Saturday, February 16, 2019

HUBUNGAN SHALAT DENGAN KECERDASAN

OLEH: TOTO SUHARYA

Ketika mengajukan sebuah ide penelitian kepada seorang doktor matematika, tentang hubungan antara shalat dhuha dengan Kecerdasan Intelektual siswa, “Beliau menjawab, jangan meneliti hal-hal yang berbau klenik”. Lalu beliau menjelaskan sebuah silogisme, “di hulu terjadi hujan lebat, maka di hilir terjadi banjir. Oleh karena banjir, sekolah menjadi tergenang dan pembelajaran terganggu. Akibatnya prestasi akademik siswa menurun. Kesimpulannya, perubahan cuaca di hulu mempengaruhi prestasi akademik siswa”.

Artinya dengan contoh silogisme di atas, Beliau ingin mengatakan bahwa menghubungkan shalat dhuha dengan prestasi akademik, seperti menghubugkan antara perubahan cuaca dengan prestasi siswa. Untuk itulah, shalat dhuha dihubungkan dengan prestasi akademik dianggap sebagai logika klenik.

Klenik menurut kamus bahasa Indonesia versi daring, adalah sebuah aktivitas perdukunan, berkonotasi negatif. JIka shalat dhuha dihubungkan dengan prestasi akademik sebagai klenik, apakah ini termasuk logika seorang dukun? JIka demikian praktek perdukunan ada di sekolah-sekolah.

Saya menemukan pola logika dukun, ilmuwan rasional empiris, dengan orang beriman berbeda. Dukun berlogika dengan rasio, empiris, dan alam ghaib tanpa panduan, ilmuwan berpatokan pada rasio dan empiris, orang beriman menggunakan rasio, empiris, dan berpatokan pada Al-Qur’an. Seorang doktor, menganggap hubungan shalat dhuha dengan kecerdasan sebagai klenik, hal ini dapat dimengerti karena patokannya adalah kebenaran rasio dan empiris.


Fakta di lapangan, sejak dimasukkan kompetensi spiritual ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, hampir setiap sekolah memasukkan kegiatan keagamaan ke dalam intrakurikuler. Berbagai kegiatan tersebut antara lain, merutinkan kegiatan shalat dhuha, shalat  berjamaah, menghafal Al-Qur’an, asmaul husna, dan lain sebagainya. Jika tidak pernah diteliti, apa sebenarnya tujuan dari kegiatan spiritual ini semua?

Klenik adalah logika buatan manusia, seperti dukun menghubungkan ritual tertentu dengan jabatan. Dukun tidak punya kitab suci. Logika dukun murni berdasarkan pengalaman dan kekuatan alam.

Para ilmuwan sekular menggunakan pengamatan, penelitian alam sebagai dasar pengetahuan berlogika. Logika ilmuwan dan dukun sama, menggunakan rasio dan alam sebagai dasar pembenaran logika. Ilmuwan dan dukun sama-sama membenarkan sesuatu berdasarkan bukti. Ilmuwan bisa membuktikan, dukun juga bisa membuktikan. Jadi ilmuwan dan dukun sama-sama mempratekkan logika klenik (logika buatan manusia).

Ajaran agama bukan klenik karena selain logis, bisa dibuktikan kebenarannya, dan memiliki panduan bukan bersumber dari alam, tetapi dari Tuhan Pemilik Semesta Alam. Melakukan penelitian tentang hubungan antara ajaran agama dengan kehidupan, sama dengan meningkatkan kecerdasan, menemukan ilmu, teknologi, dan keimanan dengan mengetahui kebenaran dari Tuhan.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) SHALAT, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan AKAL”. (Al Maidah, 5:58).

Berdasarkan metode hubungan konsep antara kata dengan kata, dalam ayat di atas, SHALAT dan AKAL memiliki hubungan dekat. Kedekatan itu terlihat bahwa kata shalat dan akal muncul dalam redaksi satu ayat. Penulis punya asumsi bahwa shalat berhubungan dengan kecerdasan. Asumsi ini berdasarkan pada fakta bahwa anak-anak yang rutin melakukan shalat memiliki kecerdasan intelektual berbeda dengan yang malas shalat.

Orang-orang yang menyepelekan hubungan shalat dengan kecerdasan, menganggap klenik, sesungguhnya mereka belum memiliki kecerdasan akal. Berdasar ayat di atas bisa terjadi hubungan sebab akibat, “jika shalat maka berakal (cerdas), jika tidak shalat maka tidak berakal (tidak cerdas)”.  Untuk membuktikannya maka harus dilakukan penelitian, apakah kegiatan dhuha tiap hari memiliki hubungan dengan kecerdasan siswa? Wallahu ‘alam.

(Kepala Sekolah)

KOLABORASI PENDIDIKAN

oleh: TOTO SUHARYA

Di penghujung usianya, Nabi Muhammad saw menyampaikan pesan, dikabarkan dalam sebuah hadis, “Aku tidak mengkhawatrikan kalian akan menyembah tuhan selain Allah, akan tetapi, yang kukhawatirkan kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan dunia”. (Ling, 2007, hlm. 528). Lalu menjelang ajalnya yang sudah dekat, Rasulullah memberikan nasihat. Riwayat yang berasal dari Anas bin Malik mengatakan, “shalat dan perlakuan baik terhadap para hamba sahaya”. Wasiat itu Beliau ucapkan meski lidahnya hampir tidak bisa berkata. (al-Ghazali, 2005, hlm. 631).


Dalam riwayat lain Nabi Muhammad saw bersabda, “salat…, salat dan perhatikan orang-orang yang ada dalam pertanggungan kalian.” (HR. Ahmad, 6/290). Pesan ini disampaikan baginda pada umatnya. Berbagai macam kesibukkan dan syahwat dunia hendaknya tidak membuat mereka lupa akan salat. Inilah yang paling ditakutkan oleh baginda atas umatnya, sebagaimana beliau mengkhawatirkan para pembesar akan mewariskan kejahatannya, kesewenangan penguasa terhadap orang lemah. Beliau kemudian melihat kepada semua penjuru masjid dengan penuh penghormatan seperti seolah melakukan perpisahan. Selepas itu beliau membaca, “Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut atasku”. (HR. Ahmad, 6/640). (Said, 2016, hlm. 503).  

Nabi Muhammad saw meninggal setelah menyikat gigi dengan siwak, hari Senin, Rabiulawal tahun 8 Hijriyah. Bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi. Meninggal diatas pangkuan istrinya yaitu Aisyah. (Ling, 2007, hlm. 531). Said (2016, hlm. 504), menyebutkan tahun 11 hijriyah, bertepatan dengan 8 Juni 632 M. Namun demikian, Ling (2007), Said, (2016), Haekal (2003), memiliki pendapat sama tentang meninggalnya Rasulullah saw terjadi pada tanggal 8 Juni 632 M.

Kekhawatiran Nabi Muhammad saw betul-betul terjadi saat ini, dalam dunia pendidikan sekolah menengah, survey membuktikan dalam satu sekolah dengan jumlah 700 orang murid muslim, kurang lebih hanya 10-20 persen murid yang melaksanakan shalat wajib lima kali sehari. Program pendidikan karakter religius shalat berjamaah dhuhur, dan ashar sebagai tanda berakhirnya kegiatan pendidikan, setiap harinya hanya diikuti tidak lebih dari 20% siswa saat shalat dhuhur dan hanya 10% saat shalat Ashar.

Jika dilihat dari umur siswa di sekolah menengah berada pada usia 16-21 tahun. Usia ini dapat dikatakan usia dengan kemampuan berpikir rasional abstrak. Pada usia ini murid-murid sudah bisa memberikan makna-makna tujuan dan ritual agama, secara rasional.

Shalat berdasarkan informasi dari hadis dan al-Qur’an, bukan sekedar ritual harian, tetapi sebagai bentuk komitmen diri untuk melakukan segala ketentuan agama dalam kehidupan. Shalat selain dimaknai sebagai kewajiban oleh setiap muslim, seperti kegiatan membangun visi hidup yang harus diulang-ulang agar hidup selalu semangat dan optimis.

Setelah sembilan bulan program pendidikan karakter religious berjalan, pembiasaan shalat berjamaah tidakpernah berhasil mencapai target minimal 80 persen. Data wawancara terhadap siswa, rata-rata mereka tidak melaksanakan shalat penuh lima kali. Waktu shalat yang sering terlewat adalah shubuh dan isya.

Rapat konsultasi dengan orang tua siswa yang mayoritas diwakili ibu-ibu, hampir sebagian besar orang tua mengeluhkan anaknya tentang kebiasaan shalat. Mereka tidak berdaya dengan prilaku anak-anak yang lebih memilih bermain game di hand phone ketimbang melaksanakan shalat. Latar pendidikan dan ekonomi orang tua yang berbeda, ternyata telah menjadi penyebab pola pendidikan anak di keluarga berbeda-beda. Namun ada kasus ditemukan bahwa orang tua yang memiliki kebiasaan shalat yang tidak hanya melaksanakan lima waktu, tetapi ditambah dhuha dan tahajud, memiliki catatan anak-anaknya yang rajin shalat di sekolahnya. Anak-anak yang mengalami masalah keluarga seperti ditinggal orang tua bekerja ke luar negeri, ditinggal orang tua karena cerai, tidak diurus orang tua dan tinggal bersama nenek, menunjukkan murid-murid yang cenderung kurang biasa, dan terlihat sangat malas melaksanakan shalat.

Solusi menghadapi masalah ini, dalam beberapa rapat konsultasi dengan orang tua yang dilakukan sebanyak empat sesi dalam satu hari diikuti oleh 12 orang tua siswa per sesi, diambil sebuah kesepatkatan bersama bahwa untuk menyukseskan program pendidikan karakter religius para orang tua harus bersama-sama terlibat dalam menjaga pendidikan karakter religius anak-anaknya di rumah.

Keterlibatan orang tua di rumah bukan hanya mengingatkan anak-anak untuk melaksanakan shalat, tetapi harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Para orang tua menyadari bahwa tujuan pendidikan nasional membentuk peserta didik beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bagi muslim tujuan ini sangat berkaitan dengan wasiat Nabi Muhammad saw di kepada umat.

Dalam rapat kecil per sesi dengan seluruh orang tua siswa yang sengaja dilakukan agar lebih terasa kekeluargaan, disepakati sebuah kolaborasi pendidikan. Kolaborasi diarahkan dalam bentuk kegiatan ritual shalat dhuha 12 rakaat dan tahajud 11 rakaat dilakukan orang tua di rumah setiap hari sebagai upaya spiritual dalam memperbaiki akhlak siswa.  Dalam kolaborasi pendidikan ini, orang tua diberi beban mental bahwa keberhasilan pendidikan karakter religius anak-anak dipengaruhi oleh upaya spiritual para orang tua.

Kemampuan spiritual anak-anak dalam shalat, dipengaruhi pula oleh orientasi dunia pendidikan dan keluarga. Dunia pendidikan yang cenderung pada perolehan skor angka, tidak begitu konsen terhadap pembentukan karakater religius dalam pembiasaan shalat. Sekalipun sekolah-sekolah sudah banyak memprogramkan tetapi jarang dilakukan evaluasi sejauh mana keberhasilannya. Untuk mengukur keberhasilannya perlu kekompakkan dan kerjasama seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk memberikan keteladanan.

Pada prinsip dasarnya tidak ada anak yang bodoh, kecuali mereka tidak memiliki kesempatan belajar dengan guru-guru terbaik. Siapa guru-guru terbaik mereka? Yaitu orang tua sendiri, dan guru-gurunya di sekolah, termasuk di dalamnya satpam, caraka, dan petugas tata usaha. Satu kata satu perbuatan adalah kata kunci keberhasilan dalam kolaborasi pendidikan. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah)

Sunday, February 3, 2019

PENDIDIKAN HARUS KERAS

Oleh: TOTO SUHARYA

Ketika para orang tua, sangat bernafsu ingin mempidanakan guru, seharusnya dunia menangis mendengarnya. Sangat menyayat hati ketika guru dipidanakan gara-gara menegur anak tidak melaksanakan tugasnya.  Bukan kah itu tugasnya?

Guru-guru yang melakukan “kekerasan” dalam pendidikan tidak dapat langsung dipidanakan. Kekerasan dalam pendidikan tidak serta merta dapat ditafsirkan sebagai bentuk penganiayaan. Ruhnya, apa pun yang terjadi dalam pendidikan tidak lepas dari tujuan pendidikan.

Ketika guru melakukan pemukulan, kasus ini berbeda dengan pemukulan yang dilakukan oleh anak dalam tawuran, pemukulan oleh orang tua siswa terhadap guru, pemukulan oleh preman terhadap warga. Hal yang membedakan “pukulan” guru terhadap anak adalah niatnya pendidikan. Ketika siswa memukul siswa, orang tua memukul guru, tindakan mereka tidak diatur secara sadar dengan tujuan pendidikan.  

“Kekerasan” dengan niat pendidikan tidak bertujuan membinasakan, sedangkan kekerasan diluar pendidikan tujuannya membinasakan. Sekalipun dalam pendidikan, kekerasan tidak dibenarkan, tetapi dalam kondisi tertentu kita harus memahami, bahwa ajaran agama pun memberi sedikit peluang untuk “keras” demi pendidikan.

Maka dari itu, guru-guru yang melakukan “kekerasan” beliau tidak dapat langsung dipidanakan karena apa yang dia lakukan ada di ranah pendidikan. Sekalipun ada kekerasan yang dinilai diluar kewajaran pastilah tindakan itu sebagai bentuk kekhilafan atau keterpaksaan karena keadaan.

Kita seharusnya takut, ketika para orang tua memidanakan guru dengan sangkaan melakukan kekerasan, maka jangan-jangan pendidikan tentang kegigihan dalam menghadapi masalah, akan hilang dari sekolah. Menurut Stoltz pelajaran kegigihan atau  Adversity Quotient, adalah kecerdasan berupa kegigihan untuk mengatasi segala rintangan demi mendaki tangga kesempurnaan yang diinginkan, yang harus dimiliki setiap manusia.


“Hidup ini seperti mendaki gunung”, demikian kata Stoltz. Kami khawatir, upaya orang tua memidanakan guru hanya karena mencubit, akan jadi ajaran hidup lembek, lemah, dan mendidik mereka menjadi generasi quiters, yaitu generasi yang mudah menyerah sebelum menghadapi tantangan hidup.

Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya menjadi quitter. Semua agama mengajarkan umatnya menjadi climbers. Itulah inti dari pendidikan. Contoh, Islam adalah salah satu agama mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi manusia-manusia climber.

Tuhan telah bersumpah atas diri-Nya, bahwa “manusia diciptakan diharuskan menempuh susah payah”. (Al-balad ayat 4). Dalam sebuah tafsir resmi yang dikeluarkan Kemenag dijelaskan, manusia tidak bisa lagi hidup tanpa susah payah sebagaimana dialami oleh nenek moyang mereka, Adam dan Hawa di surga karena semuanya tersedia. Manusia harus berusaha, berjuang mencari rezeki, mengatasi berbagai rintangan, dan sebagainya.

Berdasarkan perjuangan itulah, Tuhan menilai manusia, semakin besar perjuangan, kegigihan, ketahanan terhadap derita yang dialami manusia, semakin besar manfaat yang dihasilkannya, dan semakin tinggi nilai manusia itu dalam pandangan Tuhan.

Begitu pula Nabi Muhammad di kota Mekah, Beliau berjuang agar kebenaran menjadi nyata dan kebatilan menjadi sirna. Demikian pula seluruh umat manusia. Jika manusia diharuskan menempuh susah payah oleh Tuhan, maka ini artinya ada kemampuan yang harus dimiliki manusia. Kemampuan itu seperti yang dikemukakan oleh Stolzt yaitu berupa kegigihan, kesabaran, dalam menghadapi rintangan.

Selanjutnya, C. Ramli Bihar Anwar menjelaskan manusia bukan hanya harus memiliki kegigihan dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri, tetapi kegigihan yang menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Untuk itu manusia harus mempunyai Adversity Spiritual Quaotient, kegigihan atas dasar keyakinan terhadap pertoongan Tuhan.

Para hali psikologi menyimpulkan unsur keyakinan memiliki peran penting dalam menumbuhkan kegigihan seseorang. Hasil penelitian Albert Ellis, faktor penentu keberhasilan seseorang 90 persen adalah keyakinannya dan 10 persen lingkungan. Keyakinan yang akan membuat seseorang gigih dalam mewujudkan impiannya adalah keyakinan bahwa Tuhan maha penolong, pemurah, dan mampu mewujudkan segala impian manusia.

Untuk itulah tugas para pendidik mencetak generasi-generasi yang punya kegigihan, daya tahan terhadap penderitaan, dalam mewujudkan impiannya. Jika dicubit saja lapor polisi, siapa yang akan jadi pewaris bangsa sebesar ini?  Wallahu ‘alam.

(Penulis, Kepala Sekolah dan Pengurus PGRI Kabupaten Cianjur)

Saturday, May 5, 2018

PAUK DALAM KITAB SUCI

Oleh: TOTO SUHARYA

Selain dalam Al Qur’an surat Maryam ayat 22, ide pelaksanaan pendidikan anak dalam usia Kandungan (PAUK) terdapat dalam Al-Qur’an. “(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). (Ali Imran:35). Kata kunci pendidikan anak sejak dalam kandungan terdapat dalam “nazar” yang dilakukan oleh istri Nabi Imran. Peristiwa ini memberi inspirasi bahwa proses pendidikan anak sudah dimulai sejak dalam usia kandungan. Untuk membentuk pribadi anak sholeh, istri Nabi Imran menajarkan anaknya kepada Tuhan, sejak dalam kandungan tidak setelah lahiran anaknya.
PENDIDIKAN 4.0
Makna luas bernazar bisa berarti bertekad kuat. Istri Imran dalam hal ini bertekad untuk mendidik anaknya menjadi hamba yang sholeh dan berkedudukan tinggi. Dalam keterangan ayat ini, Tuhan hendak memberi peringatan kepada manusia untuk meperhatikan pendidikan anak-anaknya sejak dalam kandungan, jika kelak menginginkan anak-anak yang sholeh dan berkedudukan tinggi.

Yang menarik di sini adalah, yang bernazar bukan Imran (suaminya), tetapi istrinya. Jelas sekali dalam hal ini, Allah memberi peran sentral kepada kaum istri dalam melahirkan anak-anak sholeh. Ini pelajaran dari Allah bagi ibu-ibu hamil agar memperhatikan segala prilakunya demi pendidikan anak-anaknya sejak dalam kandungan.

Posisi sentral perempuan dan perhatian anak  anak dalam kandungan dijelaskan dalam ayat lain, “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin. (At thalaaq:6). Ayat ini menguatkan posisi pentingnya dukungan suami untuk memberikan perhatian pada istrinya yang sedang hamil sekalipun sudah di talak. Perhatian suami kepada istri yang sudah di talak tidak dianjurkan kecuali kepada istri-istri yang sedang hamil. Perhatian suami kepada istri hamil merupakan faktor pendukung bagi para istri untuk mendidik anaknya sejak dalam kandungan.

Secara ekplisit kedua ayat di atas tidak menganjurkan tentang pentingnya pendidikan anak dalam usia kandungan, tetapi secara implisit harapan seorang ibu agar anak yang ada dalam kandungannya menjadi anak sholeh (cerdas) harus sudah ditanamkan sejak anak dalam kandungan. Keseriuasan seorang ibu agar anaknya menjadi anak cerdas, harus dinazarkan (ditekadkan) atas nama Tuhan, sejak dalam kandungan. 

Itulah ketentuan dasar pentingnya pendidikan usia dalam kandungan yang ditetapkan oleh Tuhan. Selanjutnya ketentuan Tuhan ini menjadi tradisi masyarakat di berbagai belahan dunia. Secara khusus tradisi mengunggulkan anak sejak dalam kandungan di miliki oleh bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang melahirkan generasi-generasi cerdas. Namun demikian kecerdasan intelektual, tidak akan meninggikan derajat seseorang tanpa dibarengi dengan kepatuhan kepada ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan Tuhan.

Untuk itulah istri Imran bernazar kepada Tuhan untuk bayinya dalam kandungan. Istri imran tidak saja mengharapkan kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan spiritual, kecerdasan dimana bayinya bisa mengenal dan Tunduk kepada Tuhannya. Wallahu ‘alam.

