Friday, June 19, 2026

TEMUKAN KEBENARAN PAKAI ILMU

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Temukan kebenaran pakai ilmu bukan nafsu. Hawa nafsu adalah dua potensi yang ada dalam jiwa manusia yaitu benci dan cinta. Idenya bisa ditemukan dalam Al Quran.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (Asy Syaam, 91:7-8).

Dua jiwa ini terkonfirmasi dalam hadis Nabi Muhammd. ""Untuk hati anak Adam itu ada dua bisikan. Bisikan dari malaikat yang menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia tahu bahwa itu dari Allah lalu bersyukurlah. Dan bisikan dari musuh yang menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran serta melarang kebaikan. Maka barangsiapa merasakan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." [HR. Ahmad, Tirmidzi].

Sehar-hari kita selalu bergelut dengan dua jiwa dalam diri kita yaitu yaitu benci dan cinta. Setiap hari kita makan berdasarkan apa yang kita suka dan tidak suka. Ketika dihadapkan pada pilihan hidup, keputusan paling mudah yang kita lakukan menggunakan dasar suka dan tidak suka.  

Kenapa murid-murid kita tidak suka makan ikan? Jawabannya karena tidak suka makan ikan. Ketika ditanya kenapa suka makan mie instan? Jawabannya karena suka. Inilah contoh pilihan-pilihan hidup sehari-hari yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan.

Tanpa ilmu pengetahuan kita menjadi buta terhadap kebaikan. Tanpa ilmu kita bisa melakukan hal buruk karena menyukainya. Tanpa ilmu kita menghindari hal baik karena tidak menyukainya. Karena cara berpikir seperti inilah masyarakat kurang berkembang pola pikirnya. 

Untuk itulah Allah peringatkan manusia dalam surat Al Quran. "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah, 2:216).

Informasi ini mengandung pesan universal untuk seluruh umat manusia, bagaimana cara mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Informasi ini mengandung pesan kepada umat manusia untuk selalu menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 

Dalam mengambil keputusan jangan hanya menggunakan dasar suka dan tidak suka, senang dan tidak senang, tapi harus gunakan juga kemampuan akal untuk membaca, meneliti, menelaah, memilah, dan mengolah ilmu pengetahuan yang berhasil dikumpulkan untuk sampai pada sebuah keputusan.

Jika menyimak pada informasi Al Quran pada Al Baqarah ayat 216, gambaran ideal dari orang-orang beriman mereka punya kecerdasan intelektual tinggi sehingga mereka mampu mengendalikan emosi yang ada dalam jiwanya menjadi emosi yang terbimbing dan berakhlak mulia menuju jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu'alam.

Sunday, June 14, 2026

SAATNYA BANGSA TIMUR BANGKIT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Allah mengabarkan di dalam Al Quran, setiap bangsa akan diteguhkan kedudukannya dan akan dibinasakan karena dosa-dosa yang mereka lakukan. Pola ini terkonfirmasi dalam sejarah peradaban dunia, telah terjadi jatuh bangun peradaban beribu-ribu tahun. 

"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al Anfaal, 6:6).

Sesuai dengan berita Al Quran, ternyata perdaban manusia jatuh bangun silih berganti. Peradaban Romawi, Persia, Islam, sebelumnya telah mencapai puncak keemasan, dan mengalami kejatuhan. Kini peradaban Barat sedang memimpin, dan mulai terlihat tanda-tanda akan mengalami penurunan. 

Penurunan peradaban tidak disebabkan dari luar tetapi dari dalam peradaban itu sendiri. Di puncak-puncak peradaban selalu terlihat ada hal-hal anomali. Barat sudah ratusan tahun memimpin peradaban, dan kini memperlihatkan telah memperlihatkan prilaku-prilaku anomali sebagai tanda-tanda penurunan peradaban.

Barat adalah negara pengusung demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM). Bertahun-tahun negara-negara menjatuhkan rezim-rezim yang tidak demokratis dan isu HAM digulirkan menjadi alasan sebuah negara diakui dan tidak diakui dalam pentas kehidupan dunia.

