Saturday, February 23, 2019

MEMBANGUN GENERASI OPTIMIS


OLEH
TOTO SUHARYA
           
Bangsa kita bangsa cerdas. Di dalam darah bangsa Indonesia mengalir gen-gen cerdas. Mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lebih sulit dibanding mendirikan USA, atau Jepang. NKRI sangat heterogen, terdiri dari ratusan suku bangsa, budaya,  ribuan bahasa dan berbagai macam agama. Gen-gen cerdas itu mempersatukan perbedaan dalam satu ikatan bernama NKRI.

Pada saat krisis tahun 1965 dan 1998, gen-gen cerdas  berhasil menyelamatkan NKRI dari perpecahan. Sementara Komunis Rusia (USSR) yang diakui sebagai negara dengan kekuatan politik terbesar dunia, sudah lebih dahulu hancur berkeping-keping karena perbedaan. 

Kini gen-gen cerdas itu telah berhasil membangun kembali NKRI menjadi negara urutan ke-17 sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia. Posisi kekuatan ekonomi Indonesia akan bergerak ke urutan ke-7, pada tahun 2035. Pada tahun 2035 jumlah penduduk produktif Indonesia lebih banyak dari penduduk tidak produktif (anak-anak dan lansia). Bonus demografi ini  membuktikan bahwa naiknya  posisi kekuatan ekonomi Indonesia di dunia bukan sebuah keniscayaan.

Dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia, Indonesia diakui menjadi negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Toleransi, kebebasan pers, di negara kita lebih baik dari negara-negara tetangga. Penegakkan hukum di negara kita mendapat pujian dari luar negeri. Di luar negeri mereka mengakui, jarang terjadi pejabat-pejabat tinggi dijerat oleh hukum pidana karena korupsi dan menjadi pesakitan di rumah tahanan.

Kita harus membangun optimisme untuk generasi-generasi penerus bangsa. Jepang dan Korea, selalu membangga-banggakan bangsanya di hadapan para generasi penerusnya. Kita akui Jepang bisa cepat pulih setelah dua bom atom meluluhlantakkan negeri mereka. Korea dalam jangka waktu singkat berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia dengan membangga-banggakan keturuan dan hasil karya bangsa mereka sendiri.

Bagi para pendidik sangat tabu berbicara di hadapan generasi penerus, menjelek-jelekan bangsa sendiri. Generasi penerus kita masa depannya masih suci, jangan dikotori dengan harapan-harapan hampa. Para pendidik harus menjadi motivator agar Indonesia secepatnya benar-benar menjadi salah satu bangsa dengan kekuatan politik dan ekonomi terbesar dunia.

Pernyatanan ini penulis kutif dari pidato singkat Prof. Dr. Moh. Wahyudin Zarkasyi, CPA, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Pidato disampaikan ketika membuka acara workshop sosialisasi bantuan operasional (BOS) SMA di hotel Grand Hotel Lembang 21-24 Oktober 2013.

Penulis jadi ingat penelitian Masaru Emoto (2006), tentang air. Dari hasil penelitian Masaru Emoto, saya menyimpulkan karena hampir 70 persen kehidupan ini terdiri dari unsur air, maka benda-benda yang ada di sekitar kita termasuk manusia memiliki sifat yang sama seperti air.

Air tatkala diberi kata-kata negatif maka respon yang keluar adalah negatif. Percobaan ini pernah dilakukan Masaru Emoto pada nasi. Selama tiga bulan nasi di dalam gelas tertutup, di beri kata negatif dan positif. Setelah tiga bulan nasi yang diberi kata negatif warnanya hitam membusuk, sedangkan nasi yang diberi tanda positif warnanya kekuningan mengeluarkan cairan semacam alkhohol. Nasi yang diberi kata positif sekalipun berubah tetapi masih tetap dalam wujud yang bermanfaat, bahkan lebih bermanfaat.

Kesimpulannya, anak-anak yang dibesarkan dengan negativitas, dan pesimisme, tidak mungkin menjadi generasi penerus yang baik di masa mendatang. Sementara di tahun 2035 kita membutuhkan generasi-generasi penerus yang bermanfaat bagi banyak orang. Generasi-generasi tangguh, dengan berbagai kompetensi yang harus dimilikinya.

