Thursday, October 26, 2023

KUNCI SEGALA SUKSES ADALAH SHALAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat seharusnya menjadi ajaran fundamental yang harus dibiasakan dan terus menerus diajarkan di dalam kelas. Shalat adalah kunci dari segala kesuksesan yang akan kita dapat di bumi dan di akhirat. 

Target dari shalat adalah terjadinya perubahan akhlak anak-anak didik. Shalat dalam rangka membentuk pribadi-pribadi unggul, pribadi yang mandiri, kreatif, dan bermanfaat bagi banyak orang. 

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka," (Al Baqarah, 2:3).


Tujuan dari shalat adalah membentuk pribadi-pribadi yang berakrakter unggul. Pendidikannya dilakukan dengan cara melakukannya setiap hari, dan refleksi diri, dan menuliskannya dalam sebuah catatan harian. Cara belajar ini efektif akan menumbuhkan arti shalat dan penghayatannya. 

Refleksi diri yang harus dilakukan peserta didik setelah melakukan shalat apakah prilakunya sudah mengarah pada hal-hal yang baik, atau masih ada prilaku-prilaku buruk yang dilakukan. Pola berpikir ini akan menjadi pedoman bahwa shalatnya berguna atau tidak jika siswa sudah merasakan perubahan prilaku.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Ankbauut, 29:45).

Shalat itu mencakup ibadah ritual dan ibadah sosial. Dibutuhkan kecerdasan berpikir untuk memahami makna dari shalat. Kegagalan umat Islam di Indonesia sebagian besar menganggap shalat hanya sebatas ritual. Sehingga ajakan shalat dan memperbaiki shalat sebatas pada ritual tidak pada kegiatan sosial. 

Kedangkalan dalam memahami arti shalat menyebakan rusaknya tatanan masyarakat, karena shalat-shalat yang dilakukannya seperti orang mabuk. Menurut Al Quran mabuk adalah mereka yang mengerjakan sesuatu tetapi tidak mengerti apa maksud dan tujuannya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (An Nisaa, 4:43).

Dalam konteks ini, yang ditegur adalah orang-orang beriman. Kondisi mabuk ini bukan sebatas menegur orang beriman dilarang minum-minuman keras, tetapi peringatan bahwa orang-orang beriman harus membaca kitab suci dan memahami makna dan tujuan dari perintah shalat.***

Sunday, October 22, 2023

JANGAN GAGAL PAHAM, PAHAMI ARTI SHALAT?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di dalam Al Quran surah Al Fatihah kita sering ulang-ulang, "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" (Al Fatihah, 1:5). Kalimat ini sering diulang oleh umat Islam dalam shalat. Artinya, shalatnya umat Islam setiap hari adalah membuat komitmen kepada Allah bahwa dirinya akan selalu menyembah dan memohon pertolongan pada Allah, dalam segala kondisi. 

Kata inti yang harus dipahami adalah menyembah. Kata sembah di dalam KBBI memiliki tiga penjelasan yaitu, menghormati dengan mengangkat sembah, memuja, mengaku di bawah perintah atau takluk. Arti kata ini perlu dipahami baik-baik. Orang-orang shalat telah membangun komitmen ini. 

Komitmen pertama adalah hanya menyembah Allah, dalam arti Allah jadi pujaan hati. Selalu ada dalam ingatan, dan selalu dirindukan. Selain itu, setiap shalat berarti kita berkomitmen takluk dan mengikuti segala perintah Allah. 

Perintah Allah setelah shalat adalah bersedakah dalam arti berbuat kebajikan di muka bumi ini. Berbuat kebajikan dan mengeluarkan sebagian harta yang kita miliki untuk menolong umat manusia. Perintah sedekah tujuannya agar manusia selalu menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan jahat. Zakat, Infak, adalah sedekah kita dengan sebagian harta yang kita miliki. 

Sedekah secara general adalah segala perbuatan-perbuatan baik yang diperintahkan Allah di dalam Al Quran dan hadis Rasulullah SAW. Berbuat baik pada orang tua, kerabat, sahabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang kelaparan, orang-orang yang sedang berhijrah, pencari ilmu, dan seluruh makhluk di muka bumi.

Orang-orang shalat harus ingat komitmen ini pada Allah. Bagi siapa saja yang menjaga shalatnya, dengan tetap bekomitmen pada Allah, dialah yang akan diberi kesejahteran di dunia dan akhirat. Allah akan melindunginya, dan selalu memberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Komitmen kedua adalah selalu memohon pertolongan pada Allah. Manusia diciptakan dalam kondisi susah payah. Manusia harus menjaga diri dari kehidupan buruk di muka bumi ini. Segala permasalahan hidup akan dihadapi oleh manusia. 

Dalam menghadapi segala permasalahan hidup, seperti masalah ekonomi keluarga, hubungan kekeluargaan, dan kehidupan bernegara, orang shalat harus tetap menjaga agar menjadikan Allah sebagai penolongnya. Tidak ada Tuhan selain Allah, dialah yang selalu dipuja, ditaati, dan dimohon pertolongannya. 

Untuk itulah shalat diulang-ulang sebagai cara untuk kita untuk tetap menyembah dan memohon pertolongan Allah. Shalat adalah benteng pertahanan, sebagai bukti bahwa kita tetap berkomitmen untuk tetap menyembah dan memohon pertolongan pada Allah. 

Dunia pendidikan, seharusnya mengajarkan shalat dari mulai mempraktekkannya dan memberikan pemahaman tentang makna shalat bagi pelakunya. Selain itu, mempraktekkan berbagai macam sedakah atau segala bentuk kebajikan yang diperintahkan Allah. Berbakti pada orang tua, guru, mencari ilmu, menjaga kelestarian lingkungan, membiasakan hidup tolong menolong, dan memberikan keterampilan-keterampilan hidup yang bisa membantu siswa hidup mandiri tanpa tergantung pada orang lain. 

Sesungguhnya jika shalat yang dilakukan dipahami sebagai komitmen pada Allah, maka setiap orang shalat akan selalu memperbaiki prilakunya setiap hari, agar menjadi orang-orang terbaik yang membawa berkat bagi orang lain, dan tetap memuja kepada Allah.***

Saturday, October 21, 2023

PENDIDIKAN SEKARANG TIDAK PERLU LAGI LES MATA PELAJARAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Masih ada yang belum memahami esensi perubahan paradigma pendidikan. Para orang tua masih memberikan les tambahan pada anak-anaknya. Padahal di abad 21 ini, esensi pendidikan bukan lagi di pemahaman kognitif, tetapi diketerampilan atau kompetensi.

Perubahan paradigma pendidikan ini, bukan saja belum dipahami para orang tua siswa, dikalangan pendidik pun masih ada yang belum memahaminya. Para pendidik masih banyak yang fokus pengajarannya ke pengetahuan materi pelajaran secara kognitif. 

Di era teknologi, pengajaran yang berbasis pada materi bukan tujuan, tapi sebagai instrumen. Fokus pada pengajaran harus pada keterampilan yang harus dimiliki siswa. Ada pun materi-materi yang hendak disampaikan dalam pengajaran harus melalui seleksi, hingga ditemukan materi-materi esensial. Materi-materi esensial ukurannya adalah berisfat aktual, kontekstual, dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada praktek pengajaran, bukan fokus pada penyampaian materi yang harus disampaikan, tetapi pada kasus-kasus yang harus dipecahkan melalui sebuah proses pemikiran kritis, kreatif, dan solutif. Fokus pengajaran diarahkan pada pemahaman siswa dalam sebuah permasalahan dan mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan. Untuk sampai pada proses penyelesaian masalah, siswa dilatih untuk berpikir kritis, kreatif dan integratif untuk menghasilkan solusi dalam penyelesaikan masalah.

Untuk proses pemecahan masalah seperti ini siswa tidak dibutuhkan les-les yang fokus pada capaian pengetahuan akademik. Pembelajaran tambahan yang dibutuhkan siswa di abad 21 adalah kursus-kursus keterampilan sesuai dengan bakat dan minatnya. Siswa yang punya minat pada koding, maka mereka harus diberi kursus tambahan tentang koding. Siswa yang punya minat wirausaha, mereka harus diberi pengayaan tentang pengetahuan kewirausahaan. 

pendidikan harus fokus menjawab masalah yang akan dihadapi siswa dengan mengajarkan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Dalam konteks ini, pembelajaran tidak lagi mengajarkan tentang teori-teori dalam bidang studi, tetapi lebih pada penerapan teori-teori dalam memfasilitasi minat dan bakat siswa. Pendekatan kolaboratif lebih tepat untuk dilakukan dalam pembelajaran saat ini. Pendekatan kolaboratif akan mengurangi beban siswa yang harus memahami materi 16 mata pelajaran jika pengajarannya terpisah-pisah. 

Contoh kasus, seorang siswa sudah menggeluti koding pembuatan website sejak sekolah dasar. Sekarang di tingkat SMA, dia sudah bisa menghasilkan produk dan menjual kemampuannya di internet. Dalam satu bulan dari keahliannya dia sudah bisa berpenghasilan dan hasilnya ditabung di pasar modal. Ilmu koding tidak dia dapatkan di sekolah. Sejak SD, ilmu koding dia dapatkan dari internet. Menurut siswa, selama dia mempelajari ilmu koding, belum ada sekolah yang memafasilitasi minatnya. Selama ini dia lebih banyak belajar dari internet dan komunitas belajar yang diikutinya. 

Kasus lain, ada siswa yang senang membuat desain grafis. Dari kemampuannya membuat desain grafis dia sudah berpenghasilan dengan menjadi pekerja freeland. Namun saat ini, dia sudah berhenti karena ingin fokus belajar dan ikut les-les berbasis mata pelajaran. Dia bilang, dia berhenti mendesain karena takut menggangu pelajaran. Siswa ini masih terjebak pada pengajaran paradigma lama. Sekolah dmasih dianggap sebagai aktivitas kognitif yang keberhasilannya akan dibuktikan dengan nilai tes ketika masuk perguruan tinggi.

Melihat dua kasus ini, dunia pendidikan perlu terus berdialog untuk memberikan pemahaman kepada semua pemangku pendidikan agar paradigma baru pendidikan di abad 21 bisa dipahami semua pihak. Jika tidak disikapi dengan serius maka pendidikan kita akan tetap jalan di tempat. Abadnya sudah berubah tetapi pola pikirnya masih tertinggal satu abad.***

Thursday, October 19, 2023

PESAN UNTUK PARA CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESDIEN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Para calon presiden dan wakil presiden, "bersyukurlah jika tidak terpilih, dan bersabarlah jika terpilih". Para calon presiden dan wakil presiden sedang bertarung memperebutkan posisi yang paling berisiko di muka bumi ini. Para calon presiden dan wakil presiden jangan takut tidak terpilih, takutlah jika anda terpilih. 

Para calon presiden dan wakil presiden bukan sedang memperebutkan kedudukan dan kenyamanan hidup. Menjadi seorang pemimpin adalah penderitaan. Satu detik pun tidak ada kesenangan dalam menduduki sebuah jabatan, karena tanggung jawab besar yang di amanahkan Allah pada pemimpin.

Seorang pemimpin, kelak dari setiap jengkal tanah dan seluruh makhluk yang ada di atasnya akan meminta pertanggungjawabanya kepada pemimpin. Indonesia memiliki sekitar 17.500 pulau, bergaris pantai sepanjang 81.000 km. Sekitar 62% luas wilayah Indonesia adalah laut dan perairan. Luas wilayah daratan 1,91 juta km2 dan luas wilayah perairan mencapai 6,32 juta km2 (http://indonesiabaik.id). Betapa berat menjadi pemimpin di Indonesia, jutaan wilayah darat dan lautan dan seluruh makhluk hidup di dalamnya menjadi tanggung jawabnya. 

Di akhirat kelak setiap pemimpin akan diadili diminta pertanggungjawabannya. Sungguh, menjadi pemimpin umat adalah penderitaan. Para calon pemimpin harus menyadarinya, bahwa kelak siapa pun yang terpilih bukan pesta yang digelar, tetapi sebuah kesedihan mendalam karena jutaan wilayah dan makhluk di atasnya akan meminta pertanggungjawaban pada pemimpin.

Layaknya bukan rasa syukur yang diucapkan bagi mereka yang terpilih jadi pemimpin, tetapi innalillahiwainnailaihirojiun, karena kesedihan, nista, nestapa, olok-olok, lecehan, akan menimpa setiap pemimpin. Setiap detiknya, seorang pemimpin penuh dengan beban karena seluruh makhluk yang ada di wilayah kekuasaannya harus dilayaninya. Kesabaran seorang pemimpin harus ditingkatkan berlipat-lipat, karena ujian demi ujian akan menghampirinya. 

Sebaliknya bagi yang tidak terpilih, ucapan selayaknya adalah rasa syukur kepada Allah swt, karena yang tidak terpilih dia terlepas dari beban dan derita hidup paling dahsyat di muka bumi ini. Bagi yang tidak terpilih tidak ada rasa kecewa atau sedih, justru yang tidak terpilih menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini. 

Doa yang selalu dilantunkan jadi para calon presiden dan wakil presiden adalah ya Allah semoga engkau tidak memikulkan beban kepada kami yang sekiranya kami tidak mampu memikulnya. Sesunguhnya jika memahami bagaimana beratnya beban dan penderitaan menjadi seorang pemimpin tidak ada yang antusias terpilih menjadi pemimpin. Semuanya harus dijalani dengan sewajarnya, dengan penuh harap dan berserah diri pada Allah agar senantiasa mendapat takdir terbaik dari Allah.

Para pendukung sejati bukan mereka yang mengampanyekan para calon pemimpinnya supaya terpilih tetapi mendoakan bersama supaya mereka yang kelak terpilih selalu mendapat bimbingan, pertolongan, dan perlindungan dari Allah. Maju dan mundurnya sebuah bangsa bukan terletak pada siapa pemimpinnya yang kita pilih, tetapi pada siapa kelak Allah memberikan amanah jadi pemimpin.

Menjelang sukses pemilihan presiden dan wakil presiden, doa-doa yang harus terus dilantun oleh masyarakat adalah berkahinya bangsa Indonesia seperti berkahnya negeri Mekah, dan damaikanlah Indonesia seperti damainya Madinah. Jadikanlah pemimpin kami pemimpin yang amanah, pemimpin yang menjadi berkat bagi seluruh makhluk. Bimbinglah mereka, mudahkan urusan mereka, dan jadikan mereka orang-orang yang selalu mengajak taat kepada Allah dan menjauhkan kita dari perkara-perkara yang dibenci Allah. 

Doa ini harus serentak dilantunkan setiap sujud kita, dalam shalat, dhuha, dan tahajud. Seluruh umat beragama di masjid-masjid, gereja, wihara, kelenteng, sinagog, semua memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa. Semoga para calon pemimpin presiden dan wakil presiden selalu mendapat bibingan dan pertolongan Allah dalam setiap langkahnya.***  

 



Monday, October 16, 2023

PENDIDIKAN HARUS JAWAB MASALAH DI MASYARAKAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya. Untuk mencapai kebahagiaan, pendidikan tidak hanya sebatas menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, tetapi harus memberi manfaat secara langsung pada peserta didik. 

Pak Yosep, seorang inovator lulusan SMK dari kota Bandung mengatakan, "dulu ketika masih duduk di SMK, dirinya menyenangi kegiatan praktek yang dilakukan guru. Namun kesenangannya melakukan praktek merasa tidak terfasilitasi selama dia di sekolah". 

Selain itu, ketika guru-guru menjelaskan tentang konsep-konsep fisika dalam pembelajaran, tidak secara langsung menjelaskan apa kegunaan yang didapat oleh peserta didik setelah kembali ke masyarakat. Jawaban guru pada saat itu kurang memuaskan dan cenderung tidak memberi motivasi pada peserta didik untuk berkembang. 

Bersama Pak Yosep Inovator Pemusnah Sampah dari Kota Bandung

dalam sebuah wawancara, Pak Yosep mengatakan, "sekarang dirinya merasa tidak kesulitan untuk menjawab keinginannya dalam berinovasi. Di era teknologi informasi, semua ilmu bisa dia dapatkan dengan mudah melalui media informasi. Pak Yosep dengan mudah memahami konsep-konsep fisika yang tidak dipahaminya melalui media informasi. Selanjutnya konsep-konsep fisika itu bisa dia temukan manfaatnya dengan melakukan praktek sendiri. 

Saat ini Pak Yoses sedang mencoba sebuah teknologi sederhana untuk memecahkan masalah sosial yang sedang terjadi di kota Bandung. Pak Yosep menciptakan insinerator sebuah alat untuk memusnahkan sampah dalam kondisi tertentu. Teknologi ini dibuat dari bahan-bahan yang bisa di dapat dari lingkungan sekitar. Sebagian bahan bisa menggunakan bahan-bahan limbah yang ada. 

Menurut Pak Yosep, "sampah adalah produk alam dan harus dikembalikan ke alam". Semua produk sampah yang ada di muka bumi semuanya adalah produk alam, kita bisa melakukan modifikasi sampah agar kembali ke alam. Proses pembakaran sampah tanpa asap adalah upaya mengembalikan sampah ke alam tanpa menghasilan dampak pada kehidupan manusia. 

Pak Yosep adalah ilmuwan yang bergerak karena kepeduliannya pada lingkungan. Inovasinya bisa jadi penyelesai masalah sampah di masyarakat. Teknologi insinerator yang diciptakan Pak Yosep perlu kita apresiasi dan bersama-sama bergandengan tangan untuk menyempurnakannya. Tidak adalah teknologi terbaik di muka bumi ini, kecuali teknologi ini bisa menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. 

Keunggulan teknologi yang diciptakan Pak Yosep adalah mampu memnyelesaikan masalah dalam skala kecil, dalam lingkungan terbatas, dan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam masalah pengelolaan sampah. Pak Yosep seperti lilin dalam kegelapan.*** 

Thursday, October 5, 2023

Program ICCB, Praktek Baik Pendidikan Berdiferensiasi

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Setiap sekolah akan berhadapan dengan anak-anak yang punya keberanian tinggi atau berjiwa petualang. Hanya saja keberanian anak ini, sering tersalurkan kepada hal-hal yang kurang produktif. Misalnya, berani menantang guru, berani melanggara aturan, berani bolos sekolah, berani berbohong pada orang tua, dan berani mencuri barang milik orang lain. 

Bagi dunia pendidikan, hal-hal seperti dianggap sebagai hal alamiah karena sifat manusia terdiri dari dua yaitu sifat fujur (perusak) dan takwa (sifat pemelihara). Pada faktanya memang selalu ada anak-anak jiwa perusaknya lebih dominan dari jiwa pemeliharanya. Anak-anak seperti ini butuh bimbingan intensif. Mereka harus dibimbing untuk diarahkan kebaraniannya kepada hal-hal yang sifatnya produktif. 

Dalam buku berjudul "Sekolah Beyond Imagination Best Practice Meningkatkan Prestasi Sekolah dengan Kultur Religius", salah satu tulisan saya mengemukakan ide Intensive Care Student (ICU). Ide ini memang terinspirasi dari kasus di rumah sakit. Orang-orang yang sakit serius ditangani dengan inten, karena kondisinya sudah sangat gawat. Saya analogikan dengan kasus di rumah sakit, anak-anak yang cenderung pada prilaku perusak, mereka dalam keadaan gawat, mereka harus dibimbing, diperhatikan, secara inten. 

Ide ini diadopsi oleh Indah Lestari, S.Pd., sebagai staf kesiswaan dengan istilah Intensive Care of Character Building (ICCB). Anak-anak yang tergabung dalam ICBB dipetakan dari seluruh populasi siswa di sekolah. Jumlah anak yang dikategorikan perlu mendapat perhatian inten dari 1200 siswa hanya 20 orang siswa. 

Upaya ini sangat efektif untuk mengendalikan prilaku anak-anak yang pada umumnya berpilaku wajar. Anak-anak yang dominan berpilaku merusak ini kadang-kadang sering membawa opini buruk kepada seluruh warga sekolah. Anak yang berpilaku menyimpangnya hanya beberapa orang, tetapi dipersepsinya semua sekolah berprilaku sama. 

Program ICBB menjadi program unggulan sekolah-sekolah untuk mendata dan mengendalikan anak-anak yang punya keberanian khusus, dengan melakukan bimbingan dan perhatian inten. Setiap minggu anak-anak ini dibina mulai dari kegiatan ritual ibadah, akhlak, dan diajari keterampilan-keterampilan hidup yang produktif. Mereka juga bisa diajak untuk membuat proyek-proyek pembelajaran yang bisa melatih mereka menjadi produktif. 

Dengan demikian, keberanian mereka yang biasanya tersalur ke hal-hal yang destruktif diarahkan menjadi kepada hal-hal yang produktif. Anak-anak yang punya keberanian khusus biasanya, mereka kurang tertarik pada bidang akademik, mereka lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat sosial dan teknikal. Mereka bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan aktif di lapangan, misalkan melakukan kegiatan proyek-proyek sosial. 

Melalui program ICBB, penyimpangan di sekolah yang sering terjadi dapat dipantau karena pelakunya itu-itu juga. Dengan demikian, guru-guru mudah mendeteksinya jika terjadi penyimpangan di sekolah. Berdasarkan, hasil pengamatan selama program ini dikerjakan, kondisi lingkungan sekolah bisa dikendalikan dan relatif aman. Anak-anak yang tergabung dalam ICBB kreativitasnya dapat diandalkan. 

Sesuai dengan filosofi pendidikan di abad 21, sekarang tidak ada anak-anak bodoh kecuali dia tidak mendapat layanan pendidikan yang baik. Program ICBB merupakan program berdiferensiasi yang mencoba melayani anak-anak sesuai bakat dan minatnya.***

 

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.  Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya....