Wednesday, January 3, 2024

MENGELOLA SEKOLAH DENGAN LOGIKA TUHAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya muslim, banyak berdiri masjid-masjid besar dengan kapasitas ratusan jamaah. Sekolah yang memiliki masjid-masjid dengan kapasitas besar, mereka telah memiliki potensi besar untuk membangun generasi berkarakter dan prestasi unggul. 

Sarana prasarana masjid yang besar bisa jadi keunggulan sekolah, jika visi pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan potensi sarana masjid yang ada. Namun ada dua tantangan yang harus dihadapai ketika sekolah memiliki sarana masjid yang besar. Pertama sistem pengelolaan masjid masih kolot. Kedua, pemahaman konsep pendidikan yang belum mengoptimalkan potensi agama. 

Pemahaman pendidikan keagamaan selalu berhenti pada ritual dan hafalan doa-doa. Implementasi agama dalam menyelesaikan masalah lingkungan dan sosial kurang dielaborasi. Padahal di Indonesia, negara sudah menjamin kebebasan beragama didasari oleh sila pertama Pancasila. 

Sekolah yang memiliki masjid dengan kapasitas besar bisa dijadikan sebagai basis pendidikan agama yang bisa mendorong umat beragama berdaya saing. Secara psikologi, agama memiliki kekuatan untuk memotivasi orang untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama umat manusia. 

Optimalisasi masjid di sekolah sebagai sumber kekuatan sumber daya manusia dapat diimplementasikan dengan mengikuti petunjuk Al Quran. 

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At Taubah, 9:18).

Masjid Jogokarian di Yogyakarta, telah berhasil membuktikan memberdayakan masyarakat melalui masjid. Ustad Muhammad Jazir ASP adalah sosok inspiratif bagi dunia dalam memberdayakan masyarakat melalui revolusi manajemen masjid.

Dengan mengikuti sunah Nabi Muhammad dalam mengelola masjid, Ustad Muhammad Jazir ASP berhasil menjadikan masjid sebagai pusat kekuatan dalam membangun sumber daya manusia dan pusat kesejahteraan masyarakat. Ide ini bisa ditiru oleh sekolah-sekolah yang memiliki sarana masjid dengan kapasitas besar. 

Konsep dasar pendidikan yang berpusat pada masjid adalah memakmurkan masjid sebagai tempat shalat dan mendorong para siswa memiliki semangat berbagi dengan sesama (zakat/sedekah). Dua konsep dasar ini sebagai implementasi dari memwujudkan generasi beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa.

Implementasinya, sekolah memiliki program bagi umat beragama untuk disiplin beribadah dilakukan berjamaah. Bagi siswa muslim, shalat berjamaah diupayakan menjadi budaya di sekolah. Kultur ini akan mendukung lingkungan sekolah disiplin dan tertib.

Selanjutnya budaya sedekah digerakkan menjadi karakter yang harus dilakukan oleh siswa setiap hari. Dana sedekah, dikelola oleh siswa untuk dimanfaatkan menciptakan program-program bermanfaat yang bisa menyelesaikan masalah di masyarakat. Siswa juga bisa diajarkan untuk mengembangkan wajaf produktif yang nantinya bisa menunjang pada kegiatan-kegiatan sosial di masjid. 

Dengan modal iman dan takwa serta kemampuan mengelola keuangan masjid, kelak kompetensi bisa bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari siswa. Mereka bisa menjadi motivator dan inovator ketika kembali ke masyarakat, dengan memberdayakan masjid-masjid yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. 

Dari hasil pengamatan, program shalat dan sedekah yang dibiasakan di sekolah, telah membangun kultur sekolah yang produktif. Prestasi-prestasi siswa meningkat dan kultur sekolah menjadi lebih tertib dan kondusif sebagai lingkungan pendidikan. 

Pendidikan berbasis manajemen masjid, dikerjakan sebagai fokus mewujudkan pendidikan karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berjiwa sosial tinggi. Kelak di masyarakat, manusia-manusia inilah yang akan selalu tergerak selalu peduli membantu menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat atas dasar dorongan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang maha esa. Inilah ciri masyarakat Indonesia yang unggul dan mensejahterakan bangsa.

Tantangannya adalah seluruh warga sekolah harus punya komitmen untuk menjaga shalat-shalat pada waktunya dilakukan bersama-sama secara berkelanjutan dan konsisten. Jika sekolah yang mampu menjaganya, Allah menjanjikan berbagai kebaikan akan diraih oleh sekolah sebagai miniatur sebuah negara.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al 'Araaf, 7:96).***


No comments:

Post a Comment

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.  Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya....