Tuesday, March 31, 2020

VIRUS CORONA WORKSHOP ONLINE


Oleh: Toto Suharya

Virus corona tidak menghambat sekolah dan guru-guru untuk melaksanakan program peningkatan kualitas pendidikan. Dalam situasi isolasi terbatas, SMAN 1 Cipeundeuy Bandung Barat Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI meluncurkan Workshop Online untuk guru-guru sejarah. Kegiatan ini dilakukan untuk internal sekolah, namun melibatkan guru-guru sejarah di KCD wilayah VI karena sifatnya gratis dan mudah diakses.  

Menggunakan aplikasi Webex guru-guru sejarah di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur diajak bergabung secara sukarela tanpa dipungut biaya. Efek Virus Corona ternyata memberi peluang kepada pengelola sekolah dan guru untuk melakukan inovasi program. Workshop Online dilakukan bekerjasama dengan Prodi Pendidikan Sejarah UHAMKA Jakarta.


Tema yang diangkat adalah Entrepeneurship in History Education. Tema ini untuk mengajak guru-guru sejarah tidak ketinggalan zaman. Selama ini guru-guru sejarah identik dengan masa lalu, kuno, dan sulit move on. Di dalam workshop guru-guru akan diperkenalkan bahwa tokoh-tokoh sejarah Indonesia memiliki jiwa-jiwa berkarakter entrepreneur. Selama ini entrepreneur dipahami sebagai kegiatan ekonomi, padahal semua tokoh sukses memiliki karakter entrepreneur, termasuk para tokoh sejarah.

Karakter entrepreneur yang dimiliki oleh para tokoh sejarah adalah berani berkorban. Karakter entrepreneur lainnya adalah suka membaca, banyak ide, kreatif, visioner, mampu bertahan dalam kondisi sulit, selalu optimis, dan mandiri.

Tujuan dari workshop ini adalah memberikan pemahaman kepada guru-guru sejarah bahwa pelajaran sejarah bisa diajarkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan mengangkat tokoh-tokoh sejarah nasional sebagai teladan diharapkan guru-guru dapat mengajarkan kepada siswa untuk meneladani dan merasa bangga memiliki tokoh-tokoh sejarah yang berkarakter entrepreneur.

Lunturnya naisonalisme bangsa Indonesia, bisa jadi dimulai dari lunturnya kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap tokoh-tokoh sejarah. Tokoh-tokoh besar sejarah bangsa Indonesia seperti Sukarno, Hatta, Suharto, jangan hanya dikenal dari sisi kekurangannya saja, tapi guru-guru sejarah harus mengajarkan aspek-aspek yang harus diteladani anak-anak dari para tokoh sesuai dengan kebutuhan zaman. Entrepreneuship adalah abad anak-anak milenial, guru-guru sejarah harus memahaminya dan mengajarkan sejarah sesuai dengan kebutuhan zaman. Virus Corona ternyata mendorong para  praktisi pendidikan untuk terus melakukan inovasi dalam pembelajaran. Salam optimis tanpa batas!Wallahu alam.

(Penulis Kepala SMAN 1 CIpeundeuy Bandung Barat).

Sunday, March 29, 2020

CORONA PENYELAMAT DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Toto Suharya

Ditengah-tengah wabah Virus Corona tahun 2020, ternyata dunia pendidikan mendapat kesempatan untuk melakukan perubahan. Pembelajaran online dan dihapuskannya UN dari sistem pendidikan. Ujian Nasional itu sudah usang dan jauh dari harapan pendidikan abad industri 4.0. Corona telah memaksa UN dihapuskan yang bertahun-tahun tidak menghasilkan apa-apa bagi dunia pendidikan, kecuali gengsi dan anggaran.  

Tulisan ini saya buat untuk bahan rekomendasi Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) kepada Presiden Republik Indonesia melalui Bapak Menteri Pendidikan. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi bahan pertimbangan yang bisa meyakinan bahwa rendana DPR dan Mendikbud menghapus UN adalah langkah benar.

