Sunday, July 30, 2023

LOGIKA TUHAN MEMANDANG LGBT

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.

Kemajuana teknologi informasi tentu membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatifnya adalah manusia dengan berbagai macam ragam punya punya kebebasan mengekpresikan kebebasannya. Tentu saja, hidup di abad teknologi ini butuh kecerdasan lebih tinggi lagi. Kecerdasan yang dibutuhkan adalah memilah mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. 

Logika Tuhan adalah cara pandang ketuhanan, yang menjadikan kitab suci Al Quran sebagai sumber berpikir. Argumen-argumen dikembangkan dari informasi Al Quran dan ilmu pengetahuan alam. Antara Al Quran dan ilmu pengetahuan alam, tidak terpisahkan karena dunia diciptakan dalam sebuah sistem keterkaitan. Informasi dalam Al Quran dan informasi di alam adalah sumber belajar agar manusia terus belajar dengan berpikir.  

"dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda". (Al Lail, 92:3-4).

Dalam kasus LGBT telah terjadi benturan nilai antara masyarakat materialis dengan masyarakat religius. Dua pemikiran ini kadang ada kesamaan kadang ada perbedaan. Masyarakat materialis menilai LGBT adalah hak seseorang untuk menentukan statusnya. Pandangan kaum materialis menganggap kaum LGBT adalah fenomena alamiah yang faktanya terjadi pada manusia. 

Sebaliknya masyarakat religius, yang masih memegang nilai-nilai ketuhanan, memandang bahwa kaum LGBT adalah tindakan dosa besar. Kisah kaum LGBT dikabarkan di dalam kitab-kitab suci, sebagai tindakan yang dibenci Tuhan. Sebagai contoh di dalam kitab suci Al Quran, dijelaskan:

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (Al 'Araaf, 7:80-81). 

Bagi masyarakat religius, informasi dari kitab suci memiliki tingkat validitas tinggi. Kebenarannya dapat diuji dan dibuktikan bahwa orang-orang yang bersikap melampaui batas akan berujung dengan kebinasaan. Kaum LGBT dianggap golongan yang melampaui batas atau pelaku dosa besar. 

Di dalam Al Quran dikabarkan bahwa orang-orang yang melampaui batas seperti kaum Nabi Lut mendapat balasan setimpal dari perbuatan yang dilakukannya. 

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Al 'raaf, 7:83-84). 

Perbedaan pandangan tentang LGBT sangat tergantung pada sudut pandang sebuah masyarakat. Masyarakat yang cenderung pada pandangan-pandangan logika material dan logika keagamaan akan berbeda. Perbedaan cara pandang ini akan melahirkan perbedaan budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Setiap negara punya cara pandang dan budaya yang berbeda. Setiap negara berdaulat untuk menentukan nasibnya sendiri. 

Bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat dengan dasar ideologi ketuhanan yang maha esa, akan sangat sulit menerima kehadiran kaum LGBT. Di era informasi ini, setiap orang harus terus berdialog, saling memahami budaya setiap bangsa dan negara, agar masing-masing bisa menempatkan diri dimana kita berada. ***

Friday, July 28, 2023

Takdir Tuhan Dibalik Sukses Ada Derita

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Esensi dari pendidikan bukan mengajari orang supaya menjadi (to be) tetapi mengajar orang agar selalu learning how to be, leraning how to learn, learning how to do, learning how to life together. Jawaban dari soal-soal yang diujikan bukan ukuran keberhasilan seorang guru. Keberhasilan seorang orang ketika mereka bisa menemukan cara bagaimana mengajarkan 4 How kepada muridnya. 

Dibalik sukses ada derita yang harus dilalui seseorang. Orang yang tidak mau menghadapi penderitaan, dia akan berhadapan dengan penderitaan. Pesan ini mengandung logika dari Tuhan. Orang yang tidak memahami logika dari Tuhan, akan menghindari penderitaan, sekalipun ketika menghindari penderitaan mereka akan menderita. 

