Tuesday, April 20, 2021

KECERDASAN ANTAR PERSONAL

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah / Wasekjen DPP AKSI)

Kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang kecerdasan antar personal. Dari sembilan kecerdasan yang dimiiki manusia, salah satu yang dimilikinya adalah kecerdasan antar personal. Jika ingin sukses semua kecerdasan yang ada pada manusia harus diaktifkan, salah satunya kecerdasan antar personal. Demikian juga bagi guru-guru yang ingin mengajarkan kepada anak-anak didiknya untuk hidup sukses, kecerdasan antar personal ini harus diajarkan.

Untuk memahami apa itu kecerdasan antar personal saya coba definisikan. Kecerdasan antar personal adalah kepandaian manusia dalam membangun hubungan baik dengan sesama manusia. Sebenarnya ilmu tentang membangun hubungan baik antar manusia diajarkan dalam pelajaran-pelajaran agama. Saya coba identifikasi apa saja kriteria agar manusia bisa membangun hubungan baik dengan sesamanya.

Pertama, konsep dasar kecerdasan antar personal didasari oleh keharusan manusia dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat. Konsep interaksi sosial sama dengan perintah Allah kepada manusia untuk menjaga hubungan kekeluargaan antar sesama manusia. Membangun hubungan (komunikasi) dengan rasa kekeluargaan adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap individu. Hal ini mengandung arti bahwa setiap manusia diberi kecerdasan antarpersonal. Keterangan bahwa manusia memiliki dan harus mengembangkan kecerdasan antar personal dijelaskan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa, 4:1).

Isi dari membangun komunikasi bukan sebatas bertegur sapa, tetapi layaknya dibangun dalam bentuk Kerjasama saling menguntungkan, saling membantu, atau saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Kegiatan saling tolong menolong dapat dibangun dalam bentuk kerjasama kerja, proyek, bisnis, penyaluran bantuan sumbangan, dan saling bertukar ilmu pengetahuan.

Kedua, di dalam membangun hubungan kekeluargaan hal yang harus ditampilkan sebagai personal adalah bersikap lemah lembut.  “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, (Ali Imran, 3:159). Manusia yang memiliki kecerdasan antar personal selalu bersikap tenang dan santun dalam berkomunikasi. Tidak pernah menyimpan dendam dan benci atas kesalahan-kesalahan yang diakukan orang lain. Manusia yang memiliki kecerdasan antar personal sangat mudah memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.


Ketiga, aspek yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kecerdasan antar personal adalah membangun komunikasi yang efektif dan efisien. Cara komunikasi yang tidak efektif akan berdampak pada situasi yang kontra produktif seperti perselisihan, prasangka buruk, dan konflik horizontal. Prof. Fahmi Basya mengatakan komunikasi harus dibangun dengan rangkaian perkataan yang harus mengandung unsur pendidikan. Kata-kata yang mengandung pendidikan adalah kata kata yang mengandung inspirasi, edukasi, optimisme dan semangat untuk berbuat baik. Kata-kata pendidikan Allah membahasakannya di dalam Al-Qur’an dengan kalimat “perkataan yang benar” (Qaulan Sadiida).

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisaa, 4:9).

Demikian konsep dasar yang dapat kita pahami agar kita mampu mengembangkan kecerdasan antar personal dan mengajarkannya kepada peserta didik. Kecerdasan ini wajib dimiliki oleh para pendidik dan akan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Sebaik-baiknya pendidikan karakter adalah ketika kita mengatakan dan melakukan perkatan-perkataan yang benar. Wallahu’alam.

Saturday, April 17, 2021

MERDEKA PENJURUSAN BUBAR

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah / Sekretaris DPP AKSI)

Syukur alhamdulillah saya ucapkan. Setelah mengikuti sosialisasi program sekolah penggerak dapat informasi bahwa untuk kurikulum program sekolah penggerak penjurusan IPS, IPA, Bahasa, akan dibubarkan. Anak-anak SMA kelak hanya diberi beban pelajaran wajib dan pilihan. Pada pelajaran pilihan anak boleh memilih tanpa melihat rumpun mata pelajaran tetapi berdasarkan minat dan bakat. Anak-anak bisa memilih mata pelajaran dari rumpun IPS, IPA, Bahasa atau semua rumpun diambilnya tanpa embel-embel lagi jurusan. Gagasan konsep kurikulum ini merupakan dukungan agar anak-anak merdeka belajar.

Sudah sejak dulu, penjurusan di SMA sudah selayaknya dihapus karena ada fenomena kurang baik yang tidak pantas ada di dunia pendidikan. Fenomena pertama, pemilihan jurusan tidak lagi mencerminkan bakat dan minat anak-anak tetapi berangkat dari gengsi karena ada diskriminasi jurusan di SMA. Ada jurusan superior dan ada jurusan inferior. Bagi anak-anak yang bermental lemah, ketika masuk jurusan inferior akan semakin menyudutkan dirinya menjadi golongan lemah. Akibatnya terjadi anomali,  di lingkungan pendidikan terjadi pelecehan terhadap ilmu dan saling merendahkan.

Fenomena kedua, banyak anak-anak ketika di SMA memilih jurusan superior, tetapi ketika melanjutkan kuliah mereka justru kuliah yang jurusannya linier dengan jurusan yang dianggap inferior di SMA. Kondisi ini menyebabkan penjurusan di SMA tidak lagi efektif menyalurkan bakat dan minat anak tetapi hanya sebatas formalitas demi gangsi, kedudukan, dan kadang paksaan orang tua.   

Fenomena ketiga, sebagaimana dijelaskan oleh para pengambil kebijakan dalam perubahan kurikulum, penjurusan di SMA tidak memiliki ruh merdeka belajar. Sudah saatnya anak-anak tidak dipaksa belajar apa yang disajikan orang dewasa, tetapi mereka harus dibiarkan memilih tanpa batasan jurusan untuk mengambil mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya anak-anak.

Fenomena keempat, abad ke-21 paradigma berpikirnya berbeda dengan abad ke-20. Para filsuf sering membedakan antara abad ke-21 dengan abad ke-20 dengan label zaman Fisika Newton (abad ke-20) dan abad Fisika Kuantum (abad ke-21). Perbedaan ini terletak pada cara pandang terhadap sebuah benda. Abad Fisika Newton memandang benda sebagai partikel-partikel yang terpisah agar dapat dipahami hakikatnya. Abad Fisika Kuantum memandang benda sebagai bagian bagian yang tidak terpisahkan, saling berhubungan sebagai sebuah sistem. Atas dasar paradigma inilah penjurusan yang mengotak-kotakan ilmu tidak lagi sesuai dengan jiwa zaman.

Jiwa zaman abad ini tidak ada lagi pandangan-pandangan sempit dari satu sudut pandang, tapi memandang sesuatu harus dari berbagai sudut pandang lintas jurusan. Inilah alasan mengapa pemilihan mata pelajaran di SMA sekarang akan dibebaskan dari sekat-sekat penjurusan. Demikian juga di perguruan tinggi, mahasiswa diberi kebebasan tiga semester untuk mengambil kuliah lintas jurusan. Tujuannya adalah memperkaya wawasan para mahasiswa agar dapat melihat sesuatu dari beberapa sudut pandang hingga akan lahir gagasan-gagasan kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

Penulis bersyukur di bulan Ramadhan ini karena derita jurusan inferior telah diakhiri dengan dibubarkannya penjurusan di SMA. Selanjutnya penulis berharap akan muncul kembali penghargaan kepada semua ilmu. Ilmuwan-ilmuwan yang dilahirkan kelak akan berjiwa kolaboratif, kooperatif, kreatif, dan selalu mengedepankan perdamaian. Dengan pembebasan jurusan di SMA, saling jajah, saling leceh, saing cemooh, antar jurusan ilmu akan hilang. Karakter yang muncul adalah kerja kolaboratif dan Kerjasama. Inilah misi pendidikan yang akan mewujudkan pola-pola pikir manusia Pancasila yang sesuai dengan paradigma berpikir abad ke-21. Wallahu’alam. 

Friday, March 26, 2021

TIPS MENGAJARKAN KARAKTER

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekoah / Sekretaris DPP AKSI)

Kepribadian atau karakter adalah kompetensi yang harus diajarkan di sekolah. Untuk mengajarkannya pendidik harus memahami konsep dan implementasinya. Mengajarkan kepribadian tidak cukup dengan pengenalan konsep tetapi harus diimplementasikan dengan keteladanan. Namun demikian untuk implementasi pendidikan karakter atau kepribadian, pemahaman konsep tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam dunia pendidikan mengajarkan karakter harus memenuhi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.  Kognitif berkaitan dengan pemahaman konsep, afektif berkaitan dengan motivasi, dan psikomotor berkaitan dengan implementasi.

Pendidikan karakter berkaitan dengan kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan seorang individu untuk mengendalikan emosi ketika menyikapi segala kejadian yang ada di luar dirinya. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan individu untuk merespon segala bentuk kejadian dengan sikap yang baik. Dalam ajaran agama, kecerdasan interpersonal berkaitan dengan pengajaran akhlak.

Dalam bahasa sederhana kecerdasan interpersonal berkaitan dengan kemampuan olah pikir untuk membentuk pola pikir positif sebagai dasar untuk membentuk sikap atau respon positif sebagai reaksi terhadap berbagai kejadian. Untuk itu kecerdasan interpersonal sangat berkaitan erat dengan kemampuan bernalar. Kepribadian atau karakter yang baik sangat ditentukan oleh kebiasaan berpikir. Kebiasaan berpikir dikenal dengan mindset.

Untuk membentuk kebiasaan berpikir (mindset) yang baik, unsur pertama yang harus dipahami adalah menjadikan semua sebab kebaikan dan keburukan selalu bersumber dari dalam diri bukan dari luar. Patokan ini bisa kita turunkan dasar pola pikirnya dari Al-Qur’an.

“Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang shaleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.” (Al Mukminun, 40:40).

Ayat ini menjelaskan apa yang disebut dengan law of attraction. Hukum ini menjadi dasar berpikir untuk membentuk kepribadian atau karakter. Manusia-manusia berkepribadian baik selalu fokus pada kebaikan yang harus dilakukan oleh dirinya sendiri bukan fokus pada kebaikan yang harus dilakukan orang lain. Bagi orang berkepribadian baik, berbuat baik seperti membangun kesejahteraan hidup untuk dirinya sendiri. Sebaliknya bersikap buruk seperti membangun jurang kesengsaraan untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung bisa mengendaikan emosinya. Jika ini terbangun menjadi pola pikir atau mindset dan diimplementasikan maka prilaku seseorang akan terlihat berkarakter atau berakhlak baik.

Untuk itu mengajarkan kepribadian berkaitan dengan mengajarkan cara berpikir sesuai dengan panduan yang benar. Kebenaran itu milik Tuhan, maka panduan berpikir harus kita kembangkan dari kitab suci yaitu Al-Qur’an. Sebagaimana dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab pedoman, antara lain pedoman berpikir untuk membentuk kepribadian atau karakter (akhlak mulia).

Jadi pembentukan kepribadian sangat berkaitan erat dengan kebiasaan berpikir. Segala sesuatu yang kita pikirkan akan cenderung mengundang sesuatu sesuai dengan yang kita pikirkan. Orang-orang yang meyakini cara berpikir seperti ini sebagai pedoman berpikir dari Tuhan, sikap atau emosinya akan cenderung termotivasi untuk melakukan sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan. Ilmu berpikir positif sesungguhnya adalah pelajaran agama yang harus diajarkan sesering mungkin melalui berbagai kasus atau kejadian. Selanjutnya setiap orang harus diajak untuk membuktikan agar kebaikan-kebaikan yang dihasilkan dari perbuatan baiknya dapat dirasakan atau terbukti dalam hidup keseharian. Pembuktian ini dapat menjadi energi bagi seseorang untuk kembali melakukan kebaikan dan pada akhirnya akan menjadi prilaku permanen menjadi keyakinan dan berwujud dalam bentuk prilaku sehari-hari atau  karakter. Walahu’alam. 

Sunday, February 28, 2021

BRAIN EXERCISES DENGAN MENGHAFAL AL-QUR'AN

OLEH: TOTO SUHARYA

Mengahafal Al-Qur’an sangat penting untuk dilakukan. Bukan hanya orang Islam tetapi oleh orang-orang non Islam jika mau membuktikan kebaikan yang dihasilkan dari menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an. Bagi umat Islam menghafal Al-Qur’an adalah ibadah yang bernilai bagi kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Allah menjanjikan kepastian syurga bagi penghafal Al-Qur’an dan kedua orang tuanya.

Namun dari dimensi lain, menghafal Al-Qur’an memiliki efek ilmiah yang dapat diamati dan bermanfaat nyata bagi perkembangan kecerdasan anak-anak di sekolah. Abdul Ghofur President Direktur PPPA Daarul Qur’an mengatakan, “orang-orang yang menghafal Al-Qur’an rata-rata lebih menonjol kecerdasannya dibanding dengan yang tidak menghafal Al-Qur’an” (Republika, 29/01/21). Menghafal Al-Qur’an ada kaitan dengan kesehatan dan optimalisasi kinerja otak. Jadi menghafal Al-Qur’an adalah Brain Exercisess yang dapat mengoptimalisasi fungsi otak dari kepikunan. Hal ini dikuatkan oleh penelitian bahwa dalam otak manusia ada otak spiritual, bila diaktifkan akan mengaktifkan seluruh kecerdasan. Brain exercies adalah upaya mengaktifkan otak spiritual untuk mengaktifkan seluruh kecerdasan manusia.  

Perihal Brain Exercises, Allah mengabarkan di dalam Al-Qur’an tentang kaitan antara menghafal (berpikir), merupakan kegiatan yang dapat bermanfaat bagi terjaganya fungsi otak tetap prima sekalipun usia telah tua. Fungsi otak yang tetap prima akan berkaitan dengan panjangnya usia kita. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

“Dan barang siapa (wamannu’ammirhu) yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin, 36:68)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa ada kaitan antara panjang umur dengan Brain Exercises. di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan sebagai kegiatan berpikir. Ayat di atas juga mengabarkan bahwa Brain xercise berkaitan dengan kesehatan otak dan kesehatan tubuh sebagai dampaknya manusia bisa hidup panjang umur. Sebagai faktanya terjadi para profesor yang pada usia tua masih tetap mengajar dan panjang umur, karena brain exercise yang masih terus dilakukan oleh profesor sekalipun dalam usia lanjut.

Berdasarkan teori koginitif, Brain Exercises dalam bentuk menghafal Al-Qur’an adalah kegiatan berpikir pada level dasar (recalling) merupakan latihan untuk tetap menjaga kekuatan daya ingat otak. Perihal ini Allah kabarkan di dalam Al-Qur’an.

“Kami akan membacakan kepadamu (sanuqriuka) maka kamu tidak akan lupa (falaatansaa)” (Al A’laa, 87:6).  

Membaca adalah Braind Exercise yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad saw dan kepada seluruh umat manusia agar bisa menjadi kualitas otaknya tetap prima dan berdampak pada kehidupan panjang umur dan sejahtera. Membaca sebagai dalam bentuk menghafal (recalling) dan memikirkan yang isi kegiatannya menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, sisntesis atau mencipta, adalah  Brain Exercises agar otak tidak mudah lupa atau pikun.

Kesimpulannya kegiatan membaca dengan tujuan menghafal, menrapkan, menganilsis, mengevaluasi, mensintesis atau mencipta adalah Brain Exercises yang diajarkan oleh Allah kepada manusia, agar hidup manusia bisa lebih sejahtera dijalan Allah. Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Qur’an, karena seluruh isi ayat Al-Qur’an adalah perkataan Allah Tuhan pencipta alam.

Membaca didasari dengan menghafal Al-Qur’an adalah aktivitas yang harus mendasari setiap lembaga pendidikan. Menghafal aktivitasnya tidak harus selalu dengan target 30 juz. Kemampuan anak-anak berbeda-beda, oleh karena itu menghafal Al-Qur’an di lembaga pendidikan umum targetnya pembiasaan agar kelak menjadi aktivitas rutin siswa. Targetnya dimulai dari hal kecil dari surat-surat pendek yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, surat-surat pendek dalam juz 30, surat Al-Waqi’ah, Yasin, Ar Rahman, dan berlanjut secara berkesinambungan. Di sekolah umum, hal terpenting bukan target jumlah hafalannya tetapi rutinitas, pembiasaan, pemaknaan dan bekesinambungannya, itulah yang dikedepankan.

Oleh karena itu, jumlah hafalannya tidak perlu diperhitungkan, karena Allah akan menghargai manusia berdasarkan usahanya sesuai kemampuan yang tidak berkesudahan dalam berbuat kebaikan. Dengan demikian pendidikan akan mengajarkan kepada anak-anak menjadi orang yang selalu punya kebiasaan baik sepanjang hayatnya. Nabi Muhammad saw, menyampaikan “sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (Hr. Bukhari).

Pada hakikatnya semua yang dipelajari di dunia pendidikan manapun adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan sebaik-baiknya bahan untuk Brain Exercises menhafal Al-Qur’an. Tidak penting berapa ayat atau juz Al-Qur’an anda hafal, yang penting kita tidak boleh berhenti menghafal agar memori otak tetap tajam dan sehat. Allah menghendaki kemudahan dan tidak hendak menyulitkan. Wallahu’alam.

Saturday, February 20, 2021

TUKANG BANGUNAN PEMBELAJAR SEJATI

OLEH: TOTO SUHARYA

Memperhatikan pekerja bangunan, sejak kecil saya telah mengenal mereka. Hidup dari kalangan ekonomi lemah dan lingkungan pendidikan rendah. Dia juga tidak melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang menengah, pendidikannya terputus mungkin karena ekonomi atau karena pendidikan orang tua yang tidak sadar bahwa pendidikan dapat mengubah nasib anaknya.

Kini setelah berkeluarga, punya anak, kontrak rumah, saya perhatikan anak yang dulu saya anggap tidak akan punya nasib baik, kini dengan tangkas dia mampu memasang keramik lantai dengan rapi. Mesin pemotong keramik dia gunakan dengan ahli, potongan-potongan terlihat rapi dan lubang-lubang kecil yang harus dibuat dipermukaan keramik dia buat dengan bulatan sempurna. Saya tidak habis pikir dari mana kemampuan teknis seperti itu dia miliki. Dia tidak sekolah dan tidak ada sekolah khusus untuk berlatih memotong keramik, pasang bata, meratakan tembokan dan mengukur lekukan dengan akurat.

Tukang bangunan bercerita bahwa dia menjalani menjadi tukang bangunan berjalan 6 tahun, sebelumnya selama lima tahun menjadi asisten tukang bangunan. Jika demikian, selam lima tahun asisten bangunan itu belajar untuk menjadi tukang bangunan. Bagaimana metode belajar asisten bangunan sampai menjadi tukang? Pembelajaran diawali dengan berani, mencoba dan terus praktek. Keberanian mencoba meniru apa yang dipraktekkan tukang, dilakukan saat waktu luang, atau jika ada sisa-sisa bahan bangunan yang belum terpasang. Waktu-waktu luang ini digunakan untuk praktek menjadi tukang bangunan, diawali dengan KERANIAN.

Tukang bangunan tidak memiliki sertifikat atau ijazah. Mereka menjadi tukang bangunan karena pengakuan dari teman sesama tukang, dan kepuasan pengguna jasa tukang bangunan. Hasil belajar dengan modal keberanian, memanfaatkan bahan sisa, waktu luang, adalah metode yang digunakan turun-temurun oleh tukang bangunan hingga keahlian ini tetap ada sekalipun tidak ada lembaga formal yang mengkondisikannya sebagai program belajar.

Anomali terjadi ketika anak-anak lulusan sekolah bekerja tanpa ketermpilan, sementara pekerja bangunan tanpa pengakuan lulusan pendidikan bekerja benar-benar mengandalkan skill yang dia miliki. Apa yang salah dengan pendidikan formal? Kemungkinan besar tidak melatih keberanian, kurang banyak mencoba, cenderung banyak bicara, dan materi pelajaran sangat tergantung pada buku teks yang secara substansial tidak membangun “keretampilan” sebagai modal ketika siswa lulus dan harus bekerja.

Jika dibandingkan dengan kebermanfaatan untuk hidup, belajar dengan cara yang dilakukan seperti tukang bangunan, pendidikan lebih efektif dan mensejahterakan. Sebaliknya hasil pendidikan formal kadang mengkerdilkan manusia dengan meremehkan kemampuan seseorang hanya karena sekedar tidak memiliki selembar kertas bergelar. Bahkan tidak sedikit terjadi karena selembar kertas bergelar, manusia menjadi terhormat dihadapan manusia dan rendah dihadapan Tuhan. Manusia terhormat dihadapan manusia tidak mau terhina dihadapan manusia, dan rela menjadi tuna kerja demi kehormatan ijazahnya. Pendidikan formal kadang melahirkan manusia-manusia lemah yang tidak mau berjuang dari bawah. Generasi formal telah bergeser menjadi penyembah kertas, tinggi rendahnya kualitas pekerjaan diukur dari penampilan. Dia rela berpenampilan kelas atas sekalipun penghasilannya kelas bawah. Generasi formal tidak percaya bahwa kualitas terbaik diawali dengan menghidupi diri sendiri dan menghidupi orang lain.

Berbading terbalik dengan tukang bangunan selama belajar sambil bekerja kualitas dirinya terus teruji, sebaliknya generasi formal semakin lama belajar kualitas dirinya semakin menurun. Generasi formal pendidikannya berakhir setelah wisuda, tukang bangunan tidak akan pernah ada wisuda karena selama hidupnya dia terus belajar.

Belajar dari fakta yang terjadi pada tukang bangunan, pendidikan formal harus berani berubah. Pendidikan formal bukan lagi mengajarkan tentang pengetahuan yang harus diketahuinya, tetapi kemampuan yang harus dikuasainya. Pembelajaran harus mengarah pada keterampilan apa yang harus dikuasai sesuai dengan kondisi dan kenyataan hidup yang ada di lapangan. Keterampilan-keterampilan hidup dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dimana siswa tinggal dan masalah mendesak apa yang harus diselesaikannya. Mereka membutuhkan banyak keterampilan mulai dari bernalar mengolah pikiran, mengendalikan emosi, menjalin hubungan baik dengan Tuhan dan memanfaatkan alat-alat hidup atau teknologi untuk membantu menyelesaikan masalah hidupnya.

Sejatinya kualitas pendidikan formal mutlak diukur dari apa yang diajarkan. Apa yang diajarkan di pendidikan formal sangat tergantung pada apa yang diskenariokan di atas kertas yang kadang sudah tertinggal. Menu pelajaran pekerja bangunan adalah kepuasan pelanggan, perubahan zaman dan penggunaan teknologi yang selalu mengalami perubahan. Bisa jadi metode belajar tukang bangunan melahirkan manusia-manusia berani, mandiri, dan bermanfaat untuk menghidupi orang lain, minimal lingkungan keluarga yang dibangunnya. Wallahu’alam.

MENDIDIK ORANG INDONESIA

OLEH: TOTO SUHARYA

(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI, KACI)

Orang Indonesia hidup di negara dengan kualitas lingkungan surga. Gunung-gunung setiap tahun hijau, air mengalir sepanjang tahun, dan laut yang luas nan biru dimiliki orang Indonesia. Tongkat bisa jadi tanaman, dan batu bisa jadi berlian. Lingkungan hidup Indonesia sangat nyaman, sekalipun hidup orang Indonesia terancam oleh seribu satu macam bencana. Kenyamanan lingkungan Indonesia telah mengalahkan rasa takutnya terhadap berbagai macam bencana.

Dengan kondisi lingkungan sangat rentan dengan ancamanan bencana, orang Indonesia tidak suka dengan ancaman. Sebaliknya orang Indonesia sangat suka dengan kenyamanan. Apapun akan dilakukannya agar bisa hidup nyaman. Untuk itu karakter orang Indonesia sangat suka dengan suasana harmonis dan damai.

Berlatar belakang lingkungan nyaman, mendidik orang Indonesia harus penuh dengan kasih sayang dan kearifan. Orang Indonesia akan berusaha melawan sekuat tenaga kepada siapa saja yang membuatnya tidak nyaman sekalipun hanya dengan hatinya. Sebaliknya orang Indonesia akan membangun kerja sama erat dengan orang-orang yang bisa membangun kesejahteraan dan kenyamanan hidupnya. Selama kurang lebih 350 tahun menghadapi penjajahan bangsa asing, orang Indonesia tidak pernah berhenti melawannya.

Atas dasar itu, pendidikan yang menerapkan berupa sanksi, ancaman, cemoohan, dan diskriminasi, sangat tidak disenangi. Pendidikan dengan hukuman yang membuat orang Indonesia malu, putus asa, sangat tidak disenangi. Oleh karena itu, pendidikan yang menerapkan syarat-syarat kelulusan sangat ketat akan cenderung dihindari dengan berbagai macam cara.  Orang Indonesia bukan tidak mau gagal, tetapi mereka harus merasakan kegagalan sebagai sebuah keberuntungan. Bagi orang Indonesia, Boleh gagal tapi harus ada alternatif lain agar kegagalannya langsung tergantikan dengan keberuntungan. Orang Indonesia harus tetap merasakan posisi beruntung sekalipun dia gagal. Untuk itu menghadapi orang Indonesia harus punya banyak alternatif dan solusi agar kegagalan tetap menjadi harapan hidup sukses tetap ada.

Maka caara mengajar orang Indonesia harus seperti apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya, (Huud, 11:2). Jadi tugas para pendidik hanya memberi peringatan dan kabar gembira yang menyenangkan serta memotivasi.  Para pendidik sekalipun mengajar siswa dengan berbagai latar belakang kecerdasan dan kemampuan, semua siswa harus mendapatkan peringatan dan kabar gembira dari berbagai macam kecerdasan dan kemampuan yang mereka miliki. Kecerdasan para pendidik di Indonesia adalah harus punya keterampilan memberikan peringatan dan kabar gembira bagi siapapun yang mendengarnya.

Mengajar orang Indonesia harus penuh dengan pujian, sanjungan, dan kabar-kebar gembira atas apa yang telah mereka lakukan. Orang Indonesia sangat tidak suka dengan harapan-harapan kosong, atau pujian-pujian palsu. Orang Indonesia sangat religius, karena dasar negaranya mengatasnamakan sebagai warga negara yang berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual-ritual keagamaan sangat digemari, karena dalam ritual yang menyenangkan membuat orang Indonesia harapannya tetap ada.

Untuk itu mengajar orang Indonesia harus selalu menyisipkan keyakinan kepada Tuhan yang diyakini oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai penentu mutlak kehidupan bangsa Indonesia. Mengembangkan pendidikan untuk orang Indonesia harus senantiasa menyentuh otak-otak spiritualnya selalu aktif. Ritual agama harus selalu disandingkan dengan kegiatan pembelajaran, sebagai pembangkit otak spiritual, pembangun motivasi  dan harapan hidup sejahtera tanpa batas.

Orang Indonesia ketika dijanjikan harapan-harapan baik dari Tuhan, mereka tidak akan merasa dibohongi, mereka yakin Tuhan adalah tempat segala makhluk bergantung dan diyakini tidak mungkin ingkar janji. Keyakinan ini harus dimanfaatkan dalam segala situasi pembelajaran sebagai penggerak untuk melakukan perubahan secara permanen.

Orang Indonesia sudah terlahir kreatif karena terlahir dalam lingkungan dan situasi yang penuh dengan perbedaan. Maka yang dibutuhkan orang Indonesia adalah motivator yang membangkitkan kepercayaan diri mereka agar mereka merasa memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Dorongan harus didatangkan dari apa yang mereka yakini sebagai penggerak dan penentu perubahan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan harus selalu ada dalam otak orang Indonesia, karena dengan keyakinan pada Tuhan YME, orang Indonesia dapat bergerak tanpa batas melebihi manusia-manusia lain yang ada di muka bumi ini.

Mengajar orang Indonesia adalah menanamkan keyakinan kepada Tuhan bahwa dirinya benar-benar bisa hidup lebih sejahtera setelah mendapat pendidikan. Model pendidikan yang melibatkan aspek spiritual harus dikemas menjadi sebuah pembelajaran yang menyenangkan, penuh kabar gembira, kreatif, inspiratif, dan penuh optimisme. Orang Indonesia harus diajarkan bagaimana Tuhan menjadi motivator abadi dalam menjalani segala proses kehidupannya. Dengan demikian akan lahir manusia-manusia Indonesia yang tangguh, pantang menyerah, tekun, dan kreatif selalu ada ide untuk tetap bangkit ketika mengalami kegagalan. Pendidikan untuk orang Indonesia harus bisa mendekatkan mereka dengan Tuhan hingga punya keyakinan kuat bahwa Tuhan penentu dan penjamin hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Wallahu’alam. 

Friday, February 19, 2021

LITERASI INVESTASI ASET DIGITAL

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah, Wasekjen DPP AKSI)

Salah satu literasi yang diharuskan dipahami oleh para peserta didik saat ini adalah literasi finansial. Literasi finasial sangat penting untuk dipahami berkaitan dengan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa “perbedaan orang Indonesia dengan orang Amerika terletak pada kerja keras. Orang Indonesia bekerja lebih keras dari orang Amerika, namun asetnya malas. Sebaliknya orang Amerika mereka pekerja keras biasa tapi asetnya ikut bekerja keras”.  Pernyataan Ibu Menteri saya modifikasi sedikit biar bisa lebih jelas perbedaan prilaku antara orang Indonesia dengan orang Amerika.

Saya coba jelaskan apa yang dimaksud dengan pernyataan Ibu Menteri Sri Mulyani. Pertama, pernyataan itu menggambarkan bahwa rata-rata orang Indonesia kurang pandai mengelola keuangan. Gaji yang didapat dari hasil bekerja sebulan hampir habis untuk kegiatan konsumsi, sementara untuk kegiatan investasi atau menabung hampir tidak ada. Puluhan tahun bekerja, banyak kasus di orang Indonesia, setelah pensiun kualitas hidupnya turun drastis karena tidak punya dana tabungan atau investasi.

Kedua, aset orang Indonesia tidak bekerja keras karena orang Indonesia terkenal konsumtif. Para pegawai negeri atau swasta, rata-rata kredit dari bank untuk membeli kendaraan, bangun rumah tinggal, atau beli barang-barang mewah. Konsumerisme terjadi karena gaya hidup orang Indonesia cenderung mengutamakan penampilan bukan penghasilan. Secara tidak langsung kata Lo Kheng Hong, “orang Indonesia lebih mementingkan terlihat kaya dari pada menjadi kaya”.

Ketiga, orang Indonesia dari tujuan hidupnya lebih suka bekerja dari pada menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini dapat dibuktikan di sekolah ketika ditanya tujuan selanjutnya setelah lulus SMA/SMK masih sangat minim yang punya cita-cita menjadi pengusaha. Tujuan anak-anak yang paling banyak setelah lulus SMA/SMK adalah bekerja dan menjadi Tentara atau Polisi.  Orientasinya menjadi pekerja bukan pengusaha. Secara statistik dari jumlah populasi penduduk Indonesia kurang lebh 170 juta baru 3% yang bergerak di bidang wirausaha.

Keempat, dari sudut pandang karakter, orang Indonesia sangat takut gagal. Atas dasar itu, orang Indonesia kurang berani berspekulasi dalam hal bisnis atau investasi. Untuk itu, karakternya lebih senang pada pekerjaan-pekerjaan beresiko rendah untuk menghindari kegagalan. Maka pilihannya adalah cenderung menjadi pekerja. Itulah beberapa gambaran mengapa aset orang Indonesia tidak bekerja keras dan hidupnya cenderung biasa-biasa saja.

Untuk mendorong orang Indonesia mau menabung atau berinvestasi perlu pelajaran literasi finansial dan pengenalan ekonomi digital yang sedang berkembang di abad ini. Sekolah-sekolah harus mengajarkannya sejak dini, terutama di tingkat sekolah menengah. Investasi atau nabung saham dan aset digital perlu diperkenalkan. Investasi saham atau aset digital sangat cocok dengan struktur sosial masyarakat Indonesia yang kebanyakannya menjadi pekerja.

Investasi atau nabung saham dan aset digital bisa menjadi solusi bagi para pekerja agar bisa mengelola asetnya ikut bekerja. Rendahnya literasi finasial membuat orang Indonesia yang banyak tertipu dengan investasi bodong dan penipuan. Investasi bodong dan penipuan ikut menunjang terhadap kondisi masyarakat Indonesia tidak tertarik untuk berinvestasi. Literasi finansial rendah menjadi sebab orang Indonesia menggeneralisir semua bentuk investasi rawan penipuan, termasuk dalam investasi saham dan aset digital. Sementara masyarakat maju seperti Amerika dan sekarang China yang ekonominya sedang menggurita, di atas 13% dari populasi penduduknya sudah memilih investasi saham dan aset digital sebagai sararana agar asetnya ikut bekerja keras. Rendahnya litarasi finansial, prasangka buruk terhadap berbagai bentuk investasi, penipuan, dan pandangan-pandangan agama yang tidak literat ikut mendorong orang Indonesia tetap menjadi pekerja keras dan asetnya malas.

Perlu gerakan dan revolusi mental di sekolah agar orang Indonesia terbuka wawasannya terhadap bursa saham dan berkembangnya sistem ekonomi dan uang digital. Investasi, nabung saham atau uang digital sangat cocok dengan budaya menjadi pekerja yang dimiliki orang Indonesia. Nabung saham atau uang digital tidak menghalangi orang Indonesia untuk  tetap menjadi pekerja keras. Nabung saham dan uang digital bisa menjadi solusi bagi orang Indonesia yang terkenal pekerja keras seiring dengan waktu hidupnya bisa lebih sejahtera di masa tuanya. Untuk memahami bagaimana nabung saham dan uang digital bukan hal sulit saat ini, kuncinya hanya di literasi karena sumber pengetahuannya sudah melimpah ruah. Wallahu’alam.

KECERDASAN ANTAR PERSONAL

OLEH: TOTO SUHARYA (Kepala Sekolah / Wasekjen DPP AKSI) Kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang kecerdasan antar personal. Dari sem...