Sunday, November 1, 2026

ADA PENGETAHUAN BERBAHAYA DI OTAK

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Apakah kamu sering menemukan orang yang sulit berubah? Apakah kamu sering menemukan orang yang sulit mengakui jika pendapat orang lain benar? Apakah kamu sering menemukan orang yang ketika orang lain bicara dia tidak mau mendengar? Apa sebabnya, kita jelaskan.  

Penghalang seseorang untuk berubah adalah pengetahuan. Penyebab prilaku orang menjadi egois, sulit menerima kebenaran, sulit menerima pendapat orang lain, selalu merasa benar adalah pengetahuan yang ada di otak. Pengetahuan bisa menjadi penghalang seseorang untuk berubah. 

Setiap pengetahuan ada penjaga dan pemiliknya. Para pemilik pengetahuan adalah para tokoh yang mewakili sebuah kelompok apakah itu aliran, isme, kepercayaan, atau keyakinan. Para tokoh akan semakin brutal menjaga pengetahuan yang dimilikinya jika berkaitan dengan kesejahteraan hidup. 

Allah mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk tidak menjadi pemilik pengetahuan, karena seluruh pengetahuan pemiliknya Allah. Jika kesadaran ini dimiliki, perbedaan pendapat akan tetap ada, namun kehidupan berjalan damai. Kesadaran ini bisa dimiliki jika manusia memiliki pengetahuan manusia bukan pemilik pengetahuan.

Sumber pengetahuan sebenarnya satu yaitu dari Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ada dua cara Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia. Pertama melalui alam semesta, kedua melalui wahyu yang diturunkan pada para nabi. 

Kadang terjadi bentrokan antara pengetahuan dari alam dengan pengetahuan wahyu yang diturunkan kepada para nabi. Pengetahuan alam membuktikan kebenaran dengan penglihatan. Pengetahuan dari wahyu membenarkan dengan keimanan. 

Keberadaan akal seharusnya menjadi penengah dari dua sumber pengetahuan ini. Namun, karena manusia kadang selalu menjadi pemilik kebenaran, yang terjadi adalah sering terjadi konflik. Kelompok satu memandang kebenaran berdasar penglihatan, kelompok satu menemukan kebenaran dari keimanan. 

Masing-masing kelompok membentengi dirinya dengan blok-blok pengetahuan yang dimilikinya atas nama sumber kebenaran masing-masing dan aliran. Keduanya menjadi pejuang kebenaran menurut versi kelompoknya masing-masing. Konflik dua pemilik pengetahuan ini bisa jadi perang terbuka karena sama-sama ingin menjadi pemilik otoritas kebenaran.

Disinilah akal harus berfungsi karena setiap manusia memilikinya. Al Quran sebagai petunjuk tidak mrendahkan kebenaran dari alam dan tidak menyuruh mengagung-agungkan kebenaran dari wahyu. Al Quran dikatakan suci, artinya informasi dari dalam Al Quran adalah data, tidak berapiliasi dengan kelompok manapun kecuali berpihak pada Tuhan yang maha kuasa. 

Manusia dianjurkan untuk menjaga keseimbangan. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (mizan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahman, 55:7-9).

Al Quran adalah ayat dan alam semesta adalah ayat, keduanya menjadi sumber informasi. Kitab suci Al Quran dan ayat di alam semesta menjadi sumber informasi yang seharusnya digunakan oleh manusia untuk menjaga keseimbangan hidup dalam mewujudkan kehidupan damai dan sejahtera.  

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashshas, 28:77).

Pengetahuan yang berbahaya bagi otak yaitu pengetahuan yang sudah dilabeli oleh pemiliknya selain Allah. Pengetahuan yang dilabeli aliran, madzab, kelompok, ideologi, bangsa, suku, etnis, adalah pengetahuan berbahaya jika tersimpan di otak. Pengetahuan ini bisa menutup manusia dalam menjaga neraca keseimbangan hidup, karena manusia selalu melampaui batas.

Manusia yang menyimpan pengetahuan berlabel aliran atau isme di otak, bisa menjadi pengagung pengetahuan kelompoknya sehingga dapat menutup pintu musyawarah, diskusi, dan bisa jadi menolak kebenaran. Seharusnya, pemilik pengetahuan adalah Tuhan, dan semua manusia tidak boleh berlebihan dengan mengaku menjadi inidividu atau kelompok pemilik pengetahuan.***

ADA PENGETAHUAN BERBAHAYA DI OTAK

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Apakah kamu sering menemukan orang yang sulit berubah? Apakah kamu sering menemukan orang yang sulit me...