Sunday, July 5, 2026

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akbar IKA Pendidikan Sejarah UPI Bandung, di Rumah Tahfiz PCI Pangalengan Kabupaten Bandung, 4-5 Juli 2026. Sejarah masa depan sebuah konsep absurd butuh diskusi mendalam untuk bisa memahaminya. 

Konsep sejarah masa depan relevan dengan jiwa zaman. Selama ini, sejarah selalu identik dengan masa lalu, tetapi hakikat masa lalu sebenarnya identik dengan apa yang terjadi di masa depan. Dalam segala hal apa yang terjadi di muka bumi mengikuti hukum kausalitas yang telah ditetapkan Allah. 

Dasar adanya hukum kausalitas di alam dijelaskan dalam Al Quran. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al hadiid, 57:3).

Jadi, hukum kausalitas yang ditetapkan Allah berlaku dalam kehidupan nyata dan ghaib. Hukum kausalitas menjadi dasar bagi manusia untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di alam nyata dan gaib. Al Quran menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di duna nyata dan gaib. 

Kausalitas atau hukum sebab akibat menjadi dasar pola berpikir dalam membaca, meneliti, mendalami, berbagai fenomeda alam. Sebab-sebab kejadian yang dipahami manusia di alam menjadi kenyataan, dan sebab-sebab yang tidak pahami manusia menjadi misteri (gaib) dan kembali ke pemilik alam. Sebelum sebab-sebab kejadian diketahui secara nyata, untuk sementara dikembalikan kepada Tuhan pemilik alam. 

logika Tuhan mengajarkan sejarah untuk hidup lebih baik di masa depan

Memahami sejarah tidak lepas dari hukum sebab akibat. Apa yang dipahami para sejarawan selalu berlandaskan pada data dan fakta. Data dan fakta menjadi sebab para sejarawan bisa berbicara. Dalam hukum sebab akibat, tidak berlaku ada akibat tanap sebab. 

Maka, dalam konteks perjalanan waktu, masa lalu merupakan segala sebab yang akan terjadi di masa depan. Jika Prof. Dadan Wildan mengajak para ahli pendidikan sejarah bertansformasi mengajarkan sejarah masa depan, artinya mengajak pengajaran sejarah untuk mengedepankan tendensi ke masa depan dari pada masa lalu.  

Masa lalu digunakan oleh guru sejarah sebagai pijakan untuk melakukan interpretasi dan imajinasi peristiwa-peristiwa yang baik terjadi di masa lalu bisa terjadi di masa sekarang. Pendekatan sejarah saat ini, bukan sebatas menggali semua hal yang terjadi di masa lalu, tetapi menggali hal-hal baik yang bisa dirancang kembali terjadi di masa sekarang.

Sudah saatnya, kampus merancang sistem pendidikan sejarah sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang dan sesuai dengan kondisi zaman. Narasi sejarah masa depan, bisa jadi fokus kajian pendidikan sejarah. Pendidikan sejarah jika ingin tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarkat, harus berani melakukan perubahan yang mengandung kebaruan sesuai kebutuhan dan jiwa zaman. 

Sejarah masa depan tidak berarti meninggalkan esensi pengajaran sejarah. Pada pengajaran sejarah masa depan, masa lalu menjadi pijakan dalam mendesain masa depan. Pada pengajaran sejarah murid diajak berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, untuk melahirkan rancangan kehidupan yang lebih baik di masa depan. 

Merancang kehidupan yang baik di masa depan bagian dari pola berpikir yang diajarkan Allah dalam Al Quran. Dalam kehidupan manusia di dunia, semua perbuatan manusia akan dihitung berdasarkan catatan perbuatan dan bukti-bukti. Keterangan ini sangat berkaitan dengan sejarah.

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin, 36:12). 

Esensi pengajaran sejarah bukan sebatas fakta-fakta di masa lalu, tapi sebagai bahan pelajaran untuk merancang kehidupan lebih baik di masa depan. Sejarah sebagai bahan pengajaran berkaitan dengan fungsi guru secara operasional dijelaskan dalam Al Qura'an, yaitu fungsi pemberi peringatan (nadziru), dan kabar gembira (basyiirun). 

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al 'Araaf, 7:188).

Guru sejarah sebagai pemberi peringatan artinya mereka mengajarkan fakta-fakta sejarah untuk mempredikasi apa yang akan terjadi di masa depan. Dari pelajaran sejarah, guru bisa memperingatkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi jika peristiwa buruk terulang kembali. Guru sejarah bisa memberi motivasi dengan mengabarkan hal-hal baik akan terjadi jika sebuah peristiwa baik terjadi. 

Sejarah masa depan, mengajarkan pada murid-murid tentang hukum sebab akibat (sunatullah) yang pasti. Perilaku buruk akan menghasilkan hal buruk dan prilaku baik akan menghasilkan hal baik. Penelitian sejarah dilakukan untuk membuktikan bahwa hukum sebab akibat selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. 

Sejarah masa depan, memiliki tujuan memandu murid-murid menuju pada tahapan dan tatanan kehidupan sejarah manusia sesuai hukum untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia secara berkelanjutan. Sejarah masa depan memberi pedoman pada murid-murid merancang masa depan damai dan sejahtera. 

Kesimpulannya, sejarah masa depan sangat relevan untuk menjadi paradigma berpikir dalam pengajaran sejarah dan menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum pendidikan sejarah kekinian. Prof. Dadan Wildan sudah menggulirkan dan saatnya kita punya kemandirian dalam berpikir untuk kepentingan bangsa kita sendiri. 

Untuk kemandirian beprikir, kita tidak perlu validasi dari bangsa luar. Validasi kebenaran berpikir sesungguhnya adalah ketika pemikiran tersebut bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara, dan relevan dengan situasi dan kondisi zaman.***  


Friday, June 19, 2026

TEMUKAN KEBENARAN PAKAI ILMU

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Temukan kebenaran pakai ilmu bukan nafsu. Hawa nafsu adalah dua potensi yang ada dalam jiwa manusia yaitu benci dan cinta. Idenya bisa ditemukan dalam Al Quran.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (Asy Syaam, 91:7-8).

Dua jiwa ini terkonfirmasi dalam hadis Nabi Muhammd. ""Untuk hati anak Adam itu ada dua bisikan. Bisikan dari malaikat yang menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia tahu bahwa itu dari Allah lalu bersyukurlah. Dan bisikan dari musuh yang menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran serta melarang kebaikan. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." [HR. Ahmad, Tirmidzi].

Sehar-hari kita selalu bergelut dengan dua jiwa dalam diri kita yaitu yaitu benci dan cinta. Setiap hari kita makan berdasarkan apa yang kita suka dan tidak suka. Ketika dihadapkan pada pilihan hidup, keputusan paling mudah yang kita lakukan menggunakan dasar suka dan tidak suka.  

Kenapa murid-murid kita tidak suka makan ikan? Jawabannya karena tidak suka makan ikan. Ketika ditanya kenapa suka makan mie instan? Jawabannya karena suka. Inilah contoh pilihan-pilihan hidup sehari-hari yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan.

Tanpa ilmu pengetahuan kita menjadi buta terhadap kebaikan. Tanpa ilmu kita bisa melakukan hal buruk karena menyukainya. Tanpa ilmu kita menghindari hal baik karena tidak menyukainya. Karena cara berpikir seperti inilah masyarakat kurang berkembang pola pikirnya. 

Untuk itulah Allah peringatkan manusia dalam surat Al Quran. "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah, 2:216).

Informasi ini mengandung pesan universal untuk seluruh umat manusia, bagaimana cara mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Informasi ini mengandung pesan kepada umat manusia untuk selalu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 

Dalam mengambil keputusan jangan hanya menggunakan dasar suka dan tidak suka, senang dan tidak senang, tapi harus gunakan juga kemampuan akal untuk membaca, meneliti, menelaah, memilah, dan mengolah ilmu pengetahuan yang berhasil dikumpulkan untuk sampai pada sebuah keputusan.