Perubahan kurikulum 2013 di arahkan untuk menyiapkan generasi berkualitas di tahun 2035. Melalui program BOS SMA, diharapkan generasi sekarang yang akan menjadi manusia produktif di tahun 2035 benar-benar menjadi manusia produktif yang memiliki berbagai kopmpetensi (spiritual, sosial, pengetahuan, dan nalar), sebagai penunjang kekuatan ekonomi dan politik negara.

Sudah terlalu lama energi bangsa ini digunakan untuk hal-hal negatif, alangkah besarnya bangsa ini jika energinya difokuskan untuk hal-hal positif. Semua itu bisa kita sadari jika semua paham bahwa di dalam darah kita mengalir gen-gen cerdas. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah SMAN 1 Cibinong Cianjur Selatan)

Saturday, February 16, 2019

PENDIDIKAN MANUSIA SUPER CERDAS

OLEH: TOTO SUHARYA

“Tidak ada anak bodoh, kecuali dia tidak punya kesempatan belajar dengan guru yang baik” (Yohanes Surya). Pernyataan ini ingin mengatakan, kalau ada anak bodoh maka yang salah adalah gurunya termasuk orang tuanya yang belum bisa mendidik.

Secara teori, dasar pernyataan di atas, merujuk pada teori multiple intelegent yang ditemukan oleh Howard Gardner. Manusia minimalnya memiliki 8 kecerdasan, antara lain; kecerdasan naturalis, intrapersonal, musik, linguistik, interpersonal, spasial, kinestetik, logika (matematis). Penemuan Gardner menjadi sebab bahwa kecerdasan intelektual (logika) hanya salah satu kecerdasan saja yang sering jadi ukuran kecerdasan seseorang. Akibat perpepsi ini, dunia pendidikan telah mnimbulkan banyak korban, dengan munculnya sekolah favorit dan sekolah gurem, anak pintar dan anak bodoh.

Tidak terhitung pelecehan orang tua terhadap anak, gara-gara nilai-nilai mata pelajaran anaknya di sekolah jeblok. Harga diri anak direndahkan oleh orang tuanya sendiri, gara-gara kesalahan pemahaman orang tua, hanya kecerdasan adalah nilai angka raport. Di rumah anak-anak di bulli oleh orang tuanya sendiri, di sekolah oleh gurunya, di kampus oleh dosennya.

SECERDAS-CERDAS MANUSIA TIDAK PERCAYA PADA TUHAN YME, DIA BODOH. SEBODOH-BODOHNYA MANUSIA DIA PERCAYA PADA TUHAN YME, DIA CERDAS.
Gardner telah membuka kesadaran kita, sekalipun belum semua sadar. Filosofi pendidikan yang terlalu kebarat-baratan telah mencabut anak-anak kita dari akar budaya. Allah telah memberi gambaran bahwa kecerdasan manusia bukan diukur dari kecerdasan mereka dalam menaklukan dunia semata. Selama ini kita hanya fokus membuat anak-anak cerdas, bukan anak-anak super cerdas.

Anak-anak cerdas adalah mereka yang hanya memahami bagaimana menguasai dan mengendalikan alam. Mereka fokus mempelajari ilmu yang bersumber dari alam untuk kemudian mengendalikan alam. Mereka jarang diajarkan bahwa alam adalah (pena) sarana dari Tuhan YME, agar manusia menjadi penyeimbang dan penyejahtera kehidupan dunia.

Ukuran manusia penyeimbang dan penyejahtera kehidupan digambarkan dalam bahasa yang harus kita terjemahkan dan pikirkan. “Hai manusia,… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”. (Al Hujuraat, 49:13).

Informasi ini sebenarnya telah memberitahukan bahwa manusia super cerdas adalah mereka yang mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang dapat mewujudkan segala impian manusia. Manusia super cerdas adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, untuk kesejahteraan dunia dan akhirat yang kekal.

