Thursday, May 23, 2024

STIMULASI OTAK DENGAN NAPAS RITME 5:5

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Penemuan ilmu napas ritme oleh Gunggung Riyadi bisa dikatakan penemuan spektakuler abad 21. Oleh Gunggung Riyadi, napas ritme bisa dipahami secara rasional melalui penjelasan berbagai hasil riset di jurnal internasional. 

Gunggung Riyadi mengaku bisa memahami manfaat pernafasan setelah membaca kurang lebih 200 karya jurnal internasional. Riset yang panjang telah menghasilkan sebuah temuan spektakuler dan bermanfaat bagi kesehatan. Penemuannya telah diterapkan pada purnawirwan tentara pada saat covid-19. Hasilnya semua purnawirawan yang usianya di atas 60 tahunan bisa selamat melewati covid-19. 

Kini ilmunya diperkenalkan secara luas kepada masyarakat, dan sudah menghasilkan beberapa riset di tingkat doktoral. Gunggung Riyadi kini giat memberikan edukasi melalui kegiatan pelatihan secara online dan offline. 

Berdasarkan penjelasan Gunggung Riyadi, prinsip dasar napas ritme adalah gerakan tarik-buang saat bernapas. Intinya, pernapasan bisa digunakan sebagai pembentuk frekuensi manual melalui paru-paru. 

Melalui alat ukur Heart Rate Variability (HRV) dibuktikan bahwa frekuensi jantung terbagi menjadi tiga yaitu Very Low Frekuency (<0,04 Hz), Low Frequency (0,04-0,15 Hz), dan High Frequency (0,15-0,4). 

Pernapasan yang diatur dengan ritme hitungan detik bisa menghasilkan frekuensi. Dari hasil pengukuran, napas ritme 1:1, 2:2, 3:3, menghasilkan kategori high frequency yang berhubungan dengan syarap parasimpatik.  

Napas ritme, 5:5, 10:10, 12:12, menghasilkan kategori low frequency berkaitan dengan syaraf simpatik. dan napas ritme 15:15, 30:30, menghasilkan kategori very low frequenscy berkaitan dengan neuro hormonal.

Napas ritme 5:5, tarik napas 5 detik dan buang napas 5 detik tanpa tahan napas, sudah banyak penelitian dilakukan. Napas ritme 5:5 menghasilkan frekuensi 0,1 Hz dengan kategori low frekuensi. Napas 5:5 jika dipraktekan mengandung beberapa gambaran manfaat, antara lain:

  1. dapat mengurangi risiko penyakit TBC
  2. meringankan sesak napas
  3. meningkatkan saturasi oksigen
  4. otak menjadi lebih rileks
  5.  menormalkan aliran darah
  6. meningkatkan adaftasi jantung
  7. menambah oksigen pada darah
  8. membantu tekanan darah normal
  9. sinkronisasi kinerja jantung
Berdasarkan hasil temuan di atas, napas ritme bisa diperkenalkan di satuan pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan belajar para siswa. Napas ritme bisa membantu meningkatkan kecerdasan otak, karena  napas ritme 5:5 bisa meningkatkan suplai oksigen pada darah, otak rileks, dan tekananan darah normal.

Napas ritme biasa jadi alat stimulasi dan menyegarkan otak diterapkan pada saat jeda pembelajaran di kelas. Jeda pembelajaran dapat dilakukan setiap 10 menit sekali. Latihan ini bisa diterapkan di sekolah dengan berbagai latar belakang budaya dan agama.*** 



Saturday, May 18, 2024

Doa dan Peningkatan Kecerdasan

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gunggung Riyadi (2024) ahli nafas ritme mengatakan ada hubungan antara kondisi otak alpa dengan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan (https://www.youtube.com/@MasGunggung). 

Menarik sekali penjelasan Gungung Riyadi tentang koherensi otak. Koherensi otak adalah keselarasan antara jantung, otak, dan badan. Koherensi otak merupakan kondisi otak pada kondisi alpa. 

Mengondisikan otak pada kondisi alpa bisa dilatih dengan nafas ritme. Namun demikian, nafas ritme tidak bisa hanya latihan gerak tarik dan kelurkan nafas sesuai ritme. Ketika tarik dan keluarkan nafas harus ada substansinya. 

