Friday, May 21, 2021

MERAYAKAN KEGAGALAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah / Sekretaris DPP AKSI).

Selebrasi kegagalan ketika tidak lolos seleksi kepala sekolah penggerak yang saya lakukan bukan pekerjaan iseng atau baper. Selebrasi ini saya lakukan dengan sadar, mengandung filosofi, pendidikan, dan paradigma berpikir di abad ke-21. Seperti kata Ary Ginanjar, kita sering bertanya what bukan why. Bertanya dengan why berarti ada penghargaan dan rasa ingin tahu tentang tujuan dari sebuah tindakan. Sedangkan bertanya what lebih cenderung pada apa yang dihasilkan dan transaksional. Orang-orang yang selalu bertanya what, mungkin tidak akan mengerti mengapa kegagalan dirayakan.

Ada hal menarik dari Ary Ginanjar Agustian, pada tahun 1990 Samuel Pierpont Langley diberi anggaran besar oleh pemerintah Amerika untuk menemukan teknologi pesawat terbang. Namun akhirnya teknologi pesawat ditemukan oleh The Wright Brother. Pertanyaannya mengapa Langgley gagal dan Wright berhasil? Langley mendapat anggaran, surat tugas, dan tujuannya melaksanakan tugas. Sedangkan Wright tidak pakai anggaran dan surat tugas, tujuannya bukan melaksanakan tugas tetapi ingin mengubah dunia. 

Selanjutnya Ari Ginajar Agustian (2021) menyampaikan sebuah cara untuk melakukan transformasi, selama ini kita lebih banyak menyelesaikan masalah di kuadran kiri terkait dengan stuktur, strategi, dan sistem, sementara permasalahan akut yang terjadi di masyarakat terkait dengan behaviors, values, dan beliefs.

Selebrasi kegagalan yang saya lakukan adalah dalam rangka mengajarkan dan menyelesaikan masalah behavior, values, dan beliefs bangsa. Dengan belajar dari kegagalan, para pendidik harus sadar bahwa kepala sekolah penggerak sejati tidak perlu sokongan anggaran atau surat tugas. Tujuan bergerak penggerak sejati bukan melaksanakan tugas, tetapi mengubah dunia pendidikan menjadi tempat belajar dan upaya mengubah pola pikir bangsa.

Secara filosofis Bill Gate mengatakan, “kemerdekaan adalah ketika kita merdeka melakukan kegagalan”. Kutipan ini mengandung kata-kata filosofis yang harus ditanyakan jika tidak mengerti. Bangsa merdeka adalah bangsa yang ketika melihat kegagalan tidak mencemooh, mencela, menghina, dan merendahkan. Di bangsa merdeka, gagal dianggap biasa, dan mengundang banyak simpati dan support, sehingga mengundang banyak orang lagi untuk berani gagal. Semakin banyak orang berani gagal maka semakin banyak orang cerdas karena orang dengan banyak gagal dialah orang yang banyak belajar. Untuk itu selayaknya kegagalan mendapat selebrasi dari semua pihak sebagai pendorong untuk tetap bergerak sekalipun tanpa imbalan, anggaran, atau surat tugas.

Bisa dibuktikan dalam sejarah, bangsa-bangsa besar yang berhasil mencapai puncak kejayaan dipimpin oleh orang-orang yang banyak gagal. Penemuan-penemuan ilmu dan teknologi yang berhasil mengubah dunia, ditemukan oleh mereka yang banyak gagal. Jadi orang hebat itu siapa? Bukan yang banyak sukses, tapi mereka yang banyak gagal. Untuk itu saya rayakan kegagalan karena sudah terpilih menjalani sebagaimana dijalani oleh orang-orang hebat kelas dunia. Tidak akan menangkap kebaikan dari kegagalan, kecuali orang-orang yang berpikir. Wallahu’alam.

2 comments:

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya (Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI) Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kap...