Manusia super cerdas, mengembangkan ilmu pengetahuan bukan untuk menaklukkan alam, tetapi untuk menjaga keseimbangan alam, dan memosisikan dirinya sebagai penjaga keseimbangan. Manusia super cerdas tidak bernafsu menguasai dunia tetapi bernafsu menyelamatkan dunia dari kerusakan.

Pendidikan yang berupaya melahirkan manusia-manusia super cerdas, berangkat dari persepsi-persepsi pendidikan yang bersumber dari kebenaran dari Tuhan, yaitu kitab suci Al-Qur’an. Tidak ada anak yang bodoh adalah persepsi bersumber pada Al-Qur’an. Setiap makhluk di ciptakan dengan kecerdasan, dunia pendidikan harus memfasilitasi, menemukan, dan mengarahkan kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Gardner telah memberi gambaran delapan kecerdasan yang harus ditemukan pada diri setiap anak.

Namun demikian manusia supercerdas adalah mereka yang dengan berbagai macam kecerdasan yang dimilikinya, dia memiliki keyakinan bahwa hanya satu tuhan yang wajib disembah yaitu Tuhan YME, dan ada kehidupan yang lebih baik setelah kematian, yang hanya bisa diperoleh dengan cara menjadi manusia bermanfaat bagi manusia lainnya. Jadi dua syarat menjadi manusia super cerdas adalah berkeyakinan kepada Tuhan YME, dan bermanfaat bagi manusia lain, terutama kepada orang yang telah berjasa melahirkan kita yaitu kedua orang tua.

Ciri-ciri dari pendidikan yang akan melahirkan manusia super cerdas, adalah lingkungan pendidikan yang melandasi teori-teori pendidikannya bersumber dari agama dan rasional empiris. Hasilnya adalah sebuah kolaborasi antara menciptakan manusia yang menguasai ilmu dan teknologi dan karakter yang berorietansi pada kesejahteraan bersama, dengan kemampuan individu menekan hawa nafsu destruktif yang ada dalam setiap jiwa manusia.

Secerdas-cerdasnya manusia yang tidak percaya Tuhan YME, dia bodoh, dan sebodoh-bodohnya manusia percaya pada Tuhan YME dia cerdas. Manusia super cerdas adalah dia yang mampu mengendalikan alam dan dirinya dan semuanya diwujudkan sebagai kecintaannya kepada Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah, Kandidat Doktor Pendidikan Sejarah UPI Bandung).

PENDIDIKAN DALAM PUSARAN POLITIK

OLEH: TOTO SUHARYA

Meningkatnya suhu politik menjelang pemilu menjadi media belajar pendidikan karakter para peserta didik milenial. Saling hujat dan saling sindir di media massa yang ditampilkan para pendukung kekuasaan menjadi pendidikan karakter nyata bagi peserta didik. Media sosial yang menjadi sarana kampanye pendukung kekuasaan jadi sajian langsung bagaimana para peserta didik belajar berkomunikasi dan bersikap untuk menjadi warga negara yang baik.

Informasi pelecehan peserta didik terhadap guru, ujaran kebencian, dan dialog saling serang antar pendukung kekuasaan menjadi sumber pembelajaran bagaimana peserta didik menilai sebuah karakter pantas dan tidak pantas bagi seorang warga negara yang baik. Tahun politik menjadi ajang pembelajaran bagi peserta didik untuk melakukan introspeksi diri dalam melihat karakter bangsa merdeka yang didaulat sebagai bangsa santun dan beragama.

Nilai-nilai kesopanan dan kesantuan bangsa timur yang menjadikan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai tujuan utama dalam tujuan pendidikan nasional tengah mendapat ujian di tengah pusaran politik. Peserta didik bisa belajar mengkritisi dengan membandingkan prilaku masyarakat dalam berpolitik dengan nilai-nilai Pancasila sebagai turunan dari nilai-nilai agama.

Prilaku rakyat tidak jauh dari pemimpin yang dihasilkan. Jika pemimpin dipilih langsung oleh rakyat, maka kualitas pemimpin menunjukkan kualitas rakyatnya. Maka dari itu, dalam demokrasi langsung, untuk memperbaiki kualitas pemimpin harus dimulai dari peningkatan kualitas rakyatnya, karena rakyatlah yang memilih pemimpin.

Ibn Rusyd membagi jiwa manusia dalam tiga daya, yaitu daya pikir, amarah, dan syahwat. Maka untuk memperbaiki kulitas rakyat, harus dioptimalkan kemampuan daya pikirnya. Meningkatkan daya pikir tiada lain dengan cara menambah wawasan pengetahuan, ilmu dan hikmah dari berbagai macam sumber untuk mengendalikan amarah dan syahwatnya.

Kesantunan warga negara terhadap pemimpin digariskan dalam sebuah hadis, “Barangsiapa menaatiku, maka ia berarti menaati Allah. Barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barang siapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kontek demokrasi, pemilihan para calon pemimpin tidak selayaknya dilakukan dengan cara saling menjatuhkan dan mengumbar kelemahan seorang calon pemimpin. Para calon pemimpin adalah orang-orang terpilih yang harus dihargai martabatnya sampai kelak jika terpilih jadi pemimpin.

Dunia pendidikan tidak boleh netral. Dunia pendidikan harus tetap memihak dengan mengajarkan tentang kebenaran dilandasi dengan sumber-sumber kebenaran. Tafsir-tafsir tentang kebenaran dari sumbernya tidak ditumpangi dengan kepentingan membela berhala-berhala yang bisa memecah belah persatuan. Keretakan sebuah bangsa diawali dengan adanya pemberhalaan terhadap para pemimpin.

Setiap individu yang akan diangkat jadi pemimpin berada di atas kehendak Tuhan dan berdasarkan kebaikannya dihadapan Tuhan. Didukung atau tidak didukung kepemimpinan dalam sebuah bangsa semua berada di atas kehendak Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha mengampanyekan kebaikan demi kebaikan dari calon pemimpinnya dengan wajar tanpa berlebihan seperti membela Tuhan.

Jika negara kita sebagai negara berkeyakinan kepada Tuhan, maka yang pastas dibela mati-matian adalah eksistensi Tuhan. Para pembela Tuhan akan lebih mengutamakan persatuan, dan menjaga perdamaian sebagaimana keberadaan Tuhan adalah mempersatukan dan mendamaikan kehidupan manusia. Omong kosong kita membela Tuhan, jika rasa persaudaraan dan perdamaian diabaikan untuk sekedar membela makhluk Tuhan yang sama-sama menyembah Tuhan.    

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ada seseorang yang bertanya kepada Beliau, “kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi Muhammad saw tidak? Ali ra menjawab, “karena pada zaman Nabi Muhammad saw yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian. (htttps/rumaysho.com). Dialog ini mengabarkan bahwa demokrasi yang kita usung sangat bergantung kepada kualitas akhlak warga negaranya. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala SMAN 1 Cipeundeuy KBB, Kandidat Doktor Pendidikan Sejarah UPI Bandung).

HUBUNGAN SHALAT DENGAN KECERDASAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Ketika mengajukan sebuah ide penelitian kepada seorang doktor matematika, tentang hubungan antara shalat dhuha dengan Kecerdasan Intelektual siswa, “Beliau menjawab, jangan meneliti hal-hal yang berbau klenik”. Lalu beliau menjelaskan sebuah silogisme, “di hulu terjadi hujan lebat, maka di hilir terjadi banjir. Oleh karena banjir, sekolah menjadi tergenang dan pembelajaran terganggu. Akibatnya prestasi akademik siswa menurun. Kesimpulannya, perubahan cuaca di hulu mempengaruhi prestasi akademik siswa”.

Artinya dengan contoh silogisme di atas, Beliau ingin mengatakan bahwa menghubungkan shalat dhuha dengan prestasi akademik, seperti menghubugkan antara perubahan cuaca dengan prestasi siswa. Untuk itulah, shalat dhuha dihubungkan dengan prestasi akademik dianggap sebagai logika klenik.

