Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Dominasi geopolitik Amerika Serikat dan Israel yang sering kali memaksakan kehendak telah memicu kejenuhan luar biasa di panggung dunia. Kekuatan besar ini merasa memiliki kendali mutlak atas alur ekonomi, cadangan minyak, hingga infrastruktur teknologi informasi global. Noam Chomsky, intelektual terkemuka asal AS, berpendapat bahwa imperialisme modern ini bekerja dengan cara menekan kedaulatan negara lain demi kepentingan segelintir elit.
Dipahami oleh masyarakat dunia sekarang, Amerika Serikat sangat bernafsu menjadi pengendali dunia, dan penduduk dunia tidak memiliki nafsu untuk dikendalikan negara lain. Iran menjadi bukti kepada dunia bahwa setiap negara ingin tetap berdaulat.
Kini, manusia mulai bangun dan menyadari bahwa ketergantungan pada satu poros kekuasaan adalah jebakan yang melumpuhkan kreativitas bangsa. Kesadaran kolektif ini muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan sistemik yang selama ini dianggap sebagai kewajaran ekonomi global. Joseph Stiglitz, ekonom pemenang Nobel, menekankan bahwa sistem ekonomi yang tidak adil pada akhirnya akan memicu perlawanan dari negara-negara yang selama ini dipinggirkan.
Dunia sebenarnya masih sangat luas dengan kekayaan sumber daya yang belum terpetakan sepenuhnya secara mandiri. Setiap negara memiliki potensi unik untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus tunduk pada intimidasi teknologi atau blokade ekonomi tertentu. Ilmuwan lingkungan Vandana Shiva sering menyuarakan bahwa kemandirian sejati dimulai dari kedaulatan pangan dan benih yang terbebas dari monopoli korporasi global.
Iran menjadi bukti keajaiban dunia bahwa dengan blokade ekonomi berpuluh-puluh tahun, Iran tidak miskin, tetapi sebaliknya Iran menjadi negara sejahtera dan punya kreativitas, menciptakan senjata-senjata dengan teknologi sederhana tapi tepat guna.
Transformasi digital kini memungkinkan distribusi pengetahuan terjadi secara horizontal, menghancurkan tembok monopoli informasi yang selama ini dijaga ketat. Masyarakat dunia mulai mengadopsi teknologi alternatif dan sistem keuangan desentralisasi untuk memutus rantai ketergantungan pada institusi konvensional. Manuel Castells, pakar sosiologi komunikasi, menyebut fenomena ini sebagai kekuatan jaringan yang mampu menggulingkan struktur kekuasaan lama yang kaku.
Iran menjadi satu-satunya negara yang mempu bertahan ditekanan global, dan bangkit menjadi bangsa kuat dan sulit digoyahkan. Pemerintah dan masyarakatnya beridiri kokoh mempertahankan kedaulatan negara.
Pada akhirnya, kesadaran manusia adalah kunci untuk menciptakan tatanan dunia baru yang lebih seimbang dan manusiawi. Hidup mandiri bukan berarti mengisolasi diri, melainkan membangun kerja sama yang setara berdasarkan rasa hormat antarnegara. Sebagaimana dikatakan oleh Albert Einstein, perubahan nyata tidak akan terjadi dengan cara berpikir yang sama dengan saat masalah itu diciptakan.