Showing posts with label logika tuhan. Show all posts
Showing posts with label logika tuhan. Show all posts

Friday, May 22, 2026

LOGIKA TUHAN LATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan melatih kemampuan umat manusia khususnya umat Islam bergumen dengan kitab suci Al Quran. Semua ajaran yang mengatasnamakan Islam argumennya harus dari kitab suci Al Quran. Al Quran menjadi induk dari dasar-dasar ajaran Islam. 

Setiap umat Islam wajib mengabarkan Al Quran kepada seluruh manusia. Setiap umat Islam wajib menjadikan Al Quran sebagai rujukan dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Setiap umat Islam memiliki kemampuan berpikir dengan menjadikan Al Quran sebagai argumen.

Kemampuan berargumen dengan Al Quran mengikuti pola berpikir sebab akibat (kausalitas). Kausalitas digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di muka bumi. Pemahaman setiap orang terjadi kalau bisa memahami kausalitas dari suatu konsep atau kejadian.

Kita tidak akan bisa mengetahui siapa sosok orang beriman? Jika kita tidak tahu ciri-ciri dari orang beriman, tidak jelas apa yang harus dilakukan. Maka Al Quran bisa memberi pemahaman siapa orang beriman dengan menjelaskan melalui pola kausalitas dari hubungan dua ayat. 

Ebok belajar logika Tuhan menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (Al Anfaal, 8:2).

Untuk menjelaskan siapa orang beriman berdasarkan ayat di atas, konkritnya bisa dilihat dalam penjelasan ayat berikutnya. Inilah salah satu cara penjelasan menggunakan pola hubungan kausalitas. 

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Al Anfaal, 8:3).

Keimanan kepada Allah menjadi sebab orang melakukan shalat dan sedekah. Jadi bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mereka mengerjakan shalat dan bersedekah. 

Dapat dipahami dalam kisah akhir hayat Nabi Muhammad, Beliau mewasiatkan shalat kepada umat sepeninggalnya. Ternyata di dalam Al Quran dijelaskan shalat menjadi ukuran pertama dari orang-orang yang benar-benar beriman diikuti dengan sedekah.

Jika kita bertanya lebih lanjut, untuk apa orang beriman ditandai dengan shalat dan sedekah? Secara kausalitas dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (Al Anfaal, 8:4).

Mengapa orang beriman ditandai Allah dengan shalat dan sedekah? Penjelasannya ada dalam ayat 4. Maka ayat 4 sebagai akibat dari orang beriman yang shalat dan sedekah.

Ada tiga akibat yang didapat dari orang beriman, shalat, dan sedekah, yaitu tinggi derajat, ampunan, dan rezeki. Inilah kabar gembira yang dijanjikan Allah pada orang beriman, shalat, dan sedekah. 

Kesimpulannya, iman, shalat, sedekah, menjadi prasyarat untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Kemampuan berpikir berdasar Al Quran menjadi hal penting dimiliki setiap orang beragama. Melatih kemampuan berpikir berbasis pada Al Quran menjadi pondasi penting yang harus diajarkan pada umat manusia khususnya umat Islam.***

Sunday, July 30, 2023

LOGIKA TUHAN MEMANDANG LGBT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Kemajuana teknologi informasi tentu membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatifnya adalah manusia dengan berbagai macam ragam punya punya kebebasan mengekpresikan kebebasannya. Tentu saja, hidup di abad teknologi ini butuh kecerdasan lebih tinggi lagi. Kecerdasan yang dibutuhkan adalah memilah mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. 

Logika Tuhan adalah cara pandang ketuhanan, yang menjadikan kitab suci Al Quran sebagai sumber berpikir. Argumen-argumen dikembangkan dari informasi Al Quran dan ilmu pengetahuan alam. Antara Al Quran dan ilmu pengetahuan alam, tidak terpisahkan karena dunia diciptakan dalam sebuah sistem keterkaitan. Informasi dalam Al Quran dan informasi di alam adalah sumber belajar agar manusia terus belajar dengan berpikir.  

"dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda". (Al Lail, 92:3-4).

Dalam kasus LGBT telah terjadi benturan nilai antara masyarakat materialis dengan masyarakat religius. Dua pemikiran ini kadang ada kesamaan kadang ada perbedaan. Masyarakat materialis menilai LGBT adalah hak seseorang untuk menentukan statusnya. Pandangan kaum materialis menganggap kaum LGBT adalah fenomena alamiah yang faktanya terjadi pada manusia. 

Sebaliknya masyarakat religius, yang masih memegang nilai-nilai ketuhanan, memandang bahwa kaum LGBT adalah tindakan dosa besar. Kisah kaum LGBT dikabarkan di dalam kitab-kitab suci, sebagai tindakan yang dibenci Tuhan. Sebagai contoh di dalam kitab suci Al Quran, dijelaskan:

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (Al 'Araaf, 7:80-81). 

Bagi masyarakat religius, informasi dari kitab suci memiliki tingkat validitas tinggi. Kebenarannya dapat diuji dan dibuktikan bahwa orang-orang yang bersikap melampaui batas akan berujung dengan kebinasaan. Kaum LGBT dianggap golongan yang melampaui batas atau pelaku dosa besar. 

Di dalam Al Quran dikabarkan bahwa orang-orang yang melampaui batas seperti kaum Nabi Lut mendapat balasan setimpal dari perbuatan yang dilakukannya. 

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Al 'raaf, 7:83-84). 

Perbedaan pandangan tentang LGBT sangat tergantung pada sudut pandang sebuah masyarakat. Masyarakat yang cenderung pada pandangan-pandangan logika material dan logika keagamaan akan berbeda. Perbedaan cara pandang ini akan melahirkan perbedaan budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Setiap negara punya cara pandang dan budaya yang berbeda. Setiap negara berdaulat untuk menentukan nasibnya sendiri. 

Bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat dengan dasar ideologi ketuhanan yang maha esa, akan sangat sulit menerima kehadiran kaum LGBT. Di era informasi ini, setiap orang harus terus berdialog, saling memahami budaya setiap bangsa dan negara, agar masing-masing bisa menempatkan diri dimana kita berada. ***

Saturday, March 18, 2023

LOGIKA ADALAH PEMBENTUK KARAKTER

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Supaya mudah, pengertian logika saya artikan dengan definisi berpikir sebab akibat. Berpikir sebab akibat sangat sederhana, contohnya saya makan karena lapar. Saya pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Cara berpikir atau belogika paling dasar adalah berpikir sebab akibat. Semua yang dilakukan orang berdasarkan perintah otak dengan pola sebab akibat. 

Penyebab berpikir sebab akibat menjadi kompleks tergantung pada pembendaharaan pengetahuan. Perbedaan perbendaharaan pengetahuan seseorang, menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat. Untuk menguji kebenaran pendapat didukung oleh beberapa faktor yang memengaruhinya. Pertama, kebenaran didukung oleh fakta primer dan variasi jumlahnya. Kedua, kebenaran didukung oleh otoritas, orang atau lembaga yang disepakati memiliki kewenangan. Ketiga, jumlah pendukung argumen yang banyak.  

Pengajaran karakter sumber dasarnya adalah pengetahuan. Logika-logika yang dibangun pada pendidikan karakter adalah tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan etika, moral, dan  nilai, bersumber dari pengetahuan dari kitab suci, buku, tokoh, dan otoritas yang punya kredibilitas tinggi, dan pengalaman. 

Pengajaran pendidikan karakter biasanya dilakukan dengan cara pembiasaan. Namun demikian, perubahan karakter yang kelak terjadi bukan dilihat dari kebiasaan berprilaku sehari-hari, tapi terletak pada pembentuk pola pikir yang dibentuk di otak. Secara kasat mata, siswa melakukan hal baik secara berulang-ulang, tapi sesungguhnya siswa sedang membentuk pola tindak yang ada dalam otak. Para ahli neurologi mengatakan bahwa tindakan yang diulang-ulang, di dalam otak akan membentuk seperti jalan setapak yang sering dilalui.  

Jadi pembentukkan karakter yang sebenarnya bukan pada pembiasaan prilaku sehari-hari semata, tetapi pembentukan pola pikir di dalam otak. Siswa yang setiap hari disiplin tepat waktu, disiplin melaksanakan ritual doa, di dalam otaknya akan terbentuk pola pikir didukung berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang dia dapatkan dari pengalaman yang dia lakukan. Jika pengalaman buruk yang dia dapatkan, maka kebiasaan disiplin akan bersifat sementara. Sebaliknya jika pengalaman baik yang dia dapatkan selama berprilaku disiplin, maka prilaku disiplin akan bertahan lama. 

Oleh karena itu, pendidikan karakter bukan sebatas membiasakan siswa berpilaku baik, tetapi mereka harus bisa tahu dan merasakan jika berprilaku baik dampaknya memang diketahui dan dirasakan hidup menjadi lebih baik. Metode pendidikan karakter sebaiknya menggunakan pendekatan komprehensif, dimana dalam pembelajaran harus menyentuh tiga ranah yaitu psikomotor, afektif, dan kognitif. 

Pendidikan karakter baiknya dilakukan dari psikomotor lebih dulu, yaitu membimbing siswa untuk melakukan prilaku baik. Selanjutnya, bimbing siswa untuk menemukan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau pun menyedihkan (afektif) setelah melakukan prilaku-prilaku baik. Setiap temuan-temuan menyenangkan dan menyedihkan dari pengalaman, harus dicatatkan dalam catatan harian. 

Dalam jangka yang sudah ditentukan, siswa dibimbing untuk melakukan analisis pengalamannya, dan harus bisa mengambil kesimpulan. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan, guru memberi pengetahuan tentang hal-hal positif dari prilaku baik yang dilakukan siswa. Pada ranah kognitif, guru harus menyajikan bacaan yang memberi tahu bahwa prilaku positif yang dilakukan akan berdampak baik dengan menghadirkan contoh-contoh, misalnya dari tokoh-tokoh sukses dari berbagai bidang. 

Untuk pembentukkan karakter pada domain koginitif, siswa perlu diberi panduan-panduan berlogika pembentuk karakter. Berikut ada beberapa pola logika pembentuk karakter yang dapat menjadi pedoman mengapa siswa harus melaksanakan program pendidikan karakter yang telah ditentukan prilakunya. 

Pola dasar berlogika yang harus dipahami adalah kebaikan dan kejahatan tidak bercampur. Polanya, kebaikan selalu berakibat kebaikan, dan kejahatan berakibat kejahatan. Pada tataran empiris atau fakta lapangan, bisa terjadi perbedaan pandangan yaitu tidak selalu yang baik berbalas kebaikan. Hal ini tidak dapat dipandang sebagai kebenaran karena dalam tataran empiris hidup manusia berada dalam proses. Kebaikan sesungguhnya ada pada pola pikir, bukan pada tataran empiris. Pada tataran pola pikir, kebenaran pada akhirnya ada di dunia imajinasi yang kelak akan jadi kenyataan. Kenyataan akhir dari hukum kebaikan berbalas kebaikan ada di kehidupan setelah kematian. 

Bagi orang-orang yang tidak percaya kehidupan setelah kematian mungkin tidak menerima kebaikan berbalas kebaikan ada dikehidupan setelah kematian. Namun demikian, pendapat mereka yang tidak percaya hari kemudian tidak dapat dipertanggungjawabkan karena sama-sama tidak bisa membuktikan bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada kehidupan. Sebagai bangsa berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. 

Logika pasti bagi pembentuk karakter adalah kebaikan akan berbalas kebaikan, dan kejahatan akan bebalas kejahatan. Logika pasti ini merupakan logika pembentuk karakter mutlak karena setelah kematian akan ada kehidupan. Jadi pendidikan agama yang mengarah pada pengajaran etika, moral, dan nilai hidup menjadi sumber ajaran pembentukkan karakter.***



Sunday, February 12, 2023

Hak Cipta Logika Tuhan

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan adalah ilmu berpikir yang bersumber pada Al Quran. Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. telah mendaftarkan hak cipta sebagai kekayaan intelektual. 

Pada tanggal 10 Februari 2023 untuk pertama kali diumumkan di wilayah Indonesia dan di luar wilayah Indonesia. Hak cipta Logika Tuhan sebagai bukti karya produktif dari dunia pendidikan. Di era sekarang bisa jadi, kualitas sekolah ditentukan dengan banyaknya hak cipta yang dihasilkan dari sekolah.

Proyek-proyek pembelajaran kolaboratif di sekolah yang ujungnya adalah produk-produk pendidikan, berupa buku, karya seni, teknologi, bisa didaftarkan hak ciptanya atas nama pribadi atau lembaga. 

Hak cipta berlaku selama hidup pencipta, dan berlaku selama 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia, terhitung pada tanggal Januari tahun berikutnya. Arti hak cipta bisa jadi kekayaan yang ketika meninggal bisa diwariskan atau dibibahkan untuk kepentingan kemanusiaan. 

Perihal istilah Logika Tuhan banyak khalayak umum menanyakan dan menyimpulkan sendiri pengertian Logika Tuhan. Terminologi Logika Tuhan dipilih karena sumber berpikir dari Al Quran. Hukum-hukum yang ada dalam Al Quran sangat luas. Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. Maka logika-logika yang dapat diungkap dari Al Quran, adalah logika petunjuk dari Allah. 

Ada juga yang bertanya, "kenapa tidak diberi nama logika Al Quran?" Di dalam Al Quran perintah berpikir berujung pada mengakui keesaan Allah. Berpikir di dalam Al Quran sebuah perintah dari Allah, untuk mengenal Tuhan. Allah memperingatkan bahwa seluruh yang terjadi di alam semesta berada di atas kehendak Allah. 

Logika Tuhan diperkenalkan bertujuan agar orang pikirannya selalu tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa. Jika diberi nama logika selain Tuhan, dikhawatirkan orang akan tergiring ketauhidannya kepada selain Tuhan. Berpikir terlepas dari Tuhan, inilah penyebab munculnya tuhan-tuhan selain Allah. 

Mengapa tidak diberi nama logika Allah? Pertanyaan ini juga sering muncul. Di dalam Al Quran Allah memperkenalkan dirinya dengan banyak nama. Salah satunya adalah Tuhan. "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," (Al Fatihah, 1:2). Logika Tuhan dipilih untuk membumikan Al Quran di alam semesta. Logika yang berlaku pada seluruh kehidupan manusia. 

Dalam terminologi Logika Tuhan terdapat makna bahwa hanya satu-satu sumber logika yang diajarkan kepada seluruh manusia yaitu logika dari Tuhan Semesta Alam. Kebebasan berpikir adalah kehendak bebas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak lepas dari segala dalam kehendak Allah. 

Ketika berbicara Logika Tuhan maka ingatan orang akan langsung kepada sang pencipta alam yaitu Allah swt Tuhan Semesta Alam. Jadi ilmu Logika Tuhan mengandung ilmu ketauhidan, ilmu yang mengagungkan dan mengesakan Tuhan.

Logika Tuhan tidak memosisikan orang yang menggunakannya menjadi Tuhan, tetapi sebagai makhluk bodoh yang menggunakan cara berpikir dari petunjuk Allah, bersumber pada Al Quran. Allah maha mengetahuai rahasia di langit dan di bumi, maka segala sesuatu tidak lepas dari pengetahuan Allah. 

Bagi siapa yang mengklaim menggunakan Logika Tuhan, dia harus mampu menunjukkan rujukan ayatnya dari Al Quran. Hak Cipta bukan pemilik, tetapi sebagai tanggung jawab moral yang harus menjelaskan makna Logika Tuhan agar tidak disalahgunakan. 

Sebagai pemilik hak cipta, memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan terminologi, tujuan, manfaat, dan mampu mengajarkannya. Melalui hak cipta ini, tidak boleh seseorang memberi arti makna sendiri-sendiri tentang Logika Tuhan berdasarkan pemahaman sendiri, harus melakukan konfirmasi kepada pemilik hak ciptanya.***

 

Saturday, January 28, 2023

MANUSIA BERTAKWA TERNYATA MANUSIA BERKELAS DUNIA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Terminologi takwa yang sering dijelaskan para pemikir (ulama) terdahulu jika disimak terlalu umum. Takwa di definisikan sebagai prilaku menjauhi larangan Allah dan melaksanakan segala perintah Allah". Definisi ini tidak secara substansial menyebutkan larangan yang mana dan perintah yang mana. Bertaburan pemikiran dan pendapat tentang mana yang dilarang dan mana yang diperintahkan Allah. Perlu dijelaskn secara sumbstansial apa yang dimaknsud dengan takwa. 

Sementara Allah mengukur kualitas manusia dari ketakwaannya. Dunia pendidikan harus meneliti secara didaktif apa makna dasar dari takwa. Secara etimologi takwa adalah "menjaga diri dari segala yang membahayakan atau membawa kerusakkan". Untuk kepentingan dunia pendidikan, prilaku bertakwa kepada Tuhan mana yang perlu diupayakan agar ketakwaan tetap terpelihara. 

Dibutuhkan pengetahuan tentang sifat-sifat dasar manusia yang mana yang perlu mendapat porsi perhatian lebih agar manusia tetap bertakwa kepada Tuhan. Pengetahuan manusia sangat terbatas, dan akan merasa kesulitan jika semua perintah Allah harus diingatnya dan dilaksanakan. Tentunya Allah memberi pengetahuan tentang sifat-sifat mana yang harus terpelihara dari diri manusia agar manusia tetap bertakwa. 

Manusia bertakwa ternyata manusia berkelas dunia,
yang menjaga keyakinan pada Tuhan dan menjaga kekeluargaan antar umat manusia.

"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa". (Al Baqarah, 2:63).

Menurut penulis ada dua point penting yang harus dijaga agar manusia tetap bertakwa. Dua point penting ini dapat dilihat dari praktek dalam kehidupan nyata. Ketakwaan bukan hanya ukuran dalam pikiran dan hati, tetapi harus terlihat pada dimensi faktual. 

