Sunday, October 31, 2021

KURIKULUM MULTI TRACK

Oleh: Toto Suharya
(Pengurus MKKS Provinsi Jawa Barat)

Ide menarik yang diperkenalkan dalam diskusi dengan Tim Dirjen Paud Dikdasmen, pada hari Jumat, 30 Oktober 2021, di Bandung. Diskusi menyoroti antara lain dampak dari PPDB Zonasi. Dampak PPDB zonasi bukan hanya bentuk fisik heterogennya kemampuan peserta didik di sebuah sekolah. Dampak serius dari PPDB adalah terjadinya perubahan paradigma pendidikan di sekolah yang harus dipahami oleh semua stake holder pendidikan.  Beranekaragamnya kecerdasan peserta didik di setiap sekolah, menuntut kepala sekolah dan guru-guru, mengubah sudut pandang terhadap seluruh peserta didik sebagai manusia yang memiliki kecerdasan dan berhak untuk tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Filosofi Ki Hadzar Dewantara, “semua makhluk adalah guru semua ruang ada kelas”, merupakan pandangan universal yang memberi arah berpikir bahwa kita tidak boleh merendahkan manusia bagaimanapun kondisinya. Pandangan yang membumi ini, di dukung oleh penemuan Howard Gardner terkait dengan multiple intelegent (kecerdasan majemuk), bahwa setiap diri peserta didik memiliki minimal sembilan kecerdasan. Kecerdasan akademik yang selama ini diukur dengan tes-tes tertulis tidak cukup mengukur dan mengidentifikasi kecerdasan majemuk yang dimiliki peserta didik. McClelland mengatakan, skor ujian akademik hanya bisa membuktikan peserta didik berprestasi di sekolah, tetapi tidak dapat dijadikan ukuran untuk sukses di masyarakat.

Di abad kreatif, penghargaan masyarakat bukan lagi pada juara prestasi akademik atau lomba-lomba, tetapi keterampilan hidup apa yang dimiliki agar bisa bekerjasama dan membantu sesama. Perusahaan-perusahaan teknologi informasi kelas dunia saat ini sudah mulai melakukan perubahan dalam rekrutmen tenaga kerja. Mereka tidak terlalu mempermasalahakan status akademik tetapi sejauh mana tenaga kerja yang akan direkrut memaham dan menguasai pekerjaan yang akan dilakukannya.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Para pengelola dan praktisi pendidikan harus melakukan refleksi terkait dengan tujuan, proses, dan evaluasi pembelajaran yang selama ini dilakukan dan apa yang harus dilakukan? Pertama, cara pandang kita terhadap peserta didik harus diubah. Yohanes Surya mengemukakan cara pandang yang harus kita miliki saat ini, “tidak ada anak yang bodoh kecuali mereka tidak punya kesempatan dengan guru yang baik”. Guru yang baik adalah mereka yang memberikan materi ajar, pendekatan belajar, dan evaluasi belajar, yang sesuai dengan karkateristik dan kebutuhan peserta didik.

Kurikulum multi track adalah jawaban yang bisa kita implementasikan dalam kurikulum di sekolah. Gagasan ini sudah dilakukan melalui kurikulum double track di Jawa Timur. Peserta didik selain mendapat layanan pendidikan akademis diberi tambahan dengan pembelajaran kursus-kursus singkat yang melatih kemampuan hard skill, yang bisa jadi modal keterampilan hidup ketika kembali ke masyarakat. Kurikulum multi track adalah pengembangan konten pembelajaran yang lebih luas sehingga bisa mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimiliki peserta didik. Konsepnya sama dengan kurikulum double track, memberi skill tambahan kepada peserta didik berkolaborasi dengan berbagai pihak bersumber pada bakat dan minat yang dimiLiki peserta didik.

Skill tambahan yang dimiliki peserta didik, agar kualitasnya terjamin harus melalui proses terstandar di bawah lembaga-lembaga profesional. Dilengkapi dengan keterangan sertifikat, setelah lulus SMA, peserta didik tidak hanya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi mereka dibekali dengan hard skill yang dapat memberi mereka masuk dunia kerja atau wirausaha.

Melalui kurikulum multi track, peserta didik SMA dapat memilih kelas-kelas kursus tambahan sesuai dengan bakat dan minat mereka. Kelas vocal, akustik, olah raga, desain grafis, coding, tata boga, melukis, marketing digital, konten creator, adalah program-program multi track yang bisa di dapat oleh peserta didik.

Lembaga pendidikan kini tidak bisa lagi berdiri sendiri tetapi harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk bekerjasama membantu pengembangan hard skill peserta didik di sekolah. Lebih penting lagi adalah hard skill yang bersentuhan dengan penggunaan teknologi informasi dalam berbagai bidang kehidupan yang akan terus berkembang di masa yang akan datang. Upaya pendidikan menjadi benar-benar upaya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan lembaga-lembaga di masyarakat. Demikian sedikit gagasan dari hasil diskusi saya sampaikan. Semoga mengispirasi kita semua untuk membekali seluruh peserta didik agar bisa beradftasi dengan kondisi zaman. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

MERDEKA BELAJAR ALA SEKOLAH CIKAL

OLEH: TOTO SUHARYA Ini pengalaman dua hari menimba ilmu di Sekolah Cikal Jakarta, dalam rangka Temu Pendidikan Nusantara (TPN) VII. Kegiat...