Tuesday, May 14, 2019

GURU YANG BAIK

OLEH: TOTO SUHARYA

Tidak ada anak bodoh kecuali dia tidak belajar dengan guru yang baik. (Yohanes Surya). Mohon dipahami para stake holder pendidikan, pernyataan di atas sesuai hadis, bahwa akhlak anak sangat tergantung ibu bapaknya.

Dengan demikian tidak ada anak cerdas, yang cerdas gurunya. Tidak ada anak bodoh yang bodoh gurunya.

Jika nilai UN anak anak tinggi, bukan anaknya yang cerdas tapi gurunya. Sekolah sekolah yang berhasil melahirkan juara, bukan anak anaknya yang cerdas tapi guru gurunya.

Hukum dalam pendidikan, keberhasilan dan kesuksesan anak, adalah keberhasilan dan kesuksesan guru. Tidak ada sekolah baik tanpa guru yang baik.

SATU GURU YANG BAIK AKAN MEMBAWA NAMA BAIK SEKOLAH, 1000 ANAK CERDAS TANPA GURU YANG BAIK AKAN MEMBAWA NAMA BURUK SEKOLAH (TOTO SUHARYA)

Kemutlaklaan hukum ini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Maka jika semua stake holder peduli dan ingin memperbaiki pendidikan kosen, konsisten, perhatikan kualitas guru, dan perhatikan kesejahteraan guru.

Masalah pendidikan mendasar mutlak ada di guru yang baik. Mengabaikan kehadiran guru yang baik, adalah keterkutukkan sebuah  bangsa yang tidak memahami hukum dalam pendidikan.

Tugas semua stake holder pendidikan dalam memperbaiki  dan menjaga kualitas pendidikan adalah menjaga stok ketersediaan guru yang baik. Selanjutnya mengatur penyebarannya agar merata ke seluruh pelosok. Satu guru yang baik akan membawa nama baik sekolah, 1000 anak cerdas tanpa guru yang baik akan membawa nama buruk sekolah. Wallahu 'alam.

(Head Master Trainer)

Saturday, May 4, 2019

PENDIDIKAN MANUSIA

Oleh: Toto Suharya

Apa beda ilmu pengetahuan jika merujuk kitab suci dan tidak? Jawabannya, ada perbedaan konsep. Mari kita buktikan.

Manusia berdasarkan kitab suci Al-Quran ada tiga konsep, yaitu basyar, insan dan annas. Tiga konsep manusia ini dibedakan berdasarkan bagaimana Allah menciptakan manusia dari bahan berbeda-beda dilengkapi dengan ciri-cirinya.

Konsep manusia tertinggi adalah basyar, yaitu manusia pengabdi kepada Tuhan. Contohnya Nabi Muhammad dan golongan para Nabi. Manusia pengabdi kepada Tuhan, dia memenuhi kebutuhan hidupnya secara pribadi dan saling membantu antar sesama makhluk Tuhan, berdasarkan atas perintah dari Tuhan.

Dalam konsep sekular, manusia memiliki dua konsep yaitu human, dan human being. Human is refers to the biological characteristics. Human being, talking about person ability to think, feel, and be social.

Jadi berdasar konsep sekular ada satu konsep manusia yang hilang yaitu makhluk spiritual. Inti pendidikan sekular, tidak mengenalkan manusia pada Tuhan, hanya mengajari urusan manusia dengan ciri-ciri binatang, individu dan makhluk sosial. AKHIR TUJUAN pendidikannya adalah manusia cerdas berjiwa sosial yang masih terikat, terbatas oleh imbalan material. 


Pendidikan kita tidak sekular, cirinya masuk kompetensi spiritual dalam kurikulum 2013. Tujuan akhir pendidikan kita adalah menciptakan manusia-manusia basyariah. Manusia yang  berbuat baik untuk memenuhi kesenangan dirinya dan orang lain atas dasar ketaatan pada aturan yang telah ditetapkan Tuhan YME. Hasil pendidikannya adalah manusia manusia bermental khalifah, hidup cukup untuk dirinya dan mewah untuk membantu sesama, bersabar dan tidak terikat imbalan material. Segala kebaikannya ditujukan untuk mendapat imbalan lahir dan batin dari Tuhan YME sampai akhirat.

Maka, pendidikan dengan pendekatan sekular belum memanusiakan manusia karena baru sampai pada tahap memanusiakan manusia dari kelas binatang menjadi makhluk cerdas berjiwa sosial, tidak sampai tahap manusia spiritual. Manusia sekular, dia cerdas dan berjiwa sosial tetapi masih terikat material, sedang manusia spiritual dia cerdas dan berjiwa sosial tetapi tidak terikat oleh material karena tujuannya adalah kembali kepada Tuhan. Wallahu 'alam.

(Head Master Trainer)

Friday, April 12, 2019

INTELEGENSI SPIRITUAL

Oleh: Muhammad Plato

Nataatmadja (2001, hlm. xxxiv) mengemukakan pada abad millenium ke tiga, lambat laun kita akan berhijrah dari intelegensi artifisial (rasional empiris) ke intelegensi spiritual. Sebagaimana Bertrand Russell berpendapat, “manusia paling rasional itu adalah manusia di daerah tropis, yang dengan sabar duduk di bawah pohon pisang menunggu buah jatuh ke mulutnya”.

Apakah yang dimaksud dengan Intelegensi spiritual? Kemampuan berpikir sesuai dengan petunjuk Tuhan YME. Intelegensi Spiritual adalah kemampuan berpikir yang bersumber pada pengetahuan dan logika sebab akibat dari kitab suci Al-Qur’an.

Prof. Fahmi Basya (2015) adalah salah satu ilmuwan (ulama) yang berhasil mengembangkan intelegensi spiritual dari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada mahasiswa dalam mata pelajaran matematika Islam dan diakui sebagai mata pelajaran internasional . Transformasi 19 adalah logika matematika spiritual yang rumit, ditemukan dalam konstruksi logika Al-Qur’an. Suharya (2017), memperkenalkan intelegensi spiritual dalam pola pikir sehari-hari di buku Sukses dengan Logika Tuhan. Digunakan sebagai bahan pendidikan karakter religius di sekolah.

Diperkenalkannya kembali Intelgensi Spiritual adalah awal kebangkitan manusia millennium ketiga. Gambaran Russell tentang manusia sabar menunggu buah jatuh ke mulut adalah rasionalitas yang sumbernya bukan pada intelegensi artifisial (alam), tetapi rasionalitas intelegensi spiritual.


Dalam sejarah, siapakah manusia-manusia yang hidup dengan intelegensi spiritual? Mereka adalah manusia biasa (basyar), tetapi pola berpikirnya mengikuti petunjuk wahyu dari Tuhan YME. Salah satunya dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad saw.

Bisakah intelegensi spiritual diajarkan di sekolah? Bukan hanya bisa, tetapi harus. Intelegensi Spiritual adalah pembentuk karakter-karakter tangguh, optimis, pantang mengeluh, tidak suka menyalahkan orang lain, cerdas, cinta damai dan berani berkorban. Karakter ini dapat dibentuk dengan mengajarkan Intelegensi Spiritual, Matematika Islam atau Logika Tuhan kepada siswa. Wallahu’alam.  

(Penulis Head Master Trainer)

MANUSIA BASYAR

Oleh: Toto Suharya.

Dalam Al-Qur'an konsep manusia ada tiga yaitu basyar, insan, annas. Basyar diciptakan dari tanah (turab).

Basyar digunakan untuk menjelaskan Nabi sebagai manusia biasa. Secara fisik Nabi manusia biasa, namun secara ruhani adalah citranya Sang Pencipta.

Basyar adalah manusia kelas tinggi, karena nafsu dan pikirannya diatas petunjuk Sang Pencipta. Inilah visi dari pendidikan yang kita upayakan. Menciptakan manusia-manusia basyar yang nafsu dan pikirannya selalu mengikuti petunjuk dari Tuhan.


Manusia basyar dalam tujuan pendidikan nasional adalah manusia  beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Manusia basyar adalah khalifah di muka bumi.

Di dalam diri manusia ada unsur basyar yang cenderung tunduk pada Tuhan. Pendidikan adalah upaya membangkitkan potensi basyar. Potensi basyar adalah intelegensi spiritual yang ada pada setiap diri manusia. Wallahu'alam.

