Friday, December 30, 2022

PENDIDIKAN KITA MEMBAHAYAKAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Sekularisme telah membedakan antara pendidikan agama dan umum. Cara berpikir ini telah menjadi sebab tidak bertemunya pendidikan agama dan umum. Pendidikan agama dan pendidikan umum jadi berjalan masing-masing. Seperti hidup damai tetapi tidak saling tegur sapa. Sementara bertegur sapa, saling berkomunikasi, saling berkolabirasi, saling bersinergi, adalah absolut sebab kesejahteraan  hidup. Jika cara berpikir sekuler yang sudah dipahami parsial dipertahankan bisa membahayakan umat manusia. Umat manusia sedang digiring cepat musnah. 

Sekularime menurut Buya Syakur bukan memisahkan agama, tetapi menjadi kemurnian agama dari niat-niat kotor kepentingan politik. Tetapi sudah kadung dipahami awam, pola pikir sekuler adalah memisahkan agama dan ilmu, memisahkan politik dan agama. Pemahamannya sudah sangat komfleks dan kata orang Sunda pabaliut atau sophisticated. Pemahaman sekuler sebagai pemisahan antara agama dan ilmu sudah jadi kolektif memori masyarakat. 


Solusinya ganti konsep berpikir. Untuk itu, ada paradigma berpikir yang cocok untuk negara kesatuan dengan ideologi Pancasila, yaitu cara berpikir integralistik. Para pendidi negara ini dulu pernah menawarkannya pada saat penyusunan ideologi Pancasila. Integralistik pola pikir yang cocok dengan negara religius seperti Indonesia. Pancasila sendiri merupakan produk berpikir integralistik. 

Pendidikan yang memisahkan antara agama dan ilmu sangat berbahaya bagi kesejahteraan bangsa. Indonesia dengan wilayah besar, dan penduduk terbanyak nomor 4 di dunia, sangat berat untuk diberdayakan jika menggunakan pola pikir sekuler. Kekuuatan pikiran sekuler yang dipahami sebagai kekuatan akal material, membebani pikiran dan hati manusia, seolah-olah dirinya menjadi pengubah hidup manusia. Penyakit-penyakit mental hadir menjadi potret mengerikan dan menjadi penyebab segala penyakit yang tidak terdeteksi medis. 

Pendidikan yang membahayakan dari paradigma sekuler adalah mereduksi peran pendidikan agama dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran agama menjadia parsial, cenderung ke akhirat, bukan menjadi pengajaran karakter sebagai pemebentuk pribadi-pribadi cerdas dengan keyakinan penuh pada Tuhan. Ada persepsi agama menjadi racun, karena dianggap menghambat kemajuan zaman. Etika, moralitas, digiring bukan menjadi pelajaran agama, tapi pelajaran ilmu kemanusiaan. 

Ideologi Pancasila lebih cocok dengan pola pikir integralis. Pola pikir ini senapas dengan cara berpikir orang-orang beragama. Pola pikir integralis memandang dunia sebagai bentang kehidupan dari dunia material hingga non material (akhirat). Cita-cita hidup sejahtera tidak sebatas dalam kehidupan dunia tetapi senapas dengan target kehidupan setelah kematian. Moralitas manusia dengan berpikir integralis jauh lebih tinggi, karena tindakan-tindakannya dikontrol oleh moralitas cita-cita hidup setelah kematian. 

Prilaku manusia-manusia integralis tidak murni untuk tujuan duniawi tetapi dikombinasikan untuk tujuan-tujuan hidup mulia di akhirat. Prilaku orang-orang berpikir integralis tidak mengutamakan kehidupan dunia, juga tidak mengutamakan akhirat. Dua-duanya dikondisikan harus selaras bisa mensejahterakan. Keakhiratan dipandang sebagai kehidupan nyata di dimensi lain, yang sebab-sebabnya harus ditentukan semasa hidup di dunia. Pola pikir integralis lebih unggul dibanding pola pikir sekuler yang kadung telah dipahami awam. 

Pola pikir integralis tidak murni mempertimbangkan pandangan pola pikir material yang dikonstruksi akan, tetapi mempertimbangkan pola pikir non material dari Tuhan. Mengharmonisasikan pola pikir material dengan non material, menjadi pola pikir bermoral akhirat bagi pemikir integralis. Tujuan hidup sejahtera untuk umat manusia di dunia dan akhirat menjadi keseimbangan yang selalu dijaga. 

Pendidikan membahayakan umat manusia ketika mengabaikan moralitas akhirat. Manusia tanpa moral akhirat menjadi manusia-manusia lepas kontrol yang berjuangan demi keunggulan di dunia, dan melepaskan moralitas sebagai manusia yang harus menjaga keseimbangan alam, serakah, dan berani mengorbankan orang lain untuk tujuan hidup yang duniawi. Melepaskan diri dari keyakinan pada Tuhan, adalah pola pikir membahayakan umat manusia. Pola-pola pikir manusia menjadi tergantung pada sudut pandang dirinya tentang alam, dan menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Manusia-manusia sekuler mendidik manusia menjadi manusia-manusia serakah yang tergantung pada sudut pandangnya tanpa ada ikatan moral kehidupan setelah kematian. 

Pendidikan dengan pola pikir sekuler pada akhirnya memunculkan tuhan-tuhan egois, temperamen, mudah tersinggung, dan mengukur kebenaran hanya berdasarkan pertimbangan pengetahuan alam dan akalnya, tanpa petunjuk pengetahuan dari Tuhan. Para pemikir integralis mengambil pesan-pesan dari Tuhan, dari pengetahuan material dan non material, kemudian memikirkannnya untuk tujuan kebajikan sebagai Tuhan memerintahkannya. Para pemikir integralis menjadikan Tuhan sebagai pemilik pengetahuan,  dan menjadi penentu moralitas dalam setiap tindakannya. Tuhan dipsersepsi absolut positif sebagai pemberi petunjuk dan pemilik segala ilmu pengetahuan. 

Pola pikir integralis tidak memisah-misahkan kehidupan dunia matreial dan non material. Keduanya dunia ini berada dalam satu rentang perjalanan hidup yang pasti dialami manusia. Kekayakinan dalam menjalankan perintah agama tidak sebatas pada ritual tetapi berkaitan dengan kegiatan faktual. Ritual sebagai cara untuk merenung, berpikir reflekif, dan kegiatan rutin dalam membangun harapan-harapan baik pada Tuhan.***





No comments:

Post a Comment

MATA PELAJARAN AGAMA PALING SULIT SEDUNIA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Setelah mengamati kegiatan pendidikan selama 23 tahun, penulis melakukan refleksi. Menngungkap semua pe...