Tuesday, November 2, 2021

ILMU YANG DILUPAKAN GURU

OLEH: TOTO SUHARYA

Tulisan ini bernagkat dari hasil wawancara dan pengamatan, pada calon guru atau guru yang sudah terjun bertahun-tahun di dunia pendidikan. Ilmu-ilmu dasar pendidikan yang dipelajarinya di kampus, mereka katakana sudah lupa dan kadang susah untuk mengingatnya lagi. Penulis merefeksi diri, bahwa sesungguhnya selama kuliah sampai di lapangan menjadi guru, seperti tidak memiliki bekal pemahaman yang cukup tentang ilmu-ilmu dasar pendidikan yang harus jadi pedoman ketika terjun di lapangan.

Sebuah refleksi diri terjadi ketika menjelang tidur setelah menyelesaikan sebuah artikel tentang Tingkatan Pengetahuan (www.logika-tuhan.com). Dalam artikel tersebut saya bahas tingkatan pengetahuan dengan analisis dari sudut pandang agama, fisika, dan filsafat. Selanjutnya saya beri penjelasan dengan analisis menggunakan teori kognitif dari Bloom. Setelah membahas tingkatan pengetahuan, saya paham dengan mendalam bahwa seluruh produk dari hasil pendidikan ujungnya adalah pengetahuan (knowledge). Ijazah adalah tanda bahwa seseorang otaknya berisi ilmu pengetahuan, yang akan tercermin dalam cara bicara, bersikap, berprilaku terhadap sesama, orang tua dan anak-anak.

Seluruh aktivitas pembelajaran, melalui metode ceramah, praktek, penggunan video, rekaman, buku, modul, dll., hasil yang di dapat oleh peserta didik adalah pengetahuan. Jika demikian, seluruh urusan pendidikan terfokus pada bagian tubuh dari leher ke atas dan bagian yang paling vital di atas leher adalah otak, karena seluruh prilaku yang manusia lakukan berangkat dari perintah otak. Apa yang diperintahkan oleh otak sangat tergantung pada pengetahuan yang diolahnya. Seluruh rangkaian pendidikan dari mulai Paud, TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA/MK/SLB, adaah upaya untuk menginput pengetahuan ke dalam otak para peserta didik.

Dalam sebuah penelitian, Taufiq Pasiak mengatakan otak terbagi menjadi tiga, yaitu otak mamalia baru (otak kreatif, logika, analisis), otak mamalia tua (perasaan), dan otak reptil (kebiasaan). Berdasar fungsi otak di atas, pebelajaran harus mencerdaskan otak. Pembelajaran yang mencerdaskan otak adalah kegiatan yang bisa mengaktifkan seluruh bagian otak. Dalam teori pembelajaran, aktivitas belajar harus melibatkan tiga bagian otak yaitu kognitif (otak mamalia baru), afektif (otak mamalia tua), dan psikomotor (otak reptil).

Ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru-guru adalah pengetahuan memiliki tingkatan sampai enam lapis. Teori pengetahuan ini berurutan dari level ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Enam level tingkatan pengetahuan ini harus diajarkan dan dilatihkan bagaimana cara mendapatkannya. Learning how to learn adalah melatih bagaimana cara peserta didik mendapatkan pengetahuan lapis 4, 5, dan 6. Learning how to learn, isinya adalah mengajarkan berpikir analisis, sintesis, dan evaluasi  untuk mendapatkan pengetahuan di level 4, 5, dan 6.

Kelemahan pembelajaran kita selama 20 tahun ke belakang adalah abai terhadap keterampilan berpikir yang harus dimiliki peserta didik. Pengetahuan instan dari cara bernalar rendah sering mendominasi kegiatan pembelajaran kita. Kelamahan selanjutnya adalah pengetahuan tidak dipahami sebagai capaian penting dalam pembelajaran. Pengetahuan dianggap sebagai bukan hasil dari proses pendidikan, maka dari itu budaya baca dan menulis buku kurang serius dihargai di lingkungan pendidikan. Survey kecil ketika supervisi PTMT dari 15 orang peserta didik, dengan jujur dihadapan Tuhan nya, mereka tidak suka membaca. Peserta didik demikian juga pendidik yang suka membaca masih jadi golongan minoritas, padahal ini dunia pendidikan.

Kelamahan lain yang dimiliki kita adalah para pendidik sangat jarang sekali menguasai pengajaran yang mengajarkan bagaimana cara memperloleh pengetahuan level 4, 5, dan 6. Kelamahan ini telah berdampak pada rendahnya penghargaan peserta didik pada pengetahuan, memberi dampak pada prilaku rendahnya minat baca, rendahnya kemampuan berpikir, dan rendahnya kemampuan bertahan dalam kondisi sulit (survival).

Semua kelemahan pendidikan kita, berawal dari kualitas bacaan dan rendahnya kualitas pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Pengetahuan yang dimiliki peserta didik adalah kualitas pengetahuan awam, pengetahuan pasaran, pengetahuan murahan, yang tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ketika peserta didik kembali ke masyarakat. Pengetahuan murahan hanya diakses dari televisi, berita koran, dan chating media sosial, diakses dengan menggunakan kemampuan otak level rendah. Semua kembali pada ilmu kependidikan yang harus ajeg dimiliki setiap pendidik.

Salah satu Ilmu yang ajeg dan tidak boleh dilupakan guru adalah teori kogintif dalam pembelajaran. Ilmu ini dilupakan karena kesalahpahaman. Dikira teori kognitif hanya mewakili kemampuan otak dalam berlogika, analisis, dan sintesa, padahal merasa, benci, cinta, dan munculnya manusia-manusia berkarakter baik adalah bagian dari bekerja dan berfungsinya otak. Pengetahuan sebagaimana menurut Sorokin, bisa di dapat melalui penalaran otak mamalia baru, bisa di dapat dengan perasaan (otak mamalia tua), dan bisa di dapatkan dengan cara melakukan (otak reptil). Oleh karena itu, pembelajaran harus memenuhi karakteristik ketiga fungsi otak. Di wilayah otak mamalia muda, pembelajaran harus melatih bagaimana peserta didik mendapat pengetahuan sampai pada pengetahuan dengan kualitas level enam. Di wilayah otak mamalia tua, pembelajaran harus bisa memberikan efek senang, riang, dan gembira. Untuk itu informasi yang masuk ke otak harus dipilih, informasi-informasi yang benar-benar membawa kebaikan dan harapan bagi para peserta didik. Pada wilayah otak reptil, pembelajaran harus menghadirkan informasi-informasi yang menstimulus peserta didik untuk berani melakukan, berani mencoba hal-hal yang baik dan mengulanginya.

Inilah ilmu dasar yang tidak boleh dilupakan guru sampai kapan pun, karena fungsi dan struktur otak minimalnya memiliki tiga fungsi sebagaimana dikemukakan para ahli otak dan ahli pendidikan. Melupakan ilmu dasar ini, akan berakibat rendahnya kepemilikan kualitas pengetahuan peserta didik, rendahnya kepemilikan makna hidup peserta didik, dan terbentuknya karakter-karakter peserta didik yang dikendalikan oleh naluri manusia-manusia pasaran yang hanya pantas untuk menerima suruhan dan cacian sebagaimana terjadi di zaman penjajahan. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiat...