Sunday, April 9, 2023

PENURUNAN INTELEKTUAL MASYARAKAT?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Mengkhawatirkan sekali, masyarakat kita disinyalir telah mengalami penurunan kualitas intelektual. Dunia pendidikan semakin menghadapi masalah besar. Permasalahan yang dihadapi saat ini berakar dari framing kapitalis yang tersosialisasikan masif melalui media sosial. 

Naluri setiap manusia adalah ingin hidup sejahtera dengan segala fasilitas lengkap. Flexing yang sengaja dan tidak sengaja dilakukan individu di masyarakat, telah banyak memengaruhi pola pikir sebagian masyarakat. Dunia pendidikan dihadapkan pada masalah pendanaan, kualitas layanan, budaya literasi dan disiplin rendah, serta kebingunan dalam mengantisifasi perubahan zaman di abad 21.

Fakta telah terjadi penurunan kualitas intelektual dialami masyarakat, teridentifikasi pada saat diskusi masalah pendanaan pendidikan. Masyarakat mengalami kebingunan dalam mendefinisikan "pungutan" dan "sumbangan". Perdebatan setiap tahun tak kunjung usai. Definisi-definisi yang berkembang dalam diskusi selalu mengarah pada niat sekolah harus gratis sementara kemampuan pemerintah terbatas. 

Dalam perdebatan selalu terjadi tarik menarik antara definisi pungutan dan sumbangan. Pungutan adalah pengumpulan uang yang telah ditetapkan besarannya. Sumbangan adalah pengumpulan uang yang tidak ditentukan besarannya. Pungutan atau sumbangan harus ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan rapat orang tua siswa, dilengkapi dengan berita acara dan absen kehadiran peserta rapat. Fakta dilapangan sekalipun definisi telah di sepakati selalu terjadi perbedaan pendapat. 

Permasalahan sesungguhnya bukan pada tidak bisa membedakan definisi pungutan dan sumbangan, tetapi pada perbedaan orientasi hidup masyarakat. Berdasarkan informasi dalam Musrenbang Provinsi Jawa Barat 2023, berdasar hasil survey, masyarakat Jawa Barat mendudukkan masalah ekonomi berada di nomor satu, sedangkan pendidikan tidak pernah jadi prioritas.

Itulah jawabannya, mengapa masalah sumbangan dan pungutan selalu jadi masalah? Karena membuat dan menjamin pendidikan berkualitas tidak jadi prioritas. Penurunan kualitas berpikir masyarakat mulai terjadi karena di memori masyarakat hanya tersimpan urusan cuan. Orientasi berpikir hanya pada ekonomi, memori masyarakat telah kembali lagi ke masa Orde Baru yang kurang peduli pada pendidikan.

Tidak kapok-kapoknya masyarakat kita nih. Pembangunan ekonomi yang telah dilakukan oleh Presiden Suharto selama 32 tahun runtuh dalam sekejap pada tahun 1998. Pelajaran dari kisah jatuhnya kekuasaan Presiden Suharto tahun 1998 adalah akibat rendahnya penghargaan masyarakat pada dunia pendidikan. Sekarang sudah kurang lebih 20 tahun, sejak reformasi pola pikir kita kembali pada era orde baru. Masyarakat tidak lagi memprioritaskan pendidikan, pembangunan Jawa Barat kembali mengutamakan ekonomi seperti zaman Orde Baru. 

Ketika debat pendidikan, sepertinya kita semuanya telah nampak jadi bodoh, seolah-olah tidak bisa membedakan pungutan dan sumbangan. Setiap tahun utak-atik aturan hanya membedakan antara pungutan dan sumbangan. Padahal dunia pendidikan kita di awal abad 21 ini sedang mengalami krisis. 

Pendidikan generasi bangsa kita di mata internasional, dinilai buruk. Literasi paling rendah, kemampuan nalar paling rendah, investasi saham di pasar modal masih rendah, jumlah rasio pengusaha dengan jumlah penduduk masih rendah, jumlah doktor dengan rasio penduduk masih rendah, tapi kita masih terus ribut urusan cuan. Jika kondisi ini terus berlanjut bangsa kita sedang mengalami ancaman penurunan kualitas intelektual.***

Sunday, April 2, 2023

LOGIKA TUHAN PENYEBAB GEMPA, AJARKAN DI SEKOLAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Gempa berulang-ulang terjadi, jika setiap kejadian gempa hanya dibaca sebagai gejala alam. Sesungguhnya Allah menyimpan pelajaran dalam setiap kejadian. Mari kita baca, setiap kejadian atas nama Allah yang punya kehendak dalam setiap kejadian. Allah memerintahkan, "bacalah atas nama Tuhan" (Al 'Alaq, 96:1).

Kejadian dapat dipahami dengan membaca sebab dan akibat. Setiap kejadian ada sebab dan ada akibatnya. Sebab akibat kejadian bisa kita amati dengan pengamatan penglihatan. Hasil pengamatan penglihatan diolah dalam pikiran kemudian dihubung-hubungkan menjadi sesuatu yang bisa dipahami sebab akibatnya paling masuk akal atau paling erat kaitan sebab akibatnya.

Berdasarkan pengamatan penglihatan, penyebab gempa adalah pergesaran lempeng bumi. Pergeseran lempeng bumi membuat gerakan yang menyebabkan gempa. Berdasarkan pengamatan penglihatan, gempa dipahami sebagai gejala fisik terjadinya pergerakkan bumi. Manusia hanya bisa menerima dan mengantisifasi kejadian gempa dengan membuat rumah anti gempa. Itulah pemahaman manusia dari sudut pandang kejadian alam, berdasarkan pengamatan penglihatan. 

Kita lihat apa penyebab gempa berdasarkan logika Tuhan, artinya kita cari sebab terjadinya gempa dengan melihat keterangan dari Al Qura'an. Kita lihat kata kerja "gempa" lalu kata apa yang menjadi kata kerja sebelum terjadinya gempa. Perhatikan ayat di bawah ini! 

"Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (Al 'Ankabut, 29:35-37).

Berdasarkan keterangan dari Al Qur'an di atas, penyebab terjadinya gempa adalah prilaku manusia. Prilaku manusia yang telah Allah beri akal, tetapi sikap dan prilakunya selalu mendustakan Allah. Dengan penjelasan ini, apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian gempa? Jawabannya sangat masuk akal, "lakukan refleksi diri, lakukan perbaikan apakah selama ini telah menjadikan seluruh aktivitas hidup kita sehari-hari untuk beribadah kepada Allah?"

Bagi para pemimpin, lakukan refleksi diri, apakah kebijakan-kebijakan politik selama ini dilakukan dengan niat untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat dan menjaga kelestarian alam? Bagi para pengusaha lakukan refleksi diri, apakah perdagangan yang dilakukan untuk menjaga kesejahteraan? Bagi para birokrat dan pegawai pemeritah, apakah selama ini telah melaksanakan tugasnya sebagai pelayan masyarakat?

Jadi secara fisik, memahami sebab-sebab terjadinya gempa menjadi inspirasi bagi kita untuk membuat teknologi yang bisa menyelamatkan nyawa manusia ketika terjadi gempa. Secara non fisik, dari kacamata logika Tuhan, memahami sebab-sebab terjadinya gempa dapat menjadi pelajaran agar pola prilaku hidup kita dalam berbagai aspek kehidupan harus diperbaiki dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. 

Melalui dua pemahaman ini, kehidupan manusia menjadi lebih sempurna. Secara fisik manusia bisa memahami sebuah teknologi rumah anti gempa misalnya, namun secara psikologis, spiritual, gempa menjadi pelajaran untuk kita agar senantiasa hidup berpedoman pada apa yang telah Allah perintahkan pada umat manusia. Jadikanlah seluruh aktivitas kehidupan kita sehari-hari sebagai kegiatan dengan niat ibadah kepada Allah swt. Wallahu'alam. 



Saturday, March 18, 2023

PESAN AL QURAN DARI BAMBU

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Mr. Wouter dari Global Peace Foundation mengatakan untuk membentuk karakter seorang pemimpin, kita dapat belajar dari filosofi bambu. Bambu punya karakter sebelum menumbuhkan batangnya yang tinggi, dia membuat akar yang kokoh. Akar yang kokoh dibangun secara bertahap, berkelanjutan dan dibentuk dalam sebuah kelompok. Hal ini sebenarnya adalah pesan dari Al Quran. 