Klenik menurut kamus bahasa Indonesia versi daring, adalah sebuah aktivitas perdukunan, berkonotasi negatif. JIka shalat dhuha dihubungkan dengan prestasi akademik sebagai klenik, apakah ini termasuk logika seorang dukun? JIka demikian praktek perdukunan ada di sekolah-sekolah.

Saya menemukan pola logika dukun, ilmuwan rasional empiris, dengan orang beriman berbeda. Dukun berlogika dengan rasio, empiris, dan alam ghaib tanpa panduan, ilmuwan berpatokan pada rasio dan empiris, orang beriman menggunakan rasio, empiris, dan berpatokan pada Al-Qur’an. Seorang doktor, menganggap hubungan shalat dhuha dengan kecerdasan sebagai klenik, hal ini dapat dimengerti karena patokannya adalah kebenaran rasio dan empiris.

Fakta di lapangan, sejak dimasukkan kompetensi spiritual ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, hampir setiap sekolah memasukkan kegiatan keagamaan ke dalam intrakurikuler. Berbagai kegiatan tersebut antara lain, merutinkan kegiatan shalat dhuha, shalat  berjamaah, menghafal Al-Qur’an, asmaul husna, dan lain sebagainya. Jika tidak pernah diteliti, apa sebenarnya tujuan dari kegiatan spiritual ini semua?

Klenik adalah logika buatan manusia, seperti dukun menghubungkan ritual tertentu dengan jabatan. Dukun tidak punya kitab suci. Logika dukun murni berdasarkan pengalaman dan kekuatan alam.

Para ilmuwan sekular menggunakan pengamatan, penelitian alam sebagai dasar pengetahuan berlogika. Logika ilmuwan dan dukun sama, menggunakan rasio dan alam sebagai dasar pembenaran logika. Ilmuwan dan dukun sama-sama membenarkan sesuatu berdasarkan bukti. Ilmuwan bisa membuktikan, dukun juga bisa membuktikan. Jadi ilmuwan dan dukun sama-sama mempratekkan logika klenik (logika buatan manusia).

Ajaran agama bukan klenik karena selain logis, bisa dibuktikan kebenarannya, dan memiliki panduan bukan bersumber dari alam, tetapi dari Tuhan Pemilik Semesta Alam. Melakukan penelitian tentang hubungan antara ajaran agama dengan kehidupan, sama dengan meningkatkan kecerdasan, menemukan ilmu, teknologi, dan keimanan dengan mengetahui kebenaran dari Tuhan.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) SHALAT, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan AKAL”. (Al Maidah, 5:58).

Berdasarkan metode hubungan konsep antara kata dengan kata, dalam ayat di atas, SHALAT dan AKAL memiliki hubungan dekat. Kedekatan itu terlihat bahwa kata shalat dan akal muncul dalam redaksi satu ayat. Penulis punya asumsi bahwa shalat berhubungan dengan kecerdasan. Asumsi ini berdasarkan pada fakta bahwa anak-anak yang rutin melakukan shalat memiliki kecerdasan intelektual berbeda dengan yang malas shalat.

Orang-orang yang menyepelekan hubungan shalat dengan kecerdasan, menganggap klenik, sesungguhnya mereka belum memiliki kecerdasan akal. Berdasar ayat di atas bisa terjadi hubungan sebab akibat, “jika shalat maka berakal (cerdas), jika tidak shalat maka tidak berakal (tidak cerdas)”.  Untuk membuktikannya maka harus dilakukan penelitian, apakah kegiatan dhuha tiap hari memiliki hubungan dengan kecerdasan siswa? Wallahu ‘alam.

(Kepala Sekolah)

KOLABORASI PENDIDIKAN

oleh: TOTO SUHARYA

Di penghujung usianya, Nabi Muhammad saw menyampaikan pesan, dikabarkan dalam sebuah hadis, “Aku tidak mengkhawatrikan kalian akan menyembah tuhan selain Allah, akan tetapi, yang kukhawatirkan kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan dunia”. (Ling, 2007, hlm. 528). Lalu menjelang ajalnya yang sudah dekat, Rasulullah memberikan nasihat. Riwayat yang berasal dari Anas bin Malik mengatakan, “shalat dan perlakuan baik terhadap para hamba sahaya”. Wasiat itu Beliau ucapkan meski lidahnya hampir tidak bisa berkata. (al-Ghazali, 2005, hlm. 631).

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad saw bersabda, “salat…, salat dan perhatikan orang-orang yang ada dalam pertanggungan kalian.” (HR. Ahmad, 6/290). Pesan ini disampaikan baginda pada umatnya. Berbagai macam kesibukkan dan syahwat dunia hendaknya tidak membuat mereka lupa akan salat. Inilah yang paling ditakutkan oleh baginda atas umatnya, sebagaimana beliau mengkhawatirkan para pembesar akan mewariskan kejahatannya, kesewenangan penguasa terhadap orang lemah. Beliau kemudian melihat kepada semua penjuru masjid dengan penuh penghormatan seperti seolah melakukan perpisahan. Selepas itu beliau membaca, “Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut atasku”. (HR. Ahmad, 6/640). (Said, 2016, hlm. 503).  

Nabi Muhammad saw meninggal setelah menyikat gigi dengan siwak, hari Senin, Rabiulawal tahun 8 Hijriyah. Bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi. Meninggal diatas pangkuan istrinya yaitu Aisyah. (Ling, 2007, hlm. 531). Said (2016, hlm. 504), menyebutkan tahun 11 hijriyah, bertepatan dengan 8 Juni 632 M. Namun demikian, Ling (2007), Said, (2016), Haekal (2003), memiliki pendapat sama tentang meninggalnya Rasulullah saw terjadi pada tanggal 8 Juni 632 M.

Kekhawatiran Nabi Muhammad saw betul-betul terjadi saat ini, dalam dunia pendidikan sekolah menengah, survey membuktikan dalam satu sekolah dengan jumlah 700 orang murid muslim, kurang lebih hanya 10-20 persen murid yang melaksanakan shalat wajib lima kali sehari. Program pendidikan karakter religius shalat berjamaah dhuhur, dan ashar sebagai tanda berakhirnya kegiatan pendidikan, setiap harinya hanya diikuti tidak lebih dari 20% siswa saat shalat dhuhur dan hanya 10% saat shalat Ashar.

Jika dilihat dari umur siswa di sekolah menengah berada pada usia 16-21 tahun. Usia ini dapat dikatakan usia dengan kemampuan berpikir rasional abstrak. Pada usia ini murid-murid sudah bisa memberikan makna-makna tujuan dan ritual agama, secara rasional.

Shalat berdasarkan informasi dari hadis dan al-Qur’an, bukan sekedar ritual harian, tetapi sebagai bentuk komitmen diri untuk melakukan segala ketentuan agama dalam kehidupan. Shalat selain dimaknai sebagai kewajiban oleh setiap muslim, seperti kegiatan membangun visi hidup yang harus diulang-ulang agar hidup selalu semangat dan optimis.

Setelah sembilan bulan program pendidikan karakter religious berjalan, pembiasaan shalat berjamaah tidakpernah berhasil mencapai target minimal 80 persen. Data wawancara terhadap siswa, rata-rata mereka tidak melaksanakan shalat penuh lima kali. Waktu shalat yang sering terlewat adalah shubuh dan isya.

Rapat konsultasi dengan orang tua siswa yang mayoritas diwakili ibu-ibu, hampir sebagian besar orang tua mengeluhkan anaknya tentang kebiasaan shalat. Mereka tidak berdaya dengan prilaku anak-anak yang lebih memilih bermain game di hand phone ketimbang melaksanakan shalat. Latar pendidikan dan ekonomi orang tua yang berbeda, ternyata telah menjadi penyebab pola pendidikan anak di keluarga berbeda-beda. Namun ada kasus ditemukan bahwa orang tua yang memiliki kebiasaan shalat yang tidak hanya melaksanakan lima waktu, tetapi ditambah dhuha dan tahajud, memiliki catatan anak-anaknya yang rajin shalat di sekolahnya. Anak-anak yang mengalami masalah keluarga seperti ditinggal orang tua bekerja ke luar negeri, ditinggal orang tua karena cerai, tidak diurus orang tua dan tinggal bersama nenek, menunjukkan murid-murid yang cenderung kurang biasa, dan terlihat sangat malas melaksanakan shalat.

