Thursday, January 13, 2022

MENCETAK 1000 DERMAWAN

Oleh: Toto Suharya

Mencetak 1000 dermawan di SMAN 15 Kota Bandung adalah obsesi dari kegelisahan penulis sebagai pegiat pendidikan. Bertahun-tahun belajar tentang ilmu pendidikan penulis baru-baru ini menemukan sebuah kesimpulan bahwa ilmu pendidikan sesungguhnya telah diajarkan oleh para Rasul, ilmu pendidikan hakiki adalah ilmunya para Nabi. Ilmu pendidikan yang sesungguhnya berbicara tentang akal (kognitif), hati (afektif), dan akhlak (psikomotor)  telah diajarkan para Nabi, melalui ajaran agama. Kemajuan teknologi pun sudah disampaikan oleh para Nabi terdahulu sampai terakhir Nabi Muhammad SAW. Ide tentang teknologi super canggih telah disampaikan oleh para Nabi, teknologi tahan api, kapal laut, kapal selam, pesawat udara dengan kecepatan tinggi, pesawat luar angkasa, komunikasi nirkabel, transformasi energi, semuanya lengkap telah dikabarkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Semua rahasia keberadaan teknologi kini bisa diungkap dan sebagian telah terungkap rahasianya dan bisa direflika manusia. Namun dibalik alat-alat yang supercanggih pengendalinya adalah manusia. Untuk itu esensi pendidikan dari masa ke masa adalah bagaimana menjaga kualitas manusia agar bisa mengendalikan dirinya dari keserakahan hawa nafsu. Penyebab kerusakan di muka bumi ini bukanlah teknologi, tetapi sifat-sifat buruk manusia yang tidak terkendali.

Sifat-sifat buruk manusia di masa lalu telah dikabarkan dalam kitab suci, seperti perbuatan zina, keserakahan pada dunia, penguasa yang melampaui batas, dan egoisme menjadi penyebab terjadinya kerusakan di muka bumi. Kerusakanan di muka bumi disebabkan oleh kegagalan manusia dalam memahami hakikat Tuhan yang pada akhirnya melahirkan tuhan-tuhan selain Allah. Lahirnya tuhan-tuhan selain Allah akibat dari kegagalan manusia itu sendiri dalam memahami siapa dirinya dan siapa Tuhan sesungguhnya. Keberadaan tuhan-tuhan selain Allah telah menyeret manusia pada jurang kenistaan dan rusaknya tatanan kehidupan di muka bumi.

Oleh karena itu esensi pendidikan sesunguhnya bukan bagaimana menciptakan teknologi atau keterampilan-keterampilan manusia dalam mencipta, tetapi bagaimana memahami nilai-nilai kehidupan dari Tuhan yang kelak akan menjadi pedoman manusia dalam menjalani kehidupan. Mewujudkan manusia beriman dan berkarakter (akhlak) mulia adalah substansi dasar dari setiap jenjang pendidikan.

Pendidikan tentang akhlak mulia sesunguhnya menjadi esensi dari seluruh isi pendidikan sekalipun diajarkan dalam berbagai mata pelajaran. Paradigma pendidikan yang parsial menjadi sebab dunia pendidikan kehilangan esensinya. Konsep pemisahan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran ilmu alam, telah melahirkan manusia-manusia yang tidak sadar akan kehadiran Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan. Pendekatan sekuler dalam dunia pendidikan telah membelah pemikiran manusia seolah-olah kehidupan hanya terjadi di dunia fana saat ini dan dunia kekal dianggap sebagai imajinasi belaka. Agama dianggap sebagai pelajaran dongeng anak kecil dan dianggap sebagai cerita tradisi turun temurun yang dibuat-buat oleh nenek moyang dari generasi ke generasi.

Kita tidak sadar dengan pendekatan sekuler, manusia telah membebani hidupnya sendiri seolah-olah semua masalah hanya bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia dengan keangkuhannya telah menjadikan dirinya sebagai beban bagi dirinya sendiri. Padahal sebenarnya ringan dan beratnya beban hidup bisa kita jalani hanya dengan berusaha keras berserah diri pada yang maha kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan ini bisa terkendali dengan tetap berpedoman hidup dari sang Pencipta.

Untuk itu program mencipta 1000 dermawan di sekolah adalah upaya bagaimana kita tunduk pada ketentuan dari Tuhan, bahwa hidup ini diciptakan dengan konsep memberi. Seluruh alam semesta ini bisa berjalan teratur karena ada konsep saling memberi. Bumi ini bisa melahirkan penduduknya jika ada tatanan saling alam untuk saling memberi tetap terjaga. Udara, angin, air, tanah, api, hewan, tumbuhna, dan manusia, keberadaannya bisa jadi kesejahteraan jika tatanan saling memberinya terjaga. Alam semesta diciptakan tunduk pada ketentuan Tuhan pemilik alam semesta. Hanya manusia yang diberi dua potensi oleh Tuhan untuk menambah dan mengurangi, sehingga manusia diberi amanat untuk menjadi penyeimbang kehidupan di alam semesta ini.

Manusia-manusia dermawan adalah sosok yang dapat menjaga keseimbangan hidup di muka bumi ini. Keseimbangan antara api dengan air, pohon dengan udara, tanah terbuka dengan  bangunan, laut dengan gunung, kaya dengan miskin, jumlah makanan dengan penduduk adalah tugas manusia menjaganya. Kekurangan sosok manusia-manusia dermawan dalam berbagai bidang, akan jadi sebab dunia krisis dan cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. Manusia-manusia dermawan adalah sosok penyangga dan penjaga keseimbangan dunia dan dapat menghindarkan manusia dari kehancuran.

Hendaknya, program mencipta manusia-manusia dermawan menjadi inti pendidikan dalam berbagai bentuk di dunia pendidikan. Berkurangnya stok manusia dermawan dapat berakibat fatal dan bisa melahirkan kelaparan, kekerasan, penindasan, penipuan, dan peperangan. Mencetak seribu dermawan dengan gerakan sedekah minimal seribu sehari (SMS) dari uang jajan anak-anak mungkin ini sebuah gerakan kecil, namun jika dilakukan rutin oleh 30% persen (81 juta) dari penduduk Indonesia, gerakan ini akan jadi kekuatan besar. Apalagi jika manusia-manusia dermawan ini menjadi para penguasa di negeri ini, insya Allah keseimbangan hidup bangsa ini akan terjaga. Sebagaimana kita ketahui dari kisah para Nabi, manusia-manusia berkualitas tinggi sekalipun jumlahnya sedikit tetapi kekuatannya bisa berlipat ganda sampai 10 kali lipat. Inilah misi pendidikan di sekolah yang harus kita perjuangkan sampai akhir hayat. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

Masyarakat Tidak Cinta Pendidikan, Otaknya di Perut

Oleh: Toto Suharya Otak manusia ada dua yaitu otak di otak dan otak di perut. Apa yang dilakukan manusia sangat tergantung isi otaknya. Namu...