(Penulis Kepala Sekolah)

Friday, March 15, 2019

LITERASI SHALAT


OLEH: TOTO SUHARYA

Mengacu pada tujuan pendidikan nasional, visi pertama yang harus jadi acuan adalah menciptakan generasi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (kompetensi spiritual). Visinya adalah mewujudkan generasi religius. Tuangkan dalam kalimat misi yang lebih operasional yaitu mewujudkan peserta didik yang taat menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing. Tujuannya menjadikan suasana sekolah berkultur dan siswa berkarakter religius.

Indikator pencapainya sesuaikan dengan peribadatan agama masing-masing siswa yang terukur. Bagi muslim targetnya membiasakan peserta didik melaksanakan shalat lima waktu, dhuha setiap hari, dan shalat berjamaah, berkolaborasi dengan orang tua siswa.

Target idealnya 100 persen, namun berdasarkan pengalaman untuk mencapai 80% saja pemantauannya luar biasa harus mengerahkan semua energi guru dan orang tua. Dari hasil survey ke tiap kelas, dan verifikasi orang tua, setelah program berjalan sembilan bulan, kurang lebih hanya 10-20% anak yang melaksanakan shalat secara konsisten tiap hari. Namun selama di sekolah program shalat dhuha 12 rakaat setiap hari dilaksanakan bersama-sama di lapangan. Setelah shalat diisi kuliah dhuha untuk tambahan literasi spiritual.

Kendala yang dihadapi adalah ketekunan dalam mengkondisikan dan pemantauan siswa oleh guru dan orang tua yang lemah. Kendala kedua adalah sarana prasarana ibadah dan kebutuhan air wudhu yang terbatas. Untuk mencapai target program sangat dibutuhkan pengkondisian dan kerjasama seluruh warga sekolah, dan dukungan orang tua.

Faktor berikutnya adalah literasi tentang shalat yang harus ditingkatkan. Rata-rata pemahaman yang beredar, shalat hanya dipahami sebagai kewajiban tanpa argumentasi hubungannya dengan kehidupan. Kuliah dhuha, pembelajaran agama, harus didorong untuk meningkatkan literasi anak-anak dan warga sekolah tentang efek positif shalat bagi kehidupan.

Shalat bisa jadi ukuran prilaku akhlak mulia anak-anak dan memiliki fungsi serta efek pada seluruh kehidupan. Secara rasional shalat bisa meningkatkan kecerdasan, kesejahteraan, lepas dari kesulitan dan meningkatkan kebahagiaan. Literasi shalat bisa digali dari keterangan kitab suci, hadis shahih, hasil-hasil penelitian, pengalaman spiritual, dan kesaksian. Literasi shalat bisa ditingkatkan dengan menambah koleksi-koleksi buku tentang segala keajaiban dan kajian ilmiah shalat, dengan mengundang ahli tafsir, penceramah, motivator, dan mengadakan seminar-seminar tentang pengalaman spiritual dari kajian neurosains, dan berbagai kajian ilmu pengetahuan.

Dari sumber kitab suci, di dapat keterangan shalat dapat membawa dampak pada kesejahteraan, kesehatan, kecerdasan, kesuksesan, dan kesabaran. Melihat dampak ini, kompetensi spiritual harus benar-benar jadi kultur di setiap lingkungan pendidikan.


Dari kesaksian anak-anak dan orang tua, shalat yang telah dilakukan secara konsisten, membawa perubahan pada kecerdasan dan kesejahteraan. Pengakuan anak-anak dalam karya tulisnya tentang pengalaman spiritual shalat, dia merasa prestasinya meningkat menjadi tiga besar dibanding sebelumnya sebelum melaksanakan shalat secara rutin. Para orang tua mengalami perbaikan kesejahteraan dilihat dari menurunnya jumlah tunggakkan iuran bulanan ke ke sekolah. Lima orang guru lolos seleksi CPNS, dan pembangunan infrastruktur sekolah bantuan dari pemerintah dan orang tua berjalan lancar. Kondisi lingkungan sosial sekolah terasa lebih harmonis, dan suasana sekolah lebih positif.