Menyimak hasil rapat daring Mendikbud dengan Komisi X DPR RI yang diposting di media sosial, bahwa berangkat dari kekhawatiran penyeberan COVID-19 pada saat pelaksanaan UN tahun ini, kemudian rapat mengarah kepada penghapusan UN dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Menyikapi hasil rapat di atas, DPP AKSI memberikan rekomendasi bahwa penghapusan UN dalam sistem pendidikan nasional dinilai sebagai langkah tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan daya saing lulusan pendidikan kita di tingkat internasional. Rekomendasi tersebut didukung oleh lima argument ilmiah yang penulis jelaskan di bawah.


Pertama, David McClelland (dalam Stanley, 2015, hlm. 84-85) menjelaskan bahwa para peneliti mengalami kesulitan menunjukkan bahwa nilai ujian di sekolah punya kaitan dengan prilaku lain yang penting, selain uji kecakapan. Masyarakat umum dan banyak psikolog serta pejabat kampus menerima fakta bahwa nilai ujian hanya dapat meramalkan prestasi anak di sekolah, tetapi tidak meramalkan sukses dalam prilaku dan prestasi lainnya. Murid dengan indek kumulatif prestasi yang lebih rendah dari hasil penelitian, kehidupan ekonomi mereka sama baik dengan murid yang memiliki nilai prestasi sangat baik.  Kondisi ini menandakan bahwa UN yang diagendakan sebagai kegiatan berbiaya besar tidak menghasilkan prestasi apa-apa kecuali prestasi anak di sekolah.

Kedua, era industri 4.0 ditandai dengan abad entrepreneur. Dari 733 entrepreneur (miliarder) yang disurvey untuk merespon 30 faktor kesuksesan, respon dengan rengking tertinggi mengarah kepada kepemilikan tentang kecerdasan sosial, kreativitas, kepemimpinan, dan guru (mentor) yang baik, sementara kecerdasan intelektual berada pada urutan ke-21. (Stanley, 2015, hlm. 48). Hasil penelitian ini memberikan pemahaman bahwa UN yang menguji kecerdasan intelektual sudah ketinggala zaman.

Ketiga, eksistensi masyarakat jejaring. Menurut pandangan folosofi strukturalisme sebuah unsur (individu) hanya bisa dimengerti melalui keterkaitan  (inter connectedness) antar unsur (manusia) lain. (Kuntowijoyo, 2007, hlm. 32). Pengembangan kompetensi manusia tidak lagi bersifat parsial terpusat, tetapi harus menyeluruh berdasarkan potensi dominan dari sembilan kecerdasan yang dimiliki anak-anak. Untuk itu UN tidak lagi mencerminkan pendidikan yang berpusat pada potensi anak, tapi bersifat penyamarataan yang merugikan potensi-potensi perkembangan psikologi anak, yang menurut Howard Gardner ada sembilan kecerdasan yaitu, logis, linguistik, spasial, musikal, kinestetik, naturalis, intrapersonal, interpersonal, eksistensial atau spiritual. (Baihaqi, 2014, hlm. 164).

Empat, piramida kebutuhan terbalik. Manusia-manusia yang dibutuhkan abad industri 4.0 bukan mereka yang bisa menjawab ujian dengan baik, tapi mereka yang bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial dan lingkungan yang ada di masyarakat. Kebutuhan dasar manusia bukan pada makan, minum, kemananan, dan kenyamanan, melaikan pada sejauhmana dia bisa beraktualisasi, bermanfaat bagi lingkungan dan kemudian dihargai. Manusia ini oleh Victor Frankl disebut sebagai Man’s Search for Meaning. (Marshal & Johar, 2007, hlm. 47). Pelaksanaan UN tidak memberikan makna (value added) apa-apa bagi anak-anak dan lingkungannnya.

Lima, paradigma sistem. Berdasar penemuan fisika kuantum, manusia (benda) bukan bagian terpisah dari sistem alam. Keberadaan manusia bisa dipahami sebagai interkoneksi atau saling keterhubungan antar aneka proses observasi atau pengukuran. (Capra, 2002, hlm 49). Pengukuran melalui UN yang parsial dapat mendominasi seluruh pengukuran kecerdasan anak-anak sehingga dapat mengkerdilkan potensi anak-anak yang lainnya. 

Demikian rekomendasi terhadap rencana pemerintah menghapus UN dalam sistem pendidikan nasional. AKSI selanjutkan mengusulkan untuk memperkuat kelembagaan sekolah dengan meningkatkan layanan proses pendidikan, dan menata distribusi kualitas guru serta kepala sekolah. AKSI berkomitmen untuk menjadi penggerak menjaga dan mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan guna menyambut Indonesia Emas tahun 2045 serta mencetak lulusan berdaya guna ditingkat global dan selalu menjaga keutuhan NKRI.

Semoga Allah Swt. Tuhan Yang Maha Esa memberi kemudahan dan kelancaran kepada kita semua. AKSI luar biasa! SDM Unggul! Indonesia maju! Walalhu ‘alam.

(Penulis Sekretaris I DPP AKSI)

Saturday, March 21, 2020

MASYARAKAT SANTAI

Oleh: Toto Suharya

Di kampus ada orang Korea yang ikut studi di Program Studi Pendidikan Sejarah. Pertama kali kuliah, dia merasa tidak nyaman dengan kegiatan perkuliahan yang selalu tidak tepat waktu. Namun setelah menjelang dua tiga semester mulai menikmati hidup santai ala Indonesia. Bahkan sekarang dia mulai kecanduan hidup ala Indonesia, dan berencana menetap di Indonesia. Dia berkata baru bisa menikmati hidup setelah di Indonesia. Di negara asalnya setiap hari hidupnya dipenuhi dengan targer-target pekerjaan yang membuat dirinya tertekan dan stress.

Sejak lama saya mengamati masyarakat Indonesia dan pernah terlontar pemikiran bahwa hidup manusia di suatu negara pasti berbeda-beda. Seperti pepatah mengatakan "lain ladang lain belalang". Hidup manusia dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia tinggal. Kondisi alam, iklim, cuaca, budaya, pemahaman agama, tingkat ekonomi, pendidikan, pengetahuan, adalah faktor-faktor yang memengaruhi prilaku manusia.


Ibn Khaldun dalam bukunya Mukaddimah (2002) menjelaskan bagaimana perbedaan masyarakat suku pedalaman dengan perkotaan. Masyarakat pedalaman yang hidup dalam kondisi ektrim, memiliki daya tahan lebih kuat dari penduduk kota yang selalu dilayani dengan kemapanan. Kondisi nyaman yang dinikmati oleh masyarakat kota menjadi sebab kelemahannya dalam bertahan hidup.

Demikian juga hasil studi Andersen et. all. (dalam Mulyana, 2010, hlm. 276) dijelaskan bahwa masyarakat di garis lintang utara lebih terstruktur, lebih tertata, lebih terkendali, dan lebih terogranisasi karena orang-orangnya harus bertahan hidup melewati musim dingin yang keras, sebaliknya negeri-negeri di garis lintang selatan boleh jadi menghasilkan budaya ektravaganza sosial yang tidak punya kecenderungan yang kuat untuk menata dunia mereka. Orang-orang di iklim dingin lebih banyak merencanakan hidup untuk menghadapi musim dingin, lebih berorientasi pada tugas, dan kehidupannya sangat pribadi, sementara orang-orang yang tinggal di iklim hangat lebih banyak akses satu sama lain sepanjang tahun, dan hubungan antar pribadi lebih hangat.

Perbedaan lingkungan tempat tinggal ternyata memberi warna kehidupan masyarakat berbeda dalam beraktivitas. Budaya masyarakat di daerah dingin, mereka lebih tertib dan sangat menghargai waktu. Ketertiban dan ketaatan terhadap aturan yang sudah disepakati menjadi faktor penting dalam mengatur aktivitas antar manusia. Penghargaan terhadap hak-hak pribadi sangat dijunjung tinggi.

Budaya disiplin tinggi masyarakat di iklim dingin terlihat berbeda ketika melihat masyarakat di iklim hangat. Budaya antri tidak dikenal dalam budaya iklim hangat. Indonesia mewakili daerah iklim hangat yang masyarakat di dalamnya hidup secara unik. Masyarakat Indonesia yang hidup di iklim hangat memiliki banyak waktu dalam mengerjakan tugas. Dalam pekerjaan mereka lebih mengutamakan hubungan antar pribadi dibanding pada target pekerjaan. Tugas-tugas tidak terlalu berorientasi pada hasil tetapi pada bagaimana menjaga hubungan antar pribadi tetap hangat.