PENDIDIKAN 4.0

OLEH: TOTO SUHARYA

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola hidup masyarakat dunia menjadi sangat bergantung pada data. Para pemilik data dialah yang akan menguasai dunia. Fenomena ini menandai semakin pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam setiap aspek kehidupan.

Klaus Schwab, dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution, Beliau menjelaskan ada empat masa industri, pertama, industri mesin uap, ditandai dengan implementasi mesin uap pada mesin industri dan transportasi. Kedua, industri ditemukannya listrik dan motor, dengan imlementasi pada telepon, mobil, dan pesawat terbang. Ketiga, industri berbasis komputer dan internet, ditandai dengan digitalisasi data. Keempat, industri disruptif, dengan ditemukannya pola baru dalam pemanfaatan teknologi informasi yang bisa meruntuhkan tatanan ekonomi masyarakat yang sudah mapan dalam tempo waktu yang cepat. Hal ini ditandai dengan hadirnya pebisnis-pebisnis berbasis aplikasi di internet. (id.beritasatu.com., 5 Mei 2018 ).

KREATIVITAS ITU AWALNYA DARI PENGETAHUAN
Dari perubahan sistem ekonomi yang sangat cepat, telah melahirkan gejolak di masyarakat. Kehadiran bisnis transportasi, ekspor impor, sewa kamar hotel, media massa, toko buku, berbasis aplikasi internet, dalam waktu singkat dapat meruntuhkan perusahaan raksasa konvensional yang sudah berdiri puluhan tahun. Inilah gejala era industri disrupsi, yang akan terus memengaruhi segala aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan.

Ke depan tidak menutup kemungkinan akan hadir sekolah-sekolah yang menawarkan kelas-kelas layanan berbasis aplikasi internet. Suatu saat, peserta didik di sekolah-sekolah akan kosong, semua kegiatan belajar dikendalikan melalui aplikasi internet dan bisa dikerjakan dari rumah masing-masing dan di mana saja. Biaya akan sangat murah, dan sekolah-sekolah besar yang biasa pasang tarif sangat mahal akan kehilangan pelanggan sehingga terancam gulung tikar.


Bisnis di bidang pendidikan berbasis aplikasi internet yang sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat adalah model bimbingan belajar online. Dengan harga yang sangat murah layanan bimbingan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Akun aplikasi yang mereka gunakan sudah memuat ribuan bahkan jutaan soal yang bisa dipelajari oleh konsumen.

Pemain bisnis pendidikan yang harus diwaspadai adalah mereka yang datang dari luar negeri yang lebih dulu dan sangat kreatif mengembangkan aplikasi pendidikan di internet. Mereka sudah punya data digital tentang kita dari aplikasi yang mereka punya.

Kompetisi ke depan akan terletak pada kecerdasan manusia dalam memiliki data, membaca menganaslis permasalahan dan menyelesaikannya melalui sebuah aplikasi di internet. Sehingga setiap permasalahan akan menjadi peluang bisnis yang bisa meruntuhkan tatanan ekonomi dan kehidupan masyarakat dalam waktu sangat cepat.

Memasuki era pendidikan 4.0 secara substansi pendidikan harus mempersiapkan generasi yang punya daya saing, minimalnya memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thingking) kreatif, (creative), komunikatif (communication), dan mampu berkolaborasi (collaborations), disingkat 4C.

Kurikulum 2013 yang sudah hampir merata diimplementasikan di seluruh sekolah di Indonesia tahun ini, secara substansi sudah menjawab tantangan masyarakat di era industri 4.0. Kurikulum 2013 telah memuat kompetensi keterampilan berpikir yang wajib dimiliki peserta didik dari mulai mengingat sampai mencipta.

Pada kurikulum 2013 juga ditekankan pendidikan karakter agar peserta didik tidak tercabut dari akar budayanya, melalui pendidikan karakter berbasis agama dan kearifan lokal. Dengan demikian, kurikulum 2013 sudah memenuhi kebutuhan pendidikan 4.0, sekarang tinggal kembali kepada para pelakunya. Apakah kita semua sudah sadar telah berada di era industri disruptif? Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala SMAN 1 Cipeundeuy, Pengurus PGRI Kab. Cianjur) 

Saturday, November 18, 2017

PEMBENTUK KARAKTER TANGGUH


LIMA JANJI SISWA BERKARAKTER TANGGUH
SMA …(kasih nama sekolah anda)

Lakukan berulang-ulang dalam setiap upacara bendera hari senin.

“Dan sebutlah (perintah) Allah banyak banyak agar kamu mendapat kemenangan”
(Al Jumu’ah, 62:10)

1.     SUKA MEMBACA
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,”
 (Al ‘Alaq, 96:1)

2.     HARAM MENGELUH
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”.  (QS. Al Balad, 90:4)

3.     HARAM PUTUS ASA
“…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
(QS. Yusuf, 12:87)

4.     HARAM MENYALAHKAN ORANG LAIN
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,”
(Al Israa, 17:7)

5.     RELA BERKORBAN
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.”
(Al Kautsar, 108:2)



Wednesday, November 15, 2017

LOGIKA TUHAN PEMBENTUK KARAKTER

oleh: toto suharya

Pengertian logika Tuhan adalah pola berpikir dengan petunjuk Tuhan. Pola berpikir ini dapat dimanfaatkan untuk membangun mental manusia-manusia berkarakter tangguh dan berakhlak mulia.

Tujuan utama dari pengembangan pola pikir logika Tuhan adalah membangun karakter-karakter manusia taat kepada Tuhan Yang Esa dan bermanfaat bagi manusia lain, yaitu manusia penyejahtera untuk seluruh alam tanpa melihat perbedaan. Mereka adalah generasi mileneal yang akan cenderung  hidup damai dalam satu umat dan satu dunia.

Logika Tuhan adalah pola pikir para Nabi. Untuk melihat ketanguhan logika Tuhan digunakan dalam kehidupan, kita bisa baca riwayat-riwayat hidup para Nabi. Sebagai contoh Nabi Muhammad saw adalah teladan bagi manusia dalam mengimplementasikan berpikir sesuai petunjuk Tuhan.

Logika Tuhan juga dipakai oleh orang-orang hebat di seluruh dunia. Orang-orang berpengaruh di dunia dari dulu sampai sekarang, selalu memiliki karakter menonjol dilandasi pola-pola berpikir dari petunjuk i Tuhan. Pengusaha-pengusaha ternama seperti Bill Gate, Jack Ma, Steve Job, dll, mereka berhasil karena mengaplikasikan pola-pola berpikir menurut petunjuk Tuhan. 

Semua orang hebat dari belahan bumi mana pun, pola berpikirnya selalu dipandu oleh logika Tuhan. Logika Tuhan adalah pola berpikir sukses yang digunakan oleh suku, ras, bangsa, budaya, dan agama, manapun. Maka dari itu sekalipun logika Tuhan ini dikembangkan dari kitab suci Al-Qur’an, tidak berarti pola berpikir ini berlaku untuk orang Islam saja, tetapi berlaku untuk seluruh manusia dimanapun berada dan bahkan berlaku seluruh alam.


Saat ini logika Tuhan telah dilatihkan dan diseminarkan untuk membangun karakter-karakter tangguh dalam berbagai bidang kehidupan. Bidang-bidang yang telah memanfaatkan logika Tuhan sebagai pembentukan karakter, adalah dalam:

Pembentukkan karakter wanita karier dan ibu rumah tangga
Pembantukkan karakter guru dan siswa
Pembentukkan karakter dosen dan mahasiswa
Pembentukkan karakter para calon pemimpin dan kader politik
Pembentukkan karakter para aparatur negara
Pembentukkan karakter pengusaha, manajer, dan karyawan
Pembentukkan karakter berbagai profesi 

Keunggulan diperkenalkannya metode berpikir dengan logika Tuhan, bagi sebuah lembaga atau perusahaan adalah akan tampil manusia-manusia taat pada pimpinan, kreatif, produktif, tangguh, tanpa mengeluh dan selalu optimis tanpa batas karena ikhlas dalam bekerja.

SEJARAH MASA DEPAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Gagasan sejarah masa depan dikemukakan oleh Prof Dadan Wildan, dalam acara Seminar Kebun pada Kemah Akb...