Friday, July 29, 2022

Subtansi Pengajaran Menurut Al Quran

Oleh: Toto Suharya

Diskusi bersama guru-guru dan pengawas pendidikan terkait materi ajar apa yang harus diajarkan, muncul suatu kesepakatan bersama bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan harus bermanfaat bagi siswa. Ilmu pengetahuan yang diajarkan pada siswa harus memiliki kebermanfaatan langsung untuk siswa. Jadi tidak semua ilmu pengetahuan diajarkan pada siswa. Inilah poin penting yang harus dipahami dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar.

Di dalam Al Quran ada dua substansi pengajaran yang harus diperhatikan, yaitu menyucikan diri dan bermanfaat bagi siswa. "Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" ('Abasa, 80:3-4). 

Jadi substansi pengajaran memiliki dua dimensi yaitu menyucikan diri siswa dan memberi kemampuan teknis bagaimana hidup bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Konsep menyucikan diri kata kuncinya dijelaskan di dalam Al Quran yaitu mengajari jiwa-jiwa siswa yang takut pada Allah. 

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), ('Abasa, 80:8-9).

Substansi materi ajar adalah mengingatkan siswa tentang keagungan dan kemahabesaran Allah dengan melihat ciptaan-Nya, dan mengingatkan siswa tentang hukum-hukum yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Guru-guru mata dituntut kreatif bagaimana setiap mata pelajaran mengarahkan pada ketaatan dan menghadirkan rasa takut siswa pada Allah. Inilah jiwa-jiwa yang taat, berserah diri, dan merasa takut melanggar pada ketentuan-ketentuan yang telah Allah tetapkan.

Guru harus punya kemampuan menganalisis materi-materi ajar esensial. Ukuran materi ajar esensial sangat tergantung pada mata pelajaran yang diampu, dan dalam kontek apa materi tersebut perlu diajarkan pada siswa. Seleksi materi ajar esensial berkaitan dengan subtansi materi dalam mata pelajaran. Sedangkan subtansi kontekstual berkaitan dengan kebutuhan berdasarkan pada kondisi zaman yang sedang dihadapi siswa.

Kontekstualitas zaman dapat diamati dari alat-alat hidup atau teknologi yang digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika saat ini masyarakat cenderung memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kontek pembelajaran harus segera memperkenalkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Maka materi-materi ajar yang mesti diajarkan kepada siswa, materi yang mendukung pada siswa untuk memanfaatkan teknologi infomasi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Berbagai substansi mata pelajaran harus mendukung pada pemahaman siswa bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Agama mengajarkan bagaimana mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi. Sejarah memberi pemahaman bahwa teknologi membawa konsekuensi perubahan budaya dan tata cara manusia bertahan hidup dengan memanfaatkan teknologi informasi. Fisika, Kimia, Biologi, mengajarkan bagaimana teknologi informasi dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu dan memanfaatkannya dalam kehdiupan sehari-hari. 

Demikianlah gambaran dua substansi ilmu pengetahuan dalam proses pengajaran. Ramuan materi, metode yang digunakan sangat tergantung pada kecerdasan dan kreativitas guru dalam menyajikannya. Wallahu'alam.***

Saturday, July 2, 2022

Refleksi Guru Dalam Pengajaran

Oleh: Toto Suharya

Menjelang 77 tahun Indonesia merdeka, mendekati satu abad bangsa Indonesia merdeka. Upaya-upaya dalam bidang pendidikan sudah dilakukan dan terus menerus diakukan perubahan. Dalam tarikh masehi sekarang kita sekarang berada di awal abad ke-21. Dalam perjalanan sejarah biasanya pada awal abad sering terjadi perubahan besar-besaran menimbulkan situasi krisis. Sebagaimana dulu pada awal abad ke-20 bangsa Indonesia terus bergerak membebaskan diri dari kolonial Belanda. Puncaknya pada pertengah abad ke-20 tahun 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Keberhasilan bangsa Indonesia merdeka tidak lepada dari upaya-upaya pembenahan dalam bidang pendidikan telah dilakukan sejak tahun 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara dengan berdirinya perguraun Taman Siswa. Sekarang kita berada di awal abad ke-21 sejarah seperti berulang, bahwa upaya pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara sedang dimulai kembali.