Dalam kepemimpinan, membangun akar yang kokoh seperti membangun prinsip-prinsip hidup yang harus tumbuh dalam diri seorang pemimpin. Prinsip-prinsip hidup seorang pemimpin harus dibentuk sejak dini, ditanamkan, kemudian dipelihara dalam sebuah komunitas yang sama-sama punya komitmen menumbuhkan jiwa-jiwa kepemimpinan. Begitulah cara bambu, membentuk karakter pemimpin.

Batang bambu banyak manfaatnya bagi kehidupan. Sifatnya yang elastis dapat dibentuk menjadi apa saja. Inilah sifat seorang pemimpin yang harus ditiru dari pohon bambu. Pemimpin yang banyak manfaatnya bagi kehidupan masyarakat. Pemimpin harus punya kemampuan beradfatasi tinggi, fleksible thingking, sehingga bisa menjadi pengayom bagi masyarakat.

Jiwa kepemimpinan ada pada diri setiap orang. Ketika lahir manusia sudah diberi potensi menjadi seorang pemimpin. Mr. Wouter mengatakan, "the leader has no age". Artinya kepemimpinan tidak mengenal usia. Menjadi seorang pemimpin tidak perlu menunggu tua. Pendidikan sejak dini harus melatih murid-murid untuk memiliki kompetensi seorang pemimpin. 

Menyimak pernyataan Mr. Wouter, saya teringat pada hadis Rasulullah SAW. "Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian semua adalah pemimpin dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.'” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini, dalam bahasa Mr. Wouter adalah the leader has no age, karena menurut hadis semua orang adalah pemimpin.

Dan Kami Allah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar mereka berbuat kebaikan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kami mereka menyembah. (QS. Anbiya:73).

The leader has no age, karena setiap orang terlahir sebagai pemimpin

“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah” (HR. At Tirmidzi).  Kompetensi bagaimana menjadi seorang pemimpin, dan mentaati pemimpin menjadi ajaran penting dalam ajaran Islam.

“Para fuqaha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan” (Fathul Baari 13/7).

“Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144).

Ajaran Islam tidak menekankan pada bagaimana seseorang pemimpin saja, tetapi mengajari pula bagaimana menjadi seorang rakyat yang baik. Rakyat-rakyat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik. Sebagaimana batang bambu, mampu menahan terpaan badai angin, karena batang bambu tumbuh dari kelompok akar batang yang kokoh. Artinya, membentuk pemimpin yang kuat, harus diwujudkan dengan membentuk masyarakat yang baik. 

Upaya Global Peace Foundation dalam mewujudkan perdamaian dunia melalui pembentukkan karakter pemimpin pada murid-murid, relevan dengan misi ajaran Islam. Dalam kisah hidup Nabi Muhammad SAW, akhir dari perjuangan kenabian Nabi Muhammad SAW ditandai dengan pembebasan Mekkah. Kisah pembebasan Mekkah dikenang sebagai masa pengampunan massal, karena Nabi Muhammad melarang setetes pun darah tertumpah.***


LOGIKA ADALAH PEMBENTUK KARAKTER

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Supaya mudah, pengertian logika saya artikan dengan definisi berpikir sebab akibat. Berpikir sebab akibat sangat sederhana, contohnya saya makan karena lapar. Saya pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Cara berpikir atau belogika paling dasar adalah berpikir sebab akibat. Semua yang dilakukan orang berdasarkan perintah otak dengan pola sebab akibat. 

Penyebab berpikir sebab akibat menjadi kompleks tergantung pada pembendaharaan pengetahuan. Perbedaan perbendaharaan pengetahuan seseorang, menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat. Untuk menguji kebenaran pendapat didukung oleh beberapa faktor yang memengaruhinya. Pertama, kebenaran didukung oleh fakta primer dan variasi jumlahnya. Kedua, kebenaran didukung oleh otoritas, orang atau lembaga yang disepakati memiliki kewenangan. Ketiga, jumlah pendukung argumen yang banyak.  

Pengajaran karakter sumber dasarnya adalah pengetahuan. Logika-logika yang dibangun pada pendidikan karakter adalah tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan tentang etika, moral, dan nilai-nilai. Pembentukkan karakter dibangun oleh pengetahuan etika, moral, dan  nilai, bersumber dari pengetahuan dari kitab suci, buku, tokoh, dan otoritas yang punya kredibilitas tinggi, dan pengalaman. 