Selama ini belum ada kajian ilmiah yang meneliti tentang efek positif kegiatan spiritual shalat di sekolah terhadap warga sekolah. Namun penelitian dalam bidang kesehatan, di Amerika sudah banyak dilakukan dengan hasil, “mereka yang rutin, disiplin, melakukan ibadah lebih tahan terhadap penyakit, dan lebih panjang umur”. (Pasiak, 2012). Shalat (doa rutin) dapat membantu seseorang menjadi lebih optimis dalam menghadapi permasalahan hidup. Sikap optimis ini telah melahirkan hormon endorphin yang membuat kita merasa semangat, bahagia, dan senang. (Muhtadi, 2017, hlm. 278). 

Dijelaskan dalam Al-Qur’an, shalat membawa efek pada kemakmuran rezeki. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim, 18:37).

Mekah adalah bukti nyata, bahwa ketika shalat didirikan maka berubahlah Mekah menjadi tempat subur dan damai, dipenuhi makanan dan buah-buahan, diawali dengan keluarnya air sumur zam-zam yang tak habis-habis. Jika sekolah menjadi tempat didirikannya shalat, dilakukan dengan komitmen dan konsisten oleh seluruh warga sekolah kolaborasi dengan orang tua siswa, tidak mustahil bagi Allah untuk memakmurkan tanah dan seluruh keluarga besar sekolah.

Bagi siapa saja yang selalu bedoa, berharap, optimis dengan konsisten dalam kondisi lapang maupun sempit (takwa), “… niscaya Dia (Allah) akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At Thalaaq: 1-2). Inilah literasi shalat yang harus digali dan terus ditingkatkan dengan pemahaman, penghayatan, dan pembuktian. Wallahu ‘alam.   

(Kepala Sekolah SMAN 1 Cipeundeuy KBB)

Thursday, March 14, 2019

KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL


OLEH: TOTO SUHARYA

“Sekolah tanpa masalah adalah pekuburan”.  (Chatib, 2011, hlm.6). Selanjutnya Beliau mengatakan bahwa sekolah berkualitas adalah sekolah yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.  “Matilah sekolah jika sudah tidak punya masalah”. Ini pendapat saya, beda redaksi saja dengan pendapat Munif Chatib. Apapun masalah di sekolah, itu ujian agar sekolah selalu meningkatkan kualitasnya.

Masalah pertama yang selalu timbul di sekolah adalah konflik internal antar warga sekolah. Konflik didasari oleh hubungan antar personal yang tidak harmonis akibat perbedaan karakter dan gaya komunikasi. Guru dari berbagai latar belakang pendidikan, memiliki karakter dan gaya komunikasi berbeda. Guru selayaknya memiliki kecerdasan intrapersonal dan interpersonal. Sekalipun kecerdasan ini tidak dimiliki oleh setiap orang, mau tidak mau seleksi guru harus memilih orang-orang yang memiliki dua kecerdasan ini.

Untuk para guru, kecerdasan intrapersonal dan interpersonal di atas, dituangkan dalam Permendikbud. No. 16 tahun 2007 tentang Kompetensi Guru, yaitu kompetensi kepribadian dan sosial. Berbahaya jika guru tidak dipilih dari orang-orang yang tidak memiliki dua kompetensi ini.

Apa bahaya jika guru-guru yang tidak memiliki kompetensi kepribadian dan sosial? Masalah-masalah yang timbul di sekolah bukan masalah meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi masalah pribadi intra dan interpersonal guru. Kata orang Sunda, jika masalah di sekolah sudah seperti ini,  ibarat “cul dogdog tinggal igel”. Artinya pendidikan menjadi tanpa kendali seperti orang menari tanpa iringan gendang, atau bagai layang-layang putus dari tangan tak tentu arah. Sekolah sibuk menyelesaikan masalah kepribadian dan hubungan sosial antar guru, sedangkan siswa yang harus dikembangkan kecerdasannya terbengkalai.

MANUSIA DEWASA HANYA 17 KALI TERTAWA DALAM  SEHARI, ANAK ANAK USIA 6 TAHUN 300 KALI SETIAP HARI. (STOLTZ, 2000, hlm. 58) 
Betul, tidak semua guru memiliki kecerdasan intra dan interpersonal, tetapi peraturan telah menunut semua guru harus memiliki kompetensi kepribadian dan sosial. Kasarnya, jika tidak mau mememuhuhi standar tersebut, lempar handuk putih saja, jangan jadi guru.

Hemat penulis perlu ada ukuran standar kompetensi kepribadian dan sosial guru yang bisa dipahami secara operasional. Standar kepribadian mutlak yang harus dimiliki oleh guru, pertama; Guru harus mampu menjaga pola pikirnya selalu positif. Untuk itu perlu banyak diadakan seminar motivasi tentang belajar ilmu berpikir positif. Konflik terjadi karena ada prilaku yang terbiasa berprasangka negatif terhadap kejadian. Prasangka negatif ini terus berkembang, menular dan bisa jadi mengganggu keharmonisan lingkungan sekolah dan ini merugikan lembaga pendidikan.

Standar kepribadian kedua adalah seorang guru wajib memiliki tingkat kesabaran tinggi. Allah bersama orang sabar ini dalilnya dari Al-Qur’an. Separoh agama adalah kesabaran. Seluruh Nabi memiliki tingkat kesabaran tinggi. Untuk mejadi pribadi sabar, rumusnya dilarang menyalahkan orang lain. Nabi Muhammad saw tidak marah dilempari sampai luka, karena Beliau tidak menyalahkan yang melempar tetapi memahami bahwa mereka yang melempar belum mengerti kebaikan yang diajarkannya.

Rasa marah muncul karena menilai orang lain salah dan saya benar. Menilai saya benar adalah perbuatan salah karena kebenaran hanya milik Allah. Kata-kata yang muncul saat marah sebagian besar hampir semua isinya menyalahkan, dan mengorek keburukan orang lain, dan lupa bahwa semua manusia tempatnya salah. Menjaga atau mengendalikan pikiran selalu positif dan tidak menyalahkan, serta mengorek keburukan orang lain, akan jadi dasar lahirnya pribadi guru yang ramah dan sabar.

Dalam kompetensi sosial standar prilaku yang harus dimiliki guru, pertama; taat pada aturan dan pemimpin yang ditunjuk sebagai pengambil keputusan. Ketaatan pada aturan akan menghindari konflik antar personal. Jika saja terjadi konflik, yang bermasalah bukan personal tetapi aturan. Diskusi-diskusi yang dikemukakan harus bagaimana memperbaiki aturan agar permasalahan bisa diminmalisir. Diskusi akan terkendali karena tidak saling menyalahkan, dan menyerang personal, tetapi mencari solusi untuk memperbaiki aturan. Jika mungkin diubah aturannya harus diubah, jika tidak bisa diubah harus bersabar karena jadi masukkan buat para pengambil keputusan. Selanjutkan untuk menunggu perubahan, gunakan kompetensi kepribadian dengan tetap optimis (positif) dan terus bersabar, berharap ada perubahan ke arah lebih baik.

Standar prilaku sosial guru yang kedua; membiasakan bicara, menyelesaikan masalah dalam saluran musyawarah. Dalilnya, “bermusyawarahlah” (Ali Imran, 3:159). Suka bermusyawarah adalah kompetensi sosial guru yang harus selalu dikembangkan di sekolah, dan menjadi agenda rutin. Suka bermusyawarah adalah prilaku sosial yang dicintai Allah, dan menjadi karakter penjaga hubungan sosial (silaturahmi) harmonis antar personal.

Bermusyarah dapat dilakukan dalam bebagai kesempatan, pelatihan, workshop, seminar, briefing, rapat-rapat khusus, dan obrolan santai. Semakin banyak dibuka berbagai alternatif musyawarah, sekolah akan semakin kondusif, karena semua warga sekolah dapat saling belajar dari pemikiran setiap satu sama lain.

Hal penting yang perlu dipahami para pendidik adalah berkomitken tinggi menaati segala hasil keputusan musyawarah. Hasil musyawarah adalah keputusan yang tidak bisa dibatalkan kecuali melalui musyawarah berikutnya berdasarkan hasil evaluasi. 

