Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Pola sejarah dunia mengikuti pola sejarah Nabi Muhammad. Sejarah otentik kehidupan manusia ditetapkan Tuhan melalui kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. Jika kita ingin belajar sejarah, kita harus mengikuti pola sejarah hidup Nabi Muhammad yang dijelaskan di dalam Al Quran.
Pola hidup sejarah dunia dijelaskan pada saat kenabian Nabi Muhammad di kota Mekah. Kondisi kehidupan masyarakat Mekah menjadi baromater perubahan sejarah dunia. Sebelum Nabi Muhammad diutus kondisi Mekah merupakan tempat makmur karena pusat ziarah. Mekah menjadi jalur perdagangan internasional antara Yaman dan Syam.
Sistem ekonomi dikuasasi oleh bangsawan kaya, mengeksploitasi kaum lemah, melalui praktek riba yang sangat tinggi. Kondisi masyarakat sangat fanatis dengan kesukuan. Masalah sepele bisa menjadi perang antar suku yang bisa berlangsung puluhan tahun.
Kabah berisi 360 berhala sebagai sesembahan. Ajaran tauhid Nabi Ibrahim telah ditingalkan oleh pendudukan Mekah. Rasa persaudaraan hilang karena sikap kesukuan. Sikap persaudaraan didasarkan pada fanatisme kesukuan bukan atas dasar kemanusiaan, keadilan, dan keimanan.
Kondisi Mekah saat ini, menunjukkan kondisi pada masa awal sebelum kenabian Nabi Muhammad. Melalui Saudi Vision 2030, umroh tidak lagi sekedar ibadah konvesional tetapi menjadi industri pariwisata modern. Perhotelan bintang lima berdiri megah. Pariwisata umroh dan haji menjadi pilar ekonomi Arab Saudi selain minyak.
Masyarakat Arab Saudi termasuk negara dengan pendapat masyarakat cukup tinggi di atas Jerman. Tingkat kebahagiaan berada di atas Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Kondisi ini menunjukkan bahwa Mekah telah berada kembali pada posisi sebelum kenabian Nabi Muhammad.
Sejarah dunia sedang berulang dan sedang menuju kiamat. Prediksi Nabi Muhammad telah dikemukakan sejak 14 abad lalu. “Kiamat tidak akan terjadi sampai harta menjadi melimpah... dan sampai bumi Arab kembali menjadi tanah lapang yang penuh tumbuhan (hijau) dan sungai-sungai mengalir.” (HR. Muslim).
Secara etimologi, kata "kiamat" berasal dari bahasa Arab, yaitu qāma – yaqūmu – qiyāman, yang berarti berdiri, bangkit, berhenti, atau berada di tengah. Dalam konteks agama, kata ini diserap menjadi al-qiyāmah yang berarti hari kebangkitan umat manusia dari kematian untuk diadili.
Namun dalam konteks sejarah dunia, kiamat bisa diartikan sebagai hari kebangkitan kesadaran manusia untuk kembali ke jalan hidup seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. Puncak peradaban Arab telah terjadi dan saatnya umat manusia kembali berdiri ke jalan tengah yang diajarkan Nabi Muhammad.
Kemakmuran telah dicapai oleh bangsa Arab, tetapi mereka tidak membelajakannya untuk kebajikan. Ketika genosida terjadi pada masyarakat Palestina, bangsa Arab berusaha membela atau menghentikannya. Bangsa Arab telah bersekutu dengan bangsa lain, dan tidak berusaha menegakkan keadilan untuk menciptakan perdamaian dan menghentikan penindasan terhadap hak-hak hidup manusia sebagaimana Nabi Muhammad mengajarkannya dalam Al Quran.
"...Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia..." (Al-Ma'idah, 5: 32).
Bangsa Arab, tidak menyuarakan ayat ini ketika 70 puluh ribu rakyat Palestina digenosida dan menderita karena kehilangan rumah, sekolah, rumah sakit, pasar, dan rumah ibadah. Inilah tanda-tanda kiamat dalam arti saatnya umat manusia memperbaiki nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana Nabi Muhammad diutus.
Rasa kemanusiaan bangsa Arab telah hilang. Kemakmuran telah menumpulkan keimanan kepada Tuhan dan kepedulian terhadap rasa persaudaran sesama antar umat manusia. Sudah saatnya, manusia melakukan pembaharuan dalam ketauhidan kepada Tuhan. Sifat rahman dan rahim Tuhan, harus menjadi karakter bukan bacaan dalam ritual.
Kemuliaan seseorang tidak dilihat dari berapa kekayaan yang dimiliki, kehinaan seseorang tidak dilihat dari keburukan yang dialami. Kemuliaan seseorang terlihat dari karakter mereka yang beriman kepada Tuhan ditandai dengan berani membela kemanusian, memberi pertolongan pada orang tertindas, mengajurkan untuk memberi makan pada orang miskin dan anak-anak yatim.
"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama mereka." (HR. Abu Daud).
Pemikiran, prilaku dan pakaian bangsa Arab bukan cerminan dari ajaran agama yang diajarkan Nabi Muhammad. Cerminan agama yang diajarkan Nabi Muhammad adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak baik sesuai ajaran Allah dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad.
Sejarah dunia sedang berulang, kembali dari awal seperti pada awal Nabi Muhammad menjadi utusan yaitu mengembalikan keimanan manusia kepada Allah dan beriman kepada ayat-ayat Al Quran sebagai petunjuk kebenaran guna mewujudkan kehidupan damai dan kesejahteraan umat manusia dunia dan akhirat.***