Wednesday, June 30, 2021

MERDEKA BELAJAR DARI KI HADJAR

OLEH: TOTO SUHARYA

Ketika jargon “merdeka belajar” digulirkan oleh kementerian pendidikan dibawah kepemimpinan Mas Nadiem, banyak orang bertanya-tanya apa sebenar esensi dari merdeka belajar yang dimaksud? Semua berusaha menejemahkan berdasarkan pemahaman masing-masing. Tidak sedikit pula yang nyinyir dengan jargon merdeka belajar dengan menafsirkan bahwa merdeka belajar adalah belajar “kumaha urang” (bagaimana saya). Bersamaan dengan jargon merdeka belajar, Mas Menteri memperkenalkan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam implementasi pendidikan.

Ada baiknya untuk memahami jargon merdeka belajar, kita gali kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dari buku-buku karya Ki Hadjar yang sudah menjadi sejarah pemikiran pendidikan beliau. Salah satu buku karangan beliau berjudul “Bagian Pertama Pendidikan”. Buku terbitan tahun 1962 dicetak oleh percetakan Taman Siswa Jogjakarta, penulis dapatkan buku ini di pasar loak salah satu sudut Kota Bandung. Membaca pemikiran-pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan, penulis menemukan bahwa pemikir-pemikir leluhur kita di bidang pendidikan tidak kalah dengan pemikir-pemikir dari bangsa lain. Sudah saatnya kita tumbuh dewasa dengan percaya diri pada pemikiran leluhur kita. Setiap bangsa memiliki karakter, budaya, sosial, politik, agama dan kondisi alam berbeda-beda. Model pendidikan yang paling cocok untuk bangsa Indonesia, pendidikan yang lahir dari kondisi lingkungan alam, sosial, budaya, di mana bangsa Indonesia tinggal.

Ki Hadjar berpendapat mendidik anak adalah mendidik rakyat. Sistem pendidikan harus sesuai dengan hidup dan penghidupan rakyat. Pengaruh pendidikan adalah memerdekakan lahir dan batin. Belajar yang memerdekakan adalah gagasan Ki Hadjar untuk mendidik rakyat Indonesia. Kemerdekaan lahir dan batin diartikan oleh Ki Hadjar adalah melahirkan manusia-manusia yang tidak tergantung pada orang lain, dan harus bersandar pada kekuatan diri sendiri. Pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk penghidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan bangsa. Dalam hidup merdeka seseorang harus ingat bahwa anak-anak hidup bersama-sama dengan orang lain, dan menjadi bagian dari persatuan manusia. Dalam pendidikan, kemerdekaan bersifat tiga macam, berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri.  (Ki Hadjar, 1962, hlm. 3-4).

Selanjutnya, prasyarat merdeka belajar menurut Ki Hadjar adalah “pendidikan harus terbebas dari bantuan yang mengikat, yang dapat menimbulkan hutang budi pada pemberi bantuan. Kondisi ini membahayakan bagi dunia pendidikan. Di peringatkan juga sudsidi pendidikan dari pemerintah  dapat mengurangi kemerdekaan dalam pengajaran. Bantuan pendidikan harus bersifat sukarela dan tidak mengikat. Biaya pendidikan harus membiayai dirinya sendiri.” (Ki Hadjar, 1962, hlm. 4-5). Imam Ahmad mengatakan, “kebaikan orang baik itu mengikat karena kita punya kewajiban membalas kebaikan mereka”. Kewajiban membalas budi inilah bisa menjadi penghambat kemerdekaan pengajaran.   

Gagasan Ki Hadjar menggambarkan kondisi bantuan pendidikan saat ini. Bantuan-bantuan luar negeri untuk pendidikan tentu memiliki syarat dan akan mengikat pada kemerdekaan pengajaran. Bantuan pemerintah juga dapat mengurangi kemerdekaan belajar jika batasan-batasan aturan dalam penggunaan anggaran sangat kaku. Dunia pengajaran bukan dunia baku dan linier, karena yang dihadapi adalah anak-anak yang memiliki jiwa, dia hidup dan sangat dinamis. Untuk mengajarknya dibutuhkan kecerdasan para pendidik untuk mengelola dan mengembangkan pengajaran kreatif, adaftif, dengan pendekatan multidimensi. Kesejahteraan pendidik, sarana-prasarana, dan media pengajaran harus dibangun secara berkesinambungan dan harus selalu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Jika subsidi pendidikan diberikan dengan batasan-batasan rigid, dan mengingat, maka pengajaran akan kehilangan kemerdekaannya dan tidak mampu beradaftasi dengan perkembangan zaman.

Selain itu, untuk mendukung merdeka belajar, harus banyak tersedia badan-badan yang bisa menolong anak-anak istimewa yang pantas ditolong. Anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah harus mendapat kemudahan untuk melanjutkan pendidikan kemanapun mereka mau. Dana-dana pendidikan untuk golongan ekonomi lemah harus tersedia melimpah dan negara harus bertindak.

Merdeka belajar yang dicanangkan oleh Ki Hadjar tidak berarti bebas membabi buta. Pendidikan harus tetap mengacu kepada kodrat yang bersumber pada adat istiadat. Kodrat lebih kuasa dalam pengajaran. Contoh dalam pengajaran antara anak laki-laki dan perempuan. Pendidikan yang sesuai dengan adat isitiadat (kodrat) harus mengajarkan etika, kesopanan, pergaulan, antara laki-laki dan perempuan sebagaimana terjadi pada pendidikan dalam lingkungan keluarga, terutama kepada mereka yang sudah menginjak masa birahinya datang. Masa-masa birahi memuncak pada anak-anak terjadi pada usia 16-18 tahun untuk perempuan, dan usia 18-25 untuk laki-laki. Namun demikian anak permpuan dan laki-laki perlu bergaul dengan pengawasan agar mereka bisa terbiasa dalam pergaulan dan bersaudara.

Demikian sedikit pemikiran dari Ki Hadjar sebagai modal dasar kita untuk memahami makna merdeka belajar yang digadang-gadang oleh generasi kita sekarang. Memaknai kemerdekaan belajar harus hati-hati dan selayaknya kita gali pemikiran-pemikiran pendidikan dari pendahulu-pendahulu kita untuk memahami dasar-dasar pendidikan bagi anak-anak kita, yang telah dirintis dari sejak awal kemerdekakan bangsa Indonesia. Wallahu’alam. 

No comments:

Post a Comment

MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiat...