Showing posts with label allah. Show all posts
Showing posts with label allah. Show all posts

Wednesday, December 31, 2025

SHALAT PENGHUBUNG MANUSIA DENGAN ALLAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S,.Pd., M.Pd.

Shalat adalah aktivitas penghubung antara manusia dengan Allah. Kata yusolli dalam surat Al Ahzab. 33: 43, berasal dari makna akar kata mendekat, menyambung, atau memberi perhatian. Dikarenakan Allah tidak shalat, maka para penafsir mengartikan yusolli dengan makna mendekatkan manusia kepada-Nya, rahmat, dan doa. 

Makna shalat membangun hubungan dengan Allah, karena shalat didalamnya bertujuan mengingat Allah. Selama orang ingat Allah maka dia telah membangun hubungan.

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaahaa, 20:14).

Dalam faktanya shalat telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai kegiatan rukuk dan sujud, maka berdasarkan akar katanya shalat bisa dimaknai sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan Allah. Dalam rangka apa manusia membangun hubungan dengan Allah?

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45)

Maka dengan melihat berbagai penjelasan di dalam Al Quran, ritual shalat rukuk dan sujud dapat dipahami dalam berbagai makna, salah satunya aktivitas manusia dalam mengingat Allah, atau aktivitas manusia dalam rangka meminta pertolongan pada Allah. 

Namun pada dasarnya, shalat dalam bentuk rukuk dan sujud adalah tanda bahwa manusia selalu menjaga hubungan baik dengan Allah. Maka seorang muslim yang tidak shalat, dapat dikatakan dia tidak membangun hubungan baik dengan Allah. 

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang yang tidak shalat sama dengan memutuskan diri dengan dunia kebaikan. Sangat dipahami oleh akal jika ditemukan fakta dimasyarakat, rata-rata para pelaku kejahatan adalah orang-orang yang tidak disiplin menjaga hubungan baik dengan Allah.

Dalam sebuah kasus di sekolah, anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja, seperti membolos, mencuri, berkelahi, malas belajar, kesiangan masuk sekolah, hampir semuanya mereka bukan tergolong pada anak yang disiplin melaksanakan shalat lima waktu. Hal ini membuktikan bahwa tidak shalat sama dengan memutus hubungan dengan Allah, sama dengan memutus hubungan dengan kebaikan.

Untuk itu dalam dunia pendidikan,  karakter yang harus pertama dibangun di sekolah adalah bagaimana anak-anak membiasakan diri untuk membangun dan menjaga keterhubungan dengan Allah dengan disiplin shalat. Ditambah dengan memaknai shalat dari harfiah dan tujuannya.

Tidak ada aktivitas ritual lain sepenting shalat, karena shalat adalah tanda ciri khas karakter dari orang-orang Islam. Jika ada orang mengatakan ritual shalat tidak perlu jika kita sudah ingat Allah, maka kasus ini harus kita kembalikan kepada contoh dari Rasulullah. Apakah Nabi Muhammad tidak shalat? Jika Nabi Muhammad melaksanakan shalat, apakah kita lebih tahu dari Nabi Muhammad?***

Monday, May 2, 2022

Mengajar Al Quran dengan Pentigraf

 Oleh: Toto Suharya

Pentigraf adalah cerita pendek tiga paragraf. Diciptakan oleh Tengsoe Tjahjono dari Universitas Negeri Surabya (Unesa). Menarik sekali pentigraf sangat cocok untuk masyarakat Indonesia yang tidak bisa bertahan lama ketika membaca. Cerita-cerita pendek pas disajikan untuk masyarakat Indonesia. Melalui cerita-cerita pendek tiga paragraf pesan-pesan moral, sains, apa saja bisa disampaikan.

Pelajaran agama bisa memanfaatkan pentigraf untuk mengajarkan isi kandungan Al-Qur'an. Mengajarkan Al-Qur'an melalui pentigraf bisa jadi alternatif guru-guru untuk mengajarkan Al-Qur'an. Pentigraf bisa melatih siswa kreatif, dan menuntut guru-guru kreatif.

Pentigraf yang dikembangkan dari Al-Qur'an dapat membantu berbagai mata pelajaran sebagai pembelajaran menyenangkan, penuh pesan moral. Pentigraf juga bisa dikembangkan menjadi pembelajaran Higher Order Thingking Skills (HOTS).

Contoh pentigraf yang bisa dikembangkan menjadi pembelajaran HOTS dikembangkan dari surah Al 'Alaq. Ide cerita dalam surat Al Alaq dikemas menjadi sebuah cerita yang menutut siswa berpikir.

"Suatu hari dalam situasi pembelajaran, ada siswa bertanya, "mengapa Allah menyuruh manusia membaca?" Guru merespon, "pertanyaan bagus sekali, mari kita jawab bersama. Sekarang perhatikan semua, ketika tengah malam gelap ada yang mengetuk pintu rumah mu, apakah perasaan mu yang bakal muncul? Siswa menjawab, "saya takut pak". Siswa lain menjawab, "saya akan memeriksa siapa yang mengetuk pintu itu?" Guru kembali bertanya, "jika kamu tidak menemukan siapa yang mengetuk pintu itu, apa perasaan mu?" Siswa menjawab, "mungkin rasa takut saya akan muncul pak." Guru bertanya lagi, "lalu bagaiman jika yang ketuk pintu malam-malam itu saudara mu yang baru pulang dari luar kota, apakah kamu masih takut?" Siswa menjawab, "sudah pasti perasaan takut saya akan hilang". Guru menjelaskan, "nah itulah mengapa Allah menyuruh membaca". 