Pertama, "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa" (Thahaa, 20:132).

Shalat memiliki dua dimensi yaitu ritual dan faktual. Sekurang-kurangnya ketakwaaan manusia pada Tuhan yaitu dengan melaksanakan shalat dalam bentuk ritual, beridir, ruku, dan sujud. Ritual shalat jika kita konversi pada materi, merupakan wujud ketakwaan paling mudah karena tidak menuntut pengorbanan materi. Ritual shalat adalah bukti kemurahan Tuhan kepada manusia jika ingin dipandang sebagai manusia bertakwa. 

Dunia pendidikan, minimal harus mengajarkan bagaimana caranya ritual shalat agar tetap dilakukan oleh siswa. Ritual shalat adalah benteng ketakwaan siswa kepada Tuhan. Di level SLTA Ritual shalat adalah kegiatan melatih mental siswa untuk selalu berharap pada Tuhan Yang Ghaib Yang Kekal Abadi. Harapan yang digantungkan pada yang Kekal Abadi, akan melahirkan karakter-karakter manusia tangguh, optimis tanpa batas.

Kedua, ukuran praktek dari manusia-manusia bertakwa adalah bersikap dermawan, dibuktikan dengan kepemilikan suka menolong dalam kebaikan dan cenderung pada hidup damai dalam suasana kekeluargaan. Kesejahteraan umat manusia dapat terjadi jika antar golongan, suku, bangsa, dan negara, saling membantu. 

Menjaga hubungan kekeluargaan tidak diukur dari geneologis sebatas tujuh turunan, tetapi Allah menghendaki menjaga kekeluargaan antar sesama umat manusia. Dalam dimensi hubungan antar bangsa, Al Quran memberi informasi lebih general dalam hubungan kekeluargaan universal yaitu hubungan antar bangsa. Informasinya bisa diidentifikasi dari ayat di bawah:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (Anisaa, 4:1).

Awal kata dari ayat ini, Allah menyeru pada manusia. Hal ini menandakan bahwa seruan menjaga kekeluargaan bersifat universal kepada umat manusia. Al Quran jika dijadikan rujukan berpikir, mengajak manusia-manusia general, inklusif, untuk kemanusiaan. Kualitas orang-orang bertakwa ternyata manusia berkelas dunia yang bisa menjadi berkat rezeki bagi umat manusia.*** 




Friday, January 27, 2023

SIFAT DASAR MANUSIA PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Adam dijadikan oleh Allah sebagai makhluk pembelajar sepanjang hayat. Kata pembelajar sepanjang hayat telah dikemukakan para ahli pendidikan. Pada artikel ini, penulis hanya ingin mempertegas kembali dari mana dasar filosofi kalimat belajar sepanjang hayat berasal. 

"Tokoh yang mempopulerkan Belajar Sepanjang Hayat atau Life Long Education adalah John Dewey. Dewey mengatakan, "life long education is in unility in all life". Selanjutnya Paul Lengrand  mempopulerkannya dengan  menulis buku berjudul, "Introduction to Life Long Education". Selanjutnya UNESCO mengampanyekannya ke seluruh dunia (Yusuf, 2012).

Tulisan ini hanya ingin menambahkan wawasan alternatif pembaca bahwa konsep belajar sepanjang hayat, bersumber pada penjelasan dalam Al Quran. Penjelasannya bisa disimak pada saat Allah berkehendak menjadikan khalifah di muka bumi, yaitu Adam. Malaikat berpendapat bahwa makhluk yang akan dijadikan khalifah oleh Allah adalah makhluk yang senantiasa berbuat kerusakan.

Pendidikan adalah upaya menjaga, membimbing, memelihara, menuntun, peserta didik
agar menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat.

Lalu Allah menjelaskan bahwa makhluk yang akan dijadikan khalifah di muka bumi ini telah diberi kemampuan oleh Allah sebagai makhluk pembelajar sepanjang hayat. "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (Albaqarah, 2:31). 

Kata "mengajarkan nama-nama seluruhnya" atau "wa'allama adamal asmaa a'kulaha" adalah penerangan Allah pada sifat Adam. Keterangan Allah mengajarkan nama-nama seluruhnya kepada Adam, dapat ditafsir sebagai kehendak Allah yang tidak berkesudahan. Selama anak-anak Adam ada, maka Allah konsisten senantiasa mengajari Adam. Pada faktanya manusia dari tahun ke tahun, abad ke abad terus belajar menemukan pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan masalah hidupnya.

Atas dasar kemampuannya sebagai makhluk pembelajar, manusia selalu terus berubah dalam hidupnya. Dimanapun, kapanpun, manusia pada hakikatnya belajar. Di keluarga, di masyarakat, di sekolah, dimanapun manusia, dia belajar dari pengalaman hidupnya. Hakikatnya Allah sudah memberi potensi pembelajar sepanjang hayat kepada manusia sejak awal dicijadikannya Adam. 

Manusia sebagai makhluk pembelajar dalam hidupnya pasti terus mengalami perubahan. Perubahan dapat dilihat dari penemuan-penemuan teknologi yang digunakan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jadi bukan karena faktor sosiologi, ekonomi, budaya, atau politik yang membuat manusia belajar sepanjang hayat, tetapi karena manusia sudah memiliki sifat dasar sebagai pembelajar sepanjang hayat.  

Dengan memahami sifat dasar manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat, maka dunia pendidikan adalah dunia spiritual tinggi. Manusia-manusia pengajar adalah manusia utusan Allah, yang tugasnya menyampaikan kebenaran-kebenaran dari Allah. Tugas pengajaran, disampaikan kepada para Nabi dan Rasul kemudian diteruskan oleh para pengajar menyebar ke seluruh dunia. Untuk itulah para pengajar, ilmuwan, ulama, adalah pewaris Nabi yang bertugas menjaga agar manusia tetap menjadi sosok pembelajar sepanjang hayat.

Dengan demikian, esensi dari pendidikan adalah menjaga sifat dasar manusia sebagai makhluk pembelajar sepanjang hayat tetap terpelihara. Sebab dalam diri manusia ada sifat-sifat berlawanan dengan sifat pembelajar yaitu perusak dan penumpah darah. Sifat-sifat pembelajar sepanjang hayat dapat dilihat dari terpeliharanya budaya membaca di masyarakat. "Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Al Alaq, 96:1). Membaca atas nama Tuhan, jauh lebih bermoral dari pada sekedar membaca dengan nama Tuhan. 

Esensi dari pendidikan yang tidak boleh ditinggalkan adalah memelihara kesadaran manusia tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia sangat cerdas dalam membuat ideologi negara. Para pendiri bangsa Indonesia menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara yang pertama. Pancasila adalah dasar filosofi negara yang dilandasi dari pemikiran Al Quran. 

Fazlur Rahman (dalam Yusuf, 2012) mengatakan pusat kepribadian manusia adalah takwa. Sesuai dengan informasi dari Al Qur'an, "...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat, 49:13). 

Jadi esensi pengajaran berpusat pada menjaga ketakwaan manusia agar tetap berpegang teguh pada  kepada pengajaran Tuhan menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat. Bidang-bidang ilmu yang ditemukan manusia, bukan sekedar untuk menyelesaikan permasalahan hidup, tetapi harus tetap dibarengi dengan menemukan kebesaran-kebesaran Tuhan Yang Maha Mengetahui rahasia langit dan bumi, agar sifat-sifat takwa atau pembelajar sepanjang hayat tetap terpelihara. 

Jadi, pendidikan adalah upaya menjaga, membimbing, memelihara, menuntun, peserta didik agar menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat, dengan terus membuktikan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Tuhan yang bertebaran di alam semesta. Manusia, pembelajar sepanjang hayat adalah sebaik-baiknya manusia dihadapan Allah.***


Sunday, January 22, 2023

Amazing Pengaruh Bacaan Al Quran Pada Murid...

Oleh: Toto Suharya

Di SMAN 15 Bandung, telah dikembangkan program pendidikan karakter religius. Program shalat dhuha 12 rakaat dilakukan telah genap satu tahun setiap hari, mulai jam 6.45 sampai 7.25 pagi.

Sebelum shalat dhuha 12 rakaat, guru dan siswa bergantian membacakan ayat suci Al Quran. Surah Al Waqiah setiap hari mengalun diperdengarkan pada siswa. 

Setiap hari sound system di Gedung Hanggar Harapan, suara alunan ayat suci Al Quran menggema memenuhi ruangan Hanggar Harapan. 

Siswa-siswa berdatangan dan duduk mendengarkan alunan ayat-ayat suci Al Quran. Aktivitas ini berjalan setiap hari tanpa ada hari terlewatkan. Mengapa ini dilakukan, berikut penjelasannya.

Dikutif dari Jurnal Psymphatic karya Very Julianto dkk. 2014, dijelaskan hasil riset tentang memperdengarkan bacaan Al Quran dan efeknya terhadap psikologi yang mendengarkan.

Penelitian Julianto, dkk. (2014) menemukan bahwa mendengarkan murotal Al Quran dapat tingkatkan konsentrasi. Kajian ilmiah ini bisa menjadi dasar program dikembangkan.

Dr. Al Qadhi (Syakir, 2014), melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan, isi ayat Al Quran.

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. 7:204)”.

Hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Quran, baik mereka yang bisa berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan psikologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya.

Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Dari hasil uji cobaannya ia berkesimpulan, bacaan Al Quran berpengaruh besar hingga 97% dapat melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Setidaknya inilah alasan mengapa membaca Al Quran dilakukan sebelum belajar.

Dalam Konferensi Kodekteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984 disebutkan, Al Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan di Boston. Hasilnya sungguh luar biasa.

Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Mereka diperdengarkan Al Quran.

Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al Quran.

Penelitian yang dilakukan se-banyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al Quran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al Quran.

Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al Quran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an(Syakir, 2014).***


Sumber Jurnal: 
Julianto, V., Dzulqaidah, R. P., & Salsabila, S. N. (2014). Pengaruh mendengarkan murattal Al Quran terhadap peningkatan kemampuan konsentrasi. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1(2), 120-129.


Saturday, December 17, 2022

DIDAKTIK DAN PEDAGOGIK GURU DARI AL QURAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Pemikiran dari tulisan ini saya gunakan sumbernya dari Al Quran. Mengapa saya lakukan? Para ilmuwan bisa mengambil kesimpulan karena mereka berhasil meyakinkan diri bahwa fakta yang mereka temukan melalui metode peneltian benar, sehingga mereka berani mengatakan apa yang dia simpulkan benar. 

Sekarang, saya akan gunakan fakta yang sudah benar tanpa melalui verifikasi dengan metode penelitian. Fakta atau konsep dari Al Quran sudah punya validitas kebenaran, dan memiliki dasar kuat untuk dijadikan argumen. Namun demikian keterbatasan pemikiran manusia membuat tafsir terhadap Al Quran menjadi beragam. 

Dari sudut pandang dunia pendidikan, Al Quran adalah sumber ide untuk pengembangan dasar-dasar teori tentang didaktik dan pedagogik. Didaktif berkaitan dengan pengetahaunnya pengetahuan, dan pedagogik berkaitan dengan cara mengajarkannya. Al Quran adalah wahyu ilahi, tidak sepadan dengan pemikiran manusia. Tetapi informasi dari Al Quran banyak perintah kepada manusia untuk memikirkan ayat-ayatnya.

Isi Al Quran ada dua yaitu yang bisa terjangkau oleh pemahaman manusia berkaitan dengan informasi-informasi lahiriah, dan yang tidak terjangkau oleh pemahaman manusia berkaitan dengan informasi batiniah. "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadiid, 57:3).

Informasi gejala lahiriah tidak bertentangan dengan gejala batiniah. Manusia diberi peluang sedikit kemampuan untuk mengungkap gejala-gejala lahiriah dan batiniah. Peluang sedikit inilah yang dimanfaatkan oleh manusia-manusia yang berani dan mau berpikir untuk mengenal siapa Tuhannya. 

Di bawah adalah teks terjemahan Digital Al Quran Versi 3.2. Inilah sedikit pengetahuan yang sedikit-sedikit bisa kita ungkap dari sudut pandang pendidikan. Lebih spesifik dalam hal ini bicara tentang  profesi guru. Ayat ini menjelaskan tentang didaktik dan pedagogik.

"Demi yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan yang menyebarkan dengan seluas-luasnya, dan yang membedakan dengan sejelas-jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi" (Al Mursalaat, 77:1-7).

Dalam terjemahan ayat ini umumnya menjelaskan tentang malaikat. Namun demikian, malaikat dalam hal ini adalah makhluk sebagai pembentuk unsur manusia yang diberitakan dalam Al Quran tunduk pada manusia mengikuti perintah Allah. Keutamaan malaikat adalah memiliki keimanan dan ketakwaan yang taat. Sebaliknya unsur manusia yang lainnya adalah iblis, yang memiliki karkter sombong dan pembangkang. Dua sifat ini adalah dalam diri manusia. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran. 

"dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syams, 91:7-10).

Jadi dari kedua unsur manusia yang fujur dan takwa, ada manusia-manusia takwa berkualitas tinggi dengan ciri-ciri berilmu tinggi dan sangat mencintai kebaikan. Selalu berusaha mengajarkan kebaikan, memiliki kemampuan membedakan dengan jelas bersumber dari wahyu. Mengajarkan bagaimana cara berargumen dan memberi nasehat dengan kepastian yang jelas. 

Manusia berkualitas tinggi yang selalu membawa misi kebaikan adalah guru. Kebaikan adalah pengetahuan-pengetahuan yang benar, mengandung keyakinan, dan bisa dibuktikan. Inilah ilmu didaktik yang dimiliki para guru, ilmu tentang pengetahun yang baik yang bisa menghasilkan argumen-argumen terbaik. Melatih kemampuan berargumen merupakan pedagogik yang harus dimiliki guru.***  



TIGA KUALITAS OTAK

OLEH: TOTO SUHARYA

Mohon dibaca tuntas. Ketika Mas Menteri Nadeim Anawar Makarim membatalkan Ujian Nasional, itulah awal dari kemerdekaan dunia pendidikan dari belenggu kejumudan dalam berpikir. Lahirnya konsep merdeka belajar, sebagai genderang dimulainnya perubahan paradigma dalam pendidikan. Tentu saja mengubah paradigma pendidikan berurusan dengan memperbaiki isi otak orang-orang. 

Kualitas isi otak dapat dibedakan dengan tiga kondisi. Pertama, otak berisi judul dan pesan singkat. Otak ini hanya diisi oleh bacaan-bacaan singkat bersumber pada judul-judul artikel, judul berita, judul buku, judul film, dan judul di pesan-pesan singkat di media sosial.   

Kedua, kualitas otak berisi bacaan tidak tuntas. Otak ini lebih jauh tidak hanya berisi judul, isi bacaannya, namun terbatas pada hal-hal yang menarik bagi dirinya. Sehingga otak ini sering salah persepsi dan baper akibat bacaannya tidak tuntas. Kritikan-kritikan yang dihasilkannya selalu memperlihat kebodohan karena kritikannya terkadang tidak relevan dengan isi bacaan yang dibacanya. 

Ketiga, kualitas otak berisi bacaan tuntas. Kualitas otak ini sangat berkelas. Otak ini tidak pernah gagal paham, dan selalu mengedepankan literasi, verifikasi, dan konfirmasi. Kritikan-kritikan yang dihasilkan otak ini, bersumber pada argumen-argumen yang kebenaran argumennya benar, meyakinkan, dan bisa dijastifikasi. 

Ketiga kualitas otak ini ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Otak pembaca judul dia tidak bisa bertahan lama belajar, konsentrasinya hanya menitan. Bawaannya cepat bosan, dan jika diberi pekerjaan tidak sampai tuntas, dan cenderung mencari kesenangan untuk dirinya. Semua sudut pandang untuk kesenangan dirinya dengan argumen dari judul-judul yang dia kumpulkan. Sifat emosionalnya mudah terungkap dari bahasa tubuhnya yang tidak bisa rilek ketika komunikasi dengan otak lain. Otak pembaca judul mudah sekali terprivokasi, karena terlalu cepat mengambil keputusan.

Otak pembaca tidak tuntas, selalu kritis menanggapi pemikiran otak lain, namun tidak pernah cukup argumen untuk mempertanggung jawabkan kritikannya. Pandangannya nampak objektif, tapi sayang argumen yang dibangunnya berangkat dari kesalahpahaman. Otak kritisnya tidak bertahan lama karena selalu kehabisan argumen. Perubahan ditanggapinya sebatas nama tanpa memahami secara teknis apa yang harus dan bisa dilakukan. Otak pembaca tuntas cenderung kurang toleran pada perbedaan. Rasa ingin tahunya hanya sebatas menguji dan setelah itu meninggalkannya. 

Otak pembaca tuntas, kekritisannya muncul dari rasa ingin tahu pada hal-hal unik berbau prubahan. Konsentrasinya bisa bertahan dalam durasi panjang. Otak pembaca tuntas tertarik pada konsep-konsep perubahan dan berusaha diskusi untuk memahami sampai pada tataran teknis apa yang harus dan bisa dilakukannya. Otak pembaca tuntas, emosinya lebih stabil, dia selalu menjaga marwahnya untuk tidak membenci dan menyalahkan otak lain. 

