Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.
Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk. Singapura, baru-baru ini mengeluarkan insentif pantastis bagi anak-anak yang lahir. Kebijakan ini dapat dipahami akal sehat, karena penuruan jumlah populasi mengancam eksistensi negara.
Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Finlandia, Swedia, termasuk negara-negara dengan kepemilikan kapital besar. Penghasilan mereka rata-rata per bulan cukup tinggi dibanding dengan Indonesia. Negara-negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi cenderung dengan biaya hidup tinggi.
Ketika berkunjung ke Taiwan, anak muda Taiwan rata-rata menanunda perkawinan, karena perkawinan memiliki syarat punya penghasilan tinggi. Sebelum menikah mereka harus punya penghasilan cukup untuk menyediakan rumah, kendaraan, dan biaya hidup dan fasilitas pendidikan anak. Jika masih punya orang tua, mereka harus punya dana untuk menggaji perawat bagi orang tua.
Hitung-hitungan matematika mereka tidak pernah cukup bagi mereka untuk memutuskan menikah. Selain itu biaya pernikahan di negara-negara maju cukup tinggi, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, biaya menikah ada di rentang 195 Juta sampai dengan 1,34 Miliar.
Di dalam sistem ideologi negara-negara maju, faktor penghambat perkawainan paling dominan adalah biaya perkawainan dan setelah perkawinan. Di negara-negara maju ada juga fenomena, setelah menikah berkomitmen tidak memiliki anak.
Pemerintah Singapura, mengeluarkan kebijakan luar biasa untuk mendorong warganya punya anak. Mereka mengeluarkan insentif bagi setiap anak Singapura, kurang lebih 975 juta per anak. Insentif ini bukan pamer kekayaan dan kesejahteraan Singapura, tetapi sebuah kebijakan dari rasa khawatir dengan kedaulatan Singapura.
Di dalam Al Quran, syarat untuk orang yang harus segera menikah adalah telah memiliki kemampuan. Salah satu kemampuan itu dapat diukur dari punya penghasilan, untuk membiayai kehidupan keluarga. Tetapi Allah memberi keyakinan kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan, ketika secara perhitungan penghasilan tidak cukup membiaya, Allah memberi jaminan akan mencukupinya.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur, 34;32)."
Konsep "solihin" dimaknai sebagai kelayakan atau kemampuan untuk menikah. Maka salah satu ukuran sesorang dapat menikah dapat dilihat dari kemampuan finansial. Kemampuan finansial ini penting karena seluruh kenbutuhan hidup di era sekarang berkaitan erat dengan uang.
Selanjutnya ada konsep "fuqoro" dalam hal ini diartikan miskin. Namun secara spesifik kata fuqoro lebih berkaitan dengan masalah keuangan, yaitu orang-orang yang bekerja tetapi tidak menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebtuhan hidup. Dalam kondisi fuqoro, Allah memberi semangat, memotivasi hambanya, agar berkeyakinan pada Allah, bahwa Allah akan memberikan kecukupan.
Orang sekuler mereka yakin pada kemampuan dirinya, maka ketika dirinya tidak mampu dia tidak akan mengambil keputusan yang membuat dirinya susah. Itulah cara berpikir orang sekuler dan itulah jawaban mengapa orang sekuler di negara-negara maju banyak yang tidak mau menikah.
Pesan dari Al Quran, menikah bukan kemampuan keuangan saja yang harus mutlak diperhitungkan, tetapi harus punya keyakinan pada Tuhan. Jadi penyebab negara-negara sekuler dan kapitalis mengalami depopulasi penduduk bukan masalah keuangan, tapi masalah keyakinan pada Tuhan. Sebagaimana dikutif dari berbagai sumber, negara-negara sekuler dan kapitalis warga negaranya mengalami krisis keyakinan pada Tuhan. Tingkat kepercayaan mereka kepada Tuhan rata-rata sangat rendah.
Berdasarkan psikologi kognitif, keyakinan kepada Tuhan adalah pola pikir pembentuk mentalitas seseorang. Pengetahuan Al Quran bukan hanya mengandung ilmu, tetapi berbarengan dengan keyakinan. Riset kesehatan banyak mengabarkan bahwa orang-orang yang berkeyakinan pada Tuhan, lebih berani dan bisa lebih lama bertahan hidup dibanding yang tidak punya keyakinan pada Tuhan.
Negara-negara yang menganut pemikiran sekuler dan kapitalis, tidak melahirkan manusia-manusia kuat. Secara fisik mereka punya kekuatan teknologi dan finansial, tetapi jiwa mereka rapuh. Mereka menjadi penakut karena segala sesuatu cenderung dihitung secara materi, dan keyakinan kepada Tuhan tidak jadi landasan dalam ideologi kehidupan mereka.
Singapura jika ingin mengembalikan jumlah penduduknya dalam kondisi ideal, bukan hanya insentif uang saja untuk setiap anak yang lahir, tapi mengajak warga negaranya punya keyakinan pada Tuhan. Kata Allah dalam Al Qur'an, "jangan takut miskin karena menikah dan punya anak, karena kelak Allah akan mencukupinya".
Keyakinan hidup itu penting karena setiap orang hidup dengan keyakinannya. Dalam kondisi apapun, manusia akan tetap lemah dan kekuatan ada di luar manusia yaitu Tuhan. Namun demikian, Tuhan dalam konsep Islam posisinya dekat dengan setiap jiwa manusia, dia tidak terlihat dan selalu menjadi penyemangat jika kita mempercayainya. Otak kita sudah dirancang untuk mengenal Tuhan, hanya karena merasa kuat, banyak manusia mengabaikan keberadaan Tuhan.***

No comments:
Post a Comment