Pendididikan untuk bangsa Indonesia memang harus dikerjakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Orang yang paling mengerti tentang pendidikan bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Melalui konsep Trikon (kontinyu, konevergen, dan konsentris), Ki Hadjar Dewantara sudah membuka diri menerima pengaruh-pengaruh budaya dari luar, tetapi tidak melupakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Konsep ini ternyata lebih tepat untuk diterapkan dalam pendidikan bangsa Indonesia.

Pendidikan harus berkelanjutan, budaya-budaya dari luar digunakan untuk mengukuhkan jati diri bangsa. Melalui asas konvergen, kita berusaha merekonstruksi budaya luar untuk mengembangkan budaya bangsa sendiri (konsentris). Pendidikan harus fokus pada pengembangan budaya-budaya lokal direkonstruksi menjadi budaya global sesuai dengan perkembangan zaman. Gagasan Ki Hadjar Dewantara sebenarnya menuntut bangsa Indonesia untuk bisa beradaftasi dengan kodrat zaman dengan tidak meninggalkan kodrat alam dimana kita tinggal.

Gagasan Ki Hadjar Dewantara ternyata lebih cocok untuk diterapkan dalam sistem pendidikan bangsa Indonesia. Upaya yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1922 adalah bagaimana memerdekan siswa dari ketergantungan. Bagaimana cara memerdekakan siswa dalam belajar untuk mencapai kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Pendidikan berfokus pada siswa bagaimana agar mereka benar-benar merdeka. 

Penjajahan ternyata tidak hanya berlaku dalam bentuk fisik, tetapi terus berlanjut berubah bentuk dalam pejajahan mental dikemas dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi. Peran besar pendidikan di abad 21 masih berbicara tentang kemerdekaan dalam belajar untuk melahirkan generasi-generasi mandiri dan bisa menyelesaikan masalah hidup dirinya dan bangsa pada umumnya.

Mengacu pada gagasan pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara, peran besar pada pendidikan di abad 21 sekarang adalah memerdekanan siswa dalam belajar. Pendekatan-pendekatan belajar yang harus dilakukan guru adalah melatih daya nalar siswa. Dalam setiap pembelajaran mereka harus dituntun bagaimana mengolah informasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Paradigma pengajaran zaman kolonial Belanda yang pada saat itu sumber informasi sangat terbatas, guru menjadi sumber informasi paling dominan. Pada zaman kolonial Belanda, belajar menjadi sebuah aktivitas yang sangat dominan membutuhkan kehadiran guru sebagai sumber informasi dan penentu tujuan pembelajaran. Sekarang di abad informasi, kehadiran guru dibutuhkan tetapi bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai penuntun pembelajaran. Sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara, tugas guru adalah memberi teladan, memberi semangat, membangkitkan keberanian, dan memberi dorongan, memengaruhi agar siswa mau terus belanjar secara mandiri.

Ketergantungan siswa ada guru telah mematikan kreativitas, daya nalar kritis, sikap gotong royong, menghargai perbedaan, dan kemandirian. Dominasi guru pada siswa dalam belajar, membuat siswa tidak pandai mengolah informasi, akibatnya mereka sangat mudah putus asa, dan tidak terampil menerima perbedaan pendapat karena fanatisme pada gurunya. Guru telah menjadi berhala, karena siswa tidak punya keberanian berbeda dengan gurunya. 

Dari pengataman di lapangan, setelah siswa lulus dari pendidikan, kebanyakan siswa masih sangat tergantung pada guru. Sumber informasi yang melimpah di internet, tidak menjadi motivasi siswa untuk berani belajar mandiri. Mereka masih tetap mengharapkan kehadiran guru secara fisik. Padahal di era informasi, guru-guru yang bermakna luas tidak harus hadir secara fisik. Melalui internet mereka bisa belajar sesuai keinginan mereka sekalipun tidak berstatus sebagai pelajar. Mereka bisa belajar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memilih banyak guru sesuai dengan kebutuhan. 

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, makna guru dan sisjadi luas. Semua makhluk adalah guru, dan semua makhluk adalah murid dan dimanpun ruang kita temua itulah kelas tempat belajar. Guru dalam konsep abadi 21 bukan hanya mereka yang mendapat surat tugas sebagai guru, tetapi semua orang yang kita temui yang bisa memebrikan iformasi ilmu pengetahuan dia adalah guru. Tugas guru-guru yang mendapat surat tugas adalah membebaskan pikiran-pikiran siswa yang masih terbelenggu oleh konsep guru dalam paradigma zaman kolonial Belanda.

Guru harus mulai menurunkan kedudukannya, bukan lagi sebagai dewa dihadapan siswa. Guru adalah manusia biasa yang hanya bertugas memberi teladan, memotivasi, dan memfasilitasi, bukan untuk menguasai pikiran para siswa supaya tunduk dan patuh pada pemikiran guru. Mari bapak ibu guru kita sama-sama bebaskan pikiran siswa dari belenggu pemikiran-pemikiran guru, karena zaman berubah maka biarkan mereka hidup sesuai dengan zamannya. Mari kita ajari siswa-siswi kita menjadi manusia-manusia mandiri, dengan melatih mereka untuk menyesaikan masalah-masalah hidup mereka sendiri agar bisa meraih kebahagiaan tanpa tergantung pada orang lain.***

 

Sunday, June 26, 2022

Masyarakat Tidak Cinta Pendidikan, Otaknya di Perut

Oleh: Toto Suharya

Otak manusia ada dua yaitu otak di otak dan otak di perut. Apa yang dilakukan manusia sangat tergantung isi otaknya. Namun kondisi perut dapat memengaruhi prilaku manusia. Jika perut sakit seluruh organ tubuh akan terbawa sakit. Sumber energi keseluruh organ diawali dari perut. Namun masyarakat cinta pendidikan tidak akan memerhatikan isi perut melainkan isi otak.  

Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas masyarakat yang cinta pendidikan. Masyarakat pecinta pendidikan mengutakan pendidikan di atas kepentingan perut. Pendidikan adalah urusan leher ke atas. Paling utama pendidikan adalah urusan otak. 

Masyarakat yang tidak begitu cinta pendidikan, diotaknya hanya berisi makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan sangat sensitif ketika berurusan dengan makanan dan uang. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan senangnya membuat kegaduhan. Dia tidak suka hidup rukun dan damai.

Masyarakat cinta pendidikan mengatur ekonomi kebutuhan makan dan minum keluarga setelah dana pendidikan terpenuhi. Bagi masayrakat cinta pendidikan, membeli isi otak lebih mengenyangkan dari pada mengutamakan isi perut. Masyarakat yang cinta pendidikan isi perut seada-adanya dipekarangan, namun isi otak harus mewah. Bagi masyarakat cinta pendidikan memenuhi isi otak akan memenuhi isi perutnya. 

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, memenuhi isi perut sama dengan memenuhi isi otaknya, sekalipun faktanya isi otak mereka pindah ke perut. Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, segala tindakannya ditentukan berdasarkan reaksi perut. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka tidak pernah lapar melihat buku. Membeli buku bagi mereka seperti membeli rongsokan yang tidak berguna. Buku tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang bisa dijual kiloaan lalu uangnya ditukar jadi semangkok baso.

Masyarakat cinta pendidikan mencintai tempat-tempat bersih. Masyarakat cinta pendidikan berani membeli mahal sebuah lingkungan bersih. Mereka punya keyakinan dari tempat-tempat bersih akan datang rezeki dan ilmu yang berkah. Masyarakat yang cinta pendidikan membeli ilmu pengetahuan sampai jual rumah dan tanah. Masyarakat cinta pendidikan mengirim anak-anaknya sekolah ke luar negeri melalui jalur beasiswa, bekerja, dan biaya orang tua. 

Masyarakat cinta pendidikan sekalipun biaya pendidikan murah bahkan gratis, mereka tidak ridha pendidikan dengan biaya seadanya. Mereka akan tetap membiaya anak-anak mereka untuk mendapat pendidikan berkualitas. Mereka menambah jam belajar anak-anak diluar jam sekolah, memberi kursus-kursus tambahan untuk menambah keterampilan hidup anak-anak.

Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, mereka berburu sekolah gratis lalu membiarkan anak-anaknya seperti kambing di padang rumput. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan, semua hasil pendidikan adalah selembar ijazah. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan, bagi mereka sumber rezeki adalah ijazah. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan otaknya ada di ijazah.

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, ijazah adalah tuhan pemberi rezeki. Masyarakat tidak cinta semua kejadian dilihat dari reaksi perut. Hatinya tergerak ketika perut lapar. Nasfsunya menggebu-gebu hingga tidak terkendali hanya karena isi perut terancam. Masyarakat tidak cinta pendidikan bisa dikendalikan dengan nasi bungkus. Bagi masyarakat cinta pendidikan, semakin banyak nasi bungkus, hidup terasa menyenangkan. 

Bagi masyarakat tidak cinta pendidikan, mau hidup di kota besar atau diperkampungan, selalu hidup kampungan. Bagi masyarakat yang tidak cinta pendidikan dimanapun hidup seperti cara hidup dikampungnya yang kampungan. Masyarakat yang tidak cinta pendidikan kualitasnya bisa dilihat sehari-hari. Mereka lebih banyak berdiskusi urusan isi perut sekalipun otaknya sudah sakit bagaikan kanker stadium empat karena terlalu banyak bicara isi perut.*** 

Saturday, June 4, 2022

Sejarah adalah Ilmu Tafsir

 Oleh: Toto Suharya

Sejarah adalah peristiwa yang terjadi di masa lampau. Menurut konsep waktu, sesuatu yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang kembali. Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tahun 1945, peristiwanya tidak akan terulang kembali. Sesuatu yang terjadi di luar kontrol manusia.

Memandang ilmu sejarah bisa terbagi menjadi dua sudut pandang, tergantung argumentasi seseorang dalam memahaminya. Pertama sejarah bisa dipandang sebagai ilmu pasti. Secara universal apa yang terjadi pada setiap orang disebabkan oleh sesuatu yang terjadi. Pandangan ini sering di dukung oleh pendapat Hegel (2012). Hal yang pasti dalam sejarah adalah kejadiannya yang tidak akan pernah berulang, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah akibat dari kejadian yang lalu.

 

Pembelajaran sejarah menjadi sebuah pembelajaran reflektif. Hegel (2012, hlm. 5) berpendapat sejarah reflektif adalah sejarah yang secara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu. Hakikatnya semua yang terjadi berhubungan sebagai kesatuan dan inilah ruh dari sejarah (sejarah universal). Dalam hal ini, penyusunan materi sejarah menjadi hal terpenting. Pertimbangan penulis sejarah menjadi sangat penting dan prinsip, mengacu pada motif perbuatan, dan peristiwa yang akan dipaparkan, dan itulah yang menentukan ceritanya.

Mengacu pada pendapat Hegel jalannya sejarah sudah ditentukan aturan-aturannya. Pemahaman sejarah ada di rasio seseorang. Sejarah sebagai kegiatan reflektif diceritakan berdasar subjektivitas seseorang, namun kemutlakkan harus ada dalam pikiran setiap orang, kemutlakkan itu adalah keseleruhan sistem yang saling ketergantungan. Kemutlakkan itu adalah dalam sistem-sistem yang kecil maupun besar. 

Capra (2002, hlm. 49) mengatakan partikel-partikel subatomik tak memiliki arti sebagai entitas terisolir dan hanya dapat dimengerti sebagai interkenokeksi, dan korelasi-korelasi, antara aneka proses dan pengukuran. Dalam keseluruhan sistem keberadaan suatu benda saling berhubungan sebab akibat, dan ditentukan pula oleh sebab dan akibat yang mutlak yang Yang Maha Pemelihara Kebaikan. Bagi penulis, Sang Pemelihara Kebaikan, dalam kontek pemikiran Islam adalah Ar Rahman dan Ar Rohiim.

Inilah yang dimaksud etika  atau cara berpikir (way of thingking). Jika cara berpikir seseorang berbeda, keseluruhan pengalaman hidupnya akan berbeda. Tindakan etis manusia tidak dapat dipisahkan dari cara berpikir. Terdapat hubungan timbal balik antar keduanya (Abdullah, 2022, hlm. 38). Bagi penulis hubungan tembal balik (sebab-akibat) dapat dimaksudkan sebagai bagian absolut idea pemikiran Hegel, dan sebab atau akibat mutlaknya adalah satu kesatuan sistem. 

