Saturday, September 25, 2021

PROXY WAR LITERASI

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Menarik sekali gagasan Rifki Okta Ketua Umum Lembaga Bantuan Hukum Siliwangi tentang proxy war. Sebagai guru sejarah, penulis sangat mengerti apa tujuan dari proxy war. Tujuannya adalah mengendalikan opini masyarakat untuk suatu tujuan tertentu. Proxy war digunakan oleh negara-negara berkekuatan besar untuk berebut pengaruh agar menjadi negara adikuasi di dunia. Dalam sejarah tercatat telah terjadi proxy war antara blok komunis dan liberal. Perang pengaruh dilakukan melalui pemberitaan media massa tentang segala kehebatan negara. Pamer teknologi informasi, pamer senjata mematikan, pamer kekuatan ekonomi, pamer kerjasama politik, militer dengan negara-negara di dunia, semua bertujuan untuk memengaruhi opini masyarkaat agar mau bergabung dan mau menjadi kawan pendukung setia.  

Di era teknologi informasi, peran media sangat vital. Menurut Ricki Okta para awak media dianggap sebagai anggkatan ke lima dalam menjaga kedaulatan negara. Kekuatan para awak media dapat diandalkan untuk membentuk opini dunia tentang eksistensi sebuah bangsa. Keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan proxy war dengan Rusia, tidak lepas dari bantuan awak media yang berhasil menyebarkan luaskan berita-berita keunggulan Amerika Serikat bersama sekutu ke seluruh dunia. Opini publik terbentuk dan masyarakat dunia sebagian besar menjadi pro dan menaruh harapan pada Blok Amerika dan sekutunya.

Begitulah gambaran sejarah tentang proxy war, yang jika kita cermati siapa yang berperan dalam proxy war, dia adalah para awak media. Proxy war adalah perang intelektual atau perang psikologi, dan jarang dipahami oleh masyarakat awam yang hidup hanya cari makan semata. Perang ini sangat mengandalkan kecerdasan intelektual dan dilakukan oleh orang-orang berotak cerdas di atas genius. Perang ini seperti menggunakan pasukan ribuan malaikat yang tidak terlihat tetapi akibatnya sangat mematikan.

Pemanfaatan media sebagai alat perang, berfungsi sebagai penggiring dan pembentuk opini. Berita opini harus mengikuti kode etik jurnaistik, tidak terlihat menyerang, mencemooh, menjelekkan pihak lain, tetapi sebatas memberitakan fakta. Para awak media akan memberitakan fakta sesuai dengan tujuan negara, yaitu untuk menjaga kedaulatan dan kedamaian negara. Apakah proxy war saat ini sudah berakhir? Selama negara memiliki kepentingan, proxy akan tetap digunakan untuk tujuan-tujuan negara.


Untuk dunia pendidikan proxy war bisa diadaftasi sebagai program peningkatan budaya literasi peserta didik. Program ini sangat cocok dikembangkan di sekolah melihat situasi perkembangan berita di media elektronik seperti banjir bandang yang bisa meluluhlantakkan perumahan warga. Budaya literasi di sekolah diarahkan untuk memberitakan hal-hal positif tentang dunia pendidikan di Indonesia, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan mengikuti kode etik jurnalistik.

Program proxy war di sekolah bisa menjadi pendidikan kewarganegaraan dalam rangka menanamkan rasa nasionalisme bagi para peserta didik. Wujud rasa cinta tanah air para peserta didik dapat dipupuk melalui tulisan-tulisan positif tentang bangsa Indonesia dengan mempromosikannya kepada dunia melalui media digital di sekolah-sekolah.  

Program Proxy War Literasi dapat meningkatkan kemampunan intelektual peserta didik karena mereka dituntut untuk berpegetahuan positif dan selalu menulis dan membaca. Kepemilikan pengetahuan para peserta didik adalah modal kedaulatan bangsa. Melalui pemanfaatan media informasi digital, peserta didik bisa berkarya secara intelektual tanpa batas. Kreatifitas peserta didik melalui karya tulis dapat membantu para peserta didik mengembangkan wawasan kebangsaan dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Program Proxy War Literasi adalah budaya yang harus disebarluaskan sebagai tanda bahwa masyarakat telah beradftasi dengan era informasi. Masyarakat harus diberi kesadaran bahwa informasi-informasi yang berkembang di masyarakat hampa kepentingan. Setiap informasi yang disebar memiliki kepentingan. Dalam dunia pendidikan, informasi-informasi yang disebar tujuannya adalah untuk pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat dan kedaulatan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Wallahu’alam. 

PENDIDIKAN SADAR HUKUM DI SEKOLAH

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di dunia dengan basis dukungan masyarakat religius. Agama-gama besar di dunia seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu dianut oleh warga negara Indonesia. Islam adalah  agama terbesar yang dianut oleh bangsa Indonesia. Dalam sebuah polling internasional Indonesia tercatat sebagai negara yang dihuni oleh penduduk sangat religius. Toleransi saling menghargai antar umat beragama sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Inilah negara demokrasi berbasis masyarakat religius dengan kehidupan toleransi beragama yang dapat dicontoh oleh seluruh bangsa di dunia.

