Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.
Dibakabarkan dalam hadis, Nabi Muhammad beristigfar tiap hari tidak kurang dari 100 kali. Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: "Kami pernah menghitung dzikir Rasulullah SAW dalam satu majelis sebanyak 100 kali: Rabbighfir lii watub 'alayya, innaka antat tawwaabur rahiim".
Pertanyaannya mengapa Nabi Muhammad beristigfar tidak kurang 100 kali dalam sehari? Jawaban logisnya bisa dipahami jika kita belajar pola logika di dalam Al Quran. Harus diingat bahwa Nabi Muhammad selama hidupnya dipandu oleh Al Quran, dan apa yang dikeluarkan dari mulut Nabi Muhammad tidak pernah bertentangan dengan Al Quran.
Jadi mengapa Nabi Muhammad beristgifar tidak kurang 100 kali dalam sehari? Inilah jawabannya, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Ali Imran, 5:9).
Ampuran dari Allah adalah pintu bagi manusia untuk mendapatkan pahala besar. Pahala besar dari Allah adalah surga. Maka memohon ampun kepada Allah sesungguhnya kunci dari pintu masuk surga. Logis kalau begitu jika Nabi Muhammad melakukannya tidak kurang dari 100 kali tiap hari. Tidak ada pahala besar tanpa ampunan dari Allah.
Alasan kedua, mengapa Nabi Muhammad beristigfar 100 kali tiap hari? Pada hakikatnya Nabi Muhammad adalah manusia biasa. Setiap manusia diciptakan Allah dari dua sifat yaitu baik dan buruk. "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (Asy Syams, 91:8).
Nabi Muhammad yang rendah hati, ingin mengajarkan kepada umat manusia, bahwa baik dan buruk manusia hanya Allah yang menilai, maka perbanyak mohon ampun adalah solusi agar manusia dinilai baik oleh Allah, dan berhak mendapat pahala besar dari Allah.
Alasan ketiga, mengapa Nabi Muhammad memohon ampun tidak kurang dari 100 kali? Di balik ampunan Allah tersimpan kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat. "maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh, 71:10-12).
Surat Nuh menjadi alasan logis kenapa Nabi Muhammad banyak memohon ampun. Ampunan adalah penyebab rezeki yang banyak dalam bentuk harta, anak, pertanian, perusahaan, dan itu ketentuan Allah. Maka manusia mana yang tidak semangat minta ampun jika Allah menyediakan rezeki melimpah bagi orang-orang yang diampuni.
Ayat-ayat Al Quran menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad melakukan sesuatu bukan tanpa dasar, dan segala sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad argumennya ada di dalam Al Quran. Sebagai umat manusia yang mau hidup sejahtera, kita tidak sebatas ikut-ikutan dalam beragama tapi memahami sebab akibat yang akan terjadi berdasar pada Al Quran. Nabi Muhammad adalah teladannya.***
.png)
No comments:
Post a Comment