Monday, June 26, 2023

ANAK SMA KALAH SAMA TK

Oleh: Dr. Toto Suharya, M.Pd.

Dari hasil dianosis terhadap beberapa siswa, ditemukan siswa tidak memiliki cita-cita hidup di masa depan, kalah sama anak TK. Para lulusan sekolah di tingkat menengah, mereka kadang bingung menjawab pertanyaan, "apa rencana mu setelah lulus?" Rata-rata jawaban, "belum tahu, mungkin kerja". Jika dikejar dengan pertanyaan, "mau kerja apa?" Jawabannya, "belum tahu".

Anak-anak TK ketika ditanya cita-cita mereka dengan lantang mengatakan cita-citanya, anehnya ketika sudah level SMA/SMK, mereka menjadi pesimis dan belum punya cita-cita. Cita-cita adalah interpretasi siswa terhadap masa depan yang akan dihadapinya. Interpretasi adalah gambaran kemampuan bernalar tinggi yang harus dimiliki siswa level SMA/SMK. Dunia pendidikan terlalu akut dengan pengajaran yang melatih daya ingat. Sehingga pikiran siswa terkunci dengan pelajaran yang harus diingat dan lupa tentang masalah-masalah hidup yang harus dihadapi. 

Kasus ini, menjadi tanda bahwa dunia pendidikan menengah kita tidak mengajarkan anak-anak tentang keidupan nyata. Dunia pendidikan belum optimal melatih siswa agar bisa bertahan hidup di masyarakat. Kemampuan dasar bertahan hidup di masyarakat adalah bisa makan tanpa mengandalkan atau membebani hidup orang lain, antara lain orang tuanya.  

Hampir satu abad Indonesia merdeka, kini pendidikan sedang mendapat kritikan terus dari masyarakat. Membaca komentar-komentar warganet terhadap dunia pendidikan, mereka memberi masukkan bahwa apa yang mereka dapatkan di lapangan dari hasil pendidikan tidak signifikan menggembirakan. 

Siswa SMA/SMK gagal ketika wawancara karena tidak bisa menjelaskan apa tujuan mereka bekerja. Mereka tidak bisa menjawab padahal hanya sekedar tujuan hidup mereka di masa depan. Mereka bisa menjawab tujuan hidup mereka setelah diberi contoh, dan yang lain mengikuti dengan jawaban yang sama. 

Miris sekali dunia pendidikan kita. Masalahnya guru-guru sudah terjebak dengan pola baku yang seolah-olah tidak bisa diubah. Pola baku adalah mengajarkan materi sesuai dengan dokumen kurikulum. Dokumen kurikulum diterjemahkan menjadi buku paket yang dilegalisasi oleh pemerintah. Guru-guru gagal paham, seolah-olah materi buku paket menjadi materi wajib yang harus disampaikan pada siswa. Buku paket menjadi kitab suci, jika mengajar keluar tema dari buku paket dianggap telah melanggar aturan dari Tuhan. 

Usaha besar dunia pendidikan Indonesia adalah bagaimana membebaskan guru-guru dari belenggu-belenggu berhala yang mengunci mati pikiran guru-guru untuk berinovasi. Pengawas pendidikan, kepala sekolah, adalah para utusan yang harus mengembalikan guru-guru pada jalan yang lurus yaitu mendidik siswa-siswi menjadi manusia mandiri, kreatif, kritis, berawasan global, suka bergotong royong, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Guru butuh motivator, inspirator, yang bisa meyakinkan mereka untuk berani meredefinisi metode-metode pengajaran yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Guru-guru harus merevolusi pikirannya sendiri, dengan melakukan refleksi diri untuk membebaskan diri dari pikiran-pikiran kotor tentang dunia pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.***

Sunday, June 4, 2023

ORANG INDONESIA ANGGAP REMEH PENDIDIKAN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Orang Indonesia anggap remeh pendidikan. Berita-berita di media massa dikuasai oleh berita politik, artis, kriminal, klenik, dan kisah-kisah amoral. Berita pendidikan diangkat dari sisi keburukan untuk meningkatkan rating pembaca demi cuan. Para guru dianggap pegawai pabrik yang kadang ditindas dengan gaji rendah dan dituntut untuk bekerja maksimal.

Dunia pendidikan tidak pernah didiskusikan oleh negara dengan serius dengan seluruh pejabat negara. Di Indonesia tidak ada kesepakatan bahwa pendidikan menjadi penglima utama dalam menjada marwah bangsa. Masyarakat Indonesia tidak percaya pada dunia pendidikan bisa mengubah nasib hidupnya. Masyarakat Indonesia percaya bahwa sukses dan gagal adalah hasil keberuntungan yang kadang-kadang bisa terjadi pada seseorang. 

Orang Indonesia sekalipun pendidikannya tinggi, namun dalam meraih sukses tidak akan lepas dari hal-hal berbau klenik. Ritual-ritual yang bersumber pada tradisi masih tetap dilakukan sekalipun pendidikannya sudah strata paling tinggi. 

Orang Indonesia memisahkan pendidikan dengan label, pendidikan umum dan agama. Orang Indonesia menganggap pendidikan di sekolah untuk urusan dunia, dan pendidikan di pesantren untuk urusan akhirat. Orang Indonesia sekalipun pendidikan tinggi, dia akan menyerahkah urusan agamanya kepada ahli agama. Penganut agama menjadi pekerjaan spesialis dalam bidang agama. 

Diskusi pendidikan ramai jika urusan dengan biaya pendidikan. Agar pendidikan tidak bayar, orang Indonesia membuat aturan kaku tentang sumbangan pendidikan. Guru-guru akan dijerat dengan sanksi hukum pungli. Menurut pandangan orang Indonesia pendidikan harus gratis, karena bagi mereka hasil pendidikan tidak menentukan nasib seseorang. Pendidikan hanya sebatas syarat administratif untuk melamar kerja atau jadi pekerja pemerintah. 

Para pemimpin di Indonesia cenderung menjadikan dunia pendidikan sebagai komoditas politik untuk melanggengkan kekuasaan. Program-program pembangunan diolah dengan mengikuti pendapat rakyat jelata yang menginginkan pendidikan gratis. Isu pendidikan gratis dikemas untuk meraih suara terbanyak dalam pemilu, lalu setelah berkuasa membiarkan dunia pendidikan tanpa perhatian serius.

Orientasi pemerintah Indonesia selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, karena masyarakat Indonesia diciptakan menjadi manusia-manusia penikmat kehidupan dunia. Alam Indonesia seperti surga yang dijanjikan Tuhan, maka penduduk Indonesia hampir rata-rata malas, hobinya makan dan rebahan. 

Pola pikir orang Indonesia pada umumnya bersifat subsisten, hidupnya hanya untuk jangka pendek. Apa yang dilakukannya hanya sebatas untuk makan hari ini, dan tidak memikirkan untuk hari esok. Orang Indonesia hobinya mengutang, karena dengan mengutang dia bisa cepat menikmati cita-cita hidup yang diinginkannya. Orang Indonesia rata-rata sulit untuk diajak menabung, investasi jangka panjang, karena karakternya seperti penghuni surga yang segala sesuatunya harus disajikan cepat dan serba ada.

Pendidikan bagi orang Indonesia pada umumnya, hanya sebatas alur kehidupan yang harus dilalui untuk mendapatkan surat keterangan. Surat keterangan ini berupa ijazah yang akan memperlancar urusannya di dunia. Ijazah seperti paspor, ktp, atau surat izin mengemudi, setelah dimiliki dia tidak kena sanksi hukum. 

Simak di: https://youtu.be/LMTkY1BnuMc

Masyarakat Indonesia tidak peduli apa yang terjadi di dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang tidak menyinggung perasaan, dan tidak menyinggung urusan uangnya, dianggap sekolah yang baik. Jika sekolah mengusik masalah keuangan maka sekolah dianggap bermasalah, tetapi jika sekolah tidak menghasilkan lulusan terbaik, masyarakat Indonesia tidak peduli. 

Karir di masyarakat Indonesia bukan hanya ditentukan dari pendidikan, tapi dari bagaimana membangun kekeluargaan. Kekeluargaan dibangun bukan atas dasar kesamaan kompetensi tetapi kesamaan tujuan yang saat itu harus dicapai. Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan manusia-manusia kualitas tinggi yang bisa melakukan perubahan tanpa rasa takut, dan takutnya hanya kepada Tuhan.***

HASIL SUPERVISI, KEMAMPUAN GURU MENGKHAWATIRKAN....

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Ketika melakukan supervisi ulangan akhir semester, saya melakukan keliling kelas untuk menyaksikan pelaksanaan ulangan dan mengamati jenis soal yang disajikan guru. Menurut teori, soal-soal yang dikembangkan harus menguji nalar tinggi bukan nalar rendah. Ciri soal menguji nalar rendah, soal tersebut menguji ingatan bukan kemampuan analisis, sintesis, dan kesimpulan. 

Berikut kita diskusikan apakah soal-soal ulangan yang dilakukan guru sudah menguji kemampuan nalar tinggi. Mari kita diskusikan soal-soal di bawah ini.

contoh 1: soal ulangan akhir semester juni tahun 2023

Soal di atas belum memenuhi kriteria sebagai soal hots. Kriteria soal hots, memiliki konstruksi dalam bentuk sajian data-data. Pertanyaan mengajak siswa untuk mengolah data yang disajikan dalam soal. Soal hots targetnya bukan pengetahuan dari hasil ingatan tapi hasil dari penalaran. 

Soal pada contoh 1 tidak menguji kemampuan nalar tingkat tinggi. Untuk menjawab soal di atas, siswa dituntut untuk mengingat rumus, karena tidak ada informasi yang disajikan dalam soal. Soal di atas masih kekurangan data untuk dapat dikatakan sebagai soal yang menguji nalar. 

Soal pada contoh 1 dapat dikembangkan menjadi hots apabila sajian datanya di tambah. Misalnya sebagai berikut:

Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia, terletak di Lombok Nusa Tenggara Barat. Ketinggian gunung Rinjani kurang lebih 3726 di atas permukaan laut. Suhu udara di puncak Gnung Rinjani belum seberapa dibanding dengan puncak gunung Jaya Wijaya Papua yang tingginya sekitar 4884. Puncak Jaya Wijaya selalu diselimuti salju. Pada ketinggian 1300 mdpl suhu udara berada di sekitar 18 derajat celcius, dibandingkan dengan suhu di pantai sekitar 25 derajat celcius. 

Pertanyaan yang mengolah data informasi di atas bisa dibuat seperti ini. 1) berdasarkan informasi di atas, diprediksi berapa kira-kira suhu udara di puncak Gunung Rinjani dan Jaya Wijaya?

Untuk menjawab soal ini, siswa perlu bernalar terlebih dahulu menghubung-hubungkan informasi yang ada di soal. Jawaban soal di atas dapat diketahui jika siswa mampu menemukan pola perubahan suhu yang terjadi dikaitkan dengan ketinggian. Pola itu bisa ditemukan pada suhu udara yang sudah diketahui pada ketinggian 1300 mdpl dan 0 pada daerah pantai. Setelah menghitung interval perubahan dari pantai sampai ketinggian 1300 mdpl, maka siswa bisa menjawab berapa kemungkinan suhu udara di puncak gunung Rinjani dan Jaya Wijaya. 

Kritik kedua, soal tentang gunung Rinjani yang diberikan pada anak-anak perkotaan secara kontekstual tidak berkaitan langsung dengan lingkungan dimana siswa tinggal. Pengetahuan ini jika diberikan pada siswa, menjadi tidak berdaya guna karena keseharian siswa tidak berada di pegunungan. 

Pada soal-soal hots, informasi yang diberikan pada soal harus esensial dan kontekstual. Diupayakan informasi yang disampaikan memiliki kegunaan dalam kehidupan siswa secara langsung untuk mengubah cara pandang mereka terhadap masalah, dan menjadi faktor pendorong siswa untuk mengubah prilaku mereka ketika sudah mengenal permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari mereka.  

Contoh 2: soal ulangan akhir semester Juni 2023

Pada soal contoh 2, dapat diperhatikan soal masih menguji ingatan. Pada soal contoh 2, guru sedang menanyakan sebuah konsep jenis-jenis hujan. Siswa dapat dipastikan kesulitan menjawabnya karena mereka diharuskan menghafal jenis-jenis hujan. Informasi yang disajikan pada soal tidak lengkap sehingga siswa tidak diajak utuk bernalar tetapi harus mengingat konsep jenis hujan tertentu. Untuk menjawab soal ini, siswa bisa nyontek dengan bantuan ChatGpt. 

Melihat dua contoh soal ulangan akhir semester di atas, disimpulkan sementara, pendidikan kita tidak menghasil apa-apa kecuali cape dan membosankan. Hasilnya tidak membuat siswa mampu menghadapi tantangan zaman dan mengugah kemandirian. Pekerjaan rumah dunia pendidikan kita adalah kemampuan guru-guru yang harus terus ditingkatkan dalam kompetensinya.***

Saturday, June 3, 2023

PENDIDIKAN MASIH JALAN DI TEMPAT?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Rupanya pendidikan kita jalan ditempat. Teknologi informasi menjadi faktor absolut yang mengubah cara pandang dan cara berprilaku kebanyakan umat manusia saat ini. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah arah pendidikan di dunia. Pendidikan di dunia saat ini lebih fokus pada pendidikan karakter berbasis nalar. Saat ini, teridentifikasi masih ada praktek-praktek pendidikan yang tidak berubah, ketinggalan zaman, dan membuat anak-anak kita terlihat bodoh karena masih jalan di tempat. 

Booming informasi telah melahirkan generasi-generasi melek informasi karena disediakan oleh berbagai macam teknologi informasi. Namun melek informasi tidak akan berdampak pada pertumbuhan kualitas manusia jika tidak diberengi dengan karakter yang dikembangkan dari kemampuan bernalar tinggi. Kualitas manusia dilihat dari kemampuannya merespon informasi dengan sikap-sikap terpuji, optimis, dan produktif.

Pembentukan karakter berbasis nalar terjadi di ruangan kelas. Ruang kelas adalah ruang privasi guru dengan siswa. Apa yang terjadi di kelas tidak diketahui publik dan jarang terekspos. Agar yakin, apa yang terjadi di kelas merupakan pendidikan berkualitas tinggi, sepenuhnya tanggung jawabnya ada di kepala sekolah. Hanya kepala sekolah yang bisa masuk kelas dan melihat apa yang terjadi. 

Berdasar undang-undang, tugas kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran melakukan supervisi pembelajaran di kelas. Kepala sekolah harus memastikan bahwa apa yang terjadi di kelas sedang menyiapkan anak-anak didik kita bisa survive di abad teknologi informasi. 

Melihat sampel di suatu sekolah kota besar sebagai baromater pendidikan Indonesia, ditemukan fakta bahwa guru-guru Indonesia perlu kerja keras dengan banyak literasi tentang pembelajaran yang melatih kemampuan bernalar tinggi. Ujian akhir semester siswa masih menguji ingatan tingkat rendah. Materi soal masih fokus pada pengetahuan bersifat kognitif yang tidak relevan dengan kehidupan siswa. 

Merdeka Belajar belum dipahami secara filosofis yang harus mengubah paradigma pendidikan sesuai zaman. Pola pengajaran masih melekat dengan gaya-gaya lama yaitu melatih siswa latihan soal yang sebatas menguji ingatan. Kemampuan nalar sebagai ciri abad teknologi informasi belum sepenuhnya dipahami dan dipraktekkan guru-guru dalam pengajaran. 

Permasalahannya perlu pelatihan-pelatihan yang tidak biasa. Pelatihan guru-guru menggunakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) belum efektif mengubah paradgima para guru tentang merdeka belajar. Guru-guru harus mendapat pelatihan khusus terkait paradigma pendidikan abad 21, pembelajaran kontektual, dan pembelajaran karakter berbasis pada nalar. 

Kurikulum Merdeka perlu fokus kajian dan pemahaman spesifik dalam menentukan perubahan pada kompetensi guru. Hal-hal yang urgen adalah pemahaman guru tentang paradigma pendidikan abad 21, pelatihan guru tentang pembelajaran karakter berbasis nalar, dan kontektual. Pendidikan saat ini bukan lagi fokus mengajarkan pengetahuan tetapi mengajarkan bagaimana mengenali masalah sehari-hari, memecahkannya dengan bantuan teknologi informasi. Soal-soal ujian harus 100 persen menguji nalar bukan sekedar ulangan atau mengingat materi yang telah diajarkan.***


Thursday, May 11, 2023

SEKOLAH YANG MEMBUAT SISWA MISKIN

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Penyebab sekolah kita miskin adalah apa yang terjadi sekolah tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan siswa di lapangan. Pembelajaran dilaksanakan hanya menyampaikan apa yang ada dalam dokumen kurikulum. Dokumen kurikulum kemudian diterjemahkan secara sempit menjadi buku paket. Oleh karena itu buku paket menjadi sumber belajar bagi guru yang dipaksanakan harus dipelajari anak-anak, tanpa melihat latar belakang minat dan bakat anak-anak.

Buku paket yang digunakan dalam pembelajaran seperti racun yang membuat anak-anak lumpuh dan tidak berdaya saing. Buku paket yang isinya sering tertinggal dengan kondisi sosial yang terjadi, sering menjadi sajian kadaluarsa yang ketika dikonsumsi oleh siswa membuat otak siswa terkena penyakit akut yaitu malas dan tuna kompetensi. 

Jadi penyebab siswa-siswa kita "miskin" adalah akibat konsumsi pengetahuan-pengetahuan basi yang disajikan dalam buku paket. Kualitas pengetahuan yang diberikan kepada siswa jarang dianalasis apakah bergizi bagi otak siswa, relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, dan berguna bagi penyelesaian masalah yang dihadapi siswa. 

Pengajaran di sekolah terlalu formal sebagai kegiatan ritual yang diukur berdasar urutan struktur dalam dokumen kurikulum yang harus diberikan pada siswa. Sementara kebutuhan siswa tidak pernah menjadi fokus dalam setiap pembelajaran, sehingga siswa cenderung mengalami skeptis, pesimis, dan antipati terhadap kegiatan belajar. 

Pembelajaran menyenangkan kadang tidak dikemas menjadi siswa senang belajar, tetapi menjadi senang bermain dan pembelajaran menjadi standup comedy. Sementara pembelajaran menyenangkan yang membuat minat belajar siswa sepanjang hayat tumbuh hal ini tidak terjadi. Alhasil setelah siswa lulus sekolah dia seperti berakhir dari proses belajar. Konsep belajar menjadi sempit karena hanya dilakukan ketika siswa ada di sekolah atau di kampus. Sementara di jalan, di pasar, di tempat kerja, mereka tidak merasa sedang belajar. 

Penyebab sekolah kita miskin yang lainnya adalah guru tidak bertindak sebagai pengembang kurikulum, tapi lebih bertindak sebagai petugas kurikulum. Guru memahami bahwa kurikulum adalah dokumen yang didesain oleh pemerintah, yang dilengkapi dengan petunjuk teknis. Guru menganggap pembelajaran yang baik adalah yang mengikuti petunjuk teknis sesuai dokumen kurikulum. 

Jadi pendidikan yang membuat siswa miskin adalah pendidikan yang mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki siswa, dan tidak relevan dengan kebutuhan hidup realistis siswa di lapangan. Pendidikan yang membuat miskin siswa adalah pendidikan yang mengejar tujuan formalistik dokumen kurikulum tanpa analisis kebutuhan siswa. 

Di sekolah yang membuat miskin siswa, dokumen kurikulum menjadi kitab tekstual yang kaku dan haram untuk ditafsir, diadaftasi, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sekolah yang memiskinkan siswa adalah sekolah yang mewariskan karakter miskin secara turun-temurun, yaitu karakter yang tuna nalar, tuna kompentsi dan malas belajar.***

Tuesday, May 9, 2023

Sekolah Terbaik Abad 21???

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Untuk diketahui para orang tua siswa. Dunia pendidikan paradigmanya sudah berubah. Sekolah-sekolah favorit kini sudah menjadi penginggalan sejarah. Namun banyak orang tua yang kurang mendapat pemahaman tentang perubahan paradigma pendidikan abad 21. 

Orang tua masih menganggap anak-anak seperti lumba-lumba. Anak-anak berprestasi masih ditandai dengan menjuarai lomba-lomba. Padahal juara-juara lomba sudah terbukti tidak signifikan menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Sekolah yang melahirkan juara-juara lomba tidak berkontribusi signifikan dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan yang terjadi. Angka kemiskinan tetap tinggi dan setiap tahun lahir pengangguran-pengangguran terdidik. Para juara lomba setelah lulus tidak signifikan menyelesaikan masalah bangsa, karena para juara lomba pada akhirnya berkarir dengan menjadi pencari kerja. 

Sekolah dengan orientasi menjadi juara lomba, tidak menyelesaikan masalah sumberdaya manusia. Data-data statistik tentang sumber daya manusia, selalu menunjukkan posisi terburuk di tingkat dunia. Kita masih kekurangan manusia-manusia berkarakter entrepreneur. Kita kekurangan manusia-manusia bernalar tinggi yang kreatif, berani mengambil risiko, mampu bertahan dalam kondisi sulit, dan mandiri dalam mengambil keputusan.  

Pendidikan dengan orirentasi juara lomba tidak mengantarkan anak-anak kita menjadi manusia-manusia sejahtera dan hidup bahagia. Hasil pendidikan kita selama ini hanya menghasilkan manusia yang bisa bertahan hidup dengan mengandalkan gaji UMR. Prestasi juara-juara lomba hanya jadi sertifikat penghargaan yang tidak menjamin anak-anak jadi manusia sejahtera dan penyejahtera.

Kini sekolah-sekolah terbaik tidak ditandai dengan berapa jumlah siswa yang berhasil menjuarai lomba. Sekolah-sekolah terbaik saat ini adalah yang fokus mengubah tujuan belajar untuk mewujudkan anak-anak didik menjadi manusia-manusia mandiri sedini mungkin. Anak-anak dilatih bukan untuk menjuarai lomba. Anak-anak dilatih diberi pendidikan untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah hidup yang dihadapinya. 

Pengajaran harus menuntun anak-anak menjadi manusia kritis, kreatif, berwawasan global, punya kemampuan berkolaborasi, selalu potimis, dan punya kemandirian. Inilah profil pelajar Pancasila, yaitu manusia berkarakter entrepreneur yang dihadaprkan bisa mengurai setiap permasalahan yang dihadapinya dan berguna bagi masyarakat. 

Manusia-manusia berguna harus diciptakan sejak dari sekolah. Pengajaran harus fokus pada konteks dimana mereka hidup dan mengenal masalah yang dihadapinya sehari-hari. Sekolah bukan bertujuan menyelesaikan program kurikulum, tetapi bertujuan melatih dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki siswa. Sekolah menjadi tempat para siswa mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya hingga menjadi keterampilan bagi dirinya untuk bertahan hidup. 

Kreativitas menjadi fokus tujuan pendidikan. Program-program di sekolah harus dikembangkan dengan tujuan melahirkan manusia-manusia terampil dalam mengolah masalah menjadi peluang untuk mengembangkan karirnya sejak di sekolah. Ujung dari hasil pendidikan adalah harus melahirkan manusia-manusia mandiri yang tidak tergantung pada orang lain hanya sekedar untuk bertahan hidup. 

Sekolah-sekolah terbaik di abad 21 bukan sekolah yang melahirkan banyak siswa juara lomba. Sekolah terbaik di abad 21 adalah sekolah yang berhasil mencatatkan berbagai karya siswa yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Sekolah-sekolah terbaik ditandai dengan banyaknya siswa yang berani hidup mandiri dengan ketermapilan hidup yang didapatnya dari dunia pendidikan.***

Sunday, May 7, 2023

PENDIDIKAN AGAMA LATIH POLA PIKIR

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd., M.Pd.

Pelajaran agama yang diajarkan di sekolah terlalu formalistik. Ajaran agama dipatok dengan ajaran yang kaku dalam bentuk praktek ajaran ritual yang mekanistik. Ajaran agama yang fomalistik dan kaku, menjadi sebab ajaran agama tidak konstekstual dengan kehidupan sehari-hari. 

Cara pengajaran agama Islam saat ini cenderung menggunakan sudut pandang ilmu fiqih, ilmu yang mengajarkan hukum-hukum ritual formal yang dikembangkan para ulama fiqih. Cara pandang ilmu fiqih dalam beragama mendominasi cara-cara beragama masyarakat. Kelemahan pengajaran agama dari sudut pandang ilmu fiqih adalah tidak fleksibel dan kadang memberatkan. 

Misalnya ketika orang mau melakukan shalat jama, dalam ilmu fiqih disyaratkan harus menempuh perjalanan 80 km. Akibat aturan fiqih terlalu kaku, kadang-kadang shalat seseorang lebih fokus pada aturan fiqih bukan pada substansi shalat sebagai ibadah kepada Allah.

Aturan lainnya, ketika ingin memahami Al Quran. Aturan-aturan membaca Al Quran yang terlalu ketat dengan syarat keilmuan khusus, kehadiran guru secara formal, menjadi hambatan, keraguan seseorang ketika ingin memahami Al Quran dengan berbagai macam cara. Sementara di era teknologi informasi, situasinya jauh berbeda dengan era sebelumnya. Akses seseorang untuk mendapatkan ilmu sangat terbatas dan cenderung dilembagakan. Saat ini, ilmu sudah menjadi milik semua orang yang mau mempelajarinya dengan kehadiran media informasi massal. 

Metode dalam mempelajari agama perlu ada penyesuaian dengan situasi saat ini. Ilmu fiqih tetap diperlukan, namun tidak dijadikan kecenderungan satu-satunya yang paling mendekati kebenaran. Dalam situasi saat ini, metode yang perlu dikembangkan dalam mempelajari agama adalah melalui metode yang mendorong seseorang mampu belajar mandiri melalui konsep belajar sepanjang hayat. 

Metode yang bisa dikembangkan untuk mempelajari agama saat ini adalah melatih kemampuan berpikir. Kontradiksi umat beragama dengan prilaku sehari-hari yang dilakukan umat saat ini terjadi karena pengajaran agama terlalu mekanistik pada penerapan hukum-hukum. Sementara pemahaman dalam bentuk pola-pola pikir orang beragama belum banyak dikembangkan. Keterbatasan agama dalam sudut pandang penerapan hukum-hukum agama, kadang tidak selaras dengan kondisi budaya dan masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Akhirnya ajaran agama tidak memberikan harapan-harapan baik yang dapat mengubah hidup seseorang. 

Agama adalah ajaran yang memberikan harapan-harapan hidup lebih baik sekalipun seseorang dalam kondisi terpuruk. Untuk itu perlu pengajaran yang berimbang, antara ilmu hukum agama, dengan ilmu berpikir bersumber dari agama. Allah yang dipersepsi sebagai maha pengampun harus memberi harapan kepada semua orang untuk menjadi orang baik dan hidup lebih baik.

Allah yang maha bijaksana dapat dipahami dengan pendekatan-pendekatan pola pikir yang dikembangkan dari Al Quran dan hadis. Pola pikir agama jika diajarkan, dalam prakteknya lebih banyak memberi manfaat pada pribadi seseorang karena sifatnya fleksibel dan menuntut setiap orang untuk terus berpikir memperbaiki kualitas hidupnya. 

Masalah sosial seperti pelecehan seksual, pencemaran lingkungan, kemiskinan, penyalahgunaan narkoba, dan ketidakteraturan sosial, kadang tidak bisa disentuh dengan pendekatan agama yang cenderung mekanistik mengatur ibadah ritual. Masalah-masalah sosial dan lingkungan yang terjadi membutuhkan banyak pemikir-pemikir yang kreatif dalam mewujudkan masyarakat agama yang berperadaban. 

Diakui beberapa ahli pendidikan saat ini, kelemahan dari umat beragama adalah lemah dalam mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Kelemahan ini diawal dari kelemahan umat beragama dalam memahami pola-pola pikir yang ada dalam pengajaran agama. Oleh karena itu, kita sering melihat kontrakdiksi antara kehidupan umat yang mengatasnamakan agama dengan umat manusia yang tidak mengatasnamakan agama. Kehidupan masyarakat yang tidak mengatasnamakan agama lebih bersih dibanding dengan umat yang tidak secara langsung mengatasnamakan agama. 

Potret kehdiupan masyarakat agama dan tidak beragama menjadi pandangan pesimis terhadap ajaran agama. Pengajaran agama dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan zaman dan ajaran agama sedikit demi sedikit ditingalkan penganutnya. Ajaran agama yang dianggap suci bersumber dari para Nabi, kadang dilecehkan dan dinistakan. 

Mengajarkan agama dengan sudut pandang pola pikir perlu dikembangkan disandingkan dengan pendekatan-pendekatan hukum yang mekanistik. Melalui pengembangan pola pikir, diharapakan pengajaran agama dapat membantu masyarakat bisa menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Pola pengajaran agama melalu sudut pandang pola pikir, dapat dilakukan dengan menghadirkan masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya, yang ada di masyarakat melalui proses dialogis berkelanjutan. 

Melalui sudut pandang pola pikir yang dialogis, sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat harus dibangun dengan tujuan yang sama yaitu menuju masyarakat damai dan sejahtera. Allah menurunkan ajaranNya untuk membantu manusia agar bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat.***

MENGAPA SINGAPURA BERI INSENTIF 975 JUTA PER ANAK?

Oleh: Dr. Toto Suharya, S.Pd. M.Pd.  Jika di teliti di internet, negara-negara kapitlasi sedang mengalami penuruan jumlah populasi penduduk....