Thursday, April 23, 2026

SHALAT TIANG AGAMA, PONDASINYA APA?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah tiang agama, tapi tidak pernah ada yang bertannya pondasinya apa? Berpuluh-puluh tahun shalat dinarasikan sebagai tiang agama siapa yang tidak shalat telah merunthkan agama. Kenapa tidak ada yang bertanya pondasi apa?

Pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan untuk ditanyakan, karena terlalu takut untuk bertanya. Murid-murid kita memang sangat takut untuk bertanya. Padahal dari pertanyaan akan terbuka pemahaman-pemahanan mendalam untuk perbaikan kualitas manusia. 

Ebook Belajar Pahami Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Kisah Nabi Muhammad ketika menerima wahyu di Gua Hira, dikabarkan Beliau bertanya kepada malaikat. Ketika disuruh membaca, "Apa yang harus saya baca?". Kisah Nabi Muhammad bertanya pada Malaikat, ternyata mengandung pelajaran penting dalam pembelajaran.

Bertanya ternyata menjadi metode belajar agar setiap orang belajar mendalam dan terarah pada tujuan. Mengapa bertanya tidak pernah dinarasikan sebagai metode belajar pada murid? Bahkan ada salah kaprah bahwa bertanya dicap dengan ketidakcerdasan sehingga murid semakin takut bertanya. 

Nabi Muhammad memang pernah bersabda, "Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu." (HR. Imam Al-Baihaqi). Tapi kalau kita sadar seharusnya bertanya tiang tidak akan berdiri tanpa pondasi. 

Lalu pondasi dari shalat apa? Karena tiang tidak akan kokoh tanpa pondasi. Saya berpendapat pondasi dari shalat adalah membaca. Argumennya karena perintah Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah membaca.


 
Kaitan dengan membaca, di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR. Bukhari & Muslim). Membaca Al Fatihah adalah syarat berdirinya shalat. Membaca Al Fatihah bukan perkara melapalkan bacaan, tapi memahami secara mendalam ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Fatihah. 

Ada ungkapan yang sering disandarkan pada pesan kenabian (meski sebagian ulama menyebutnya sebagai perkataan Imam Syafi'i yang berakar dari ajaran Nabi): "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya ia berilmu."

Dari fakta-fakta ini, diduga kuat bahwa pondasi dari shalat adalah ilmu, dan ilmu diperoleh dengan membaca sebagaimana Allah perintahkan pertama kali kepada Nabi Muhammad. Ilmu menjadi kunci bagi setiap orang terkhusus muslim untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Membaca untuk mendapatkan ilmu harus jadi pondasi tegaknya shalat sebagai tiang agama. 

Inilah landasan berpikir mengapa dunia pendidikan harus dilandasi dengan melatih murid memiliki pondasi kuat dengan membiasakan atau membudayakan senang membaca. Pondasi ini gagal dinarasikan umat Islam dalam dunia pendidikan, padahal cukup jelas perintah pertama adalah bacalah dengan makna lain adalah berpengetahuanlah!

Urutan logikanya sangat jelas di dalam Al Quran, perintah membaca mendahului perintah shalat. Dugaan semakin kuat bahwa Allah perintahkan membaca agar orang-orang beriman paham mengapa harus mendirikan shalat. 

Ebook Mendalami Isi Al Quran dengan Belajar Logika Tuhan

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).

Mengapa membaca menjadi luput dari ingatan orang-orang beriman? Bisa jadi selama ini membaca tetapi tidak membaca, atau faktanya memang kita telah gagal membaca kitab suci, sehingga kita mengabaikan kebiasaan membaca padahal itulah pondasinya shalat.***

Monday, April 20, 2026

BISAKAH MANUSIA MELIHAT TUHAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kisah Nabi Musa adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Apakah manusia bisa melihat Tuhan? Dari kisah Nabi Musa kita bisa paham. Kalau ada manusia mengaku melihat Tuhan, sudah pasti itu berita palsu dan dusta. 

Miliki Ebook berpikir dengan logika Tuhan

Hakikatnya Tuhan itu tidak bisa dilihat dan dimaterikan. Untuk manusia-manusia yang masih mengaku melihat Tuhan harus segera bertobat. Mari belajar dari kisah Nabi Musa. Bacalah dengan seksama kisah Nabi Musa di bawah ini. 

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui ". (Al A'raaf, 7:138).

Kisah di atas adalah sebab Nabi Musa meminta kepada Allah bisa melihat Nya . Bani Israel telah meminta kepada Nabi Musa dibuatkan tuhan sebagaimana ada kaum menyembah dan melihat tuhan-tuhan mereka. 

Nabi Musa sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melihat Tuhan. "Musa menjawab: "Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." (Al A'raaf, 7:140).

Nabi Musa sudah mengetahui bahwa tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan. Untuk meyakinkan dirinya, Nabi Musa memohon kepada Allah untuk menguatkan keyakinannya bahwa manusia tidak bisa melihat Tuhan. Untuk itulah Nabi Musa mengajukan permohonan pada Allah. Kisah ini dijelaskan dalam Al Quran. 

Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A'raaf, 7:143).

Kisah ini menjadi jawaban bagi seluruh umat manusia bahwa tidak mungkin manusia bisa melihat Tuhan. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa melihat Tuhan, karena gunung pun hancur luluh lantak. 

Ebook logika Tuhan akan membimbing mu ke jalan lurus

Ini pelajaran mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa mematerikan Tuhan dalam bentuk wujud-wujud sesembahan adalah perbuatan tidak masuk akal atau cacat logika. Bagi manusia berakal sehat mereka bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, mereka seharusnya paham, jika ada tuhan-tuhan dalam bentuk wujud materi dibuat sesembahan,  sudah pasti itu adalah perbuatan para pendusta.

Sebagaimanan Nabi Musa sebelumnya sudah memberi penjelasan mereka yang membuat tuhan-tuhan sesembahan yang bisa dilihat, "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (Al A'raaf, 7:139). 

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Al Mukminuun, 23:91).

Jika kamu manusia berakal sehat, sudah pasti dalam memilih agama mana yang benar, kamu akan memilih agama yang dianut oleh mereka,  tandanya mereka menyembah kepada Tuhan ghaib yang tidak dapat dilihat mata. Itulah tanda-tanda agama yang lurus.*** 

Friday, April 17, 2026

SHALAT OBATI OTAK UBUN-UBUN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al 'Alaq, 96: 15-16).

Orang-orang yang berpilaku jahat ada masalah di ubun-ubun. Ubun-ubun adalah posisinya ada di kepala bagian atas. Ubun-ubun berkaitan dengan otak. Fungsi otak sangat vital dalam organ tubuh manusia. Seluruh pemikiran, prilaku, dan teknologi, yang diciptakan manusia asalnya dari otak. 

Allah ingatkan bahwa ubun-ubun rusak menjadi sebab manusia berprilaku menyimpang. Untuk memperjelas masalah ubun-ubun kita perlu penjelasan ilmiah dari hasil penelitian tentang otak. 

Ebook logika Tuhan membimbing manusia di jalan Allah

Para ahli otak berhasil membagi-bagi otak menjadi beberapa bagian dengan penjelasan fungsi-fungsinya. Ubun-ubun otak bagian mana dan apa fungsinya? Kita cek dengan bantuan ilmu tentang otak (neurosains). 

Ubun-ubun menurut Neurosains adalah bagian otak lobus parietal. Ada di area otak bagian tengah. Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data "input" dari indra kita. 

Lobus parietal berfungsi sebagai pusat utama untuk memproses informasi sensorik dari seluruh tubuh. Jika otak adalah komputer, lobus parietal adalah bagian yang mengolah data dari indra kita.

Dapatkan Bacaan Sehat Ebook Produk Logika Tuhan

Ubun-ubun fungsinya sangat vital karena semua infiormasi yang diinput dari indera di proses di ubun-ubun. Fungsi ubun-ubun menurut ilmu otak sebagai berikut:

Integrasi Sensorik: Mengolah informasi tentang sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu. Inilah yang membuat kamu tahu rasa tekstur benda atau suhu air saat menyentuhnya.

Navigasi dan Persepsi Spasial: Memberi tahu kamu di mana posisimu berada dan bagaimana hubungan jarak antar objek. Tanpa fungsi ini, kamu akan sulit memperkirakan jarak saat melangkah atau mengambil gelas.

Koordinasi Tubuh, Memungkinkan otak mengetahui posisi bagian tubuh tanpa harus melihatnya. Contohnya, kamu tetap bisa menyentuh ujung hidung dengan mata tertutup berkat lobus ini.

Ebook untuk mengobati ubun-ubun produk berpikir dengan logika Tuhan

Jika ubun-ubun mengalami gangguan, manusia bisa mengalami ganguan masalah rasa, persepsi, motorik, navigasi, bahasa, dan akademik. Allah mengabarkan, orang-orang yang suka dusta dan durhaka, harus ditarik ubun-ubunnya.

Bagaimana cara mengobati ubun-ubun yang sudah terkena gangguan? Allah memberi dasar pengetahuan dengan meluruskan kembali keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terapinya adalah sujud. 

"sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan), (Al 'Alaq, 96:19).

Aktivitas sujud secara disiplin, terencana, dan teratur, ada dalam kegiatan shalat. Sujud dalam shalat adalah posisi kesadaran penuh manusia sebagai hamba yang lemah dan tidak berdaya dihadapan Tuhan. 

Sujud adalah bentuk kesadaran manusia, kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Tuhan, tidak punya daya dan upaya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan  Yang Maha Esa.***

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat, 41:33)***



ADA APA DI WAKTU DHUHA DAN MALAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini. 

Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.  

"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).

Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar. 

Dapatkan Ebook Produk Logika Tuhan

Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam. 

"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).

Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat. 

Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.

dapatkan Ebook produk logika Tuhan

Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain. 

Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada. 

Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud. 

Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.

Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PADA KISAH KURBAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Dalam konteks pendidikan, kurban berkaitan dengan psikologi. Pelajarannya dapat kita gali dari kisah Na...