Saturday, August 13, 2022

INTI PERUBAHAN PADA KURIKULUM MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Perubahan kurikulum memang sudah layak dilakukan. Konsep Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan sekarang sebagai tanda bahwa kurikulum harus berubah. Isi dari Kurikulum Merdeka, menurut hemat penulis terletak pada konten dan metode pembelajaran untuk para siswa di kelas. 

Dari pengamatan penulis, esensi perubahan pada kurikulum merdeka sekarang ada mengubah cara pandang guru terhadap siswa. Paradigma lama, guru terlalu memandang berlebihan pada kecerdasan akademik sebagai akhir dari proses pendidikan. Sehingga hasil akhir dari evaluasi pendidikan adalah capaian nilai akademik. Nilai angka di raport, hasil ujian nasional, terlalu parsial memandang kecerdasan siswa hanya diukur dari hasil tes potensi akademik.

Pada paradigma lama sistem penerimaan siswa baru diklasifikasi berdasarkan nilai akademik. Sehingga terjadi homogenisasi sekolah berdasarkan nilai akademik rendah dan nilai akademik tinggi. Sekolah-sekolah favorit muncul berdasarkan keunggulan potensi akademik tinggi, dengan latar belakang yang sudah tersaring hanya potensi akademik tinggi. Siswa-siswa dengan potensi akademik tinggi, cenderung berlatar belakang ekonomi tinggi, dan latar belakang orang tua dengan berpendidikan.

Oleh karena itu terjadi klasifikasi sekolah berdasarkan kecerdasan akademik dan kelas ekonomi. Kondisi ini telah melahirkan perbedaan kualitas pendidikan di setiap daerah. Pelabelan sekolah favorit jumlahnya hanya sedikit dan sisanya dianggap sekolah-sekolah yang tidak berkualitas.

Dalam paradigma baru yang harus jadi kolektif memori pada guru sekarang adalah semua siswa dilahirkan cerdas. Kecerdasan siswa tidak sebatas kecerdasan akademik, tetapi berbagai kecerdasan yang sudah melekat dimiliki setiap siswa. Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara (1961) seluruh siswa sudah memiliki berbagai macam kecerdasan, mereka seperti kertas yang sudah ada tulisannya namun masih samar. Tugas para guru adalah menebalkan tulisan-tulisan yang ada pada siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Pada sistem penerimaan siswa pun, diberlakukan sistem zonasi yang tidak lagi memebda-bedakan siswa berdasarkan latar belakang kecerdasan, karena pada dasarnya semua siswa cerdas. Sekolah harus menerima berbagai latar belakang kecerdasan siswa, termasuk yang berkebutuhan khusus. Keberhasilan sekolah tidak lagi ditentukan oleh latar belakang kecerdasan siswa tetapi berdasar pada kecerdasan para guru dalam melatih dan mengembangkan bakat para siswa.

Pada pembelajaran dalam paradigma lama, guru-guru cenderung fokus pada konten materi yang terdapat dalam buku paket. Guru tidak memikirkan materi itu bermanfaat atau tidak bagi kehidupan siswa, targetnya adalah menyampaikan semua materi ajar yang ada dalam buku paket. Siswa dilatih kemampuan berpikir melalui materi ajar, tetapi kebermanfaatannya di dalam kehidupan sehari-hari materi tersebut tidak begitu berguna.

Pada  pembelajaran paradigma baru, guru-guru tidak lagi dipasung oleh materi ajar dari buku paket. Berdasarkan pada kompetensi dasar atau capaian belajar yang ada dalam kurikulum guru bisa memanfaatkan berbagai macam sumber materi ajar, untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi ajar harus dianalisis sesuai dengan kebutuhan siswa dimana dia tinggal dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam filosofi Ki Hadjar Dewantara, materi harus esensian dan berguna bagi siswa dengan memperhatikan kodrat alam dan zaman. 

Pendekatan dalam pembelajaran harus lebih banyak memperkenalkan siswa dengan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka (kontekstual). Materi ajar adalah bahan yang membantu memperjelas masalah, dan solusi bagi siswa untuk menyelesaikannya. Dalam paradigma baru, siswa mengerjakan soal matematika dengan rumus-rumus yang diperkenalkan pada siswa tidak lagi berlaku. Pengerjaan soal-soal matermati, harus dikemas dalam menyelesaikan sebuah permasalahan hidup yang dialami sehari-hari dan dibutuhkan oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Teori-teori ekonomi harus dikemas menjadi cara bernaral siswa dalam menyelesaikan masalah nyata dalam kehdiupan mereka. Cara berpikir ilmiah harus menjadi cara berpikir mereka untuk mengidentifikasi dan menemukan pemecahan masalahnya. Evaluasi pembelajaran tidak lagi monoton pada tes kognitif, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji berbagai macam kompetensi yang dimiliki oleh siswa. 

Pedagogik kreatif harus menjadi acuan guru dalam mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran (Supriatna, 2020). Pedagogik kreatif menjadi kreativitas guru dalam mendiagnosis berbagai kecerdasan siswa, kemudian mengembangkan metode yang tepat dalam pembelajaran, dan mengukur dengan alat evaluasi yang mengukur kemampuan siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Jadi, Kurikulum Merdeka membawa angin segar bagi bangsa Indonesia untuk melakukan transformasi mental agar terlahir manusia-manusia kreatif dan berdaya saing. Sesungguhnya tidak ada bangsa bodoh, kecuali mereka tidak diberi pendidikan sesuai dengan kodrat manusia. Dasgufta (2019) mengatakan kreatifitas adalah inti dari kisah sejarah hidup manusia sejak zaman para sejarah hingga sekarang. Manusia-manusia kreatif mampu beradaftasi dan memiliki kemampuan survival di segala zaman.*** 


Sumber:

Dasgupta, S. (2019) A Cognitive Historical Approach to Creativity.  Routledge.

Dewatara K.H. (1961) Bagian Pertama: Pendidikan. Percetakan Taman Siswa. 

Supriatna, N. & Maulidah, N. (2020) Pedagogi Kreatif Menumbuhkan Kreativitas dalam Pembelajaran Sejarah dan IPS. Rosdakarya. 

Sunday, August 7, 2022

KURIKULUM DARI ALLAH

OLEH: TOTO SUHARYA

Jika kita perhatikan, Al Quran dan hadis adalah kitab rujukan pendidikan. Semua ajaran yang terkandung dalam Al Quran dan hadis berkaitan dengan pembentukkan akhlak mulia. Allah mengajarkan kepada umat manusia untuk meniru akhlak Allah. Sebagaimana hadis Rasulullah menjelaskan, "berakhlaklah dengan akhlak Allah".

Kurikulum pendidikan adalah seperangkat aturan yang disusun secara senagaja untuk membimbing manusia membenntuk akhlak mulia. Para pemikir pendidikan semuanya berusaha untuk mewujudkan manusia-manusia berakrakter unggul. Semua niat baik para pemikir pendidikan dinaungi oleh ayat-ayat Allah di dalam Al Quran. 

Keterbatasan pemikiran manusialah hingga terjadi perbedaan persepsi dalam menyikapinya. Namun kita harus berprasangka baik pada semua pemikir di bidang pendidikan. Tetapi setiap manusia diberi hak untuk mengeluarkan pendapat dan pemikirannya dalam menciptakan masyarakat damai sejahtera melalui jalan pendidikan. 

Kurikulum dari Allah, membendung mindset ketergantungan pada Allah.
Allah menjadi penyebab kehidupan damai dan sejahtera umat manusia.

Untuk itu, izinkan penulis mengemukakan pendapat dalam hal mewujudkan pendidikan berkualitas untuk menciptakan generasi terbaik sebagaimana diperintahkan oleh Allah. 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisaa, 3:9).

Atas dasar itulah, penulis menjadikan Al Quran sebagai sumber pemikiran dalam mengembangkan kurikulum pendidikan. Ada dua keuntungan yang didapat jika kita mengembangkan kurikulum berlandaskan pada Al Quran. Kurikulum yang dilandaskan pada Al Quran mengandung keyakinan bahwa Allah ridha pada program-program pendidikan yang kita kembangkan.

Program tersebut antara lain, dengan mengembangkan karakter berbasis pada ajaran agama sesuai keyakinan masing-masing. Program dhuha 12 rakaat tiap hari, memantau shalat lima waktu siswa setiap hari, dan memberi ruang berdoa harian, menjalankan ibadah sesuai keyakinan pada umat agama lain, menjadi program pendidikan bernuansa toleransi. 

Selanjutnya membiasakan karakter sosial tinggi melalui sedekah harian untuk semua siswa lintas agama menjadi keyakinan bersama bahwa dengan melatih siswa berjiwa sosial tinggi akan melahirkan pemimpin-pemimpin menyejahterakan umat di masa mendatang.

Bagi muslim, shalat adalah senjata atau alat untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup di muka bumi. Shalat adalah upaya membangun sikap optimis pada hati dan pikiran siswa. Shalat adalah bentuk ketidakberdayaan manusia dengan mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang dapat memberi pertolongan. Shalat adalah cara manusia untuk tetap bergantung kepada Allah dari segala kegelisahan dan kegalauan dalam hidup. 

Keuntungan dari program kurikulum dari Allah adalah siswa yang kita latih berada di atas jaminan Allah. Siswa berada dalam jaminan hidup damai sejahtera di dunia dan akhirat. Pendidikpun dilatih untuk selalu berserah diri dalam menjalankan tugasnya. Tugas mendidik hanya sebatas membimbing, menyampaikan, mengingatkan, apa-apa yang telah disampaikan Allah dan Rasulullah. 

Pesan dari Allah melalui Rasulullah adalah  "dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus" (Yasin, 36:61). Pondasi pendidikan yang akan membawa kedamaian dan kesejehteraan siswa di dunia dan akhirat adalah membiasakan siswa bergantung pada Allah.

Prakteknya adalah membangun mindset siswa agar segala cita-cita dan tujuan hidupnya selalu memohon jaminan Allah dalam mewujudkannya dengan shalat. Kesadaran siswa dalam mengingat Allah akan membawa mereka pada jalan lurus, manusia-amanusia tangguh, kreatif, berani menghadapi risiko, mampu bertahan dalam kondisi sulit, dan mandiri. 

Kemandirian para siswa sangat tergantung pada kedekatan mereka dengan Tuhannya. Ketenangan jiwa dan optimisme siswa sangat tergantung pada kedekatan mereka dengan Tuhannya. Bagi orang-orang yang selalu tergantung pada Allah, mereka akan tampil menjadi menusi-manusia kreatif, pantang mengeluh, pantang menyalahkan orang lain, dan rela berkorban untuk kedamaian dan kesejahteraan umat manusia di muka bumi. 

Inilah keyakinan penulis, jika kurikulum dari Allah diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Selanjutnya kita berserah diri dan memohon kepada Allah akan lahir generasi-generasi unggul yang bisa membawa kedamaian dan kesejahteraan bangsa dan masyarakat dunia. Disiplin shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat adalah program kukrikulum dari Allah. Sebagaimana Allah perintahkan;

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).*** 


Friday, July 29, 2022

MENGAJARI SISWA SUKSES DENGAN MENYUCIKAN DIRI

Oleh: Toto Suharya

Harta dan ilmu yang melimpah adalah rezeki dari Allah. Rezeki dalam makna luas adalah seluruh kenikmatan dan fasilitas hidup yang kita terima dari Allah. Kenikmatan yang kita terima tiap hari adalah bikmat hidup, tidur, bangun, merasakan makanan lezat, sehat, bernafas, melihat, mendengar, berbicara, dll. 

Fasilitas hidup yang kita nikmati setiap hari adalah sinar matahari, air, udara, tanah yang kita injak, angin, oskigen, virus, bakteri, dll. Seluruh sistem kehidupan yang membuat bisa kita bisa menjalani hidup adalah fasilitas yang yang kita nikmati pemberian Allah sebagai rezeki. 

Rezeki itu datang ketika jiwa kita bersih. Inilah kunci sukses bagi siswa-siswi kita. Program-program pendidikan di sekolah harus mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri. Untuk mengerti bagaimana cara menyucikan diri, pendidikan harus bersumber pada konsep-konsep yang dikembangkan dari Al Quran. 

Konsep suci banyak dijelaskan di dalam Al Quran. Selama ini konsep suci yang ditawarkan terlalu abstrak dan jarang dijelaskan secara rinci sampai diketahui ciri-cirinya. Konsep suci dijelaskan dalam Al Quran sebagai berikut:

Ambillah zakat (sedekah) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (At Taubah, 9:103).

Orang-orang suci adalah mereka yang mengeluarkan zakat dan infak dari hartanya. Jika karakter seseorang sudah memiliki kebiasaan zakat atau infak setiap hari, maka tanda-tanda kesucian jiwa sudah dimiliki. Orang-orang yang jiwanya suci akan selalu diliputi oleh rezeki dalam berbagai bentuk.

Jadi menyucikan jiwa bukan hanya kata-kata abstrak yang sulit dicerna akal, menyucikan jiwa dan kesucian jiwa dimiliki oleh manusia-manusia yang konsisten zakat atau infak serta pikiran dan hatinya  selalu berprasangka baik pada Allah. Membangun karakter berani berkorban, berjiwa sosial, peduli lingkungan dan sesama, berbakti pada orang tua, mencintai fakir miskin, anak terlantar dan anak yatim adalah pendidikan untuk menyucikan jiwa para siswa. 

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)" (Fathir, 35:18).

Pendidikan selanjutnya yang mengajari siswa menyucikan jiwa adalah menghadirkan rasa takut pada Allah sekalipun tidak melihatnya, dengan mendirikan shalat. Jadi ada dua substansi pendidikan yang harus diajarkan kepada seluruh siswa dengan berbagai macam pendekatan yaitu membiasakan shalat dan sedekah. 

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3).

Inilah pendidikan dasar disetiap tingkatan yang akan membawa kesuksesan pada siswa lahir dan batin. Pendidikan yang menyucikan jiwa siswa, dan akan mendatangkan rezeki dari Allah dari arah tidak disangka-sangka. Wallahu'alam.***



Subtansi Pengajaran Menurut Al Quran

Oleh: Toto Suharya

Diskusi bersama guru-guru dan pengawas pendidikan terkait materi ajar apa yang harus diajarkan, muncul suatu kesepakatan bersama bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan harus bermanfaat bagi siswa. Ilmu pengetahuan yang diajarkan pada siswa harus memiliki kebermanfaatan langsung untuk siswa. Jadi tidak semua ilmu pengetahuan diajarkan pada siswa. Inilah poin penting yang harus dipahami dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar.

Di dalam Al Quran ada dua substansi pengajaran yang harus diperhatikan, yaitu menyucikan diri dan bermanfaat bagi siswa. "Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" ('Abasa, 80:3-4). 

Jadi substansi pengajaran memiliki dua dimensi yaitu menyucikan diri siswa dan memberi kemampuan teknis bagaimana hidup bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Konsep menyucikan diri kata kuncinya dijelaskan di dalam Al Quran yaitu mengajari jiwa-jiwa siswa yang takut pada Allah. 

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), ('Abasa, 80:8-9).

Substansi materi ajar adalah mengingatkan siswa tentang keagungan dan kemahabesaran Allah dengan melihat ciptaan-Nya, dan mengingatkan siswa tentang hukum-hukum yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Guru-guru mata dituntut kreatif bagaimana setiap mata pelajaran mengarahkan pada ketaatan dan menghadirkan rasa takut siswa pada Allah. Inilah jiwa-jiwa yang taat, berserah diri, dan merasa takut melanggar pada ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan.

Guru harus punya kemampuan menganalisis materi-materi ajar esensial. Ukuran materi ajar esensial sangat tergantung pada mata pelajaran yang diampu, dan dalam kontek apa materi tersebut perlu diajarkan pada siswa. Seleksi materi ajar esensial berkaitan dengan subtansi materi dalam mata pelajaran. Sedangkan subtansi kontekstual berkaitan dengan kebutuhan berdasarkan pada kondisi zaman yang sedang dihadapi siswa.

Kontekstualitas zaman dapat diamati dari alat-alat hidup atau teknologi yang digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika saat ini masyarakat cenderung memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kontek pembelajaran harus segera memperkenalkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Maka materi-materi ajar yang mesti diajarkan kepada siswa, materi yang mendukung pada siswa untuk memanfaatkan teknologi infomasi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Berbagai substansi mata pelajaran harus mendukung pada pemahaman siswa bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Agama mengajarkan bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi. Sejarah memberi pemahaman bahwa teknologi membawa konsekuensi perubahan budaya dan tata cara manusia bertahan hidup dengan memanfaatkan teknologi informasi. Fisika, Kimia, Biologi, mengajarkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu dan memanfaatkannya dalam kehdiupan sehari-hari. 

Demikianlah gambaran dua substansi ilmu pengetahuan dalam proses pengajaran. Ramuan materi, metode yang digunakan sangat tergantung pada kecerdasan dan kreativitas guru dalam menyajikannya. Wallahu'alam.***

Saturday, July 2, 2022

Refleksi Guru Dalam Pengajaran

Oleh: Toto Suharya

Menjelang 77 tahun Indonesia merdeka, mendekati satu abad bangsa Indonesia merdeka. Upaya-upaya dalam bidang pendidikan sudah dilakukan dan terus menerus diakukan perubahan. Dalam tarikh masehi sekarang kita sekarang berada di awal abad ke-21. Dalam perjalanan sejarah biasanya pada awal abad sering terjadi perubahan besar-besaran menimbulkan situasi krisis. Sebagaimana dulu pada awal abad ke-20 bangsa Indonesia terus bergerak membebaskan diri dari kolonial Belanda. Puncaknya pada pertengah abad ke-20 tahun 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Keberhasilan bangsa Indonesia merdeka tidak lepada dari upaya-upaya pembenahan dalam bidang pendidikan telah dilakukan sejak tahun 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara dengan berdirinya perguraun Taman Siswa. Sekarang kita berada di awal abad ke-21 sejarah seperti berulang, bahwa upaya pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara sedang dimulai kembali.

Pendididikan untuk bangsa Indonesia memang harus dikerjakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Orang yang paling mengerti tentang pendidikan bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Melalui konsep Trikon (kontinyu, konevergen, dan konsentris), Ki Hadjar Dewantara sudah membuka diri menerima pengaruh-pengaruh budaya dari luar, tetapi tidak melupakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Konsep ini ternyata lebih tepat untuk diterapkan dalam pendidikan bangsa Indonesia.

Pendidikan harus berkelanjutan, budaya-budaya dari luar digunakan untuk mengukuhkan jati diri bangsa. Melalui asas konvergen, kita berusaha merekonstruksi budaya luar untuk mengembangkan budaya bangsa sendiri (konsentris). Pendidikan harus fokus pada pengembangan budaya-budaya lokal direkonstruksi menjadi budaya global sesuai dengan perkembangan zaman. Gagasan Ki Hadjar Dewantara sebenarnya menuntut bangsa Indonesia untuk bisa beradaftasi dengan kodrat zaman dengan tidak meninggalkan kodrat alam dimana kita tinggal.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara ternyata lebih cocok untuk diterapkan dalam sistem pendidikan bangsa Indonesia. Upaya yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1922 adalah bagaimana memerdekan siswa dari ketergantungan. Bagaimana cara memerdekakan siswa dalam belajar untuk mencapai kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Pendidikan berfokus pada siswa bagaimana agar mereka benar-benar merdeka. 