Pengajaran pendidikan karakter biasanya dilakukan dengan cara pembiasaan. Namun demikian, perubahan karakter yang kelak terjadi bukan dilihat dari kebiasaan berprilaku sehari-hari, tapi terletak pada pembentuk pola pikir yang dibentuk di otak. Secara kasat mata, siswa melakukan hal baik secara berulang-ulang, tapi sesungguhnya siswa sedang membentuk pola tindak yang ada dalam otak. Para ahli neurologi mengatakan bahwa tindakan yang diulang-ulang, di dalam otak akan membentuk seperti jalan setapak yang sering dilalui.  

Jadi pembentukkan karakter yang sebenarnya bukan pada pembiasaan prilaku sehari-hari semata, tetapi pembentukan pola pikir di dalam otak. Siswa yang setiap hari disiplin tepat waktu, disiplin melaksanakan ritual doa, di dalam otaknya akan terbentuk pola pikir didukung berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang dia dapatkan dari pengalaman yang dia lakukan. Jika pengalaman buruk yang dia dapatkan, maka kebiasaan disiplin akan bersifat sementara. Sebaliknya jika pengalaman baik yang dia dapatkan selama berprilaku disiplin, maka prilaku disiplin akan bertahan lama. 

Oleh karena itu, pendidikan karakter bukan sebatas membiasakan siswa berpilaku baik, tetapi mereka harus bisa tahu dan merasakan jika berprilaku baik dampaknya memang diketahui dan dirasakan hidup menjadi lebih baik. Metode pendidikan karakter sebaiknya menggunakan pendekatan komprehensif, dimana dalam pembelajaran harus menyentuh tiga ranah yaitu psikomotor, afektif, dan kognitif. 

Pendidikan karakter baiknya dilakukan dari psikomotor lebih dulu, yaitu membimbing siswa untuk melakukan prilaku baik. Selanjutnya, bimbing siswa untuk menemukan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau pun menyedihkan (afektif) setelah melakukan prilaku-prilaku baik. Setiap temuan-temuan menyenangkan dan menyedihkan dari pengalaman, harus dicatatkan dalam catatan harian. 

Dalam jangka yang sudah ditentukan, siswa dibimbing untuk melakukan analisis pengalamannya, dan harus bisa mengambil kesimpulan. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan, guru memberi pengetahuan tentang hal-hal positif dari prilaku baik yang dilakukan siswa. Pada ranah kognitif, guru harus menyajikan bacaan yang memberi tahu bahwa prilaku positif yang dilakukan akan berdampak baik dengan menghadirkan contoh-contoh, misalnya dari tokoh-tokoh sukses dari berbagai bidang. 

Untuk pembentukkan karakter pada domain koginitif, siswa perlu diberi panduan-panduan berlogika pembentuk karakter. Berikut ada beberapa pola logika pembentuk karakter yang dapat menjadi pedoman mengapa siswa harus melaksanakan program pendidikan karakter yang telah ditentukan prilakunya. 

Pola dasar berlogika yang harus dipahami adalah kebaikan dan kejahatan tidak bercampur. Polanya, kebaikan selalu berakibat kebaikan, dan kejahatan berakibat kejahatan. Pada tataran empiris atau fakta lapangan, bisa terjadi perbedaan pandangan yaitu tidak selalu yang baik berbalas kebaikan. Hal ini tidak dapat dipandang sebagai kebenaran karena dalam tataran empiris hidup manusia berada dalam proses. Kebaikan sesungguhnya ada pada pola pikir, bukan pada tataran empiris. Pada tataran pola pikir, kebenaran pada akhirnya ada di dunia imajinasi yang kelak akan jadi kenyataan. Kenyataan akhir dari hukum kebaikan berbalas kebaikan ada di kehidupan setelah kematian. 

Bagi orang-orang yang tidak percaya kehidupan setelah kematian mungkin tidak menerima kebaikan berbalas kebaikan ada dikehidupan setelah kematian. Namun demikian, pendapat mereka yang tidak percaya hari kemudian tidak dapat dipertanggungjawabkan karena sama-sama tidak bisa membuktikan bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada kehidupan. Sebagai bangsa berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. 

Logika pasti bagi pembentuk karakter adalah kebaikan akan berbalas kebaikan, dan kejahatan akan bebalas kejahatan. Logika pasti ini merupakan logika pembentuk karakter mutlak karena setelah kematian akan ada kehidupan. Jadi pendidikan agama yang mengarah pada pengajaran etika, moral, dan nilai hidup menjadi sumber ajaran pembentukkan karakter.***



Saturday, February 25, 2023

HATI HATI KONSUMSI PENGETAHUAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Di abad informasi bukan hanya makanan yang harus anda perhatikan dengan baik. Sekarang pengetahuan menjadi seperti makanan yang harus diperhatikan sehari-hari. Dulu sebelum ada media sosial, sajian pengetahuan kita setiap hari disediakan oleh media-media mainstream yang bisnis di bidang informasi. Televisi menjadi satu-satunya sumber informasi yang setiap hari dikonsumsi masyarakat. 

Bagi saya, pengetahuan adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada umat manusia. Semua manusia bisa hidup karena ada pengetahuan. Bagi muslim, pengetahuan pertama yang harus diberikan pada saat bayi lahir adalah adzan...Allahu Akbar...Allahu Akbar... Anda tahun, adzan yang dikumandangkan saat bayi lahir adalah the first knowledge. Artinya, otak manusia sejak lahir harus diberi pengetahuan-pengetahuan positif dan baik. Mengapa demikian? Karena seluruh hidup manusia cara berpikir, berbicara, dan bertingkah laku berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. 

Jadi, pengetahuan menjadi faktor penyebab utama seseorang melakukan sesuatu. Manusia setiap hari menerima pengetahuan ke otaknya, dan setiap yang dilakukan manusia akan menghasilkan pengetahuan yang tersimpan atau dilupakan. Pengetahuan apa yang banyak tersimpan dalam memori otak manusia, itulah yang akan jadi orientasi dan pandangan hidup manusia. 

Perintah "bacalah atas nama Tuhan yang menciptakan mu" (Al 'Alaq, 96:1) bukan sekedar perintah membaca secara fisik. Pesan mendalam dari perintah membaca adalah tentang sudut pandang yang harus dibangun pada saat menjalani kehidupan. Sudut pandang berdasarkan pengetahuan dari Tuhan harus menjadi sudut pandang manusia dalam mengarungi kehidupan. 

Seluruh fakta yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, semuanya berada di atas kehendak Tuhan. Fakta-fakta yang terjadi di alam semuanya di atas kehendak Tuhan, namun Tuhan menghendaki seluruh umat manusia membaca petunjuk-petunjuk dari Tuhan agar hidup manusia menuju kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. 

Kitab suci yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW, adalah pengetahuan-pengetahuan langsung dari Tuhan sebagai petunjuk. Alam menyajikan pengetahuan-pengetahuan dari Tuhan, tetapi terlalu berat bagi manusia untuk memilih dan menyeleksi pengetahuan-pengetahuan di alam sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan. Wahyu Al Quran adalah kemurahan Allah kepada umat manusia untuk mengetahui tata cara dan tujuan hidup yang harus dicita-citakan di masa depan. 

Al Quran sebagai sumber pengetahuan adalah pembentuk pola pikir yang berfungsi menganalisis fakta atau kejadian yang terjadi di alam. Tanpa petunjuk pengetahuan dari Allah Tuhan Yang Maha Esa, manusia bisa salah memberi makna tentang apa yang terjadi dan kelak terjadi. Tanpa petunjuk dari Allah, manusia bisa mengalami kebingungan menentukan arah tujuan hidupnya. 

Pengetahuan-pengetahuan yang terlalu banyak dikonsumsi dari alam, tanpa petunjuk Tuhan dapat menyebabkan manusia lupa pada pencipta kehidupan. Sifat pelupa merupakan bagian melekat yang ada pada diri manusia. Manusia akan selalu ingat pada apa yang sering dilakukannya. Dapat dipahami, agama tujuannya adalah membentuk prilaku sehari-hari yang harus dilakukan, agar manusia tidak melupakan Tuhan. 

Cara pandang Tuhan sebagai pencipta adalah paradigma yang harus selalu digunakan untuk membaca seluruh kejadian di alam. Teoantroposentris dirasa cara yang diajarkan di dalam Al Quran, sebagai tafsir terhadap ayat, "bacalah atas nama Tuhan yang menciptakan" (Al 'Alaq, 96:1). Ketika manusia mengikuti cara pandang Allah dalam berpikir, tidak dimaksud membatasi kemampuan berpikir manusia, tetapi manusia jangan melepaskan kehendak Tuhan Alla swt dalam cara pandangnya. 

