Wednesday, December 31, 2025

SHALAT PENGHUBUNG MANUSIA DENGAN ALLAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S,.Pd., M.Pd.

Shalat adalah aktivitas penghubung antara manusia dengan Allah. Kata yusolli dalam surat Al Ahzab. 33: 43, berasal dari makna akar kata mendekat, menyambung, atau memberi perhatian. Dikarenakan Allah tidak shalat, maka para penafsir mengartikan yusolli dengan makna mendekatkan manusia kepada-Nya, rahmat, dan doa. 

Makna shalat membangun hubungan dengan Allah, karena shalat didalamnya bertujuan mengingat Allah. Selama orang ingat Allah maka dia telah membangun hubungan.

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaahaa, 20:14).

Dalam faktanya shalat telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai kegiatan rukuk dan sujud, maka berdasarkan akar katanya shalat bisa dimaknai sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan Allah. Dalam rangka apa manusia membangun hubungan dengan Allah?

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45)

Maka dengan melihat berbagai penjelasan di dalam Al Quran, ritual shalat rukuk dan sujud dapat dipahami dalam berbagai makna, salah satunya aktivitas manusia dalam mengingat Allah, atau aktivitas manusia dalam rangka meminta pertolongan pada Allah. 

Namun pada dasarnya, shalat dalam bentuk rukuk dan sujud adalah tanda bahwa manusia selalu menjaga hubungan baik dengan Allah. Maka seorang muslim yang tidak shalat, dapat dikatakan dia tidak membangun hubungan baik dengan Allah. 

Bisa juga dikatakan bahwa orang-orang yang tidak shalat sama dengan memutuskan diri dengan dunia kebaikan. Sangat dipahami oleh akal jika ditemukan fakta dimasyarakat, rata-rata para pelaku kejahatan adalah orang-orang yang tidak disiplin menjaga hubungan baik dengan Allah.

Dalam sebuah kasus di sekolah, anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja, seperti membolos, mencuri, berkelahi, malas belajar, kesiangan masuk sekolah, hampir semuanya mereka bukan tergolong pada anak yang disiplin melaksanakan shalat lima waktu. Hal ini membuktikan bahwa tidak shalat sama dengan memutus hubungan dengan Allah, sama dengan memutus hubungan dengan kebaikan.

Untuk itu dalam dunia pendidikan,  karakter yang harus pertama dibangun di sekolah adalah bagaimana anak-anak membiasakan diri untuk membangun dan menjaga keterhubungan dengan Allah dengan disiplin shalat. Ditambah dengan memaknai shalat dari harfiah dan tujuannya.

Tidak ada aktivitas ritual lain sepenting shalat, karena shalat adalah tanda ciri khas karakter dari orang-orang Islam. Jika ada orang mengatakan ritual shalat tidak perlu jika kita sudah ingat Allah, maka kasus ini harus kita kembalikan kepada contoh dari Rasulullah. Apakah Nabi Muhammad tidak shalat? Jika Nabi Muhammad melaksanakan shalat, apakah kita lebih tahu dari Nabi Muhammad?***

Saturday, December 20, 2025

SEJARAH SHALAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Jawad 'Ali (2010) mengatakan setiap agama memiliki bentuk khusus shalat yang sesuai dengan konsep pemahamanan agama masing-masing. Dalam konteks sejarah, shalat telah ada pada agama-agama Arya dan Semitik. 

Agama Majusi telah mewajibkan kepada pemeluknya yang telah mencapai usia dewasa agar mengerjkanan shalat tiga kali sehari; subuh, ashar, dan isya. Sebagai tambahan pemeluk Majusi juga dianjurkan mendirikan shalat Firasy, yakni shalat yang dilaksanakan sebelum tidur dan setelah bangun tidur.

Dalam agama Yahudi ada shalat harian, shalat perayaan, shalat di akhir bulan puasa wajib, shalat jenazah, dan lain-lain. Dalam Taurat ditemukan keterangan shalat Tahajud yang biasa dilakukan para nabi dan para hakim. 

Dalam konteks sejarah, tradisi shalat sudah ada pada agama terdahulu. Nabi Muhammad sebagai utusan membawa misi mengembalikan keyakinan agama seperti agama Nabi Ibrahim. 

Nabi Muhammad diajarkan wudhu dan shalat oleh malaikat Jibril. Rasulullah shalat bersama jibril, lalu mendatangi Khadijah, mengajarkan wudhu dan shalat kepadanya. Nabi Muhammad mendapat perintah shalat wajib ketika Isra' Mi'raj, pada saat Nabi Muhammad belum hijrah ke Madinah.

Perintah shalat sudah ada pada awal orang-orang masuk Islam. Perintah shalat sudah ada sejak Nabi Muhammad di Mekah. Hal ini teridentifikasi pada ayat-ayat Al Quran yang turun di Mekah. 

"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran," (Al 'Alaq, 96:9-11).

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (Al Mudatsir, 74:42-43).

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Al Kautsar, 108:2).

Berdasarkan fakta di atas, shalat merupakan ibadah pokok dalam Islam yang tidak boleh ditingalkan. Pada awal Nabi Muhammad menerima wahyu, Nabi diperintahkan membaca. Orang-orang yang membaca dia pasti menemukan perintah dari Allah untuk shalat.

Ayat-ayat Al Quran secara kontekstual mengandung makna sejarah apa yang terjadi pada saat ayat tersebut turun kepada Nabi Muhammad. Namun fenomena yang dikabarkan dalam Al Quran masih terus terjadi hingga sekarang. 

Hingga sekarang masih banyak yang tidak suka membaca, sehingga tidak memahami bahwa shalat sebagai ibadah pokok dan penting dalam ajaran Islam, sebagai umat-umat beragama terdahulu telah melaksanakan shalat.***

Tuesday, December 9, 2025

SHALAT PENYEBAB KEBERUNTUNGAN

Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Semua yang terjadi atas kekuasaan Allah, tidak ada satupun kejadian menimpa manusia dan fenomena alam terjadi di luar pengetahuan Allah. Pernyataan ini dapat kita dipahami dalam keterangan Al Quran.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (Al An’aam, 6:59).

Dengan demikian, semua keberuntungan hidup manusia berada di atas kehendak Allah. Keberuntungan bukan suatu kebetulan, keberuntungan memiliki sebab-sebab yang dapat dipahami, mengapa hidup manusia beruntung.


Jikalau ada orang mengatakan keberuntungan adalah suatu kebetulan, maka cara pandang itu termasuk cara pandang materialistik. Cara pandang materialistik sangat mengandalkan pada pengamatan melalui penglihatan atas apa yang terjadi di alam.

Cara pandang materialistik sangat terbatas karena penglihatan manusia pada benda-benda dan kejadian di alam sangat terbatas. Untuk itu, Allah menurunkan pedoman sebagai dasar manusia dalam mengambil sudut pandang. Maka orang-orang beruntung Allah jelaskan dalam Al Quran.   

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumu’ah, 62:10).

Berdasarkan keterangan ayat di atas, shalat menjadi bagian dari sebab hidup seseorang mendapat keberuntungan. Makna shalat sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran merupakan aktivitas mengingat Allah.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaahaa, 20:14).

Allah memerintahkan pada manusia untuk mengingat Allah banyak-banyak agar menjadi orang-orang beruntung. Kesimpulannya, untuk menjadi manusia beruntung, dirikan shalat dan peliharalah shalat pada waktu-waktu yang telah ditetapkan. Selain shalat lima waktu, tambahlah dengan shalat-shalat sunah seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. Melaksanakan shalat-shalat sunah, artinya kita telah melaksanakan perintah Allah yaitu memperbanyak mengingat Allah.

Maka, sebelum bertebaran di muka bumi untuk menjalankan ikhtiar, shalat selalu menjadi awal ikhtiar manusia untuk mencari karunia Allah. Maka Islam telah mengajarkan, sebelum bertebaran di muka bumi, setiap umat Islam selalu mengawalinya dengan shalat subuh.

Untuk melahirkan manusia-manusia beruntung, dunia pendidikan seharusnya menjadikan shalat sebagai dasar pembentukkan karakter. Pengajaran shalat berlaku untuk semua jenjang dengan mempertimbangkan perkembangan psikologi sebagai dasar untuk menentukan substansi dan metode pengajaran. Pengajaran shalat dilakukan melalui pengenalan konsep, pembiasaan, dan pendalaman makna. Bagi umat silam shalat sesungguhnya perkara penting sebagaimana Rasulullah mewasiatkan pada umatnya. Wallahu’alam.   

