Wednesday, April 26, 2023

MEMAHAMI POLA PIKIR PENGKRITIK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Tidak semua orang bisa menerima kritikan, karena ketika dikritik merasa dirinya sedang dijatuhkan atau diserang. Padahal kritikan adalah tanda bahwa pemikiran kita di apresiasi orang. Hanya saja, budaya kritik di negara kita belum punya tata dan etika yang memenuhi kriteria sebuah kritik. Kritikan kadang disampaikan dengan menyalakan dan menjatuhkan. Padahal pengkritik sendiri tidak memiliki otoritas sebagai pemilik kebenaran. 

Antara orang yang di kritik dan pengkritik tidak punya jaminan sebagai pemilik kebenaran. Saat kita mengemukakan pendapat, sebenarnya hanya prediksi saja bahwa yang kita kemukakan mengandung kebenaran. Perdebatan bisa terjadi konflik jika masing-masing sudah memiliki ego sebagai pemilik kebenaran. Jika saja kedua belah pihak yang berdebat tidak merasa memiliki kebenaran, maka konflik tidak akan pernah terjadi. Selama orang tidak memiliki rasa sebagai pemilik kebenaran, tidak akan ada pemaksaan dan konflik dengan menyalahkan pendapat orang lain. 

Kritik adalah cara mengemukakan sudut pandang berbeda dengan orang lain. Kritik disampaikan pada gagasan orang lain yang dinilai kurang relevan, tidak berbasis data, atau tidak didukung dengan data-data yang kuat dari persepsi pengkritik. Kritik disampaikan dengan membandingkan pendapat yang dikemukakan orang lain, dengan pendapat pribadi berdasarkan data. 

Kritik berbasis data dan fakta justru akan membuka pemikiran kedua belah pihak. Kritik berupa pandangan berbasis data dan fakta, dapat membawa pencerahan bagi yang menyimak. Budaya kritik berbasis data bisa terjadi jika masyarakat sudah punya budaya nalar ilmiah dan semangat literasi tinggi. Sementara kritik di masyarakat dengan nalar ilmiah rendah dan budaya baca rendah, kadang terjebak pada kritikan yang menyerang, menjatuhkan, dan terdengarnya menjadi olok-olok dan penghinaan.

Kritik di masyarakat budaya nalar dan literasi rendah kadang dilakukan dengan menyalah-nyalahkan pendapat orang lain. Menyalahkan pendapat orang lain, sudah melanggar kode etik dalam melakukan kritik. Menyalahkan orang lain sifatnya sudah tendensius, egois, diskriminatif, karena terbersit anggapan orang yang dikritik bodoh dan posisinya lebih rendah, bahkan dianggap musuh. 

Dalam budaya kritik di masyarakat bernalar dan literasi tinggi, tidak ada menyalahkan pendapat orang lain. Budaya kritik di masyarakat bernalar dan literasi tinggi, selalu menganggap lawan kritiknya sama-sama punya hak yang sama dalam mengeluarkan pendapat. Para pengkritik di masyarakat budaya nalar dan literasi tinggi, selalu menjaga sikap agar tidak menyalahkan dan menjatuhkan harga diri orang lain. 

Dalam budaya kritik di masyarakat bernalar tinggi, tidak ada istilah salah paham, tetapi lebih ke berbeda paham. Para pengkritik dan yang dikritik tidak bisa memaksanakan pendapatnya. Kata salah paham berarti sudah memosisikan dirinya sebagai pemilik kebenaran. Berbeda paham memiliki arti bahwa lawan kritik sejajar posisinya dengan yang pengkritik. Mengatakan lawan kritik salah paham, sudah memiliki tendensi untuk menguasai atau memaksa orang lain mengikuti pendapatnya.***

 


No comments:

Post a Comment

STIMULASI OTAK DENGAN NAPAS RITME 5:5

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Penemuan ilmu napas ritme oleh Gunggung Riyadi bisa dikatakan penemuan spektakuler abad 21. Oleh Gunggu...