Saturday, June 3, 2023

PENDIDIKAN MASIH JALAN DI TEMPAT?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Rupanya pendidikan kita jalan ditempat. Teknologi informasi menjadi faktor absolut yang mengubah cara pandang dan cara berprilaku kebanyakan umat manusia saat ini. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah arah pendidikan di dunia. Pendidikan di dunia saat ini lebih fokus pada pendidikan karakter berbasis nalar. Saat ini, teridentifikasi masih ada praktek-praktek pendidikan yang tidak berubah, ketinggalan zaman, dan membuat anak-anak kita terlihat bodoh karena masih jalan di tempat. 

Booming informasi telah melahirkan generasi-generasi melek informasi karena disediakan oleh berbagai macam teknologi informasi. Namun melek informasi tidak akan berdampak pada pertumbuhan kualitas manusia jika tidak diberengi dengan karakter yang dikembangkan dari kemampuan bernalar tinggi. Kualitas manusia dilihat dari kemampuannya merespon informasi dengan sikap-sikap terpuji, optimis, dan produktif.

Pembentukan karakter berbasis nalar terjadi di ruangan kelas. Ruang kelas adalah ruang privasi guru dengan siswa. Apa yang terjadi di kelas tidak diketahui publik dan jarang terekspos. Agar yakin, apa yang terjadi di kelas merupakan pendidikan berkualitas tinggi, sepenuhnya tanggung jawabnya ada di kepala sekolah. Hanya kepala sekolah yang bisa masuk kelas dan melihat apa yang terjadi. 

Berdasar undang-undang, tugas kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran melakukan supervisi pembelajaran di kelas. Kepala sekolah harus memastikan bahwa apa yang terjadi di kelas sedang menyiapkan anak-anak didik kita bisa survive di abad teknologi informasi. 

Melihat sampel di suatu sekolah kota besar sebagai baromater pendidikan Indonesia, ditemukan fakta bahwa guru-guru Indonesia perlu kerja keras dengan banyak literasi tentang pembelajaran yang melatih kemampuan bernalar tinggi. Ujian akhir semester siswa masih menguji ingatan tingkat rendah. Materi soal masih fokus pada pengetahuan bersifat kognitif yang tidak relevan dengan kehidupan siswa. 

Merdeka Belajar belum dipahami secara filosofis yang harus mengubah paradigma pendidikan sesuai zaman. Pola pengajaran masih melekat dengan gaya-gaya lama yaitu melatih siswa latihan soal yang sebatas menguji ingatan. Kemampuan nalar sebagai ciri abad teknologi informasi belum sepenuhnya dipahami dan dipraktekkan guru-guru dalam pengajaran. 

Permasalahannya perlu pelatihan-pelatihan yang tidak biasa. Pelatihan guru-guru menggunakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) belum efektif mengubah paradgima para guru tentang merdeka belajar. Guru-guru harus mendapat pelatihan khusus terkait paradigma pendidikan abad 21, pembelajaran kontektual, dan pembelajaran karakter berbasis pada nalar. 

Kurikulum Merdeka perlu fokus kajian dan pemahaman spesifik dalam menentukan perubahan pada kompetensi guru. Hal-hal yang urgen adalah pemahaman guru tentang paradigma pendidikan abad 21, pelatihan guru tentang pembelajaran karakter berbasis nalar, dan kontektual. Pendidikan saat ini bukan lagi fokus mengajarkan pengetahuan tetapi mengajarkan bagaimana mengenali masalah sehari-hari, memecahkannya dengan bantuan teknologi informasi. Soal-soal ujian harus 100 persen menguji nalar bukan sekedar ulangan atau mengingat materi yang telah diajarkan.***


No comments:

Post a Comment

DUA SUDUT PANDANG KERAGURAGUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Keraguan memiliki dua sudut pandang. Keraguan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan ker...