Sunday, December 7, 2025

SHALAT PETUNJUK MENUJU CAHAYA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat dalam pengertian umum adalah rahmat (ar-rahman), karena Allah swt menyifati Diri-Nya dengan ar-Rahim (penyayang) dan menyifati hambanya dengan kata itu pula dengan kalimat arhamar-rahimin (yang paling Penyayang dari semua yang menyayangi). Rasulllah Saw bersabda, "Allah hanya mengasihi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (Arabi, 2010).

"Dialah yang memberi rahmat (yusallii) kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (Al Ahzab, 33:43).

Kata shalat (yusallii) diterjemahkan menjadi rahmat Allah untuk manusia dan para malaikat. Shalat adalah kasih sayang Allah kepada manusia. Shalat dapat membawa manusia dari kegelapan kepada cahaya terang, membawa manusia dari kemiskinan pada kelimpahan, membawa manusia dari kebodohan pada kecerdasan, membawa manusia dari kejahiliyahan menuju puncak peradaban. 


Shalat adalah cahaya pembuka segala kebaikan untuk manusia. Untuk itulah Nabi Muhammad saw menjelang akhir khayatnya berwasiat pada umatnya untuk tidak meninggalkan shalat. 

Dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: "Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah saw adalah: "Peliharalah salat, peliharalah salat, dan peliharalah hamba sahaya yang kalian miliki".

Tidak semata-mata Nabi Muhammad berpesan pada umatnya untuk selalu melaksanakan shalat, karena shalat adalah cahaya penyebab dari segala kebaikan yang akan didapatkan oleh umat manusia di dunia dan akhirat. 

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al 'Ankabut, 29:45).

Shalat adalah cahaya penyebab dari yang tidak terlihat menjadi terlihat. Cahaya menjadi sebab bukti-bukti kebenaran dari Allah terlihat. Cahaya menjadi sebab orang-orang bisa mengetahui jalan lurus. Cahaya adalah penyebab keberuntungan. Cahaya adalah ilmu pengetahuan dan sebaik-baiknya ilmu adalah Al Quran.

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (At Thagaabun, 64:8). 

Memelihara shalat artinya bukan saja sebatas melaksanakan gerakan ritual shalat, tetapi harus dibarengi dengan melakukan pemahaman secara mendalam, melakukan penelitian-penelitian makna-makna shalat dari Al Quran, dilanjutkan dengan melakukan kajian dari berbagai sudut pandang ilmu. Wallahu'alam.  

SHALAT PENGHILANG RASA TAKUT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Rasa takut adalah naluri yang dimiliki oleh seluruh manusia. Rasa takut tersimpan dalam hati dan pikiran. Secara khusus Allah menjelaskan apa yang biasa ditakutkan manusia. 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al Baqarah, 2:155).

Rasa takut adalah ujian yang Allah timpakan pada setiap manusia di dalam kehidupan dunia. Perasaan takut tidak akan hilang dari perasaan setiap manusia. Secara psikologis rasa takut bisa jadi penyebab stres. Orang yang dihantui rasa takut dalam jangka waktu lama bisa berdampak pada kesehatan fisik maupun psikis.

Rasa khawatir dan gelisah, adalah salah satu dampak dari rasa takut yang tersimpan di hati dan pikiran. Rasa takut disebabkan oleh hati dan pikiran yang selalu dihantui informasi-informasi buruk akibat dari kekurangan makanan, harta, jiwa, dan kegagalan dari usaha yang dilakukan.  

Maka Allah membimbing manusia agar tidak selalu dihantui rasa takut kepada urusan dunia. Allah memberikan solusi terbaik agar manusia bisa mengubah rasa takut menjadi harapan baik yang dapat menenangkan hati dan pikiran. Harapan baik akan menghadirkan hormon bahagia di otak.

Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Siapa yang termasuk orang-orang sabar? Allah kabarkan di dalam Al Quran. Orang sabar dapat dicirikan yaitu orang yang melaksanakan shalat. 

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah, 2:153).

Kesabaran satu paket dengan shalat. Orang shalat harus sabar, orang sabar pasti shalat. Untuk menghilangkan rasa takut Allah kabarkan kepada orang shalat agar tidak berdiam diri. Orang sabar harus berbuat baik sebagai mana Allah perintahkan.

"Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi tobat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Mujaadilah, 58:13).

Maka, untuk menghilangkan rasa takut dalam hati dan pikiran, dirikan shalat dengan tujuan minta tolong pada Allah untuk keberhasilan segala usaha, lalu sedekah atau zakat dalam arti berbuat baik dengan barang yang dimiliki, dengan ucapan, perbuatan-perbuatan baik yang mampu dilakukan, kepada orang tua, kerabat, tetangga, anak yatim, sahabat, dan pada seluruh makhluk yang membutuhkan pertolongan.  

Setelah shalat dan berbuat baik sesuai dengan yang Allah perintahkan, ingatlah kabar gembira yang dikabarkan Allah pada orang sabar. Penuhi hati dan pikiran dengan keyakinan pada Allah karena Dia tidak pernah ingkar janji. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat, 41:35).

Demikianlah, Allah menjelaskan shalat dan sabar adalah penghapus rasa takut, karena kepada orang sabar Allah telah menggantikan rasa takutnya dengan kabar gembira yaitu Allah menjanjikan keberuntungan besar kepada orang-orang sabar yaitu orang-orang yang mendirikan shalat. Wallahu'alam. 

Monday, December 1, 2025

SHALAT AWAL SETIAP IKHTIAR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Dikutif dari @padang-tv hasil survei terbaru menunjukkan hanya 38,9% Muslim di Indonesia yang rutin menjalankan salat lima waktu. Dari hasil pengamatan di sekolah alasan murid-murid tidak melaksanakan shalat adalah malas. Secara psikologis kemalasan datang dari informasi negatif yang diterima otak. 

Di prediksi, faktor penyumbang kemalasan seseorang melakukan shalat adalah miskin ilmu tentang shalat. Para pendidik ketika mengajarkan ilmu tentang shalat, berulang-ulang dari SD sampai Sarjana, shalat dipahami sebagai kewajiban dan tiang agama.


Pemahaman tentang shalat harus diperkaya dari berbagai sudut pandang ilmu. Shalat harus dipahami sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan. Pengertian shalat yang bisa dipahami dalam kehidupan sehari-hari, contohnya shalat adalah ikhtiar.

Secara etimologis, ikhtiar berakar dari kata khair (baik). Makna dasarnya adalah tindakan memilih sesuatu yang dianggap lebih baik atau optimal dari pilihan-pilihan yang tersedia. Shalat dapat dikatakan sebagai langkah awal ikhtiar dalam mencari kehidupan lebih baik.

Dasar shalat sebagai ikhtiar bersumber pada Al Quran, bahwa shalat adalah usaha manusia dalam rangka meminta tolong kepada Allah dengan sabar. Shalat ritual adalah ikhtiar agar setiap langkah usaha diberkahi mendapat hasil terbaik. 

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45).

Shalat harus jadi awal ikhtiar meminta pertolongan kepada Allah untuk diberi jalan hidup terbaik, jalan yang penuh dengan kenikmatan. Shalat seharusnya ddipahami sebagia ikhtiar awal dari segala ikhtiar yang kita lakukan.

Manusia tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi hari esok dan masa depan. Hari esok dan masa depan adalah misteri dan hanya Allah yang tahu. Pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan hasilnya diketahui setelah kita kerjakan, dan dapat diketahui berdasarkan pada pengalaman yang telah kita alami, maka hasil selanjutnya tetap misteri. Inilah dasarnya mengapa kita perlu ikhtiar shalat.

Manusia hanya bisa berharap baik pada pekerjaan yang dilakukannya bisa menuai keberhasilan. Permohonan atau harapan baik, sebaik-baiknya dilakukan dalam ikhtiar shalat. Ketika shalat, pasti kita berharap baik pada Allah bukan pada makhluk. Ketika berharap pada Allah tidak ada harapan buruk.

Maka shalat adalah ikhtiar pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan sebuah pekerjaan atau proyek. Setiap hari kita ikhtiar dengan bekerja, berdagang, investasi, mengelola bisnis, dan belajar, maka setiap hari kita harus mengawali semua ikhitar dengan shalat untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Tidak ada satu orang manusia pun yang bisa menentukan hasil baik dari setiap ikhtiar yang dilakukannya, kecuali atas kehendak Allah. Setiap manusia harus bekerja keras untuk mendapat kebaikan dari Allah. 

"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya" (Al Baqarah, 2:255).

Maka, jika ingin mendapat hasil terbaik dari segala usaha, tidak ada kata malas shalat, karena shalat ikhtiar awal dari setiap ikhtiar yang kita lakukan. Shalat lima waktu, shalat dhuha, shalat tahajud, shalat hajat, shalat tobat, dsb., adalah awal ikhtiar kita dalam rangka mencari kehidupan terbaik di dunia dan akhirat.***   

Saturday, November 22, 2025

CIRI ORANG SHALAT BALAS KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Ciri orang shalat pola pikirnya berubah, tidak lagi membalas keburukan dengan keburukan, dia membalas keburukan dengan kebaikan. Orang shalat cara berpikirnya mengikuti petunjuk Al Quran. Berikut pedoman logika berpikir orang yang memahami shalat dari Al Quran.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Ar Ra'd, 13:22).

Dalam ayat ini, konsep shalat berdekatan hubungannya dengan sedekah sebagai bentuk prilaku menolak kejahatan dengan kebaikan. Sedekah adalah pemberian tanpa berharap imbalan dari manusia menjadi cara orang shalat untuk menolak keburukan.

Jadi ciri orang yang mendirikan shalat praktek fisiknya suka sedekah, sedangkan menolak kejahatan dengan kebaikan adalah pola pikirnya. Sedekah adalah praktek menolak kejahatan dengan kebaikan yang dilakukan orang-orang shalat. 

Pola pikir ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu dapat menolak 70 jenis bala (bencana) dan sedekah itu dapat menolak kematian yang buruk." (HR. Tabrani).

Jika diperhatikan secara mendalam sabda Nabi Muhammad saw tentang sedekah memiliki pola logika berpikir seperti yang dijelaskan di dalam Al Quran. Hal ini tidak mengherankan tapi memperkuat keyakinan bahwa ucapan Nabi Muhammad saw tidak pernah keluar dari perkataan Al Quran. 

Jika saja shalat dipahami bersumber pola logika yang terdapat pada Al Quran, shalat benar-benar akan jadi penyejahtera kehidupan bagi yang mengamalkannya. Kekurangan selama ini adalah shalat dipahami sebatas gerakan ritual rukuk sujud saja, tanpa memahami pola-pola pikir dan karakter yang harus dimiliki oleh orang-orang shalat.

Jika saja semua umat Muslim sepakat menjadi Al Quran sebagai petunjuk berpikir, maka sebagaimana perintah Allah di dalam Al Quran, umat Islam yang jumlahnya sekarang 2,0 Miliar akan bersatu membangun kekuatan untuk mendamaikan dan menyejahterakan kehidupan dunia. 

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran, 3:103).

Friday, November 21, 2025

TIDAK ADA ORANG SUKSES KARENA ORANG LAIN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Faktor penyebab kesuksesan semuanya bersumber dari diri sendiri. Tidak ada orang sukses karena orang lain. Maka jangan pernah menggantungkan diri pada orang lain. Kemandirian menjadi kunci pokok pendidikan karakter.

Allah mengabarkan di dalam Al Quran, kunci keberhasilan dimulai dari diri sendiri. Kunci ini sudah menjadi ketetapan bagi siapa saja ingin hidup sukses. Logikanya bisa dipahami di dari Al Quran.

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar ra'd, 13:11).

Pangkal kesuksesan berawal dari kesadaran diri untuk berani melakukan perubahan apa yang ada pada diri sendiri. Buku-buku biografi orang sukses selalu mengambarkan karakter unggul yang dimilikinya. Pribadi-pribadi unggul dimiliki oleh tokoh-tokoh sukses diberbagai belahan dunia.

Pribadi-pribadi unggul dimulai dengan keberanian keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal-hal baru yang bisa membawa pada kehidupan lebih baik. Pribadi-pribadi unggul selalu punya tujuan hidup yang jelas di masa depan. Banyak orang-orang miskin menjadi orang kaya karena dendam pada kemiskinan.

Nabi Muhammad saw dikenal sebagai pribadi tangguh. Ujian-ujian berat dalam hidup Nabi Muhammad dilalui sejak dalam kandungan. Terlahir yatim piatu, mendapat lecehan, cemoohan, dan ancaman kematian. Semua dihadapi hingga Nabi Muhammad saw dikenal sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh di dunia. 

Beriman kepada Tuhan pada prinsipnya melatih diri menjadi manusia-manusia berkepribadian mandiri. Ajaran-ajaran Allah dalam agama Islam sebenarnya melatih manusia agar tidak tergantung pada manusia lain. Di dalam ajaran Islam tidak ada satu ajaranpun yang mengajarkan manusia untuk jadi peminta-minta.

Manusia terbaik adalah manusia yang paling baik perbuatannya dan bermanfaat bagi orang lain. "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al Khafi, 18:7).

Dalam sebuah buku berjudul "Berani Berubah" untuk sukses kita perlu pengembangan diri mendorong keluar dari zona nyaman demi meraih kehidupan lebih baik. Untuk sukses kita harus bangun kesadaran diri, menerima kelebihan dan kekurangan, membangun mental tangguh melalui pola pikir positif dan mengelola stres. Selain itu, kita harus pandai memotviasi diri, menetapkan tujuan yang jelas, dan mencari dukungan untuk menghadapi tantangan dalam proses perubahan.

Untuk itulah, di dalam dunia pendidikan, murid-murid diajarkan untuk bertahan hidup dalam segala kondisi. Mengelola masalah menjadi peluang untuk menemukan inovasi cara bertahan hidup yang lebih baik. Berbagai keterampilan hidup diajarkan sesuai dengan kondisi zaman yang dihadapi.

Ilmu-ilmu keterampilan hidup diajarkan, digunakan untuk mendapatkan penghasilan, kemudian diinvestasikan untuk menjaga kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Kesabaran, keuleten, ketekunan, diajarkan melalui program-program bermanfaat bagi orang lain. Pola pikir positif dilatihkan dengan membangun keyakinan dan harapan kepada Tuhan melalui ibadah ritual dan doa. 

Kesimpulannya, tidak ada orang sukses karena orang lain, tapi karena orang itu sangat tergantung dan taat pada Tuhannya. Orang-orang yang taat pada Tuhannya adalah dia yang jika mau sukses tidak mengandalkan orang lain, tapi mengandalkan dirinya dengan memohon pertolongan pada Allah hingga semua makhluk di langit dan bumi membatu dirinya.*** 

 

Sunday, November 16, 2025

SHALAT PEMBERKAH TEMPAT TINGGAL

Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Berdasarkan pengalaman melaksanakan program shalat dhuha 12 rakaat setiap hari di sekolah, lingkungan sekolah berubah menjadi tempat aman dan nyaman. Rasa kekeluargaan terbangun dengan penuh rasa hormat antar sesama guru, murid, dan orang tua. Prestasi murid meningkat dan sekolah terlindungi dari berbagai fitnah.

Rumah, sekolah, kampus, kantor, negara, jika penduduknya menjadikan shalat sebagai karakter, maka tempat itu akan berubah dari tempat yang tidak produktif menjadi tempat produktif dan mensejahterakan semua orang. Shalat merupakan program pendidikan karakter dari Allah yang bisa berdampak ke semua aspek kehidupan.


Dimanapun berada, dimanapun tempat kita tempati, shalat adalah pemberkah tempat kita berada. Kita dapat saksikan, bagaimana Mekah yang dulu gurun tandus dan kering, kini menjadi tempat yang subur makmur. Jika kita berada di Mekah, segala makanan ada di Mekah.

Mekah kini menjadi tempat berkumpulnya manusia dari seluruh dunia. Setiap tahun gelombang manusia terus mengalun tidak berhenti untuk melaksanakan haji dan umrah.

Kemakmuran mekah tidak ada yang bisa menandingi. Orang-orang berdatangan ke Mekah tanpa ada ajakan atau promosi dari pemerintah Arab Saudi. Setiap hati orang Islam di seluruh dunia selalu merindukan kembali ke Mekah.

Mengapa Mekah dari yang tandus berubah menjadi tempat yang subur makmur? Jika anda pergi ke Mekah jutaan manusia setiap waktu shalat terlihat masuk dan keluar masjid. Shalat berjamaah jutaam manusia setiap hari tiada henti. Inilah rahasia kenapa Mekah dan Madinah menjadi tempat yang diberkahi Allah.

 "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (Ibrahim, 14:37).

Dibalik lembah yang tidak punya tanam-tanaman kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi dengan makanan, setelah tempat itu menjadi tempat didirikannya shalat. Jadi poisisi shalat di sini menjadi pemberkah tempat tinggal.

Maka bagi muslim-muslim yang taat pada Allah dengan konsisten melaksanakan shalat tidak ada kata hidup miskin di jalan iman kepada Allah. Jika shalat dilaksanakan berjamaah setiap hari permberkahannya lebih dahsyat.  

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman". (Yunus, 10:87).

Bagi orang berakal sehat, shalat bukan kewajiban tapi cara hidup agar selalu diberkahi Allah. Shalat menjadi karakter setiap orang beriman kepada Allah. Rugi besar jika tidak shalat karena shalat jadi sebab keberkahan setiap rumah yang kita tempati.  Teori dan faktanya sudah terbukti hingga sekarang Mekah jadi tempat diberkahi karena aktivitas shalat. Sekolah, kampus, kantor, negara, jika ingin sejahtera aktivitas shalat harus jadi gerakan bersama. Wallahu’alam.


Friday, November 14, 2025

TIDAK SHALAT KAFIR

Oleh Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di dalam hadis Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Atas dasar inilah, para ulama mengajarkan bahwa shalat adalah ibadah paling penting dalam Islam. Dasar para ulama bersumber pada hadis Nabi Muhammad saw. Para ulama mengajarkan shalat sebagai ibadah paling penting didasari keterangan yang benar bersumber keterangan hadis. Inilah logika berpikir para ulama.

Pedoman Nabi Muhammad dalam berpendapat dipastikan wahyu Al Quran. Maka untuk memperkuat hadis Nabi Muhammad saw, ada kisah di dalam Al Quran yang dapat kita renungkan. 


“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah, 2:34).

Al Quran mengabarkan, Allah telah memerintahkan kepada malaikat untuk sujud kepada Adam, maka malaikat sujud kecuali iblis. Maka Iblis tergolong orang-orang yang tidak mau sujud, maka dia termasuk orang-orang kafir. Tanda dari orang kafir adalah tidak mau sujud sesuai perintah Allah.

Peristiwa dalam Al Baqarah ayat 34 kita kaitkan dengan shalat. Shalat merupakan perintah Allah, didalamnya ada gerakan sujud. Jika dihubungkan dengan kisah Al Baqarah ayat 34, di situ ada yang tidak mau sujud yaitu iblis. Kemudian Allah memberi katergori iblis sebagai golongan dari orang-orang kafir.  

Atas dasar inilah, Nabi Muhammad saw, dan para sahabat, dan para ulama sangat menganjurkan shalat karena dapat dipahami karena shalat menjadi tanda pembeda antara orang beriman atau kafir. 

Orang-orang yang rusak shalatnya yaitu dia yang mengaku beriman, suka sedekah, suka berbuat baik, tetapi tidak mau shalat (sujud), maka rusak seluruh amalnya. 

Inilah alasan mengapa Ustad Das’ad Latif mengatakan shalat adalah kunci diterimanya semua ibadah, karena tidak shalat (sujud) termasuk golongan kafir. Wallahu'alam.***

SHALAT PENGHAPUS DOSA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah penghapus dosa. Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. Maka Allah Yang Maha Rahman dan Rahim menjelaskan bahwa shalat sebagai perbuatan baik yang dapat menghapus dosa. 

Jika shalat dipahami sebagai penghapus dosa inilah pola pikir dari manusia berakal akal sehat.  Maka manusia berakal sehat tidak akan meninggalkan shalat, karena ada kebaikan dan keberuntungan dari shalat.  

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumu'ah, 62:10).

Alasan shalat penghapus dosa dapat dipahami dari informasi Al Quran di bawah ini. Ingatlah tidak ada sebaik-baiknya alasan dalam berpendapat kecuali beralasan dengan informasi data bersumber pada yang sudah terjamin kebenarannya yaitu Al Quran.  

"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Huud, 11:114).

Pengetahuan  Al Quran ini bisa jadi motivasi bagi orang Islam untuk disiplin shalat. Tidak perlu diperintah atau diingatkan orang lain, dengan memahami ayat ini orang dengan sendiri akan shalat atas dasar motivasi dari dirinya karena paham bahwa shalat mendatangkan kebaikan demi kebaikan bagi dirinya berdasarkan penjelasan dari Allah.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah saw bersabda: "Apakah kalian tidak ingin aku tunjukkan amalan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?" Para sahabat menjawab, "Tunjukkanlah, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Menyempurnakan wudhu meskipun dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah yang dinamakan ribat (berjaga di jalan Allah)." (HR. Muslim, No. 251)

Bagi para pelaku dosa, sebesar apapun dosa maka shalat telah Allah tetapkan menjadi perbuatan baik yang akan menghapus dosa. Allah juga memberi motivasi pada para pelaku dosa bahwa Allah maha pengampun. "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Baqarah, 2:173).

Dosa adalah perbuatan-perbuatan buruk baik telihat maupun tidak terlihat yang akan menghambat datangnya rezeki. Sebab Allah menjanjikan rezeki atau kebaikan dari kebaikan. 

Dosa dapat diartikan sebagai penghambat rezeki manusia. Allah tidak memberi rezeki dari dosa. Allah memberi rezeki dari hal-hal baik yang dilakukan. Allah sudah menetapkan sebuah kepastian dalam hidup bahwa kebaikan pasti berbalas kebaikan. 

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar Rahman, 55:60).

Shalat adalah kebaikan yang akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Maka bagi manusia berakal sehat dia akan selalu shalat agar dosanya dihapus dan rezekinya lancar.

Shalat adalah sebaik-baiknya pengajaran yang harus selalu diajarkan bukan hanya perbuatan fisiknya tapi pola pikirnya. Maka selain pembiasaan shalat bersama-sama, pikiran juga harus dilatih dengan pengetahuan bahwa shalat penghapus dosa dan shalat melancarkan rezeki. 

Shalat bukan hanya pelajaran gerakan ritual tetapi sebagai pelajaran berpikir. "Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Huud, 11:114). Allah akan menilai perbuatan orang dari isi pikirannya bukan perbuatan fisiknya. Wallahu'alam.***

SHALAT BANGUN KETANGGUHAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Untuk menggali hubungan antara shalat dengan ketangguhan, kita bisa gali informasi dari Al Quran. Dalam kaidah keilmuan, sebaik-baiknya pendapat harus didasari oleh data dan fakta yang telah terjamin kebenarannya. 

Dalam kaidah ilmu, untuk menguji sebuh kebenaran pendapat, bukan dilihat dari siapa pendapat dikemukakan tetapi seberapa valid data atau fakta yang mendasarinya. Maka dalam metodologi penelitian selalu ada langkah uji kesahihan dan kebenaran data. 

Al Quran berisi data, fakta, yang sudah teruji berabad-abad kesahihah dan kebenarannya. Maka data dan fakta di dalam Al Quran tidak diragukan lagi kebenarannya. Jika demikian, Al Quran menjadi anugerah besar bagi umat manusia sebagai sumber gagasan dalam memahami segala fenomena kehidupan di dunia.

Ide shalat dapat membangun ketangguhan jiwa bagi orang-orang yang melaksanakan shalat, informasinya bisa digali langsung dari berita Al Quran. 

"orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (Al Hajj, 22:41).

Orang-orang tangguh adalah mereka yang menyerahkan segala urusan kepada Allah, salah satu ciri dari orang-orang tangguh kedudukannya di muka bumi adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang-orang yang diteguhkan oleh Allah adalah orang-orang tangguh karena mereka telah diilhami jiwa-jiwa tenang karena mendirikan shalat. Di dalam kumandang adzan ada kalimat "marilah kita raih kemenangan", merupakan pola pikir (mindset) tumbuh bagi siapa saja yang setia mendirikan shalat.

Berdasarkan pengamatan di sekolah selama murid-murid melaksanakan program shalat dhuha 12 rakaat tiap hari, ketika mereka mendapat kegagalan dari cita-cita yang mereka inginkan, sikap mereka tidak terlihat kecewa dan tetap optimis dan mereka berani mencoba alternatif lain demi mencapai cita-cita.

