Friday, February 25, 2022

DOSA BESAR KEPALA SEKOLAH

 OLEH: TOTO SUHARYA

Selama delapan belas tahun dunia pendidikan kita memang hanya main-main, tidak berusaha menyelesaikan masalah dan mewariskan generasi yang tertinggal dengan perubahan zaman. Kondisi inilah yang menyebabkan harus terjadi perubahan kurikulum karena dunia pendidikan kita sedang mengalami krisis pembelajaran. Krisis itu sudah ada di depan mata dan datanya bisa kita saksikan di bawah ini:

Tabel 1: Skor Membaca, Matematika, dan Sains

Kategori

Reading

Mathematics

Science

Tahun

2000

2018

2000

2018

2000

2018

Skor

371

371

360

379

393

396


Sumber (PISA 2018 Realeased, OECD)

Data pada tabel 1.  di atas menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia dari tahun 2000 sampai tahun 2018. Skor rata-rata terbaik internasional 500. Data itu juga bermakna bahwa siswa-siswi Indonesia memiliki kelemahan dalam berpikir, karena soal-soal tes PISA lebih menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Apa sebab terjadinya permasalahan ini? Pertama, dunia pendidikan kita terlambat shifting karena lalai mengikuti perubahan zaman. Kedua, kualitas pembelajaran di kelas memang belum bisa mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Permasalahan ini, intinya kembali pada kualitas pembelajaran di kelas. Pekerjaan Rumah (PR) besar pendidikan kita adalah meningkatkan kemampuan guru-guru dalam mengajar. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran menggunakan konstruksi soal-soal HOTS, sebagaimana disajikan dalam tes PISA.

Sebagai negara religius, berpikir adalah perintah Tuhan yang tidak boleh diabaikan. Kemampuan berpikir menunjukkan kualitas manusia yang harus terus diupayakan. Mengajar tentang berpikir di kelas adalah ibadah kita kepada Tuhan. Mengajarkan kemampuan berpikir kepada siswa menjadi kewajiban bagi guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Dosa besar bagi kita semua jika tidak mengajarkan kemampuan berpikir kepada siswa, karena seluruh aktivitas manusia adalah aktivitas berpikir. Kegagalan berpikir dalam beraktivitas menjadi bukti nyata penyebab prilaku manusia yang buruk dalam berakhlak kepada sesama dalam bermasyarakat dan bernegara.

Pembelajaran dengan menyajikan soal-soal HOTS standar PISA dapat menjadi sebuah pendekatan dalam pembelajaran. Berdasarkan kajian dari soal-soal PISA tahun 2015, 2018, dalam literasi membaca dan finansial, soal disajikan dengan kriteria, menyajikan materi esensial, kontektual, dan pertanyaan menguji siswa mengolah data yang disajikan dalam soal. Aspek yang diuji dari siswa adalah kemampuan analisis, contoh membedakan antara fakta dan dan opini, mengambil kesimpulan dengan mengintegrasikan dua fakta, dan menginterpretasi nilai dari sebuah kejadian dalam materi yang disajikan.

Menyimak soal-soal yang disajikan PISA, soal tersebut bisa kita modifikasi menjadi sebuah proses pembelajaran HOTS, dengan melakukan adaftasi. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara esensial dan kontektual kontruksi materi dan pertanyaan mengikuti pola yang disajikan dalam soal PISA. Ukuran materi esensial, berdasarkan dari tampilan-tampilan materi yang disajikan dalam soal PISA, bersumber pada sumber bacaan yang akuntabel, yaitu dari hasil penelitian atau pendapat ahli. Materi bisa diambil dari koran, media sosial, blog, atau jurnal. Materi esesnsial mengajarkan pada siswa, setiap informasi yang diakses harus materi akuntabel, memiliki derajat kebenaran yang bersumber pada hasil penelitian atau pendapat para ahli dalam berbagai bidang kajian. Secara kontektual materi bisa digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari menghadapi dunia nyata.

Betapa pentingnya untuk memastikan bahwa apa yang diajarkan guru-guru sesuai dengan kaidah dan kebutuhan zaman. Sebuah dosa besar bagi para kepala sekolah jika proses ini tidak dikawal ketat melalui tugas pokoknya yaitu supervisi pembelajaran. Untuk itu seluruh aktivitas kepala sekolah dalam berbagai kegiatan harus bertujuan untuk menjaga kualitas pembelajaran terutama di kelas. Bangsa besar meregenerasikan kualitas bangsanya sangat tergantung apa yang terjadi di ruang ruang belajar terutama kelas. Wallahu’alam.  

Tuesday, February 22, 2022

SUPERVISI ON THE LINE

OLEH: TOTO SUHARYA

Hasil survey PISA dari tahun 2000 perolehan skor membaca siswa Indonesia 371, dan terakhir survey PISA tahun 2018 adalah 371. Data ini menjadi alasan penyataan Mendikbud Nadim Anwar Makarim pendidikan Indonesia selama 18 tahun jalan ditempat. Pak Menteri tidak sedang merendahkan kualitas pendidikan kita, tetapi memang faktanya demikian. Situasi pandemi ikut memperparah kualitas pendidikan kita, karena ditemukan kurang lebih 50% siswa Indonesia mengalami learning loss. Faktor penunjang dari learning loss adalah kualitas pembelajaran di kelas (daring), kemampuan akses internet, dan penurunan motivasi belajar siswa.   

Situasi pandemi yang belum berakhir turut menunjang terhadap kekhawatiran semua pihak. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 50% hingga 100% yang diujicobakan mengalami kegagalan karena varian virus Covid-19 masih menjadi hantu yang menakutkan. Siswa teridentifikasi terjangkit virus Covid-19 varian omicron dan memaksa kembali pembelajaran harus dilakukan secara daring.  

Situasi belum dapat diprediksi kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Namun kita harus sadar bahwa masalah esensial kualitas pendidikan bukan terletak pada kapan akan berakhir pandemi, tetapi bagaimana kita mengubah cara mengajar kita di kelas agar kualitas pembelajaran benar-benar berkualitas. Dari hasil supervisi pembelajaran on line, kita memang kita harus kerja keras mengubah paradigma guru dalam mengemas pembelajaran berkualitas. Guru-guru harus terus diberi pemahaman bahwa rendahkan kemampuan membaca siswa-siswi kita adalah produk dari pembelajaran yang selama ini kita lakukan. Pembelajaran masih bersifat teacher center, selama pembelajaran aktivitas siswa sangat minim. Sedikit sekali siswa yang bertanya, dan selama pembelajaran siswa cenderung pasif.

Merdeka belajar memang jargon yang harus didengungkan terus untuk mendorong guru-guru melakukan inovasi pembelajaran. Faktor utama yang harus diperbaiki dalam pembelajaran, bagaimana mengajarkan dan meningkatkan minat baca siswa, serta melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam hal ini guru-guru perlu bimbingan serius dari orang-orang yang benar-benar pengalaman dan ahlinya dalam menerapkan metode-metode pembelajaran HOTS. Guru perlu diberi pemahaman serius bahwa mengajar dengan metode LOTS sudah sangat ketinggalan zaman.

Saat ini berbagai macam pengetahuan sudah bisa diakses langsung oleh siswa melalui internet dengan mengunjungi situs jurnal, youtube, dan blog. Apapun materi belajarnya, internet selalu menyajikan materi tersebut dalam jumlah jutaan. Jika saja siswa kita punya motivasi tinggi dalam belajar, dan secara mandiri mau menelusuri berbagai macam kompetensi dan pengetahuan di Internet, pembelajaran di sekolah bisa jadi yang sangat sekunder.  Banjirnya informasi di internet, akan menggeser fungsi sekolah hanya sebatas lembaga formal pemberi keterangan bahwa siswa telah tamat belajar. Sementara proses pembelajaran sangat dominan tergantung pada motivasi dan rasa ingin tahun siswa terhadap materi yang ingin dipelajari dan bisa diakses di internet sendiri.

Paradigma pembelajaran di sekolah sekarang bukan lagi sebagai penyampai pengetahuan, tetapi sebagai pembimbing informasi-informasi mana yang esesnsial dan kontektual bermanfaat bagi kesuksesan siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Soal-soal ujian yang disajikan oleh PISA, menjadi contoh yang patut ditiru dan dikembangkan menjadi sebuah pembelajaran menarik dan melatih literasi, numerasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Jika seluruh guru dari berbagai mata pelajaran sudah memiliki kemampuan ini, tidak menutup kemungkinan kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir siswa dapat itingkatkan. Dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak menutup kemungkinan akan lahir generasi mendatang yang bukan hanya terampil bekerja tetapi menjadi pencipta pekerjaan dan penyelesai masalah-masalah bangsa.

Supervisi pembelajaran yang menjadi tugas pokok para pemimpin sekolah adalah tugas wajib yang harus dilakukan untuk mengawal apa yang terjadi di kelas ketika guru beinteraksi dengan siswa. Tugas kepala sekolah melebihi tugas presiden dan menteri, karena kualitas bangsa ada dipundak para pemimpin pembelajaran di sekolah. Dalam situasi pandemi saat ini, masalahnya tidak lagi terletak pada metode belajar on line atau tatap muka, tetapi memastikan bahwa setiap interaksi guru dengan siswa harus mengajarkan kemampuan berpikir dengan materi-materi ajar esensial hasil seleksi ketat agar seluruh relung memori siswa di isi dengan pengetahuan-pengetahuan berkualitas dan bermanfaat bagi kehidupan.

Seluruh isi tulisan ini merupakan relfleksi penulis setelah melakukan supervisi pembelajaran on the line. Semangat perubahan harus terus digelorakan, untuk memerdekakan guru-guru dari pola-pola pikir old mind. Guru-guru harus dimerdekakan dari ketergantungan pada buku paket yang sudah menjadi berhala pendidikan. Bukut paket sebagai berhala pendidikan telah mengabaikan  kebutuhan siswa dalam mengarungi derasnya badai perubahan zaman. Dosa besar bagi para pemimpin pembelajaran di sekolah jika tidak melakukan pengawalan terhadap pembelajaran di kelas. Wallahu’alam.

Friday, February 18, 2022

SEMUA MATA PELAJARAN ADA TUHANNYA

OLEH: TOTO SUHARYA

Tuhan harus jadi inspirasi dalam setiap aktivitas kehidupan. Tuhan penyebab kesejahteraan manusia. Setiap relung pikiran dan hati manusia harus lebih banyak ruang di isi oleh ketuhanan. Phobia kepada ajaran agama adalah produk pemikiran gagal dari umat manusia. Ilmu yang hanya menciptakan phobia terhadap ajaran agama adalah penyesat kehidupan. Para pencipta phobia terhadap ajaran agama adalah perusak pikiran yang akan membawa kehidupan manusia pada kebinasaan di dunia dan akhirat. Ilmu yang hanya berkiblat kepada pengetahuan Alam adalah pembawa kesesatan umat manusia di muka bumi ini.

Kegagalan para ilmuwan yang saat ini bisa menciptakan teknologi adalah tidak bisa menghadirkan dan menemukan Tuhan dalam teknologi yang diciptakannya. Penyebabnya adalah egoisme dari kemampuan akal manusia. Para pencipta teknologi merasa bahwa semua teknologi berhasil diciptakan karena kemampuan akalnya, padahal segala fasilitas yang ada di muka bumi ini ada penciptanya. Manusia merasa bahwa segala yang berhasil diciptakannya adalah ciptaannya, padahal hakikatnya semua yang berhasil diciptakan adalah penemuan. Apa yang dicitakannya, semuanya sudah ada sebagai anugerah dari Tuhan.

Kegagalan para penganut agama ikut andil menjadikan agama sebagai wajah yang menakutkan. Sebabnya karena penganut agama merasa dirinya sebagai pemilik kebenaran, padahal kebenaran mutlak hanya millik Allah, dan manusia tempatnya salah. Nabi sekalipun tugasnya hanya menayampaikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan. Kegagalan manusia dalam beragama adalah mengalamatkan seolah-olah kebenaran telah menjadi miliknya, mereka mengajarkan dan menginformasikan seolah-olah dirinya paling benar. Egoisme umat beragama sama-sama menjadi kesesatan berpikir bagi para penganutnya. Kebenaran milik Allah dan fenomena-fenomena yang terjadi di muka bumi adalah ayat-ayat Tuhan, yang harus dibaca atas nama Tuhan. Sehingga apapun yang dikatakan dan ditemukan manusia dari mana saja semua berada di atas kehendak Tuhan.

Manusia hanya mengolah segala apa yang telah diciptakan Tuhan. Energi, gaya, gerak; Tanah, air, udara; semuanya diciptakan Tuhan. Tugas manusia adalah mengungkap kehadiran Tuhan dalam segala fenomena di alam pikiran dan benda. Sekolah-sekolah melalui pengajaran berbagai macam ilmu pengetahuan memfasilitasi siswa untuk mengetahui teori-teori kehidupan sebagai sarana untuk mengagungkan kemahakuasaan Tuhan. Ilmu alam dan sosial dipelajari untuk mengajari manusia agar bisa hidup dengan sejahtera sebagai anugerah dari Tuhan.

Semua ilmu datangnya dari Tuhan, tidak ada kategori ilmu hitam atau putih, karena yang membuat hitam dan putih adalah pikiran manusia. Pemikiran manusia yang membuat ilmu menjadi hitam dan putih. Jika semua ilmu dipersepsi untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, nuklir akan tercipta untuk keberkahan hidup manusia bukan untuk memusnahkan manusia. Jika teknologi informasi diciptakan untuk membantu segala aktivitas kehidupan manusia, teknologi informasi menjadi berkah bagi manusia. Teknologi-teknologi diciptakan sangat tergantung pada niat-niat manusia dalam menggunakannya.

Niat-niat baik harus selalu menjadi pola pikir manusia dalam segala tindakan, dan itulah yang dikehendaki Tuhan. Hadirnya Tuhan dalam pikiran manusia akan membuat manusia sadar bahwa dirinya hanya pengungkap dan penyampai kebenaran dengan segala latar belakang ilmu yang digelutinya. Kegagalan manusia dalam berilmu pengetahuan hanya sedikit yaitu menghilangkan peran Tuhan dalam penemuan-penemuannya. Intinya para ilmuwan dan agamawan harus menurunkan tensinya, anda bukan pemilik pemilik kebenaran, anda bukan pencipta dan pemilik surga, kita semua hanya penyampai kebenaran dan pebimbing umat manusia agar tetap memiliki keimanan dan keyakinan bahwa setelah kematian aka nada pengadilan.

Tuhan itu satu, yaitu Tuhan gaib untuk seluruh manusia. Tuhan memerintahkan untuk menggai ilmu, teknologi, untuk menciptakan kesejahteraan dan menjaga perdamaian antar umat manusia. Saling kenal mengenallah, tolong menolonglah, tidak ada manusia lebih cerdas dari manusia lain, tidak ada manusia lebih mulia dari manusia lain, semuanya sama dihadapan Tuhan, kecuali dia yang paling bermanfaat bagi umat manusia dan saling mengingatkan untuk tetap ingat Tuhan tempat kita kembali. Maka semua mata pelarjaran yang diajarkan di sekolah harus berakhir pada kekuasaan Tuhan. Wallahu’alam.

Thursday, February 17, 2022

Sukses itu Gratis

Oleh: Toto Suharya

Judul ini menjadi sebuah kegiatan webinar di sekolah dalam ranggka pendidikan karakter. Webinar adalah sebuah kegiatan tambahan ketika dimasa pandemi, pembelajaran hanya empat jam, sambil santai di rumah anak-anak diajak untuk tetap belajar dengan menikmati suguhan webinar dari pemateri internal dan eksternal sekolah. Pendidikan karakter yang identik dengan pembiasaan, sesungguhnya termasuk pembiasaan berpola pikir. Berpola pikir ada ilmunya, dan ilmu berpikir ini jarang diajarkan di sekolah-sekolah. Padahal semua sepakat bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan orang semuanya bersumber dari apa yang dipikirkan.

Sukses itu gratis, sebelumnya tidak terpikirkan. Ketika membuat poster tentang shalat dhuha 12 rakaat, saya merinci apa akibat dari shalat dhuha jika dilakukan mulai dari 2 rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, dan 12 rakaat. Dua rakaat tercatat sebagai ahli sedekah, empat rakaat dicukupkan rezeki sepanjang hari, enam rakaat dijamin hidup sukses, delapan rakaat dicintai Allah, dan 12 rakaat dibuatkan rumah di surga. Ketika menyusun akibat-akibat dari kegiatan ritual shalat yang akan diajarkan kepada anak-anak, saya berkesimpulan bahwa untuk mendapatkan sukses itu ternyata gratis. semua modal sukses sudah diberikan Allah kepada kita berupa kepala dan isinya, kaki, tangan, dan seluruh anggota badan, yang gratis kita dapat sudah lebih dari cukup untuk meraih sukses dengan gratis di muka bumi ini.

Sukses itu gratis semuanya berangkat dari pola berpikir, sebab semua kejadian adalah pola pikir. Apapun yang menjadi milik kita di dunia maupun akhirat adalah hasil dari pola pikir kita. Mengatur dan mengubah apa yang ingin kita pikirkan semuanya gratis, tidak mengeluarkan biaya, dan tidak perlu tenaga besar. Semuanya hanya mengandalkan kesadaran bahwa kita harus berpikir positif.

Mengata kita harus berpikir positif? Dasar pemikirannya sudah banyak saya jelaskan dalam berbagai kesempatan. Dasar berpikir itu adalah kitab suci Al-Qur’an. Salah satu ayat yang selalu saya jadikan dasar berpikir adalah “Jika kamu berbuat baik kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Qs. 17:7). Ayat ini menjadi cara berpikir sebab akibat dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, kapanpun, dimanapun, kejadiannya akan seperti ini. Ayat ini harus jadi pedoman dalam segala aktivitas di muka bumi. Ayat ini harus jadi moralitas masyarakat. Ayat ini harus jadi pengingat kepada Tuhan. Orang-orang yang ingatannya dikendalikan oleh ayat-ayat Tuhan, maka dialah orang-orang yang akan selalu dekat dengan Tuhan. Janji Allah pada orang-orang yang dekat dengan Tuhan, Dia akan menimpakan kesejahteraan dunia dan akhirat, kesejahteraan yang sebaik-baiknya kesejahteraan.

Orang-orang yang pikirannya dipandu oleh Tuhan, setiap kejadian dan apapun yang akan terjadi selalu membawa kabar gembira. Satu ayat di atas, dapat menjadi pegangan hidup agar kita semua berada di jalan yang lurus yaitu jalan yang selalu mendapatkan peringatan dari Tuhan. Maka dengan berpegang pada satu ayat, segala kesuksesan yang ingin kita dapatkan di muka bumi ini menjadi gratis. Sukses bukan karena pekerjaan, perniagaan, kecerdasan, tetapi sukses karena kelakukan yang kita miliki menejahterakan dan mencerdaskan. Sesungguhnya yang memberi semua kesuksesan adalah Allah yang menilai pola pikir dan prilaku kita selalu diberkahi oleh Allah karena dalam kondisi sempit maupun lapang kita selalu ingat Allah. Ingat Allah itu gratis, seribu kali ingat Allah dalam sehari tetap gratis. Optimis tanpa batas! Wallahu’alam. 

Monday, February 7, 2022

MENGAPA DHUHA 12 RAKAAT?

OLEH: TOTO SUHARYA

Psikologi Well Being adalah sebuah aktivitas individu dalam merasakan kehidupan sehari-hari dengan melakukan refleksi diri terhadap kualitas dan pengalaman hidupnya Jika hasil evaluasi dirinya membuat dirinya menyerah maka psikologi wellbeing-nya rendah, sebaiknya jika hasil refleksi dirinya membuat dirinya menjadi giat berusaha maka psikologi wellbeing-nya tinggi Fitriani, (2016). Salah satu faktor yang dapat memengaruhi tingkat wellbeing seseorang adalah intensitas menjalankan ibadah ritual. Semakin tinggi intensitas ritual ibadah seseorang semakin baik hubungan sosial, solidaritas rasa kekeluargaannya (Fitriani, 2016).

Program pendidikan ritual dhuha 12 rakaat bersumber pada keterangan hadist. “Barang siapa shalat dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga” (HR. Tirmiji dan Ibnu Majah).  Program shalat dhuha 12 rakaat bertujuan meningkatkan religiusitas para siswa. Tingkat religiusitas dapat meningkatkan wellbeing (kebahagiaan) siswa. Kebahagian akan melahirkan hormon imun, harapan, pikiran dan perasaan positif. Shalat memiliki dampak efektif menyembuhkan gangguan jiwa seperti stress dari problem kehidupan. Ada empat teraputik yang terdapat dalam shalat yaitu, olah raga, meditasi, auto sugesti, dan kebersamaan. (Zulkarnain, 2020)

Studi terhadap 103 orang mahasiswa tentang pengaruh shalat, hasilnya shalat berpengaruh pada prilaku mahasiswa, sekalipun dalam kategori sangat rendah (Fitria, 2018). Ada faktor yang harus diperbaiki dalam memahami shalat. Salah satunya dengan mendefinisikan shalat dalam makna luas, tidak sebatas ritual. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (Al Ankabut, 29:45). Ayat ini bisa menjadi dasar pembuatan definisi, shalat adalah upaya mencegah timbulnya prilaku-prilaku buruk. Kualitas shalat tidak dipahami berhenti pada dimensi ritual tetapi terkait erat dengan dimensi faktual.

Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang kegiatan dhuha 12 rakaat, dilakukan ceramah berisi motivasi dhuha. Motivasi berisi informasi-informasi positif tentang manfaat ibadah ritual 12 rakaat dhuha. Shalat dhuha bermanfaat untuk pembentukkan akhlak, kesehatan, kecerdasan, dan keberhasilan dalam meraih cita-cita kehidupan dunia dan akhirat. Ceramah motivasi dhuha dilakukan oleh guru-guru secara bergiliran.

Data dari 10 siswa berprestasi akademik terbaik di sekolah, seluruh siswa tergolong pada kelompok yang disiplin melaksanakan shalat lima waktu full time dan disiplin dhuha tiap hari delapan sampai 12 rakaat. Sedangkan 10 siswa dengan kecerdasan akademik rendah di sekolah, semua tergolong siswa yang tidak disiplin ibadah. Kelompok siswa jurusan IPA, berdasar hasil survey tiap akhir semester termasuk kelompok siswa yang lebih disiplin melaksanakan shalat dibanding jurusan IPS. 

Fenomena menarik jika melihat data shalat siswa berdasarkan level kelas. Semakin tinggi level kelas siswa semakin sedikit yang melaksanakan shalat. Jadi pada saat kelas 10 anak anak rajin shalat, naik ke kelas 11 mulai jarang shalat, dan setelah kelas 12 semakin jarang yang shalat. Jika melihat fakta ini, seolah-olah berlaku kesimpulan semakin tinggi pendidikan siswa, semakin tidak percaya Tuhan. Mungkin bisa jadi, pendidikan sekuler harus terus dikritisi karena faktanya saat ini sedang terjadi kriris dalam pembeajaran.     

Gerakan shalat lima waktu dan dhuha 12 rakaat adalah upaya pendidikan karakter religius melalui pembiasaan bersumber pada ajaran agama. Bagi siswa Kristen, mereka dituntut pula untuk melaksanakan ibadah secara disiplin sesuai keyakinan. Pada akhir bulan, kegiatan dievaluasi melalui survey google form. Data diambil melalui survey google form disebar ke tiap kelas dan di isi langsung oleh siswa dengan tujuan melatih kesadaran kejujuran siswa terhadap Tuhan. Target pembiasaan karakter religius ditentukan dengan standar minimal yaitu 30% dari populasi siswa, kemudian ditingkatkan berdasarkan hasil evaluasi bulanan.

Dari hasil pengamatan, kegiatan rutin dhuha 12 rakaat yang dilaksanakan bersama-sama di masjid atau lapangan, meningkatkan kedisiplinan seluruh warga sekolah untuk hadir bersama-sama di pagi hari. Lingkungan sekolah kondusif dan suasana kekeluargaan lebih terasa. Sikap saling menghargai antar umat beragama tercipta. Beberapa siswa mulai terlatih menghadapi masalah dengan tetap optimis menggantungkan segala harapannya kepada Tuhan. Inilah generasi-generasi unggul, yang akan selalu kreatif, berani menghadapi risiko, pantang menyerah, dan selalu optimis sebagai bagian dari capaian program. Wallahu’alam. 

Wednesday, February 2, 2022

PROGRAM INTERNET PRODUKTIF

 Oleh: Toto Suharya

Salah satu inovasi program di sekolah untuk melatih kreativitas siswa yang penulis kembangkan adalah internet produktif. Program ini dilaterbelakangi oleh perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah membuat kewalahan dunia pendidikan menyikapinya. Sikap terlalu membuka diri di media sosial, keterbatasan internet literacy, dan minimnya mediasi orang tua, menjadi faktor rendahnya kesadaran privasi dan risiko dalam berinternet (Setyaningsih, 2014).  Media sosial menyebabkan beberapa kasus cyber bullying meningkat karena sifat penyebaran informasi melalui media sosial sangat cepat (Hidayat, dkk, 2015). Beredarnya kata, hinaan, hinaan, hinaan, di media sosial semakin mendorong masyarakat ke arah tidak produktif dalam bermedia sosial dan bahkan menimbulkan perpecahan serta konfik horizontal di masyarakat (Susanto, dkk., 2021).

Dari hasil penelitian, anak-anak remaja yang memiliki bekal pengetahuan tentang menggunakan internet secara positif dapat menghindari penggunaan internet secara negatif (Hamzah, 2021). Sosialisasi penggunaan media sosial yang tepat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran bahaya penyalahgunaan media sosial (Hidayat, dkk, 2015).

Menyikapi situasi di atas, dunia pendidikan yang sangat diandalkan dapat melahirkan generasi-generasi produktif dalam berinternet, sudah sepatutnya mengembangkan program-program pendidikan yang dapat mengedukasi anak-anak dalam berinternet. Program Internet Produktif diluncurkan untuk mengedukasi anak-anak dalam berinternet. Program ini bertujuan mengembangkan kemampuan kreatif anak-anak dalam membuat konten-konten kreatif, edukatif, dan insiratif yang layak disajikan di publik melalui media youtube sekolah. Program dirancang dengan target pantastis yaitu menghasilkan karya konten kreatif di youtube dalam setahun 500 video.

Program digulirkan sebagai proyek bersama antara kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Semua sumber daya di sekolah dikerahkan untuk mencapai target, dengan membagi-bagi tugas dalam membuat konten kreatif di youtube. Melalui organisasi OSIS, anak-anak dituntut untuk membuat proyek video-video kreatif dengan menampilkan praktik-praktik baik dalam aktivitas pendidikan di sekolah atau di lingkungan masyarakat. Seluruh siswa diwajibkan untuk melakukan subscribe youtube sekolah agar karya-karya yang dihasilkan dapat tersebar dan mendapat apresiasi untuk memotivasi.

Program-program produktif seperti podcast, editorial, catatan kegiatan pembelajaran, dan materi-materi pelajaran  produk guru, tutorial, bedah buku, webinar, diciptakan untuk mengisi konten youtube sekolah. Anak-anak dituntut untuk kreatif menciptakan gagasan konten youtube dengan melakukan riset internet mencari contoh untuk melakukan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Pengalaman melakukan ATM diharapkan dapat membangun kepercayaan diri dengan meciptakan ide konten kreatif karya sendiri.

Dari pengalaman yang sudah dilakukan, hasilnya cukup menggembirakan. Di lingkungan anak-anak terjadi diskusi-diskusi membicarakan sebuah proyek video berdurasi singkat untuk membuat drama atau film pendek. Situasi ini terjadi tidak lepas dari keterlibatan guru yang melibatkan anak-anak dalam tugas pembelajaran yang harus disajikan dalam bentuk karya video. Beberapa video berhasil menjadi viral sampai ribuan penonton. Kondisi ini menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri bagi anak-anak untuk terus berproduksi konten-konten tayangan di youtube.

Beberapa anak diluar dugaan ada yang sukses menjadi influencer di media sosial dengan follower 800 ribu hingga 2,5 juta. Sungguh pantastis dalam usia masih muda dan status sebagai pelajar tanpa mengganggu kegiatan belajar, mereka sudah berpenghasilan 6 s.d 12 juta per bulan dari pekerjaannya sebagai influencer. Penghasilan tertingginya mereka bisa menghasilkan 24 s.d 30 juta per bulan. Salah satu siswa yang sudah lulus, dia tidak bingung mencari pekerjaan, tetapi terus melanjutkan karirnya sebagai influencer di media sosial dan bercita-cita menjadi artis di layar lebar. Mereka semakin profesional dengan melibatkan manajemen untuk mengorganisir waktu dan mengembangkan karirnya.

Kata-kata bijak dari mereka yang masih muda muncul, “hidup sekarang lebih enak, karena jika punya niat serius mencari penghasilan di internet ternyata sangat mudah, yang penting jangan pernah putus asa untuk terus mencoba dan mencipta”. Itulah sekelumit keberhasilan dari program internet produktif, sedikitnya telah melahirkan kesadaran bagi semua siswa, bahwa berinternet jika disadari dan digeluti untuk hal-hal produktif, mereka dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan bisa sukses semuda mungkin. Internet seperti pisau bermata dua satu sisi bisa membunuh satu sisi bisa bermanfaat untuk kehidupan. Wallahu’alam.    

Makna General Ibadah

Oleh: Toto Suharya Ketika kita dengan kata Ibadah apa yang ada dalam ingatan? Dalam ingatan semua orang pasti muncul kata shalat. Salah tida...