menolong anak-anak istimewa yang pantas ditolong. Anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah harus mendapat kemudahan untuk melanjutkan pendidikan kemanapun mereka mau. Dana-dana pendidikan untuk golongan ekonomi lemah harus tersedia melimpah dan negara harus bertindak.

Merdeka belajar yang dicanangkan oleh Ki Hadjar tidak berarti bebas membabi buta. Pendidikan harus tetap mengacu kepada kodrat yang bersumber pada adat istiadat. Kodrat lebih kuasa dalam pengajaran. Contoh dalam pengajaran antara anak laki-laki dan perempuan. Pendidikan yang sesuai dengan adat isitiadat (kodrat) harus mengajarkan etika, kesopanan, pergaulan, antara laki-laki dan perempuan sebagaimana terjadi pada pendidikan dalam lingkungan keluarga, terutama kepada mereka yang sudah menginjak masa birahinya datang. Masa-masa birahi memuncak pada anak-anak terjadi pada usia 16-18 tahun untuk perempuan, dan usia 18-25 untuk laki-laki. Namun demikian anak permpuan dan laki-laki perlu bergaul dengan pengawasan agar mereka bisa terbiasa dalam pergaulan dan bersaudara.

Demikian sedikit pemikiran dari Ki Hadjar sebagai modal dasar kita untuk memahami makna merdeka belajar yang digadang-gadang oleh generasi kita sekarang. Memaknai kemerdekaan belajar harus hati-hati dan selayaknya kita gali pemikiran-pemikiran pendidikan dari pendahulu-pendahulu kita untuk memahami dasar-dasar pendidikan bagi anak-anak kita, yang telah dirintis dari sejak awal kemerdekakan bangsa Indonesia. Wallahu’alam. 

Wednesday, June 23, 2021

MENGURANGI PENGANGGURAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Dampak pandemi Covid-19 paling kasat mata adalah meningkatnya angka pengangguran. Pada tahun 2020 BPS mencatat pengangguran di Jawa Barat selama Pandemi mengalami kenaikan menjadi 10, 46 persen, mengalami kenaikan 0,60 persen dari tahun. Lulusan SMK menjadi penyumbang tingkat pengangguran terbuka (TPT) di anggka 18,75 persen pada agustus 2020, lebih tinggi dari warga lulusan SD yang berada di angka 5,68 persen. Tahun 2020 jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 24,21 juta orang mengalami peningkatan 0,22 orang dari tahun 2019. 

Semasa pandemi Covid-19, peningkatan angka pengangguran terkait dengan terjadinya PHK. Ada 1.983 perusahan yang terhambat kinerjanya karena pandemi covid-19. Sudah ada 19.089 pekerja yang terkena PHK dari 460 perusahaan. (https://www.merdeka.com/peristiwa/angka-pengangguran-di-jawa-barat-naik-selama-pandemi.html). 

Apa yang dapat kita ambil hikmah dari data di atas untuk pendidikan? Memprihatinkan data pengangguran lulusan SMK (18,75%) lebih tinggi dari pada lulusan SD (5,68%). Logika lucu, daya serap lulusan ke dunia kerja lebih bagus lulusan SD dibanding dengan luusan SMK. Kesimpulan lucu, jika ingin diterima kerja jangan melanjutkan sekolah ke SMK, cukup sekolah SD saja. Lulusan SMA tercatat pula sebagai penyumbang tingkat pengangguran terbuka.

Terkait dengan keberadaan pengusaha, jika 460 perusahaan melakukan PHK sebanyak 19.089 artinya rata-rata satu perusahaan melakukan PHK sebanyak kurang lebih 41 orang. Fakta ini menjadi jelas bahwa para pengusaha sangat dibutuhkan posisinya untuk membantu kesejahteraan masyarakat. Jika satu perusahaan bisa membuka lapangan pekerjaan 41 orang, berapa persen dibutuhkan pengusaha di negeri ini? Dengan populasi pengusaha 2,5% dari  270 juta penduduk Indonesia, seandainya satu pengusaha bisa merekrut tenaga kerja 41 orang, maka akan ada 276.750.000 terhidupi. Artinya kita membutuhkan minimal 2,5% pengusaha jika setiap pengusaha bisa merekrut 41 orang tenaga kerja.