Penjajahan ternyata tidak hanya berlaku dalam bentuk fisik, tetapi terus berlanjut berubah bentuk dalam pejajahan mental dikemas dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi. Peran besar pendidikan di abad 21 masih berbicara tentang kemerdekaan dalam belajar untuk melahirkan generasi-generasi mandiri dan bisa menyelesaikan masalah hidup dirinya dan bangsa pada umumnya.

Mengacu pada gagasan pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara, peran besar pada pendidikan di abad 21 sekarang adalah memerdekanan siswa dalam belajar. Pendekatan-pendekatan belajar yang harus dilakukan guru adalah melatih daya nalar siswa. Dalam setiap pembelajaran mereka harus dituntun bagaimana mengolah informasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Paradigma pengajaran zaman kolonial Belanda yang pada saat itu sumber informasi sangat terbatas, guru menjadi sumber informasi paling dominan. Pada zaman kolonial Belanda, belajar menjadi sebuah aktivitas yang sangat dominan membutuhkan kehadiran guru sebagai sumber informasi dan penentu tujuan pembelajaran. Sekarang di abad informasi, kehadiran guru dibutuhkan tetapi bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai penuntun pembelajaran. Sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara, tugas guru adalah memberi teladan, memberi semangat, membangkitkan keberanian, dan memberi dorongan, memengaruhi agar siswa mau terus belanjar secara mandiri.

Ketergantungan siswa ada guru telah mematikan kreativitas, daya nalar kritis, sikap gotong royong, menghargai perbedaan, dan kemandirian. Dominasi guru pada siswa dalam belajar, membuat siswa tidak pandai mengolah informasi, akibatnya mereka sangat mudah putus asa, dan tidak terampil menerima perbedaan pendapat karena fanatisme pada gurunya. Guru telah menjadi berhala, karena siswa tidak punya keberanian berbeda dengan gurunya. 

Dari pengataman di lapangan, setelah siswa lulus dari pendidikan, kebanyakan siswa masih sangat tergantung pada guru. Sumber informasi yang melimpah di internet, tidak menjadi motivasi siswa untuk berani belajar mandiri. Mereka masih tetap mengharapkan kehadiran guru secara fisik. Padahal di era informasi, guru-guru yang bermakna luas tidak harus hadir secara fisik. Melalui internet mereka bisa belajar sesuai keinginan mereka sekalipun tidak berstatus sebagai pelajar. Mereka bisa belajar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memilih banyak guru sesuai dengan kebutuhan. 

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, makna guru dan sisjadi luas. Semua makhluk adalah guru, dan semua makhluk adalah murid dan dimanpun ruang kita temua itulah kelas tempat belajar. Guru dalam konsep abadi 21 bukan hanya mereka yang mendapat surat tugas sebagai guru, tetapi semua orang yang kita temui yang bisa memebrikan iformasi ilmu pengetahuan dia adalah guru. Tugas guru-guru yang mendapat surat tugas adalah membebaskan pikiran-pikiran siswa yang masih terbelenggu oleh konsep guru dalam paradigma zaman kolonial Belanda.

Guru harus mulai menurunkan kedudukannya, bukan lagi sebagai dewa dihadapan siswa. Guru adalah manusia biasa yang hanya bertugas memberi teladan, memotivasi, dan memfasilitasi, bukan untuk menguasai pikiran para siswa supaya tunduk dan patuh pada pemikiran guru. Mari bapak ibu guru kita sama-sama bebaskan pikiran siswa dari belenggu pemikiran-pemikiran guru, karena zaman berubah maka biarkan mereka hidup sesuai dengan zamannya. Mari kita ajari siswa-siswi kita menjadi manusia-manusia mandiri, dengan melatih mereka untuk menyesaikan masalah-masalah hidup mereka sendiri agar bisa meraih kebahagiaan tanpa tergantung pada orang lain.***