Kemudian, kisah Genosida terhadap 72 ribu penduduk Palestina dan pembumihangusan seluruh infrastruktur penduduk Palestina, inilah anomali sebagai tanda keruntuhan peradaban Barat. Tanda berikutnya, telah terjadi perpecahan dikerjasama pertahanan negara-negara Barat. Jargon Barat sebagai penjaga perdamaian, faktanya menjadi bangsa yang getol menciptakan perang.

Kendali negara-negara Barat mulai terkonstrasi pada negara-negara dengan jumlah penduduk besar. Indonesia, India, China, Rusia, berpeluang menjadi pengendali peradaban berikutnya. Para pemimpin di negara ini sedang bekerjasama membangun tatanan peradaban baru yang lebih menghargai kedaulatan setiap negara dan hak asasi manusia.

Melalui dunia pendidikan, narasi-narasi bangsa besar berbasis data dan fakta harus terus dinarasikan guru-guru. Kebesaran sebuah bangsa ada dalam imajinasi warga negara. Dunia pendidikan menjadi sektor paling strategis untuk mengangkat kualitas bangsa menuju bangsa besar. 

Guru-guru bisa diperankan sebagai agen-agen strategis dalam membangun kebesaran bangsa. Di ruang-ruang kelas, guru-guru diwajibkan membahas tentang visi besar bangsa, dan mengungkap data dan fakta pendukung dari berbagai sudut pandang. 

Kehadiran guru-guru inspiratif, kreatif, imajinatif, menjadi kompetensi yang harus dilatih serius pada guru. Sikap pesimis dan skeptis fatalistik menjadi hambatan mental bangsa-bangsa untuk berkembang jadi bangsa maju.

Peran guru sangat berdampak pada pembentukkan karakter dan narasi bangsa besar pada setiap warga negara. Nasib guru yang terabaikan menjadi indikator sebuah bangsa tidak serius membangun peraban bangsa.***

 

  


Monday, June 1, 2026

INDONESIA BELAJAR MANDIRI DARI IRAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. 

Iran telah menjadi bukti bahwa setiap negara bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada negara lain. Iran di embargo selama 47 tahun oleh admin dunia, ternyata masih bisa hidup dan bisa bertahan dengan teknologi senjata buatan sendiri. 

Apa yang terjadi pada bangsa Iran, bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai bukti bahwa hukum Allah berlaku pasti. Hukum ini dijelaskan di dalam Al Qur'an, bahwa "setiap kesulitan akan menghasilkan kemudahan."

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Alam Nasyrah, 9:5-6).

Setuju atau tidak setuju, percaya atau tidak percaya pada hukum setelah kesulitan ada kemudahan, hukum Allah akan berlaku pada siapapun tanpa melihat suku, agama, dan bangsa. Tekanan Amerika Serikat pada Iran akan mengubah Iran menjadi negara kuat, karena semakin percaya diri bisa berdiri di atas kaki sendiri. 

Pendidikan sejati bagi sebuah bangsa adalah kesulitan demi kesulitan yang berhasil dilalui. Indonesia bukan negara lemah. Sebagai negara merdeka kita sudah berhasil melewati masa-masa sulit. Revolusi fisik tahun 1945, masa jatuh bangunnya pemerintaha tahun 1959, masa perang saudara 1965, dan masa krisis ekonomi dan politik 1998. Masa-masa sulit telah dilalui melahirkan masa-masa hidup damai sejahtera. 

Saat ini, Indonesia sedang mendapat tekanan ekonomi global, karena Indonesia berusaha menjadi bangsa mandiri. Jika Indonesia berhasil swasembada pangan dan energi, akan ada negara-negara produsen yang sistem ekonominya terganggu. Mereka adalah para penjajah yang suka bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh. 

Indonesia adalah potensi pasar negara-negara produsen. Jika Indonesia mengembangkan kemandirian, dimulai dari negeri dan pangan, maka negara-negara  produsen yang biasa menikmati keuntungan dari pasar akan terganggu. 

Tekanan ekonomi global dilakukan melalui pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar AS, dan menyerang pasar modal dengan aksi jual sehingga harga rata-rata saham aturun drastis. Dalam kondisi ini, mereka akan menbuat berita-berita buruk tentang Indonesia agar Indonesia tidak menjadi negara mandiri.

Kita sudah menyaksikan di kancah internasional, bagaimana negara-negara penghasil teknologi perang, mereka memaksa negara-negara lain tunduk dengan ancaman, kekerasan, genosida, dan blokade ekonomi. Negara yang tidak punya nyali mereka menyerah dan hidup dikendalikan bangsa lain.