Gagasan pemikiran Hegel, Capra, Abdullah, menjadi cara bagaimana kita menjalani kehidupan untuk menemukan gagasan-gagasan kebaikan, dan tujuan-tujuan baik, sebagai cara dan tujuan hidup mutlak dari Yang Maha Kasih dan Sayang. Sarana untuk memahamai way of thingking adalah sejarah kehidupan manusia. Jadilah sejarah adalah ilmu tafsir dalam upaya mencari war of thingking.***

Thursday, May 19, 2022

Makna General Ibadah

Oleh: Toto Suharya

Ketika kita dengan kata Ibadah apa yang ada dalam ingatan? Dalam ingatan semua orang pasti muncul kata shalat. Salah tidak? Jawabannya tidak salah, hanya konsep ibadah menjadi bermakna khusus hanya sebatas shalat. 

Padahal jika kita kembali kepada konsep Al Quran, kata ibadah memiliki makna general. Ibadah bermakna general bisa kita renungkan dari keterangan ayat di bawah ini:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku". (Az Zariyat, 51:56)

Makna luas dari ibadah berarti isi dari seluruh kehidupan di muka bumi ini. Di mana saja manusia dan jin berada, mereka ada di ruang atau tempat ladang untuk beribadah. Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berkaitan dengan penciptaan manusia untuk beribadah. 

Lalu apa konsekuensinya jika ibadah dipahami secara khusus menjadi ritual shalat saja? Jika ibadah dimaknai khusus sebagai kegiatan ritual shalat, kita akan kehilangan makna ibadah dalam aktivitas sehari-hari. Kita kehilangan misi hidup yang suci.

Dalam ayat lain, Ibnu Katsir menafsirkan kata shalat dan ibadah dua konsep yang berbeda. "Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam," (Al An'aam, 6:162). Kata ibadah, ditafsir oleh Ibu Katsir dari kata "nusuki" bermakna kurbanku. 

Shalat dan berkurban (ibadah) menjadi dua konsep. Sebagai mana dijelaskan dalam Al Qur'an, "Maka dirikanah shalat dan berkorbanlah (Al Kautsar, 108:2). 

Merujuk pada dua konsep shalat dan berkorban (kurban), dapat disimpulkan bahwa ibadah berkaitan dengan berkorban. Dicontohkan dengan secara khusus berkurban di musim haji dan umrah. Namun jika kita kembangkan makna general, berkorban adalah seluruh kegiatan hidup dan mati manusia untuk berserah diri pada Allah. 

Shalat adalah komitmen yang dibangun manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan seluruh pengorbanan hidup dan mati untuk berserah diri pada Allah. Ibadah adalah seluruh aktivitas hidup untuk mendapat ridha Allah. 

Berbagai bidang yang digeluti manusia di muka bumi sampai bertemu dengan kematiannya tiada lain untuk ibadah. Jadi ibadah adalah implementasi orang-orang shalat dengan untuk berkorban atau berbuat baik atas nama Allah untuk saling berbagi kesejahteraan hidup bagi seluruh alam.

Kata ibadah menjadi pemberi makna bagi seluruh kehidupan manusia. Ibadah adalah praktik-praktik baik atau amal baik manusia dalam mengisi kehidupan. Sebaik-baik amal baik adalah perbuatan yang mengandung pengorbanan untuk menghidupi bukan hanya untuk hidup. 

Ibadah menjadi misi suci manusia dalam mengisi kehidupan. Ibadah menjadi ruh dari seluruh aktivitas manusia dalam berbagai bidang yang digelutinya. Wallahu'alam.***   

  

Thursday, May 12, 2022

Kita Tidak lagi Jadi Bangsa Pengikut

Oleh: Toto Suharya

Kita adalah bangsa dengan pengalaman pahit yang panjang. Kurang lebih 350 tahun mengalami penjajahan, namun selama itu kita tidak pernah mati memperjuangkan kemerdekaan. Kita lahir bukan sebagai bangsa pecundang, kita lahir mewarisi kerajaan-kerajaan besar di dunia. Kita lahir sebagai bangsa berpengaruh di dunia.

