Saturday, October 21, 2023

PENDIDIKAN SEKARANG TIDAK PERLU LAGI LES MATA PELAJARAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Masih ada yang belum memahami esensi perubahan paradigma pendidikan. Para orang tua masih memberikan les tambahan pada anak-anaknya. Padahal di abad 21 ini, esensi pendidikan bukan lagi di pemahaman kognitif, tetapi diketerampilan atau kompetensi.

Perubahan paradigma pendidikan ini, bukan saja belum dipahami para orang tua siswa, dikalangan pendidik pun masih ada yang belum memahaminya. Para pendidik masih banyak yang fokus pengajarannya ke pengetahuan materi pelajaran secara kognitif. 

Di era teknologi, pengajaran yang berbasis pada materi bukan tujuan, tapi sebagai instrumen. Fokus pada pengajaran harus pada keterampilan yang harus dimiliki siswa. Ada pun materi-materi yang hendak disampaikan dalam pengajaran harus melalui seleksi, hingga ditemukan materi-materi esensial. Materi-materi esensial ukurannya adalah berisfat aktual, kontekstual, dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada praktek pengajaran, bukan fokus pada penyampaian materi yang harus disampaikan, tetapi pada kasus-kasus yang harus dipecahkan melalui sebuah proses pemikiran kritis, kreatif, dan solutif. Fokus pengajaran diarahkan pada pemahaman siswa dalam sebuah permasalahan dan mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan. Untuk sampai pada proses penyelesaian masalah, siswa dilatih untuk berpikir kritis, kreatif dan integratif untuk menghasilkan solusi dalam penyelesaikan masalah.

Untuk proses pemecahan masalah seperti ini siswa tidak dibutuhkan les-les yang fokus pada capaian pengetahuan akademik. Pembelajaran tambahan yang dibutuhkan siswa di abad 21 adalah kursus-kursus keterampilan sesuai dengan bakat dan minatnya. Siswa yang punya minat pada koding, maka mereka harus diberi kursus tambahan tentang koding. Siswa yang punya minat wirausaha, mereka harus diberi pengayaan tentang pengetahuan kewirausahaan. 

pendidikan harus fokus menjawab masalah yang akan dihadapi siswa dengan mengajarkan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Dalam konteks ini, pembelajaran tidak lagi mengajarkan tentang teori-teori dalam bidang studi, tetapi lebih pada penerapan teori-teori dalam memfasilitasi minat dan bakat siswa. Pendekatan kolaboratif lebih tepat untuk dilakukan dalam pembelajaran saat ini. Pendekatan kolaboratif akan mengurangi beban siswa yang harus memahami materi 16 mata pelajaran jika pengajarannya terpisah-pisah. 

Contoh kasus, seorang siswa sudah menggeluti koding pembuatan website sejak sekolah dasar. Sekarang di tingkat SMA, dia sudah bisa menghasilkan produk dan menjual kemampuannya di internet. Dalam satu bulan dari keahliannya dia sudah bisa berpenghasilan dan hasilnya ditabung di pasar modal. Ilmu koding tidak dia dapatkan di sekolah. Sejak SD, ilmu koding dia dapatkan dari internet. Menurut siswa, selama dia mempelajari ilmu koding, belum ada sekolah yang memafasilitasi minatnya. Selama ini dia lebih banyak belajar dari internet dan komunitas belajar yang diikutinya. 

Kasus lain, ada siswa yang senang membuat desain grafis. Dari kemampuannya membuat desain grafis dia sudah berpenghasilan dengan menjadi pekerja freeland. Namun saat ini, dia sudah berhenti karena ingin fokus belajar dan ikut les-les berbasis mata pelajaran. Dia bilang, dia berhenti mendesain karena takut menggangu pelajaran. Siswa ini masih terjebak pada pengajaran paradigma lama. Sekolah dmasih dianggap sebagai aktivitas kognitif yang keberhasilannya akan dibuktikan dengan nilai tes ketika masuk perguruan tinggi.

Melihat dua kasus ini, dunia pendidikan perlu terus berdialog untuk memberikan pemahaman kepada semua pemangku pendidikan agar paradigma baru pendidikan di abad 21 bisa dipahami semua pihak. Jika tidak disikapi dengan serius maka pendidikan kita akan tetap jalan di tempat. Abadnya sudah berubah tetapi pola pikirnya masih tertinggal satu abad.***

No comments:

Post a Comment

STIMULASI OTAK DENGAN NAPAS RITME 5:5

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Penemuan ilmu napas ritme oleh Gunggung Riyadi bisa dikatakan penemuan spektakuler abad 21. Oleh Gunggu...