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru tahun 1998, Indonesia memang terus melesat mengukuhkan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi religius terbesar di dunia. Adanya demokrasi ditandai dengan pengakuan hak manusia sebagai individu. Dengan pengakuan hak asasi manusia secara individu, negara menjamin hak-hak individu dan tidak bisa direnggut oleh pihak manapun. Negara sekalipun tidak boleh melanggar hak asasi seorang warga negara.

Namun demikian kadang kita lupa, syarat-syarat sebagai negara demokrasi harus tetap terpenuhi. Syarat utama dari negara demokrasi adalah kecerdasan dan kesadaran masyarakat sebagai warga negara yang baik harus tersebar merata. Demokrasi tanpa kecerdasan dan kesadaran hukum sebagai warga negara, maka premanisme akan merebak di mana-mana dalam berbagai wujud rupa.

Dalam dunia preman bukan aturan hukum yang dipergunakan tapi kekuatan dan ketakutan. Siapa bisa menciptakan dan mengendalikan ketakutan, dia akan jadi pengendali kekuatan. Dalam dunia preman, struktur organisasi, kepemimpinan, tidak ada harganya. Untuk hidup di dunia preman, asal punya keberanian dan bisa menebar ketakutan, maka negara bisa dikendalikan dan para pemimpin tidak berdaya. Inilah dunia jahiliyah tidak berperadaban.

Dengan Inovasi dan kolaborasi, sekolah-sekolah selayaknya memiliki kerjasama dengan lembaga-lembaga bantuan hukum di masyarakat, untuk melibatkan masyarakat dalam upaya meningkatkan pendidikan sadar hukum dan menjadikan hukum sebagai pengendali masyarakat. Untuk melaksanakan pendidikan sadar hukum di sekolah, harus ada dukungan masyarakat, karena hukum negara tidak hanya berlaku di sekolah tetapi dalam kehidupan di masyarakat.

Kerjasama sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dengan Lembaga Hukum Siliwangi yang diketuai Rifki Okta adalah terobosan program pendidikan hukum yang sangat kreatif dan inspiratif. Dengan adanya kerjasama ini sekolah menjadi punya dukungan dari masyarakat untuk memberikan pendidikan hukum di sekolah maupun di masyarakat. Produk-produk pendidikan terbaik dari sekolah adalah lulusan-lulusan yang memiliki kesadaran hukum. Negara demokrasi yang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia sangat membutuhkan warga-warga negara yang taat hukum.

Perpecahan, konflik sosial, penyimpangan sosial, perampokkan, pencurian, penipuan, pemerasan adalah akibat dari masyarakat yang tidak bisa hidup dengan aturan hukum yang berlaku. Semoga dengan terwujudnya kerjasama pendidikan hukum antara sekolah-sekolah SMA di Kabupaten Bandung Barat dapat menginspirasi seluruh stake holder pendidikan di Jawa Barat dan seluruh Indonesia. Program ini dapat juga dipandang sebagai wujud nyata pemanfaatan tri pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat, untuk ikut andil dalam mewujudkan pendidikan sadar hukum di lingkungan sekolah untuk melahirkan lulusan-lulusan terbaik bagi bangsa dan negara.

Semakin banyak manusia-manusia Indonesia berkesadaran hukum tinggi, semakin besar peluang bangsa Indonesia menjadi bangsa besar dengan kedaulatan politik dan ekonomi berpengaruh di dunia. Dengan kesadaran hukum yang merata bagi seluruh warga negara Indonesia, akan tercipta lingkungan masyarakat tertib, aman, damai, dan sejahtera. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud karena semua warga negara Indonesia dijamin hak dan kewajibannya oleh hukum negara.

Kejasama pendidikan sadar hukum antar sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung Barat  dengan Lembaga Hukum Siliwangi sangat berkaitan dengan tujuan pendidikan di sekolah. Pada semua mata pelajaran, termasuk dalam pelajaran agama, Allah sangat menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk taat pada pemimpin, artinya seluruh umat beragama diperintahkan hidup damai sejahtera dengan rela diatur oleh hukum-hukum negara yang tujuannya sesuai dengan falsafah Pancasila yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Semoga terobosan program kerjasama antara lembaga bantuan hukum dengan sekolah dapat meningkatkan jumlah manusia-manusia sadar hukum di Indonesia. Wallahu’alam. 