Ketika wabah Virus Corona menyebar ke seluruh dunia. Media-media sosial menginformasikan bagaimana kegemparan terjadi di China, Italia, Singapura, yang telah lebih dulu mendapat serangan wabah Virus Corona mematikan. Untuk menghindari penyebaran wabah penyakit Virus Corona, mereka benar-benar mendengarkan instruksi pemerintahnya dengan melakukan isolasi diri selama 14 hari. Jalan-jalan sepi dari kendaraan, kondisi kota benar-benar seperti kota mati.

Ketika wabah penyakit Virus Corona mulai sampai ke Indonesia. Perintah isolasi diri selama 14 hari diinstruksikan oleh pemerintah kepada masyarakat. Sekolah-sekolah diperintahkan tutup, anak anak belajar di rumah melalui bantuan jaringan internet, para guru dan pegawai ditugaskan bekerja dari rumah, dan kegiatan-kegiatan kerumunan, serta keramaian yang memungkinkan dapat menjadi sebab penularan Virus Corona, dibatalkan dan dilarang.

Masyarakat di daerah iklim hangat sangat berbeda dengan iklim dingin. Instruksi bahaya wabah dari pemerintah diterima dengan tenang dan santai. Aktivitas di jalan raya masih tetap padat, tukang ojeg online masih beroperasi dan bercanda ria menjaga hubungan mereka tetap hangat. Shalat berjamaah di beberapa tempat masih tetap berlangsung sekalipun fatwa dari otoritas agama Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah diinstruksikan untuk sementara dihentikan. Acara pernikahan masih tetap berjalan dan undangan pun masih berdatangan. Anak-anak remaja masih berboncengan berdua-duaan dengan mesra, seperti sedang tidak terjadi serangan wabah penyakit Virus Corona yang bisa membuat negara lumpuh. Acara peringatan hari besar keagamaan pun tetap berlangsung meriah.  

Ulama besar yang sudah khawatir dengan kondisi wabah penyakit dapat menyebar, terus mengingatkan umatnya untuk mematuhi apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun upaya tersebut terlihat mengalami kegagalan karena di lapangan tidak terjadi kesepahaman. Larangan shalat berjamaah dan mengurung diri selama 14 hari dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal dan telah mengganggu kehangatan mereka dalam berekstravaganza bersama teman-teman dan Tuhannya.  

Budaya masyarakat di daerah garis lintang selatan memang terlihat santai dalam menghadapi permasalahan. Pengaruh iklim terlalu kuat memengaruhi prilaku masyarakat di lintang selatan. Perlu tindakan ekrtavaganza. Solusi menghindari wabah dengan mengisolasi diri 14 hari di rumah mungkin hanya salah satu alternatif dalam menghadapi wabah penyakit Virus Corona. Solusi lainnya adalah menyediakan tenaga-tenaga medis dengan merekrut relawan-relawan di seluruh pelosok dan menyediakan rumah-rumah sakit dadakan darurat dari tenda-tenda di setiap puskesmas untuk antisifasi menampung banyak penduduk yang terkena wabah.

Persiapan ekstrim dalam menjaga wabah akan membantu sosialisasi kepada masyarakat di iklim hangat menjadi tampak serius. Pola-pola ini akan ikut membantu masyarakat iklim hangat mengerti bahwa apa yang sedang mereka hadapi sangat serius dan berbahaya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat santai, tetapi bukan tidak punya kepedulian terhadap masalah yang dihadapinya.

Karatkeristik masyarakat iklim dingin dan iklim hangat berbeda. Jadi masalahnya bagaimana metode memberikan pemahaman sebuah permasalahan kepada mereka supaya terkomunikasikan dengan cepat. Jika pada masyarakat iklim dingin yang sangat personal satu kali instruksi masalah dapat cepat dipahami, namun pada masyarakat iklim hangat masalah dapat diselesaikan dengan beberapa alternatif instruksi, bersifat gerakan massal, dan harus dibuat ekstrim.

