Sunday, June 4, 2023

ORANG INDONESIA ANGGAP REMEH PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Orang Indonesia anggap remeh pendidikan. Berita-berita di media massa dikuasai oleh berita politik, artis, kriminal, klenik, dan kisah-kisah amoral. Berita pendidikan diangkat dari sisi keburukan untuk meningkatkan rating pembaca demi cuan. Para guru dianggap pegawai pabrik yang kadang ditindas dengan gaji rendah dan dituntut untuk bekerja maksimal.

Dunia pendidikan tidak pernah didiskusikan oleh negara dengan serius dengan seluruh pejabat negara. Di Indonesia tidak ada kesepakatan bahwa pendidikan menjadi penglima utama dalam menjada marwah bangsa. Masyarakat Indonesia tidak percaya pada dunia pendidikan bisa mengubah nasib hidupnya. Masyarakat Indonesia percaya bahwa sukses dan gagal adalah hasil keberuntungan yang kadang-kadang bisa terjadi pada seseorang. 

Orang Indonesia sekalipun pendidikannya tinggi, namun dalam meraih sukses tidak akan lepas dari hal-hal berbau klenik. Ritual-ritual yang bersumber pada tradisi masih tetap dilakukan sekalipun pendidikannya sudah strata paling tinggi. 

Orang Indonesia memisahkan pendidikan dengan label, pendidikan umum dan agama. Orang Indonesia menganggap pendidikan di sekolah untuk urusan dunia, dan pendidikan di pesantren untuk urusan akhirat. Orang Indonesia sekalipun pendidikan tinggi, dia akan menyerahkah urusan agamanya kepada ahli agama. Penganut agama menjadi pekerjaan spesialis dalam bidang agama. 

Diskusi pendidikan ramai jika urusan dengan biaya pendidikan. Agar pendidikan tidak bayar, orang Indonesia membuat aturan kaku tentang sumbangan pendidikan. Guru-guru akan dijerat dengan sanksi hukum pungli. Menurut pandangan orang Indonesia pendidikan harus gratis, karena bagi mereka hasil pendidikan tidak menentukan nasib seseorang. Pendidikan hanya sebatas syarat administratif untuk melamar kerja atau jadi pekerja pemerintah. 

Para pemimpin di Indonesia cenderung menjadikan dunia pendidikan sebagai komoditas politik untuk melanggengkan kekuasaan. Program-program pembangunan diolah dengan mengikuti pendapat rakyat jelata yang menginginkan pendidikan gratis. Isu pendidikan gratis dikemas untuk meraih suara terbanyak dalam pemilu, lalu setelah berkuasa membiarkan dunia pendidikan tanpa perhatian serius.

Orientasi pemerintah Indonesia selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, karena masyarakat Indonesia diciptakan menjadi manusia-manusia penikmat kehidupan dunia. Alam Indonesia seperti surga yang dijanjikan Tuhan, maka penduduk Indonesia hampir rata-rata malas, hobinya makan dan rebahan. 

Pola pikir orang Indonesia pada umumnya bersifat subsisten, hidupnya hanya untuk jangka pendek. Apa yang dilakukannya hanya sebatas untuk makan hari ini, dan tidak memikirkan untuk hari esok. Orang Indonesia hobinya mengutang, karena dengan mengutang dia bisa cepat menikmati cita-cita hidup yang diinginkannya. Orang Indonesia rata-rata sulit untuk diajak menabung, investasi jangka panjang, karena karakternya seperti penghuni surga yang segala sesuatunya harus disajikan cepat dan serba ada.

Pendidikan bagi orang Indonesia pada umumnya, hanya sebatas alur kehidupan yang harus dilalui untuk mendapatkan surat keterangan. Surat keterangan ini berupa ijazah yang akan memperlancar urusannya di dunia. Ijazah seperti paspor, ktp, atau surat izin mengemudi, setelah dimiliki dia tidak kena sanksi hukum. 

Simak di: https://youtu.be/LMTkY1BnuMc

Masyarakat Indonesia tidak peduli apa yang terjadi di dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang tidak menyinggung perasaan, dan tidak menyinggung urusan uangnya, dianggap sekolah yang baik. Jika sekolah mengusik masalah keuangan maka sekolah dianggap bermasalah, tetapi jika sekolah tidak menghasilkan lulusan terbaik, masyarakat Indonesia tidak peduli. 

Karir di masyarakat Indonesia bukan hanya ditentukan dari pendidikan, tapi dari bagaimana membangun kekeluargaan. Kekeluargaan dibangun bukan atas dasar kesamaan kompetensi tetapi kesamaan tujuan yang saat itu harus dicapai. Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan manusia-manusia kualitas tinggi yang bisa melakukan perubahan tanpa rasa takut, dan takutnya hanya kepada Tuhan.***

No comments:

Post a Comment

Membantu Jawab Pertanyaan Sujewo Tejo

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.  Pertanyaan Sujiwo Tejo tentang shalat membuat saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukan jawabannya....