Pendidikan adalah soal isi otak, apakah dia berisi penuh, setengan penuh, atau tidak penuh-penuh. Otak pembaca judul otaknya selalu penuh. Ruang otaknya menjadi sempit karena selalu terasa penuh akibat terlalu banyak membaca judul. Orang pembaca setengah, otaknya selalu berisi setengah tak pernah penuh. Bagi otak ini, pengetahuan yang dibutuhkannya hanya untuk mengkritik. Bagi otak pembaca tuntas, dia selalu memenuhi seluruh ruang otaknya, namun tidak pernah penuh-penuh. Otak pembaca tuntas mereka selalu menyadari, "semakin banyak tahu, semakin tahu, lebih banyak tidak tahu". Karakter otak pembaca tuntas, tidak pernah melupakan dirinya untuk terus berefleksi diri.*** 


Wednesday, November 2, 2022

SEBAB PENDIDIKAN MEMBUAT MISKIN

Oleh: Toto Suharya

Tujuan pendidikan adalah membantu siswa mencapai kehidupan sejahtera dan bahagia (Ki Hadjar Dewantara). Pemikiran Ki Hadjar Dewantara jika ditelusuri sesungguhnya mengandung nilai-nilai Al Qur'an. Di dalam ayat-ayat Al Qur'an banyak kita temukan tujuan dari manusia diberi petunjuk oleh Allah melalui para utusan untuk mendapatkan keberuntungan dan kebahagian hidup.

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (Ali Imran, 3:104) 

Isi pendidikan konsep dasarnya adalah "menyeru pada kebajikan" dan "mencegah kemunkaran".  Konsep kebajikan di dalam Al Qur'an dijelaskan bersamaan dengan "kerelaan hati" dan "berserah diri". Konsep ini dapat diteliti dalam surat  Al Baqarah ayat 112 dan 158. 

(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah, 2:112)

"Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." (Al Baqarah, 2:158).

Pendidikan adalah upaya sengaja agar peserta didik bisa berprilaku mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dalam Al Qur'an dengan berserah diri pada Allah dan dengan kerelaan hati.

Konsep general dari prilaku-prilaku nyata yang harus dilakukan dengan kerelaan hati dan berserah diri pada Allah dijelaskan dalam Al Qur'an. 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah, 2:177).

Konsep kebijakan dijelaskan dalam Al Qur'an dalam dua dimensi yaitu spiritual (ruhaniah) dan faktual (lahiriah). Jelas sekali bahwa Al Qur'an memberi petunjuk pada manusia agar bisa hidup bahagia dan sejahtera secara lahiriah dan ruhaniah. Nabi Muhammad bersabda bahwa setiap ayat Al Qur'an punya "lahir dan batin". (Lings, 2022 hlm. 38)

Di dalam hadis dijelaskan, Nabi Muhammad diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak (karakter). Dengan demikian pembentukkan akhlak memiliki dua dimensi yaitu ruhaniah dan lahiriah. Pendidikan dalam dimensi ruhaniah adalah melatih pola pikir peserta didik agar mau beriman kepada Allah, para utusan-Nya, dan kitab-kitab petunjuk-Nya. 

Pada dimensi lahiriah pendidikan berisi perintah (menyuruh) peserta didik untuk berbuat baik dengan harta yang dimilikinya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan membebaskan manusia dari penindasan. Komitmen ini dilakukan dengan shalat, zakat, menepati janji, dan sabar. 

Konsep-konsep pendidikan di atas tidak bersifat ekslusif untuk sekelompok umat tertentu, tetapi bersifat general untuk umat manusia. Konsep-konsep pendidikan dalam Al Qur'an dapat dikembangkan dalam muatan kurikulum dengan penjelasan konsep sesuai dengan bahasa dan budaya masyarakat dimana mereka tinggal. 

Pendidikan yang membuat miskin selama ini diawali dari pendangkalan dari tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tertutupi oleh kegiatan-kegiatan lahiriah tanpa didukung oleh pembentukan karakter secara ruhaniah. Selama ini sifat-sifat ilahiah pendidikan untuk membentuk manusia-manusia rela dan berserah diri pada Allah dalam melakukan segala perbuatan terabaikan. Sifat ilahiah pendidikan tergeser, sehingga melahirkan manusia-manusia berkepentingan dan individualis dalam melakukan berbagai hal. 

Dunia pendidikan jadi miskin, tidak melahirkan manusia-manusia penyejahtera bagi kehidupan masyarakat. Pendidikan karakter hanya dibentuk dalam bentuk pembiasaan, sementara ruhaniahnya kering dengan makna. Pembiasaan dalam pendidikan karkater dirasakan siswa seperti penjajahan, pemakasaan, dan tidak menarik minat. 

Disadari saat ini kita berada di awal abad 21, dimana setiap awal abad dunia seperti melakukan refleksi. Konsep-konsep pendidikan yang dianggap mapan di abad sebelumnya, secara alamiah menuntut kita untuk melakukan refleksi, verifikasi, dan redefinisi. Hal ini merupakan gejala alamiah yang kerap terjadi dalam siklus seratus tahunan. Sebagaimana dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tuhan akan mengutus kepada umat ini di awal setiap seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agama-Nya untuk Nya. (HR. Thabrani). Wallahu'alam*** 




Saturday, October 22, 2022

DUNIA PENDIDIKAN ADALAH PASAR IDE

Oleh: Toto Suharya

Jika dalam soal evaluasi pembelajaran guru masih bertanya, "apa yang dimaksud saham?". Dapat dipastikan guru tersebut belum memahami perubahan paradigma pendidikan. Perubahan paradigma pendidikan bukan karena ganti menteri ganti kurikulum, tetapi menjadi sebuah konsekuensi karena telah terjadi perubahan cara atau budaya hidup masyarakat di zaman sekarang. 

Teori determinisne sejarah meyakini bahwa perubahan yang terjadi saat ini karena pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ingat dulu, ketika belum ada komputer, jasa pengetikkan naskah skripsi, tesis, disertasi, berjejer di sepanjang jalan Dipatiukur. Mereka mengetik dengan kecepatan sebelas jari. Namun ketika komputer sudah dikenal masyarakat, maka jasa pengetikan pakai mesin ketik terdisrupsi, berubah menjadi jasa rental komputer. Itulah gambaran bagaimana teknologi mengubah budaya hidup masyarakat.

Sekolah Adalah Pasar Ide Untuk Mendorong Siswa Berani Mencipta

Dunia pendidikan tidak bisa berdiam diri pada situasi lama, karena yang kita didik adalah siswa yang akan hidup di masa depan. Perkembangan teknologi informasi semakin cepat dengan mudahnya akses internet dan tersedianya berbagai macam aplikasi. Sekarang berbagai macam aspek kehidupan terus dikoneksikan dengan internet dengan kreativitas produk aplikasi. 

Akibat dari perkembangan internet dan terkoneksinya berbagai aktivitas kehidupan dengan internet, maka terjadi perubahan cara hidup. Main game dulu identik dengan pemalas, sekarang berubah 180 derajat bisa menjadi profesi. Bermain media sosial dulu identik dengan kegiatan narsis, hiburan, sekarang menjadi pekerjaan dan menjanjikan. Dahulu ilmu pengetahuan dan keterampilan milik orang-orang yang belajar di sekolah, sekarang semua orang bisa belajar kapan saja. Dahulu orang yang setiap harinya hanya tinggal di rumah, dianggap tidak punya pekerjaan, sekarang orang bisa bekerja tetapi tiap hari tinggal di rumah.  

Hal ini sudah terjadi, lalu apa peran pendidikan saat ini? Inilah fenomena-fenomena yang harus dipahami para pendidik. Dunia pendidikan sekarang bukan tempatnya lagi anak-anak menggali pengetahuan. Dunia pendidikan sekarang menjadi pasar ide dan menawarkan berbagai macam keterampilan hidup. Para pendidik harus cepat tanggap membaca berbagai peluang dari perubahan yang sedang terjadi. 

Salah satu keterampilan hidup yang paling mendasar adalah keterampilan berpikir. Keterampilan berpikir harus dilatihkan bukan dengan menghitung angka dengan rumus-rumus.  Keterampilan berpikir dilatih dengan memperkenalkan materi esensial, penting, dan kontekstual. Untuk menemukan ide materi esensial, penting, dan kontekstual, pendidik butuh literasi dan peduli pada perubahan sosial yang terjadi. 

Sekarang, determinisme teknologi informasi telah mendisruspi budaya lama dan hadirnya budaya baru, harus terus dicermati para pendidik. Kodrat zaman saat ini harus dibaca dengan cermat oleh pendidik. Ide-ide baru akibat perubahan teknologi informasi harus cepat diperkenalkan pada siswa. Ide konsep teknologi sebagai alat komunikasi harus diperkenalkan sebagai alat produksi. Diperkenalkan dengan menyajikan data-data dari sumber-sumber terpercaya, kemudian disajikan kepada siswa untuk dianalisis, diinterpretasi, dan diintegrasikan menjadi sebuah pemahaman. Setelah memahami, siswa harus bisa menemukan solusi, sebagai dasar untuk mengambil keputusan apa yang harus dilakukannya.

Tahun 1994 saat penulis usia SMA, main game dianggap pemalas. Saat ini persepsi pemain game pemalas harus berubah. Dalam satu rumah, ada sekitar empat orang terlihat hanya bermain game. Mereka ada yang sudah punya istri. Lalu istrinya berprasangka, suaminya telah jadi pemalas. Setelah suaminya menyetorkan uang Rp. 150.000 per hari mulai terjadi keanehan. Sang istri setiap pagi menyuruh suaminya bangun dan cepat-cepat main game. Ternyata bermain game telah bergeser bukan hanya sebatas hobi dan hiburan, tapi jadi pekerjaan. Padahal kerjanya setiap hari hanya duduk di depan monitor, tidak pergi ke mana-mana. Kerjanya pun mengikuti ship yang telah ditentukan. 

Ide bermain game sebagai pekerjaan harus dibongkar, ditawarkan kepada siswa sebagai isu dalam pembelajaran, "mengapa bermain game bisa jadi pekerjaan? Bagaimana bisa terjadi?" Data-data disajikan oleh pendidik kepada siswa untuk diolah supaya dipahami dan diberi kesimpulan. Begitulah cara guru mamasarkan ide-ide baru untuk memantik ide-ide baru dari siswa setelah memahami fenomena apa yang sedang terjadi.   

Seorang siswa, tiap pulang sekolah terus terlihat mengoperasikan smartphone nya. Awalnya dia hanya melihat, lalu dengan keberaniannya dia mencoba mendownload sebuah aplikasi. Hobinya dibidang seni telah mendorong dia menekuni sebuah aplikasi untuk membuat konten musik-musik DJ kemudian di upload ke youtube. Hingga youtubenya disukai banyak orang sampai puluhan ribu pelanggan. Dalam satu bulan dia bisa menghasilkan satu sampai dua juta per bulan. Padahal dia masih status sebagai pelajar. Ide mengkompilasi musik-musik DJ tidak dia dapatkan di sekolah, tetapi hasil pengamatan dan keberanian dia sesuai dengan minat dan bakatnya. 

Jika saja para pendidik kreatif, mengait-ngaitkan kurikulum pembelajaran dengan konteks zaman, seharusnya banyak siswa merasakan manfaat dari sekolah. Inilah tantangan terbesar pendidik dalam dunia pendidikan. Bagaimana memasarkan ide-ide kreatif yang membuat siswa kreatif, bukan sebatas penghafal dan jago jawab soal-soal ujian, tetapi siswa yang mampu memahami konteks perubahan zaman. Sehingga siswa terdorong untuk mandiri, mencari, dan mempersiapkan hidupnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan zaman.***



  

Friday, September 30, 2022

MEMBENTUK PROFIL PELAJAR PANCASILA DENGAN NABUNG SAHAM

OLEH: TOTO SUHARYA

Jumlah statistik investor saham di Indonesia jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga. Dikutif  dari laman ojk.go.id jumlah investor di Indonesia pada akhir April 2022 telah mencapai 8,62 juta, meningkat 15,11% dibanding tahun 2021. Di bandingkan dengan jumlah kurang lebih 270 juta penduduk Indonesia, kita baru mencapai 0.03%. Berdasarkan informasi dari para pengamat pasar modal, jumlah ini jauh tertinggal oleh Singapura yang sudah mencapai 30% dan Amerika Serikat yang sudah mencapai 90%.

Sementara di masyarakat Indonesia dari lapisan bawah sampai atas, pengetahuan tentang investasi saham di pasar modal sangat minim. Atas dasar itu, masyarakat Indonesia sebagian besar termasuk masyarakat awam dalam mengenali pasar modal. Dalam tayangan youtube, Lo Kheng Hong sebagai investor saham sangat menyayangkan, mengapa masyarakat Indonesia tidak mengenali pasar saham di pasar modal dengan baik. Menurut Lo Kheng Hong, harta karun bukan ada di laut, atau gunung, tapi ada di pasar modal. Minyak bumi di laut, emas di dalam perut bumi, tidak bisa kita manfaatkan tanpa kita punya banyak modal. 

Kondisi masalah di atas, penulis jadikan sebuah tantangan dalam dunia pendidikan, dengan menciptakan program pembentukkan profil pelajar Pancasila melalui pengenalan ilmu nabung saham di kalangan siswa SMA. Setelah penulis pelajari sejak tahun 2019, dan terjun mendalami ilmu nabung saham di pasar modal, ternyata banyak ilmu yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan. Menyimak pendapat para ahli saham, seperti Lo Kheng Hong dan Vier Abdul Jamal, menabung saham menuntut semua kecerdasan difungsikan. Menurut Benjamin Graham dalam bukunya The Intelegent Investor, dunia saham berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi yang cenderung serakah, dan sangat menuntut kesabaran.

Berdasarkan pengamatan penulis, mengajarkan investasi saham kepada siswa seiring dengan pendidikan karakter profil pelajar Pancasila. Enam dimensi yang ada dalam profil pelajar Pancasila dapat dikembangkan dengan program menabung saham di tingkat SMA. Kemampuan bernalar kritis, kreatif, keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia, berkebhinekaan global, semangat gotong royong, dan kemandirian, menjadi karakter yang dibutuhkan bagi seorang investor saham.

Kemampuan bernalar kritis wajib dimiliki seorang investor saham. Seorang investor saham harus punya kemampuan analisis kritis terhadap aspek fundamental perusahaan, laporan keuangan, dan faktor-faktor eksternal yang memengaruhi fluktuasi pasar saham. Seorang investor dituntut kreatif untuk menemukan gaya investasi yang ingin dilakukannya, apakah menjadi seorang investor jangka panjang, pendek, atau seorang trader harian. Hal ini membutuhkan kemampuan kreatif seorang investor dalam menerapkannya. 

Seorang investor saham tidak hanya dituntut memerhatikan kebijakan politik, ekonomi, dan budaya lokal, tapi harus mengenal juga kebijakan politik, ekonomi, dan budaya global. Fluktuasi saham sangat ditentukan oleh kebijakan politik negara-negara secara internasional. Selain itu, seorang investor harus punya jiwa petarung, daya juang, dan survival tinggi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi dalam situasi sulit dan bersabar dalam kondisi ekstrim. Seorang investor butuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan sebagai pemandu dikala kondisi-kondisi sulit menerpa dunia pasar modal. 

Seorang investor dituntut punya jiwa nasionalis dan sosialis. Investasi yang ditanam di pasar modal bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi, tetapi punya nilai gotong royong mengembangkan ekonomi nasional, menghidupkan lapangan pekerjaan, serta dapat membantu para pengusaha kecil menengah dalam permodalan. Sikap kemandirian juga sangat dituntut dimiliki para investor saham. Tindakannya di pasar modal jangan semata-mata ikut-ikutan atau fear of missing out (fomo), tetapi harus berdasarkan analisis, perhitungan, dan prediksi pribadi yang mandiri. Salah satu sikap mandiri yang dewasa dan harus dimiliki investor saham adalah kedewasaan dalam mengelola uang. Itulah keterampilan hidup yang bisa didapatkan para siswa dari program nabung saham.

Langkah yang dapat dilakukan di sekolah adalah menjadikan program nabung saham sebagai program karakter profil pelajar Pancasila. Program dituangkan dalam visi, misi, dan kurikulum operasional sekolah. Sosialisasi awal dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan-kegiatan pengenalan melalui rapat-rapat sosialisi program dengan orang tua siswa, guru, dan siswa. Kerjasama dengan pihak ketiga melalui kegiatan webinar, dan workshop, dilakukan untuk memperkaya pemahaman. Mengundang ahli-ahli investasi saham dan komunitas hadir ke sekolah. Dalam kurikulum pembelajaran, investasi nabung saham, dapat diterapkan dalam kegiatan intra maupun ektrakurikuler. 

Target program ditentukan dengan capaian aksi nyata siswa dalam investasi pasar modal sebanyak 2,5%, 30% hingga 60% dari populasi jumlah siswa di sekolah. Pendekatan yang dilakukan adalah pembelajaran proyek, kolaboratif, dan personal. Hambatan-hambatan mental blok negatif tentang investasi saham dapat diantisifasi dengan menyebarluarkan artikel, tayangan youtube, dan informasi-informasi singkat di media sosial. Menampilkan duta-duta siswa yang telah investasi saham dalam kegiatan podcast ditampilkan di youtube sekolah, di share melalui wali kelas dan grup orang tua siswa.

Cita-cita besar dari program profil pelajar Pancasila melalui nabung saham adalah setelah nabung saham diperkenalkan kepada siswa, pemahaman investasi saham dapat menyebar diantara siswa, dan terus berkembang menjadi gaya hidup siswa dan masyarakat. Target besarnya adalah pada tahun 2045 saat Indonesia merdeka ke 100 tahun, jumlah investor saham Indonesia semoga bisa mendekati 30 persen dari populasi penduduk Indonesia. Hal ini akan berdampak pada kekuatan besar ekonomi negara secara global dan kedaulatan bangsa Indonesia di dunia internasional.***  

  


 

Wednesday, September 21, 2022

BEDANYA TRADING SAHAM DENGAN JUDI ONLINE

OLEH: TOTO SUHARYA

Diskusi dengan alumni yang kebetulan sudah investasi saham di pasar modal. Pembahasan diskusi fokus pada jual beli saham di pasar modal. Dari hasil pengamatan di lapangan, masyarakat masih banyak yang berprasangka bahwa invesatasi saham dikaitkan dengan judi dan haram. Mereka juga sering menyebut jual beli saham dengan main saham. Mental blok ini terjadi pada masyarakat dari berbagai kelas sosial. Sayang sekali, jual beli saham yang sudah dilegalisasi pemerintah dan ada fatwa MUI halal, masih dipersepsi judi oleh sebagian besar masyarakat. 