Friday, August 27, 2021

The End of Teacher

Oleh: Toto Suharya
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Setelah ditemukannya internet dan akses internet mudah diakses dimanan mana, kapan saja, dan oleh lapisan masyarakat mana saja, maka inilah tanda-tanda bahwa keberadaan “guru” akan berakhir (the end of teacher). Bukan profesi gurunya yang akan berakhir tetapi sosok-sosok guru yang tidak berusaha membaca dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Guru-guru yang tidak berhasil membaca dan cepat beradaftasi dengan perubahan zaman seperti cerita tukang ojeg pangkalan, dan tragisnya para supir angkutan kota.

Sebagaimana hasil penelitian anak-anak (2020) terhadap penghasilan tukang ojeg pangkalan dibandingkan dengan tukang ojeg online, perbandingannya sudah mencapai 25:75 persen. Umpama, tukang ojeg panggalan penghasilannya 25 ribu rupiah perhari, tukang ojeg online 100 ribu rupiah perhari.  Namun demikian sekalipun faktanya demikian, tukang ojeg pangkalan tetap menjalaninya, dia tidak belajar dari perubahan zaman, dan cenderung menyerah pada keadaan. Dia tetap menunggu penumpang di pangkalan sekalipun peminatnya sudah banyak menghilang. Peminatnya hanya tinggal generasi old mind yang tidak bisa mengoperasikan layanan tranpsortasi online kerena gagap teknologi. Jumlahnya pun semakin sedikit dan sebentar lagi punah.

Demikian juga dengan supir angkot dijalanan, dari pengamatan sehari-hari ketika berangkat dan pulang kerja, angkot-angkot hilir mudik hanya mengangkut dua atau tiga orang penumpang, dan kadang-kadang kosong. Sambil mengendarai angkotnya pelan-pelan, nasib angkot seperti melihat binatang sekarat menunggu kematian. Diskusi dengan pemilik angkot penghasilan mereka turun hingga 75% per harinya. Biaya pemeliharaan, bahan bakar, tidak lagi bisa menutupi kebutuhan operasional kendaraan. Angkot seperti orang sakit parah yang tetap berusaha bertahan hidup dengan cara-cara pengobatan sederhana tanpa ada alternatif pengobatan dan pemanfaatan teknologi kesehatan.

Analogi kisah di atas, adalah gambaran dari “guru” yang tidak mampu beradaftasi dengan kemajuan zaman. Wawasannya terbatas karena tidak memiliki budaya literasi tinggi, mereka tetap bertahan dengan gaya mengajar zaman old mind, mengunakan buku paket, mengajar sebagaimana yang ada dalam buku paket, memberi tugas dan menguji dengan soal-soal tes low order thingking. Ujian hanya menguji ingatan dan pemahaman konsep-konsep yang tidak dibutuhkan peserta didik di lapangan. Hasil tes kemudian dirangking menjadi siswa bodoh dan pintar, jadi hasil dari pendidikan adalah peserta didik bodoh dan pintar. Gaya mengajar yang kaku dan membosankan, membuat peserta didik frustrasi dan mereka mempersepsi sekolah seperti penjara, atau penjajahan yang dilegalisasi atas nama pendidikan. Para pengusaha sukses yang kebetulan tidak berpendidikan tinggi, mereka mencela dunia pendidikan sebagai penyebab kemiskinan, karena peserta didik tidak diajari bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi di atas adalah gambaran bahwa “guru-guru” jika tidak adaftif akan terdisrupsi oleh perubahan zaman. Mereka akan hilang dari permukaan, namun mereka tidak sadar kenapa mereka diasingkan seperti kasus Hand Phone Nokia yang hilang dari pasaran, padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa era sekarang label guru yang harus digugu dan ditiru konteknya ada embel-embel yaitu dalam hal melakukan perubahan. Guru harus tetap menjadi sosok yang digugu dan ditiru namun dalam kontek membawa anak-anak untuk beradaftasi dengan perubahan zaman. Guru harus seperti mobil transformer yang bisa berubah-ubah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika kita ikuti dari prasarana belajar yang digunakan, sosok guru terus mengalami evolusi sesuai dengan perubahan zaman. Pada awalnya guru tampil mengajar dengan kapur tulis. Guru “kapur tulis” pada tahun 2000 an,  seiring dengan perubahan zaman terdesak punah oleh keberadaan spidol white board dan over head proyektor (OHP). Guru spidol mengajarkan pengetahuan dengan mendemostrasikannya di papan tulis dan OHP. Dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi, guru “spidol” terdesak lagi oleh kehadiran komputer dan proyektor. Guru “proyektor” menyajikan pembelajaran dengan membuat slide dan menampilkannya ke dalam proyektor di kelas-kelas. Kondisi pun berubah lagi, guru “proyekor” terdesak dengan kehadiran smartphone dan aplikasi-apikasi  pembelajaran.