Cara pandang Allah bisa diterapkan dalam filosofi, etika, moral, dan fakta. Dalam cara pandang Allah, manusia bukan pemilik kebenaran, tetapi sebagai penyampai kebenaran. Teori, teknologi yang ditemukan manusia, hanya sebatas penemu dan penerang dari apa yang telah Allah ciptakan. Sederhananya, manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, namun jangan samapi melupakan Allah. 

Cara pandang Allah yang diajarkan Allah dala Al Quran bertujuan agar manusia punya tanggung jawab moral, karena hidup adalah sebuah kontinum waktu dari sekarang ke masa kehidupan setelah kematian. Allah tetapkan petunjuk pengetahuan dalam Al Quran, agar manusia tidak melampaui batas dalam menggunakan kebebasan berpikirnya.   

Sebagaimana di dalam Al Quran dijelaskan, manusia-manusia berdosa adalah yang melampaui batas. Mencintai kehidupan dunia secara wajar tidak disalahkan, tetapi ketika terlalu mencintai dunia, itulah orang-orang yang akan mendapat kesengsaraan. "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." (Al 'Araaf, 7:81).  

Jadi atas nama Allah ketika membaca sebuah fakta, kejadian, peristiwa, adalah bentuk verifikasi, analisis, pertimbangan, etika, dan moral, agar manusia berhati-hati dalam mengkonsumsi pengetahuan. Sesungguhnya Allah menghendaki kedamain dan kebahagian hidup manusia di dunia dan akhirat, karena kasih sayangnya Allah memberi petunjuk pengetahuan agar manusia selalu menggunakan pertimabngan-Nya dalam mengarungi kehidupan.*** 


Sunday, February 12, 2023

Hak Cipta Logika Tuhan

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Logika Tuhan adalah ilmu berpikir yang bersumber pada Al Quran. Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. telah mendaftarkan hak cipta sebagai kekayaan intelektual. 

Pada tanggal 10 Februari 2023 untuk pertama kali diumumkan di wilayah Indonesia dan di luar wilayah Indonesia. Hak cipta Logika Tuhan sebagai bukti karya produktif dari dunia pendidikan. Di era sekarang bisa jadi, kualitas sekolah ditentukan dengan banyaknya hak cipta yang dihasilkan dari sekolah.

Proyek-proyek pembelajaran kolaboratif di sekolah yang ujungnya adalah produk-produk pendidikan, berupa buku, karya seni, teknologi, bisa didaftarkan hak ciptanya atas nama pribadi atau lembaga. 

Hak cipta berlaku selama hidup pencipta, dan berlaku selama 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia, terhitung pada tanggal Januari tahun berikutnya. Arti hak cipta bisa jadi kekayaan yang ketika meninggal bisa diwariskan atau dibibahkan untuk kepentingan kemanusiaan. 

Perihal istilah Logika Tuhan banyak khalayak umum menanyakan dan menyimpulkan sendiri pengertian Logika Tuhan. Terminologi Logika Tuhan dipilih karena sumber berpikir dari Al Quran. Hukum-hukum yang ada dalam Al Quran sangat luas. Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. Maka logika-logika yang dapat diungkap dari Al Quran, adalah logika petunjuk dari Allah. 

Ada juga yang bertanya, "kenapa tidak diberi nama logika Al Quran?" Di dalam Al Quran perintah berpikir berujung pada mengakui keesaan Allah. Berpikir di dalam Al Quran sebuah perintah dari Allah, untuk mengenal Tuhan. Allah memperingatkan bahwa seluruh yang terjadi di alam semesta berada di atas kehendak Allah. 

Logika Tuhan diperkenalkan bertujuan agar orang pikirannya selalu tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa. Jika diberi nama logika selain Tuhan, dikhawatirkan orang akan tergiring ketauhidannya kepada selain Tuhan. Berpikir terlepas dari Tuhan, inilah penyebab munculnya tuhan-tuhan selain Allah. 

Mengapa tidak diberi nama logika Allah? Pertanyaan ini juga sering muncul. Di dalam Al Quran Allah memperkenalkan dirinya dengan banyak nama. Salah satunya adalah Tuhan. "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," (Al Fatihah, 1:2). Logika Tuhan dipilih untuk membumikan Al Quran di alam semesta. Logika yang berlaku pada seluruh kehidupan manusia. 

Dalam terminologi Logika Tuhan terdapat makna bahwa hanya satu-satu sumber logika yang diajarkan kepada seluruh manusia yaitu logika dari Tuhan Semesta Alam. Kebebasan berpikir adalah kehendak bebas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak lepas dari segala dalam kehendak Allah. 

Ketika berbicara Logika Tuhan maka ingatan orang akan langsung kepada sang pencipta alam yaitu Allah swt Tuhan Semesta Alam. Jadi ilmu Logika Tuhan mengandung ilmu ketauhidan, ilmu yang mengagungkan dan mengesakan Tuhan.

Logika Tuhan tidak memosisikan orang yang menggunakannya menjadi Tuhan, tetapi sebagai makhluk bodoh yang menggunakan cara berpikir dari petunjuk Allah, bersumber pada Al Quran. Allah maha mengetahuai rahasia di langit dan di bumi, maka segala sesuatu tidak lepas dari pengetahuan Allah. 

Bagi siapa yang mengklaim menggunakan Logika Tuhan, dia harus mampu menunjukkan rujukan ayatnya dari Al Quran. Hak Cipta bukan pemilik, tetapi sebagai tanggung jawab moral yang harus menjelaskan makna Logika Tuhan agar tidak disalahgunakan. 

Sebagai pemilik hak cipta, memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan terminologi, tujuan, manfaat, dan mampu mengajarkannya. Melalui hak cipta ini, tidak boleh seseorang memberi arti makna sendiri-sendiri tentang Logika Tuhan berdasarkan pemahaman sendiri, harus melakukan konfirmasi kepada pemilik hak ciptanya.***

 

Thursday, February 9, 2023

IMPLEMENTASI LOGIKA TUHAN DI SEKOLAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Berpikir adalah aktivitas menghubung-hubungkan konsep dengan pola sebab akibat. Perbedaan cara berpikir disebabkan oleh pengetahuan yang diinput ke dalam memori otak seseorang. Jenis pengetahuan yang diinput ke dalam memori otak akan memengaruhi cara berpikir seseorang. 

Hemat penulis ada dua pola berpikir jika dilihat dari sumber pengetahuan yang di input ke memori otak. Berpikir ilmiah sering dikaitkan dengan kemampuan mengolah pengetahuan bersumber pada pengetahuan faktual di alam. Riset-riset ilmiah melahirkan pola-pola berpikir logika alam. Logika alam dibentuk oleh pola berpikir yang bersumber pada pengetahuan di alam. 

Logika dari pengetahuan alam pada level fisika newton masih nampak terpisah-pisah. Setelah penemuan fisika kuantum, para ilmuwan melihat bahwa benda hakikatnya satu kesatuan yang tidak terpisah. Penemuan fisika kuantum telah mengubah paradigma berpikir tentang hakikat benda. Suatu benda hakikatnya bisa dipahami jika benda tersebut berhubungan dengan benda-benda lain. Cara pandang ini menjadi suatu cara pandang baru melihat fenomena-fenomena di alam. 

Paradigma kuantum, mata pelajaran tidak berdiri sendiri. Mata pelajaran di sekolah digunakan untuk mengidentifikasi, memahami, dan menyelesaikan masalah secara kolaboratif.  

Cara pandang ini dapat kita identifikasi dalam dunia pendidikan. Pembelajaran kolaboratif menjadi bukti bahwa pengajaran dengan sistem mata pelajaran secara terpisah kurang memberi makna pada peserta didik. Peserta didik dalam paradigma kuantum, harus diajari bagaimana cara berkolaborasi melihat suatu masalah dengan menggunakan multi sudut pandang dari berbagai mata pelajaran. 

Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, Ekonomi, Sosialogi, Antropologi, Agama, menjadi cara pandang untuk melihat suatu masalah dan memecahkannya secara multidisiplin. Dengan demikian keberadaan mata pelajaran tidak ada yang lebih unggul. Setiap mata pelajaran menjadi ilmu yang berguna bagi kehidupan manusia. 

Pembelajaran pada level kuantum, bukan lagi mengerjakan soal-soal pada setiap mata pelajaran, tetapi lebih pada kegiatan implementatif untuk memecahkan sebuah permasalahan kehidupan manusia. Produk-produk pendidikan bukan lagi pada hasil nilai ulangan pada mata pelajaran, tetapi pada kemampuan siswa dalam memahami dan memecahkan masalah dari berbagai sudut pandang mata pelajaran. 

Teknologi informasi diperkenalkan kepada siswa, sebagai alat teknis untuk membantu siswa dalam mempermudah menyelesaikan masalah. Berbagai produk aplikasi teknologi informasi diperkenalkan kepada siswa bukan karena sedang trend tapi karena kebermanfaatkan bagi siswa untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya di masyarakat. 

Model pengajaran yang harus terus dilakukan adalah problem solving, project learning, inquary, dan discovery. Mini-mini riset dalam pembelajaran harus selalu diperkenalkan untuk melatih siswa mengenali masalah dan memecahkannya dengan kemampuan mengolah data yang mereka temukan sendiri. Kemandirian berpikir, berpendapat, bertindak, menjadi kunci keberhasilan pembelajaran di abad kuantum. 

Pada abad kuantum sumber pengetahuan agama dari kitab suci, tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral secara berlebihan. Kitab suci harus diperkenalkan sebagai sumber pengetahuan yang bisa diolah untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan manusia berdampingan dengan pengetahuan dari alam. Pada hakikatnya, dalam paradigma kuantum, pengetahuan dari kitab suci memiliki sisi-sisi kebenaran ilmiah yang tidak bertentangan dengan kebenaran dari pengetahuan alam. 

Kebenaran ilmiah dari alam tidak berdiri sendiri, tetapi dapat dilakukan verifikasi dengan kebenaran-kebenaran dari pengetahuan kitab suci. Pengetahuan dari kitab suci dapat digunakan sebagai verifikasi kritis untuk menemukan kebenaran filosofis, etika, norma, teori, dan prilaku manusia di alam.

Hakikatnya alam diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta, diciptakan dengan sistem-sistem hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Apa yang ditemukan manusia di alam hanya sebagai kecil dari hukum-hukum alam yang telah diciptakan oleh Allah swt. Berbagai macam penemuan yang berhasil diungkap manusia tidak lepas dari kehendak-kehendak Allah. 

Abad kuantum tidak lagi memisahkan antara agama dan ilmu. Keduanya menjadi alat untuk mengenali sistem kehidupan yang harus mengarah pada kesejahteraan dan kehdiupan damai umat manusia. Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak lagi bertujuan untuk saling mendominasi dan menguasai, tetapi untuk saling berkolaborasi demi memenuhi segala kebutuhan hajat hidup manusia di bumi. 

Konflik, pemberontakan, peperangan, bukan lagi tujuan hidup manusia di muka bumi. Pendidikan tidak lagi mendidik siswa menjadi manusia-manusia unggul untuk bersaing antar negara. Pendidikan berorientasi mendidik manusia-manusia bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia di muka bumi. 

Ajaran agama tidak lagi diarahkan untuk tujuan-tujuan esklusif sekelompok agama, tetapi untuk tujuan-tujuan kemanusiaan sebagai makhluk Allah yang sama-sama menduduki satu bumi. Tujuan pendidikan agama diarahkan untuk mendidik manusia-manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan manusia yang mampu menjadi khalifah, pemelihara, dan penyelesai segala masalah hidup manusia. Ajaran agama tidak lagi merendahkan kehidupan dunia yang harus dihindari, tetapi sebagai petunjuk bagaimana mengelola kehidupan dunia untuk kehidupan yang hakiki, kehidupan abadi setelah kematian. 

Di abad kuantum, manusia tidak lagi memandang kehidupan dunia sebagai satu-satunya tempat hidup yang dibatasi ruang dan waktu. Kehidupan manusia akan terus berlanjut pada kehidupan berikutnya yang lebih bahagian dan sejahtera, yang sangat tergantung pada kehidupan baik manusia di dunia. Dengan demikian manusia akan hidup dengan penuh etika, moral, dan kebijaksanaan. Keserakahan, kecurangan, kelicikkan, selama hidup di dunia harus dihindari, karena akan ada pengadilan pada kehidupan berikutnya. 

Pola pendidikan seperti ini, akan melahirkan manusia-manusia bermoral tinggi, dan selalu bertanggung jawab bukan hanya pada dirinya, tetapi akan bertanggung jawab pada Tuhan yang selalu memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik untuk kesejahteraan hidup umat manusia dan lingkungan alam yang ditempatinya.*** 

 



ARTI TAWAKAL JANGAN GAGAL PAHAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Era digital ditandai dengan era pembelajaran mendalam. Konsep-konsep agama bisa dibedah menjadi lebih b...