Showing posts with label merdeka belajar. Show all posts
Showing posts with label merdeka belajar. Show all posts

Saturday, July 2, 2022

Refleksi Guru Dalam Pengajaran

Oleh: Toto Suharya

Menjelang 77 tahun Indonesia merdeka, mendekati satu abad bangsa Indonesia merdeka. Upaya-upaya dalam bidang pendidikan sudah dilakukan dan terus menerus diakukan perubahan. Dalam tarikh masehi sekarang kita sekarang berada di awal abad ke-21. Dalam perjalanan sejarah biasanya pada awal abad sering terjadi perubahan besar-besaran menimbulkan situasi krisis. Sebagaimana dulu pada awal abad ke-20 bangsa Indonesia terus bergerak membebaskan diri dari kolonial Belanda. Puncaknya pada pertengah abad ke-20 tahun 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Keberhasilan bangsa Indonesia merdeka tidak lepada dari upaya-upaya pembenahan dalam bidang pendidikan telah dilakukan sejak tahun 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara dengan berdirinya perguraun Taman Siswa. Sekarang kita berada di awal abad ke-21 sejarah seperti berulang, bahwa upaya pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara sedang dimulai kembali.

Pendididikan untuk bangsa Indonesia memang harus dikerjakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Orang yang paling mengerti tentang pendidikan bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Melalui konsep Trikon (kontinyu, konevergen, dan konsentris), Ki Hadjar Dewantara sudah membuka diri menerima pengaruh-pengaruh budaya dari luar, tetapi tidak melupakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Konsep ini ternyata lebih tepat untuk diterapkan dalam pendidikan bangsa Indonesia.

Pendidikan harus berkelanjutan, budaya-budaya dari luar digunakan untuk mengukuhkan jati diri bangsa. Melalui asas konvergen, kita berusaha merekonstruksi budaya luar untuk mengembangkan budaya bangsa sendiri (konsentris). Pendidikan harus fokus pada pengembangan budaya-budaya lokal direkonstruksi menjadi budaya global sesuai dengan perkembangan zaman. Gagasan Ki Hadjar Dewantara sebenarnya menuntut bangsa Indonesia untuk bisa beradaftasi dengan kodrat zaman dengan tidak meninggalkan kodrat alam dimana kita tinggal.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara ternyata lebih cocok untuk diterapkan dalam sistem pendidikan bangsa Indonesia. Upaya yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1922 adalah bagaimana memerdekan siswa dari ketergantungan. Bagaimana cara memerdekakan siswa dalam belajar untuk mencapai kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Pendidikan berfokus pada siswa bagaimana agar mereka benar-benar merdeka. 

Penjajahan ternyata tidak hanya berlaku dalam bentuk fisik, tetapi terus berlanjut berubah bentuk dalam pejajahan mental dikemas dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi. Peran besar pendidikan di abad 21 masih berbicara tentang kemerdekaan dalam belajar untuk melahirkan generasi-generasi mandiri dan bisa menyelesaikan masalah hidup dirinya dan bangsa pada umumnya.

Mengacu pada gagasan pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara, peran besar pada pendidikan di abad 21 sekarang adalah memerdekanan siswa dalam belajar. Pendekatan-pendekatan belajar yang harus dilakukan guru adalah melatih daya nalar siswa. Dalam setiap pembelajaran mereka harus dituntun bagaimana mengolah informasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Paradigma pengajaran zaman kolonial Belanda yang pada saat itu sumber informasi sangat terbatas, guru menjadi sumber informasi paling dominan. Pada zaman kolonial Belanda, belajar menjadi sebuah aktivitas yang sangat dominan membutuhkan kehadiran guru sebagai sumber informasi dan penentu tujuan pembelajaran. Sekarang di abad informasi, kehadiran guru dibutuhkan tetapi bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai penuntun pembelajaran. Sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara, tugas guru adalah memberi teladan, memberi semangat, membangkitkan keberanian, dan memberi dorongan, memengaruhi agar siswa mau terus belanjar secara mandiri.

Ketergantungan siswa ada guru telah mematikan kreativitas, daya nalar kritis, sikap gotong royong, menghargai perbedaan, dan kemandirian. Dominasi guru pada siswa dalam belajar, membuat siswa tidak pandai mengolah informasi, akibatnya mereka sangat mudah putus asa, dan tidak terampil menerima perbedaan pendapat karena fanatisme pada gurunya. Guru telah menjadi berhala, karena siswa tidak punya keberanian berbeda dengan gurunya. 

Dari pengataman di lapangan, setelah siswa lulus dari pendidikan, kebanyakan siswa masih sangat tergantung pada guru. Sumber informasi yang melimpah di internet, tidak menjadi motivasi siswa untuk berani belajar mandiri. Mereka masih tetap mengharapkan kehadiran guru secara fisik. Padahal di era informasi, guru-guru yang bermakna luas tidak harus hadir secara fisik. Melalui internet mereka bisa belajar sesuai keinginan mereka sekalipun tidak berstatus sebagai pelajar. Mereka bisa belajar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memilih banyak guru sesuai dengan kebutuhan. 

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, makna guru dan sisjadi luas. Semua makhluk adalah guru, dan semua makhluk adalah murid dan dimanpun ruang kita temua itulah kelas tempat belajar. Guru dalam konsep abadi 21 bukan hanya mereka yang mendapat surat tugas sebagai guru, tetapi semua orang yang kita temui yang bisa memebrikan iformasi ilmu pengetahuan dia adalah guru. Tugas guru-guru yang mendapat surat tugas adalah membebaskan pikiran-pikiran siswa yang masih terbelenggu oleh konsep guru dalam paradigma zaman kolonial Belanda.

Guru harus mulai menurunkan kedudukannya, bukan lagi sebagai dewa dihadapan siswa. Guru adalah manusia biasa yang hanya bertugas memberi teladan, memotivasi, dan memfasilitasi, bukan untuk menguasai pikiran para siswa supaya tunduk dan patuh pada pemikiran guru. Mari bapak ibu guru kita sama-sama bebaskan pikiran siswa dari belenggu pemikiran-pemikiran guru, karena zaman berubah maka biarkan mereka hidup sesuai dengan zamannya. Mari kita ajari siswa-siswi kita menjadi manusia-manusia mandiri, dengan melatih mereka untuk menyesaikan masalah-masalah hidup mereka sendiri agar bisa meraih kebahagiaan tanpa tergantung pada orang lain.***

 

Monday, May 2, 2022

Mengajar Al Quran dengan Pentigraf

 Oleh: Toto Suharya

Pentigraf adalah cerita pendek tiga paragraf. Diciptakan oleh Tengsoe Tjahjono dari Universitas Negeri Surabya (Unesa). Menarik sekali pentigraf sangat cocok untuk masyarakat Indonesia yang tidak bisa bertahan lama ketika membaca. Cerita-cerita pendek pas disajikan untuk masyarakat Indonesia. Melalui cerita-cerita pendek tiga paragraf pesan-pesan moral, sains, apa saja bisa disampaikan.

Pelajaran agama bisa memanfaatkan pentigraf untuk mengajarkan isi kandungan Al-Qur'an. Mengajarkan Al-Qur'an melalui pentigraf bisa jadi alternatif guru-guru untuk mengajarkan Al-Qur'an. Pentigraf bisa melatih siswa kreatif, dan menuntut guru-guru kreatif.

Pentigraf yang dikembangkan dari Al-Qur'an dapat membantu berbagai mata pelajaran sebagai pembelajaran menyenangkan, penuh pesan moral. Pentigraf juga bisa dikembangkan menjadi pembelajaran Higher Order Thingking Skills (HOTS).

Contoh pentigraf yang bisa dikembangkan menjadi pembelajaran HOTS dikembangkan dari surah Al 'Alaq. Ide cerita dalam surat Al Alaq dikemas menjadi sebuah cerita yang menutut siswa berpikir.

"Suatu hari dalam situasi pembelajaran, ada siswa bertanya, "mengapa Allah menyuruh manusia membaca?" Guru merespon, "pertanyaan bagus sekali, mari kita jawab bersama. Sekarang perhatikan semua, ketika tengah malam gelap ada yang mengetuk pintu rumah mu, apakah perasaan mu yang bakal muncul? Siswa menjawab, "saya takut pak". Siswa lain menjawab, "saya akan memeriksa siapa yang mengetuk pintu itu?" Guru kembali bertanya, "jika kamu tidak menemukan siapa yang mengetuk pintu itu, apa perasaan mu?" Siswa menjawab, "mungkin rasa takut saya akan muncul pak." Guru bertanya lagi, "lalu bagaiman jika yang ketuk pintu malam-malam itu saudara mu yang baru pulang dari luar kota, apakah kamu masih takut?" Siswa menjawab, "sudah pasti perasaan takut saya akan hilang". Guru menjelaskan, "nah itulah mengapa Allah menyuruh membaca". 

Ini ada kisah lagi yang bisa membantu kalian mengapa membaca itu penting. Dikisahkan ada dua orang dengan karakter berbeda, yang satu berkarakter baik, dan yang satu lagi berkarakter buruk. Orang yang berkarkater baik melarang kamu berbuat baik, dan orang yang berkarakter buruk juga melarang kamu berbuat baik. Jika kebaikan adalah perintah Allah, maka orang manakah yang akan kamu turuti? kemukakan alasan dari pendapat mu?   

Guru kemudian melanjutkan ceritanya, "Jika kamu berhasil menjawab pertanyaan di atas, berarti kamu bisa memahami mengapa Allah memerintahkan membaca". kata guru, "ingat anak-anak kebaikan itu adalah perintah Allah, dan segala keburukan adalah buatan manusia. Orang-orang yang berbuat keburukan akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya".

 Petigraf di atas ide atau gagasannya dikembangkan dari surat Al "Alaq. Pentigraf ini bisa diasjikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan moral, pendidikan agama, sosiologi, atau sejarah. Kisah dengan setting dialog sebuah kasus di atas dapat disajikan dalam pembelajaran yang melatih kemampuan siswa berpikir tingkat tinggi. 

Kunci agar siswa bisa menjawab pertanyaan dari cerita di atas adalah siswa harus membaca cerita tersebut dengan teliti, melakukan analisis, dan dialog dengan teman-temannya. Cerita kasus di atas dapat merangsang siswa untuk berpikir dan mencari tahu apa jawaban yang bisa dikemukakan.

Pentigraf bukan hanya bisa digunakan untuk melatih kemampuan siswa berpikir, tetapi melatih guru juga untuk berpikir menyusun materi ajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Menyusun pentigraf untuk kepentingan pembelajaran dengan tujuan melatih kemampuan berpikir siswa, secara tidak langsung menuntut guru-guru tidak sembarangan menyajikan materi kepada siswa.

Untuk saat itu, setiap materi ajar yang diajarkan kepada siswa harus mengandung tujuan melatih siswa berpikir tingkat tinggi. Melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah tuntutan zaman. Jadi kemampuan membaca menjadi mutlak bukan hanya diajarkan pada siswa, tetapi berlaku untuk guru, dan seluruh umat manusia.***

Monday, November 22, 2021

MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA

Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiatan ini baru pertama saya ikuti. Kedatangan saya, hanya ingin belajar, bagaimana merdeka belajar. Dua hari betul-betul saya serap apa inti dari merdeka belajar. Seluruh kemampuan literasi saya gunakan untuk menyerap esensi dari konsep Merdeka Belajar. Saya belajar bahwa kemampuan literasi bukan diukur dari berapa buku yang banyak dibaca, tetapi berkaitan bagaimana dan berapa informasi yang yang berhasil diserap.

Hari pertama saya berdikusi memahami konsep Merdeka Belajar yang disuguhkan pemateri. Dari penjelasan narasumber saya menarik sebuah kesimpulan bahwa inti dari Merdeka Belajar adalah self regulated learning, atau orang yang mengatur sendiri tujuan, cara, dan penilaian belajarnya.  Berdasarkan hasil riset ada hubungan antara kemampuan guru mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran dengan prestasi kerjanya. Sedangkan menurut Ki Hadjar Dewantara kemerdekaan dalam pendidikan ditandai dengan, tidak hidup di perintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri, cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Jika demikian konsep merdeka belajar berkaitan dengan kompetensi profesional guru.

Selanjutnya, narasumber menjelaskan kunci dari Merdeka Belajar lainnya adalah pelibatan siswa mulai dari perumusan tujuan belajar yang akan dicapai, pelaksanaan, dan penilaiannya. Jadi penekanan Merdeka Belajar terletak pada proses pelibatan atau dialogis antara guru dan siswa pada saat mau melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan asessmen pembelajaran. Rencana pembelajaran tidak ujug-ujug tercipta dan diberikan pada siswa, tetapi harus melalui proses asessmen diagnosis, dan proses dialogis.  

Narasumber lainnya menjelaskan, di Sekolah Cikal untuk menciptakan kemerdekaan belajar dikenal dengan 5M, yaitu Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, dan Memberdayakan kontek. Memanusiakan hubungan artinya regulasi harus dibuat bersama. Siswa tidak dianggap sebagai makhluk hampa, tetapi mereka harus diajak dialog untuk melakukan diagnostik tentang kemampuan apa yang anak-anak miliki, minat mereka di mana, cara belajar bagaimana yang mereka sukai, dan cara penilaian apa yang mereka inginkan dan tidak merugikan mereka.

Selanjutnya, memahami konsep artinya, guru harus memahami filosofi, konsep dasar, pengertian, dan aplikasi dari sebuah ilmu yang akan diajarkan. Dengan memahami konsep guru dapat mengajarkan ilmu yang diajarkan kepada siswa sesuai dengan perkembangan psikologi siswa. Sebelum pembelajaran, guru harus melakukan asessmen diagnosis, selanjutnya mengajak dialog anak-anak tentang apa tujuan, bagaimana cara pembelajaran yang dikehendaki, dan model asessmen apa yang akan dilakukannya.

Membangun keberlanjutan, berkaitan dengan kemampuan guru membaca bakat, minat, gaya belajar, dan cita-cita yang diharapkan dari pembelajaran. Dalam melakukan asessmen formatif, guru selalu memberi umpan balik kepada siswa. Asessment tidak mengekang siswa dengan menggunakan satu ukuran, tetapi membuka peluang kepada siswa untuk menentukan assessmen formatif yang siswa inginkan. Untuk kemerdekaan belajar, siswa harus diberi varian tes yang memberi kebebasan kepada siswa  untuk mencapainya sesuai dengan minat dan bakar yang dimilikinya.

Memilih tantangan adalah mendesain lingkungan belajar dan tugas belajar yang harus memberi tantangan belajar bertingkat, untuk melatih siswa menghadapi kesulitan dan kegagalan yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Seperti bermain game, pembelajaran harus dirancang menarik dari belajar tingkat rendah hingga tingkat tinggi.

Terakhir memberdayakan kontek artinya pembelajaran harus bisa menyadarkan siswa dimana dia hidup dan dia tinggal serta bagaimana cara beradaftasinya. Pembelajaran dapat bermakna dan bermanfaat bagi siswa, jika pembelajaran dapat menjawab dan memecahkan masalah yang terjadi dilingkungan siswa sehari-hari.  

Tujuan dari merdeka belajar adalah sebagaimana tujuan utama pendidikan yaitu kemandirian. Untuk membangun kemandirian, pembelajaran harus melatih kemampuan murid menggali informasi, memilah informasi, mensintesa, mengemukakan pendapat, dan mengambil keputusan. Kemandirian bisa dimiliki murid jika mereka mampu memotivasi dirinya sendiri atau membangkitkan motivasi internal pada saat menghadapi tantangan dan kesulitan. Semua yang saya kemukakan pendapat pribadi hasil literasi selama dua hari di Sekolah Cikal. Wallahu’alam.

Friday, November 12, 2021

PESAN YASIN UNTUK PENDIDIK

OLEH: TOTO SUHARYA

Pesan moral yang tinggi ini saya dapatkan setelah ribuan kali membaca surat Yasin dari dulu hingga sekarang. Menyimak makna yang terkandung di dalamnya, saya dapati dengan menghubungkan konsep-konsep Al-Qur’an dan hadist yang pernah singgah dalam memori saya. Konsep-konsep tersebut saya sintesakan dan hasilnya ada makna yang saya temukan. Berikut isi surat Yasin dari ayat 1-6:

“Yaa Siin. Demi Al Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai”. (Yaasin, 36:1-6).

Inspirasi saya dapatkan dari surat Yasin, “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”. Makna khusus dari ayat ini adalah menjelaskan tentang kehadiran para utusan, para penyampai kebenaran, salah satunya yaitu Nabi Muhammad SAW. Para utusan adalah membawa pesan-pesan Al-Qur’an. Selanjutnya para utusan adalah contoh teladan yang harus kita teladani. Untuk meneladani para utusan, pegangannya ada dalam Al-Qur’an dan Hadist. Selesai sampai di situ pemahaman saya.

Namun jika saya baca ulang, “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”, ayat ini seperti sedang berkomunikasi dengan siapa saja yang sedang membacanya. Memang benar, ayat ini sedang mengatakan bahwa yang diajak bicara adalah “kamu” orang yang sedang membaca. Saya menduga, ayat ini bisa bermakna khusus dan bisa bermakna luas. Makna khusus menjelaskan kisah para rasul utusan Allah, dan makna luas mengandung pesan moral bahwa kita harus menjadi penerus misi ajaran para rasul. Bisa jadi juga, ayat ini berpesan kepada orang-orang yang beriman kepada Tuhan, mereka diberi tanggung jawab moral untuk menjadi pewaris ajaran para rasul. Dari mulai para sahabat, ulama, wali, kiyai, ustad, guru, dosen, para pemimpin, kepala keluarga, ibu rumah tangga, orang dewasa, remaja, sampai anak-anak, dirangkum dalam pesan ini. Jadi dalam pundak seorang muslim (berserah diri pada Tuhan), kita semua diberi pesan moral untuk meneruskan misi, untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran dari para rasul secara berkesinambungan.

Saya, sebagai orang yang berprofesi sebagai pendidik, menduga bisa jadi pesan ayat “sesungguhnya kamu salah seorang dari para utusan”, mengandung pesan moral tinggi untuk para pendidik. Para pendidik idealnya adalah manusia-manusia berkualitas tinggi, yang akan mengajari generasi-generasi penerus menjadi manusia-manusia berkualitas. Sangat dimengerti bahwa manusia-manusia yang akan mendidik manusia, haruslah manusia yang berkualitas tinggi pula. Jika demikian, betapa tingginya standar dari Tuhan bagi orang-orang yang layak menjadi pendidik. Masya Allah, astagfirullah.

Kecuriagaan saya semakin kuat, surat Yasin membawa pesan buat para pendidik yang bermoral tinggi, “agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai” (Yasin, 36:6). Tugas para pendidik memang menyampaikan peringatan-peringatan, nasehat-nasehat, tentang keimanan kepada  Tuhan Yang Maha Esa dalam kondisi sempit maupun lapang. Sekalipun bumi ini menjanjikan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan, kekuasaan dan kekayaan, namun jangan sampai manusia melupakan keyakinannya kepada Tuhan. Intinya apa pun latar belakang profesi pendidik, mereka harus mengemban misi-misi spiritual.

Selanjutnya kualitas moral tinggi seorang pendidik dijelaskan di dalam surah Yasin, “ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yasin, 36:21). Kualitas moral tinggi dari seorang pendidik, dia konsisten berada di jalan lurus untuk tidak meminta bayaran dari pekerjaannya sebagai pendidik. Pekerjaan pendidik tidak terikat dengan upah. Semua pekerjaan dikerjakan karena berharap balasan rezeki dari Allah yang datang tidak disangka-sangka dan abadi. Suatu pekerjaan ada uang atau tidak ada uangnya, semuanya dikerjakan dengan sempurna. Adapun sumber kesejahteraan hidupnya diserahkan pada sekehendak Allah yang maha kaya dan melimpah rezekinya. Selama para pendidik bekerja dengan ikhlas dan mengerjakan semua pekerjaan dengan sempurna, maka kesejahteraan hidupnya ada dalam tanggungan Allah. Pendidik-pendidik yang bekerja ikhlas dan sempurna karena Allah, sangat tidak mungkin hidupnya miskin. 

Tulisan ini hanya refleksi untuk diri saya sebagai guru, betapa tingginya kualitas seorang pendidik jika kita kaji gagasannya dari Al-Qur’an. Dari tulisan ini muncul kesadaran bahwa penulis masih jauh dari kata layak untuk menjadi pendidik. Wallahu’alam. 

Tuesday, November 2, 2021

ILMU YANG DILUPAKAN GURU

OLEH: TOTO SUHARYA

Tulisan ini bernagkat dari hasil wawancara dan pengamatan, pada calon guru atau guru yang sudah terjun bertahun-tahun di dunia pendidikan. Ilmu-ilmu dasar pendidikan yang dipelajarinya di kampus, mereka katakana sudah lupa dan kadang susah untuk mengingatnya lagi. Penulis merefeksi diri, bahwa sesungguhnya selama kuliah sampai di lapangan menjadi guru, seperti tidak memiliki bekal pemahaman yang cukup tentang ilmu-ilmu dasar pendidikan yang harus jadi pedoman ketika terjun di lapangan.

Sebuah refleksi diri terjadi ketika menjelang tidur setelah menyelesaikan sebuah artikel tentang Tingkatan Pengetahuan (www.logika-tuhan.com). Dalam artikel tersebut saya bahas tingkatan pengetahuan dengan analisis dari sudut pandang agama, fisika, dan filsafat. Selanjutnya saya beri penjelasan dengan analisis menggunakan teori kognitif dari Bloom. Setelah membahas tingkatan pengetahuan, saya paham dengan mendalam bahwa seluruh produk dari hasil pendidikan ujungnya adalah pengetahuan (knowledge). Ijazah adalah tanda bahwa seseorang otaknya berisi ilmu pengetahuan, yang akan tercermin dalam cara bicara, bersikap, berprilaku terhadap sesama, orang tua dan anak-anak.

Seluruh aktivitas pembelajaran, melalui metode ceramah, praktek, penggunan video, rekaman, buku, modul, dll., hasil yang di dapat oleh peserta didik adalah pengetahuan. Jika demikian, seluruh urusan pendidikan terfokus pada bagian tubuh dari leher ke atas dan bagian yang paling vital di atas leher adalah otak, karena seluruh prilaku yang manusia lakukan berangkat dari perintah otak. Apa yang diperintahkan oleh otak sangat tergantung pada pengetahuan yang diolahnya. Seluruh rangkaian pendidikan dari mulai Paud, TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA/MK/SLB, adaah upaya untuk menginput pengetahuan ke dalam otak para peserta didik.

Dalam sebuah penelitian, Taufiq Pasiak mengatakan otak terbagi menjadi tiga, yaitu otak mamalia baru (otak kreatif, logika, analisis), otak mamalia tua (perasaan), dan otak reptil (kebiasaan). Berdasar fungsi otak di atas, pebelajaran harus mencerdaskan otak. Pembelajaran yang mencerdaskan otak adalah kegiatan yang bisa mengaktifkan seluruh bagian otak. Dalam teori pembelajaran, aktivitas belajar harus melibatkan tiga bagian otak yaitu kognitif (otak mamalia baru), afektif (otak mamalia tua), dan psikomotor (otak reptil).

Ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru-guru adalah pengetahuan memiliki tingkatan sampai enam lapis. Teori pengetahuan ini berurutan dari level ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Enam level tingkatan pengetahuan ini harus diajarkan dan dilatihkan bagaimana cara mendapatkannya. Learning how to learn adalah melatih bagaimana cara peserta didik mendapatkan pengetahuan lapis 4, 5, dan 6. Learning how to learn, isinya adalah mengajarkan berpikir analisis, sintesis, dan evaluasi  untuk mendapatkan pengetahuan di level 4, 5, dan 6.

Kelemahan pembelajaran kita selama 20 tahun ke belakang adalah abai terhadap keterampilan berpikir yang harus dimiliki peserta didik. Pengetahuan instan dari cara bernalar rendah sering mendominasi kegiatan pembelajaran kita. Kelamahan selanjutnya adalah pengetahuan tidak dipahami sebagai capaian penting dalam pembelajaran. Pengetahuan dianggap sebagai bukan hasil dari proses pendidikan, maka dari itu budaya baca dan menulis buku kurang serius dihargai di lingkungan pendidikan. Survey kecil ketika supervisi PTMT dari 15 orang peserta didik, dengan jujur dihadapan Tuhan nya, mereka tidak suka membaca. Peserta didik demikian juga pendidik yang suka membaca masih jadi golongan minoritas, padahal ini dunia pendidikan.

Kelamahan lain yang dimiliki kita adalah para pendidik sangat jarang sekali menguasai pengajaran yang mengajarkan bagaimana cara memperloleh pengetahuan level 4, 5, dan 6. Kelamahan ini telah berdampak pada rendahnya penghargaan peserta didik pada pengetahuan, memberi dampak pada prilaku rendahnya minat baca, rendahnya kemampuan berpikir, dan rendahnya kemampuan bertahan dalam kondisi sulit (survival).

Semua kelemahan pendidikan kita, berawal dari kualitas bacaan dan rendahnya kualitas pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Pengetahuan yang dimiliki peserta didik adalah kualitas pengetahuan awam, pengetahuan pasaran, pengetahuan murahan, yang tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ketika peserta didik kembali ke masyarakat. Pengetahuan murahan hanya diakses dari televisi, berita koran, dan chating media sosial, diakses dengan menggunakan kemampuan otak level rendah. Semua kembali pada ilmu kependidikan yang harus ajeg dimiliki setiap pendidik.