Jika menyimak pada informasi Al Quran pada Al Baqarah ayat 216, gambaran ideal dari orang-orang beriman mereka punya kecerdasan intelektual tinggi sehingga mereka mampu mengendalikan emosi yang ada dalam jiwanya menjadi emosi yang terbimbing dan berakhlak mulia menuju jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu'alam.

Sunday, June 14, 2026

SAATNYA BANGSA TIMUR BANGKIT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Allah mengabarkan di dalam Al Quran, setiap bangsa akan diteguhkan kedudukannya dan akan dibinasakan karena dosa-dosa yang mereka lakukan. Pola ini terkonfirmasi dalam sejarah peradaban dunia, telah terjadi jatuh bangun peradaban beribu-ribu tahun. 

"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al Anfaal, 6:6).

Sesuai dengan berita Al Quran, ternyata perdaban manusia jatuh bangun silih berganti. Peradaban Romawi, Persia, Islam, sebelumnya telah mencapai puncak keemasan, dan mengalami kejatuhan. Kini peradaban Barat sedang memimpin, dan mulai terlihat tanda-tanda akan mengalami penurunan. 

Penurunan peradaban tidak disebabkan dari luar tetapi dari dalam peradaban itu sendiri. Di puncak-puncak peradaban selalu terlihat ada hal-hal anomali. Barat sudah ratusan tahun memimpin peradaban, dan kini memperlihatkan telah memperlihatkan prilaku-prilaku anomali sebagai tanda-tanda penurunan peradaban.

Barat adalah negara pengusung demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM). Bertahun-tahun negara-negara menjatuhkan rezim-rezim yang tidak demokratis dan isu HAM digulirkan menjadi alasan sebuah negara diakui dan tidak diakui dalam pentas kehidupan dunia.

Kemudian, kisah Genosida terhadap 72 ribu penduduk Palestina dan pembumihangusan seluruh infrastruktur penduduk Palestina, inilah anomali sebagai tanda keruntuhan peradaban Barat. Tanda berikutnya, telah terjadi perpecahan dikerjasama pertahanan negara-negara Barat. Jargon Barat sebagai penjaga perdamaian, faktanya menjadi bangsa yang getol menciptakan perang.

Kendali negara-negara Barat mulai terkonstrasi pada negara-negara dengan jumlah penduduk besar. Indonesia, India, China, Rusia, berpeluang menjadi pengendali peradaban berikutnya. Para pemimpin di negara ini sedang bekerjasama membangun tatanan peradaban baru yang lebih menghargai kedaulatan setiap negara dan hak asasi manusia.

Melalui dunia pendidikan, narasi-narasi bangsa besar berbasis data dan fakta harus terus dinarasikan guru-guru. Kebesaran sebuah bangsa ada dalam imajinasi warga negara. Dunia pendidikan menjadi sektor paling strategis untuk mengangkat kualitas bangsa menuju bangsa besar. 

Guru-guru bisa diperankan sebagai agen-agen strategis dalam membangun kebesaran bangsa. Di ruang-ruang kelas, guru-guru diwajibkan membahas tentang visi besar bangsa, dan mengungkap data dan fakta pendukung dari berbagai sudut pandang. 

Kehadiran guru-guru inspiratif, kreatif, imajinatif, menjadi kompetensi yang harus dilatih serius pada guru. Sikap pesimis dan skeptis fatalistik menjadi hambatan mental bangsa-bangsa untuk berkembang jadi bangsa maju.

Peran guru sangat berdampak pada pembentukkan karakter dan narasi bangsa besar pada setiap warga negara. Nasib guru yang terabaikan menjadi indikator sebuah bangsa tidak serius membangun peraban bangsa.***

 

  


Monday, June 1, 2026

INDONESIA BELAJAR MANDIRI DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran di embargo selama 47 tahun oleh admin dunia, ternyata masih bisa hidup dan bisa bertahan dengan teknologi senjata buatan sendiri. 

Apa yang terjadi pada bangsa Iran, bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai bukti bahwa hukum Allah berlaku pasti. Hukum ini dijelaskan di dalam Al Qur'an, bahwa "setiap kesulitan akan menghasilkan kemudahan."

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyrah, 9:5-6).

Setuju atau tidak setuju, percaya atau tidak percaya pada hukum setelah kesulitan ada kemudahan, hukum Allah akan berlaku pada siapapun tanpa melihat suku, agama, dan bangsa. Tekanan Amerika Serikat pada Iran akan mengubah Iran menjadi negara kuat, karena semakin percaya diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. 

Pendidikan sejati bagi sebuah bangsa adalah kesulitan demi kesulitan yang berhasil dilalui. Indonesia bukan negara lemah. Sebagai negara merdeka kita sudah berhasil melewati masa-masa sulit. Revolusi fisik tahun 1945, masa jatuh bangunnya pemerintaha tahun 1959, masa perang saudara 1965, dan masa krisis ekonomi dan politik 1998. Masa-masa sulit telah dilalui melahirkan masa-masa hidup damai sejahtera. 

Saat ini, Indonesia sedang mendapat tekanan ekonomi global, karena Indonesia berusaha menjadi bangsa mandiri. Jika Indonesia berhasil swasembada pangan dan energi, akan ada negara-negara produsen yang sistem ekonominya terganggu. Mereka adalah para penjajah yang suka bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh. 

Indonesia adalah potensi pasar negara-negara produsen. Jika Indonesia mengembangkan kemandirian, dimulai dari negeri dan pangan, maka negara-negara  produsen yang biasa menikmati keuntungan dari pasar akan terganggu. 

Tekanan ekonomi global dilakukan melalui pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar AS, dan menyerang pasar modal dengan aksi jual sehingga harga rata-rata saham aturun drastis. Dalam kondisi ini, mereka akan menbuat berita-berita buruk tentang Indonesia agar Indonesia tidak menjadi negara mandiri.

Kita sudah menyaksikan di kancah internasional, bagaimana negara-negara penghasil teknologi perang, mereka memaksa negara-negara lain tunduk dengan ancaman, kekerasan, genosida, dan blokade ekonomi. Negara yang tidak punya nyali mereka menyerah dan hidup dikendalikan bangsa lain.

Mereka yang punya nyali tetapi tidak punya rasa persatuan, mereka bisa melawan tetapi tidak berdaya. Iran menjadi contoh bagi semua negara. Iran punya nyali, rakyat bersatu, dan punya kemandirian teknologi, Iran tampil menjadi bangsa mandiri.

Ujian Iran untuk menjadi bangsa mandiri adalah 47 tahun mendapat tekanan politik dan ekonomi global. Pimpinan-pimpinan politik Iran menjadi korban tekanan politik dan ekonomi. Rasa persatuan bangsa Iran telah menyelamatkan Iran dari perpecahan dan perang saudara. 

Indonesia memiliki kekuatan lebih dari Iran. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia memiliki rasa persatuan yang kuat. Indoneisa punya kekayaan alam melimpah. Indonesia daratan dan perairan yang luas. Satu yang belum dimiliki bangsa Indonesia yaitu teknologi. 

Bangsa Indonesia tidak punya keberanian kuat seperti Iran untuk memiliki teknologi sendiri. Ketidakberanian bangsa Inodnesia mandiri secara teknologi, lebih karena mental bangsa Indonesia. Mental-mental pejuang yang dimiliki generasi pertama telah meluntur. Sekarang kita dihadapkan pada mental mudah menyerah, tidak berani menghadapi kesulitan, dan suka menghujat menyalahkan orang lain.

Bangsa Indonesia perlu dikendalikan oleh pemimpin yang kuat, didukung oleh sistem pemerintahan yang kuat, dan tentara yang kuat. Kekuatan bangsa Indonesia harus ditopang dari pondasi mendasar yaitu pendidikan. Lahirnya manusia bermental petarung, pantang menyerah, tidak mengeluh, berani berkorban, dilahirkan dari dunia pendidikan.

Melahirkan manusia-manusia terbaik kuncinya bukan bangunan, atau dokumen kurikulum. Kunci untuk melahirkan manusia-manusia tangguh petarung adalah guru-guru petarung. Manusia-manusia petarung yang dihasilkan dari pendidikan, ketika jadi masyarakat akan jadi masyarakat petarung yang bisa mengajak seluruh anggota masyarakat berangkat menjadi bangsa mandiri.

Iran tidak tergoyahkan dengan ancaman senjata pemusnah masal negara lain, rakyatnya bersatu padu untuk mempertahankan kedaulatan negara dan membela tanah air. Jika rasa cinta tanah air sudah menjadi budaya masyarakat, tidak ada bangsa lain yang bisa menjatuhkan.

Ini hukum Allah yang berikutnya. Sebuah bangsa tidak akan hancur karena serangan dari luar. Hukum Allah sudah ditetapkan bahwa sebuah bangsa lemah dan hancur bukan karena serangan bangsa lain, tapi karena prilaku-prilaku buruk yang dimiliki bangsa itu sendiri.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Dosa penyebab kebinasaan. Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter dan prilaku bangsa yang tidak berkualitas. Prilaku-prilaku masyarakat tidak mencermin sebagai manusia berpendidikan, dan berakal sehat. Masyarakat punya kecenderungan mengedepankan pemikiran dan prilaku buruk dalam menyikapi sebuah kejadian. 

Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter manusia  bermental mudah mengeluh, pesimis, putus asa, dan suka menghujat menyalahkan orang lain. Bangsa sulit mandiri, karena selalu kandas dihadang oleh manusia-manusia bermental buruk, pesimis, dan suka menghujat menyalahkan. Mereka melihat setiap upaya kemajuan selalu terlihat buruk. Itulah manusia-manusia dari dalam bangsa penyebab kebinasaan sebuah bangsa.

Dunia pendidikanlah yang bisa diandalkan melahirkan mausia-manusia petarung. Catatan penting, dunia pendidikan yang baik, diisi oleh guru-guru petarung yang selalu berpikir optimis, tidak suka mengeluh, tidak pernah putus asa, dan tidak suka menyalahkan orang lain, berani berkorban, beriman dan bertakwa kepada Tuhan.*** 

Tuesday, May 26, 2026

KURBAN BENTUK MANUSIA UNGGUL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Ritual kurban perlu penjelasan rasional agar bisa dipahami secara mendalam. Dari sudut pandang pendidikan, guru bisa menjelaskan makna yang terkandung dari kisah Nabi Ibrahim. Pendidikan bertujuan membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi sebuah karakter. 

Di dalam Al Quran dikisahkan  Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi manusia biasa seperti kita, jika ada seorang bapak bermimpin menyembelih anaknya.

Dari kisah Nabi Ibrahim ada banyak makna yang bisa diambil, terutama bagi dunia pendidikan. Kisah Nabi Ibrahmi mengandung pelajaran bagaimana tangung jawab seorang ayah dalam mengajari, melatih dan menguji, karakter anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaafaat, 37:102). 

Dari sudut pandang pendidikan, kisah ritual kurban mengingatkan sebuah kompetensi yang harus diajarkan dan dimiliki oleh seorang anak. Ritual kurban mengingatkan seorang anak harus memiliki jiwa suka bekerjasama, kemampuan berpikir, mandiri, dan resiliensi (kesabaran). 

Jiwa suka bekerjasama dibuktikan dengan kemampuan intelektual yang bisa mengidentifikasi kebenaran dari Tuhan, mengendalikan emosi, mandiri, berani berkorban, dan sabar atau mampu bertahan dalam penderitaan.

Suka bekerjasama atau berkolaborasi menjadi kompetensi abadi wajib dimiliki manusia. Manusia unggul ditandai dengan kemampuan bekerjasama atau berkolaborasi. Manusia tidak dapat hidup tanpa berkolaborasi. 

Ebook berpikir dengan logika tuhan

Suka bekerjasama atau berkolaborasi di dukung oleh kemampuan berpikir, kemandirian, dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, dan mampu bertahan dalam penderitaan.  Kurban mengajarkan anak-anak menjadi manusia unggul. 

Di dalam dunia pendidikan wajib ada program-program yang melatih murid bekerjasama, berkolaborasi, menggunakan kemampuan inteleltual untuk menyelesaikan masalah, menemukan ide menyelesaikan masalah, membantu menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan, secara mandiri.

Karakter yang harus dimiliki anak-anak, pesan dari peristiwa Kurban adalah seorang anak harus memiliki "jiwa suka bekerjasama dan berani berkorban". Anak-anak yang berani berkorban pasti bisa bekerjasama, sebaliknya anak-anak egois pasti sulit bekerjasama.

Dunia kerja dan dunia wirausaha, membutuhkan manusia-manusia yang bisa bekerjasama bukan manusia-manusia egois. Sekolah diakhir studi, harus menguji anak-anak seberapa besar keberanian murid dalam berkorban harta yang diusahakannya sendiri? Abak diuji melalui program berkorban secara mandiri sesuai kemampuan untuk membebaskan kesulitan orang lain. Inilah karakter manusia unggul***

Friday, May 22, 2026

LOGIKA TUHAN LATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan melatih kemampuan umat manusia khususnya umat Islam bergumen dengan kitab suci Al Quran. Semua ajaran yang mengatasnamakan Islam argumennya harus dari kitab suci Al Quran. Al Quran menjadi induk dari dasar-dasar ajaran Islam. 

Setiap umat Islam wajib mengabarkan Al Quran kepada seluruh manusia. Setiap umat Islam wajib menjadikan Al Quran sebagai rujukan dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Setiap umat Islam memiliki kemampuan berpikir dengan menjadikan Al Quran sebagai argumen.

Kemampuan berargumen dengan Al Quran mengikuti pola berpikir sebab akibat (kausalitas). Kausalitas digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di muka bumi. Pemahaman setiap orang terjadi kalau bisa memahami kausalitas dari suatu konsep atau kejadian.

Kita tidak akan bisa mengetahui siapa sosok orang beriman? Jika kita tidak tahu ciri-ciri dari orang beriman, tidak jelas apa yang harus dilakukan. Maka Al Quran bisa memberi pemahaman siapa orang beriman dengan menjelaskan melalui pola kausalitas dari hubungan dua ayat. 

Ebok belajar logika Tuhan menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (Al Anfaal, 8:2).

Untuk menjelaskan siapa orang beriman berdasarkan ayat di atas, konkritnya bisa dilihat dalam penjelasan ayat berikutnya. Inilah salah satu cara penjelasan menggunakan pola hubungan kausalitas. 

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Al Anfaal, 8:3).

Keimanan kepada Allah menjadi sebab orang melakukan shalat dan sedekah. Jadi bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mereka mengerjakan shalat dan bersedekah. 

Dapat dipahami dalam kisah akhir hayat Nabi Muhammad, Beliau mewasiatkan shalat kepada umat sepeninggalnya. Ternyata di dalam Al Quran dijelaskan shalat menjadi ukuran pertama dari orang-orang yang benar-benar beriman diikuti dengan sedekah.

Jika kita bertanya lebih lanjut, untuk apa orang beriman ditandai dengan shalat dan sedekah? Secara kausalitas dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (Al Anfaal, 8:4).

Mengapa orang beriman ditandai Allah dengan shalat dan sedekah? Penjelasannya ada dalam ayat 4. Maka ayat 4 sebagai akibat dari orang beriman yang shalat dan sedekah.

Ada tiga akibat yang didapat dari orang beriman, shalat, dan sedekah, yaitu tinggi derajat, ampunan, dan rezeki. Inilah kabar gembira yang dijanjikan Allah pada orang beriman, shalat, dan sedekah. 

Kesimpulannya, iman, shalat, sedekah, menjadi prasyarat untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Kemampuan berpikir berdasar Al Quran menjadi hal penting dimiliki setiap orang beragama. Melatih kemampuan berpikir berbasis pada Al Quran menjadi pondasi penting yang harus diajarkan pada umat manusia khususnya umat Islam.***

Friday, May 15, 2026

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran. 

Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral. 

ebook memahami logika tuhan dalam beragama

Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan "kematangan berpikir".

Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaaffaat, 37:102).

Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.

Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).

Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain. 

Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun. 

Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.***

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akb...