Tuesday, May 26, 2026

KURBAN BENTUK MANUSIA UNGGUL

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Ritual kurban perlu penjelasan rasional agar bisa dipahami secara mendalam. Dari sudut pandang pendidikan, guru bisa menjelaskan makna yang terkandung dari kisah Nabi Ibrahim. Pendidikan bertujuan membangun kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi sebuah karakter. 

Di dalam Al Quran dikisahkan  Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi manusia biasa seperti kita, jika ada seorang bapak bermimpin menyembelih anaknya.

Dari kisah Nabi Ibrahim ada banyak makna yang bisa diambil, terutama bagi dunia pendidikan. Kisah Nabi Ibrahmi mengandung pelajaran bagaimana tangung jawab seorang ayah dalam mengajari, melatih dan menguji, karakter anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaafaat, 37:102). 

Dari sudut pandang pendidikan, kisah ritual kurban mengingatkan sebuah kompetensi yang harus diajarkan dan dimiliki oleh seorang anak. Ritual kurban mengingatkan seorang anak harus memiliki jiwa suka bekerjasama, kemampuan berpikir, mandiri, dan resiliensi (kesabaran). 

Jiwa suka bekerjasama dibuktikan dengan kemampuan intelektual yang bisa mengidentifikasi kebenaran dari Tuhan, mengendalikan emosi, mandiri, berani berkorban, dan sabar atau mampu bertahan dalam penderitaan.

Suka bekerjasama atau berkolaborasi menjadi kompetensi abadi wajib dimiliki manusia. Manusia unggul ditandai dengan kemampuan bekerjasama atau berkolaborasi. Manusia tidak dapat hidup tanpa berkolaborasi. 

Ebook berpikir dengan logika tuhan

Suka bekerjasama atau berkolaborasi di dukung oleh kemampuan berpikir, kemandirian, dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, dan mampu bertahan dalam penderitaan.  Kurban mengajarkan anak-anak menjadi manusia unggul. 

Di dalam dunia pendidikan wajib ada program-program yang melatih murid bekerjasama, berkolaborasi, menggunakan kemampuan inteleltual untuk menyelesaikan masalah, menemukan ide menyelesaikan masalah, membantu menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan, secara mandiri.

Karakter yang harus dimiliki anak-anak, pesan dari peristiwa Kurban adalah seorang anak harus memiliki "jiwa suka bekerjasama dan berani berkorban". Anak-anak yang berani berkorban pasti bisa bekerjasama, sebaliknya anak-anak egois pasti sulit bekerjasama.

Dunia kerja dan dunia wirausaha, membutuhkan manusia-manusia yang bisa bekerjasama bukan manusia-manusia egois. Sekolah diakhir studi, harus menguji anak-anak seberapa besar keberanian murid dalam berkorban harta yang diusahakannya sendiri? Abak diuji melalui program berkorban secara mandiri sesuai kemampuan untuk membebaskan kesulitan orang lain. Inilah karakter manusia unggul***

Friday, May 22, 2026

LOGIKA TUHAN LATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan melatih kemampuan umat manusia khususnya umat Islam bergumen dengan kitab suci Al Quran. Semua ajaran yang mengatasnamakan Islam argumennya harus dari kitab suci Al Quran. Al Quran menjadi induk dari dasar-dasar ajaran Islam. 

Setiap umat Islam wajib mengabarkan Al Quran kepada seluruh manusia. Setiap umat Islam wajib menjadikan Al Quran sebagai rujukan dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Setiap umat Islam memiliki kemampuan berpikir dengan menjadikan Al Quran sebagai argumen.

Kemampuan berargumen dengan Al Quran mengikuti pola berpikir sebab akibat (kausalitas). Kausalitas digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena di muka bumi. Pemahaman setiap orang terjadi kalau bisa memahami kausalitas dari suatu konsep atau kejadian.

Kita tidak akan bisa mengetahui siapa sosok orang beriman? Jika kita tidak tahu ciri-ciri dari orang beriman, tidak jelas apa yang harus dilakukan. Maka Al Quran bisa memberi pemahaman siapa orang beriman dengan menjelaskan melalui pola kausalitas dari hubungan dua ayat. 

Ebok belajar logika Tuhan menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (Al Anfaal, 8:2).

Untuk menjelaskan siapa orang beriman berdasarkan ayat di atas, konkritnya bisa dilihat dalam penjelasan ayat berikutnya. Inilah salah satu cara penjelasan menggunakan pola hubungan kausalitas. 

"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Al Anfaal, 8:3).

Keimanan kepada Allah menjadi sebab orang melakukan shalat dan sedekah. Jadi bisa disimpulkan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mereka mengerjakan shalat dan bersedekah. 

Dapat dipahami dalam kisah akhir hayat Nabi Muhammad, Beliau mewasiatkan shalat kepada umat sepeninggalnya. Ternyata di dalam Al Quran dijelaskan shalat menjadi ukuran pertama dari orang-orang yang benar-benar beriman diikuti dengan sedekah.

Jika kita bertanya lebih lanjut, untuk apa orang beriman ditandai dengan shalat dan sedekah? Secara kausalitas dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia". (Al Anfaal, 8:4).

Mengapa orang beriman ditandai Allah dengan shalat dan sedekah? Penjelasannya ada dalam ayat 4. Maka ayat 4 sebagai akibat dari orang beriman yang shalat dan sedekah.

Ada tiga akibat yang didapat dari orang beriman, shalat, dan sedekah, yaitu tinggi derajat, ampunan, dan rezeki. Inilah kabar gembira yang dijanjikan Allah pada orang beriman, shalat, dan sedekah. 

Kesimpulannya, iman, shalat, sedekah, menjadi prasyarat untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Kemampuan berpikir berdasar Al Quran menjadi hal penting dimiliki setiap orang beragama. Melatih kemampuan berpikir berbasis pada Al Quran menjadi pondasi penting yang harus diajarkan pada umat manusia khususnya umat Islam.***

Friday, May 15, 2026

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya. Kisah Nabi Ibrahim ketika mimpi untuk menyembelih anaknya dikisahkan di dalam Al Quran. 

Kisah Al Quran ini seperti dongeng nenek moyang, tetapi karena kisah ini dikabarkan di dalam kitab suci Al Quran, maka kisah ini bukan sekedar dongen. Al Quran mengandung banyak hikmah dan pesan moral. 

ebook memahami logika tuhan dalam beragama

Dari sudut pandang pendidikan kisah-kisah Al Quran mengandung pesan psikologi pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan setiap anak diperlakukan untuk mencapai dengan "kematangan berpikir".

Ukuran kematangan berpikir sebagai keberhasilan pendidikan idenya bisa digali dari Al Quran. Ukuran kematangan berpikir dapat digali dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail anaknya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Ash Shaaffaat, 37:102).

Nabi Ibrahim mengajak dialog meminta pendapat pada anaknya, untuk berpendapat tentang nasib dirinya. Hal yang ditanyakan bukan perkara sepele, tetapi perkara hidup dan mati dia. Nabi Ibrahim meminta akanya untuk berpikir dan kemukakan pendapat.

Prediksi Terkuat (Psiko-Kognitif) usia 13 Tahun masa awal remaja, mampu berdiskusi demokratis, berpikir abstrak, dan memiliki kemandirian ego. Pada usia ini, kematangan ditandai dengan kemampuan bersabar. Kemampuan bersabar adalah kemampuan menerima kondisi sulit sebagai kondisi yang harus dilalui dan dihadapi (resiliensi).

Ismail anaknya Nabi Ibrahim diprediksi pada awal remaja sekitar 13 tahun, diajak dialog oleh Nabi Ibrahim untuk menentukan nasibnya sendiri. Digambarkan Ismail pada usia awal remaja 13 tahun, sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri dan punya keberanian untuk berkorban untuk orang lain. 

Kurban secara psikologis membawa pesan, pada usia 13 tahun, idealnya anak-anak sudah punya kematangan berpikir, mengambil keputusan, berani berkorban, dan keyakinan kuat pada Tuhan. Berkurban bisa menjadi bagian pendidikan pada anak-anak usia 13 tahun. 

Pendidikan berbasis pada Al Quran, melatih anak-anak mampu berpikir, mandiri, mengambil keputusan, berani berkorban, dan punya keimanan kepada Tuhan, sudah terjadi sejak usia 13 tahun.***

Thursday, May 14, 2026

PESAN PENTING DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'dah, 5:27).

Benny Afwadzi (2024) dalam Jurnal Religi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjelaskan kisah dua anak Adam tertulis dalam Al Quran dan Bible dalam Kitab kejadian 4:1-26. Al-Qur’an menginginkan adanya ibrah atas cerita yang disebutkannya, akan tetapi Bible lebih pada cerita yang cenderung lebih lengkap dan kronologis.

Menurut penulis, dua kisah putra adam adalah simbolis dari dua sifat yang dimiliki manusia. Dua sifat ini diilhamkan ke dalam jiwa manusia, menjadi dua potensi yang selalu dimiliki oleh manusia. Penamaan Kabil dan Habil merupakan sebuah konsep untuk untuk membedakan sifat yang dimiliki jiwa manusia. Kabil dan Habil dalam psikologi bukan dua entitas terpisah, tapi satu kesatuan dalam jiwa manusia.

"dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).

Selama hidup manusia akan mengalami dan menghadapi konflik dalam jiwanya, jiwa fasik yang aktif, selalu mendorong manusia membunuh jiwa takwa. Jiwa fasik adalah sifat-sifat keduniawian ditandai dengan sifat ingin memiliki. 

Jiwa takwa bersifat pasif karena selalu taat pada aturan Allah, selalu berserah diri pada Allah, cenderung pada kehidupan abadi di akhirat, dan pada faktanya selalu menjadi korban dalam kehidupan dunia. Jiwa takwa berkeinginan segala sesuatu baik dilakukan karena Allah. Jiwa takwa adalah sifat keakhiratan ditandai sifat menyerah. 

Dua sifat ini bisa beprotensi menjadi baik atau buruk jika tidak pandai mengelolanya. Jiwa fasik bisa menjadi sebab konflik antar manusia, jiwa takwa bisa menjadi sebab manusia lemah karena tidak punya daya dan upaya.

Pesan penting dari kisah dua anak Adam adalah manusia harus mengupayakan adanya pendidikan, untuk mengendalikan dua sifat anak Adam yang ada pada setiap diri manusia. Adam yang berpendidikan adalah sosok yang bisa mensintesakan dua sifat yang dimilikinya jadi kebahagian hidup bukan penyesalan. Sifat aktif dan pasif yang ada pada jiwanya, harus diajari bagaimana cara menciptakan kehidupan harmonis sejahtera di dunia dan akhirat.

Pesan pentingnya pendidikan bagi dua sifat anak Adam dijelaskan di dalam Al Quran. Setelah terjadinya pembunuhnan, terhadap sifat takwa, sifat Fasik diberi pendidikan oleh Allah melalui burung Gagak.

Kemudian Allah menyuruh (Faba'atsaseekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al Maa'dah, 5:31).

Burung gagak membawa pesan bagaimana sifat aktif yang dimiliki manusia, harus berkolaborasi, bersinergi, bekerjasama, bersama sifat pasif secara seimbang agar mampu membawa, mengendalikan diri kepada pola kehidupan yang membawa dampak kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Gagak adalah lambang kemampuan bagaimana makhluk bisa belajar secara kognitif dari kejadian di alam. Gagak adalah makhluk yang bisa menggunakan segala potensi yang ada  pada dirinya dan di alam untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  

Adam adalah sosok yang mampu mengorkestrasi kemampuan yang ada pada dirinya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya dengan terus belajar dari berbagai kejadian di alam. Jika manusia terlalu dominan pada sifat-sifat aktif, manusia bisa menjadi makhluk perusak dan pembuat huru-hara di muka bumi.  Jika terlalu dominan pada sifat pasif, manusia bisa menjadi makhluk-makhluk lemah tak berdaya di muka bumi. 

Pendidikan adalah pengajaran kepada manusia supaya bisa mengendalikan dua sifat yang dimilikinya. Oleh karena itu, manusia harus mendapat pendidikan agar menjadi sosok aktif, kritis, kreatif, kolaboratif, jujur, amamah, rendah hati, berani berkorban, dan beriman kepada Tuhan. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang ada bagian dari upaya menorkestrasi, dan mengendalikan dua potensi yang dimiliki manusia, agar tidak terjadi pembunuhan pada sifat takwa.***  

Saturday, May 9, 2026

AL QURAN SEBAGAI PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Al Quran adalah paradgima berpikir dalam memandang kehidupan. Al Quran kitab suci yang diimani umat Islam. Salah satu syarat berimannya orang Islam, percaya kitab suci Al Quran wahyu dari Allah melalui Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad. Sampai saat ini, isi Al Quran diakui sebagai kitab suci otentik dari Tuhan, tidak bercampur dengan pemikiran manusia. 

Isi Al Quran adalah pengetahuan bersumber dari Allah. Perintah pertama dari seluruh isi kitab suci Al Quran adalah Bacalah (teliti, pahami, dalami)! Perintah ini diterima oleh Nabi Muhammad ketika di Gua Hira. Perintah Bacalah menjadi pesan penting bagi umat manusia bahwa memiliki pengetahuan adalah kunci untuk mengungkap rahasia kehidupan.

Al Quran sebagai paradigma berpikir secara eksplisit Allah kabarkan dalam Al Quran. "Bacalah atas nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Iqra, 96:1). Kata bismi merupakan gabungan dua kata yaitu "bi" dan "ismi". Bi adalah kata depan dengan makna "dengan, oleh, atas". Ismi artinya nama. Jika Allah perintahkan "bacalah atas nama Allah". Kita bisa beri makna bahwa segala sudut pandang yang kita miliki tentang sesuatu harus menggunakan sudut pandang Allah.

Untuk membantu manusia memahami kehidupan, Allah menurunkan kitab suci Al Quran sebagai dasar ilmu pengetahuan bagi manusia untuk memberikan sudut pandang terhadap segala kejadian di muka bumi. Al Quran diturunkan dengan ilmu pengetahuan dari Allah. 

"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?" (Hud, 11:14).

Dasar ilmu pengetahuan dari Allah adalah "tidak ada Tuhan selain Allah". Artinya segala sudut pandang kita tentang kehidupan nyata dan gaib mutlak dari sudut pandang Allah. Maka hakikat semua sudut pandang manusia tidak ada pilihan lain, kecuali berserah diri kepada sudut pandang Allah yang maha mengetahui. 

Inilah cara beprikir Islam. Islam artinya berserah diri secara total kepada Allah. Orang-orang yang berpikir mengikuti cara pandang Allah, mengikuti segala keterangan dari Al Quran yang datang dari Allah. Untuk itulah Allah mengingatkan pada umat manusia untuk berpikir dan tidak ada pilihan segala sudut pandang manusia hanya bisa berserah diri pada Allah yang maha luas sudut pandangnya.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21).

Mengapa manusia harus berpikir dan mengikuti cara pandang Allah? Karena Allah maha mengetahui baik lahir maupun batin. Argumentasi Allah maha mengetahui, bisa kita konfirmasi di dalam Al Quran. 

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Al Hasyr, 59:22). 

Bukan cara pandang Barat atau Timur yang harus kita ikuti. Allah menguasai Barat dan Timur. Semua cara pandang manusia harus berserah diri pada cara pandang Allah yang maha mengetahui seluruh isi alam semesta. Semoga Allah membimbing kita semua dengan mengikuti cara pandang Allah yang maha luas pandangan-Nya.***

TEMUKAN KEBENARAN PAKAI ILMU

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Temukan kebenaran pakai ilmu bukan nafsu. Hawa nafsu adalah dua potensi yang ada dalam jiwa manusia yai...