Dalam sebuah webinar, Sandiaga Uno mengatakan, 99% ekonomi Indonesia digerakkan oleh para entrepreneurship usaha kecil, mikro dan ultra mikro. Namun sayangnya, entrepreneurship UKM di Indonesia masih ketinggalan dibanding negara Asean lainnya. “Singapura sudah 7%, Malaysia sudah 6%, Thailand sudah 5%, sedangkan Indonesia masih di bawah 3%. (8/09/20/ https://economy.okezone.com/ diakses, 07/06/2021)

Permasalahan bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia, pertama; bagaimana meningkatkan jumlah pewirausaha dari populasi penduduk Indonesia. Kedua; bagaimana meningkatkan kualitas para pengusaha Indonesia agar mereka bisa merekrut tenaga kerja minimal 41 orang pekerja. Apakah yang bisa diupayakan dunia pendidikan khususnya di level pendidikan SMA? Pada tahun 2018 dari sebanyak 131,01 juta anggkatan kerja, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMA menyumbang sebanyak 7,95%. (https://nasional.tempo.co/read/1173343/lulusan-sma-penyumbang-pengangguran-terbesar/full&view=ok). Pendidikan kewirausahaan adalah solusi tepat untuk dunia pendidikan menengah. Perlu keseriusan di dunia pendidikan untuk mensosialisasikan pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan jumlah pewirausaha secara nasional yang sudah tertinggal dari negara-negara tentangga.

Karakter Entrepreneur

Pendidikan kewirausahaan harus dikerjakan mulai dari pengembangan pola pikir, skill, dan praktek. Tiga ranah ini harus dikerjakan secara bersamaan dan berkelanjutan untuk mengembangkan karakter entrepreneur. Pengembangan karakter entrepreneur harus jadi trend pendidikan di era industri 4.0. Karakter entrepreneur adalah soft skill yang wajib dimiliki peserta didik di abad sekarang. Para para peserta didik yang memiliki karakter entrepreneur tidak ada istilah menganggur karena mereka bukan pencari kerja tetapi pencipta pekerjaan.

Pengembangan pola pikir pewirausaha bisa dilakukan melalui integrasi karakter entrepreneur ke dalam berbagai mata pelajaran. Pengembangan pola pikir dalam berbagai mata pelajaran dengan cara mengungkap fenomena,  hukum alam dan sosial yang dapat menjadi inspirasi untuk memahami bagaimana cara hidup optimis, tahan derita, sabar, disiplin, kreatif dan inovatif. Pola pikir ini harus terus di tanamkan pada peserta didik sesering mungkin sampai menjadi mindset dan menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap segala masalah dan kesulitan yang akan dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Skill adalah pengalaman kemampuan teknis yang harus dimiliki peserta didik agar mereka punya keterampilan hidup. Keterampilan teknis dalam mengaplikasikan berbagai macam aplikasi menjadi keniscayaan hidup saat ini. Ke depan semua perangkat hidup manusia akan banyak bersentuhan dengan teknologi informasi.  Kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, tidak akan lepas dari bantuan teknologi informasi. Skill memanfaatkan teknologi informasi dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan harus menjadi kompetensi dasar setiap peserta didik.

Praktek adalah kegiatan nyata berkaitan dengan pembelajaran projek berkaitan dengan kewirausahaan dengan tujuan memberikan pemahaman dan pengalaman langsung mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelaporan sebuah program kewirausahaan. Proyek pembentukan karakter entrepreneur yang sudah dilakukan seperti proyek Student Company, Vidoe Conference Training¸ Student Corp, dan Chanel TV sekolah, sebagai wadah untuk menampung segala gagasan dana pembentukan karakter peserta didik yang berkaitan dengan kewirausahaan. Walahu’alam.  

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya (Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI) Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kap...