Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik (dhuha), dan demi malam apabila telah sunyi", (Adhuhaa, 93: 1-2). Ketika Allah mengingatkan manusia dua waktu ini, maka ada hal-hal penting yang harus dipahami manusia dari dua waktu ini.
Sebelum mencari argumen ilmiah. logika berpikirnya harus dibangun dulu dari ayat lain dalam Al Quran. Berikut ayat yang berhubungan dengan waktu dhuha dan malam.
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (Al A'raaf, 7:97).
Malam adalah waktu dimana sebagian manusia dalam keadaan tidur. Keadaan tidur adalah waktu manusia tidak sadar. Pada waktu sedang tidur adalah waktu berbahaya karena sebagian besar manusia tidak dalam keadaan sadar.
Dapatkan Ebook Produk Logika Tuhan
Dalam keadaan tidak sadar inilah, manusia tidak bisa membela diri jika ada kejadian. Manusia dalam keadaan tidak sadar posisinya sedang terancam.
"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (Al A'raaf, 7:98).
Demikian juga pada waktu dhuha, manusia dalam kondisi sedang bermain. Dunia adalah tempat permainan dimana manusia sibuk mengurusi urusan kehidupan di dunia, yang sering melupakan kehidupan akhirat.
Pada saat manusia sedang bermain dalam arti terlalu larut sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat, manusia sedang dalam posisi tidak sadar. Ketika kejadian besar menimpa bisa jadi manusia dalam kondisi tidak sadar melupakan akibat kehidupan akhirat.
dapatkan Ebook produk logika Tuhan
Berdasarkan informasi dari dua ayat Al Quran di atas, malam berkaitan dengan tidur (naimuun), dan dhuha berkaitan dengan bermain (yal'abuun). Dua kondisi ini menujukkan manusia sedang dalam tidak berkesadaran, yaitu ketika sedang tidur dan bermain.
Inilah dua situasi kritis bagi manusia, maka Allah dalam Al Quran mengingatkan. Maka di dua waktu ini adalah shalat tambahan selain shalat wajib lima waktu, yaitu shalat dhuha dan tahajud. Dua shalat ini sebagai sarana supaya manusia aman dengan selalu waspada.
Untuk memotivasinya, Nabi Muhammad mencontohkan shalat dhuha, tahajud (qiyamulail), dan Allah menjanjikan kebaikan-kebaikan yang akan didapat bagi orang yang melakukan shalat dhuha dan tahajud.
Maka orang-orang yang membiasakan diri shalat dhuha dan tahajud adalah orang-orang sadar tidak akan lalai hanya mengusahakan kehidupan dunia tanpa memikirkan akibatnya di akhirat. Manusia-manusia yang selalu sadar ingat Allah, adalah manusia-manusia bermoral yang tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.
Namun demikian Allah peringatkan dalam Al Quran sebagian manusia tidak sadar. "Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin, 36:62).***