Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Langit Teheran memerah bukan karena senja, melainkan akibat rentetan rudal yang membelah kegelapan malam. Di sebuah gubuk kecil pinggiran kota, seorang pemimpin tua duduk tenang tanpa pengawal ataupun ambisi kekuasaan di pundaknya. Ia tidak bernafsu menguasai dunia, baginya kepemimpinan hanyalah titipan singkat untuk melayani sesama hamba.
Saat dentuman bom menggetarkan bumi, pria bersahaja itu justru menggelar sajadahnya dengan sangat perlahan. Ia melupakan hiruk-pikuk politik dunia dan memilih menenggelamkan diri dalam kekhusyukan yang amat dalam. Di atas gemuruh maut yang mendekat, ia meletakkan keningnya ke bumi dalam sujud terakhir yang paling sunyi.
Gedung itu runtuh seketika, mengubur sang pemimpin dalam diam tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Seorang pemuda yang menyaksikan keruntuhan itu dari kejauhan berteriak histeris menembus debu reruntuhan. Ia merasa dunia begitu kejam karena membiarkan orang sebaik itu mati dalam kehancuran yang mengerikan.
"Di mana keadilan Tuhan bagi orang yang setulus dia?" teriak si pemuda sambil mengepalkan tangan ke arah langit yang kelam. Air matanya jatuh menyatu dengan debu mesiu, meratapi kepergian sosok yang ia anggap sebagai pahlawan tanpa mahkota. Baginya, kematian tragis di tengah perang adalah sebuah ketidakadilan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Namun, di tengah kemarahannya, ia teringat sepotong ayat dari mushaf tua yang sering dibaca sang pemimpin. Adz-Dzariyat ayat 56 tiba-tiba bergema di kepalanya, mengingatkan kembali tujuan utama penciptaan jin dan manusia. Ia menyadari bahwa seluruh eksistensi ini sebenarnya hanya bermuara pada satu titik tunggal: menyembah Sang Pencipta.
Pemuda itu perlahan terduduk, menyadari bahwa setiap embusan napas manusia telah diatur dengan sangat presisi oleh Allah. Tak ada satu pun kejadian yang luput dari skenario-Nya, termasuk cara seseorang mengembuskan napas yang terakhir. Kematian di tengah bom bukan lagi terlihat sebagai tragedi, melainkan sebuah kepulangan yang telah dijadwalkan.
Keadilan Tuhan ternyata tidak diukur dari megahnya istana atau panjangnya usia di dunia yang fana ini. Sang pemimpin tidak kalah oleh perang, ia justru menang karena berhasil menjaga status penghambaannya hingga detik terakhir. Ia meninggal bukan sebagai korban politik, melainkan sebagai hamba yang sedang menjalankan tugas suci dari Tuhannya.
Cara kematian hanyalah pintu masuk, namun kondisi hati saat melangkah adalah kunci yang menentukan segalanya. Pria tua itu telah memastikan bahwa saat maut menjemput, ia sedang berada dalam posisi tertinggi seorang manusia: bersujud. Ia tidak sedang bekerja untuk dunia atau jabatan, melainkan murni bekerja untuk keridaan Allah semata.
Kesadaran baru mulai meresap ke dalam jiwa si pemuda, menghapus amarah yang tadi membakar dadanya dengan hebat. Ia memahami bahwa tugas manusia bukan untuk mengatur bagaimana cara mereka mati atau kapan perang berakhir. Tugas utama kita adalah memastikan bahwa setiap detik yang tersisa digunakan untuk mengabdi kepada-Nya tanpa henti.
Kini, di bawah sisa-sisa reruntuhan, keheningan terasa begitu damai dan penuh dengan makna spiritual yang mendalam. Seluruh hidup memang sepenuhnya urusan agama, mulai dari cara kita memimpin hingga cara kita kembali pulang. Si pemuda pun bangkit dengan tekad baru, menjalani sisa hidupnya sebagai pekerja Allah di muka bumi.***
No comments:
Post a Comment