Monday, June 26, 2023

ANAK SMA KALAH SAMA TK

Oleh: Dr. Toto Suharya, M.Pd.

Dari hasil dianosis terhadap beberapa siswa, ditemukan siswa tidak memiliki cita-cita hidup di masa depan, kalah sama anak TK. Para lulusan sekolah di tingkat menengah, mereka kadang bingung menjawab pertanyaan, "apa rencana mu setelah lulus?" Rata-rata jawaban, "belum tahu, mungkin kerja". Jika dikejar dengan pertanyaan, "mau kerja apa?" Jawabannya, "belum tahu".

Anak-anak TK ketika ditanya cita-cita mereka dengan lantang mengatakan cita-citanya, anehnya ketika sudah level SMA/SMK, mereka menjadi pesimis dan belum punya cita-cita. Cita-cita adalah interpretasi siswa terhadap masa depan yang akan dihadapinya. Interpretasi adalah gambaran kemampuan bernalar tinggi yang harus dimiliki siswa level SMA/SMK. Dunia pendidikan terlalu akut dengan pengajaran yang melatih daya ingat. Sehingga pikiran siswa terkunci dengan pelajaran yang harus diingat dan lupa tentang masalah-masalah hidup yang harus dihadapi. 

Kasus ini, menjadi tanda bahwa dunia pendidikan menengah kita tidak mengajarkan anak-anak tentang keidupan nyata. Dunia pendidikan belum optimal melatih siswa agar bisa bertahan hidup di masyarakat. Kemampuan dasar bertahan hidup di masyarakat adalah bisa makan tanpa mengandalkan atau membebani hidup orang lain, antara lain orang tuanya.  

Hampir satu abad Indonesia merdeka, kini pendidikan sedang mendapat kritikan terus dari masyarakat. Membaca komentar-komentar warganet terhadap dunia pendidikan, mereka memberi masukkan bahwa apa yang mereka dapatkan di lapangan dari hasil pendidikan tidak signifikan menggembirakan. 

Siswa SMA/SMK gagal ketika wawancara karena tidak bisa menjelaskan apa tujuan mereka bekerja. Mereka tidak bisa menjawab padahal hanya sekedar tujuan hidup mereka di masa depan. Mereka bisa menjawab tujuan hidup mereka setelah diberi contoh, dan yang lain mengikuti dengan jawaban yang sama. 

Miris sekali dunia pendidikan kita. Masalahnya guru-guru sudah terjebak dengan pola baku yang seolah-olah tidak bisa diubah. Pola baku adalah mengajarkan materi sesuai dengan dokumen kurikulum. Dokumen kurikulum diterjemahkan menjadi buku paket yang dilegalisasi oleh pemerintah. Guru-guru gagal paham, seolah-olah materi buku paket menjadi materi wajib yang harus disampaikan pada siswa. Buku paket menjadi kitab suci, jika mengajar keluar tema dari buku paket dianggap telah melanggar aturan dari Tuhan. 

Usaha besar dunia pendidikan Indonesia adalah bagaimana membebaskan guru-guru dari belenggu-belenggu berhala yang mengunci mati pikiran guru-guru untuk berinovasi. Pengawas pendidikan, kepala sekolah, adalah para utusan yang harus mengembalikan guru-guru pada jalan yang lurus yaitu mendidik siswa-siswi menjadi manusia mandiri, kreatif, kritis, berawasan global, suka bergotong royong, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Guru butuh motivator, inspirator, yang bisa meyakinkan mereka untuk berani meredefinisi metode-metode pengajaran yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Guru-guru harus merevolusi pikirannya sendiri, dengan melakukan refleksi diri untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiran kotor tentang dunia pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.***

No comments:

Post a Comment

BERPIKIR CEPAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Berat otak manusia sekitar 1,3 kg atau 2% dari berat badan. Otak tidak pernah berhenti bekerja sekalipu...