 

Sunday, June 26, 2022

Masyarakat Tidak Cinta Pendidikan, Otaknya di Perut

Oleh: Toto Suharya

Otak manusia ada dua yaitu otak di otak dan otak di perut. Apa yang dilakukan manusia sangat tergantung isi otaknya. Namun kondisi perut dapat memengaruhi prilaku manusia. Jika perut sakit seluruh organ tubuh akan terbawa sakit. Sumber energi keseluruh organ diawali dari perut. Namun masyarakat cinta pendidikan tidak akan memerhatikan isi perut melainkan isi otak.  

Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas masyarakat yang cinta pendidikan. Masyarakat pecinta pendidikan mengutakan pendidikan di atas kepentingan perut. Pendidikan adalah urusan leher ke atas. Paling utama pendidikan adalah urusan otak. 

Masyarakat yang tidak begitu cinta pendidikan, diotaknya hanya berisi makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan sangat sensitif ketika berurusan dengan makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan senangnya membuat kegaduhan. Dia tidak suka hidup rukun dan damai.

Masyarakat cinta pendidikan mengatur ekonomi kebutuhan makan dan minum keluarga setelah dana pendidikan terpenuhi. Bagi masayrakat cinta pendidikan, membeli isi otak lebih mengenyangkan dari pada mengutamakan isi perut. Masyarakat yang cinta pendidikan isi perut seada-adanya dipekarangan, namun isi otak harus mewah. Bagi masyarakat cinta pendidikan memenuhi isi otak akan memenuhi isi perutnya. 

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, memenuhi isi perut sama dengan memenuhi isi otaknya, sekalipun faktanya isi otak mereka pindah ke perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, segala tindakannya ditentukan berdasarkan reaksi perut. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka tidak pernah lapar melihat buku. Membeli buku bagi mereka seperti membeli rongsokan yang tidak berguna. Buku tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang bisa dijual kiloaan lalu uangnya ditukar jadi semangkok baso.

Masyarakat cinta pendidikan mencintai tempat-tempat bersih. Masyarakat cinta pendidikan berani membeli mahal sebuah lingkungan bersih. Mereka punya keyakinan dari tempat-tempat bersih akan datang rezeki dan ilmu yang berkah. Masyarakat yang cinta pendidikan membeli ilmu pengetahuan sampai jual rumah dan tanah. Masyarakat cinta pendidikan mengirim anak-anaknya sekolah ke luar negeri melalui jalur beasiswa, bekerja, dan biaya orang tua. 

Masyarakat cinta pendidikan sekalipun biaya pendidikan murah bahkan gratis, mereka tidak ridha pendidikan dengan biaya seadanya. Mereka akan tetap membiaya anak-anak mereka untuk mendapat pendidikan berkualitas. Mereka menambah jam belajar anak-anak diluar jam sekolah, memberi kursus-kursus tambahan untuk menambah keterampilan hidup anak-anak.

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka berburu sekolah gratis lalu membiarkan anak-anaknya seperti kambing di padang rumput. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, semua hasil pendidikan adalah selembar ijazah. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan, bagi mereka sumber rezeki adalah ijazah. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di ijazah.

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, ijazah adalah tuhan pemberi rezeki. Masyarakat tidak cinta semua kejadian dilihat dari reaksi perut. Hatinya tergerak ketika perut lapar. Nasfsunya menggebu-gebu hingga tidak terkendali hanya karena isi perut terancam. Masyarakat tidak cinta pendidikan bisa dikendalikan dengan nasi bungkus. Bagi masyarakat cinta pendidikan, semakin banyak nasi bungkus, hidup terasa menyenangkan. 

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, mau hidup di kota besar atau diperkampungan, selalu hidup kampungan. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan dimanapun hidup seperti cara hidup dikampungnya yang kampungan. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan kualitasnya bisa dilihat sehari-hari. Mereka lebih banyak berdiskusi urusan isi perut sekalipun otaknya sudah sakit bagaikan kanker stadium empat karena terlalu banyak bicara isi perut.*** 

Saturday, June 4, 2022

Sejarah adalah Ilmu Tafsir

 Oleh: Toto Suharya

Sejarah adalah peristiwa yang terjadi di masa lampau. Menurut konsep waktu, sesuatu yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang kembali. Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tahun 1945, peristiwanya tidak akan terulang kembali. Sesuatu yang terjadi di luar kontrol manusia.

Memandang ilmu sejarah bisa terbagi menjadi dua sudut pandang, tergantung argumentasi seseorang dalam memahaminya. Pertama sejarah bisa dipandang sebagai ilmu pasti. Secara universal apa yang terjadi pada setiap orang disebabkan oleh sesuatu yang terjadi. Pandangan ini sering di dukung oleh pendapat Hegel (2012). Hal yang pasti dalam sejarah adalah kejadiannya yang tidak akan pernah berulang, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah akibat dari kejadian yang lalu.

 

Pembelajaran sejarah menjadi sebuah pembelajaran reflektif. Hegel (2012, hlm. 5) berpendapat sejarah reflektif adalah sejarah yang secara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu. Hakikatnya semua yang terjadi berhubungan sebagai kesatuan dan inilah ruh dari sejarah (sejarah universal). Dalam hal ini, penyusunan materi sejarah menjadi hal terpenting. Pertimbangan penulis sejarah menjadi sangat penting dan prinsip, mengacu pada motif perbuatan, dan peristiwa yang akan dipaparkan, dan itulah yang menentukan ceritanya.

Mengacu pada pendapat Hegel jalannya sejarah sudah ditentukan aturan-aturannya. Pemahaman sejarah ada di rasio seseorang. Sejarah sebagai kegiatan reflektif diceritakan berdasar subjektivitas seseorang, namun kemutlakkan harus ada dalam pikiran setiap orang, kemutlakkan itu adalah keseleruhan sistem yang saling ketergantungan. Kemutlakkan itu adalah dalam sistem-sistem yang kecil maupun besar. 

Capra (2002, hlm. 49) mengatakan partikel-partikel subatomik tak memiliki arti sebagai entitas terisolir dan hanya dapat dimengerti sebagai interkenokeksi, dan korelasi-korelasi, antara aneka proses dan pengukuran. Dalam keseluruhan sistem keberadaan suatu benda saling berhubungan sebab akibat, dan ditentukan pula oleh sebab dan akibat yang mutlak yang Yang Maha Pemelihara Kebaikan. Bagi penulis, Sang Pemelihara Kebaikan, dalam kontek pemikiran Islam adalah Ar Rahman dan Ar Rohiim.

Inilah yang dimaksud etika  atau cara berpikir (way of thingking). Jika cara berpikir seseorang berbeda, keseluruhan pengalaman hidupnya akan berbeda. Tindakan etis manusia tidak dapat dipisahkan dari cara berpikir. Terdapat hubungan timbal balik antar keduanya (Abdullah, 2022, hlm. 38). Bagi penulis hubungan tembal balik (sebab-akibat) dapat dimaksudkan sebagai bagian absolut idea pemikiran Hegel, dan sebab atau akibat mutlaknya adalah satu kesatuan sistem. 

Gagasan pemikiran Hegel, Capra, Abdullah, menjadi cara bagaimana kita menjalani kehidupan untuk menemukan gagasan-gagasan kebaikan, dan tujuan-tujuan baik, sebagai cara dan tujuan hidup mutlak dari Yang Maha Kasih dan Sayang. Sarana untuk memahamai way of thingking adalah sejarah kehidupan manusia. Jadilah sejarah adalah ilmu tafsir dalam upaya mencari war of thingking.***

INTI PERUBAHAN PADA KURIKULUM MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA Perubahan kurikulum memang sudah layak dilakukan. Konsep Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan sekarang sebagai tanda bahw...