Secara psikologis, murid-murid yang terlihat setiap hari disiplin melaksanakan program shalat dhuha 12 rakaat, pribadinya terbentuk menjadi lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas perannya sebagai pelajar dan lebih tekun belajar.

Ustadz Yusuf Mansyur mengatakan shalat dhuha merupakan suatu usaha dalam membentuk ketangguhan pribadi kita, karena dengan shalat dhuha kita mendapatkan semacam latihan yang dahsyat untuk memperkuat pribadi dan keyakinan. (Dyanyka, 2021, Syahfitri, 2023).

Shalat merupakan latihan fisik, psikologis, dan emosi, untuk selalu fokus menggantungkan diri secara berkelanjutan kepada Allah sebagai penolong dari segala kesulitan hidup di dunia. Dalam kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw shalat jadi sarana Nabi dan para sahabat untuk memohon pertolongan dari Allah. 

"Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab serta mendirikan shalat, karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al A'raaf, 7:170).

Shalat menjadi sarana manusia untuk berkomunikasi dengan Allah. Shalat merupakan upaya perbaikan kualitas hidup yang dilakukan terus menerus oleh orang-orang beriman. Dengan mengingat Allah membuat hati tenang karena itu adalah anugerah kebaikan yang telah dijanjikan Allah bagi mereka yang ingat Allah. 

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An Nisaa, 4:103).

Ingat Allah adalah bentuk komunikasi antara makhluk dengan Allah. Hal ini dilakukan dalam shalat. Orang-orang yang menggantungkan diri dengan selalu berkomunikasi dengan Allah melalui shalat, sesungguhnya dia telah bergantung kepada tali yang kokoh.

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah, 2:255). 

Sesungguhnya orang-orang shalat dia manusia-manusia tangguh karena mereka telah bergantung pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Tidak ada perkataan yang lebih kuat dari perkataan Allah dalam Al Quran. Sebaik-baiknya pendapat adalah pendapat yang dilandasi data dan fakta yang telah dijamin kebenarannya. Tidak ada paksaan dalam kebenaran***

Friday, November 7, 2025

SHALAT OBAT MALAS

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Berdasarkan pengamatan bertahun-tahun pada murid yang bermasalah seperti mencuri, corat-coret tembok, berkelahi, sering bolos, malas baca, tidak mengerjakan tugas, pertanyaan pertama kepada mereka ketika di wawancara, "apakah kamu disiplin melaksanakan shalat lima waktu?" 

Murid menjawab dengan jujur dan fakta ini tidak bertujuan untuk menghakimi tapi untuk memperbaiki. Dalam layanan ramah anak, murid tidak boleh dihakimi karena kesalahannya. Semua kesalahan adalah studi kasus dalam pembelajaran dan harus dicari solusinya.

Jawaban murid dalam semua kasus hampir sama, "tidak disiplin shalat". Mereka mengaku tidak melaksanakan shalat secara disiplin dan jarang. Fakta ini menunjukkan murid-murid yang tidak disiplin shalat telah menjadi pelaku kenakalan di sekolah. Sebaliknya, murid-murid yang berpilaku baik, berprestasi, diterima diperguruan tinggi jalur raport, hampir 100% disiplin melaksanakan shalat.


Semua kenakalan terjadi pada murid di sekolah disebabkan oleh prilaku malas. Murid-murid yang tidak disiplin shalat rata-rata malas belajar. Malas menjadi alasan klasik murid-murid tidak belajar. Secara psikologis malas ada pada setiap orang.

Jika kita teliti dalam Al Quran, kata malas ada kaitan dengan shalat. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (An Nisaa, 4:142).

Ada kaitan apa antara shalat dengan malas? Ini gagasan dari Al Quran untuk dipikirkan. Pola kaitan antara shalat dan malas bisa sebab akibat. Namun sangat tidak mungkin jika shalat jadi penyebab malas. Shalat selalu dipandang kebaikan, sedangkan kebaikan berbalas kebaikan. Maka tidak mungkin malas disebabkan oleh shalat. 

Jika kita cari akar masalah dari ayat di atas, ada penyebab kenapa orang malas? Penyebabnya yaitu prilaku munafik dan suka menipu Allah. Prilaku munafik, menipu Allah, jelas ini perbuatan buruk. Perbuatan buruk pasti jadi sebab keburukan selanjutnya.

Orang Islam tidak shalat dia telah menipu Allah. Mengapa? Ketika beragama Islam dia sudah syahadat. Syahadat adalah janji akan taat pada Allah dan rasulnya. Allah perintahkan shalat lima waktu. Siapa yang tidak shalat maka dia telah menipu Allah, dan pada faktanya sebenarnya dia telah menipu dirinya sendiri.   

Maka dapat dipahami, penyebab kemalasan adalah prilaku buruk yang pernah dilakukan orang sebelumnya, yaitu prilaku munafik atau menipu Allah. Orang munafik pasti malas karena dia tidak punya keyakinan atau harapan dari apa yang dia kerjakan akan berdampak baik. 

Maka obat malas ada dalam ayat itu yaitu shalat. Secara psikologis orang shalat berdasarkan keyakinan dan harapan. Orang shalat selalu berniat untuk memeprbaiki diri. Shalat terbaik dilakukan di awal waktu, sebagaimana dijelaskan Nabi Muhammad dalam hadis.

Orang shalat hidupnya dinamis, karena lima kali dalam sehari akan bergerak menuju tempat shalat atau masjid. Orang yang disiplin shalat tidak akan bangun kesiangan karena jam 4.00 pagi sudah mandi, pergi ke masjid, dan shalat. 

Orang shalat selalu menghargai waktu. Sehari-harinya dia akan ingat waktu, karena ingat shalat jadi selalu ingat waktu. Orang-orang shalat akan menghargai waktu, karena itu orang shalat hidup disiplin dan tidak malas. 

Orang shalat selalu ada dorongan dari hati dan pikirannya untuk shalat. Ketika tidur, bangun di tengah malam  saatnya  shalat tahajud,  ketika bekerja di waktu pagi tidak lupa waktu shalat dhuha. Orang shalat hidupnya dinamis, dan selalu bertindak efektif, dan efisien. 

Berdasarkan fakta-fakta ditemukan pada murid-murid yang melakukan kenakalan, shalat bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan psikologi dan emosi. Jika kita perhatikan orang-orang shalat emosinya terkendali.

Shalat memiliki banyak manfaat jika terus diteliti. Shalat adalah ilmu dari Allah, dan sebagaimana janji Allah, sekalipun lautan jadi tinta, tidak akan habis hikmah dari ayat-ayat Allah kita tulis.***   

Saturday, October 25, 2025

OTAK PEMALAS

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kenapa kamu tidak shalat? Kenapa datang kesiangan? Kenapa tidak membaca buku? Kenpa tidak mengerjakan tugas? Kenapa tidak olah raga pagi? Kenapa tidak bangun subuh? Sederet pertanyaan itu sering diajukan oleh orang tua atau guru? 

Jika sederet pertanyaan itu ditanyakan oleh diri kita sendiri. Maka jawaban yang paling sering di dengar oleh diri kita sendiri adalah " karena malas".  Malas itu jawaban singkat padat dan mematikan si penanya. 

Ketika ditanya, "kenapa malas?" Pertanyaan pendek ini membutuhkan kerja keras otak untuk menjawabnya. Kebanyakan, orang  yang ditanya kenapa malas? Jawabannya tidak akan memuaskan penanya.


Secara psikologis, malas adalah penyakit mental adanya di pikiran. Cara mengobatinya harus belajar cara berpikir sehat. Pikiran sakit terlihat pada prilaku buruk berulang-ulang tanpa merasa bersalah. Cara berpikir sehat ada ilmunya. 

Pikiran sakit penyebabnya adalah otak kekurangan pengetahuan baik. Pengetahuan-pengetahuan baik di dapat dari ilmu yang bisa dibaca dari buku. Namun tidak semua buku bisa memberikan energi positif. 

Prilaku malas disebabkan otak kekurangan pengetahuan baik. Membaca Al Quran bisa jadi salah satu solusi untuk mengisi pengetahuan di otak untuk menyehatkan pikiran. Syaratnya membaca Al Quran dengan menggali pola-pola pikir yang terknadung dalam makna Al Quran. 

Salah satu pengetahuan yang bisa dijadikan obat malas bisa disimak dalam ayat Al Quran. Ayat ini menjelaskan obat untuk otak yang selalu melahirkan pikiran malas. 

"dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (Al Lail, 92:6-7). 

Otak rajin, disiplin, sabar, tepati janji, selalu memiliki harapan baik dari apa yang telah dilakukannya. Harapan baik itu informasinya didapat dari sumber informasi yang terpercaya bukan hoaks atau halusinasi. Infromasi Al Quran punya validitas tinggi, dan pasti benar.

Allah menjanjikan kebaikan dari setiap kebaikan yang dilakukan. Jika informasi ini diterima oleh otak dan disimpan di memori, maka setiap pekerjaan baik apapun akan dikerjakan karena otak selalu menyimpan informasi punya harapan baik. 

Otak yang selalu menyimpan informasi baik, akan mudah melakukan hal-hal baik apapun karena harapannya selalu baik. Harapan baik yang dibangun dari informasi Al Quran bersifat tanpa batas dan abadi, karena tidak terbatas pada harapan material. Inilah keunggulan informasi Al Quran.

Otak pemalas dibangun oleh informasi buruk yang tersimpan di memori, sehingga ketika melakukan prilaku baik cenderung ragu karena tidak punya informasi baik, pada akhirnya mengambil sikap diam. Diinformasi dari Al Quran, pemalas disebabkan menyimpan informasi dusta pada 

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya yang sukar. (Al Lail, 92:8-10).

Mendustakan balasan pahala terbaik adalah penyebab otak malas. Informasi ini jika tersimpan dalam jangka panjang akan masuk ke otak bawah sadar dan menjadi karakter. Jika karakter ini sudah melekat pada otak, maka otak akan sulit menerima hal baik dan sulit melakukan hal-hal baik atau malas.

Jadi obat malas adalah menghapus pengetahuan-pengetahuan buruk yang ada di otak dengan memasukkan informasi-informasi baik. Salah satu informasi baik yang harus dimasukkan ke otak untuk menghapus infromasi buruk yaitu "membenarkan bahwa Allah akan membalas lebih baik setiap perbuatan-perbuatan baik". 

Dapat dihapami secara rasional mengapa Allah memerintahkan untuk membaca pada awal Nabi Muhammad menerima wahyu di Gua Hira. Pengetahuan di otak adalah pondasi awal agar manusia mau belajar dan terus berpikir.***


Thursday, October 23, 2025

LOGIKA ORANG SHALAT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Shalat adalah perintah Allah tertulis di dalam Al Quran. Mengapa ada orang-orang masih malas shalat padahal sudah tahu diperintah Allah. Jawabannya, karena belum mengerti logika shalat.

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (Al Baqarah, 2:43). 

Berpikir dengan logika adalah berpikir sebab akibat. Allah sudah mengabarkan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memiliki sebab dan akibat. Pengetahuan sebab dan akibat hanya datang dari Allah. Allah mengajarkan pengetahuan yang tidak manusia ketahui.

"Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". (Al 'Alaq, 96:5). 

Shalat adalah perintah Allah, dan Allah tidak memerintahkan sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi manusia. Allah memberi tahu manfaat-manfaat apa yang didapat jika manusia taat pada Allah melaksanakan shalat. 

Allah memberi kabar gembira bagi orang-orang shalat. Kabar gembira adalah energi positif, pemberi semangat dan motivasi kepada orang shalat. Maka agar shalat tetap bersemangat ingatlah kabar-kabar gembira dari Allah yang dikabarkan dalam Al Quran.

Kabar dalam Al Quran dari Allah, tidak ada kabar baik yang benar-benar nyata dari Allah kecuali dikabarkan dari Al Quran. Kitab suci berisi data, fakta, yang benar-benar shahih, valid, dan terpercaya. Jika kita berbicara menggunakan informasi, data, fakta, dari Al Quran, maka sesungguhnya perkataan itu mengandung kebenaran.

Kabar gembira dari Allah dikabarkan dalam Al Quran. Kabar ini harus disimpan di memori otak, diingat, dan jadikan pola pikir sebab akibat ketika hendak melakukan shalat. Ingatlah dan teliti ayat Al Quran di bawah ini.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (Al Jumu'ah, 62:10).

Al Quran mengabarkan bahwa orang-orang yang shalat dan selalu ingat Allah, mereka dijanjikan keberuntungan besar. Ini janji Allah bagi orang shalat.

"Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar." (An Nisaa, 4:162).

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati." (Al-Baqarah, 2:277).

Data dari Al Quran di atas harus menjadi pola berlogika orang-orang shalat. Logika shalat ini harus tersimpan di memori dan digunakan sebagai penyemangat ketika kita hendak melaksanakan shalat. 

Data dari Al Quran ini harus diingat berulang-ulang ketika hendak melaksanakan shalat, sampai berubah menjadi mindset atau keyakinan yang sudah tersimpah di dalam sistem otak bawah sadar. 

Logika orang-orang shalat bukan dibangun dari narasi penelitian alam, tapi diawali dari logika Tuhan bersumber penjelasan Al Quran. Inilah logika berpikir dari Allah penguasa seluruh alam, siapa yang shalat dia akan mendapat keberuntungan besar dari Allah. Inilah logika orang shalat. Wallahu'alam.*** 

  


Sunday, October 19, 2025

KARAKTER MANUSIA UNGGUL ALI IMRAN 134

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Keunggulan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dilihat dari karakter. Rakyat Palestina merupakan bukti keunggulan karkter orang-orang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan tidak berbisik kepada manusia, dan Tuhan tidak datang memperlihatkan wujud pada manusia.

Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui kitab suci yang ditinggalkan para rasul. Rakyat Palestina percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mereka berkomunikasi dengan Tuhan melalui kitab suci Al Quran. Mereka adalah umat terbaik sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." (Al Baqarah, 2:110).

Karakter umat terbaik dijelaskan dalam berbagai ayat Al Quran. Umat terbaik bukan hanya mengaku muslim dan beriman kepada Al Quran. Umat terbaik yang dimaksud Allah mereka yang berkarakter unggul dan mereka dicintai Allah. 

"orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran, 3:134).

Umat terbaik ciri karakternya antara lain; memiliki kebiasaan bersedekah dalam kondisi sempit maupun lapang. Manusia terbaik tidak ada kata minta-minta, mereka menjaga diri dari minta-minta. Mindset manusia unggul dipikirannya selalu berusaha memberi manfaat untuk orang lain. 

Kedua ciri dari karkater unggul adalah menahan nafsu atau amarahnya selalu terkendali. Manusia berkarkater unggul tidak emosinya tidak meledak-ledak dan tidak mudah tersulut emosi. Mereka punya kecerdasan emosi tinggi sehingga mampu mengendalikan dan meredam marah. 

Ketiga, ciri dari karakter unggul adalah selalu menjadi pemaaf bagi manusia lain. Jiwa pemaaf dimiliki tanpa melihat siapa yang benar atau salah. Benar dan salah hanya ada dipengadilan Allah. Berjiwa pemaaf tidak berarti merasa ada pada posisi kalah tapi sebaliknya sebagai pemenang, karena menjadi manusia terbaik dihadapan Allah.

Konflik sesama manusia terjadi karena saling berebut materi, karena manusia unggul sudah berjiwa selalu memberi, maka kehilangan materi bukan suatu hal penting dalam kehidupan dunia. Maka manusia-manusia unggul selain penyejahtera juga menjadi juru damai dimanapun berada. Manusia unggul tidak berkepanjangan konflik hanya untuk memperebutkan materi di dunia.

Bagi manusia-manusia unggul selalu merasa cukup Allah sebagai penjamin kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Manusia unggul yakin tidak akan ada manusia miskin karena berharap cinta Allah. Harta benda yang ada di langit dan bumi di dalam kekuasaan Allah, dan Allah akan memberikannya kepada siapa saja yang dicintainya.*** 

Tuesday, October 7, 2025

GURU MEWARISI PARA NABI

Oleh: Dr. Toto Suharya, M.Pd.

Di negara-negara berperadaban, kedudukan guru sangat dihormati. Jepang, China, Korea, Swedia, Finlandia, saat ini dikenal sebagai negara dengan kualitas pendidikan karakter terbaik di dunia. Mereka sangat menghormati kedudukan guru, dan guru mendapat status terhormat di masyarakat.

