Saturday, March 18, 2023

LOGIKA ADALAH PEMBENTUK KARAKTER

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Supaya mudah, pengertian logika saya artikan dengan definisi berpikir sebab akibat. Berpikir sebab akibat sangat sederhana, contohnya saya makan karena lapar. Saya pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Cara berpikir atau belogika paling dasar adalah berpikir sebab akibat. Semua yang dilakukan orang berdasarkan perintah otak dengan pola sebab akibat. 

Penyebab berpikir sebab akibat menjadi kompleks tergantung pada pembendaharaan pengetahuan. Perbedaan perbendaharaan pengetahuan seseorang, menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat. Untuk menguji kebenaran pendapat didukung oleh beberapa faktor yang memengaruhinya. Pertama, kebenaran didukung oleh fakta primer dan variasi jumlahnya. Kedua, kebenaran didukung oleh otoritas, orang atau lembaga yang disepakati memiliki kewenangan. Ketiga, jumlah pendukung argumen yang banyak.  

Pengajaran karakter sumber dasarnya adalah pengetahuan. Logika-logika yang dibangun pada pendidikan karakter adalah tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan etika, moral, dan  nilai, bersumber dari pengetahuan dari kitab suci, buku, tokoh, dan otoritas yang punya kredibilitas tinggi, dan pengalaman. 

Pengajaran pendidikan karakter biasanya dilakukan dengan cara pembiasaan. Namun demikian, perubahan karakter yang kelak terjadi bukan dilihat dari kebiasaan berprilaku sehari-hari, tapi terletak pada pembentuk pola pikir yang dibentuk di otak. Secara kasat mata, siswa melakukan hal baik secara berulang-ulang, tapi sesungguhnya siswa sedang membentuk pola tindak yang ada dalam otak. Para ahli neurologi mengatakan bahwa tindakan yang diulang-ulang, di dalam otak akan membentuk seperti jalan setapak yang sering dilalui.  

Jadi pembentukkan karakter yang sebenarnya bukan pada pembiasaan prilaku sehari-hari semata, tetapi pembentukan pola pikir di dalam otak. Siswa yang setiap hari disiplin tepat waktu, disiplin melaksanakan ritual doa, di dalam otaknya akan terbentuk pola pikir didukung berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang dia dapatkan dari pengalaman yang dia lakukan. Jika pengalaman buruk yang dia dapatkan, maka kebiasaan disiplin akan bersifat sementara. Sebaliknya jika pengalaman baik yang dia dapatkan selama berprilaku disiplin, maka prilaku disiplin akan bertahan lama. 

Oleh karena itu, pendidikan karakter bukan sebatas membiasakan siswa berpilaku baik, tetapi mereka harus bisa tahu dan merasakan jika berprilaku baik dampaknya memang diketahui dan dirasakan hidup menjadi lebih baik. Metode pendidikan karakter sebaiknya menggunakan pendekatan komprehensif, dimana dalam pembelajaran harus menyentuh tiga ranah yaitu psikomotor, afektif, dan kognitif. 

Pendidikan karakter baiknya dilakukan dari psikomotor lebih dulu, yaitu membimbing siswa untuk melakukan prilaku baik. Selanjutnya, bimbing siswa untuk menemukan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau pun menyedihkan (afektif) setelah melakukan prilaku-prilaku baik. Setiap temuan-temuan menyenangkan dan menyedihkan dari pengalaman, harus dicatatkan dalam catatan harian. 

Dalam jangka yang sudah ditentukan, siswa dibimbing untuk melakukan analisis pengalamannya, dan harus bisa mengambil kesimpulan. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan, guru memberi pengetahuan tentang hal-hal positif dari prilaku baik yang dilakukan siswa. Pada ranah kognitif, guru harus menyajikan bacaan yang memberi tahu bahwa prilaku positif yang dilakukan akan berdampak baik dengan menghadirkan contoh-contoh, misalnya dari tokoh-tokoh sukses dari berbagai bidang. 

Untuk pembentukkan karakter pada domain koginitif, siswa perlu diberi panduan-panduan berlogika pembentuk karakter. Berikut ada beberapa pola logika pembentuk karakter yang dapat menjadi pedoman mengapa siswa harus melaksanakan program pendidikan karakter yang telah ditentukan prilakunya. 

Pola dasar berlogika yang harus dipahami adalah kebaikan dan kejahatan tidak bercampur. Polanya, kebaikan selalu berakibat kebaikan, dan kejahatan berakibat kejahatan. Pada tataran empiris atau fakta lapangan, bisa terjadi perbedaan pandangan yaitu tidak selalu yang baik berbalas kebaikan. Hal ini tidak dapat dipandang sebagai kebenaran karena dalam tataran empiris hidup manusia berada dalam proses. Kebaikan sesungguhnya ada pada pola pikir, bukan pada tataran empiris. Pada tataran pola pikir, kebenaran pada akhirnya ada di dunia imajinasi yang kelak akan jadi kenyataan. Kenyataan akhir dari hukum kebaikan berbalas kebaikan ada di kehidupan setelah kematian. 

Bagi orang-orang yang tidak percaya kehidupan setelah kematian mungkin tidak menerima kebaikan berbalas kebaikan ada dikehidupan setelah kematian. Namun demikian, pendapat mereka yang tidak percaya hari kemudian tidak dapat dipertanggungjawabkan karena sama-sama tidak bisa membuktikan bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada kehidupan. Sebagai bangsa berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. 

Logika pasti bagi pembentuk karakter adalah kebaikan akan berbalas kebaikan, dan kejahatan akan bebalas kejahatan. Logika pasti ini merupakan logika pembentuk karakter mutlak karena setelah kematian akan ada kehidupan. Jadi pendidikan agama yang mengarah pada pengajaran etika, moral, dan nilai hidup menjadi sumber ajaran pembentukkan karakter.***



No comments:

Post a Comment

DUA SUDUT PANDANG KERAGURAGUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Keraguan memiliki dua sudut pandang. Keraguan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan ker...