Kita tidak kekurangan manusia-manusia berkualitas tinggi. Kita lahir mewarisi gen-gen cerdas warisan nenek moyang. Hari kebangkitan itu semakin mendekat, kita akan tampil menjadi pengendali dunia. Kita lahir kembali menjadi manusia-manusia berpengaruh di dunia. 

Pidato Mendikbud di Hari Kebangkitan Nasional 2022,  kurikulum Merdeka Belajar sudah diimplementasikan pada 140.000 satuan pendidikan di Indonesia. Semangat merdeka belajar akan terus begumul bergelora di seluruh kepala sekolah, guru, dan peserta didik Indonesia. Merdeka belajar adalah memerdekakan pikiran dari segala penjajahan pikiran bangsa-bangsa lain.

Semangat merdeka belajar akan menjadi kekuatan nuklir yang terus bergelora di seluruh hati rakyat Indonesia. Saatnya kita merebut kembali kejayaan Sriwijya, Majapahit, Mataram, yang pernah kita miliki dahulu. Merdeka belajar adalah spirit merdeka dari segala ketergantungan. 

Merdeka belajar tidak ada hukuman, tidak ada lagi cemoohan, tidak ada lagi lecehan dalam dunia pendidikan kita. Perlombaan kita berlaku dengan diri kita masing-masing untuk melepaskan diri dari pikiran-pikiran picik yang selama ini terpelihara. Bangsa-bangsa terbodoh di dunia adalah bangsa yang tidak bangga dengan bangsanya sendiri, bangsa yang menghina bangsanya sendiri, bangsa yang menghina pemimpinnya sendiri. 

Kita harus hentikan pikiran-pikiran bodoh yang selalu menghina antar sesama, kita bangkitkan semangat kolaborasi, saling bantu, saling tolong untuk kembali bangkitkan kejayaan bangsa. Merdeka belajar harus menjadi kekuatan dari dalam untuk melakukan perubahan. Untuk menjadi bangsa besar, kita harus terus membangun kesadaran bahwa kebesaran bangsa bukan karena penghormatan bangsa lain, tapi kita sendiri yang menghargainya dari dalam.

Melalui konferensi tingkat tinggi G20 kita telah membuktikan bahwa kita bukan lagi bangsa pengikut, tetapi sudah menjadi bangsa pemimpin gerakan pemulihan dunia. Abad 20 telah berakhir dan kini memasuki awal abad 21, ini saat nya kita, ini takdir Allah bahwa kita akan kembali memimpin peradaban dunia.

Melalui merdeka belajar, seluruh rakyat Indonesia akan terus menjadi pembelajar. Dimana orang ditemukan disitulah kita ketemu guru, dan ke mana saja ruang kita masuki disitu kita memasuki ruang kelas belajar. Saatnya kita memerdekakan pikiran dari pengaruh-pengaruh budaya asing yang merendahkan budaya bangsa sendiri. 

Tiang-tiang kita tegakkan, puing-puing kita kokohkan, hujatan-hujatan kita abaikan, semua harus berjalan satu arah di jalan yang lebar menuju kejayaan bangsa. Jalan lurus menuju kemenangan sudah kita temukan kembali, kita harus fokus mendidik, membangun jiwa raga bangsa yang merdeka. Gelombang kemerdekaan berpikir sesuai kodrat bangsa sudah mulai menggunung kembali, akan menyapu pemikiran-pemikiran picik yang meredahkan bangsa. Ya Allah bantulah kami untuk bangkit***

Monday, May 2, 2022

Mengajar Al Quran dengan Pentigraf

 Oleh: Toto Suharya

Pentigraf adalah cerita pendek tiga paragraf. Diciptakan oleh Tengsoe Tjahjono dari Universitas Negeri Surabya (Unesa). Menarik sekali pentigraf sangat cocok untuk masyarakat Indonesia yang tidak bisa bertahan lama ketika membaca. Cerita-cerita pendek pas disajikan untuk masyarakat Indonesia. Melalui cerita-cerita pendek tiga paragraf pesan-pesan moral, sains, apa saja bisa disampaikan.

Pelajaran agama bisa memanfaatkan pentigraf untuk mengajarkan isi kandungan Al-Qur'an. Mengajarkan Al-Qur'an melalui pentigraf bisa jadi alternatif guru-guru untuk mengajarkan Al-Qur'an. Pentigraf bisa melatih siswa kreatif, dan menuntut guru-guru kreatif.

Pentigraf yang dikembangkan dari Al-Qur'an dapat membantu berbagai mata pelajaran sebagai pembelajaran menyenangkan, penuh pesan moral. Pentigraf juga bisa dikembangkan menjadi pembelajaran Higher Order Thingking Skills (HOTS).

Contoh pentigraf yang bisa dikembangkan menjadi pembelajaran HOTS dikembangkan dari surah Al 'Alaq. Ide cerita dalam surat Al Alaq dikemas menjadi sebuah cerita yang menutut siswa berpikir.

"Suatu hari dalam situasi pembelajaran, ada siswa bertanya, "mengapa Allah menyuruh manusia membaca?" Guru merespon, "pertanyaan bagus sekali, mari kita jawab bersama. Sekarang perhatikan semua, ketika tengah malam gelap ada yang mengetuk pintu rumah mu, apakah perasaan mu yang bakal muncul? Siswa menjawab, "saya takut pak". Siswa lain menjawab, "saya akan memeriksa siapa yang mengetuk pintu itu?" Guru kembali bertanya, "jika kamu tidak menemukan siapa yang mengetuk pintu itu, apa perasaan mu?" Siswa menjawab, "mungkin rasa takut saya akan muncul pak." Guru bertanya lagi, "lalu bagaiman jika yang ketuk pintu malam-malam itu saudara mu yang baru pulang dari luar kota, apakah kamu masih takut?" Siswa menjawab, "sudah pasti perasaan takut saya akan hilang". Guru menjelaskan, "nah itulah mengapa Allah menyuruh membaca". 

Ini ada kisah lagi yang bisa membantu kalian mengapa membaca itu penting. Dikisahkan ada dua orang dengan karakter berbeda, yang satu berkarakter baik, dan yang satu lagi berkarakter buruk. Orang yang berkarkater baik melarang kamu berbuat baik, dan orang yang berkarakter buruk juga melarang kamu berbuat baik. Jika kebaikan adalah perintah Allah, maka orang manakah yang akan kamu turuti? kemukakan alasan dari pendapat mu?   

Guru kemudian melanjutkan ceritanya, "Jika kamu berhasil menjawab pertanyaan di atas, berarti kamu bisa memahami mengapa Allah memerintahkan membaca". kata guru, "ingat anak-anak kebaikan itu adalah perintah Allah, dan segala keburukan adalah buatan manusia. Orang-orang yang berbuat keburukan akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya".

 Petigraf di atas ide atau gagasannya dikembangkan dari surat Al "Alaq. Pentigraf ini bisa diasjikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan moral, pendidikan agama, sosiologi, atau sejarah. Kisah dengan setting dialog sebuah kasus di atas dapat disajikan dalam pembelajaran yang melatih kemampuan siswa berpikir tingkat tinggi. 

Kunci agar siswa bisa menjawab pertanyaan dari cerita di atas adalah siswa harus membaca cerita tersebut dengan teliti, melakukan analisis, dan dialog dengan teman-temannya. Cerita kasus di atas dapat merangsang siswa untuk berpikir dan mencari tahu apa jawaban yang bisa dikemukakan.

Pentigraf bukan hanya bisa digunakan untuk melatih kemampuan siswa berpikir, tetapi melatih guru juga untuk berpikir menyusun materi ajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Menyusun pentigraf untuk kepentingan pembelajaran dengan tujuan melatih kemampuan berpikir siswa, secara tidak langsung menuntut guru-guru tidak sembarangan menyajikan materi kepada siswa.

Untuk saat itu, setiap materi ajar yang diajarkan kepada siswa harus mengandung tujuan melatih siswa berpikir tingkat tinggi. Melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah tuntutan zaman. Jadi kemampuan membaca menjadi mutlak bukan hanya diajarkan pada siswa, tetapi berlaku untuk guru, dan seluruh umat manusia.***

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...