Pandemi covid-19 awal tahun 2019 hingga sekarang, telah banyak menelan korban, demikian juga dalam dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 telah menelan banyak korban guru-guru, diantaranya “guru” generasi kapur tulis, spidol, dan proyektor. Ketika pandemi Covid-19 guru kapur tulis, spidol, proyektor, yang dibatasi ruang kelas dan papan tulis, tak berkutik tidak bisa mengajar.  Guru-guru yang tidak bisa beradftasi dengan perkembangan teknologi informasi, tidak memiliki daya adaftasi tinggi, tidak kreatif, pada masa pandemi covid-19, mereka berstransformasi menjadi guru “whatsApp”. Pada masa pandemi pembelajaran diayani melalui chatting di wa grup. Pembelajaran dilakukan dengan gaya chating di wa grup, kadang di jawab kadang tidak. Peserta didik berkeluh kesah, sulit membangun komunikasi dengan guru. Pada akhirnya peserta didik merindukan tatap muka, bertemu dengan guru-gurunya lintas generasi.

Guru-guru dengan daya adaftasi tinggi, ketika masa pandemi covid-19 mereka tampil dengan berbagai perangkat teknologi informasi penunjang, WhatsApp, voice note, file pdf, video youtube, medsos, google meet, google sheet, zoom meet, dan flatform-flatform aplikasi penunjang pembelajaran dari berbagai produk dipelajari dan dikembangkan untuk memberikan alternatif layanan pendidikan pada peserta didik yang terkendala komunikasi karena pandemi covid-19. Guru-guru dengan multi tasking berubah wujud menjadi guru-guru berkarakter entrepreneur. Sementara guru-guru yang tidak adafif mengalami sekarat dan kematian (the end) akibat pandemi covid-19, di lain pihak guru-guru berkarakter entrepreneur tetap sehat dan semakin sejahtera hidupnya, melayani pendidikan anak-anak dengan energik, penuh semangat, dan optimis, melayani anak-anak dengan berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik sekalipun pandemi Covid-19 melanda dunia. Wallahu'alam.


Monday, August 16, 2021

HARUS SEGERA TATAP MUKA

OLEH : TOTO SUHARYA
(Kepala Sekolah, Sekretaris DPP AKSI)

Kurang lebih 15-20 persen anak-anak akan mengalami learning lost. Guru-guru pun sudah merasa lelah melayani. Dari hasil supervisi pembelajaran di suatu sekolah jenjang menengah, kehadiran siswa dalam pembelajaran maksimal hanya mencapai 85 persen. Bekerjasama dengan wali kelas, guru mata pelajaran dan orang tua, kehadiran siswa masih stagnan. Komunikasi via wa dan kunjungan ke rumah telah dilakukan namun aktivitas belajar anak-anak sangat sulit dikontrol.

Budaya belajar jarak jauh via daring atau luring, belum membiasa. Hampir dua tahun pandemi ini, anak-anak masih ada yang belum bisa beradaftasi. Budaya belajar di negara kita masih sangat terikat dengan kegiatan tatap muka. Pembelajaran jarak jauh yang terpaksa harus dilakukan karena pandemi, belum bisa disadari sebagai suatu keharusan oleh sebagian anak-anak bahwa pembelajaran harus dilakukan dengan cara jarak jauh, dilakukan dengan sikap tanggung jawab dan mandiri. Sebagian anak-anak kita masih sangat mengandalkan pembelajaran tatap muka.

Kendala yang dihadapi anak-anak selain kurang motivasi, didasari pula oleh keterbatasan kemampuan pengoperasian teknologi informasi, kepemilikan perangkat teknologi informasi, ketersediaan kuota dan akses internet. Dari 15-20 persen anak-anak masih terkendala masalah ini. Keterbatasan ini menjadi sebab kurangnya motivasi belajar anak-anak melalui layanan daring. Layanan luring melalui modul dan penugasan, tidak dikerjakan secara maksimal karena sebagian anak-anak juga kurang aktif berkomunikasi dengan guru.

Komunikasi dengan orang tua melalui media informasi dirasa kurang efektif, karena beberapa orang tua kurang aktif merespon setiap informasi-informasi yang disampaikan guru di grup media sosial. Latar belakang pendidikan dan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor penghambat, keterlibatan orang tua dalam menjaga anak-anaknya agar tetap belajar melalui layanan jarak jauh tidak efektif. Orang tua siswa sama-sama mengalami kesulitan mengendalikan kegiatan belajar anak-anaknya di rumah.

Semakin lama layanan pembelajaran jarak jauh secara daring dan luring, semakin kurang kondusif akibat belum bisa menghadapi situasi darurat pandemi saat ini. Beberapa masukkan dalam rapat orang tua siswa, mereka sudah merasa kewalahan dan khawatir anak-anaknya tidak bisa belajar dengan efektif melalui jarak jauh. Mereka sudah berharap kembali ada pembelajaran tatap muka agar bisa menjamin anaknya belajar dengan efektif dibimbing oleh guru-gurunya.