Tak ada sekolah tanpa masalah kecuali pekuburan. Namun, seyogyanya masalah-masalah yang timbul di sekolah semaksimal mungkin bukan karena kepribadian buruk hubungan interpersonal para pendidik, tetapi masalah dalam memperbaiki dan mengembangkan kecerdasan anak-anak didik. Wallahu ‘alam.

(Penulis Kepala Sekolah) 

KOMPETENSI SABAR


OLEH: TOTO SUHARYA

Bagi orang dewasa hidup adalah beban. “Rata-rata anak-anak berusia 6 tahun tertawa 300 kali setiap harinya, dan orang dewasa rata-rata 17 kali”. (Stoltz, 2005, hlm. 58). Anak-anak lebih mudah damai jika berkelahi, sebaliknya orang dewasa lebih sulit. Untuk itu, orang dewasa butuh banyak pengetahuan agar bisa lebih sabar dalam hidup.  

“Dan bagaimana kamu dapat SABAR atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai PENGETAHUAN yang cukup tentang hal itu?" (Al Kahfi, 18:68). Kompetensi sabar memiliki hubungan dengan pengetahuan. Dalam teori multiple intelegent, kompetensi sabar termasuk pada kecerdasan interpersonal. “Semakin banyak perbendaharaan pengetahuan seseorang, semakin baik kualitas kesabarannya”. (Plato, 2019).

Sikap tidak sabar dibentuk oleh persepsi negatif. Anak-anak di rumah bisa sabar, berhenti menangis, jika orang tuanya menjanjikan reward yang jadi harapan anak. Reward telah mengubah persepsi anak menjadi positif dan punya harapan.

KOMPETENSI SABAR BISA DILATIH DENGAN LATIHAN BERPIKIR POSITIF DARI KEJADIAN NEGATIF
Pendidikan adalah melatih anak-anak berpikir positif agar menjadi pribadi  sabar. Dalam pembelajaran anak-anak harus dilatih membangun perspesi positif dari kejadian-kejadian negatif. Latihan ini harus berulang-ulang oleh seluruh guru mata pelajaran di sekolah.

Melakukan latihan persepsi positif terhadap hal-hal negatif, akan melatih otak menjadi kreatif dan inovatif.  Selain itu, melatih otak anak-anak berpikir dengan higher order thingking.

Respon anak-anak terhadap hal negatif, dibentuk lewat pengaruh-pengaruh orang tua, guru, teman sebaya, dan orang-orang yang memiliki peran penting selama masa kanak-kanak. (Stlotz, 2005, hlm. 47). Di lingkugan pendidikan, guru adalah ujung tombak pendidikan, melatih anak-anak agar memiliki kemampuan berpikir positif dan optimis. Hal penting lainya guru harus menanamkan keyakinan kepada anak-anak bahwa dengan berpikir positif, selalu optimis, akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik pada kesehatan, kejahteraan, hubungan sosial, dan sabar sampai akhir khayat.

“Terdapat hubungan yang kuat antara kinerja dan cara pegawai-pegawai merespon kesulitan. Orang yang merespon kesulitan secara optimis diramalkan lebih bersikap agresif, dan lebih berani mengambil resiko. Anak-anak dengan respon-respon pesimis terhadap kesulitan tidak akan banyak belajar dan berprestasi, dibandingkan dengan anak-anak yang optimis”. (Stoltz, 2005, hlm. 93-95).

Semakin sering melatih anak-anak berpikir positif terhadap hal-hal negatif, pikiran itu akan menjadi bagian otak sadar dan semakin kuat menjadi kebiasaan bagian tak sadar otak. Seiring dengan perubahan itu, hal terpenting akan terbentuk pribadi anak-anak yang lebih sabar menghadapi kesulitan belajar dan tetap optimis.

Demikianlah cara mengajarkan anak-anak agar memiliki kompetensi sabar. Kelak mereka akan jadi pemimpin-pemimpin tangguh dan selalu optimis dalam menghadapi segala perubahan. Wallahu ‘alam.  

(Penulis Kepala Sekolah SMAN Cipeundeuy KBB)




MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk....