Friday, February 16, 2024

APA SEBAB SEMAKIN TINGGI PENDIDIKAN JADI ATHEIS

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Ilmu disampaikan dengan narasi (penjelasan) menggunakan bahasan lisan dan tulisan. Narasi adalah berbicara dengan diri sendiri. Menurut Gunggung Riyadi ilmuwan penemu ilmu Nafas Ritme. Beliau mengatakan nafas ritme narasi adalah berbicara dengan diri sendiri dikembangkan dengan lima tingkatan.

Setelah mendengarkan penjelasan narasi dari Gunggung Riyadi, saya paham mengapa ada fenomena semakin tinggi pendidikan semakin tidak percaya Tuhan, bahkan sampai Atheis. Penyebabnya adalah narasi ilmu yang cenderung mengikuti paradigma sekuler menggiring manusia menjadi tidak percaya Tuhan, agnostik, bahkan Atheis. 

Pengajaran sekuler diakui terjadi di sekolah-sekolah Indonesia. Bukti pengajaran sekuler di sekolah terjadi dengan pemilahan ilmu melalui mata pelajaran mata pelajaran yang terlepas dari narasi kitab suci. 


Ilmu-ilmu yang diajarkan guru-guru di mata pelajaran narasinya tidak sampai pada kitab suci sehingga murid murid semakin lama pengajaran semakin jauh dari Tuhan. Inilah fenomena terjadi di dunia, termasuk di negara Indonesia yang dasar negaranya dilandasi ketuhanan yang maha esa.

Narasi ilmu pengetahuan menurut Gungung Riyadi ilmuwan penemu Nafas Ritme, dikembangkan sampai lima tingkatan. Pertama, narasi yang dibuat oleh diri sendiri. Dibangun oleh tingkat spiritual, kelilmuan, yang dimiliki seseorang. 

Jika narasi dibuat diri sendiri gagal, akan naik ke level dua, narasi menggunakan yang dibuat oleh orang yang terberkati mungkin para pengajar (guru). Mereka adalah orang-orang yang dianggap baik dan punya kesalehan. Kalau pada level ini gagal karena orang baik atau soleh bisa terlihat kekurangannya. 

Selanjutnya, naik ke level narasi menggunakan pemuka agama atau orang yang dianggap suci, ustad, ulama, kiai, biksu, pendeta, dsb. Kegagalan narasi oleh orang yang dianggap suci bisa gagal jika ternyata orang-orang yang dianggap suci terungkap aibnya, yang aibnya terlihat betul atau terekspos.

Selanjutnya naik level ke narasi yang dibuat para nabi, dan sampai ke narasi yang dibuat oleh kitab suci. Narasi yang dikembangkan Barat hanya berhenti pada level dua atau tiga, karena ilmuwan Barat rata-rata tidak percaya nabi dan kitab suci. 

Dari penjelasan narasi yang dijelaskan Gungung Riyadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mengapa semakin tinggi pendidikan jadi tidak percaya Tuhan, karena narasinya berhenti di level dua atau tiga.

Cara narasi ilmu yang dikembangkan di sekolah-sekolah kebanyakannya berhenti pada level dua dan tiga. Di Indonesia narasi menggunakan nabi dan kitab suci hanya ada pada mata pelajaran agama.

Dari fenomena ini, dipahami perlu ada perbaikan pada semua mata pelajaran, agar narasi yang digunakan harus sampai pada narasi yang menggunakan narasi para nabi dan kitab suci. Pendekatan sekuler kurang cocok dikembangkan di Indonesia yang punya dasar nilai ketuhanan. 

Pendekatan integralis, holistis, menjadi solusi pengembangan narasi keilmuan yang harus dikembangkan di seluruh dunia khususnya di Indonesia. Pendekatan ini tidak membatasi antara ilmu alam dan agama, semua ilmu bermuaranya satu yaitu kepada Tuhan.

Sumber pengetahuan dari para nabi dan kitab suci, sesungguhnya jika kita kembali tinjau tidak menegasikan antara ilmu sains dan agama. Banyak ditemukan bahwa dasar-dasar pengembangan ilmu-ilmu sains dijelaskan dalam narasi-narasi para nabi dan kitab suci.

Ilmu nafas ritme yang dikembangkan oleh Gungung Riyadi salah satunya ilmu yang dikembangkan dengan menggunakan narasi sampai level empat dan lima, karena prinsip keilmuan menurut Gunggung Riyadi tidak boleh menyimpang orang dari ketauhidannya kepada Tuhan. 

Demikiannlah jawaban sementara mengapa saat ini semakin tinggi ilmu pengetahuan dikembangkan, semakin banyak orang-orang yang tidak percaya Tuhan terutama di negara-negara sekuler. Untuk itu cara pandang sekuler menjadi kurang relevan di abad 21 ini dan perlu terus mendapat kritikan.***

Friday, February 9, 2024

APA BEDANYA GURU DAN BUKAN GURU?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Belajar memang benar butuh kehadiran guru. Guru dianggap orang yang lebih mengerti ilmu apa yang bermanfaat bagi siswa dan karakter apa yang harus dimiliki siswa. Belajar dari guru siswa jadi lebih cepat memiliki ilmu dan berkarakter yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Kelebihan guru dari ilmuwan adalah kemampuan guru dalam mentranfer ilmu kepada orang lain. Di tangan guru-guru ilmu yang sulit menjadi sangat mudah dipahami oleh anak-anak. Di sinilah letak beda antara guru dan bukan guru. 

Sampai saat ini masih banyak orang yang sulit membedakan mana guru dan bukan guru. Hal yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang bukan guru adalah mereka tidak belajar bagaimana mentransfer ilmu kepada orang lain.

Oleh karena ini, keahlian guru yang tidak akan dimiliki oleh orang selain guru adalah kecerdasan dan kreativitasnya dalam mengajarkan ilmu kepada orang lain. Di tangan guru-guru hebat, ilmu apapun selalu bisa di transfer dengan baik dan cepat kepada orang lain.

Kelebihan dari guru yang lainnya adalah kemampuannya dalam memahami ilmu-ilmu baru dan menciptakan metode ketika akan mengajarkannya. Guru-guru punya kecepatan dalam memahami ilmu-ilmu baru.

Guru selalu terdepan dalam memahami perubahan zaman, karena minat bacanya yang tinggi dan dalam kesehariannya selalu membaca, mengapa dan bagaimana hal-hal baru bisa terjadi dilapangan.

Perbedaan guru dengan yang bukan guru adalah ketika melihat orang dia selalu melihat potensi baik yang dimiliki orang lain. Ketika melihat murid-muridnya guru selalu melihat perubahan baik. 

Guru tidak pernah memaksakan suatu perubahan dengan paksaan, kecuali dia tidak berhenti memberi penjelasan dari berbagai sudut pandang. Sehingga perubahan akan dilakukan murid-muridnya karena proses kesadaran dirinya untuk berubah setelah memahami dirinya. 

Guru tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mendapat kekuasaan untuk menguasai orang lain. Guru selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mendapatkan kekuasaan dengan menguasai dirinya sendiri.

Guru selalu bersifat netral. Kenetralan guru bukan berarti tidak berpihak, tetapi dia lebih berpihak pada Tuhan. Ketika guru berpihak pada Tuhan, guru berusaha memosisikan murid-muridnya sebagai makhluk Tuhan yang tidak boleh menuhankan hawa nafsunya.

Demikianlah sedikit perbedaan guru dan mereka yang bukan guru. Hal yang paling dasar yang membedakan antar guru dan bukan guru adalah dia selalu membaca setiap kejadian atas nama Tuhan Semesta Alam.***

  

Saturday, February 3, 2024

APAKAH STRES MENYEHATKAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S,Pd., M.Pd.

Diskusi ini penulis sajikan bersumber pada paparan Gunggung Riyadi dalam webinar yang sisajikan di youtube. Penulis kaji penjelasan beliau dan disintesakan dengan ilmu logika Tuhan.

Stres adalah acanaman terhadap kondisi harmonis. Apakah stres dapat dihadapi dengan berpikir positif? Belum tentu. Stres dapat menimbulkan kekebalan tubuh sangat tergantung pada sumber stress.

Stres ketika kita disuruh presentasi di depan, berbeda ketika kita menghadapi stres ketika terjadi pandemi Covid-19. Stres ketika menghadapi juri yang bersifat sementara, stres lebih bisa dihadapi. Namun ketika sumber stres tidak bisa dikendalikan, maka yang muncul pesimisme.

Namun demikian, kita harus hati-hati dalam menempatkan optimisme, jangan sampai berlebihan. Dari hasil sebuah penelitian, optimisme yang berlebihan menimbulkan kurang peduli pada kondisi fisik atau kendisi nyata. Artinya ketika optimisme belebihan tindakan kita menjadi tidak waspada, atau tidak hati-hati.

Contoh kasus, berdasarkan hasil penelitian, orang-orang yang merasa akan terdampak virus Covid-19 mereka lebih peduli untuk menjaga kesehatan, dengan rajin cuci tangan, mennjaga jarak, dan olah raga. Sebaliknya orang yang merasa tidak akan tertular Covid-19 mereka optimis tetapi mengabaikan Langkah-langkah preventif pada akhirnya tubuh sehingga kondisi kekebalan tubuhnya menurun.

Bagaimana hubungan stress dengan sedekah? Dalam sebuah penelitian 1000 orang dewasa usia 39 sampai dengan usia 90 tahun, lalu dibandingkan dengan tingkat kematian di wilayah tersebut. Hasilnya sebanyak 30% orang yang mengalami stres berat memiliki risiko kematian. Tetapi tidak semua, orang yang lebih banyak melakukan aktivitas bantu orang (sedekah), statsitik menunjukkan terjadi penurunan stres dan angka kematian 0 (nol).

Secara ilmiah sedekah atau membantu orang akan menghasilkan hormon oxitocyn. Hormon ini berfungsi membangun terhadap pertahanan terhadap kondisi stress. Untuk hidup sejahtera kita butuh melakukan pengulangan berbuat baik (sedekah atau helping people) akan masuk menjadi alam bawah sadar. Menurut para ahli neurologi pikiran sadar bekerja hanya 1-5%, dan sisanya yang banyak bekerja adalah pikiran bawah sadar.

Jadi solusi untuk kendalikan stress adalah berbuat baik (helping people atau sedekah, berpikir positif (shalat), lakukan berulang-ulang dengan disiplin atau sabar. Dengan demikian pikiran bawah sadar akan bekerja menghasilkan hormon oxitocyn yang menghasilkan kekebalan tubuh sehingga hidup kita sehat dan selalu bahagian.***

Thursday, January 25, 2024

ISLAM ADALAH PARADIGMA BERPIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Jika kita pelajari kisah Nabi Muhammad SAW dan pahami ajaran Al Quran. Sebenarnya, Islam ajaran yang membangun pribadi seseorang menjadi orang yang berserah diri pada Allah. Orang-orang yang berserah diri pada Allah, tandanya dia tidak akan terlalu ngotot untuk kekuasaan di dunia. 

Namun demikian jangan kita memandang lemah kepada orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Karena orang-orang yang berserah diri kepada Allah hanya takut kepada Allah. Namun demikian, tidak berarti karena hanya takut kepada Allah dia akan berbahaya bagi umat manusia. 

Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan hanya takut kepada Allah, dia juga taat kepada Allah. Dia mengikuti akhlak sebagai yang diajarkan oleh akhlak Allah. Di dalam keterangan hadis, Allah lebih senang dikenali oleh makhluknya sebagai maha pengasih dan maha penyayang. 

Demikian juga di dalam Al Quran, sifat dan akhlak Allah yang sering diulang-ulang diingat oleh umat Islam adalah maha pengasih dan penyayang sebagaimana terdapat dalam surah Al Fatihah dan diulang-ulang dalam shalat minimal 17 rakaat tiap hari.

Jika orang-orang Barat takut dengan ajaran Islam, maka sesungguhnya dia belum mengenal ajaran Islam. Padahal kalau saja orang-orang Barat yang dikatakan literasi tinggi mau membaca Al Quran mereka pasti akan mengenal Islam sebagai ajaran yang membentuk pribadi-pribadi agung. 

Setelah terjadi genosida oleh bangsa Israel terhadap Palestina, rupanya banyak orang-orang Barat penasaran dan membaca Al Quran. Hasilnya, mereka mempelajari Al Quran dari aslinya bukan dari tafsiran-tafsiran yang mengatasnamakan ahli. Reaksi mereka sangat luar biasa, karena mereka tersadar bahwa isi Al Quran sangat jauh apa yang dikabarkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang katanya ahli. 

Banyak orang-orang Barat tercerahkan setelah genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Ternyata prilaku orang-orang Palestina lebih beradab dibanding bangsa Israel yang selalu mengatakan dirinya cinta damai. Kini cara-cara hidup Islam menyebar ke seluruh dunia. 

Saya berpikir, Islam tidak hendak menjadikan dunia dalam satu kekuasaan Islam, tetapi Islam mengajarkan kepada seluruh dunia untuk hidup damai sejarah, saling tolong menolong, saling menghormati hak orang lain, atas nama Tuhan Yang Maha Esa.

Fenomena di awal abad 21 ini saya melihat, cara-cara pandang Islam sudah menyebar ke seluruh penduduk dunia. Masyarakat Amerika Serikat, Eropa, Australia, saya menyaksikan mereka menyuarakan hidup damai dan saling menghargai hak hidup antar sesama. Hidup dengan kesetaraan hak sebagai manusia adalah cara pandang Islam, yang kini sudah disuarakan ke seluruh dunia. 

Namun demikian, para pemimpin Amerika Serikat, Eropa dan Australia, masih berpikir atas dasar kepentingan. Suatu saat jika mereka tidak segera mengikuti pola pikir Islam yang sedang berkembang di seluruh dunia, maka kekuasaan mereka akan dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri. 

Kisah revolusi Perancis dimana rakyat menghukum rajanya sendiri, akan terjadi di Amerika Serikat dan Eropa jika mereka tidak segera mengubah cara pandangnya tentang dunia. Para pemimpin Eropa dan Amerikat Serikat hanya sedang menunggu waktu, apakah mereka akan cepat berubah haluan atau akan tetap bersebrangan dengan cara pandang masyarakatnya. 


Islam tidak akan datang membawa pasukan menaklukkan sebuah bangsa, Islam akan datang masuk pada hati setiap orang dan akan menjadi tatanan hidup damai, adil, sejahtera, saling bekerjasama, saling menolong, saling menutupi kekurangan, dan menandang kesetaraan antar bangsa.

Jadi pada masyarakat dunia tenang saja, di dalam ajaran Islam tidak ada perintah untuk menguasai sebuah bangsa atau negara, ajaran Islam hanya menugaskan kepada seluruh umat manusia untuk mengajarkan dan memberi kabar gembira bahwa dengan taat pada satu Tuhan, hidup manusia akan sejahtera di dunia dan akhirat. 

Musuh-musuh kalian adalah cara pandang pemimpin kalian yang rasis, tidak menghargai hak manusia, dan mendukung genosida. Jika kalian masih tetap suka pada pemimpin rasis dan tidak berprikemanusiaan, maka lawan kalian bukan bangsa-bangsa di dunia tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka perhatikan saja bagaimanan bangsa-bangsa hancur, bukan karena serangan dari luar tapi ulah para pemimpin dan masyarakat yang menentang kehendak Tuhan.***   

Monday, January 22, 2024

MENGAPA DILARANG BENCI

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Artikel ini saya tulis berdasarkan pada fenomena di masyarakat. Ada orang yang rajin belajar agama, mendengarkan ceramah, dan mengikuti pengajian, tetapi dari kata-katanya masih terlihat memelihara kebencian dalam hatinya. Tidak habis pikir, sementara di dalam ajaran agama kita harus membebaskan diri dari rasa benci, tetapi kenapa kebencian bisa terpelihara justru pada orang yang mengaku taat beragama. 

Untuk itu saya ingin memberi pandangan, bahwa sebagai orang yang taat beragama seharusnya dirinya terbebas dari kebencian. Kebencian adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Jika orang memelihara kebencian maka dialah yang di dalam hatinya ada penyakit. 

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Nabi Muhammad SAW mengajari kita agar "berakhlak seperti akhlak Allah". (http://al-basair.com/id/news/133/berakhlak-dengan-akhlak-allah-swt). Akhlak Allah yang sering kita ingat dan baca tiap hari dalam shalat adalah Allah maha pengasih dan penyayang. 

Jika orang beragama memelihara kebencian, dia tidak meneladani akhlak Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika ada orang beragama menghujat, mencemooh, menista, sesungguhnya dia tidak taat beragama dan tidak mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. 

Orang-orang yang menyimpan rasa benci dalam hatinya, maka dia bisa tertutup dari hidayah. Rasa benci yang terpelihara dalam dirinya akan menutup diri dari kebenaran karena tertutup oleh kebencian yang dipelihara dalam hati. Bisa jadi apa yang kamu suka justru itu buruk dan bisa jadi apa yang kamu benci itu baik. Kisah ini Allah kabarkana dalam sebuah ayat Al Quran.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 2:216).

Etikanya kita boleh membenci sesuatu dan boleh mencintai sesuatu, tetapi kita harus tetap membuka diri untuk selalu memperbaiki diri, karena bisa jadi yang kita cintai tidak membawa kebaikan dan bisa jadi yang kita benci membawa kebaikan. Jangan sampai karena kita cinta pada sesuatu menutup diri dari kebaikan, dan jangan sampai karena benci kita menutup diri dari kebaikan. 

Allah maha mengetahui dan manusia banyak tidak tahunya. Artinya, selama kita hidup kita harus terus belajar menemukan kebaikan-kebaikan dari berbagai sisi. Sebab kita tidak tahu dari mana arahnya, dari siapa orangnya, dan apa sebabnya kita akan menerima kebaikan dari Allah. Untuk itulah, Allah memerintahkan kepada manusia untuk terus membaca segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, untuk mencari dan memperbaiki diri. 

Manusia selama hidupnya harus menjadi pembelajar sejati. Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa, Allah mengajari manusia. "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al 'Alaq, 96:4-5). Ayat ini menjadi tanda bahwa selama hidupnya manusia terus diajari Allah dan manusia harus jadi pembelajar sepanjang hayat. 

Para pembelajar dia akan terbebas dari kecintaan dan kebencian yang membabi buta. Para pembelajar akan selalu membuka diri pada setiap kejadian yang terjadi untuk jadi pelajaran bagi dirinya. Para pembelajar akan selalu mendapat kebaikan dari apapun yang terjadi di muka bumi ini, karena pembelajar selalu mencari dan menemukan kebermanfaatan agar dirinya menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. 

Jika, di dalam diri kita masih tersimpan rasa dengki, iri, dan benci, maka itulah tanda-tanda bahwa kita harus banyak membaca dan terus belajar tentang hakikat hidup di muka bumi ini. Jika kita masih senang atau spontan, melontarkan kata-kata kotor penuh kebenciaan pada siapapun, itu juga tanda bahwa kita harus banyak baca dan belajar sebagaimana Allah perintahkan.***


Monday, January 15, 2024

Membentuk Karakter dengan Neurosains

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Neurosains mempelajari sistem saraf mahluk hidup. Fokusnya adalah seluk-beluk otak manusia, kesadaran sebagai unsur utama pembentuk identitas manusia dan dikotomi tubuh dan jiwa pada setiap insan (Ikrar, 2016).

Gunggung Riyadi menjelaskan dari sudut pandang frekuensi, manusia terbagi menjadi delapan gelombang frekuensi, tiga di jantung dan lima di otak. Dijantnung dibagi menjadi very low frekuensi, low frekuensi, dan high frekuensi. Di otak terdiri dari lima frekuensi yaitu delta, teta, alpa, beta, dan gama. 

Seluruh sel manusia ada di delapan frekuensi tersebut. Jika sudah mengetahuinya, kita bisa menggetarkan masing-masing sel dengan gelombang frekuensi agar sel berfungsi. Untuk menggetarkan masing-masing sel Mas Gunggung menggunakan ritme pernafasan yang bisa menghasilkan gelombang. Pernapasan sebagai pembentuk frekuensi manual. 

Otak punya kemampuan melakukan perubahan pola. Neuroplastis adalah kemampuan otak untuk membentuk jaringan yang baru menimpa kebiasaan otak yang lama. Kemampuan neuroplastis ini menjadi dasar bahwa watak seseorang bisa diubah. 

Perubahan pola di otak menurut teori lama terjadi selama 21 hari. Pada teori terbaru perubahan di otak terjadi dalam waktu 60 sampai 66 hari. Jadi, sebuah tindakan jika dilakukan berulang-ulang maka kebiasaan akan terbentuk. Hasil riset tindakan yang berulang-ulang dilakukan sampai 254 hari, maka tindakan akan menjadi prilaku yang melekat kuat pada diri seseorang.  

Dalam sistem saraf ada saraf otonom terbagi menjadi dua simpatik dan parasimpatik. Saraf simpatik berkaitan dengan stres, dan syarat parasimpatik berkaitan dengan perbaikan. Untuk mengenal saraf harus kenal jantung. 

Fluktuasi detak jantung. dibalik setiap detak ada pesan. Jarak antara dua detak jantung, jika jarak diatas 50 disebabkan parasimpatik, jika kurang dari 50 disebabkan oleh saraf simpatik. Frekuensi jantung terbagi menjadi tiga yaitu very low (< 0,04 Hz), low (0,04 s.d. 0,15 Hz), high (0.14 s.d. 0,4 Hz). Low frekuensi saraf simpatik, dan high frekeunsi saraf parasimpatik. 

Mas Gunggung menggabungkan ilmu neurosian dan frekuensi yang dihasilkan pernafasan untuk mengaktifkan saraf di jantung dan di otak. Untuk mengaktifkan saraf di jantung dan otak membutuhkan tindakan berulang-ulang untuk membentuk sel jaringan baru di otak. 

Ritme pernafasan yang ditemukan oleh Mas Gungung dapat dipelajari untuk membantu dunia pendidikan dalam membentuk karakter anak-anak. Untuk meningkatkan kecerdasan otak, anak-anak bisa diajarkan untuk melakukan ritme pernafasan tertentu yang dilakukan berulang-ulang sebelum pembelajaran dimulai. 

Untuk itu kita membutuhkan ilmu Mas Gunggung untuk dikenalkan kepada para kepala sekolah, guru-guru, untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan performa kecerdasan otak. Mas Gunggung bisa jadi ilmuwan terkemuka yang bisa kita ajak berkolaborasi untuk membantu melahirkan anak-anak cerdas untuk menyiapkan Indonesia Emas 2045.*** 


Sunday, January 14, 2024

GERAKAN PENDIDIKAN INDONESIA RAYA

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. 

Sebagai pendidik di Indonesia kini saya akan mengampanyekan pendidikan "Indonesia Raya". Saya akan melakukan gerakan kesadaran untuk para pendidik di seluruh Indonesia untuk membangun pola pikir generasi Indonesia menjadi bangsa superior, berpikir besar untuk mensejahterakan dunia dan menghapuskan penjajahan di muka bumi. 

Pendidikan Indonesia Raya adalah era baru pendidikan Indonesia untuk menjadi bangsa berjaya di dunia. Langkah-langkah yang akan dilakukan mulai dari pola pikir dan pola tindak menjadi sebuah bangsa berperadaban tinggi dan berkuasa di dunia. 

Gerakan Pendidikan Indonesia Raya akan berusaha keras membangun kekuatan sumber daya manusia menjadi manusia-manusia kreatif mengelola sumberdaya alam Indonesia untuk kepentingan bangsa dan kemakmuran masyarakat dunia. Indonesia telah dianugerahi oleh Tuhan sumber daya alam melimpah. Semuanya harus diolah, dimanfaatkan, untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan penduduk dunia. 

Generasi bangsa Indonesia akan diajarkan pola pikir mandiri, semua kekayaan alam Indonesia harus diolah di Indonesia untuk kemakmuran Indonesia dan masyarakat dunia. Pabrik-pabrik pengolahan sumber daya alam Indonesia harus didirikan di Indonesia, diolah menjadi produk berkualitas untuk digunakan dalam negeri dan diekspor ke mancanegara.

Generasi bangsa Indonesia akan didorong untuk menjadi para investor pasif dan aktif membiaya perusahaan-perusahaan Indonesia. Generasi bangsa Indonesia harus menjadi investor untuk kemajuan ekonomi bangsa Indonesia. Mulai saat ini, dunia pendidikan akan mengampanyekan budaya berinvestasi di pasar modal, dengan target minimal 30% dari populasi penduduk Indonesia. 

Para pendidik di sekolah-sekolah dilarang mengajarkan hal-hal yang berbau pesimis, tetapi mereka harus mengajarkan hal-hal yang berbau optimisme bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang berkekuatan politik dan ekonomi di dunia. Para pendidik harus menyajikan bahan-bahan ajar yang membawa kebanggaan dan harapan berdasarkan fakta-fakta empiris yang mendukung bahwa Indonesia terlahir sebagai bangsa adidaya di dunia. 

Orientasi sejarah Indonesia harus diubah, yang tadinya hanya sebatas berita tentang keberhasilan Indonesia merdeka dari pejajahan, berubah menjadi fakta-fakta sejarah Indonesia yang memiliki segala potensi untuk menjadi bangsa besar di dunia. Kekuatan ekonomi pertanian, kelautan, dan perdagangan, harus disajikan di kelas-kelas untuk membangun kesadaran peserta didik bahwa Indonesia secara fakta memiliki kemampuan jadi bangsa besar.

Pendidikan agama harus diarahkan untuk mendorong para peserta didik menjadi manusia-manusia berkualitas tinggi dilandasi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai yang membawa pikiran besar sebagai manusia unggul yang bertanggung jawab memakmurkan kehidupan dunia. Kesadaran menjadi manusia unggul akan terus ditanamkan pada peserta didik secara masif hingga menjadi pola pikir bawah sadar peserta didik. 

Peserta didik akan dilatih menjadi manusia-manusia yang bisa membangun kolaborasi dengan seluruh bangsa di dunia, dengan mengatasnamakan kepentingan negara. Hilirasi industri dari berbagai jenis Industri akan diajarkan pada para peserta didik sebagai tanda bahwa bangsa Indonesia akan berangkat menjadi bangsa berkekuatan ekonomi dan politik dalam segala bidang.

Peserta didik akan diajarkan bahwa untuk menjadi bangsa besar, keberadaan media informasi harus dikontrol, dikendalikan, untuk memberitakan kebesaran-kebesaran bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa adidaya di dunia. Berita-berita luar negeri yang mendeskreditkan Indonesia harus diimbangi dengan berita-berita optimis tentang Indonesia. 

Melalui Gerakan Pendidikan Indonesia Raya, seluruh peserta didik harus paham, bahwa monopoli informasi oleh media-media asing yang melemahkan bangsa Indonesia harus dianggap sebagai tantangan untuk menghasilkan kreativitas diberbagai bidang untuk memunculkan keunggulan-keunggulan bangsa Indonesia. 

Melalui Gerakan Pendidikan Indonesia Raya, para peserta didik harus terus dilatih mengenali masalah yang ada pada diri dan lingkungannya, dan didorong untuk menemukan solusinya dalam bentuk ide, prilaku, dan teknologi tepat guna. Pola pendidikan ini harus terus dilakukan setiap hari di seluruh pelosok Indonesia. Pola pikir saling apresiasi terhadap berbagai gagasan yang ditemukan harus dibangun dan dikondisikan oleh para pendidik.


 

ARTI TAWAKAL JANGAN GAGAL PAHAM

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Era digital ditandai dengan era pembelajaran mendalam. Konsep-konsep agama bisa dibedah menjadi lebih b...