Hipotesis ini kemungkinan besar benar. Di negara-negara dengan kualitas pendidikan terbaik, dipastikan berhubungan positif dengan budaya murid-murid dan masyarakat menghormati dan menghargai guru. Berbanding terbalik dengan negara-negara dengan kualitas pendidikan buruk, masyarakatnya sangat tidak menghargai guru bahkan menyepelekannya.

Di negara-negara beradab para guru dipilih dari kaulitas manusia terbaik dan diberi penghargaan sangat baik. Di negara-negara jahiliyah, siapa saja bisa jadi guru dengan penghargaan hak hidup tidak layak bahkan dibawah hak hidup binatang piaraan.

Negara-negara dengan karakter buruk dan ilmu pengetahuan tertinggal, sangat identik dengan nasib guru-guru yang teraniaya dan dianggap beban negara. Perguruan tinggi-perguruan tinggi dan pemikir-pemikir di negara jahiliyah, ilmu-ilmu keguruan tidak diperdalam lagi.

Sebenarnya, pekerjaan paling terhormat adalah guru. Menghormati profesi guru seperti menghormati para nabi, karena guru jika ditarik ke belakang dia pewaris para nabi yang menjaga pesan-pesan moralitas kemanusiaan turun-temurun dari para nabi.

Demi Al Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, di atas jalan yang lurus, yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yasin, 36:2-6).

Filosofi ilmu keguruan berlandaskan pada tugas para nabi dan rasul, yaitu sebagai pemberi peringatan. Hingga sekarang turun-temurun tugas para nabi dilanjutkan oleh para guru. Di sekolah, kampus, guru-guru mengajarkan moralitas bagaimana manusia harus hidup berdampingan dengan manusia lain.

Tingginya peradaban manusia bukan dari keberhasilan menciptakan teknologi-teknologi terbaru, tapi dilihat dari karakter baik dalam penggunaan teknologi. Jika, manusia bisa menciptakan teknologi perang termutakhir, tapi digunakan untuk genosida suatu bangsa, mereka bukan manusia-manusia terbaik. 

Tugas guru yang abadi bukan mengajarkan bagaimana teknologi terbaru dapat diciptakan, tetapi bagaimana mengajarkan dan membimbing manusia agar tetap punya rasa kemanusiaan. Inilah pesan turun temurun dari para nabi hingga sekarang.

Bangsa gagal dapat dilihat dari dua kriteria guru. Pertama, guru yang hanya mengajarkan bagaimana manusia mencapai tujuan hidup tanpa mengajarkan moralitas kemanusiaan. Di negara ini, guru dihormati, ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi tujuan pendidikan menyimpang karena sikap saling menghargai, saling menolong, saling membantu sesama manusia tidak lagi jadi tujuan pendidikan hakiki. 

Kedua, negara gagal ditandai dengan kedudukan guru direndahkan, dilecehkan, tidak dihormati, dan tidak jadi prioritas dalam pembangunan sumber daya manusia. Dunia pendidikan jadi kerangjang sampah tempat manusia-manusia rendahan berkumpul. Masyarakat menuntut kualitas pendidikan tinggi, tapi mereka sendiri tidak mau berkorban.

Jika ingin memperbaiki bangsa dan peradaban saat ini, salah satu yang harus dipulihkan kembali adalah filosofi, fungsi, dan peran guru di dunia pendidikan. Siapa guru perlu dikaji kembali, dan kedudukan guru perlu dikembalikan pada asalnya dengan melihat fungsi dan peran para utusan Tuhan di muka bumi.

Benang merah fungsi dan peran guru tidak lain adalah melanjutkan misi para utusan agar manusia tetap beriman pada Tuhan, punya rasa takut pada Tuhan, dan menjalankan perintah Tuhan. Apapun teknologinya hidup ini hanya perhiasan dan permainan. 

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al An'aam, 6:32).

Para nabi diturunkan ke bumi bukan untuk menciptakan teknologi, tapi untuk memberi kabar gembira pada mereka yang berbuat baik pada sesama, menghargai nyawa manusia tanpa melihat ras, suku, budaya, dan agama. Para nabi mengajarkan hidup berdampingan, menjaga perdamaian, dan saling mensejahterakan. 

Para nabi mengajari bahwa manusia-manusia berkualitas tinggi mereka yang mengakui eksitensi Tuhan sebagai pemilik kekuasaan tertinggi. Manusia-manusia yang mengakui eksitensi Tuhan, tak peduli seberapa tinggi teknologi dikuasai, dia masih memiliki rasa takut yaitu takut kepada Tuhan jika berbuat kerusakan di muka bumi.

Percaya pada Tuhan bukan dibuktikan dengan semata-mata berhenti pada ibadah ritual, tapi dilanjutkan dengan berbaik pada sesama sebagaimana Tuhan berbuat baik pada manusia. Inilah ajaran moral para guru utusan dari abad ke abad. 

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".  (Al Kahfi, 18:110).

Hancurnya peradaban bukan karena manusia tertinggal dari kemajuan teknologi. Kehancuran peradaban diawali dengan hilangnya rasa kemanusiaan dengan membiarkan orang-orang mati kelaparan, nyawa mausia tidak berharga tidak lebih berharga dari binatang peliharaan. Genosida di Palestina adalah tanda-tanda kehancuran peradaban manusia dimulai, dan Allah akan menggantikan dengan peradaban baru.

"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Al An'aam, 6:6).

Upaya yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki pendidikan manusia dengan mengembalikan manusia kepada jati dirinya yaitu manusia beriman kepada Tuhan sebagai pemimpin pembawa manusia pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.***

Saturday, September 6, 2025

KARAKTER ORANG BERSYUKUR DALAM AL QURAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (Ibrahim, 14:7).

Mari kita bedah, siapa sebenarnya orang bersyukur? Kita coba identifikasi dari penjelasan Al Quran. Sebaik-baiknya penjelasan bersumber dari Al Quran. Al Quran petunjuk bagi manusia yang punya keyakinan pada Tuhan Esa.

Orang bersyukur memiliki karakter, dan apa ciri karakter dari orang bersyukur. Nabi Muhammad saw. merupakan contoh terbaik dari manusia bersuyukur. Karakter Nabi Muhammad saw. sebagai orang bersyukur dijelaskan di dalam Al Quran.


Ebook Sukses Dengan Logika Tuhan : https://lynk.id/mastershopi

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran, 3:144).

Jika kita gali penjelasan berikutnya dalam Al Quran, apa ciri dari karakter orang bersyukur, Allah menjelaskannya dengan indah.

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran, 3:145).

Allah memberikan pahala dunia dan akhirat kepada orang-orang bersyukur. Bagi orang bersyukur kematian tidak menghalangi harapan-harapan baiknya kepada Allah. Orang bersyukur berani menghadapi segala tantangan dan risiko sekalipun kematian akan dihadapinya. Lebih rinci lagi Allah menjelaskan ciri karakter orang bersyukur?

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran, 3:146).

Karakter orang-orang bersyukur, dia tidak menjadi lemah karena ditimpa bencana, tidak lelah dan pantang menyerah. Mereka bersabar menjalani visi dan misi hidupnya dengan terus berharap baik kepada Allah. Dia memilih bersabar menjalani kehidupan di jalan kebaikan.

"Tidak ada perkatan mereka selain ucapan doa: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Ali Imran, 3:147).

Ciri karakter orang bersyukur, dari mulutnya tidak ada kata sia-sia, kecuali kata-kata positif yang selalu mengandung harapan baik  atau doa. Perkataan mereka mengandung harapan-harapan baik berupa ampunan Allah dan menambah keteguhan pendirian karena kata-katanya positif menyebabkan datangnya pertolongan dari Allah.

"Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan". (Ali Imran, 148).

Jadi, karakter orang bersyukur digambarkan sebagai sosok para syuhada. Cirinya adalah dia selalu punya peluang baik dalam menghadapi segala kejadian (growth mindset). Hidupnya penuh dengan keberanian, yaitu berani menghadapi segala risiko yang akan terjadi, tidak pernah merasa lemah karena ditimpa bencana, tidak pernah merasa lelah, pantang menyerah dan pantang putus asa. 