Namun demikian apa pun yang dilakukan pemerintah dalam menangani sebuah kasus terkait dengan citra negara di dunia internasional, terutama kepentingan pertumbuhan ekonomi yang sedang jadi ukuran perkembangan negara di abad ke-21 sekarang. Peran pemerintah yang super kreatif menjadi faktor penting untuk mengelola masyarakat iklim hangat yang selalu kreatif mencari kehangatan. Wallahu’alam.

(Head Master Trainer Logika Tuhan)


Daftar pustaka
Khaldun, I. (2002) Mukaddimah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Mulyana, D. (2010) Komunikasi Linta Budaya. Bandung: Rosdakarya.

Friday, February 14, 2020

TAK ADA GURU YANG SALAH

OLEH: TOTO SUHARYA

Tak ada guru yang salah dalam mendidik, hanya saja banyak orang menyikapi keburukan dengan keburukan yang lebih buruk. (Muhammad Plato)

Berdasarkan kajian psikologis dan regulasi hukum yang berlaku, kekerasan dalam dunia pendidikan sudah dilarang. Meminjam konsep agama, kekerasan dalam pendidikan sudah diharamkan. Dalam rapat-rapat dinas di sekolah, penulis sudah sering mengingatkan bahwa guru harus memiliki kesabaran tinggi dua kali lipat seperti Pasukan Badar yang jumlahnya 300-an menghadapi 1000 pasukan kaum musyrikin.

Namun demikian, masyarakat harus membedakan antara kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat umum. Kekerasan fisik yang terjadi di masyarakat mereka murni membela dan mempertahankan kepentingan pribadi. Seperti kasus perceraian yang berujung pembunuhan, kasus itu murni masalah pribadi. Perampok membunuh korbannya. Preman baku hantam gara-gara berebut lahan. Anak-anak tawuran dijalanan. Berbeda dengan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

"Dunia pendidikan bukan dunia kriminal, kekerasan yang dilakukan guru bukan tindakan kriminal murni, karena masih mengandung unsur pendidikan". (Muhammad Plato)

Kekerasan sudah dilarang dalam dunia pendidikan, tapi mari lihat dari kontek pendidikan. Seluruh aktivitas pendidikan dibingkai oleh tujuan pendidikan. Jadi apapun yang dilakukan oleh guru di lingkungan pendidikan adalah dalam rangka mengajar, melatih, membimbing siswa. Kekerasan yang dilakukan guru sekalipun tidak dibenarkan, mohon dilihat dan dipahami tidak lepas dari kontek pendidikan bagaimana seorang guru bertugas.

Artinya kekerasan yang dilakukan guru, bukan kriminal murni, karena tidak bertujuan untuk melukai fisik atau jiwa anak, tetapi sebagai tanggung jawab sebagai pendidik. Sekalipun tindakan itu dilakukan melanggar batas profesi seorang pendidik. Jadi dalam kontek ini, kekerasan dalam pendidikan harus dipandang secara khusus, dan dibedakan dengan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku kriminal.

Kekerasan dalam pendidikan yang dilakukan guru disebabkan oleh rasa tanggung jawab. Seorang guru merasa, anak-anak harus berprilaku baik sesuai dengan tujuan pendidikan yang dicita-citakannya. Diakui rasa tanggung jawab yang tinggi, kadang-kadang menyulut emosi ketika menghadapi anak-anak yang sulit sekali dibimbing dan diarahkan.

Masyarakat juga harus memahami bahwa tidak semua anak berprilaku wajar sebagai anak-anak. Mereka juga kadang-kadang berlebihan, berprilaku melebihi batas-batas sebagai anak didik. Sebagaimana kita saksikan kekerasan verbal dan fisik dilakukan juga anak-anak terhadap guru.

Untuk itu kekerasan dalam dunia pendidikan harus diselesaikan dalam kontek pendidikan yaitu melakukan persuasi dan pendekatan kekeluargaan agar semua pihak memahami terlebih dahulu duduk permasalahannya. Jika tindakan-tindakan hukum langsung dialamatkan kepada guru yang melakukan kekerasan, kita juga harus ingat bahwa harga diri guru secara pribadi dan seluruh komunitas guru harus dilindungi. Jangan karena tindakan menghukum guru menjadi efek negatif berikutnya yaitu rendahnya penghargaan anak-anak didik dan masyarakat terhadap guru.