Sumber pemikiran, bahwa penderitaan penyebab sukses bisa kita temukan dalam kitab suci Al Quran. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah". (Al Balad, 90:4). Susah payah dapat kita samakan dengan penderitaan. Selanjutnya konsep susah payah tidak berdiri sendiri tapi dia merupakan sebuah keadaan yang harus dilalui seseorang untuk menjadi. Susah payah atau penderitaan adalah learning how to be. Jika seseorang ingin menjadi sesuatu di muka bumi ini, pelajarannya adalah mereka harus bisa melalui penderitaan demi penderitaan hidup yang akan mereka lalui. 

Sekolah yang mengajarkan murid-murid menjadi sesuatu yang berarti dalam hidupnya, sekolah akan mengajarkan bagaimana cara murid-murid menghadapi dan berhasil melalui penderitaan hidup yang akan dilaluinya. Kisah hidup bagaimana menghadapi penderitaan di kisahkan dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. (Suharya, dkk. 2022). 

Sekolah yang melatih murid-murid mampu menghadapi penderitaan, bukan berarti legalisasi kekerasan dalam pendidikan, tetapi murid-murid harus diajarkan bagaimana menghadapi penderitaan dalam kontek "belajar". Mereka harus menjadi manusia-manusia pembelajar sepanjang hayat. Mereka harus berani menderita dalam belajar, berani terus untuk belajar sekalipun mereka harus mengorbankan kenyamanan-kenyamanan hidup yang mereka miliki. 

Kemampuan bertahan dan keluar dari penderitaan dengan semangat belajar yang murid-murid miliki, kemampuan inilah yang akan mengantarkan mereka menjadi sesuatu yang berarti dalam hidupnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Puncak karir dari seseorang dalam hidup ini adalah menjadi (to be) manusia-manusia bermanfaat bagi orang lain. Dalam konsep Islam, manusia-manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Perjalanan hidup Nabi Muhammad yang mengandung contoh teladan bagaimana Nabi Muhammad SAW bertahan dalam penderitaan, dijelaskan dalam disertasi Suharya (2022). Penderitaan adalah siklus yang harus dilalui bagaimana seseorang akan mencapai dan menjadi sesuatu. Semakin besar penderitaan yang dihadapi seseorang, akan menentukan seberapa kualitas diri seseorang. Dalam kehidupan modern, orang-orang terbaik selalu mengisahkan bagaimana mereka hidup dalam penderitaan dan berhasil menghadapinya. 

Kebenaran bahwa hidup seseorang ada dalam penderitaan, dapat dibuktikan pada kehidupan setiap orang. Sekecil apapun capaian hidup seseorang, mereka pasti akan mengisahkan bagaimana mereka menderita sebelum mereka mencapai kondisi sekarang. Itulah takdir Tuhan yang tidak akan pernah bisa diingkari manusia. Maka pendidikan berkualitas, bukanlah pendidikan yang mengajari murid-murid terhindar dari penderitaan, tapi pendidikan yang mengajarkan murid-murid berani menghadapi penderitaan, agar mereka menjadi (to be) manusia-manusia unggul.***


sumber:

Suharya, T., Supriatna, N., Yuifar, L., & Supriatna, E. (2022, November). Karakter Wirausaha dari Orang Hebat: Kajian Mikrosejarah Nabi Muhammad SAW. Dalam Konferensi Internasional tentang Komunikasi, Kebijakan dan Ilmu Sosial (InCCluSi 2022) (hlm. 72-78). Atlantis Press. https://www.atlantis-press.com/proceedings/incclusi-22/125976722


Monday, July 10, 2023

KARAKTER YAHUDI

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Kisah-kisah dalam Al Quran tentang sosok manusia sebagai individu, kepala keluarga, anggota keluarga, tetangga, pemimpin, dan anggota masyarakat, suku, bangsa, mengandung pelajaran. Hal yang dapat dipelajari dari kisah-kisah tersebut adalah karakternya. salah satu kisah yang dijelaskan di dalam Al Quran adalah kisah bangsa Yahudi.

Kisah bangsa Yahudi ditampilkan dalam Al Quran sebagai contoh, dari karakter manusia yang cenderung merusak. Hal ini tidak berarti memukul rata seluruh bangsa Yahudi berkarakter buruk. Namun, kisah buruknya karakter bangsa Yahudi harus jadi pelajaran untuk umat manusia, bukan untuk menghakiminya. 

Selain karakter buruk bangsa Yahudi, dikabarkan pula bangsa Yahudi memiliki kelebihan dari bangsa-bangsa yang ada di dunia. Mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Namun demikian bukan berarti bangsa Yahudi menjadi merasa superior dari bangsa lain, atau bangsa lain merasa rendah dari bangsa Yahudi. Kecerdasan bangsa Yahudi tidak serta merta diberikan kepada mereka kecuali untuk jadi pelajaran bagi bangsa-bangsa lain. 

Pada hakikatnya sebuah masyarakat terbentuk dari kumpulan individu-individu. Sosok individu adalah diciptakan dari jiwa dan raga. Jiwanya memiliki nafsu dengan dua sifat yaitu fujur dan takwa. Sesuai dengan sifat nafsu, dia cenderung pada hal-hal yang merusak, kecuali yang diberi rahmat Allah, yaitu nafsu yang dikendalikan oleh ilmu. 

Dari sebuah kajian ilmiah, kehidupan keluarga Yahudi memiliki tradisi keluarga yang bisa melahirkan keturunan-keturunan cerdas. Kecerdasan yang dimiliki bangsa Yahudi, ternyata dapat menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia agar memiliki kecerdasan. Dalam tradisi keluarga Yahudi, mereka menjaga tradisi keluarga secara turun-temurun. Secara ilmiah budaya hidup orang Yahudi dalam tradisi selalu mengutamakan hal-hal yang menyebakan kecerdasan mereka terpelihara. 

Tradisi-tradisi keluarga itu antara lain membaca buku. Tradisi ini diwariskan oleh keluarga Yahudi sejak anak-anak mereka berada dalam kandungan. Tradisi mereka dalam keluarga yang lainnya adalah mereka memelihara pola makan sehat dan mengandung nutrisi pada kecerdasan otak yaitu protein nabati maupun hewani. Dalam tradisi Yahudi, hal-hal yang dapat mengurangi kecerdasan otak mereka hindari. Merokok, minum alkohol, dan lemak, mereka hindari sejak anak dalam kandungan. Nutrisi-nutrisi makanan yang mereka makan cenderung menjaga kecerdasan otak tetap prima. Tradisi makan sehat bernutrisi ke otak ini sangat kuat mereka pegang dalam tradisi keluarga.

Namun demikian ada pelajaran lain yang dapat diambil dari umat manusia yaitu ketika karakter-karakter orang Yahudi karena kecerdasannya mereka punya kencenderungan sombong dengan menentang kebenaran-kebenaran dari Allah. Nabi-nabi yang diutus Allah mereka olok-olok dan mereka bunuh. Karakter bangsa Yahudi yang cerdas dan sombong, dijadikan contoh oleh Allah untuk pelajaran bagi umat manusia. 

Jika kita kaji, potensi karakter orang Yahudi ada pada seluruh bangsa yang ada di dunia. Namun episode kisah tentang orang cerdas dan sombong dicatat dalam kisah orang Yahudi. Kisah ini akan terjadi pada setiap bangsa-bangsa yang ada di dunia. Jadi kecerdasan sesungguhnya milik semua bangsa, namun Allah memberi pelajaran di masa lalu agar manusia jangan seperti yang dikisahkan pada bangsa Yahudi.

Oleh karena itu, yang diwaspadainya bukan orang Yahudi secara ad hominem kepada keturunan Yahudi, tetapi karakter-karakter buruk yang dicontohkan dalam kisah bangsa Yahudi. Karakter buruk yang dikisahkan dari bangsa Yahudi adalah menyembunyikan dan mengingkari ayat-ayat Allah, membenarkan sebagian dan mengingkarinya sebagian, dan menyembunyikannya. Dikisahkan dalam Al Quran karakter buruk yang tidak patut dicontoh dari orang Yahudi. 

"ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan." (Al Baqarah, 2:140).

Namun demikian, secara individu, dari golongan orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiin, mereka bisa jadi orang-orang yang beriman kepada Allah. 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al Baqarah, 2:62). 

Maka, siapapun orangnya mereka yang mengikuti petunjuk Allah, menerima kebenaran dari Allah dan Rasulullah Muhammad SAW, dan beramal shaleh dialah yang mendapat petunjuk dari Allah. Rasulullah Muhammad SAW pembawa kebenaran, menyampaikan kepada seluruh umat manusia untuk taat hanya kepada satu Tuhan yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak, tidak beribu, dan tidak diperanakan. Wallahu'alam.*** 





Saturday, July 8, 2023

BEDANYA KONSEP USAHA DENGAN KERJA, KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Usaha dan kerja jika tidak kita teliti, sekilas pengertiannya sama. Namun jika kita teliti dalam konsep yang kita kaji dari Al Quran, usaha dan kerja dua konsep yang berbeda.  Memahami konsep secara mendetail penting untuk dipelajar, sebab kita bisa melakukan sesuatu jika kita paham konsep. 

Untuk memahami konsep kita harus mengembangkan definisi. Tidak ada definisi yang terbaik, kecuali memberi kemudahan kepada seseorang untuk memahami dan menjalankannya. Di dalam Al Quran terdapat banyak konsep, antara lain dibedakan antara konsep usaha dan kerja. 

Penting untuk memahami konsep usaha dan kerja, agar kita bisa melakukan apa yang dijelaskan di dalam Al Quran. Pengertian konsep usaha dan kerja bisa kita pahami dari ayat di bawah ini:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Al Baqarah, 2:286).

Dalam surat di atas ada dua konsep yaitu usaha dan kerja. Kita petakan perbedaannya dalam gambar di bawah ini:


Kerja ada pada wilayah niat, adanya di hati dan pikiran. Kerja ada di wilayah perbuatan. Ayat ini bisa kita pahami jika membaca hadis Nabi Muhammad diriwayatkan Bukhori Muslim. Bunyi hadis itu dipetakan dalam gambar di bawah ini.


Usaha adalah kegiatan yang dilakukan oleh hati dan pikiran. Contoh kegiatan usaha adalah mencari ide atau mengendalikan nafsu untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup. Kegiatan mencari ide dan mengendalikan nafsu ada pada ranah pikiran dan emosi. 

Bentuk nyata usaha seseorang adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan. Dunia pendidikan adalah upaya seseorang dalam mencerdaskan pikiran dengan mengenalkan hakikat kehidupan, melatih mengendalikan emosi, dan membekali dengan keterampilan hidup di masyarakat.

Kerja adalah kegiatan yang berkaitan dengan tindakan-tindakan fisik. Contoh kegiatan fisik adalah prilaku sehari-hari dalam hidup. Prilaku fisik ketika seseorang bergaul di lingkungan keluarga, kantor, pabrik, sekolah, kampus, pasar, dan masyarakat. 

Dunia pendidikan harus menyangkut dua ranah yaitu kemampuan berusaha dan bekerja. Dua ranah ini tidak terpisahkan, harus diajarkan secara bersamaan. Sehingga lulusan dari sebuah pendidikan dibekali dengan kemampuan berusaha dan bisa bekerja. 

Pembagian porsi pendidikan bukan dipisah menjadi teori 30%, praktek 70%, tetapi teori dan praktek harus dilakukan secara berkesinambungan. Kegiatan praktek berkaitan dengan pembentukan karakter dan keterampilan hidup yang harus dimiliki siswa bersumber pada teori. Hasil dari pendidikan adalah siswa yang punya kecerdasan intelektual, karakter, dan keterampilan hidup. Wujud dari hasil pendidikan adalah siswa yang punya kemampuan hidup mandiri, sejahtera dan bisa mensejahterakan orang lain. 

Monday, June 26, 2023

ANAK SMA KALAH SAMA TK

Oleh: Dr. Toto Suharya, M.Pd.

Dari hasil dianosis terhadap beberapa siswa, ditemukan siswa tidak memiliki cita-cita hidup di masa depan, kalah sama anak TK. Para lulusan sekolah di tingkat menengah, mereka kadang bingung menjawab pertanyaan, "apa rencana mu setelah lulus?" Rata-rata jawaban, "belum tahu, mungkin kerja". Jika dikejar dengan pertanyaan, "mau kerja apa?" Jawabannya, "belum tahu".

Anak-anak TK ketika ditanya cita-cita mereka dengan lantang mengatakan cita-citanya, anehnya ketika sudah level SMA/SMK, mereka menjadi pesimis dan belum punya cita-cita. Cita-cita adalah interpretasi siswa terhadap masa depan yang akan dihadapinya. Interpretasi adalah gambaran kemampuan bernalar tinggi yang harus dimiliki siswa level SMA/SMK. Dunia pendidikan terlalu akut dengan pengajaran yang melatih daya ingat. Sehingga pikiran siswa terkunci dengan pelajaran yang harus diingat dan lupa tentang masalah-masalah hidup yang harus dihadapi. 

Kasus ini, menjadi tanda bahwa dunia pendidikan menengah kita tidak mengajarkan anak-anak tentang keidupan nyata. Dunia pendidikan belum optimal melatih siswa agar bisa bertahan hidup di masyarakat. Kemampuan dasar bertahan hidup di masyarakat adalah bisa makan tanpa mengandalkan atau membebani hidup orang lain, antara lain orang tuanya.  

Hampir satu abad Indonesia merdeka, kini pendidikan sedang mendapat kritikan terus dari masyarakat. Membaca komentar-komentar warganet terhadap dunia pendidikan, mereka memberi masukkan bahwa apa yang mereka dapatkan di lapangan dari hasil pendidikan tidak signifikan menggembirakan. 

Siswa SMA/SMK gagal ketika wawancara karena tidak bisa menjelaskan apa tujuan mereka bekerja. Mereka tidak bisa menjawab padahal hanya sekedar tujuan hidup mereka di masa depan. Mereka bisa menjawab tujuan hidup mereka setelah diberi contoh, dan yang lain mengikuti dengan jawaban yang sama. 

Miris sekali dunia pendidikan kita. Masalahnya guru-guru sudah terjebak dengan pola baku yang seolah-olah tidak bisa diubah. Pola baku adalah mengajarkan materi sesuai dengan dokumen kurikulum. Dokumen kurikulum diterjemahkan menjadi buku paket yang dilegalisasi oleh pemerintah. Guru-guru gagal paham, seolah-olah materi buku paket menjadi materi wajib yang harus disampaikan pada siswa. Buku paket menjadi kitab suci, jika mengajar keluar tema dari buku paket dianggap telah melanggar aturan dari Tuhan. 

Usaha besar dunia pendidikan Indonesia adalah bagaimana membebaskan guru-guru dari belenggu-belenggu berhala yang mengunci mati pikiran guru-guru untuk berinovasi. Pengawas pendidikan, kepala sekolah, adalah para utusan yang harus mengembalikan guru-guru pada jalan yang lurus yaitu mendidik siswa-siswi menjadi manusia mandiri, kreatif, kritis, berawasan global, suka bergotong royong, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Guru butuh motivator, inspirator, yang bisa meyakinkan mereka untuk berani meredefinisi metode-metode pengajaran yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Guru-guru harus merevolusi pikirannya sendiri, dengan melakukan refleksi diri untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiran kotor tentang dunia pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.***

Sunday, June 4, 2023

ORANG INDONESIA ANGGAP REMEH PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Orang Indonesia anggap remeh pendidikan. Berita-berita di media massa dikuasai oleh berita politik, artis, kriminal, klenik, dan kisah-kisah amoral. Berita pendidikan diangkat dari sisi keburukan untuk meningkatkan rating pembaca demi cuan. Para guru dianggap pegawai pabrik yang kadang ditindas dengan gaji rendah dan dituntut untuk bekerja maksimal.

Dunia pendidikan tidak pernah didiskusikan oleh negara dengan serius dengan seluruh pejabat negara. Di Indonesia tidak ada kesepakatan bahwa pendidikan menjadi penglima utama dalam menjada marwah bangsa. Masyarakat Indonesia tidak percaya pada dunia pendidikan bisa mengubah nasib hidupnya. Masyarakat Indonesia percaya bahwa sukses dan gagal adalah hasil keberuntungan yang kadang-kadang bisa terjadi pada seseorang. 

Orang Indonesia sekalipun pendidikannya tinggi, namun dalam meraih sukses tidak akan lepas dari hal-hal berbau klenik. Ritual-ritual yang bersumber pada tradisi masih tetap dilakukan sekalipun pendidikannya sudah strata paling tinggi. 

Orang Indonesia memisahkan pendidikan dengan label, pendidikan umum dan agama. Orang Indonesia menganggap pendidikan di sekolah untuk urusan dunia, dan pendidikan di pesantren untuk urusan akhirat. Orang Indonesia sekalipun pendidikan tinggi, dia akan menyerahkah urusan agamanya kepada ahli agama. Penganut agama menjadi pekerjaan spesialis dalam bidang agama. 

Diskusi pendidikan ramai jika urusan dengan biaya pendidikan. Agar pendidikan tidak bayar, orang Indonesia membuat aturan kaku tentang sumbangan pendidikan. Guru-guru akan dijerat dengan sanksi hukum pungli. Menurut pandangan orang Indonesia pendidikan harus gratis, karena bagi mereka hasil pendidikan tidak menentukan nasib seseorang. Pendidikan hanya sebatas syarat administratif untuk melamar kerja atau jadi pekerja pemerintah. 

Para pemimpin di Indonesia cenderung menjadikan dunia pendidikan sebagai komoditas politik untuk melanggengkan kekuasaan. Program-program pembangunan diolah dengan mengikuti pendapat rakyat jelata yang menginginkan pendidikan gratis. Isu pendidikan gratis dikemas untuk meraih suara terbanyak dalam pemilu, lalu setelah berkuasa membiarkan dunia pendidikan tanpa perhatian serius.

Orientasi pemerintah Indonesia selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, karena masyarakat Indonesia diciptakan menjadi manusia-manusia penikmat kehidupan dunia. Alam Indonesia seperti surga yang dijanjikan Tuhan, maka penduduk Indonesia hampir rata-rata malas, hobinya makan dan rebahan. 

Pola pikir orang Indonesia pada umumnya bersifat subsisten, hidupnya hanya untuk jangka pendek. Apa yang dilakukannya hanya sebatas untuk makan hari ini, dan tidak memikirkan untuk hari esok. Orang Indonesia hobinya mengutang, karena dengan mengutang dia bisa cepat menikmati cita-cita hidup yang diinginkannya. Orang Indonesia rata-rata sulit untuk diajak menabung, investasi jangka panjang, karena karakternya seperti penghuni surga yang segala sesuatunya harus disajikan cepat dan serba ada.

Pendidikan bagi orang Indonesia pada umumnya, hanya sebatas alur kehidupan yang harus dilalui untuk mendapatkan surat keterangan. Surat keterangan ini berupa ijazah yang akan memperlancar urusannya di dunia. Ijazah seperti paspor, ktp, atau surat izin mengemudi, setelah dimiliki dia tidak kena sanksi hukum. 

Simak di: https://youtu.be/LMTkY1BnuMc

Masyarakat Indonesia tidak peduli apa yang terjadi di dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang tidak menyinggung perasaan, dan tidak menyinggung urusan uangnya, dianggap sekolah yang baik. Jika sekolah mengusik masalah keuangan maka sekolah dianggap bermasalah, tetapi jika sekolah tidak menghasilkan lulusan terbaik, masyarakat Indonesia tidak peduli. 

Karir di masyarakat Indonesia bukan hanya ditentukan dari pendidikan, tapi dari bagaimana membangun kekeluargaan. Kekeluargaan dibangun bukan atas dasar kesamaan kompetensi tetapi kesamaan tujuan yang saat itu harus dicapai. Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan manusia-manusia kualitas tinggi yang bisa melakukan perubahan tanpa rasa takut, dan takutnya hanya kepada Tuhan.***

HASIL SUPERVISI, KEMAMPUAN GURU MENGKHAWATIRKAN....

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Ketika melakukan supervisi ulangan akhir semester, saya melakukan keliling kelas untuk menyaksikan pelaksanaan ulangan dan mengamati jenis soal yang disajikan guru. Menurut teori, soal-soal yang dikembangkan harus menguji nalar tinggi bukan nalar rendah. Ciri soal menguji nalar rendah, soal tersebut menguji ingatan bukan kemampuan analisis, sintesis, dan kesimpulan. 

Berikut kita diskusikan apakah soal-soal ulangan yang dilakukan guru sudah menguji kemampuan nalar tinggi. Mari kita diskusikan soal-soal di bawah ini.

contoh 1: soal ulangan akhir semester juni tahun 2023

Soal di atas belum memenuhi kriteria sebagai soal hots. Kriteria soal hots, memiliki konstruksi dalam bentuk sajian data-data. Pertanyaan mengajak siswa untuk mengolah data yang disajikan dalam soal. Soal hots targetnya bukan pengetahuan dari hasil ingatan tapi hasil dari penalaran. 

Soal pada contoh 1 tidak menguji kemampuan nalar tingkat tinggi. Untuk menjawab soal di atas, siswa dituntut untuk mengingat rumus, karena tidak ada informasi yang disajikan dalam soal. Soal di atas masih kekurangan data untuk dapat dikatakan sebagai soal yang menguji nalar. 

Soal pada contoh 1 dapat dikembangkan menjadi hots apabila sajian datanya di tambah. Misalnya sebagai berikut:

Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia, terletak di Lombok Nusa Tenggara Barat. Ketinggian gunung Rinjani kurang lebih 3726 di atas permukaan laut. Suhu udara di puncak Gnung Rinjani belum seberapa dibanding dengan puncak gunung Jaya Wijaya Papua yang tingginya sekitar 4884. Puncak Jaya Wijaya selalu diselimuti salju. Pada ketinggian 1300 mdpl suhu udara berada di sekitar 18 derajat celcius, dibandingkan dengan suhu di pantai sekitar 25 derajat celcius. 

Pertanyaan yang mengolah data informasi di atas bisa dibuat seperti ini. 1) berdasarkan informasi di atas, diprediksi berapa kira-kira suhu udara di puncak Gunung Rinjani dan Jaya Wijaya?

Untuk menjawab soal ini, siswa perlu bernalar terlebih dahulu menghubung-hubungkan informasi yang ada di soal. Jawaban soal di atas dapat diketahui jika siswa mampu menemukan pola perubahan suhu yang terjadi dikaitkan dengan ketinggian. Pola itu bisa ditemukan pada suhu udara yang sudah diketahui pada ketinggian 1300 mdpl dan 0 pada daerah pantai. Setelah menghitung interval perubahan dari pantai sampai ketinggian 1300 mdpl, maka siswa bisa menjawab berapa kemungkinan suhu udara di puncak gunung Rinjani dan Jaya Wijaya. 

Kritik kedua, soal tentang gunung Rinjani yang diberikan pada anak-anak perkotaan secara kontekstual tidak berkaitan langsung dengan lingkungan dimana siswa tinggal. Pengetahuan ini jika diberikan pada siswa, menjadi tidak berdaya guna karena keseharian siswa tidak berada di pegunungan. 

Pada soal-soal hots, informasi yang diberikan pada soal harus esensial dan kontekstual. Diupayakan informasi yang disampaikan memiliki kegunaan dalam kehidupan siswa secara langsung untuk mengubah cara pandang mereka terhadap masalah, dan menjadi faktor pendorong siswa untuk mengubah prilaku mereka ketika sudah mengenal permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari mereka.  

Contoh 2: soal ulangan akhir semester Juni 2023

Pada soal contoh 2, dapat diperhatikan soal masih menguji ingatan. Pada soal contoh 2, guru sedang menanyakan sebuah konsep jenis-jenis hujan. Siswa dapat dipastikan kesulitan menjawabnya karena mereka diharuskan menghafal jenis-jenis hujan. Informasi yang disajikan pada soal tidak lengkap sehingga siswa tidak diajak utuk bernalar tetapi harus mengingat konsep jenis hujan tertentu. Untuk menjawab soal ini, siswa bisa nyontek dengan bantuan ChatGpt. 

Melihat dua contoh soal ulangan akhir semester di atas, disimpulkan sementara, pendidikan kita tidak menghasil apa-apa kecuali cape dan membosankan. Hasilnya tidak membuat siswa mampu menghadapi tantangan zaman dan mengugah kemandirian. Pekerjaan rumah dunia pendidikan kita adalah kemampuan guru-guru yang harus terus ditingkatkan dalam kompetensinya.***

MENGAPA ORANG BERIMAN TIDAK PERNAH LELAH

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd. Idealnya orang beriman tidak akan pernah merasa lelah, Secara psikologis lelah terjadi karena pola piki...