Padahal di tingkat SMA pelajaran saham dipelajari pada mata pelajaran ekonomi. Ditambah ada kunjungan siswa-siswa ke pasar saham di Bursa Efek Jakarta. Namun demikian persepsi masyarakat masih tetap saja bertahan dengan cerita dari mulut ke mulut bahwa jual beli saham dianggap judi. Padahal informasi di media sosial youtube, blog, insragram, dan media online sudah begitu terbuka bahwa saham adalah sebuah perdagangan. 

Dari hasil riset dari berbagai media, saham jelas berbeda dengan judi online. Perbedaan antara investor saham dengan tukang judi online bisa dilihat dari karkaternya. Investor saham sebelum investasi ada beberapa pengetahuan dasar yang harus dimiliki. Judi online modalnya tebak-tebakan, sedangkan investasi saham dibangun oleh ilmu pengetahuan. Beberapa ilmu yang harus dimiliki para investor saham yaitu ilmu tentang kemampuan membaca laporan keuangan perusahaan. Membaca faktor-faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham sepeti kebijakan politik, ekonomi, di dalam dan luar negeri. 

Para investor saham selalu membaca berita-berita terbaru tentang pertumbuhan ekonomi dan kebijakan-kebijakan psoitif untuk kesejahteraan rakyat. Para investor saham punya kebiasaan literasi tinggi. Pemikirannya rasional, selalu melakukan analisis, interpretasi, berdasarkan data dan fakta.  

Berbeda dengan tukang judi online, dia tidak punya budaya literasi. Tukang judi tidak perlu berita tentang kebijakan ekonomi dan politik. Tukang judi online tidak perlu analisis teknikal ataupun fundamental. Tukang judi online tidak paham laporan keuangan perusahaan. Cara berpikir mereka irasional, mistik, dan utopis, ingin untung dari enteng. Modal para penjudi online adalah untung-untungan berdasarkan angan-angan yang mereka miliki. Para penjudi sering mengambil keputusan dengan emosinya dan akalnya jarang berfungsi. 

Trading saham terjadi di pasar saham dengan informasi terbuka. Judi online dilakukan di pasar gelap dengan informasi tertutup. Judi online selalu mengiming-ngimingi pelakunya dengan keuntungan besar. Permainan judi online hanya sedikit gunakan otak, sekalipun digunakan otaknya untuk permainan curang, penipuan, dan merugikan orang lain. 

Logika investor saham adalah untung dan rugi, sedang logika penjudi online adalah kalah dan menang. Para investor di saat harga saham turun dituntut untuk sabar menunggu kembali pergerakan saham naik. Setiap tahun para investor akan mendapat keuntungan dari perusahan dalam bentuk dividen. Setiap pembangian deviden para investor akan diundang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Para penjudi online tidak terikat apa-apa. Setelah mereka kalah mereka tidak akan ada tunjangan, undangan rapat, atau pun bantuan dari bandar judi. Para penjudi yang kalah benar-benar akan bangkrut dan jatuh miskin. Risiko para penjudi online adalah harta kekayaan habis. Setelah jatuh miskin mereka akan jadi gembel. 

Mental seorang investor selalu belajar dan penuh perhitungan dalam bertindak. Kegagalan-kegagalan yang dialami akan jadi ilmu sebagai modal tumbuh menjadi manusia berkualitas tinggi. Kecerdasan investor bukan hanya intelegen, tetapi emosinal, dan spiritual sangat diperlukan. 

Jadi perbedaan antara investor saham dan tukang judi online bukan di otaknya. Perbedaan kontrasnya adalah isi otak tukang judi online adalah sampah dan isi otak investor saham adalah ilmu. Emosi tukang judi online dikendalikan hawa nafsu, sedangkan investor saham emosinya dikendalikan oleh akal sehat. Jelas sekali mental tukang judi dengan investor saham berbeda kontras. Namun kadang-kadang ada juga jual beli saham dengan mental tukang judi. So jadi, "syarat jadi investor saham harus terus belajar, dan jadilah pembelajar sepanjang hayat".*** 

Saturday, September 17, 2022

TIGA PROGRAM MERDEKA BELAJAR UNTUK MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Kurang lebih 20 tahun merenung. Program pendidikan apa yang bisa dipakai siswa ketika setelah lulus nanti. Setelah diperhatikan, siapa siswa yang sukses setelah berpendidikan? Pengamatan mata telanjang, pandangan umum, sukses selalu berukuran pada material. Jika sukses ukurannya material, maka sudah pasti ada siswa-siswi yang tidak sukses. Jadi untuk apa berpendidikan?

Jika ukuran sukses adalah gelar akademik, kehormatan, dan kedudukan, maka sudah pasti juga ada yang tidak punya gelar, kehormatan, dan berkedudukan di mata masyarakat. Jadi, apa tujuan pendidikan? Ukuran pandangan keduniawian memang tidak bisa dijadikan ukuran sebagai kesuksesan, kecuali oleh mereka yang sudah punya sudut pandang materialistik. Orang materialistik cara berpikirnya, "pokoknya dunia". 

Dari sudut pandang lain, kesuksesan dari pendidikan adalah ketika siswa-siswi bisa berprilaku baik. Namun ketika melihat kenyataan, ada saja orang-orang yang berpendidikan prilakunya tidak baik. Kadang prilaku baik bersifat relatif tergantung geografi dan budaya masyarakat yang ada. Jadi apa peran pendidikan?

Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah mengantarkan siswa kepada kebahagiaan setinggi-tingginya. Hal ini dapat dicapai dengan membimbing siswa merdeka belajar, dan mendiri, dan bisa mengatur dirinya sendiri. Hasilnya, ada siswa yang merasa terancam, dan merasa cemas ketika berada di lingkungan pendidikan. Artinya ada siswa-siswa yang merasa tidak bahagia ketika berada dalam lingkungan pendidikan. Jadi apa sebenarnya pendidikan? 

Bisa jadi mungkin, pendidikan adalah usaha-usaha pembimbingan kepada siswa-siswi agar mereka bisa menemukan jalan hidupnya masing-masing. Pendidikan tidak ada kaitan dengan kesuksesan, karena pendidikan adalah proses. Sarana pembelajarannya adalah kegagalan, kekecewaan, kemenangan, kebahagian, yang sifatnya sementara. Untuk itu hasil penilaian pendidikan tidak bisa jadi alat ukur baku untuk menentukan keberhasilan siswa. Hasil penilaian dari sebuah pendidikan hanya sebagai informasi. 

Pengguna informasi adalah masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan dalam berbagai bidang. Kualitas pendidikan bukan terletak pada jumlah kejuaraan yang dihasilkan, tetapi ketelitian dalam mengidentifikasi dan mengungkap kepermukaan berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi. Namun, guru sebagai pelaku pendidikan akan merasa kesulitan jika harus mengungkap semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Apalagi jika jumlah siswanya ribuan. 

Hemat penulis, ada konsep dasar yang harus diajarkan dalam dunia pendidikan. Konsep dasar ini digunakan untuk memabngkitkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Ada lima dasar pendidikan yang penulis renungkan menjadi pondasi agar siswa-siswi bisa punya kemampuan menyelesaikan masalah hidupnya hingga kelak dia bisa mandiri dan menemukan kebahagian hidupnya. 

Pertama, pendidikan harus membangun harapan siswa-siswa tetap optimis. Siapapun agamanya, apapan rasnya, dari mana pun asalnya, dan apapun warna darah keturunannya, dia harus punya harapan setelah berpendidikan. Harapan dapat dibangun jika mereka punya informasi-informasi baik di memori otaknya. Lalu siapa yang selalu memberi harapan baik? Hal-hal yang sifatnya langsung duniawi tidak dapat permanen memberi harapan. Sudah jadi pemahaman umum, pemberi harapan mutlak adalah Tuhan Yang Maha Esa. 

Untuk itu, dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, merupakan dimensi pendidikan dalam rangka membangun harapan-harapan optimis siswa-siswi. Upaya-upaya membangun harapan siswa-siswi kepada Tuhan, bukan urusan satu mata pelajaran, tetapi harus jadi gerakan bersama, meliputi seluruh keyakinan agama dan dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Program bisa dilakukan di dalam ektrakurikuler, intra dan ko kurikuler. Pada prakteknya seluruh informasi yang dikaitkan dengan Tuhan harus berisi kabar gembira. Kemampuan kritis dan kreatif yang harus dilatih dalam dimensi ketuhanan adalah membaca seluruh kejadian menjadi harapan baik dari kacamata ketuhanan. Dimensi ini ada pada dimensi keterampilan kognitif.

Keimanan dan ketakwaan berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. literasi dan numerasi merupakan prorgam yang terletak pada dimensi keiman dan ketakwaan kepada Tuhan. Literasi membaca berbagai aspek kehidupan disimpan di ketuhanan karena literasi budaya dasar orang-orang beriman dan bertakwa sehingga membawa harus menjadi tugas setiap manusia berada di atas perintah Tuhan. 

Kedua, pendidikan harus membangun tindakan-tindakan siswa-siswi ke arah yang membawa dampak baik bagi orang lain. Pembelajaran proyek dilakukan dalam koridor mencari masalah, dan membantu memecahkan masalah untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Gotong royong, kolaborasi antar suku, agama, ras, dan bangsa, dilakukan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. 

Proyek pembelajaran yang diorientasikan pada kompetensi sosial yaitu membantu menemukan dan memecahkan masalah yang akan jadi modal siswa-siswi untuk bisa berkomunikasi, berkontribusi, berkolaborasi pada kehidupan masyarakat. Apapun latar belakang agama, budaya, suku, bangsa, seseorang, mereka cenderung bisa menerima orang-orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Siswi-siswi yang terbiasa membantu dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka pasti bisa bergotong royong, berkolaborasi secara global dan cepat beradaftasi dengan berbagai macam dan lapisan masyarakat. 

Dari kompetensi sosial yang terbiasa membantu menemukan dan memecahkan masalah, siswa-siswi dapat memiliki ketermapilan hidup. Semakin terbangun karakter sosial siswa, maka berbagai keterampilan hidup akan siswa-siswi dapatkan. 

Ketiga, membangun kemandirian dengan membiasakan diri untuk berinvestasi. Kemandirian adalah kemampuan siswa-siswi utuk merencanakan kehidupan untuk dirinya di masa depan. Salah satu investasi yang perlu ditawarkan kepada siswa adalah pasar modal dan emas. Investasi di pasar modal dan emas melatih siswa punya kemampuan mengelola uang sejak dini. Kemandirian merupakan ciri kedewasaan seseorang, ditandai dengan kemampuan mengelola uang untuk investasi. 

Ketiga konsep pendidikan ini dikembangkan dari kitab Al Qur'an. "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah, 2:3). Di dalam ayat ini ada dua dimensi yang saling terikat dengan kuat yaitu dimensi ketuhanan dan sosial kemasyarakatan. 

Pada dimensi keimanan pada Tuhan, didalamnya termasuk kegiatan membaca. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah," (Al Alaq, 94:1-3).

Pada dimensi kemandirian, kegiatannya dikaitkan dengan kemampuan mengelola uang sebagai ciri dari kedewasaan seseorang. Maka program investasi emas, pasar modal dapat menjadi pilihan untuk membangun kemandirian.  "Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan." (Yusuf, 12:47). 

Itulah tiga program merdeka belajar yang akan memerdekakan hidup manusia di dunia dan akhirat. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa membimbing kita dijalan yang penuh dengan kenikmatan merdeka. Kemerdekaan adalah ketika kita punya harapan yang tidak pernah mati karena berharap kepada yang tidak pernah mati. Wallahu'alam.

Saturday, August 13, 2022

INTI PERUBAHAN PADA KURIKULUM MERDEKA

OLEH: TOTO SUHARYA

Perubahan kurikulum memang sudah layak dilakukan. Konsep Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan sekarang sebagai tanda bahwa kurikulum harus berubah. Isi dari Kurikulum Merdeka, menurut hemat penulis terletak pada konten dan metode pembelajaran untuk para siswa di kelas. 

Dari pengamatan penulis, esensi perubahan pada kurikulum merdeka sekarang ada mengubah cara pandang guru terhadap siswa. Paradigma lama, guru terlalu memandang berlebihan pada kecerdasan akademik sebagai akhir dari proses pendidikan. Sehingga hasil akhir dari evaluasi pendidikan adalah capaian nilai akademik. Nilai angka di raport, hasil ujian nasional, terlalu parsial memandang kecerdasan siswa hanya diukur dari hasil tes potensi akademik.

Pada paradigma lama sistem penerimaan siswa baru diklasifikasi berdasarkan nilai akademik. Sehingga terjadi homogenisasi sekolah berdasarkan nilai akademik rendah dan nilai akademik tinggi. Sekolah-sekolah favorit muncul berdasarkan keunggulan potensi akademik tinggi, dengan latar belakang yang sudah tersaring hanya potensi akademik tinggi. Siswa-siswa dengan potensi akademik tinggi, cenderung berlatar belakang ekonomi tinggi, dan latar belakang orang tua dengan berpendidikan.

Oleh karena itu terjadi klasifikasi sekolah berdasarkan kecerdasan akademik dan kelas ekonomi. Kondisi ini telah melahirkan perbedaan kualitas pendidikan di setiap daerah. Pelabelan sekolah favorit jumlahnya hanya sedikit dan sisanya dianggap sekolah-sekolah yang tidak berkualitas.

Dalam paradigma baru yang harus jadi kolektif memori pada guru sekarang adalah semua siswa dilahirkan cerdas. Kecerdasan siswa tidak sebatas kecerdasan akademik, tetapi berbagai kecerdasan yang sudah melekat dimiliki setiap siswa. Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara (1961) seluruh siswa sudah memiliki berbagai macam kecerdasan, mereka seperti kertas yang sudah ada tulisannya namun masih samar. Tugas para guru adalah menebalkan tulisan-tulisan yang ada pada siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Pada sistem penerimaan siswa pun, diberlakukan sistem zonasi yang tidak lagi memebda-bedakan siswa berdasarkan latar belakang kecerdasan, karena pada dasarnya semua siswa cerdas. Sekolah harus menerima berbagai latar belakang kecerdasan siswa, termasuk yang berkebutuhan khusus. Keberhasilan sekolah tidak lagi ditentukan oleh latar belakang kecerdasan siswa tetapi berdasar pada kecerdasan para guru dalam melatih dan mengembangkan bakat para siswa.

Pada pembelajaran dalam paradigma lama, guru-guru cenderung fokus pada konten materi yang terdapat dalam buku paket. Guru tidak memikirkan materi itu bermanfaat atau tidak bagi kehidupan siswa, targetnya adalah menyampaikan semua materi ajar yang ada dalam buku paket. Siswa dilatih kemampuan berpikir melalui materi ajar, tetapi kebermanfaatannya di dalam kehidupan sehari-hari materi tersebut tidak begitu berguna.

Pada  pembelajaran paradigma baru, guru-guru tidak lagi dipasung oleh materi ajar dari buku paket. Berdasarkan pada kompetensi dasar atau capaian belajar yang ada dalam kurikulum guru bisa memanfaatkan berbagai macam sumber materi ajar, untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi ajar harus dianalisis sesuai dengan kebutuhan siswa dimana dia tinggal dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam filosofi Ki Hadjar Dewantara, materi harus esensian dan berguna bagi siswa dengan memperhatikan kodrat alam dan zaman. 

Pendekatan dalam pembelajaran harus lebih banyak memperkenalkan siswa dengan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka (kontekstual). Materi ajar adalah bahan yang membantu memperjelas masalah, dan solusi bagi siswa untuk menyelesaikannya. Dalam paradigma baru, siswa mengerjakan soal matematika dengan rumus-rumus yang diperkenalkan pada siswa tidak lagi berlaku. Pengerjaan soal-soal matermati, harus dikemas dalam menyelesaikan sebuah permasalahan hidup yang dialami sehari-hari dan dibutuhkan oleh siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Teori-teori ekonomi harus dikemas menjadi cara bernaral siswa dalam menyelesaikan masalah nyata dalam kehdiupan mereka. Cara berpikir ilmiah harus menjadi cara berpikir mereka untuk mengidentifikasi dan menemukan pemecahan masalahnya. Evaluasi pembelajaran tidak lagi monoton pada tes kognitif, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji berbagai macam kompetensi yang dimiliki oleh siswa. 

Pedagogik kreatif harus menjadi acuan guru dalam mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran (Supriatna, 2020). Pedagogik kreatif menjadi kreativitas guru dalam mendiagnosis berbagai kecerdasan siswa, kemudian mengembangkan metode yang tepat dalam pembelajaran, dan mengukur dengan alat evaluasi yang mengukur kemampuan siswa sesuai bakat dan minatnya. 

Jadi, Kurikulum Merdeka membawa angin segar bagi bangsa Indonesia untuk melakukan transformasi mental agar terlahir manusia-manusia kreatif dan berdaya saing. Sesungguhnya tidak ada bangsa bodoh, kecuali mereka tidak diberi pendidikan sesuai dengan kodrat manusia. Dasgufta (2019) mengatakan kreatifitas adalah inti dari kisah sejarah hidup manusia sejak zaman para sejarah hingga sekarang. Manusia-manusia kreatif mampu beradaftasi dan memiliki kemampuan survival di segala zaman.*** 


Sumber:

Dasgupta, S. (2019) A Cognitive Historical Approach to Creativity.  Routledge.

Dewatara K.H. (1961) Bagian Pertama: Pendidikan. Percetakan Taman Siswa. 

Supriatna, N. & Maulidah, N. (2020) Pedagogi Kreatif Menumbuhkan Kreativitas dalam Pembelajaran Sejarah dan IPS. Rosdakarya. 

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...