Solusi menghadapi masalah ini, dalam beberapa rapat konsultasi dengan orang tua yang dilakukan sebanyak empat sesi dalam satu hari diikuti oleh 12 orang tua siswa per sesi, diambil sebuah kesepatkatan bersama bahwa untuk menyukseskan program pendidikan karakter religius para orang tua harus bersama-sama terlibat dalam menjaga pendidikan karakter religius anak-anaknya di rumah.

Keterlibatan orang tua di rumah bukan hanya mengingatkan anak-anak untuk melaksanakan shalat, tetapi harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Para orang tua menyadari bahwa tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bagi muslim tujuan ini sangat berkaitan dengan wasiat Nabi Muhammad saw di kepada umat.

Dalam rapat kecil per sesi dengan seluruh orang tua siswa yang sengaja dilakukan agar lebih terasa kekeluargaan, disepakati sebuah kolaborasi pendidikan. Kolaborasi diarahkan dalam bentuk kegiatan ritual shalat dhuha 12 rakaat dan tahajud 11 rakaat dilakukan orang tua di rumah setiap hari sebagai upaya spiritual dalam memperbaiki akhlak siswa.  Dalam kolaborasi pendidikan ini, orang tua diberi beban mental bahwa keberhasilan pendidikan karakter religius anak-anak dipengaruhi oleh upaya spiritual para orang tua.

Kemampuan spiritual anak-anak dalam shalat, dipengaruhi pula oleh orientasi dunia pendidikan dan keluarga. Dunia pendidikan yang cenderung pada perolehan skor angka, tidak begitu konsen terhadap pembentukan karakater religius dalam pembiasaan shalat. Sekalipun sekolah-sekolah sudah banyak memprogramkan tetapi jarang dilakukan evaluasi sejauh mana keberhasilannya. Untuk mengukur keberhasilannya perlu kekompakkan dan kerjasama seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk memberikan keteladanan.

Pada prinsip dasarnya tidak ada anak yang bodoh, kecuali mereka tidak memiliki kesempatan belajar dengan guru-guru terbaik. Siapa guru-guru terbaik mereka? Yaitu orang tua sendiri, dan guru-gurunya di sekolah, termasuk di dalamnya satpam, caraka, dan petugas tata usaha. Satu kata satu perbuatan adalah kata kunci keberhasilan dalam kolaborasi pendidikan. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah)

Sunday, February 3, 2019

PENDIDIKAN HARUS KERAS

Oleh: TOTO SUHARYA

Ketika para orang tua, sangat bernafsu ingin mempidanakan guru, seharusnya dunia menangis mendengarnya. Sangat menyayat hati ketika guru dipidanakan gara-gara menegur anak tidak melaksanakan tugasnya.  Bukan kah itu tugasnya?

Guru-guru yang melakukan “kekerasan” dalam pendidikan tidak dapat langsung dipidanakan. Kekerasan dalam pendidikan tidak serta merta dapat ditafsirkan sebagai bentuk penganiayaan. Ruhnya, apa pun yang terjadi dalam pendidikan tidak lepas dari tujuan pendidikan.

Ketika guru melakukan pemukulan, kasus ini berbeda dengan pemukulan yang dilakukan oleh anak dalam tawuran, pemukulan oleh orang tua siswa terhadap guru, pemukulan oleh preman terhadap warga. Hal yang membedakan “pukulan” guru terhadap anak adalah niatnya pendidikan. Ketika siswa memukul siswa, orang tua memukul guru, tindakan mereka tidak diatur secara sadar dengan tujuan pendidikan.  

“Kekerasan” dengan niat pendidikan tidak bertujuan membinasakan, sedangkan kekerasan diluar pendidikan tujuannya membinasakan. Sekalipun dalam pendidikan, kekerasan tidak dibenarkan, tetapi dalam kondisi tertentu kita harus memahami, bahwa ajaran agama pun memberi sedikit peluang untuk “keras” demi pendidikan.

Maka dari itu, guru-guru yang melakukan “kekerasan” beliau tidak dapat langsung dipidanakan karena apa yang dia lakukan ada di ranah pendidikan. Sekalipun ada kekerasan yang dinilai diluar kewajaran pastilah tindakan itu sebagai bentuk kekhilafan atau keterpaksaan karena keadaan.

Kita seharusnya takut, ketika para orang tua memidanakan guru dengan sangkaan melakukan kekerasan, maka jangan-jangan pendidikan tentang kegigihan dalam menghadapi masalah, akan hilang dari sekolah. Menurut Stoltz pelajaran kegigihan atau  Adversity Quotient, adalah kecerdasan berupa kegigihan untuk mengatasi segala rintangan demi mendaki tangga kesempurnaan yang diinginkan, yang harus dimiliki setiap manusia.

“Hidup ini seperti mendaki gunung”, demikian kata Stoltz. Kami khawatir, upaya orang tua memidanakan guru hanya karena mencubit, akan jadi ajaran hidup lembek, lemah, dan mendidik mereka menjadi generasi quiters, yaitu generasi yang mudah menyerah sebelum menghadapi tantangan hidup.

Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya menjadi quitter. Semua agama mengajarkan umatnya menjadi climbers. Itulah inti dari pendidikan. Contoh, Islam adalah salah satu agama mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi manusia-manusia climber.

Tuhan telah bersumpah atas diri-Nya, bahwa “manusia diciptakan diharuskan menempuh susah payah”. (Al-balad ayat 4). Dalam sebuah tafsir resmi yang dikeluarkan Kemenag dijelaskan, manusia tidak bisa lagi hidup tanpa susah payah sebagaimana dialami oleh nenek moyang mereka, Adam dan Hawa di surga karena semuanya tersedia. Manusia harus berusaha, berjuang mencari rezeki, mengatasi berbagai rintangan, dan sebagainya.

Berdasarkan perjuangan itulah, Tuhan menilai manusia, semakin besar perjuangan, kegigihan, ketahanan terhadap derita yang dialami manusia, semakin besar manfaat yang dihasilkannya, dan semakin tinggi nilai manusia itu dalam pandangan Tuhan.

Begitu pula Nabi Muhammad di kota Mekah, Beliau berjuang agar kebenaran menjadi nyata dan kebatilan menjadi sirna. Demikian pula seluruh umat manusia. Jika manusia diharuskan menempuh susah payah oleh Tuhan, maka ini artinya ada kemampuan yang harus dimiliki manusia. Kemampuan itu seperti yang dikemukakan oleh Stolzt yaitu berupa kegigihan, kesabaran, dalam menghadapi rintangan.

Selanjutnya, C. Ramli Bihar Anwar menjelaskan manusia bukan hanya harus memiliki kegigihan dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri, tetapi kegigihan yang menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Untuk itu manusia harus mempunyai Adversity Spiritual Quaotient, kegigihan atas dasar keyakinan terhadap pertoongan Tuhan.

Para hali psikologi menyimpulkan unsur keyakinan memiliki peran penting dalam menumbuhkan kegigihan seseorang. Hasil penelitian Albert Ellis, faktor penentu keberhasilan seseorang 90 persen adalah keyakinannya dan 10 persen lingkungan. Keyakinan yang akan membuat seseorang gigih dalam mewujudkan impiannya adalah keyakinan bahwa Tuhan maha penolong, pemurah, dan mampu mewujudkan segala impian manusia.

Untuk itulah tugas para pendidik mencetak generasi-generasi yang punya kegigihan, daya tahan terhadap penderitaan, dalam mewujudkan impiannya. Jika dicubit saja lapor polisi, siapa yang akan jadi pewaris bangsa sebesar ini?  Wallahu ‘alam.

(Penulis, Kepala Sekolah dan Pengurus PGRI Kabupaten Cianjur)

SEKOLAH AGEN PROPAGANDA

OLEH: TOTO SUHARYA (Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI, KACI) Sekolah adalah lembaga yang ditugasi negara untuk mempropagandakan tujuan-t...