Ini ada kisah lagi yang bisa membantu kalian mengapa membaca itu penting. Dikisahkan ada dua orang dengan karakter berbeda, yang satu berkarakter baik, dan yang satu lagi berkarakter buruk. Orang yang berkarkater baik melarang kamu berbuat baik, dan orang yang berkarakter buruk juga melarang kamu berbuat baik. Jika kebaikan adalah perintah Allah, maka orang manakah yang akan kamu turuti? kemukakan alasan dari pendapat mu?   

Guru kemudian melanjutkan ceritanya, "Jika kamu berhasil menjawab pertanyaan di atas, berarti kamu bisa memahami mengapa Allah memerintahkan membaca". kata guru, "ingat anak-anak kebaikan itu adalah perintah Allah, dan segala keburukan adalah buatan manusia. Orang-orang yang berbuat keburukan akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya".

 Petigraf di atas ide atau gagasannya dikembangkan dari surat Al "Alaq. Pentigraf ini bisa diasjikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan moral, pendidikan agama, sosiologi, atau sejarah. Kisah dengan setting dialog sebuah kasus di atas dapat disajikan dalam pembelajaran yang melatih kemampuan siswa berpikir tingkat tinggi. 

Kunci agar siswa bisa menjawab pertanyaan dari cerita di atas adalah siswa harus membaca cerita tersebut dengan teliti, melakukan analisis, dan dialog dengan teman-temannya. Cerita kasus di atas dapat merangsang siswa untuk berpikir dan mencari tahu apa jawaban yang bisa dikemukakan.

Pentigraf bukan hanya bisa digunakan untuk melatih kemampuan siswa berpikir, tetapi melatih guru juga untuk berpikir menyusun materi ajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Menyusun pentigraf untuk kepentingan pembelajaran dengan tujuan melatih kemampuan berpikir siswa, secara tidak langsung menuntut guru-guru tidak sembarangan menyajikan materi kepada siswa.

Untuk saat itu, setiap materi ajar yang diajarkan kepada siswa harus mengandung tujuan melatih siswa berpikir tingkat tinggi. Melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah tuntutan zaman. Jadi kemampuan membaca menjadi mutlak bukan hanya diajarkan pada siswa, tetapi berlaku untuk guru, dan seluruh umat manusia.***

Wednesday, June 3, 2020

MENYATUKAN PIKIRAN DENGAN ALLAH

Oleh: Toto Suharya
(Kepala Sekolah, Trainer Logika Tuhan)

Setiap orang pernah merasa kesal, marah, kecewa dan putus asa, ketika apa yang diinginkannya tidak jadi kenyataan. Sebaliknya semua pasti merasa senang, bahagia, bangga, dan optimis, ketika apa yang dicita-citakannya tercapai. Melihat kenyataan ini ada orang berpendapat bahwa hidup ini silih bergantinya antara sedih dan bahagia.

Bisakah hidup selamanya bahagia? Mungkin jawabannya tidak, jika kita berpatokan pada kenyataan bahwa hidup ini pergantian antara sedih dan bahagia. Namun jika kita menggunakan pikiran, kita bisa mengendalikan apa yang kita pikirkan. Arah pikiran kita sangat tergantung pada keinginan hati kita. Kita bisa hidup selamanya bahagia jika isi hati kita semuanya prasangka baik.

Bagaimana cara agar hati selalu berprasangka baik? Hati harus jadi pengendali pikiran, dan hati dikendalikan oleh perintah Allah. Agar bisa selalu berprasangka baik, maka hati harus bisa menyatukan pikiran dengan Allah. Orang-orang yang sudah bisa menyatukan pikiran dengan Allah, mereka adalah orang-orang bertakwa.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran, 3:120).

Inilah cara menyatukan pikiran dengan Allah, “bersedihlah jika mendapat kebaikan dan berbahagialah jika mendapat bencana”. Ini petunjuk berpikir dari Allah. Hal sulit bagi seseorang jika harus bersedih kala mendapat kebaikan, dan berbahagia saat mendapat bencana. Pola pikir seperti ini bisa diterapkan jika kita memahami pola pikir Allah di dalam Al-Qur’an. Dalam siklus kejadian, kesulitan selalu mendatangkan kebaikan dan kebaikan mendatangkan kesulitan. Pola berpikir ini akan membantu kita lebih waspada, lebih terencana, di saat mendapat kebaikan dan akan bahagia, optimis, kreatif, di saat mendapat bencana atau kesulitan.

Bertakwalah (kerjakanlah terus) dengan cara berpikir seperti ini! Pola pikir ini harus dilatihkan ke dalam pikiran berpuluh-puluh kali sampai beribu-ribu kali. Sampai kelak menjadi pola pikir bawah sadar kita. Berpola pikir seperti ini bukan keinginan kita, tetapi sebagaimana petunjuk dari Allah. Pola pikir dari petunjuk Allah akan selalu mengingatkan kita kepada Allah saat melihat dan merasakan kejadian. Setiap kejadian yang dihubungkan dengan Allah, maka Allah adalah pemilik segala kebaikan.

Demikianlah materi berpikir yang bisa diajarkan kepada anak-anak kita agar kelak mereka menjadi generasi tangguh yang selalu memandang segala macam bencana sebagai peluang untuk mendapat kebaikan dari Allah. Merekalah yang dimaksud dengan generasi optimis tanpa batas! Wallahu’alam. 

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...