Tatap muka dengan situasi masih pandemi tentu sangat berisiko, bagi kesehatan guru dan anak-anak. Percepatan vaksin untuk anak-anak tentu menjadi hal yang urgen untuk dilakukan. Sekalipun vaksin tidak menjamin orang bebas dari tertular virus covid-19, tapi setidaknya vaksin dapat mengurangi risiko bahaya virus covid-19, dan juga bisa memberi sedikit imun dengan kepercayaan diri bahwa vaksin dapat membantu menjaga kekebalan tubuh terhadap virus covid-19.

Selanjutnya, jika seluruh elemen masyarakat menganggap penting untuk menjaga hak pendidikan anak-anak, semua harus berani menanggung risiko bersama jika pembelajaran tatap muka dilakukan. Seluruh elemen masyarakat harus menyadari pentingnya pola hidup sehat agar imunitas tubuh dapat terpelihara. Kemudian, segala risiko yang mungkin terjadi ketika tatap muka dilaksanakan harus disadari menjadi tanggung jawab bersama untuk menghadapinya. Akibat-akibat terburuk ketika dilakukan tatap muka harus dihadapi bersama tanpa ada usaha saling manyalahkan antar pihak. Pandemi ini sudah menjadi masalah bersama yang harus kita hadapi bahu membahu. Segala upaya yang dilakukan pemerintah harus diapresiasi sebagai usaha untuk memperbaiki keadaan agar cepat kembali pulih.

Seluruh elemen masyarakat harus memberi dukungan penuh kepada pemerintah untuk membuka layanan pendidikan melalui tatap muka, dengan kesiapan bersama untuk menanggung dan mengantisifasi segala kemungkinan yang terjadi. Kita semua harus menjadi pelaku bukan hanya pengamat dunia pendidikan. Segala kejadian yang mungkin terjadi pada saat tatap muka, bukan hanya untuk diperbicangkan tetapi untuk bahu-membahu menyelesaikannya. Dengan komitmen bersama dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, sekolah akan punya kekuatan moril dan kesiapan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Beragamnya kualitas fasilitas sarana kesehatan di lingkungan sekolah adalah tugas bersama untuk menyediakannya dan yang lebih penting adalah kesiapan budaya hidup sehat, dan melakasanakan protokol kesehatan yang harus terus ditingkatkan kesadarannya. Sekalipun sarana prasasaran kesehatan di sekolah terbatas, dengan kesadaran budaya hidup sehat dan melakukan protokoler kesehatan di masa pandemi, kiranya pembelajaran tatap muka dengan mengucap bismilah mudah-mudhaan bisa dilakukan.

Kita niatkan bersama, memohon kepada Tuhan YME bahwa upaya pembelajaran tatap muka adalah upaya melaksanakan perintah Allah, yaitu mewujudkan generasi-generasi tangguh di masa yang akan datang. Semoga Allah melahirkan generasi-generasi kreatif, dan tangguh, dengan belajar dari situasi pandemi ini. Wallahu’alam.

Saturday, July 31, 2021

SEKOLAH UNIVERSAL

 OLEH: TOTO SUHARYA

Jawa Barat memang selalu terdepan dalam inovasi. Dengan jumlah penduduk 48 juta lebih, Jawa Barat memang harus punya keberanian untuk meakukan inovasi terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu keberanian Jawa Barat adalah menggulirkan program SMA Terbuka, yang tadinya program ini hanya dimiliki tujuh sekolah saja se-Indonesia dari program pemerintah pusat. Selain untuk meningkatkan Angka Partisifasi Kasar (APK) sekolah menengah di Jawa Barat, program SMA Terbuka bertujuan menjamin kepada seluruh warga Jawa Barat agar bisa mengakses pendidikan dalam kondisi apapun. Melalui program SMA Terbuka setiap warga Jawa Barat dijamin hak-haknya untuk mengakses pendidikan tanpa harus terganjal oleh syarat-syarat formal sebagaimana di pendidikan regular.

Dalam Pergub No. 74 tahun 2020 dijelaskan pertimbangan dikeluarkannya program SMA Terbuka adalah upaya memberikan layanan khusus dan pemerataaan askes pendidikan, terutama kepada anak-anak usia 16-21 tahun yang terkedala dengan waktu dan atau ekonomi keluarga. Selain itu juga menimbang Angka Partisifasi Kasar (APK) Jawa Barat yang masih perlu terus dtingkatkan. Sementara ini rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih 8,3 tahun, dianggap belum lulus SMP.

Program layanan SMA Terbuka masuk pada kategori layanan khusus. Pengertian layanan khusus di sini dapat dipahami dari berbagai aspek, antara lain sosial, ekonomi, budaya, psikologi, dan politik. Dari aspek sosial SMA terbuka memberikan layanan kepada masyarakat yang kondisinya lemah karena secara struktur sosial berada di lapisan menengah ke bawah, mobilitas hidupnya terbatas, dan tidak memiliki ikatan jejaring keluarga dan sosial yang luas. Secara ekonomi, SMA Terbuka menyasar kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah, sehingga anak-anak usia sekolah pada keluarga ekonomi lemah sering terlibat dalam dunia kerja untuk bantu ekonomi keluarga. Dari sudut budaya, masyarakat Indonesia masih kuat memegang tradisi yang berusmber dari budaya maupun agama. Tradisi tersebut antara lain menikah usia dini, menikah dianggap tujuan akhir sehingga setelah menikah dianggap tidak ada tugas atau kewajiban untuk berpendidikan tinggi. Secara psikologis, anak anak Indonesia pada usia sekolah berada pada masa pancaroba, mereka harus mendapat layanan pendidikan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minatnya. Secara politis, tahun 2045 bangsa Indonesia punya cita-cita menjadi bangsa berdaulat di tingkat internasional sehingga sejak saat ini harus menyiapkan anak-anak cerdas untuk menyambut Indonesia emas.         

Program SMA Terbuka sejalan dengan kondisi zaman, dimana pendidikan sudah bersifat universal bisa didapat oleh siapa saja dan dimana saja, tanpa tersekat-sekat oleh geografi, ekonomi, bangunan, lembaga formal, tatap muka berhadap-hadapan, dan struktur organisasi. Jargon Ki Hadjar Dewantara memang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang, “dimana saja sekolah, dan siapa saja guru”. Sekalipun pemikiran Ki Hadjar dikemukanan berpuluh tahun yang lalu, namun sekaranglah zamannya bahwa pendidikan harus bersifat universal.

Secara filosofis tujuan SMA Terbuka memang sangat membantu seluruh lapisan masyarakat dalam mengaskes pendidikan. Anak-anak yang memiliki karir di bidang olah raga, seni, dan ekonomi, tidak lagi terhambat oleh aturan kaku seperti sekolah reguler. Mereka yang jauh dari sekolah, terkendala ekonomi, geografi, budaya, dan politik, bisa merasakan layanan pendidikan melalui layanan jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi.

Dalam sekolah universal aturan tidak terlalu ketat mengikat sebab semuanya dilandasi oleh melayani semua. Kunci dari layanan universal adalah kemandirian, kesadaran, dan motivasi bersama untuk memberikan layanan dan pengalaman pendidikan terbaik kepada anak-anak. Kolaborasi dan dialog adalah kunci utama dalam memberikan layanan pendidikan pada peserta didik. Maka dari itu, syarat-syarat agar semua anak usia 16-21 tahun bisa akses sekolah menengah terbuka tidak terlalu ketat, yang pada akhirnya ada kesan membatasi. Anak-anak usia sekolah yang sudah bekerja yang tidak terikat kontrak maupun terikat kontrak harus terlayani. Perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan anak-anak di usia sekolah tamatan SMP, harus diajak untuk sama sama mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan anak-anak generasi emas di tahun 2045.  

Kualitas pendidikan di SMA Terbuka tidak dapat serta merta dilihat dari hasil lulusan. Kualitas pendidikan SMA terbuka sangat tergantung pada proses layanan. Minimalnya proses pembelajaran pada anak-anak SMA terbuka secara disiplin dan penuh tanggung jawab harus benar-benar terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi proses pembelajaran bisa dilaksanakan tanpa sekat ruang dan waktu. Untuk menjamin kualitas layanan SMA terbuka, harus ada komitmen tinggi dari setiap penyelenggara pendidikan SMA Terbuka untuk bekerja keras, kreatif, terorganisir, penuh kesabaran dan keikhlasan untuk seoptimal mungkin menjamin proses pembelajaran berlangsung sesuai ketentuan dan harapan bersama.

Program SMA Terbuka adalah tugas suci kita semua. Mencerdaskan masyarakat adalah perintah Allah agar kita menjadi bangsa mandiri, tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa bermanfaat bukan hanya bangsa kita sendiri, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa-bangsa lain. Kini kita telah menjadi warga dunia tanpa sekat yang dipersatukan oleh teknologi informasi. Wallahu’alam.  

Tuesday, July 27, 2021

SEKOLAH PENGGERAK BUKAN UNGGULAN

OLEH: TOTO SUHARYA
(Sekretaris DPP AKSI)

Berulang-ulang pernyataan Mas Mentri bahwa sekolah penggerak bukan sekolah unggulan. Pernyataan ini mengemuka dari mulut Mas Mentri jangan sampai keberadaan sekolah penggerak menjadi pembeda bagi sekolah-sekolah lain yang tidak terlibat dalam proyek sekolah penggerak. Saat ini, telah berkembang sebuah pemahaman dan terkondisikan bahwa sekolah-sekolah yang tergabung dalam sekolah penggerak sebagai sekolah unggulan, ekslusif, dan berbeda dengan sekolah-sekolah non penggerak. Pernyataan sikap Mas Menteri adalah sebuah kekhawatiran bahwa kastanitasi sekolah akan terulang kembali dengan adanya program sekolah penggerak. Kekahwaatiran lainnya adalah munculnya sentimen negatif dari sekolah-sekolah yang tidak tergabung dalam program sekolah penggerak yang merasa tidak diperhatikan.

Persepsi penulis, Program Sekolah Penggerak adalah upaya pemerintah untuk mendorong semua sekolah untuk melakukan perubahan. Namun demikian sekolah penggerak dapat dikatakan sebagai sekolah uji coba penerapan kurikulum baru. Perbedaannya hanya di proses penentuan sekolah tidak dilakukan melalui ajuan atau penunjukkan, tetapi kali ini melalui seleksi kesiapan sekolah dalam menerima perubahan. Seleksi bukan untuk menjaring peserta program, tetapi dapat menjadi konisioning agar sekolah yang dijadikan proyek secara psikologis merasa siap untuk menerima perubahan karena sudah berdasarkan hasil seleksi.

Tepatnya memang Program Sekolah Penggerak adalah uji coba penerapan ide-ide perubahan minset, kurikulum, yang dilakukan oleh kementerian. Dalam uji cob aini butuh kepala sekolah, guru-guru, yang mentalnya sudah terkondisikan siap berubah. Melalui cara seleksi rekruitmen sekolah-sekolah yang akan di uji coba harus terkondisikan kesiapan mentalnya. Tantangan terberat dari dunia pendidikan adalah menyiapkan para pendidik yang selalu siap menghadapi perubahan dan memiliki kemampuan beradaftasi tinggi dengan kondisi zaman.

Di luar sekolah-sekolah penggerak, hendaknya tidak menunggu komando untuk melakukan perubahan. Seluruh sekolah harus menggerakkan seluruh warganya untuk merespon dan beradaftasi dengan perubahan zaman. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari menentukan hal-hal substansial yang harus segera dilakukan perubahan dalam layanan pendidikan. Hal-hal substansial tersebut ada dalam tujuan pendidikan yang hendak menciptakan generasi Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai dasar yang sudah di sosialisasikan yaitu peajar yang Berketuhanan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, mandiri, cerdas, kreatif, dan mampu berkolaborasi untuk menghadapi tantangan zaman.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut semua sekolah tanpa komando harus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menyenangkan. Layanan pendidikan harus berpusat pada kebutuhan, bakat, dan minat, peserta didik. Tidak ada lagi perangkingan, dan tidak ada jurusan-jurusan yang akan melahirkan kastanisasi kecerdasan peserta didik. Semua perserta didik harus dipandang sebagai manusia cerdas yang harus dibantu untuk menemukan jati dirinya dengan menemukan dan medorong untuk tumbuh sesuai dengan kecerdasan khas yang dimilikinya.

Melalui program literasi, wawasan peserta didik dalam memandang dunia harus dibuka seluas-luasnya dengan menyajikan konten-konten materi bahan ajar yang sudah terseleksi kevalidan dan keshaihan, serta berhubungan dengan kontek lingkungan di mana para peserta didik tinggal. Peserta didik dari lingkungan petani, materi-materi bahan ajar hendaknya memperkenalkan pengetahuan, teknologi, yang berkaitan dengan inovasi-inovasi dalam bidang pertanian. Peserta didik di lingkungan nelayan, hendkanya disajikan pengetahuan tentang inovasi-inovasi dalam bidang kelautan. Bahan-bahanajar yang disajikan bukan sekedar pengetahuan umum tapi disajikan dari hasil riset-riset para ahli yang bisa diakses dari berbagai jurnal nasional maupun internasional yang terakreditasi.

Untuk menyajikan pengetahuan dan inovasi hasil riset ilmiah kepada peserta didik, dibutuhkan guru-guru yang memahami latar belakang kemampuan para peserta didik dalam menyerap ilmu pengetahuan yang hendak disajikan. Pemahaman tentang struktur kerja otak untuk meningkatkan kemampuan bernalar, pemanfaatan media pembelajaran, dan model-model pembelajaran harus dipahami dengan cermat agar pembelajaran dapat membantu para peserta didik menjadi manusia-manusia literat.

Pendidikan karakter yang tidak boleh tidak dan harus dikembangkan oleh seluruh sekolah adalah membudayakan membaca sebagai bahan dasar untuk melahirkan peserta didik cerdas dan kreatif. Berbagai ide sebagai upaya membudayakan budaya baca, bisa dikemas dalam berbagai program seperti readding cahallange, membaca miminal 25 buku per tahun, bedah buku, jurnal,  membiasakan mengemuakan pendapat dalam bentuk esay dalam setiap pembelajaran, dan membuat proyek-proyek peneitian kolaboratif yang direncakan dalam kurikulum minimal satu tahun satu kali di setiap tingkatan peserta didik.

Guru-guru dalam setiap pembelajaran harus merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan ide-ide baru yang berhasil ditemukan dari sebuah buku atau jurnal untuk memberi contoh bahwa membaca harus dilakukan oleh para peserta didik untuk bisa menemukan ide-ide baru dalam melakukan perubahan. Mengkulturkan budaya pada peserta didik, harus dimulai dari kultur membaca dari para pendidik. Para pendidik harus memiliki kesadaran tinggi bahwa budaya membaca adalah pondasinya pendidikan, dengan demikian untuk meningkatkan kualita layanan pendidikan, setiap guru sudah harus punya naluri yang sama yaitu biasa membaca tanpa harus ada komando. Naluri membaca harus terus difasilitasi seperti memberi makan ketika perut lapar.

Otak seperti perut yang tidak boleh dibiarkan lapar dan tidak boleh diisi dengan sembarangan makanan. Otak para pendidikan dan peserta didik harus selalu terisi dengan pengetahuan-pengetahuan bergizi agar kecerdasannya tumbuh dengan sempurna. Mari bergerak tanpa harus menunggu komando, label, dan surat keputusan. Bergerak adalah naluri manusia, maka barang siapa mau hidup sejahtera dunia dan akhirat, bergeraklah. Allah akan memberi kesejahteraan terbaik kepada yang bergerak. Wallahu’alam. 

Monday, July 26, 2021

KARAKTER ENTREPRENEUR PARA TOKOH SEJARAH

 BAHAN AJAR SEJARAH

Mata pelajaran          : Sejarah Indonesia

Kelas / Semester        : XII / Ganjil

Materi Pokok            : Meneladani karakter tokoh-tokoh sejarah

Metode/waktu          : Online/40 menit

Tujuan                      : Menganalisis ciri tokoh berkarakter entrepreneur

 

MATERI  Pertemun 1

Herodotus mengatakan, “sejarah menceritakan perputaran jatuh-bangunnya seorang tokoh, masyarakat, dan peradaban”. Jadi memelajari kisah tokoh-tokoh besar di suatu negara sama dengan memahami sejarah sebuah negara. Untuk kemajuan bangsa dibutuhkan tokoh-tokoh yang mampu mensejahterakan bangsa. Di zaman kemerdekaan,  berdasar hasil survey John Stanley terhadap 700 lebih miliarder di dunia, mereka mengatakan kesuksesan para miliarder didukung oleh kemampuan bergaul dan kecerdasan berada di urutan ke-21. Mitshubisi Research Institute (dalam Dewajani, 2008) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada keterampilan bertahan hidup yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan membangun komunikasi (networking), 20% tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang dimilikinya (Rohmah, 2017, hlm. 149).

Ada hukum sejarah yang berlaku pada tokoh-tokoh besar dimanapun berada. Mereka akan mengalami kisah hidup sebagaimana sebagai seorang berkarakter entrepreneur. Kisah-kisah tokoh sejarah akan menggambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha mencari solusi, dan kreatif menggali berbagai ide atau gagasan untuk mencapai cita-citanya dengan membaca. Mereka berteman baik dengan buku-buku bacaan, dan sangat pandai membaca situasi. Mereka tidak berhenti membaca pengalaman hidup yang dialaminya untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Selain itu, perjalanan hidup para tokoh besar selalu berdampingan dengan kegagalan demi kegagalan. Mereka para pemberani, karena mereka tidak takut gagal untuk mewujudkan cita-cintanya. Kekuatan karakternya ditempa dengan ujian-ujian berat yang dapat dilaluinya dengan sabar dan tabah hingga mencapai tujuan. Mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha bertahan hidup (survival), hingga penderitan-penderitaan hidupnya bisa mereka lalui. Perjalanan hidupnya yang berat membuat mereka sukses, merdeka, dan mandiri dalam mementukan nasib hidupnya. Mereka tidak tergantung pada orang lain, dan keberhasilannya sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Seorang filsuf Yunani berkata, “segala yang terjadi dan berlaku di alam ini dikuasai oleh hukum sebab akibat”. Untuk itu, kisah-kisah keuletan dalam membaca, kegagalan dan penderitaan hidup seseorang selalu menjadi sebab suksesnya orang-orang besar dalam memperjuangkan cita-citanya. Sudah menjadi hukum sejarah atau ketetapan (determinisme) sejarah bahwa orang-orang sukses akan mengalami kisah sebagaimana orang-orang besar mengalaminya. Inilah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan sebagai takdir manusia yang tidak dapat dihindari. Dengan membaca, kisah-kisah kehidupan orang-orang besar (The Great Man) kita bisa membuktikan kebenaran hukum sejarah berlaku dalam kehidupan tokoh besar dan harus kita teladani.

MANUSIA TIDAK BOLEH DITUHANKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd. Mengapa manusia tidak boleh di Tuhankan? Ada beberapa argumen yang bisa dipahami akal dengan logis. Argu...