Salah satu Ilmu yang ajeg dan tidak boleh dilupakan guru adalah teori kogintif dalam pembelajaran. Ilmu ini dilupakan karena kesalahpahaman. Dikira teori kognitif hanya mewakili kemampuan otak dalam berlogika, analisis, dan sintesa, padahal merasa, benci, cinta, dan munculnya manusia-manusia berkarakter baik adalah bagian dari bekerja dan berfungsinya otak. Pengetahuan sebagaimana menurut Sorokin, bisa di dapat melalui penalaran otak mamalia baru, bisa di dapat dengan perasaan (otak mamalia tua), dan bisa di dapatkan dengan cara melakukan (otak reptil). Oleh karena itu, pembelajaran harus memenuhi karakteristik ketiga fungsi otak. Di wilayah otak mamalia muda, pembelajaran harus melatih bagaimana peserta didik mendapat pengetahuan sampai pada pengetahuan dengan kualitas level enam. Di wilayah otak mamalia tua, pembelajaran harus bisa memberikan efek senang, riang, dan gembira. Untuk itu informasi yang masuk ke otak harus dipilih, informasi-informasi yang benar-benar membawa kebaikan dan harapan bagi para peserta didik. Pada wilayah otak reptil, pembelajaran harus menghadirkan informasi-informasi yang menstimulus peserta didik untuk berani melakukan, berani mencoba hal-hal yang baik dan mengulanginya.

Inilah ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru sampai kapan pun, karena fungsi dan struktur otak minimalnya memiliki tiga fungsi sebagaimana dikemukakan para ahli otak dan ahli pendidikan. Melupakan ilmu dasar ini, akan berakibat rendahnya kepemilikan kualitas pengetahuan peserta didik, rendahnya kepemilikan makna hidup peserta didik, dan terbentuknya karakter-karakter peserta didik yang dikendalikan oleh naluri manusia-manusia pasaran yang hanya pantas untuk menerima suruhan dan cacian sebagaimana terjadi di zaman penjajahan. Wallahu’alam.

Monday, August 16, 2021

HARUS SEGERA TATAP MUKA

OLEH : TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Kurang lebih 15-20 persen anak-anak akan mengalami learning lost. Guru-guru pun sudah merasa lelah melayani. Dari hasil supervisi pembelajaran di suatu sekolah jenjang menengah, kehadiran siswa dalam pembelajaran maksimal hanya mencapai 85 persen. Bekerjasama dengan wali kelas, guru mata pelajaran dan orang tua, kehadiran siswa masih stagnan. Komunikasi via wa dan kunjungan ke rumah telah dilakukan namun aktivitas belajar anak-anak sangat sulit dikontrol.

Budaya belajar jarak jauh via daring atau luring, belum membiasa. Hampir dua tahun pandemi ini, anak-anak masih ada yang belum bisa beradaftasi. Budaya belajar di negara kita masih sangat terikat dengan kegiatan tatap muka. Pembelajaran jarak jauh yang terpaksa harus dilakukan karena pandemi, belum bisa disadari sebagai suatu keharusan oleh sebagian anak-anak bahwa pembelajaran harus dilakukan dengan cara jarak jauh, dilakukan dengan sikap tanggung jawab dan mandiri. Sebagian anak-anak kita masih sangat mengandalkan pembelajaran tatap muka.

Kendala yang dihadapi anak-anak selain kurang motivasi, didasari pula oleh keterbatasan kemampuan pengoperasian teknologi informasi, kepemilikan perangkat teknologi informasi, ketersediaan kuota dan akses internet. Dari 15-20 persen anak-anak masih terkendala masalah ini. Keterbatasan ini menjadi sebab kurangnya motivasi belajar anak-anak melalui layanan daring. Layanan luring melalui modul dan penugasan, tidak dikerjakan secara maksimal karena sebagian anak-anak juga kurang aktif berkomunikasi dengan guru.

Komunikasi dengan orang tua melalui media informasi dirasa kurang efektif, karena beberapa orang tua kurang aktif merespon setiap informasi-informasi yang disampaikan guru di grup media sosial. Latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor penghambat, keterlibatan orang tua dalam menjaga anak-anaknya agar tetap belajar melalui layanan jarak jauh tidak efektif. Orang tua siswa sama-sama mengalami kesulitan mengendalikan kegiatan belajar anak-anaknya di rumah.

Semakin lama layanan pembelajaran jarak jauh secara daring dan luring, semakin kurang kondusif akibat belum bisa menghadapi situasi darurat pandemi saat ini. Beberapa masukkan dalam rapat orang tua siswa, mereka sudah merasa kewalahan dan khawatir anak-anaknya tidak bisa belajar dengan efektif melalui jarak jauh. Mereka sudah berharap kembali ada pembelajaran tatap muka agar bisa menjamin anaknya belajar dengan efektif dibimbing oleh guru-gurunya.

Tatap muka dengan situasi masih pandemi tentu sangat berisiko, bagi kesehatan guru dan anak-anak. Percepatan vaksin untuk anak-anak tentu menjadi hal yang urgen untuk dilakukan. Sekalipun vaksin tidak menjamin orang bebas dari tertular virus covid-19, tapi setidaknya vaksin dapat mengurangi risiko bahaya virus covid-19, dan juga bisa memberi sedikit imun dengan kepercayaan diri bahwa vaksin dapat membantu menjaga kekebalan tubuh terhadap virus covid-19.

Selanjutnya, jika seluruh elemen masyarakat menganggap penting untuk menjaga hak pendidikan anak-anak, semua harus berani menanggung risiko bersama jika pembelajaran tatap muka dilakukan. Seluruh elemen masyarakat harus menyadari pentingnya pola hidup sehat agar imunitas tubuh dapat terpelihara. Kemudian, segala risiko yang mungkin terjadi ketika tatap muka dilaksanakan harus disadari menjadi tanggung jawab bersama untuk menghadapinya. Akibat-akibat terburuk ketika dilakukan tatap muka harus dihadapi bersama tanpa ada usaha saling manyalahkan antar pihak. Pandemi ini sudah menjadi masalah bersama yang harus kita hadapi bahu membahu. Segala upaya yang dilakukan pemerintah harus diapresiasi sebagai usaha untuk memperbaiki keadaan agar cepat kembali pulih.

Seluruh elemen masyarakat harus memberi dukungan penuh kepada pemerintah untuk membuka layanan pendidikan melalui tatap muka, dengan kesiapan bersama untuk menanggung dan mengantisifasi segala kemungkinan yang terjadi. Kita semua harus menjadi pelaku bukan hanya pengamat dunia pendidikan. Segala kejadian yang mungkin terjadi pada saat tatap muka, bukan hanya untuk diperbicangkan tetapi untuk bahu-membahu menyelesaikannya. Dengan komitmen bersama dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, sekolah akan punya kekuatan moril dan kesiapan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Beragamnya kualitas fasilitas sarana kesehatan di lingkungan sekolah adalah tugas bersama untuk menyediakannya dan yang lebih penting adalah kesiapan budaya hidup sehat, dan melakasanakan protokol kesehatan yang harus terus ditingkatkan kesadarannya. Sekalipun sarana prasasaran kesehatan di sekolah terbatas, dengan kesadaran budaya hidup sehat dan melakukan protokoler kesehatan di masa pandemi, kiranya pembelajaran tatap muka dengan mengucap bismilah mudah-mudhaan bisa dilakukan.

Kita niatkan bersama, memohon kepada Tuhan YME bahwa upaya pembelajaran tatap muka adalah upaya melaksanakan perintah Allah, yaitu mewujudkan generasi-generasi tangguh di masa yang akan datang. Semoga Allah melahirkan generasi-generasi kreatif, dan tangguh, dengan belajar dari situasi pandemi ini. Wallahu’alam.

Saturday, July 31, 2021

SEKOLAH UNIVERSAL

 OLEH: TOTO SUHARYA

Jawa Barat memang selalu terdepan dalam inovasi. Dengan jumlah penduduk 48 juta lebih, Jawa Barat memang harus punya keberanian untuk meakukan inovasi terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu keberanian Jawa Barat adalah menggulirkan program SMA Terbuka, yang tadinya program ini hanya dimiliki tujuh sekolah saja se-Indonesia dari program pemerintah pusat. Selain untuk meningkatkan Angka Partisifasi Kasar (APK) sekolah menengah di Jawa Barat, program SMA Terbuka bertujuan menjamin kepada seluruh warga Jawa Barat agar bisa mengakses pendidikan dalam kondisi apapun. Melalui program SMA Terbuka setiap warga Jawa Barat dijamin hak-haknya untuk mengakses pendidikan tanpa harus terganjal oleh syarat-syarat formal sebagaimana di pendidikan regular.

Dalam Pergub No. 74 tahun 2020 dijelaskan pertimbangan dikeluarkannya program SMA Terbuka adalah upaya memberikan layanan khusus dan pemerataaan askes pendidikan, terutama kepada anak-anak usia 16-21 tahun yang terkedala dengan waktu dan atau ekonomi keluarga. Selain itu juga menimbang Angka Partisifasi Kasar (APK) Jawa Barat yang masih perlu terus dtingkatkan. Sementara ini rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih 8,3 tahun, dianggap belum lulus SMP.