Dari mulutnya selalu keluar kata-kata positif penuh dengan optimisme karena selalu taat dan berharap baik pada Allah. Itulah karakter tangguh ciri dari orang-orang bersyukur yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Monday, September 1, 2025

KAYA ITU WAJIB?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Menarik menyimak podcast Prof. Muhammad Syafi'i Antonio di channel @HelmyYahyaBicara, tentang kenapa muslim harus kaya? Salah satu jawabannya adalah kesalahan dalam memahami makna juhud. Kata juhud diartikan meninggalkan keduniawian, padahal kita hidup di dunia. Seseorang tidak bisa menghindari dunia. Ibu, Istri, anak, sekolah, adalah dunia. Dunia dicari dengan cara halal.

Menurut Prof. M. Syafi'i Antonia kaya itu wajib. Kayalah dengan sekaya-kayanya dengan tiga catatan. Satu, carilah kekayaan dengan cara halal. Ikuti aturan yang berlaku. Dua, tidak boleh sombong. Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati. Tiga, harus mau berbagi, di atas 2,5%, 5%, 10%.

Di mayoritas umat Islam ada pemahaman menjadi orang kaya kurang baik. Hal ini berangkat dari masalah intelektual atau filosofis. Juhud dipahami terlalu tekstual, sehingga pemahamannya menjadi sempit bahwa juhud artinya meninggalkan urusan dunia. Padahal setiap hari hidup kita berurusan dengan dunia.


Ebook https://lynk.id/mastershopi

Miskin bisa sangat berbahaya. Jika kita miskin ada ibadah-ibadah yang tidak bisa dilakukan orang miskin. Shalat masih bisa dilakukan orang miskin. Zakat, sedekah, wakaf, hibah, pelihara anak yatim, ibadah haji, tidak bisa dilakukan oleh orang miskin. Orang miskin ibadahnya menjadi terbatas.

Ada peran-peran Nabi Muhammad yang tidak dipelajari dengan serius. Dalam catatan sejarah Nabi Muhammad melakukan berbagai peran manusia dalam kehidupan dunia. Nabi menjadi pedagang, investor, kepala rumah tangga, guru, pendakwah, diplomat, politisi, dll. Peran nabi yang paling banyak di pahami adalah sebagai pendakwah. Peran-peran Nabi Muhammad dalam bidang lainnya kurang didalami. 

Dalam sebuah ensiklopedi yang di susun Prof. M. Syafi'i Antonio, Rasul berdagang hampir 27 tahun hingga 29 tahun, jadi nabinya cuma 23 tahun. Berdasarkan fakta ini, disimpulkan bahwa ternyata kemandirian syarat utama untuk bicara bebas. 

Betapa mulianya para pedagang, sampai-sampai ada hadis Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa pedagang yang amanah bersama para nabi, para syuhada, dan para ulama. Masalahnya adalah, cara-cara Nabi berdagang, kurang dipelajari oleh umat Islam, karena lebih banyak mempelajari bagian dakwahnya.

Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Prof. M. Syafi'a Antonio cukup menggugah umat Islam untuk refleksi diri. Penulis akui, pemahaman agama yang beredar terlalu fokus pada pendapat-pendapat dari pemikir-pemikir tasawuf yang mengajarkan umat beragama untuk meninggalkan hal-hal duniawi. Maka dari itu, kegiatan ekonomi tidak begitu digeluti oleh penganut agama Islam.  

Menurut pendekatan tasawuf, orang-orang suci menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Maka, orang-orang suci digambarkan dengan orang-orang miskin, hidup apa adanya. Pemahaman ini terus dinarasikan melalui pengajaran-pengajaran agama, dakwah-dakwah televisi, cerita rakyat, dongeng,  film, peringatan hari besar agama, dll.

Para ulama tasawuf menafsirkan hadis-hadis Nabi Muhammad tentang kondisi miskin, yang hasilnya pemahaman tentang juhud adalah menjauhkan diri dari kehidupan dunia. Pada ujung hidupnya, Nabi Muhammad memang tidak meninggalkan istana, kerajaan, dan kekayaan. Tapi sejarah Nabi Muhammad sejak dari anak-anak hingga dewasa, Beliau dikisahkan bukan orang miskin. 

Menurut Prof. M. Syafi'i Antonio, ada kisah dalam hadis, Nabi Muhammad bukan orang miskin, tetapi seluruh hartanya dihabiskan untuk sedekah.Saya sepakat dengan Prof. M. Syafi'i Antonio bahwa umat Islam menghadapi masalah intelektual, sosial, emosi, dan spiritual. Perlu refleksi dan keterbukaan umat Islam untuk membuka diri terhadap pandangan-pandangan berbeda agar umat Islam bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat sebagai Al Quran mengabarkan.

Ruang-ruang diskusi harus terus dibuka. Ruang diskusi dikemas tanpa menghakimi karena merasa menjadi pemilik kebenaran. Siapapun yang menafsirkan Al Quran dan Hadis, mereka tidak dijamin 100% benar karena keberanan milik Allah. Hikmah ilmu dari Allah sangat luas, sekalipun laut jadi tinta, maka tinta itu akan habis sebelum habis hikmah-hikmah dari Allah ditulis.

Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al Kahfi, 18:109).***

Saturday, August 23, 2025

INGIN KAYA BACALAH AL WAQIAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Para ulama sering menasehatkan bacalah surat Al Waqiah bagi siapa yang ingin dimudahkan rezeki. Pesan ini turun temurun terus disampaikan hingga sekarang. Apa yang disampaikan para ulama mengacu kepada hadis Nabi Muhammad SAW.

Barang siapa membaca surat Al Waqiah setiap malam, dia tidak akan tertimpa kefakiran selamanya. (HR. Al Baihaqi).

Dalam tulisan ini, saya ingin memberi sedikit penjelasan apa yang terkandung dalam surat Al Waqiah, berkaitan dengan kekayaan. Surat Al Waqiah membawa pesan moral dan etika sebagai bekal untuk orang yang dikehendaki Allah menjadi orang kaya.

Ebook Sukses Dengan Logika Tuhan; https://lynk.id/mastershopi

Pandangan ini berdasarkan pada fungsi pendidikan yaitu membentuk akhlak. Sebagaimana Nabi Muhammad diutus Allah menjadi rasul bertujuan menyempurnakan ahkhlak. Berikut beberapa akhlak atau karkater yang harus dimiliki orang kaya dari surat Al Waqiah:

Pertama; karakter orang yang dikehendaki Allah menjadi orang kaya adalah mereka yang percaya pada hari kiamat. Orang kaya yang meyakini adanya hari akhirat, dia tidak akan mencintai harta kekayaan untuk dirinya sendiri, tapi untuk mensejahterakan orang lain. Kekayaan adalah jalan menuju ridha Allah. 

"Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan, (Al Waqiah, 56:1-6).

Kedua, karakter orang kaya dikehendaki Allah adalah mereka yang tetap hidup sederhana. Di akhirat manusia akan terbagi menjadi tiga golongan, golongan kiri, kanan, dan sabiqun. Golongan kiri akan masuk neraka yaitu tempat buruk penuh dengan ketidaknyamanan. Golongan kiri adalah mereka yang hidup bermewah-mewahan dan terus menerus melakukan dosa besar. 

"Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar." (Al Waqiah, 56:45-46).

Orang kaya yang dikehendaki Allah adalah mereka yang hidup dengan kekayaan tetapi tidak untuk bermewah-mewahan. Orang kaya harus tetap sederhana, dan menggunakan kekayaan untuk jalan berkorban membantu kesulitan banyak orang.

Ketiga, karakter orang kaya dikehendaki Allah adalah mereka yang mengakui bahwa rezeki datang dari Allah, dan manusia hanya menerima titipan. Kekayaan yang dimiliki bukan hak milik pribadi tapi milik Allah. 

"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang." (Al Waqiah, 56:63-65).

Keempat, karakter orang kaya yang dikehendaki Allah, mereka meyakini semua kejadian yang akan terjadi pada manusia sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran. Keyakinan ini menjadi keimanan kuat tanpa keraguan. 

"Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (Al Waqiah, 56:95-96).

Orang kaya yang dikehendaki Allah, selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diterima. Orang-orang kaya memiliki totalitas pengakuan bahwa kekayaan tidak akan menjadikan dirinya merasa besar, sombong, tinggi hati, dan kufur kepada Allah, karena sesungguhnya semua kekayaan adalah milik Allah Yang Maha Besar.*** 

PETUNJUK SUKSES DARI ILMU GHAIB

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Ilmu ghaib itu datang dari Allah, karena sesungguhnya Allah adalah ghaib. Ilmu dari Allah diturunkan me...