Kita tidak membenarkan kekerasan yang dilakukan guru, tetapi setiap kasus kekerasan pada anak di ligkungan pendidikan tidak bisa langsung dipandang dari satu sudut pandang hukum pidana. Para pemangku kebijakan, penegak hukum harus sangat berhati-hati menanganinya. Perlu ada kajian khusus menangani kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, karena posisi guru sangat sentral di republik ini.

Kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan kali ini, harus mejadi pelajaran bagi para pendidik, bahwa tindak kekerasan harus dihindari dan para guru harus lebih kreatif dalam mendidik. Kami juga mewakili para guru memohon maaf atas kejadian kekerasan yang kadang terjadi dalam dunia pendidikan, tetapi jangan menghakimi kami pada satu kejadian ini. Di balik sepengetahuan masyarakat luar, kami sering menghadapi kekerasan, pelecehan, dan olokan. Keburukan kami di dunia pendidikan sering diekspos melebihi kebaikan-kebaikan yang telah kami lakukan.

Kita tidak membela kekerasan yang kami lakukan oleh seorang guru, tetapi memohon perlakukan kami dari sudut pandang yang adil sebagai pendidik yang dalam setiap tindakan kami tidak ada rasa atau niat untuk melukai atau menjerumuskan anak-anak kepada hal-hal yang buruk. Kasus kekerasan yang dlakukan seorang guru, kami yakin dia khilap karena tanggungjawabnya sebagai pendidik diekspresikan secara berlebihan.  

Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia luput dari salah. Manusia baik adalah yang mengakui kesalahannya dan mengimbanginya dengan kebaikan. Namun janganlah masyarakat menilai  keburukan manusia lalu melupakan semua kebaikannya. Janganlah karena satu keburukan lalu menuduh kami semua setan, perlakukanlah kami sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan. Allah memerintahkan sebaik-baik manusia adalah pemberi maaf. Kami mengajak masyarakat fokuslah kepada yang baik-baik, dan carilah kebaikan dari keburukan yang terjadi, agar sudut padang kita berimbang dan menyejukkan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah, Panitia Kongres AKSI Jabar) 

Saturday, February 1, 2020

PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Toto Suharya

Abad 21 adalah abad karakter. Keberhasilannya harus dimiliki satu institusi. Keberhasilan pendidikan karakter adalah budaya sekolah.

Berbeda dengan pendidikan intelektual keberhasilan diukur oleh nilai tertinggi. keberhasilan diukur dari keberhasilan mengikuti lomba. Peraihnya hanya satu dua orang.

Pendidikan karakter bisa dilakukan di semua sekolah. Biaya murah, hanya butuh kesabaran, kekompakkan, dan konsistensi. Hasil pendidikan berguna bagi kehidupan anak anak di masyarakat.


Ukuran keberhasilan pendidikan karakter adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif adalah prosentase dari perubahan karakter yang telah dicapai dalam satu sekolah. Data kualitatif adalah fakta karakter anak anak dikehidupan sehari hari.

Ukuran keberhasilan pendidikan intelektual adalah juara nomor 1,2 dan 3. Namun secara keseluruhan siswa intelektualnya dibawah rata rata. Ketika dimasyarakat pengetahuannya tidak digunakan.

Sesuai jiwa zaman, kita harus maju bersama, sejahtera bersama. Pendidikan pun harus berorientasi pada keberhasilan semua. Pendidikan karakter bukan berlomba, tapi evaluasi diri untuk terus melakukan perubahan.

Pendidikan karakter melahirkan anak anak sukses dan gagal tiap hari. Bagi anak anak berkarakter kegagalan yang membuat dia dewasa karena semua orang sukses di dunia belajar dari kegagalan. Pendidikan karakter adalah trend abad 21, jargonnya maju bersama hebat semua. Jargon ini dimiliki sekolah jika kulturnya sudah berkarakter. Juara bagi pendidikan karakter adalah ketika anak berani berbuat baik dan menahan yang buruk setiap hari. wallahu'alam.