Salah satu subtansi nafas ritme adalah ilmu logika tentang hubungan nafas ritme dengan jantung, otak, dan kesehatan. Artinya, tarik dan keluarkan nafas harus disertai dengan pemahaman logika manfaat dari nafas ritme.

Rutinitas doa setiap hari di sekolah, tingkatkan kecerdasan anak-anak

Sebuah penelitian doktoral dari Suharsi, UIN Walingsongo Semarang, ditemukan doa yang dilakukan seseorang berpengaruh pada penurunan kualitas stres seseorang. Doa pada intinya adalah harapan dan imajinasi seseorang tentang kondisi yang diinginkan. 

Dari hasil penelitian Suharsi, 40-45% reponden mengalami penuruan kualitas stres setelah melakukan doa. Penelitian dilakukan pada responden lintas agama. Nafas ritme dengan doa bisa dikombinasikan menjadi tindakan untuk meringankan stres. 

Penulis sudah lebih dari 13 tahun menerapkan program shalat dhuha 12 rakaat setiap pagi di sekolah. Program ini sudah diterapkan di lima sekolah. Di tiap sekolah menemukan fenomena, rata-rata anak-anak yang disiplin ibadah memiliki kemampuan intelektual lebih baik. 

Sebaliknya, anak-anak yang tidak memiliki kebiasaan disiplin ibadah, selalu ditemukan dari anak-anak yang melakukan tindakan-tindakan menyimpang seperti berkelahi, pencurian, bolos sekolah, malas belajar, dan masalah di keluarga.

Data tahun 2024, siswa-siswi yang lolos ke perguruan tinggi melalui jalur (seleksi nasional berbasis prestasi) SNBP, berdasarkan hasil penelusuran, dari 31 orang semuanya termasuk yang disiplin melaksanakan ibadah ritual. Hanya tiga orang yang tidak melaksanakan dhuha secara disiplin. Namun shalat lima waktu dilaksanakan disiplin. 

Dari wawancara beberapa anak secara anak, rata-rata mereka mengakui bahwa setelah ritual dhuha pagi dilaksanakan di sekolah mereka merasa tengang. Kondisi tenang sebagai efek dari doa atau dhuha, bukan perkara sepele.

Berdasarkan penjelasan Gunggung Riyadi, kondisi tenang seseorang adalah tanda bahwa otak berada pada kondisi alpa. Kondisi tenang dapat diartikan juga sebagai kondisi tingkat stres anak-anak rendah. Namun penulis sampai ini belum melakukan pengukuran berapa signifikan doa bisa menimbukan kondisi tenang.

Namun berdasarkan penelitian, Suharsi, disimpulkan bahwa doa-doa yang dialntunkan dapat menurunkan tingkat stres. Otak yang rileks menandakan kondisi otak dalam kondisi sehat, lebih siap menerima pelajaran. 

Selanjutnya, perlu ada penelitian khusus pada anak-anak shalat yang disiplin doa atau shalat, seberapa pengaruh kegiatan ritual doa tiap hari di sekolah berpengaruh pada kondisi stres anak-anak. Hipotesi sementara penelitian punya asumsi bahwa doa harian yang dirutinkan tiap hari dapat meningkatkan tingkat kecerdasan anak-anak.    

Saturday, May 4, 2024

KURANGI LOMBA-LOMBA DI DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Menyimak perubahan paradigma pendidikan abad 21, arahnya sudah bergeser. Lomba-lomba yang diadakan di lembaga pendidikan sudah ketinggaalan zaman. Pendidikan sebagai juara lomba sudah usang dan tidak menyelesaikan masalah.

Juara-juara lomba sudah diraih oleh putra-putri terbaik kita, tetapi tidak signifikan menyelesaikan masalah. Penghargaan kepada mereka yang menjuarai lomba, telah mengalihkan fokus pendidikan pada pencapaian juara lomba, namun berbagai permasalahan yang kelak dihadapi anak-anak terabaikan.

Sumber daya mansia kita di tingkat internasional masih jauh tertinggal. Jumlah pengangguran berpendidikan masih tinggi. Produksi sampah meningkat belum tertangani. Daya beli masyarakat rendah karena penghasilan rendah. Penghasilan rendah karena keterampilan hidup rendah. Pertumbuhan teknologi informasi semakin cepat, namun pemanfaatan teknologi informasi secara produktif masih tertinggal.

Kehadiran teknologi informasi di negara-negara lain, dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai masalah. India dan China berhasil mengurangi kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Teknologi informasi menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas. 

Dunia pendidikan yang terlalu menghargai juara-juara lomba kadang abai terhadap masalah dasar yang sedang dihadapi bangsa. Dunia pendidikan harus diarahkan membangun karakter berbasis pada pemecahan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. 

Dunia pendidikan harus memperkenalkan berbagai permasalahan serius akan dihadapi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari di mana mereka tinggal. Tujuan pendidikan harus menyadarkan anak-anak bahwa hidup yang dijalan oleh mereka sehari-hari mengandung masalah yang harus segera diantisifasi.

Masalah finansial merupakan masalah serius dihadapi setiap hari. Kesulitan ekonomi menjadi penyebab terjadinya perceraian dan berakibat pada pola asuh dan kebutuhan anak-anak di keluarga terabaikan. Di sekolah anak-anak dengan latar belakang keluarga cerai, cenderung mengalami masalah karakter. 

Perkelahian, penyimpangan seks, pencurian, perundungan, kekurangan gizi, stres, tidak punya cita-cita, malas belajar, ternyata sebagian besar terjadi pada anak-anak yang kurang mendapat perhatian di lingkungan keluarga.

Anak-anak yang lahir di lingkungan keluarga berada, mereka relatif manja, tidak punya semangat belajar, mudah menyerah, dan budaya baca rendah. Sekalipun dari lingkungan keluarga mampu, tapi tidak berbanding lurus dengan minat baca dan motivasi belajar tinggi. Rendahnya minat baca menjadi masalah umum di lingkungan keluarga dan pendidikan. 

Kebijakan pendidikan harus mengurangi penghargaan pada juara lomba-lomba. Kebijakan pendidikan harus dikembalikan pada tugas pokok pengajaran yaitu memberikan dan meningkatkan layanan pendidikan terbaik sesuai dengan perkembangan zaman. 

Setiap guru harus hadir membawa ilmu-ilmu terbaru yang sedang berkembang saat ini. Ilmu-ilmu terbaru dipertontonkan kepada anak-anak dengan merujuk pada sumber-sumber keilmuan yang dapat dipercaya. Ilmu-ilmu terbaru dihadirkan untuk membantu anak-anak menyelesaikan permasalahan hidup yang sedang terjadi pada diri mereka sekarang bukan nanti.

Pengajaran berbasis masalah dan proyek harus banyak digunakan untuk melatih kemampuan anak-anak berpikir kritis dan kreatif untuk memecahkan masalah. Akhir dari pengajaran bukan untuk lomba, tapi sebagai bahan refleksi apakah anak-anak bisa beradaftasi dan memecahkan berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. 

Sekolah harus melahirkan inovator-inovator sejak di sekolah. Melatih anak menjadi inovator harus dilakukan dalam setiap proses pengajaran. Prestasi-prestasi anak di sekolah dipublikasikan bukan melalui lomba, tetapi disajikan melalui dokumentasi praktik baik di media sosial milik sekolah. 

Penghargaan diberikan bukan sebagai juara lomba yang diusakan jadi juara, tetapi sebagai bentuk pengakuan. Penghargaan yang diusahakan melalui juara lomba, tidak melahirkan jiwa-jiwa murni pewirausaha. Sebaliknya, penghargaan yang diberikan dalam bentuk pengakuan, dilakukan melalui proses pengamatan panjang, berbasis data, dan observasi lapangan, untuk membuktikan yang diberi penghargaan bermanfaat bagi banyak orang. 

Oreintasi penghargaan dalam bentuk pengakuan akan mengalihkan sekolah pada pelayanan pendidikan, kosistensi, dan berkelanjutan dalam mengembangkan program. Sehingga hasil dari pendidikan betul-betul akan melahirkan karakter dan kemampuan, karena sekolah fokus mengembangkan program-program yang diunggulkannya sesuai visi dan misi. Ukuran penghargaan bukan pada capaian akhir tapi pada kualitas proses kesinambungan pendidikan.***

Thursday, April 11, 2024

BERPIKIR CEPAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Berat otak manusia sekitar 1,3 kg atau 2% dari berat badan. Otak tidak pernah berhenti bekerja sekalipun kita tidur. Otak membutuhkan 20% sari makanan dari makanan yang kita konsumsi. Semakin banyak berpikir semakin banyak kalori yang terbakar (Suyadi, 99:2020). 

Orang yang bekerja secara fisik dan bekerja menggunakan otak lebih berat mana? Berdasar data di atas, bekerja menggunakan otak bisa jadi sangat melelahkan, karena menyerap 20% dari sari makanan yang kita konsumsi. Untuk para pekerja menggunakan otak perlu diperhatikan asupan makanan yang menunjang pada kinerja otak.

Di dalam otak ada dua sistem operasi. Pertama berkaitan dengan sistem operasi cepat, instingtual, dan tidak disadari. Sistem ini dikendalikan bagian otak kanan, di bagian limbik dan otak reptil. Kedua berkaitan dengan sistem lambat, bersifat analitis, dan sadar. Dikendalikan pada bagian otak kiri, di bagian otak neocortek (Suadu, 137:2018).

Berdasarkan fakta di atas, kecepatan berpikir ditentukan oleh kebiasaan seseorang. Orang-orang yang berpikir rasional cenderung "lambat" dalam mengambil keputusan. Rasionalitas menuntut seseorang untuk menyusun perencanaan dalam setiap pengembilan keputusan. Sebaliknya orang-orang yang cenderung menggunakan emosi, lebih "cepat" dalam mengambil keputusan.  

Dalam proses pengambilan keputusan, setiap orang dipengaruhi oleh perbendaharaan pengetahuan di dalam hipocampus. Perbendaharaan pengetahuan yang tersimpan dalam memori bisa jadi menjadi faktor untuk mempercepat pengambilan keputusan. Para entrepreneur mereka cenderung punya kecepatan dalam mengambil keputusan, bukan karena tidak berpikir rasional. 

Lambat atau cepat dalam mengambil keputusan tidak menunjukkan sebuah nilai baik atau buruk. Orang yang terbiasa mengambil keputusan dengan cepat menggunakan emosi, tidak berarti dia tidak menggunakan pengetahuan. 

Proses pengambilan keputusan secara rasional diketahui 500 ms sejak pengetahuan (stimulus) itu diterima. Sedangkan sirkuit berpikir irasional diketahui 145 ms sejak pengetahuan (stimulus) di terima. (Suadu, 127:2018). Pengetahuan yang tersimpan di hipocampus akan di proses melalui dua jalan pikiran yaitu pikiran rasional dan irasional. Hasil keputusan yang dihasil sangat tergantung pada situasi, dan kebiasaan berpikir seseorang. 

Selain faktor perbendaharaan pengetahuan, kecepatan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh keberanian menghadapi risiko. Keberanian mengambil risiko berkaitan dengan pebendaharaan pengetahuan yang dimiliki. Jadi cepat atau lambat mengambil keputusan berkaitan dengan stok pengetahuan dalam menghasilkan kesimpulan. 

Kecepatan berpikir dalam menghasilkan keputusan adalah kerja kolaboratif antara hasil proses pengetahuan rasional dan irasional. Pada akhirnya orang-orang akan mengambil keputusan dengan keputusan irasional yang didorong oleh keberanian dalam mengambil risiko. Orang-orang yang berpikir cepat menggabungkan berpikir rasional dan irasional, terlihat orang itu memiliki karakter sabar.*** 

Friday, March 29, 2024

Tinjauan Neurosain, Mengapa Harus Kendalikan Emosi?

Oleh: Dr. Toto Suahrya, S.Pd., M.Pd.

Menyimak struktur dan fungsi otak, untuk melatih karkater kuncinya harus pandai mengendalikan emosi. Di dalam sttruktur otak ada bagian sistem limbik. Fungsi bagian otak ini adalah mengatur tinggi dan rendahnya emosi. 

Menurut Suadu (2018) setiap informasi yang didapat dari indera akan diteruskan ke sistem limbik. Selain ke sistem limbik, informasi yang diterima indera akan diteruskan pula ke bagian otak kortek untuk dipersepsi dan diinterpretasi secara sadar. 

Informasi yang diterima sistem limbik, akan mengaktifkan fungsi hipokampus yang bertugas menyimpan dan mengingat. Sedangkan, Amygdala berfungsi mengatur derajat intensitas emosi. 

Jadi, ketika informasi yang diterima tubuh melalui indera, akan disalurkan atau direspon oleh otak kortek dan sistem limbik. Jenis emosi yang dihasilkan sistem limbik ada dua yaitu bertahan hidup dan keterikatan. Marah, sedih, adalah jenis emosi bertahan hidup yang akan menghasilkan hormon kortisol. Bahagia, kepercayaan, kegembiraan, adalah emosi keterikatan akan menghasilkan hormon oksitosin. 

Ketika sistem limbik kurang aktif, kondisi pikiran akan lebih positif, dan jika terlalu aktif, kondisi pikiran akan menjadi negatif dan mengambil kendali atas prilaku. Sistem limbik merupakan otak primitif yang mengendalikan tindakan primitif manusia berkaitan dengan emosi, motivasi, serta respon otomatis seperti reflek, insting, dan dorongan primitif. Sistem limbik juga berkaitan dengan pengambilan keputusan. 

Gangguan pada sistem limbik berdampak pada persepsi negatif terhadap setiap persitiwa, motivasi menurun, emosi tidak terkendali, pola makan dan tidur terganggu, respon sesksual menurun, dan mengisolasi diri. 

Kecepatan otak kortek untuk mengolah informasi menjadi pikiran sadar setelah 500 ms sejak informasi diditerima indera. Untuk berpikir sadar otak manusia membutuhkan waktu lebih lama. Sementara itu, sirkuit berpikir irasional butuh waktu 145 ms memproses informasi yang diterima. Kondisi inilah yang membuat banyak orang mengambil keputusan-keputusan yang kurang rasional.

Berdasarkan penjelasan fakta di atas, ada beberapa kesimpulan sementara yang bisa kita dapat. Sistem limbik sebagai pengatur emosi, berperan sebagai pengambilan keputusan. Hasil dari keputusan yang dihasilkan sistem limbik adalah berpihak atau tidak berpihak, benci atau cinta, aktifkan pertahanan atau jalin persahabatan. 

Otak kortek sebagai pembangun kesadaran harus dilatih agar setiap informasi yang diterima indera tidak langsung di proses di amygdala. Otak harus dibiasakan diberikan asupan informasi berkualitas agar mempermudah kortek dalam mempersepsi dan interpretasi. 

Pembelajaran nalar harus menjadi metode dalam setiap pengajaran, agar cara berpikir rasional selalu aktif dan bisa mengendalikan emosi yang intensitasnya dikendalikan oleh amygdala. Otak kortek yang aktif akan menjaga kendali amygdala dalam mengambil keputusan, dan amydala tidak dominan dalam setiap pengambilan keputusan.

Inilah penjelasan dari hadis Nabi Muhammad, bahwa "di dalam tubuh ada segumpal daging, jika buruk maka semua buruk jika baik maka semua baik". Ternyata segumpal daging yang ada dalam dada bisa terjaga dengan baik jika sistem limbik berfungsi dengan baik, sehingga fungsi jantung yang ada di dalam dada dapat berfungsi dengan baik. 

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada". (Al Hajj, 22:46).

Tuesday, March 12, 2024

Rumus Keluar Dari Kemiskinan Ala Timothy Ronald

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Pada kali ini Timothy membagi sumber kekayaan menjadi dua yaitu human capital dan financial capital. Keduanya, rata-rata akan bertemu pada satu titik yaitu di usia 65 tahun, yaitu angka rata-rata pensiun orang Indonesia.

Pada usia 65 tahun di saat manusia sudah tidak sebugar di usia muda, idealnya financial capitalnya sudah bisa menjamin kehidupannya. Untuk mencapai itu Timothy punya strategi untuk mempercepatnya agar bisa punya financial kuat di usia 30 tahun.

Pertama yang harus diperhatikan adalah tingkatkan skill dan bekerja keraslah. Jadilah pekerja yang baik dan profesional. Semakin tinggi skill yang kita kuasai semakin tinggi kita akan mendapat bayaran.

Kedua, tabung hasil kerja dengan dengan prosentasi 20 gaya hidup dan 80% menabung. Jika kalian beranggapan bahwa 20% dari gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup kurang, kata Timothy, “masalahnya kamu kebanyakan gaya anj$#@ng!” Haha…kocak...

Ketiga, dimana tabungan akan disimpan? Ada beberapa instrumen untuk menyimpan aset, diantaranya cash, bond, properti, saham, atau kripto. Semua instrumen untuk menyimpan aset tersebut, memiliki risiko. Semakin besar risiko semakin cepat return yang dikembalikan. 

Ini ulasan dari penulis. Besarnya risiko sama dengan besarnya pendapat. Ini rumus hidup dalam logika Tuhan.  Sumbernya dapat digali dari surat Al kautsar, ayat 1 dan 2. "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah."

Cara bacanya dibalik jadinya seperti ini, "Jika kamu shalat dan berkorban, maka kami akan berikan nikmat yang banyak kepadamu". Logika hidup ini terjadi di mana-mana dalam berbagai bidang.

Timothy menyarankan dari instrumen untuk menyimpan aset yang ada, pilihlah Kripto. Investasi di Kripto memiliki kecepatan tersendiri dibanding dengan instrumen lainnya. Pilihlah aset kripto yang harganya turun naik tapi kurvanya menanjak. Sebagai contoh bitcoin.

Kesimpulannya, rumus agar kita bisa keluar dari kemiskinan adalah tingkatkan skill, kerja keras, tingkatkan penghasilan, dan hasilnya sebanyak 80% investasikan. Jangan kebanyakan gaya.

Untuk saat ini, sesuai dengan zamannya, investasi yang bisa menjajikan percepatan menghasilkan adalah kripto. Namun harus diingat, risiko return besar risiko juga besar.

Di sarankan mulailah semangat bekerja dan berinvestasi selagi usia muda. Di usia muda, disaat kita jatuh kita masih kuat untuk bangkit. Jangan banyak gaya! Di sekolah seharusnya mengajarkan ilmu-ilmu simple seperti ini, dan bisa dimulai di sekolah bukan setelah keluar sekolah.*

Sunday, March 10, 2024

Dunia Pendidikan Ikut Mendukung Terjadinya Kejahatan

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Saya sepakat dengan pola pikir Timothy Ronald dengan pengajaran literasi finansial yang benar, Tingkat kejahatan, seperti pencurian, korupsi, begal, perampokkan akan menurun. Logika ini masuk akal.

Setiap orang ingin menjadi orang kaya dengan aman. Semua orang ingin menjadi orang kaya dengan hati dan pikiran tenang. Untuk, sesuatu yang illegal pada dasarnya semua orang tidak ingin melakukannya. Namun karena ketidaktahuan cara bagaimana menjadi kaya dengan aman, memdorong orang melakukan hal-hal illegal.

Kondisi Indonesia dengan tingkat kejahatan dan korupsi tinggi, menjadi tanda bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia sangat rendah. Laporan Bandan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 angka kejahatan melonjak 55,77%. Selanjutnya data Transparency Internasional Indonesia menybutkan indeks pesrsepsi korupsi di Indonesia pada tahun 2023 dari 180 negara Indonesia barada di posisi 115.


Masyarakat Indonesia pun tercatat sebagai masyarakat yang terbiasa dengan utang. Maraknya layanan pinjaman online menjadi tanda bahwa budaya bangsa Indonesia dimanfaatkan oleh pasar dengan menawarkan jasa utang. Sebuah berita media online, memberitakan bahwa 80% PNS dan PPPK terjerat utang dan sisa gajinya hanya ratusan ribu.

Tingkat kejahatan tinggi, indeks persepsi korupsi rendah, dan budaya utang, menjadi tanda bahwa literasi keuangan sangat penting diajarkan di sekolah. Sayangnya, literasi keuangan di sekolah belum menjadi target pengajaran di setiap jenjang pendidikan.

Kehadiran Kurikulum Merdeka dengan jargon merdeka belajar dan merdeka mengajar, seharusnya masalah-masalah sosial yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia harus diselesaikan di dunia pendidikan. Namun demikian, substansi pendidikan yang diajarkan di sekolah kurang relevan dengan masalah-masalah sosial yang ada.

Antisipasi, terhadap masalah-masalah sosial yang ada dilapanganm, yang dilakukan dunia pendidikan cenderung pada pengajaran-pengajaran moral yang tidak dilengkapi dengan kemampuan teknikal dalam mengantisifasinya, seperti pengajaran tentang literasi pengelolaan aset dan instrumen investasi untuk meningkatkan jumlah kekayaan. Untuk itu dunia pendidikan ikut menjadi faktor pendukung terjadinya kejahatan.**


STIMULASI OTAK DENGAN NAPAS RITME 5:5

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Penemuan ilmu napas ritme oleh Gunggung Riyadi bisa dikatakan penemuan spektakuler abad 21. Oleh Gunggu...