Mereka yang punya nyali tetapi tidak punya rasa persatuan, mereka bisa melawan tetapi tidak berdaya. Iran menjadi contoh bagi semua negara. Iran punya nyali, rakyat bersatu, dan punya kemandirian teknologi, Iran tampil menjadi bangsa mandiri.

Ujian Iran untuk menjadi bangsa mandiri adalah 47 tahun mendapat tekanan politik dan ekonomi global. Pimpinan-pimpinan politik Iran menjadi korban tekanan politik dan ekonomi. Rasa persatuan bangsa Iran telah menyelamatkan Iran dari perpecahan dan perang saudara. 

Indonesia memiliki kekuatan lebih dari Iran. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia memiliki rasa persatuan yang kuat. Indoneisa punya kekayaan alam melimpah. Indonesia daratan dan perairan yang luas. Satu yang belum dimiliki bangsa Indonesia yaitu teknologi. 

Bangsa Indonesia tidak punya keberanian kuat seperti Iran untuk memiliki teknologi sendiri. Ketidakberanian bangsa Inodnesia mandiri secara teknologi, lebih karena mental bangsa Indonesia. Mental-mental pejuang yang dimiliki generasi pertama telah meluntur. Sekarang kita dihadapkan pada mental mudah menyerah, tidak berani menghadapi kesulitan, dan suka menghujat menyalahkan orang lain.

Bangsa Indonesia perlu dikendalikan oleh pemimpin yang kuat, didukung oleh sistem pemerintahan yang kuat, dan tentara yang kuat. Kekuatan bangsa Indonesia harus ditopang dari pondasi mendasar yaitu pendidikan. Lahirnya manusia bermental petarung, pantang menyerah, tidak mengeluh, berani berkorban, dilahirkan dari dunia pendidikan.

Melahirkan manusia-manusia terbaik kuncinya bukan bangunan, atau dokumen kurikulum. Kunci untuk melahirkan manusia-manusia tangguh petarung adalah guru-guru petarung. Manusia-manusia petarung yang dihasilkan dari pendidikan, ketika jadi masyarakat akan jadi masyarakat petarung yang bisa mengajak seluruh anggota masyarakat berangkat menjadi bangsa mandiri.

Iran tidak tergoyahkan dengan ancaman senjata pemusnah masal negara lain, rakyatnya bersatu padu untuk mempertahankan kedaulatan negara dan membela tanah air. Jika rasa cinta tanah air sudah menjadi budaya masyarakat, tidak ada bangsa lain yang bisa menjatuhkan.

Ini hukum Allah yang berikutnya. Sebuah bangsa tidak akan hancur karena serangan dari luar. Hukum Allah sudah ditetapkan bahwa sebuah bangsa lemah dan hancur bukan karena serangan bangsa lain, tapi karena prilaku-prilaku buruk yang dimiliki bangsa itu sendiri.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'aam, 6:6).

Dosa penyebab kebinasaan. Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter dan prilaku bangsa yang tidak berkualitas. Prilaku-prilaku masyarakat tidak mencermin sebagai manusia berpendidikan, dan berakal sehat. Masyarakat punya kecenderungan mengedepankan pemikiran dan prilaku buruk dalam menyikapi sebuah kejadian. 

Dosa sebuah bangsa ditandai dengan karakter manusia  bermental mudah mengeluh, pesimis, putus asa, dan suka menghujat menyalahkan orang lain. Bangsa sulit mandiri, karena selalu kandas dihadang oleh manusia-manusia bermental buruk, pesimis, dan suka menghujat menyalahkan. Mereka melihat setiap upaya kemajuan selalu terlihat buruk. Itulah manusia-manusia dari dalam bangsa penyebab kebinasaan sebuah bangsa.

Dunia pendidikanlah yang bisa diandalkan melahirkan mausia-manusia petarung. Catatan penting, dunia pendidikan yang baik, diisi oleh guru-guru petarung yang selalu berpikir optimis, tidak suka mengeluh, tidak pernah putus asa, dan tidak suka menyalahkan orang lain, berani berkorban, beriman dan bertakwa kepada Tuhan.*** 

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akb...