Program layanan SMA Terbuka masuk pada kategori layanan khusus. Pengertian layanan khusus di sini dapat dipahami dari berbagai aspek, antara lain sosial, ekonomi, budaya, psikologi, dan politik. Dari aspek sosial SMA terbuka memberikan layanan kepada masyarakat yang kondisinya lemah karena secara struktur sosial berada di lapisan menengah ke bawah, mobilitas hidupnya terbatas, dan tidak memiliki ikatan jejaring keluarga dan sosial yang luas. Secara ekonomi, SMA Terbuka menyasar kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah, sehingga anak-anak usia sekolah pada keluarga ekonomi lemah sering terlibat dalam dunia kerja untuk bantu ekonomi keluarga. Dari sudut budaya, masyarakat Indonesia masih kuat memegang tradisi yang berusmber dari budaya maupun agama. Tradisi tersebut antara lain menikah usia dini, menikah dianggap tujuan akhir sehingga setelah menikah dianggap tidak ada tugas atau kewajiban untuk berpendidikan tinggi. Secara psikologis, anak anak Indonesia pada usia sekolah berada pada masa pancaroba, mereka harus mendapat layanan pendidikan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Secara politis, tahun 2045 bangsa Indonesia punya cita-cita menjadi bangsa berdaulat di tingkat internasional sehingga sejak saat ini harus menyiapkan anak-anak cerdas untuk menyambut Indonesia emas.         

Program SMA Terbuka sejalan dengan kondisi zaman, dimana pendidikan sudah bersifat universal bisa didapat oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa tersekat-sekat oleh geografi, ekonomi, bangunan, lembaga formal, tatap muka berhadap-hadapan, dan struktur organisasi. Jargon Ki Hadjar Dewantara memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, “dimana saja sekolah, dan siapa saja guru”. Sekalipun pemikiran Ki Hadjar dikemukanan berpuluh tahun yang lalu, namun sekaranglah zamannya bahwa pendidikan harus bersifat universal.

Secara filosofis tujuan SMA Terbuka memang sangat membantu seluruh lapisan masyarakat dalam mengaskes pendidikan. Anak-anak yang memiliki karir di bidang olah raga, seni, dan ekonomi, tidak lagi terhambat oleh aturan kaku seperti sekolah reguler. Mereka yang jauh dari sekolah, terkendala ekonomi, geografi, budaya, dan politik, bisa merasakan layanan pendidikan melalui layanan jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi.

Dalam sekolah universal aturan tidak terlalu ketat mengikat sebab semuanya dilandasi oleh melayani semua. Kunci dari layanan universal adalah kemandirian, kesadaran, dan motivasi bersama untuk memberikan layanan dan pengalaman pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kolaborasi dan dialog adalah kunci utama dalam memberikan layanan pendidikan pada peserta didik. Maka dari itu, syarat-syarat agar semua anak usia 16-21 tahun bisa akses sekolah menengah terbuka tidak terlalu ketat, yang pada akhirnya ada kesan membatasi. Anak-anak usia sekolah yang sudah bekerja yang tidak terikat kontrak maupun terikat kontrak harus terlayani. Perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan anak-anak di usia sekolah tamatan SMP, harus diajak untuk sama sama mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan anak-anak generasi emas di tahun 2045.  

Kualitas pendidikan di SMA Terbuka tidak dapat serta merta dilihat dari hasil lulusan. Kualitas pendidikan SMA terbuka sangat tergantung pada proses layanan. Minimalnya proses pembelajaran pada anak-anak SMA terbuka secara disiplin dan penuh tanggung jawab harus benar-benar terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi proses pembelajaran bisa dilaksanakan tanpa sekat ruang dan waktu. Untuk menjamin kualitas layanan SMA terbuka, harus ada komitmen tinggi dari setiap penyelenggara pendidikan SMA Terbuka untuk bekerja keras, kreatif, terorganisir, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk seoptimal mungkin menjamin proses pembelajaran berlangsung sesuai ketentuan dan harapan bersama.

Program SMA Terbuka adalah tugas suci kita semua. Mencerdaskan masyarakat adalah perintah Allah agar kita menjadi bangsa mandiri, tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa bermanfaat bukan hanya bangsa kita sendiri, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa-bangsa lain. Kini kita telah menjadi warga dunia tanpa sekat yang dipersatukan oleh teknologi informasi. Wallahu’alam.  

Tuesday, July 27, 2021

SEKOLAH PENGGERAK BUKAN UNGGULAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Berulang-ulang pernyataan Mas Mentri bahwa sekolah penggerak bukan sekolah unggulan. Pernyataan ini mengemuka dari mulut Mas Mentri jangan sampai keberadaan sekolah penggerak menjadi pembeda bagi sekolah-sekolah lain yang tidak terlibat dalam proyek sekolah penggerak. Saat ini, telah berkembang sebuah pemahaman dan terkondisikan bahwa sekolah-sekolah yang tergabung dalam sekolah penggerak sebagai sekolah unggulan, ekslusif, dan berbeda dengan sekolah-sekolah non penggerak. Pernyataan sikap Mas Menteri adalah sebuah kekhawatiran bahwa kastanitasi sekolah akan terulang kembali dengan adanya program sekolah penggerak. Kekahwaatiran lainnya adalah munculnya sentimen negatif dari sekolah-sekolah yang tidak tergabung dalam program sekolah penggerak yang merasa tidak diperhatikan.

Persepsi penulis, Program Sekolah Penggerak adalah upaya pemerintah untuk mendorong semua sekolah untuk melakukan perubahan. Namun demikian sekolah penggerak dapat dikatakan sebagai sekolah uji coba penerapan kurikulum baru. Perbedaannya hanya di proses penentuan sekolah tidak dilakukan melalui ajuan atau penunjukkan, tetapi kali ini melalui seleksi kesiapan sekolah dalam menerima perubahan. Seleksi bukan untuk menjaring peserta program, tetapi dapat menjadi konisioning agar sekolah yang dijadikan proyek secara psikologis merasa siap untuk menerima perubahan karena sudah berdasarkan hasil seleksi.

Tepatnya memang Program Sekolah Penggerak adalah uji coba penerapan ide-ide perubahan minset, kurikulum, yang dilakukan oleh kementerian. Dalam uji cob aini butuh kepala sekolah, guru-guru, yang mentalnya sudah terkondisikan siap berubah. Melalui cara seleksi rekruitmen sekolah-sekolah yang akan di uji coba harus terkondisikan kesiapan mentalnya. Tantangan terberat dari dunia pendidikan adalah menyiapkan para pendidik yang selalu siap menghadapi perubahan dan memiliki kemampuan beradaftasi tinggi dengan kondisi zaman.

Di luar sekolah-sekolah penggerak, hendaknya tidak menunggu komando untuk melakukan perubahan. Seluruh sekolah harus menggerakkan seluruh warganya untuk merespon dan beradaftasi dengan perubahan zaman. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari menentukan hal-hal substansial yang harus segera dilakukan perubahan dalam layanan pendidikan. Hal-hal substansial tersebut ada dalam tujuan pendidikan yang hendak menciptakan generasi Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai dasar yang sudah di sosialisasikan yaitu peajar yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, mandiri, cerdas, kreatif, dan mampu berkolaborasi untuk menghadapi tantangan zaman.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut semua sekolah tanpa komando harus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menyenangkan. Layanan pendidikan harus berpusat pada kebutuhan, bakat, dan minat, peserta didik. Tidak ada lagi perangkingan, dan tidak ada jurusan-jurusan yang akan melahirkan kastanisasi kecerdasan peserta didik. Semua perserta didik harus dipandang sebagai manusia cerdas yang harus dibantu untuk menemukan jati dirinya dengan menemukan dan medorong untuk tumbuh sesuai dengan kecerdasan khas yang dimilikinya.

Melalui program literasi, wawasan peserta didik dalam memandang dunia harus dibuka seluas-luasnya dengan menyajikan konten-konten materi bahan ajar yang sudah terseleksi kevalidan dan keshaihan, serta berhubungan dengan kontek lingkungan di mana para peserta didik tinggal. Peserta didik dari lingkungan petani, materi-materi bahan ajar hendaknya memperkenalkan pengetahuan, teknologi, yang berkaitan dengan inovasi-inovasi dalam bidang pertanian. Peserta didik di lingkungan nelayan, hendkanya disajikan pengetahuan tentang inovasi-inovasi dalam bidang kelautan. Bahan-bahanajar yang disajikan bukan sekedar pengetahuan umum tapi disajikan dari hasil riset-riset para ahli yang bisa diakses dari berbagai jurnal nasional maupun internasional yang terakreditasi.

Untuk menyajikan pengetahuan dan inovasi hasil riset ilmiah kepada peserta didik, dibutuhkan guru-guru yang memahami latar belakang kemampuan para peserta didik dalam menyerap ilmu pengetahuan yang hendak disajikan. Pemahaman tentang struktur kerja otak untuk meningkatkan kemampuan bernalar, pemanfaatan media pembelajaran, dan model-model pembelajaran harus dipahami dengan cermat agar pembelajaran dapat membantu para peserta didik menjadi manusia-manusia literat.

Pendidikan karakter yang tidak boleh tidak dan harus dikembangkan oleh seluruh sekolah adalah membudayakan membaca sebagai bahan dasar untuk melahirkan peserta didik cerdas dan kreatif. Berbagai ide sebagai upaya membudayakan budaya baca, bisa dikemas dalam berbagai program seperti readding cahallange, membaca miminal 25 buku per tahun, bedah buku, jurnal,  membiasakan mengemuakan pendapat dalam bentuk esay dalam setiap pembelajaran, dan membuat proyek-proyek peneitian kolaboratif yang direncakan dalam kurikulum minimal satu tahun satu kali di setiap tingkatan peserta didik.

Guru-guru dalam setiap pembelajaran harus merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan ide-ide baru yang berhasil ditemukan dari sebuah buku atau jurnal untuk memberi contoh bahwa membaca harus dilakukan oleh para peserta didik untuk bisa menemukan ide-ide baru dalam melakukan perubahan. Mengkulturkan budaya pada peserta didik, harus dimulai dari kultur membaca dari para pendidik. Para pendidik harus memiliki kesadaran tinggi bahwa budaya membaca adalah pondasinya pendidikan, dengan demikian untuk meningkatkan kualita layanan pendidikan, setiap guru sudah harus punya naluri yang sama yaitu biasa membaca tanpa harus ada komando. Naluri membaca harus terus difasilitasi seperti memberi makan ketika perut lapar.

Otak seperti perut yang tidak boleh dibiarkan lapar dan tidak boleh diisi dengan sembarangan makanan. Otak para pendidikan dan peserta didik harus selalu terisi dengan pengetahuan-pengetahuan bergizi agar kecerdasannya tumbuh dengan sempurna. Mari bergerak tanpa harus menunggu komando, label, dan surat keputusan. Bergerak adalah naluri manusia, maka barang siapa mau hidup sejahtera dunia dan akhirat, bergeraklah. Allah akan memberi kesejahteraan terbaik kepada yang bergerak. Wallahu’alam. 

Monday, July 26, 2021

KARAKTER ENTREPRENEUR PARA TOKOH SEJARAH

 BAHAN AJAR SEJARAH

Mata pelajaran          : Sejarah Indonesia

Kelas / Semester        : XII / Ganjil

Materi Pokok            : Meneladani karakter tokoh-tokoh sejarah

Metode/waktu          : Online/40 menit

Tujuan                      : Menganalisis ciri tokoh berkarakter entrepreneur

 

MATERI  Pertemun 1

Herodotus mengatakan, “sejarah menceritakan perputaran jatuh-bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban”. Jadi memelajari kisah tokoh-tokoh besar di suatu negara sama dengan memahami sejarah sebuah negara. Untuk kemajuan bangsa dibutuhkan tokoh-tokoh yang mampu mensejahterakan bangsa. Di zaman kemerdekaan,  berdasar hasil survey John Stanley terhadap 700 lebih miliarder di dunia, mereka mengatakan kesuksesan para miliarder didukung oleh kemampuan bergaul dan kecerdasan berada di urutan ke-21. Mitshubisi Research Institute (dalam Dewajani, 2008) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada keterampilan bertahan hidup yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan membangun komunikasi (networking), 20% tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang dimilikinya (Rohmah, 2017, hlm. 149).

Ada hukum sejarah yang berlaku pada tokoh-tokoh besar dimanapun berada. Mereka akan mengalami kisah hidup sebagaimana sebagai seorang berkarakter entrepreneur. Kisah-kisah tokoh sejarah akan menggambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha mencari solusi, dan kreatif menggali berbagai ide atau gagasan untuk mencapai cita-citanya dengan membaca. Mereka berteman baik dengan buku-buku bacaan, dan sangat pandai membaca situasi. Mereka tidak berhenti membaca pengalaman hidup yang dialaminya untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Selain itu, perjalanan hidup para tokoh besar selalu berdampingan dengan kegagalan demi kegagalan. Mereka para pemberani, karena mereka tidak takut gagal untuk mewujudkan cita-cintanya. Kekuatan karakternya ditempa dengan ujian-ujian berat yang dapat dilaluinya dengan sabar dan tabah hingga mencapai tujuan. Mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha bertahan hidup (survival), hingga penderitan-penderitaan hidupnya bisa mereka lalui. Perjalanan hidupnya yang berat membuat mereka sukses, merdeka, dan mandiri dalam mementukan nasib hidupnya. Mereka tidak tergantung pada orang lain, dan keberhasilannya sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Seorang filsuf Yunani berkata, “segala yang terjadi dan berlaku di alam ini dikuasai oleh hukum sebab akibat”. Untuk itu, kisah-kisah keuletan dalam membaca, kegagalan dan penderitaan hidup seseorang selalu menjadi sebab suksesnya orang-orang besar dalam memperjuangkan cita-citanya. Sudah menjadi hukum sejarah atau ketetapan (determinisme) sejarah bahwa orang-orang sukses akan mengalami kisah sebagaimana orang-orang besar mengalaminya. Inilah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan sebagai takdir manusia yang tidak dapat dihindari. Dengan membaca, kisah-kisah kehidupan orang-orang besar (The Great Man) kita bisa membuktikan kebenaran hukum sejarah berlaku dalam kehidupan tokoh besar dan harus kita teladani.

Wednesday, June 30, 2021

MERDEKA BELAJAR DARI KI HADJAR

OLEH: TOTO SUHARYA

Ketika jargon “merdeka belajar” digulirkan oleh kementerian pendidikan dibawah kepemimpinan Mas Nadiem, banyak orang bertanya-tanya apa sebenar esensi dari merdeka belajar yang dimaksud? Semua berusaha menejemahkan berdasarkan pemahaman masing-masing. Tidak sedikit pula yang nyinyir dengan jargon merdeka belajar dengan menafsirkan bahwa merdeka belajar adalah belajar “kumaha urang” (bagaimana saya). Bersamaan dengan jargon merdeka belajar, Mas Menteri memperkenalkan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam implementasi pendidikan.

Ada baiknya untuk memahami jargon merdeka belajar, kita gali kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dari buku-buku karya Ki Hadjar yang sudah menjadi sejarah pemikiran pendidikan beliau. Salah satu buku karangan beliau berjudul “Bagian Pertama Pendidikan”. Buku terbitan tahun 1962 dicetak oleh percetakan Taman Siswa Jogjakarta, penulis dapatkan buku ini di pasar loak salah satu sudut Kota Bandung. Membaca pemikiran-pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan, penulis menemukan bahwa pemikir-pemikir leluhur kita di bidang pendidikan tidak kalah dengan pemikir-pemikir dari bangsa lain. Sudah saatnya kita tumbuh dewasa dengan percaya diri pada pemikiran leluhur kita. Setiap bangsa memiliki karakter, budaya, sosial, politik, agama dan kondisi alam berbeda-beda. Model pendidikan yang paling cocok untuk bangsa Indonesia, pendidikan yang lahir dari kondisi lingkungan alam, sosial, budaya, di mana bangsa Indonesia tinggal.

Ki Hadjar berpendapat mendidik anak adalah mendidik rakyat. Sistem pendidikan harus sesuai dengan hidup dan penghidupan rakyat. Pengaruh pendidikan adalah memerdekakan lahir dan batin. Belajar yang memerdekakan adalah gagasan Ki Hadjar untuk mendidik rakyat Indonesia. Kemerdekaan lahir dan batin diartikan oleh Ki Hadjar adalah melahirkan manusia-manusia yang tidak tergantung pada orang lain, dan harus bersandar pada kekuatan diri sendiri. Pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk penghidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan bangsa. Dalam hidup merdeka seseorang harus ingat bahwa anak-anak hidup bersama-sama dengan orang lain, dan menjadi bagian dari persatuan manusia. Dalam pendidikan, kemerdekaan bersifat tiga macam, berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri.  (Ki Hadjar, 1962, hlm. 3-4).

Selanjutnya, prasyarat merdeka belajar menurut Ki Hadjar adalah “pendidikan harus terbebas dari bantuan yang mengikat, yang dapat menimbulkan hutang budi pada pemberi bantuan. Kondisi ini membahayakan bagi dunia pendidikan. Di peringatkan juga sudsidi pendidikan dari pemerintah  dapat mengurangi kemerdekaan dalam pengajaran. Bantuan pendidikan harus bersifat sukarela dan tidak mengikat. Biaya pendidikan harus membiayai dirinya sendiri.” (Ki Hadjar, 1962, hlm. 4-5). Imam Ahmad mengatakan, “kebaikan orang baik itu mengikat karena kita punya kewajiban membalas kebaikan mereka”. Kewajiban membalas budi inilah bisa menjadi penghambat kemerdekaan pengajaran.   

Gagasan Ki Hadjar menggambarkan kondisi bantuan pendidikan saat ini. Bantuan-bantuan luar negeri untuk pendidikan tentu memiliki syarat dan akan mengikat pada kemerdekaan pengajaran. Bantuan pemerintah juga dapat mengurangi kemerdekaan belajar jika batasan-batasan aturan dalam penggunaan anggaran sangat kaku. Dunia pengajaran bukan dunia baku dan linier, karena yang dihadapi adalah anak-anak yang memiliki jiwa, dia hidup dan sangat dinamis. Untuk mengajarknya dibutuhkan kecerdasan para pendidik untuk mengelola dan mengembangkan pengajaran kreatif, adaftif, dengan pendekatan multidimensi. Kesejahteraan pendidik, sarana-prasarana, dan media pengajaran harus dibangun secara berkesinambungan dan harus selalu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Jika subsidi pendidikan diberikan dengan batasan-batasan rigid, dan mengingat, maka pengajaran akan kehilangan kemerdekaannya dan tidak mampu beradaftasi dengan perkembangan zaman.

Selain itu, untuk mendukung merdeka belajar, harus banyak tersedia badan-badan yang bisa menolong anak-anak istimewa yang pantas ditolong. Anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah harus mendapat kemudahan untuk melanjutkan pendidikan kemanapun mereka mau. Dana-dana pendidikan untuk golongan ekonomi lemah harus tersedia melimpah dan negara harus bertindak.

Merdeka belajar yang dicanangkan oleh Ki Hadjar tidak berarti bebas membabi buta. Pendidikan harus tetap mengacu kepada kodrat yang bersumber pada adat istiadat. Kodrat lebih kuasa dalam pengajaran. Contoh dalam pengajaran antara anak laki-laki dan perempuan. Pendidikan yang sesuai dengan adat isitiadat (kodrat) harus mengajarkan etika, kesopanan, pergaulan, antara laki-laki dan perempuan sebagaimana terjadi pada pendidikan dalam lingkungan keluarga, terutama kepada mereka yang sudah menginjak masa birahinya datang. Masa-masa birahi memuncak pada anak-anak terjadi pada usia 16-18 tahun untuk perempuan, dan usia 18-25 untuk laki-laki. Namun demikian anak permpuan dan laki-laki perlu bergaul dengan pengawasan agar mereka bisa terbiasa dalam pergaulan dan bersaudara.

Demikian sedikit pemikiran dari Ki Hadjar sebagai modal dasar kita untuk memahami makna merdeka belajar yang digadang-gadang oleh generasi kita sekarang. Memaknai kemerdekaan belajar harus hati-hati dan selayaknya kita gali pemikiran-pemikiran pendidikan dari pendahulu-pendahulu kita untuk memahami dasar-dasar pendidikan bagi anak-anak kita, yang telah dirintis dari sejak awal kemerdekakan bangsa Indonesia. Wallahu’alam. 

Wednesday, June 23, 2021

MENGURANGI PENGANGGURAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Dampak pandemi Covid-19 paling kasat mata adalah meningkatnya angka pengangguran. Pada tahun 2020 BPS mencatat pengangguran di Jawa Barat selama Pandemi mengalami kenaikan menjadi 10, 46 persen, mengalami kenaikan 0,60 persen dari tahun. Lulusan SMK menjadi penyumbang tingkat pengangguran terbuka (TPT) di anggka 18,75 persen pada agustus 2020, lebih tinggi dari warga lulusan SD yang berada di angka 5,68 persen. Tahun 2020 jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 24,21 juta orang mengalami peningkatan 0,22 orang dari tahun 2019. 

Semasa pandemi Covid-19, peningkatan angka pengangguran terkait dengan terjadinya PHK. Ada 1.983 perusahan yang terhambat kinerjanya karena pandemi covid-19. Sudah ada 19.089 pekerja yang terkena PHK dari 460 perusahaan. (https://www.merdeka.com/peristiwa/angka-pengangguran-di-jawa-barat-naik-selama-pandemi.html). 

Apa yang dapat kita ambil hikmah dari data di atas untuk pendidikan? Memprihatinkan data pengangguran lulusan SMK (18,75%) lebih tinggi dari pada lulusan SD (5,68%). Logika lucu, daya serap lulusan ke dunia kerja lebih bagus lulusan SD dibanding dengan luusan SMK. Kesimpulan lucu, jika ingin diterima kerja jangan melanjutkan sekolah ke SMK, cukup sekolah SD saja. Lulusan SMA tercatat pula sebagai penyumbang tingkat pengangguran terbuka.

Terkait dengan keberadaan pengusaha, jika 460 perusahaan melakukan PHK sebanyak 19.089 artinya rata-rata satu perusahaan melakukan PHK sebanyak kurang lebih 41 orang. Fakta ini menjadi jelas bahwa para pengusaha sangat dibutuhkan posisinya untuk membantu kesejahteraan masyarakat. Jika satu perusahaan bisa membuka lapangan pekerjaan 41 orang, berapa persen dibutuhkan pengusaha di negeri ini? Dengan populasi pengusaha 2,5% dari  270 juta penduduk Indonesia, seandainya satu pengusaha bisa merekrut tenaga kerja 41 orang, maka akan ada 276.750.000 terhidupi. Artinya kita membutuhkan minimal 2,5% pengusaha jika setiap pengusaha bisa merekrut 41 orang tenaga kerja.

Dalam sebuah webinar, Sandiaga Uno mengatakan, 99% ekonomi Indonesia digerakkan oleh para entrepreneurship usaha kecil, mikro dan ultra mikro. Namun sayangnya, entrepreneurship UKM di Indonesia masih ketinggalan dibanding negara Asean lainnya. “Singapura sudah 7%, Malaysia sudah 6%, Thailand sudah 5%, sedangkan Indonesia masih di bawah 3%. (8/09/20/ https://economy.okezone.com/ diakses, 07/06/2021)

Permasalahan bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia, pertama; bagaimana meningkatkan jumlah pewirausaha dari populasi penduduk Indonesia. Kedua; bagaimana meningkatkan kualitas para pengusaha Indonesia agar mereka bisa merekrut tenaga kerja minimal 41 orang pekerja. Apakah yang bisa diupayakan dunia pendidikan khususnya di level pendidikan SMA? Pada tahun 2018 dari sebanyak 131,01 juta anggkatan kerja, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMA menyumbang sebanyak 7,95%. (https://nasional.tempo.co/read/1173343/lulusan-sma-penyumbang-pengangguran-terbesar/full&view=ok). Pendidikan kewirausahaan adalah solusi tepat untuk dunia pendidikan menengah. Perlu keseriusan di dunia pendidikan untuk mensosialisasikan pendidikan kewirausahaan untuk meningkatkan jumlah pewirausaha secara nasional yang sudah tertinggal dari negara-negara tentangga.

Karakter Entrepreneur

Pendidikan kewirausahaan harus dikerjakan mulai dari pengembangan pola pikir, skill, dan praktek. Tiga ranah ini harus dikerjakan secara bersamaan dan berkelanjutan untuk mengembangkan karakter entrepreneur. Pengembangan karakter entrepreneur harus jadi trend pendidikan di era industri 4.0. Karakter entrepreneur adalah soft skill yang wajib dimiliki peserta didik di abad sekarang. Para para peserta didik yang memiliki karakter entrepreneur tidak ada istilah menganggur karena mereka bukan pencari kerja tetapi pencipta pekerjaan.

Pengembangan pola pikir pewirausaha bisa dilakukan melalui integrasi karakter entrepreneur ke dalam berbagai mata pelajaran. Pengembangan pola pikir dalam berbagai mata pelajaran dengan cara mengungkap fenomena,  hukum alam dan sosial yang dapat menjadi inspirasi untuk memahami bagaimana cara hidup optimis, tahan derita, sabar, disiplin, kreatif dan inovatif. Pola pikir ini harus terus di tanamkan pada peserta didik sesering mungkin sampai menjadi mindset dan menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap segala masalah dan kesulitan yang akan dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Skill adalah pengalaman kemampuan teknis yang harus dimiliki peserta didik agar mereka punya keterampilan hidup. Keterampilan teknis dalam mengaplikasikan berbagai macam aplikasi menjadi keniscayaan hidup saat ini. Ke depan semua perangkat hidup manusia akan banyak bersentuhan dengan teknologi informasi.  Kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, tidak akan lepas dari bantuan teknologi informasi. Skill memanfaatkan teknologi informasi dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan harus menjadi kompetensi dasar setiap peserta didik.

Praktek adalah kegiatan nyata berkaitan dengan pembelajaran projek berkaitan dengan kewirausahaan dengan tujuan memberikan pemahaman dan pengalaman langsung mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelaporan sebuah program kewirausahaan. Proyek pembentukan karakter entrepreneur yang sudah dilakukan seperti proyek Student Company, Vidoe Conference Training¸ Student Corp, dan Chanel TV sekolah, sebagai wadah untuk menampung segala gagasan dana pembentukan karakter peserta didik yang berkaitan dengan kewirausahaan. Walahu’alam.  

Friday, May 21, 2021

MERAYAKAN KEGAGALAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah / Sekretaris DPP AKSI).

Selebrasi kegagalan ketika tidak lolos seleksi kepala sekolah penggerak yang saya lakukan bukan pekerjaan iseng atau baper. Selebrasi ini saya lakukan dengan sadar, mengandung filosofi, pendidikan, dan paradigma berpikir di abad ke-21. Seperti kata Ary Ginanjar, kita sering bertanya what bukan why. Bertanya dengan why berarti ada penghargaan dan rasa ingin tahu tentang tujuan dari sebuah tindakan. Sedangkan bertanya what lebih cenderung pada apa yang dihasilkan dan transaksional. Orang-orang yang selalu bertanya what, mungkin tidak akan mengerti mengapa kegagalan dirayakan.

Ada hal menarik dari Ary Ginanjar Agustian, pada tahun 1990 Samuel Pierpont Langley diberi anggaran besar oleh pemerintah Amerika untuk menemukan teknologi pesawat terbang. Namun akhirnya teknologi pesawat ditemukan oleh The Wright Brother. Pertanyaannya mengapa Langgley gagal dan Wright berhasil? Langley mendapat anggaran, surat tugas, dan tujuannya melaksanakan tugas. Sedangkan Wright tidak pakai anggaran dan surat tugas, tujuannya bukan melaksanakan tugas tetapi ingin mengubah dunia. 

Selanjutnya Ari Ginajar Agustian (2021) menyampaikan sebuah cara untuk melakukan transformasi, selama ini kita lebih banyak menyelesaikan masalah di kuadran kiri terkait dengan stuktur, strategi, dan sistem, sementara permasalahan akut yang terjadi di masyarakat terkait dengan behaviors, values, dan beliefs.

Selebrasi kegagalan yang saya lakukan adalah dalam rangka mengajarkan dan menyelesaikan masalah behavior, values, dan beliefs bangsa. Dengan belajar dari kegagalan, para pendidik harus sadar bahwa kepala sekolah penggerak sejati tidak perlu sokongan anggaran atau surat tugas. Tujuan bergerak penggerak sejati bukan melaksanakan tugas, tetapi mengubah dunia pendidikan menjadi tempat belajar dan upaya mengubah pola pikir bangsa.

Secara filosofis Bill Gate mengatakan, “kemerdekaan adalah ketika kita merdeka melakukan kegagalan”. Kutipan ini mengandung kata-kata filosofis yang harus ditanyakan jika tidak mengerti. Bangsa merdeka adalah bangsa yang ketika melihat kegagalan tidak mencemooh, mencela, menghina, dan merendahkan. Di bangsa merdeka, gagal dianggap biasa, dan mengundang banyak simpati dan support, sehingga mengundang banyak orang lagi untuk berani gagal. Semakin banyak orang berani gagal maka semakin banyak orang cerdas karena orang dengan banyak gagal dialah orang yang banyak belajar. Untuk itu selayaknya kegagalan mendapat selebrasi dari semua pihak sebagai pendorong untuk tetap bergerak sekalipun tanpa imbalan, anggaran, atau surat tugas.

Bisa dibuktikan dalam sejarah, bangsa-bangsa besar yang berhasil mencapai puncak kejayaan dipimpin oleh orang-orang yang banyak gagal. Penemuan-penemuan ilmu dan teknologi yang berhasil mengubah dunia, ditemukan oleh mereka yang banyak gagal. Jadi orang hebat itu siapa? Bukan yang banyak sukses, tapi mereka yang banyak gagal. Untuk itu saya rayakan kegagalan karena sudah terpilih menjalani sebagaimana dijalani oleh orang-orang hebat kelas dunia. Tidak akan menangkap kebaikan dari kegagalan, kecuali orang-orang yang berpikir. Wallahu’alam.

Sunday, May 9, 2021

MENGAJARKAN KARAKTER SABAR

Oleh: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah / Sekretaris DPP AKSI)

Tidak dapat dikatakan orang baik tanpa memiliki kesabaran. Sebaik-baiknya manusia dia belum menjadi orang baik, tanpa memiliki sifat dan prilaku sabar.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat, 41:35).

Kata sabar sering dinasehatkan kepada siapa saja yang sedang menghadapi ujian dari Allah. Namun demikian jarang orang memahami apa arti sabar menurut Al-Qur’an. Awam memahami sabar hanya sekedar diam menerima apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Pandangan ini sangat pasif dan orang-orang sabar dianggap penderita dan tertindas. Pandangan ini sangat negatif dan membuat orang-orang sabar pesimis dan enggan menjadi orang sabar.

Jika kita belajar dari Al-Qur’an orang sabar pasti optimis dan bahagia. Banyak orang pasti memilih dan bercita-cita jadi orang sabar. Untuk memahaminya kita coba pahami konsep sabar dari penjelasan Al-Qur’an. Kabar gembira bagi orang yang memilih hidup berkarakter sabar. Orang-orang sabar teman dekatnya Allah. Siapa yang mengganggu orang sabar dia berurusan dengan teman dekatnya yaitu Allah. Dalam Al-Baqarah, 2:153), Allah mengatakan:

Betapa beruntungnya orang-orang yang menjadi teman dekat Allah. Lalu siapa orang-orang sabar ini? Al-Qur’an memberi kriteria siapa orang-orang sabar. Berikut kriteria orang-orang sabar menurut penjelasan Al-Qur’an.

1.  Shalat

Karakter yang dapat dilihat sebagai orang sabar adalah rajin shalat. Kepada orang-orang yang shalat, Allah akan menganugerahkan kesabaran. Minimal kesabaran itu terjadi, ketika peserta didik disiplin melaksanakan shalat. Kegiatan shalat bukan hanya ritual tetapi membangun pikiran dan tindakan yang selalu tergantung pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Konsepsi shalat tentu bukan hanya praktek ritual tetapi termasuk dalam tindakan-tindakan secara faktual dalam kehidupan di masyarakat. 

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45).

2.  Pemberi Maaf

Orang sabar berprilaku pemberi maaf. Pemberi maaf dipraktekkan dengan karakter suka bermusyawarah dan cinta damai. Tidak akan dikategorikan orang sabar jika tidak memeiliki karakter pemaaf. “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Asy Syuura, 42:43).

3.  Menolak kejahatan dengan kabaikan.

Karakter orang sabar sudah tidak lagi terpengaruh oleh rangsangan-sangsangan untuk berbuat baik yang datangnya dari luar. Apapun reaksi yang datang dari luar, sudah tidak berpengaruh pada karakternya, karena respon yang dihasilkan kepada setiap kejadian adalah respon yang selalu mencerminkan prilaku baik.

Kemampuan paling menonjol dari orang-orang sabar adalah merespon keburukan dengan kebaikan. “disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan”, (Al Qashshas, 28:54).

4.  Taat dijalan benar dengan bersedekah

Kesabaran seseorang diuji dalam ketaatannya menjalani jalan yang benar. Tidak ada kesabaran pada orang-orang yang taat pada jalan salah. Orang-orang sabar memiliki prilaku konsisten dalam menjaga tetap berada di jalan benar yaitu bersedekah.

“orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali Imran, 3:17).

Kesimpulannya, sabar adalah ciri prilaku agung dari orang-orang baik. Siapa memiliki karakter sabar, maka dia telah diberi keberuntungan yang besar dari Allah. Kesabaran adalah karakter yang dapat mendatangkan kesuksesan. Prilaku sabar wajib diajarkan kepada anak-anak agar kelak mereka menjadi pemimpin-pemimpin sukses di muka bumi. Allah berjanji kepada orang-orang sabar:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar, 39:10).

Sabar sangat perlu diajarkan di sekolah-sekolah sebagai karakter sukses yang akan mendampingi anak-anak di masa mendatang. Apa yang harus diajarkan? Latih anak-anak dengan program-program karakter seperti praktek shalat, jadi pemaaf, membalas keburukan dengan kebaikan, sedekah, dan mengawal program secara konsisten serta mengevaluasinya secara berkesinambungan.  Wallahu’alam.

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...