(Head Master Trainer)

Thursday, January 2, 2020

MUSIBAH BERKAH

OLEH: TOTO SUHARYA

Musibah adalah keburukan yang diterima manusia dalam skala besar. Allah mengabarkan manusia bertanya, "darimana datangnya ini? Katakan: itu dari dirimu sendiri" (Ali Imran, 165).

Kebaikan Allah ada pada segala sesuatu bagi kaum yang berpikir. Musibah adalah kebaikan dari Allah agar kita semua berakhlak baik.

Jika kita saling menyalahkan adalah tanda bahwa musibah jadi azab bagi kita. Jika kita bahu membahu, menolong dan merencanakan kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik setelah musibah, maka musibah adalah rahmat dan kasih Allah kepada manusia.


Dalam segala kejadian pemimpin akan mengakui ini adalah kesalahan saya. Pemimpim yang mulia akan dihinakan oleh rakyatnya. Tetapi rakyat yang menghina pemimpin akan dihinakan Allah.

Pemimpin dan rakyat bersama sama berakhlak mulia dalam menyikapi musibah. Dalam bangsa yang kuat, pemimpin adalah rakyat, dan setiap rakyat adalah pemimpin yang taat.

Allah berfirman: sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. (Al Maa'idah, 49). Kalimat mana lagi yang akan kita dustakan? Manusia beriman berprasangka baik pada Allah. Musibah adalah cara Allah memaafkan kesalahan manusia, hingga manusia kembali berprilaku baik.

Jangan putus asa kecuali orang kafir. Jàngan putus asa kecuali orang orang sombong. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Bangkitlah kawan, Allah bersama orang orang sabar. Allah yang menimpakan rezeki melimpah pada orang sabar. Optimis tanpa batas!!! Wallahu'alam.

(Head Master Trainer)
Lembang, 2 Jan 2020.

Friday, October 25, 2019

MENDIKBUD GENERASI Y

OLEH: TOTO SUHARYA

Terus terang saja, menyaksikan pengumuman kabinet tahun ini untuk kedua kalinya saya bilang wow, setelah pengangkatan menteri seorang perempuan lulusan SMP di tahun lalu, dengan kesuksesan mengelola laut menurut saya luar biasa. Saya tidak nyinyir siapapun menteri yang diangkat oleh Presiden, mereka adalah orang-orang terbaik di republik ini.  Saya berpandangan siapapun yang menjadi pejabat di negeri ini, mereka menduduki jabatan itu dengan kebaikan yang mereka miliki dan dipandang baik oleh Allah.

Sebagaimana Allah firmankan di dalam Al-Qur’an bahwa Allah mengangkat derajat seseorang karena ilmu dan imannya. Faktanya kita saksikan orang-orang Barat dapat menguasai ekonomi dan politik dunia karena ilmu yang mereka miliki. Hakikatnya ini adalah penghargaan Allah terhadap orang-orang berilmu. Demikian juga para menteri dengan berbagai latarbelakang keilmuannya, saya berprasangka baik, dialah orang yang terpilih oleh Allah sebagai orang-orang terbaik. Masalah kinerjanya ke depan, kita harus sabar menunggu tidak bisa mendahului Allah dengan mengevaluasi kerja saja belum.

Saya hanya mengapresiasi berdasarkan fakta bahwa dunia sedang mengalami perubahan. Menurut Hendarman (2019, hlm. 25) generasi X yang lahir antara tahun 1960-1980, yang mendapat pendidikan dari generasi baby boom yang lahir tahun 1946-1960, sebagian besar telah mengalami pensiun. Kini saatnya generasi Y mengendalikan negara dan mendidik generasi Y dan generasi Z yang lahir antara 2001-2010. Generasi Y adalah generasi yang dibesarkan pada masa teknologi sedang berkembang. Generasi Z adalah generasi yang dibesarkan dalam era teknologi mulai mapan dengan kecenderungan pola pikir instan.

Bisa jadi pola pikir generasi X berbeda dengan generasi Y yang sudah dipengaruhi perkembangan teknologi.  Perbedaan pola pikir tentu saja akan melahirkan pola-pola pikir, tindakan, dan arah kebijakan berbeda. Ali bin Abi Thalib mengatakan anak-anak harus dididik dengan zamannya. Mendidik anak-anak milenial tentunya harus oleh mereka yang paham zaman milenial.

Saya memandang diangkatnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud bisa jadi langkah tepat, karena Beliau bisa didaulat sebagai salah satu  Bapak Milenial Indonesia yang berhasil memahami perubahan zaman di abad digital. Era industry 4.0. dan era masyarakat 5.0. tidak bisa tidak menuntut generasi kita untuk selalu beradaftasi dengan perkembangan teknologi yang melaju seperti deret ukur.

Di percaturan masyarakat dunia, kita termasuk salah satu negara dengan pengguna internet, media sosial terbesar di dunia, namun kita akui produktivitasnya masih terbilang rendah. Kita baru menjadi masyarkat pengguna teknologi informasi dari negara-negara luar, dan belum memiliki kesadaran untuk memanfaatkan teknologi untuk kepentingan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pendidikan. Tersedianya jutaan informasi di media sosial, belum dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan kualitas SDM.

Berdasarkan hasil supervisi akademik ke kelas, sebagian besar guru masih mengajar secara konvensional. Informasi yang tersedia di media sosial, belum termanfaatkan sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas pembelajaran. Internet dengan kecepatan 60 sampai 100 mb, hanya digunakan untuk chating di media sosial dan nonton video-video hiburan. Padahal setiap bulan sekolah mengeluarkan dana langganan internet antara 2-6 juta rupiah per bulan. Hasil pemanfaatnnya tidak sebanding dengan besarnya pengeluaran jasa layanan internet yang dikeluarkan oleh sekolah tiap bulan.

Kendala yang dihadapi sekolah adalah kekurangan sumber daya manusia yang benar-benar menguasai dunia teknologi informasi. Sekolah-sekolah kejuruan masih cukup besar kekurangan tenaga-tenaga pendidik produktif. Kita masih terjebak bahwa pendidik-pendidik produktif harus berlatar belakang pendidikan linier sesuai keahliannya, padahal untuk zaman sekarang, ilmu apapun bisa dipelajari di internet dengan modal keseriusan dan ketekunan.

Perusahaan-perusahaan besar konon sudah bergeser dalam pola rekruitmen pegawainya, mereka tidak lagi melihat latar belakang pendidikan, tetapi melihat pada kompetensi. Artinya di abad milenial, latar belakang pendidikan bukan syarat utama lagi untuk melihat keilmuan seseorang, tapi polanya sudah bergeser dengan melihat apa yang telah dilakukan dan bisa melakukan apa untuk kesejahteraan manusia di masa mendatang.

Hadirnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud, bagi saya adalah loncatan pemikiran dari generasi X yang mulai menyadari telah kedodoran menghadapi kemajuan zaman, dan harus diserahkan kepada mereka yang memahaminya, dan telah terbukti bisa beradaftasi hidup di zamannya. Dunia sudah berubah, pola pikir dan cara pandang otomatis telah berubah. Jika kita tidak cepat dan segera beradaftasi dengan perubahan zaman, mungkin 2045 cita-cita Indonesia emas yang tinggal beberapa tahun lagi, mungkin saja jadi tembaga dan emasnya tetap keluar diambil negara lain yang lebih cepat beradaftasi dengan perubahan zaman.

SIAPAPUN MENDIKBUDNYA AKULAH ORANGNYA (MUHAMMAD PLATO)
Selamat bertugas Pak Mendikbud, walaupun saya berada di antara perpindahan generasi X ke Y, saya masih bisa mengimbangi perubahan zaman dengan budaya literasi yang saya miliki. Dana sertifikasi saya gunakan untuk tetap literat mengikuti perubahan zaman. Saya yakin akan ada ide-ide brilian dari seorang maestro teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas dan layanan pendidikan Indonesia. Saya bangga kepada para pejabat tinggi yang akan bertugas lima tahun ke depan. Selamat bekerja, salam optimis tanpa batas!!! Wallahu’alam.

(Kepala Sekolah, Kandidat Doktor SPS UPI Bandung)

MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk....